75643 research outputs found
Sort by
Identifikasi Inhibitor Xantin Oksidase pada Biji Melinjo (Gnetum gnemon l.) selama Masa Perkecambahan
Hiperurisemia merupakan salah satu jenis penyakit manusia yang cukup
berbahaya bagi kesehatan manusia. Salah satu faktor yang mempengaruhi
hiperurisemia adalah aktivitas xantin oksidase. Aktivitas xantin oksidase dapat
dihambat oleh beberapa senyawa bioaktif. Pada penelitian ini ditemukan bahwa
senyawa protein dan fenolik yang berasal dari ekstrak biji melinjo mampu
menghambat aktivitas xantin oxidase. Penelitian ini juga menunjukkan pengaruh
perkecambahan (proses hidrolisis alami) terhadap aktivitas senyawa bioaktif
ekstrak biji melinjo. Di antara ekstrak biji melinjo dengan waktu perkecambahan
lainnya (0, 3, 7, 14 hari setelah bertunas), perkecambahan hari ke-21
menunjukkan aktivitas penghambatan tertinggi. Aktivitas penghambatan oleh
senyawa protein dan fenolik ekstrak biji melinjo menurunkan konsentrasi yang
dibutuhkan untuk menghambat 50% aktivitas enzim (IC50). Nilai IC50 ekstrak
protein (0, 3, 7, 14, 21 HST) masing masing adalah 196,1 ± 0,93 g/mL; 190,9 ±
0,67 g/mL; 174,9 ± 0,99 g/mL; 148,7 ± 0,72 g/mL; 135,3 ± 0,43 g/mL (p < 0,05).
Nilai IC50 ekstrak fenolik (0, 3, 7, 14, 21 HST) masing masing adalah 48,1 ± 0,62
g/mL; 46,2 ± 0,7 g/mL; 43,1 ± 0,54 g/mL; 37,6 ± 0,78 g/mL; 33,7 ± 0,52 g/mL (p
< 0,05). Artinya beberapa tahap perkecambahan biji melinjo di atas mampu
meningkatkan aktivitas penghambatan xantin oksidase.Prof. Tri Agus Siswoyo, M.Agr., Ph.D. Dosen Pembimbing Skripsi
Third Sector Organizational Challenges in Provision of Clean Water Services in Darungan Village, Jember Regency
This research was conducted to find out how the involvement of the
third sector in the public service of providing clean water in
Darungan Village, Tanggul District, Jember Regency. Darungan
Village from 1970 to 1980 is a portrait of the government's failure
to fulfill the needs of the public sector for clean water. This failure
can be seen from the absence of the government in an effort to
fulfill public needs in this sector. This is because the geographical
location of Darungan Village is isolated and the level of education
of the majority of the community is quite low. By referring to the
idea of Bransend's co-production theory, that to involve the
community actively in public services to revive the democratization
of society which is considered to be starting to degrade, it allows
the third sector or also known as the community to be involved in
public services, especially in the sector of meeting water needs.
clean in Darungan Village. Clean water services carried out by the
third sector in Darungan Village are carried out by an
organization named HIPPAM (Himpunan Penduduk Pemakai Air
Minum) which has been established in 2000 to date, in
collaboration with the PU Cipta Karya Office, Jember Regency.
The government provides assistance in the form of clean water
facilities which will be managed independently by the community.
