75643 research outputs found
Sort by
Effect of Mirror Therapy on Phantom Pain Levels in Post Amputationpatient: A Literature Review
Phantom pain after amputation is ordinary. Phantom pain is challenging to treat, so it will last a long time which will cause depression and
anxiety and reduce the quality of life. There are various treatment
options: pharmacological (antidepressants, anesthetics) and non-pharmacological (acupuncture, hypnosis). However, there is still no proven
effective therapy, so it is necessary to try a non-pharmacological
therapy that is safe, cheap, and easy, namely mirror therapy. This
study aims to determine how the effect of mirror therapy on the
phantom pain of post-amputation patients. Narrative literature review of a publication registered 2017-2021 on Pubmed, ProQuest,
EBSCO, and Google Scholar. Search articles using the keywords"
amputation," and " phantom pain," and "mirror therapy." This study
uses inclusion criteria consisting of patients who experience phantompain, research in the form of mirror therapy intervention, there is
comparison, the study design uses a randomized controlled trial and
case report, with results explaining the effect of mirror therapy in
Indonesian or English, and indexed by SINTA or SCIMAGO. 8 articles were included in the inclusion criteria. The majority of articles
had a randomized controlled trial design of 7 articles and a case report of 1 article. Four articles discuss mirror therapy, and the other
four articles discuss mirror therapy with other therapies. Respondents have an age range of 15-82 years, and most are male. Mirror
therapy is recommended to be carried out routinely and according to
procedures for post-amputation patients. It has been proven to reduce pain scales in patients before and after the intervention. Nurses
can use mirror therapy in the client care process during the postamputation rehabilitation process
Analisis Yuridis Putusan Pemidanaan Terhadap Tindak Pidana Terorisme (Putusan Nomor 79/Pid.Sus/2020/PN.Jkt.Tim)
Validasi unggah file repositori_Ighfirlina
Finalisasi unggah file repositori tanggal 22 April 2022_KurnadiLatar belakang penyusunan skripsi adalah adanya Terorisme merupakan
tindak pidana luar biasa atau ekstra ordinary crime tidak bisa di pandang sebagai
tindak pidana biasa karena dalam melakukan kejahatannya teroris sangat lihai
dan sangat berhati-hati serta terstruktur, sistematis dan masif yang sangat susah
di tebak sehingga jika pelaku tindak pidana terorisme atau disebut teroris sudah
berhasil di tangkap dan di proses secara hukum harus di berikan hukuman atau
sanksi pidana yang dapat memastikan bahwa pelaku tindak pidana terorisme
sudah di berikan sanksi yang setimpal dengan apa yang di lakukan dan jika
perbuatannya belum di lakukan namun telah memenuhi unsur-unsur tindak
pidana terorisme dan telah ada barang bukti maka harus di berikan sanksi yang
tepat. Di dalam mencegah dan memberantas tindak pidana terorisme selain
mengacu pada peraturan yang telah ada sebagai dasar hukum selain itu juga di
gunakan asas hukum sebagai landasar dalam mencegah terjadinya tindak pidana
terorisme. Dimana pencegahan terorisme berdasarkan atas asas praduga bersalah
atau Presumption of Guilt dapat di lakukan guna mencegah berkembangnya
tindak pidana terorisme di Indonesia. Salah satu kajian dalam perkara tindak
pidana terorisme tersebut dalam hal ini melalui Putusan Nomor
79/Pid.Sus/2020/PN.Jkt.Tim.
Rumusan masalah dalam hal ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis : (1) dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam Putusan Nomor
79/Pid.Sus/2020/PN.Jkt.Tim dikaitkan dengan perbuatan yang telah dilakukan
oleh terdakwa sebagaimana dalam Undang-Undang Terorisme dan (2) ratio
decidendi oleh Hakim dalam putusan pemidanaan terhadap Tindak Pidana
Terorisme pada Putusan Nomor 79/Pid.Sus/2020/PN.Jkt.Tim dikaitkan dengan
fakta persidangan. Metode penelitian dalam skripsi ini menggunakan jenis
penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statue
approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Bahan hukum
yang di gunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
Teknik analisis bahan hukum yang akan adalah deskriptif kualitatif.
