Relief : Journal of Craft
Not a member yet
45 research outputs found
Sort by
Stilisasi Bunga Matahari Sebagai Ornamen Sulam Pada Karya Dua Dimensi
Bunga matahari dengan nama ilmiah Helianthus annuus L. Bunga matahari merupakan tanaman tahunan yang cukup tinggi. Diameter bunga matahari dapat mencapai 15-30 cm yang sebagian besar bunga berwarna kuning. Bunga matahari memiliki keunikan terletak pada kelopaknya yang menyerupai seperti matahari dan tumbuh menghadap matahari. Daun bunga matahari memiliki bentuk seperti hati, warnanya hijjau sampai hijau tua. Benang sari bunga matahari terletak pada tengah bunga berwarna coklat. Landasan teori pada penciptaan karya seni ini meliputi tujuh landasan teori, teori bentuk, teori motif, teori stilisasi, teori warna, teori sulam, teori bunga matahari, dan teori karya dua dimensi. Metode penciptaan karya seni ini melalui tiga tahap, tahap eksplorasi dimulai dengan mencari referensi tulisan dan data tentang bunga matahari, tahap perancangan, konsep yang digambarkan dalam beberapa sketsa alternatif, dan desain terpilih. Tahap perwujudan melalui proses teknik tusuk pipih, tusuk rantai, dan tusuk kepala peniti menggunakan bahan kain kanvas, benang wol, dan benang jahit.
Visualisasi Makan Bajamba Dengan Teknik Ukir Pada Kayu
Makan bajamba adalah budaya asli Minangkabau khususnya di nagari Koto Baru Salo, kabupaten Agam yang sangat patut untuk dilestarikan keberadaannya. Dalam Konsep perwujudan karya bersumber dari budaya makan bajamba menghadirkan visualisasi dari prosesi makan bajamba yang diwujudkan dalam bentuk relief dengan tiga nilai utama yang terkandung di dalam makan bajamba yaitu nilai kebersamaan, nilai etika dan nilai silaturahmi. Proses perancangan, perwujudan serta penerapan karya menggunakan teori bentuk, estetika, dan fungsi. Teknik yang digunakan pada pembuatan karya ini adalah teknik ukir tinggi, dengan menggunakan bahan utama kayu surian. Hasil akhir dari karya ukir kayu berbentuk relief ini bejumlah tujuh karya yang berjudul yaitu Karya I Mahidang, Karya II Pasambahan, Karya III Jamba, Karya IV Adab Makan Bajamba, Karya V Menikmati Jamba, Karya VI Parabuang, Karya VII Makan Parabuang. Dalam setiap karya mengandung nilai dan ilmu pengetahuan tentang kegiatan makan bajamba
PERKEMBANGAN BENTUK SUNTIANG ANAK DARO DI KOTA PARIAMAN
Salah satu budaya tradisional Minangkabau adalah baralek. Baralek adalah upacara perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita di Minangkabau. Pakaian mempelai pria disebut roki dan dilengkapi dengan asesoris lainnya. Pakaian wanita lengkap terdiri dari baju kurung (atasan), kodek (bawahan), hiasan kepala berupa suntiang, dan aksesoris lengkap lainnya. Penelitian ini berfokus pada perkembangan bentuk suntiang yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu yang dikenakan pada anak daro di Kota Pariaman, perkembangan bentuk, dan ragam hias suntiang.Metode yang digunakan penulis dalam mempelajari perkembangan bentuk suntiang anak daro di Kota Pariaman adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan, wawancara dan dokumentasi. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data melalui data referensi, data lapangan, setelah itu data dikumpulkan dan dianalisis sesuai dengan kebutuhan, kemudian ditarik kesimpulan.Hasil penelitian perkembangan suntiang anak daro dapat dilihat dari cara pemasangan dan bentuk suntiang, yaitu dari suntiang tusuak berkembang menjadi suntiang songkok. Suntiang songkok terdiri dari tiga bentuk, pertama suntiang berbentuk kipas atau mahkota, kedua suntiang berbentuk gonjong rumah gadang, ketiga suntiang berbentuk tingkuluk tanduak. Suntiang anak daro tersusun dari gabungan beberapa unsur berupa bungo sarunai dengan motif bunga melati, kambang goyang dengan motif bunga ros, mansi-mansi dengan motif cumi-cumi, burung merak dan kote-kote atau jurai-jurai yaitu beberapa helai yang memiliki motif berupa ikan, kupu-kupu dan burung
Perpaduan Tradisi Dan Inovasi Pada Kerajinan Kulit : Studi Kriya Seni Berbasis Kearifan Lokal
Penelitian ini menegaskan bahwa perpaduan antara tradisidan inovasi bukan sekadar upaya mempertahankan masa lalu ataumengejar modernitas, melainkan sebuah strategi kreatif yang mampu melahirkan bentuk baru dari keberlanjutan budaya. Karya-karya Pak Saiful di Senja Kenangan membuktikan bahwakerajinan kulit dapat menjadi ruang dialog antara warisansimbolik dan kebutuhan estetika kontemporer