The results of this study are the challenges faced by third sector
organizations in providing clean water in Darungan Village
Development of a Handheld IoT-Based Fruit Harvester to support Agrotourism
Agrotourism, a development in the tourism industry that can increase the economic potential of an area, offers
many activities, such as fruit picking tours. Fruit picking, a crucial part of the harvesting process, involves
separating fruits from plants to obtain economic value. However, several common mistakes during harvesting
can damage the plants or branches. In this study, we developed a mechanical fruit harvester incorporated with
the Internet of Things (IoT). The harvester has multiple functions, such as minimizing the damage to tree
branches, monitoring the fruit productivity of each plant, and providing information on fruit weight and prices in
real-time. The tool is equipped with a smartphone, several infrared and load sensors, a microcontroller, a cloud
data logger, and a data analysis system. We tested the accuracy of the GPS on several smartphones while in
agrotourism areas. The accuracy of the GPS on the harvesting tool is approximately 3 meters, and the success rate
in calculating the number of fruits using the infrared sensor is 93.3 %, depending on the diameter of the fruit
passing into the bucket. In addition, the harvester is equipped with a load sensor with a measurement deviation
rate of 2.48%
Tanaman Obat: Penangkal Penyakit dan Meningkatkan Sistem Imunitas Tubuh
Tanaman toga sudah luas dibudidayakan seperti temulawak, lengkuas, jahe, kunyit, kencur, dan sereh serta lebih mudah ditemukan dan ditanam di pekarangan rumah. Berdasarkan penelitian tanaman toga salah satunya adalah jahe yang mengandung gingerol sebagai analgetika, sedatif, antipiretika dan meningkatkan kemampuan fagositosis makrofag terhadap benda asing. Kurkumin pada kunyit dipercaya dapat menghambat sitokin serta enzim pemicu inflamasi, meningkatkan sel neutrofil dan limfosit yang mengurangi peradangan dalam tubuh dan menekan peradangan
Potensi dan Kondisi Cagar Budaya di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2010-2021
Finalisasi unggah file repositori tanggal 28 Juni 2022_KurnadiKabupaten Banyuwangi merupakan sebuah wilayah yang memiliki potensi cagar budaya berupa peninggalan prasejarah, peninggalan klasik hingga peninggalan kolonial. Banyak tempat bersejarah dan bentuk-bentuk peninggalan lainnya yang memerlukan perhatian dan penanganan khusus agar lebih bermanfaat dan lestari. Berdasarkan potensi yang sedemikian besar tersebut maka sangat sayang apabila cagar budaya di wilayah Kabupaten Banyuwangi tersebut tidak dimanfaatkan dan dikembangkan untuk kepentingan pemerintah daerah. Melihat cukup banyak peninggalan-peninggalan arkeologi yang ada di Kabupaten Banyuwangi membuat pemerintah daerah harus terus melakukan pelestarian agar peninggalan-peninggalan tersebut terhindar dari kerusakan yang diakibatkan oleh alam ataupun oleh manusia serta agar terhindar dari kepunahan. Pengelolaan cagar budaya di Kabupaten Banyuwangi sesuai dengan Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 61 Tahun 2012 yaitu dilakukan Oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Pelestarian cagar budaya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya yaitu meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya.
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini sebagai berikut: (1) Bagaimana potensi dan kondisi cagar budaya di Kabupaten Banyuwangi hingga tahun 2021?; (2) Bagaimana usaha-usaha yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam rangka perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya di Kabupaten Banyuwangi tahun 2010-2021?. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai oleh penulis adalah (1) Mengkaji gambaran potensi dan kondisi cagar budaya di Kabupaten Banyuwangi hingga tahun 2021; (2) Mengkaji usaha-usaha yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dalam rangka perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan cagar budaya di Kabupaten Banyuwangi tahun 2010-2021. Jenis penelitian ini adalah penelitian sejarah. Langkah-langkah yang ditempuh meliputi (1) Pemilihan Topik; (2) Heuristik; (3) Kritik; (4) Interprestasi; dan (5) Historiografi. Sumber-sumber primer yang digunakan adalah arsip dokumen yang didapatkan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan sumber lisan yang didapatkan dari pihak-pihak yang terlibat langsung dengan judul penelitian.
Hasil dalam penelitian ini menunjukan bahwa cagar budaya di Kabupaten Banyuwangi meliputi peninggalan prasejarah, klasik hingga kolonial yang tersebar di wilayah Banyuwangi. Pelaksanaan pelestarian oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata selama tahun 2010-2021 berupa sosialisasi mengenai UU Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, melakukan iventarisasi dan pendataan, memberikan papan situs serta menujuk juru pelihara. Selain itu juga dibentuk Tim Ahli Cagar Budaya meskipun belum bersertifikasi. Pengembangan dilakukan dengan penelitian dari Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. Melakukan pengenalan cagar budaya ke sekolah-sekolah dan diadakannya pameran kepurbakalaan. Kemudian mendorong desa untuk membuat museum desa. Kendala yang terjadi yaitu kurangnya tenaga ahli dibidang pelestarian cagar budaya, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap tinggalan arkeologi dan minimnya anggaran terkait pelestarian cagar budaya.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian yaitu adanya potensi cagar budaya peninggalan periode prasejarah sampai peninggalan periode kolonial yang tersebar di wilayah Kabupaten Banyuwangi dengan kondisi yang terawat, tidak terawat bahkan ada yang mengalami kerusakan. Upaya pelestarian cagar budaya yang dilakukan oleh Dinas kebudayaan dan Pariwisata harus mendapat dukungan dari masyarakat serta pihak-pihak lainnya agar semua ikut memperhatikan, menjagaga, merawat dan tidak merusak peninggalan arkeologi tersebut. Selain itu adanya dukungan dari Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur yang selalu melakukan pengembangan terhadap pelestarian cagar budaya di Kabupaten Banyuwangi. Sampai saat ini upaya pelestarian terus dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.Dosen Pembimbing utama : Drs. Kayan Swastika, M.Si.