Berdasarkan hasil kesimpulan dapat dikemukakan bahwa Pertama,
Dakwaan Jaksa Penuntut Umum tidak sesuai dengan perbuatan yang telah
dilakukan oleh terdakwa sebagaimana dalam Undang-Undang Terorisme karena
pada prinsipnya terdakwa seharusnya didakwa dengan Pasal 15 jo Pasal 12 A
ayat (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang (PERPU) Nomor 1
Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme sebagaimana yang
telah ditetapkan menjadi Undang-Undang berdasarkan Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2003 jo Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2018
tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun
2003, Setiap Orang yang melakukan Percobaan untuk melakukan Tindak Pidana
Terorisme, dengan maksud melakukan Tindak Pidana Terorisme di wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia atau di negara lain, merencanakan Tindak
Pidana Terorisme dengan orang yang berada di dalam negeri dan/atau di luar
negeri atau negara asing, seperti yang telah dilakukan oleh Terdakwa yaitu (Hal.
3 Putusan) berencana untuk pergi ke Suriah dengan melakukan komunikasi
dengan seseorang yang berada di negara asing (Suriah) dan telah pergi ke
Kolombo Srilanka untuk transit ke Turki menuju Suriah namun gagal
dikarenakan bukan karena kehendaknya sendiri yaitu Tiket menuju Turki gagal
diperolehnya sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanannya ke Suriah dengan
maksud bergabung dengan Daulah Islamiyah dan berperang melawan
Pemerintahan Suriah. Kedua, Pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor
79/Pid.Sus/2020/PN.Jkt.Tim tidak sesuai jika dikaitkan dengan fakta-fakta yang
terungkap di persidangan khususnya menyangkut unsur-unsur Pasal 15 Jo Pasal
7 Undang-Undang Terorisme. Terdakwa dengan sengaja merencanakan dengan
seseorang yang berada di negara asing atau Suriah, kepergiannya ke Suriah
untuk bergabung dan berjihad bersama Daulah Islamiyah dengan maksud
berperang melawan Pemerintahan Suriah dan tidak terungkap cara melakukan
teror, tempat melakukan teror dilakukan ataupun senjata atau jenis bom yang
digunakan, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai tindak pidana terorisme yang
diatur dalam Pasal 7 Undang-Undang Terorisme. Dengan tidak terpenuhinya
unsur pasal yang ada dalam pertimbangan hakim tersebut, maka pertimbangan
hakim dalam Putusan Nomor 79/Pid.Sus/2020/PN.Jkt.Tim tidak sesuai jika
dikaitkan dengan fakta-fakta yang terungkap di persidangan. Berdasarkan
kesimpulan yang telah dikemukakan dapat diberikan saran bahwa : Seharusnya
jaksa memberikan kepastian terhadap dakwaan yang didakwakan kepada
terdakwa sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 143 ayat (2) KUHAP terkait
syarat formil dan materiil dalam membuat surat dakwaan dalam suatu tindak
pidana yang didakwakan kepada terdakwa. Seharusnya hakim lebih teliti dalam
mencermati fakta yang terungkap di persidangan, sehingga hakim dalam
memutus suatu perkara yang seperti contoh kasus dalam pembahasan yaitu fakta
yang terungkap dalam persidangan menyangkut tindak pidana percobaan kepada
terdakwa sehingga hakim dapat mengambil suatu putusan yang objektif dan
berdasar pada ketentuan KUHAP.Dosen Pembimbing Utama : I GEDE WIDHIANA SUARDA, S.H., M.Hum., Ph.D
Dosen Pembimbing Anggota : FISKA MAULIDIAN NUGROHO, S.H., M.H
Mitos Mimpi dalam Masyarakat Jawa Desa Umbulrejo Kabupaten Jember
Mitos mimpi merupakan kepercayaan masyarakat terhadap mimpi yang
diyakini sebagai suatu pertanda atau ramalan masa depan. Mitos mimpi berasal
dari tuturan nenek moyang yang diwariskan kepada generasi selanjutnya. Salah
satu masyarakat yang memercayai mitos mimpi adalah masyarakat Jawa di Desa
Umbulrejo Kabupaten Jember, yang mayoritas masyarakat pendukungnya adalah
orang tua. Beberapa masyarakat pendukungnya memercayai mimpi sebagai suatu
pertanda dari Tuhan. Bahkan mereka mengatakan telah membuktikan
kebenarannya. Meskipun tidak diketahui dari mana asal-usulnya, masyarakat tetap
memercayainya sebagai suatu kebenaran. Tak jarang pula orang tua mencoba
menuturkan dan meyakinkan generasi muda untuk ikut memercayai mitos mimpi.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan
etnografi. Sumber data pada penelitian ini adalah informan yang memahami
tentang mitos mimpi. Data-data yang diambil adalah kata-kata, tindakan, serta
segala informasi yang berkaitan dengan wujud mitos mimpi, fungsi mitos mimpi,
aspek psikologis dalam mitos mimpi, dan pemanfaatan mitos mimpi untuk
pendidikan dalam masyarakat Jawa Desa Umbulrejo Kabupaten Jember. Teknik
pengumpulan data yang dilakukan yaitu observasi, wawancara, dokumentasi,
transkripsi dan terjemahan. Selanjutnya, analisis data pada penelitian ini yaitu
reduksi data, penyajian data, prosedur analisis data, penarikan kesimpulan dan
verifikasi temuan.
Hasil penelitian ini yang pertama menunjukkan wujud mitos mimpi
terbagi menjadi tiga, yaitu (1) cerita masyarakat mengenai mitos mimpi, (2)
simbol-simbol dalam mimpi, dan (3) ritual dalam mitos mimpi. Menurut
masyarakat, mimpi terbagi menjadi tiga, yaitu puspo yoni, gondo yoni, puspo
tajem. Kepercayaan terhadap mitos mimpi tidak terlepas dari simbol-simbol di
dalamnya. Melalui simbol-simbol tersebut dapat menentukan apakah mimpi
dengan pertanda baik atau buruk. Mimpi juga dapat diketahui menjadi kenyataan
jika terjadi pada hari atau jam tertentu. Selain itu, masyarakat juga melakukan
ritual dengan tujuan untuk menolak datangnya bala atau kesialan. Kedua, mitos
mimpi dalam masyarakat Jawa memiliki fungsi, yaitu (1) media hiburan, (2)
Memberikan petunjuk hidup bagi masyarakat penganutnya, (3) menyampaikan
pesan atau ajaran secara simbolik, dan (4) meningkatkan keimanan kepada Tuhan.
Ketiga, kepercayaan terhadap mitos mimpi tidak terlepas dari aspek-aspek
psikologis dalam masyarakat, yaitu (1) aspek kognitif, (2) aspek emosi, dan (3)
aspek hubungan interpersonal. Keempat, mitos mimpi dalam masyarakat dapat
dijadikan sebagai materi seminar sebagai upaya melestarikan mitos mimpi sebagai
bagian dari kebudayaan dan sikap bijak menanggapinya.
Saran yang dapat diberikan adalah (1) bagi peneliti selanjutnya, dianjurkan
untuk mengkaji lebih mendalam terkait hal-hal yang belum dibahas pada
penelitian ini, seperti pebedaan pemaknaan mitos mimpi di masing-masing daerah
sehingga hasil penelitiannya semakin lengkap dan bervariasi. Selain itu, wujud
simbol mimpi dalam penelitian ini hanya terbatas pada simbol kosmos, simbol
binatang, simbol alam, dan simbol manusia/tubuh. Dengan demikian peneliti
selanjutnya dapat mengkaji simbol-simbol mmpi secara lengkap, agar
pengetahuan masyarakat semakin luas. (2) bagi masyarakat, hendaknya tetap
melestarikan mitos mimpi sebagai warisan budaya nenek moyang. Selain itu,
penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat
bahwa dibalik kebudayaan pasti ada nilai dan pelajaran yang dapat diambil.Dr.Sukatman, M.Pd.