Dosen Pembimbing anggota : Dr. Mohamad Na'im, M.Pd
Pengaruh Kualitas Kehidupan Kerja Pada Sikap Kerja Karyawan PT Mitratani dua Tujuh
Sebuah perubahan yang terjadi pada perusahaan berdampak pada seluruh elemen
perusahaan, khususnya karyawan. Perusahaan harus mampu merawat karyawan
dengan baik agar perubahan dalam perusahaan mendapat dukungan dari karyawan.
Dukungan karyawan terhadap perubahan perusahaan dapat diketahui dari sikap
kerja selama bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis
pengaruh kualitas kehidupan kerja terhadap sikap kerja karyawan di PT Mitratani
Dua Tujuh. Sikap kerja terdiri dari dua variabel, yaitu kepuasan kerja dan komitmen
organisasional. Penelitian ini menggunakan tiga variabel, yaitu kualitas kehidupan
kerja, kepuasan kerja, dan komitmen organisasional. Data yang digunakan dalam
penelitian merupakan data primer yang diperoleh melalui survei dengan
menyebarkan kuesioner. Penelitian ini menggunakan 86 responden karyawan PT
Mitratani Dua Tujuh. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive
sampling, yaitu karyawan tetap yang memiliki masa kerja minimal 5 tahun. Data
yang diperoleh kemudian diolah menggunakan analisis regresi linier untuk
menganalisis pengaruh kualitas kehidupan kerja terhadap kepuasan kerja dan
komitmen organisasional. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat pengaruh
positif dan signifikan dari kualitas kehidupan kerja terhadap kepuasan kerja,
komitmen kontinuans. Pengaruh tersebut terjadi karena PT Mitratani Dua Tujuh
mampu memenuhi kebutuhan karyawan yang terdapat dalam kualitas kehidupan
kerja, khususnya kebutuhan kesehatan dan keselamatan kerja serta kebutuhan
pengetahuan
Analysis of the Role of Capital Structure on The Relationship between the Economic Parameters That Determine the Value of Manufacturing Companies In Indonesia and Thailand
The purpose of this study is to examine the influence of external factors that are proxied on:
Inflation, Interest Rates, GDP, then internal factors that are proxied in: ROA, Size, Asset
Structure, NDTS, INOS, INOP, then Innovative Capital partially on the capital structure and
value of manufacturing companies. This study also examines the role of capital structure on
the value of companies listed on IDX and SET during 2014-2018. This research using a
quantitative approach using purposive sampling method, with the statistical test tool SPSS 26.
The sample in this study was 35 companies in IDX and 11 companies in SET. The results
showed that external factors affect the capital structure, findings on the internal factors of the
IDX show that: ROA and size have an effect on the capital structure. Whereas in SET,
internal factors: ROA, asset structure, NDTS affect the capital structure. Findings on the
external factors of the IDX show that: Inflation, interest rates have an effect on firm value.
Whereas in SET, external factors: inflation, interest rates, GDP have an effect on firm valu
Analisis Performa Turbin Angin Vawt Tipe Hybrid Savonius Darrieus Naca 4712
Kebutuhan sumber energi pada suatu negara memang sangat dibutuhkan
saat ini. Di masa global warming akibat polusi dari energi yang merusak
lingkungan, membuat para peneliti mencari sumber pemanfaatan energi yang
lebih ramah lingkungan dan dapat digunakan. (Deskabelly dan Nuryadi, 2019:1).