Ahmad Syukron, S.Pd., M.Pd
Perencanaan Bahan Baku Tape Singkong Dengan Metode Material Requirement Planning (MRP). (Studi Kasus di UMKM Tape Sumber Madu)
Bahan baku merupakan salah satu faktor utama yang dibutuhkan didalam
melakukan produksi suatu perusahaan. Tanpa adanya penanganan persediaan
bahan baku yang baik maka akan timbul permasalah yang berupa kelebihan dan
kekurangan bahan baku. Maka perusahaan harus memiliki strategi berupa
perencanaan yang bertujuan untuk untuk meminimalkan biaya serta
memaksimalkan laba perusahaan.
UMKM Tape Sumber Madu merupakan perusahaan yang memproduksi
tape singkong. Pengadaan bahan baku pembuatan tape utamanya singkong yang
pada proses pembeliannya selalu berjumlah besar akan berpengaruh pada
keuangan perusahaan. Proses manajemen pengadaan yang konvensional masih
dilakukan oleh UMKM Tape Sumber Madu dengan tanpa adanya perhitungan
lainnya untuk meminimalisir keluarnya biaya berlebih.
Penelitian ini memiliki tujuan 1) Menganalisis kebutuhan bahan baku
dengan menggunakan teknik lot sizing (EOQ, POQ, dan LFL); 2) Menyusun
jumlah kebutuhan setiap bahan baku dengan metode Material Requirement
Planning (MRP). Metode pada penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan
menggunakan Materian Requirement Planning (MRP). Metode analisis pada
penelitian ini diawali dengan mengolah data yang berupa data penjualan tape dan
pembelian bahan baku pada tahun 2019. Pengolahan data dilakukan dengan
menggunakan peramalan, EOQ, POQ, dan LfL sehingga mampu memberikan
rekomendasi perbaikan yang memungkinkan.
Hasil perhitungan dengan menggunakan Material Requirement Planning
(MRP) dengan tiga analisis dan metode peramalan pada UMKM Tape Sumber
Madu berupa rancangan pembelian dan produksi pada bulan Januari 2020.
Peramalan penjualan yang dihasilkan dari perhitungan dengan metode Moving
Average berjumlah 2631 kotak tape manis. Untuk hasil perhitungan pada metode
EOQ pengeluaran biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 10.374.808, pada metode
POQ sebesar Rp. 10.164.808 dan pada metode LfL sebesar Rp. 13.683.400. Maka
nilai minimal yang dihasilkan sesuai perhitungan yaitu metode POQ dengan
jumlah pengeluaran pembelian bahan baku sebesar Rp. 10.164.808
Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Komik Cerita Rakyat Sidoarjo "Asal Mula Candi Pari" Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Tema 8 Subtema 1 Pembelajaran 3 Pada Siswa Kelas IV A SDN Medaeng 1 Sidoarjo
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan sangat berpengaruh terhadap perkembangan proses pembelajaran, baik dalam strategi, metode, implementasi maupun media yang digunakan dalam menyampaikan pembelajaran. Ber-dasarkan analisis terhadap buku siswa kelas IV Tema 8 Daerah Tempat Ting-galku, diketahui bahwa teks cerita yang disajikan dalam buku tersebut kurang relevan jika diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Menurut hasil wa-wancara terbuka yang dilakukan dengan guru wali kelas IV SDN Medaeng 1 Sidoarjo, diketahui bahwa pembelajaran Tema 8 Daerah Tempat Tinggalku masih menggunakan cerita yang terdapat pada buku siswa tanpa adanya penyesuaian dengan cerita rakyat Sidoarjo. Tujuan penelitian ini adalah untuk Untuk mendeskripsikan kevalidan dan keefektifan media komik cerita rakyat Sidoarjo ”Asal Mula Candi Pari” untuk digunakan dalam pembelajaran Tema 8 Subtema 1 Pembelajaran 3 pada siswa kelas IV A SDN Medaeng 1 tahun ajaran 2021/2022. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Medaeng 1 Sidoarjo dengan subjek penelitian 21 orang siswa kelas IVA tahun ajaran 2021/2022. Penelitian ini menggugunakan metode pengembangan “Research Based Development” menurut Borg and Gall dengan pendekatan kualitatif. Data yang didapatkan dari penelitian ini menunjukan bahwa media yang dikembangkan mendapat-kan skor kevalidan 90,8% dengan kriteria sangat layak. Berdasarkan test hasil belajar yang dilakukan siswa diketahui bahwa 19 dari 21 siswa mendapatkan nilai lebih dari 70 dengan presentase ketuntasan 90,47% atau kategori sangat efektif. Skor respon yang didapatkan dari angket respon siswa menunjukan hasil skor 100% yang artinya media mendapatkan respon yang sangat positif dari siswa dengan kategori keefektifan sangat efektif
Regeneration of Pogostemon cablin Benth. ‘Sidikalang’ through Indirect Organogenesis and Shoot Multiplication for Production of True-to-Type Plant
Patchouli Pogostemon cablin Benth. ‘Sidikalang’ (Acehnese Patchouli) is a member of the Lamiaceae, mint family. Aromatic oil known as patchouli oil can be produced from its leaves, which is highly valued in the perfumery and aromatherapy industry, because of its aromatic spicy fragrance. Patchouli oil also has various phytocompounds that have therapeutic effects including antimicrobial, antidepressant, antiinflammatory, and antioxidant. This study aims to establish an efficient and reproducible protocol for indirect regeneration from leaf explants and multiple shoots from nodal explants. Indirect organogenesis was done using solid medium of MS (Murashige-Skoog) with some treatments, such as 0.5 mg/L NAA + 0.1 mg/L BAP, 1 mg/L NAA + 0.1 mg/L BAP, and 1.5 mg/L NAA + 0.1 mg/L BAP, whereas multiple shoots from nodal explants were cultured on MS medium with various concentration of BAP, such as 0.5 mg/L, 1.0 mg/L, and 1.5 mg/L. Then, for the rooting stage from shoots, the shoots were cultured on halfstrength MS medium without Plant Growth Regulator (PGR) and MS medium with some treatment, such as without PGR, 0.5 mg/L IBA, and 0.5 mg/L NAA, respectively. Furthermore, the plantlets derived from the in vitro rooting stage treatment were acclimatized onto a combination of soil: compost (1:1). In addition, in vitro shoots were also planted directly as micro-shoot cuttings on combination soil: compost (1:1 ratio). The optimum treatment for indirect organogenesis was on MS medium supplemented with 1 mg/L NAA + ¬0.1 mg/L BAP. For multiple shoots from nodal explant, MS medium supplemented with 0.5 mg/L BAP was the optimum medium. Shoots were cultured in a half-strength MS medium for the rooting stage and grew to form plantlets with normal root morphology. Overall, patchouli plantlets were obtained more quickly by directly planting micro-shoot cuttings in ex vitro conditions rather than going through the in vitro rooting stage
Interleukin-22-induced β defensin-2 expression by intranasal immunization with Streptococcus pneumoniae RrgB epitopes
BACKGROUND
Streptococcus pneumoniae causes pneumococcal disease, which is
responsible for millions of deaths worldwide. Various pneumococcal vaccine
candidates have been developed to prevent S. pneumoniae infection, one
of which is an epitope-based vaccine. This study aimed to prove that
intranasal immunization with each of the five S. pneumoniae RrgB epitopes
can induce a mucosal immune response by increasing the -defensin-2
concentration through upregulation of interleukin (IL)-22 expression.
METHODS
An experimental laboratory study was conducted using 28 male Wistar
rats aged 3-4 months, that were randomly divided into 7 groups containing
four rats each. Group 1 was given 40 mL of phosphate-buffered saline
(PBS) only (control group). Group 2 was the adjuvant group that received
40 mL PBS containing 2 μg cholera toxin B (CTB), and groups 3-7 were
immunized with 40 mL PBS containing a combination of adjuvant and one
of the five different S. pneumoniae RrgB epitopes. The concentrations of
IL-22 and -defensin-2 from nasal rinse examination were measured by
means of ELISA. The Kruskal-Wallis test, followed by the Mann-Whitney
post-hoc test were used for statistical analysis.
RESULTS
Rats immunized with the adjuvant-epitope combination had significantly
higher -defensin-2 and IL-22 levels than the control group (p=0.030;
p=0.018, respectively), according to the Kruskal-Wallis test. And the MannWhitney statistical test, showed there was a significant increase in Bdefensin-2 and IL-22 levels.