Pemanfaatan energi ramah lingkungan yang banyak digunakan saat ini yaitu
energi angin. Energi ini bisa di manfaatkan untuk mengurangi penggunaan bahan
bakar minyak atau energi lain yang dapat merugikan. Salah satu pemanfaatan
energi bayu yang saat ini banyak di pakai yaitu turbin angin untuk pembangkit
energi listrik. (Mahendra dkk., 2013:2). Saat ini kebutuhan energi listrik sangat
dibutuhkan, bukan hanya di daerah perkotaan saja namun di daerah desa-desa juga
membutuhkan listrik, sehingga pembangunan energi listrik dilakukan hingga
pelosok-pelosok desa. (Aryanto dkk., 2013:51).
Suatu unsur yang dapat berpengaruh pada kondisi iklim dan cuaca adalah
angin. Adanya perbedaan tekanan udara pada suatu tempat atau daratan dapat
mengakibatkan hembusan atau tiupan angin. (Bactiar dan Hayattul, 2018:36)
Turbin angin mempunyai prinsip kerja yang sederhana yaitu merubah energi bayu
menjadi energi mekanik pada kincir, kemudian putaran pada kincir membuat rotor
pada generator dapat berputar dan menghasilkan listrik. (Kusbiantoro dkk.,
2013:1). Turbin angin memiliki 2 jenis yaitu vertical axis wind turbine dan
horizontal axis wind turbine. (Sulaiman dkk., 2020:47). Untuk membangun
sebuah turbin angin dibutuhkan angin yang cukup untuk memutar turbin angin.
Berdasarkan data kecepatan angin rata-rata di Indonesia pada tahun 2016 yaitu
3,5-7 m/s. (Saputra, 2016:75).Muhammad Trifiananto, S.T., M.T(Pembimbing I)
Ir.Mochamad Edoward Ramadhan S.T., M.T. (Pembimbing II
A Comparative Analysis of Nurses’ Cultural Competence in Inpatient, Outpatient, and Emergency Rooms within Hospital Setting
Cultural diversity affects individual beliefs and understanding of treatment situations,
influencing the treatment process. As care providers, nurses must deliver culturally sensitive
care, so cultural competence is paramount. Cultural competence is a crucial element of
cross-cultural care. Nevertheless, research on assessing nurses’ cultural competence across
different care settings is lacking. This study was aimed to analyze differences in nurses’
cultural competence in inpatient, outpatient, and emergency rooms. The study used a nonexperimental quantitative design with a cross-sectional approach conducted on 108 nurses in
inpatient, outpatient, and emergency rooms. Data were collected using a Cultural
Competence Assessment Instrument (CCAI) questionnaire. The data analysis used univariate
and bivariate analysis. Descriptive analysis and the Kruskal Wallis test were used to analyze
the data, with p<0.05. The analysis results documented no significant difference in cultural
competence among the nurses, evidenced by p 0.841. Their cultural competence was not
significantly related to the type of nursing service provided. However, cultural competence is
dependent on nurses’ cultural knowledge and organizational support related to the provision
of cultural competence trainin
The potential of papain and zingibain proteolytic against β-amyloid (Aβ) protein in senile cataracts
The protein aggregation process that forms senile cataracts is related to the pathway for making
amyloid structures. With age the increase in β-secretase activity increases. β- and γ-secretase are enzymes that
catalyze Amyloid-β Precursor Protein (APP) into β-amyloid (Aβ) structure. So that the β-amyloid (Aβ) formed
must be cleaved using an enzyme containing protease to break down the proteins contained in the enzyme papain
(Carica papaya L.) and zingibain enzymes (Zingiber officinale). So the In silico test is needed to see the binding
ability between the proteolytic effects of the papain enzyme and the zingibain enzyme on β-amyloid (Aβ)
protein. Determining the proteolytic potential of the papain enzyme and Zingibain enzyme against β-amyloid
(Aβ) protein.
Methods: collecting data of papain, zingibain enzyme and protein from RSCB and NCBI predicting the
proteolytic potential of papain and zingibain enzyme against β-amyloid (Aβ) with docking simulation by In
Silico Study and data analysis was carried out.
Results: The binding interaction model is 1 for the papain enzyme and 0 for the zingibain enzyme with the
binding affinity value for the papain enzyme is -697.2 and for the zingibain enzyme is -873.5.
Conclusion: The papain enzyme isolated from papaya latex (Carica papaya L.) and Zingibain found in ginger
(Zingiber officinale) has the ability to form bonds with β-amyloid (Aβ) protein so it has the potential to be
developed as a useful proteolytic as a preventive for senile cataracts