CONCLUSIONS
Intranasal immunization with epitope 1 of the S. pneumoniae RrgB can
increase -defensin-2 expression significantly and has a greater potential
to be developed into a pneumococcal vaccine
The Health Literacy Level among Adult Patients in Rural and Urban Public Health Centers of Pandalungan Region: A Dual-Center Comparative Study
Literasi kesehatan merupakan komponen penting untuk memastikan determinan perilaku
kesehatan dan kualitas hidup seseorang. Literasi kesehatan berkontribusi untuk meningkatkan kesehatan
seseorang untuk dapat mempengaruhi pilihan gaya hidup sehat, mencegah penyakit, mencari informasi
tentang pengobatan yang tepat, dan cara mengobati penyakit yang dialami. Oleh karena itu, literasi kesehatan
diakui sebagai penentu kesehatan dan pendukung yang dapat mengembangkan kesehatan masyarakat
pedesaan dan perkotaan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat literasi
kesehatan pasien di Puskesmas pedesaan dan perkotaan di wilayah Pandalungan. Metode: Desain penelitian
deskriptif komparatif dengan menggunakan teknik purposive sampling pada 216 orang dewasa yang
mengunjungi dua puskesmas di pedesaan dan perkotaan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
kuesioner literasi kesehatan. Teknik analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Literasi
kesehatan merupakan temuan utama, analisis deskriptif, uji Mann Whitney, dan uji chi-square digunakan
untuk menganalisis data. Tingkat signifikansi statistic ditetapkan pada p<0.05. Hasil: Studi menemukan
perbedaan tingkat literasi kesehatan yang signifikan antara masyarakat yang berkunjung ke puskesmas
perkotaan dan pedesaan (p<0.001). Tingkat literasi kesehatan pada responden yang berkunjung ke puskesmas
perkotaan (132,29) lebih tinggi dibandingkan responden yang berkunjung ke puskesmas pedesaan (84.71).
ketiga subdomain literasi kesehatan menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pedesaan dan perkotaan
(p<0.001). Jenis wilayah puskesmas, tingkat usia, tingkat pendidikan, dan pekerjaan merupakan faktor yang
berhubungan dengan tingkat literasi kesehatan.Kesimpulan: Temuan kami menyoroti dampak delineasi
wilayah geografis sebagai variabel pembeda yang secara signifikan mempengaruhi tingkat literasi kesehatan
pribadi orang dewasa. Peran daerah pedesaan-perkotaan berpengaruh pada keterampilan dan kemampuan
individu yang mempengaruhi literasi kesehatan. Dengan demikian, mengurangi hambatan literasi kesehatan
diakui sebagai elemen penting untuk mempromosikan kesetaraan kesehatan yang selanjutnya dapat
mengurangi kesenjangan kesehatan dan mempromosikan prinsip-prinsip hak asasi manusia tanpa diskriminasi
dan kesetaraan. Literasi kesehatan adalah solusi masalah kesehatan di masyarakat untuk mengendalikan
kesejahteraan mereka sendiri dengan membuat pilihan perawatan kesehatan yang baik. Tampaknya perlu
untuk merancang dan mengimplementasikan berbagai program pendidikan untuk meningkatkan literasi
kesehatan umum
Performance of Small Diesel Engine with Pertadex and Biodiesel Mixed Fuel from Kemiri Seeds
The decline in fuel oil production has led to the development of alternative fuels that are renewable and more environmentally friendly. An alternative fuel that can be developed is biodiesel. In this study aims to develop alternative biodiesel fuels as a substitute for fossil oil fuels that are feasible applied to diesel engines. This study conducted a diesel engine performance test using mixed fuel from pertadex and candlenut biodiesel with a variation of biodiesel mixture B10, B20, and B30. The diesel engine used is a single cylinder MDX-170F air-cooled 211 cc. The diesel engine is connected to the ST-3 Generator 1 phase 220 Volt 1500 rpm which is given a load in the form of a lamp 4000 W. From the test results using a mixture of biodiesel, the effective power and torque produced by the engine decreases compared to using pure pertadex. Among the three variations of the biodiesel mixture, the best effective power produced by B10 fuel is 1537 Watt and the best torque produced by B10 fuel is 5,84 Nm. Specific fuel consumption in all biodiesel blends is increased compared to pure pertadex. Among the three variations of the biodiesel mixture, the average best specific fuel consumption produced by B30 fuel is 236,24 g/kWh. The thermal efficiency in all biodiesel blends is increased compared to pure pertadex in B20 and B30 blends. Among the three variations of the biodiesel mixture, the best thermal efficiency produced by B20 fuel is 45,97 %. The opacity of the engine exhaust gas produced in all biodiesel mixes is getting better compared to using pure pertadex. The best opacity of the engine exhaust gas produced in the use of B30 fuel is 2,3% HSU
Mitos dalam Tradisi Kasada Masyarakat Tengger di Kabupaten Probolinggo
Mitos dalam Tradisi Kasada Masyarakat Tengger di Kabupaten Probolinggo; M. Saifur Ridzal, 170210402032; 2022: 177 halaman; Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni; Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan; Universitas Jember.
Mitos dapat dikatakan sebagai identitas dari suatu kelompok masyarakat. Mitos yang terdapat pada suatu daerah berbeda dengan mitos yang terdapat pada daerah lain. Salah satu mitos yang beredar di wilayah timur Pulau Jawa yaitu kisah Raden Kusuma yang dipercaya sebagai cikal bakal lahirnya tradisi Kasada. Raden Kusuma merupakan salah satu keturunan Rara Anteng dan Jaka Seger yang menjadi abdi Dewa Brahma di kawah Gunung Bromo. Hal tersebut dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan dari Dewa Brahma kepada Rara Anteng dan Jaka Seger ketika melaksanakan tapa brata agar mendapatkan keturunan. Pada saat Raden Kusuma menghadap Dewa Brahma, ia meminta kepada masyarakat Tengger agar memberikan sebagian hasil bumi ke dalam kawah Gunung Bromo. Cerita tersebutlah yang menjadi asal-usul terbentuknya tradisi Kasada. Mitos dalam tradisi Kasada mengandung fungsi bagi masyarakat Tengger yaitu sebagai kotrol sikap sosial antar sesama dan sikap spiritual terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, mitos tersebut juga mengandung nilai budaya yang berupa nilai ke-Tuhan-an yaitu hubungan religius masyarakat Tengger dengan Dewa Brahma, nilai kemanusiaan yaitu hubungan sosial masyarakat Tengger dengan sesama, dan nilai lingkungan yaitu hubungan antara masyarakat Tengger dengan lingkungan sekitar. Penelitian yang berjudul “Mitos dalam Tradisi Kasada Masyarakat Tengger di Kabupaten Probolinggo” ini dilaksanakan guna mengenalkan tradisi Kasada secara lebih luas, khususnya kepada para siswa SMA/MA/SMK kelas X, serta untuk melestarikan tradisi Kasada beserta sakralitas yang ada di dalamnya yang sudah mulai terlupakan oleh generasi milenial.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan tradisi lisan dengan metode etnografi dan semiotika. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan yang memahami tradisi Kasada, serta dokumen-dokumen yang membahas tentang tradisi Kasada. Data dalam penelitian ini berupa hasil observasi, hasil wawancara, catatan etnografi, dan Silabus Bahasa Indonesia di SMA dengan Kurikulum 2013. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu teknik observasi, dokumentasi, wawancara etnografi, dan simak catat. Selanjutnya teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik analisis etnografi yang terdiri dari analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponen, dan analisis tema budaya, serta teknik analisis semiotika Roland Barthes yang terdiri dari analisis makna denotatif dan analisis makna konotatif.
Hasil dan pembahasan dalam penelitian ini, yaitu yang pertama wujud mitos dalam tradisi Kasada merupakan cerita narasi mengenai Raden Kusuma yang menjadi abdi dewa di kawah Gunung Bromo. Raden Kusuma merupakan putra bungsu dari Rara Anteng dan Jaka Seger. Mereka berdua adalah pasangan suami istri yang cukup lama tidak kunjung dikaruniai keturunan. Oleh karena itu, merkea kemudian melaksanakan tapa brata di kawah Gunung Bromo dengan meminta kepada Dewa Brahma agar diberikan keturunan. Dewa meyanggupi permintaan tersebut, dengan syarat salah satu keturunan mereka harus rela menjadi abdi dewa di kawah Gunung Bromo. Setelah mendapat keturunan sebanyak 25 anak, dewa kemudian memilih Raden Kusuma sebagai abdi-Nya di kawah Gunung Bromo. Ketika Raden Kusuma menghadap Dewa Brahma, ia meminta kepada masyarakat Tengger agar dikirimi sebagian hasil bumi setiap tanggal 15 di bulan Kasada. Cerita tersebutlah yang menjadi awal mula pelaksanaan tradisi Kasada. Kedua, mitos dalam tradisi Kasada ini memiliki fungsi bagi masyarakat Tengger, yaitu sebagai kontrol sikap sosial antar sesama dan sikap spiritual terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal tersebut dikarenakan adanya kepercayaan dari masyarakat Tengger bahwa Raden Kusuma telah memenuhi janji kepada Dewa Brahma agar para saudara beserta keturunannya diberikan perlindungan dari segala mara bahaya. Ketiga, mitos dalam tradisi Kasada mengandung nilai budaya, yaitu yang pertama nilai ke-Tuhan-an. Masyarakat Tengger meyakini bahwa Gunung Bromo merupakan tempat kedudukan Dewa Brahma. Oleh karena itu, setiap tanggal 15 di bulan Kasada, mereka melaksanakan ritual pemujaan kepada Dewa Brahma. Nilai yang kedua yaitu nilai kemanusiaan. Masyarakat Tengger memiliki agama dan keyakinan yang berbedabeda. Namun, hal tersebut tidak menimbulkan perpecahan di antara mereka karena seluruh masyarakat Tengger menghormati leluhur dan tradisi yang telah diwariskan kepada mereka. Nilai yang ketiga yaitu nilai lingkungan. Kawasan Tengger merupakan kawasan yang memiliki berbagai macam hasil bumi dikarenakan adanya upaya pelestarian terhadap ladang yang dimiliki oleh masyarakat Tengger agar dapat turut memberikan persembahan pada tradisi Kasada. Keempat, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif materi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA/MA/SMK kelas X dengan KD 3.7 mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang terkandung dalam cerita rakyat (hikayat) baik lisan maupun tulisan, dan KD 4.7 menceritakan kembali isi cerita rakyat (hikayat) yang didengar dan dibaca. Pemanfaatan hasil penelitian ini, yaitu dengan menjadikan cerita Raden Kusuma sebagai materi pembelajaran bahasa Indonesia. Guru dapat meminta siswa mengidentifikasi nilai-nilai dan isi yang terkandung dalam cerita Raden Kusuma. Selain itu, guru juga dapat meminta siswa menceritakan kembali cerita Raden Kusuma dengan menggunakan bahasa mereka sendiri.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab empat, dapat disimpulkan bahwa wujud mitos dalam tradisi Kasada berasal dari adanya kepercayaan masyarakat Tengger terhadap cerita Raden Kusuma yang menjadi abdi Dewa Brahma di kawah Gunung Bromo, serta adanya ketaatan terhadap Dewa Brahma yang diyakini berkedudukan di kawah Gunung Bromo. Oleh karena itu, untuk mengenang jasa Raden Kusuma dan untuk menunjukkan ketaatan masyarakat Tengger kepada Dewa Brahma, maka setiap tanggal 15 di bulan Kasada merka melaksanakan ritual keagamaan yang kemudian disebut sebagai tradisi Kasada. Mitos dalam tradisi Kasada memiliki fungsi bagi masyarakat Tengger sebagai kontrol sikap sosial antar sesama dan sikap spiritual terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, tradisi Kasada juga mengandung nilai budaya, yaitu nilai ke-Tuhan-an, nilai kemanusiaan dan nilai lingkungan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai alternatif materi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di SMA/MA/SMK kelas X dengan KD 3.7 dan KD 4.7.Dr. Sukatman, M. Pd
Siswanto, S. Pd., M