KREASI RANGKIANG PADA PENCIPTAAN KRIYA LOGAM
Kreasi Rangkiang Pada Penciptaan Kriya Logam bersumber dari bentuk rangkiang sebagai tempat penyimpanan padi. Rangkiang yang merupakan bagian dari arsitektur Minangkabau. Bentuknya yang unik dengan keberadaannya saat ini memberi inspirasi dan menjadi dasar dalam penciptaan karya kriya logam. Bentuk dan unsur bangunan rangkiang dengan karakteristik tersendiri diambil tanpa menghilangkan bentuk aslinya. Garapan visual karya merepresentasikan dan menggambarkan serta menyampaikan pesan maupun kondisi serta keberadaan rangkiang saat ini melalui bentuk-bentuk visual yang menggambarkan keberadaan arsitekur yang sudah tua, tidak terawat,terabaikan,bahkan dibiarkan. Kreasi yang dilakukan pada karya dengan Menyusun bentuk rangkiang yang dicor logam yang disusun pada kerangka karya yang udah dibentuk. Rangkiang merupakan salah satu artefak lokal Minangkabau dalam bentuk arsitektur. Yang digunakan sebagai tempat menyimpan padi dan hasil panen lainnya. Bagian arsitekstur Minangkabau rangkiang memiliki bentuk yang menyerupai rumah gadang tetapi dengan ukuran yang lebih kecil, dengan bentuk atapnya terdiri dari dua gonjong berbahan ijuk
Komposisi Motif Batu Bata Pada Baju Kurung Batik
ABSTRACTComposition Of Brick Motif On Baju Kurung BatikBricks are coarse soil that is processed in such a way as to become bricks. The bricks have a block shape and have a rough texture. In the middle of the brick there are 4 (four) holes, these holes are used for air distribution which functions as drying or reducing the water content contained in the bricks, besides that the bricks also have solid and hard properties. The creation of this work begins with the shape of the stylized bricks on each side of the brick. The shape of this brick is composed as a decorative motif on the baju kurung. The process of creating this work goes through three stages, including the exploration stage, which is to see firsthand the process of making bricks. Design by pouring ideas into the form of a sketch which then becomes the chosen design to the realization of the work through the handmade batik technique and then applied to the baju kurung. Creation uses the theory of form, function, color, motif, stylization and aesthetics. The form of the work created is a size S-sized baju kurung using handmade batik techniques. The function of this baju kurung is as clothing for teenage and adult women who are used during formal events or official events. There were five works, with the titles: “Opposite”, “Complexity”, “Scattered”, “Balance”, “Contrast”, “Repetition” and “Simplicity”.Keywords: batik, bricks, baju kurung and motifs. INTI SARIKomposisi Motif Batu BataPada Baju Kurung BatikBatu bata merupakan tanah kasar yang diolah sedemikian rupa hingga menjadi batu bata. Batu bata memiliki bentuk balok dan bertekstur kasar. Pada bagian tengah batu bata terdapat 4 (empat) lubang, lubang ini digunakan untuk penyalur udara yang berfungsi sebagai pengeringan ataupun pengurangan kadar air yang terkandung di dalam batu bata, selain itu batu bata juga memiliki sifat padat dan keras. Penciptaan karya ini berawal dari bentuk batu bata yang sudah distilisasi pada setiap sisi batu bata. Bentuk dari batu bata ini di komposisisikan sebagai motif hias pada baju kurung. Proses penciptaan karya ini melalui tiga tahapan di antaranya, tahap eksplorasi yaitu melihat secara langsung proses pembuatan batu bata. Perancangan dengan menuangkan ide ke bentuk sketsa yang kemudian menjadi desain terpilih hingga perwujudan karya melalui teknik batik tulis lalu diaplikasikan pada baju kurung. Penciptaan menggunakan teori dari bentuk, fungsi, warna, motif, stilisasi dan estetika. Bentuk karya yang diciptakan adalah setelan baju kurung berukuran S menggunakan teknik batik tulis. Fungsi baju kurung ini sebagai pakaian wanita remaja dan dewasa yang digunakan pada saat acara formal atau acara resmi. Jumlah karya yang dibuat sebanyak lima karya, dengan judul yaitu: “Berlawanan”, “Kerumitan”, “Bertaburan”, “Keseimbangan”, “Kontras”, “Pengulangan” dan “Kesederhanaan”.Kata kunci : batik, batu bata, baju kurung dan motif
EKSPRESI GORGA ULU PAUNG PADA TOPENG KAYU
Karya dengan judul Ekspresi Gorga Ulu Paung Pada Topeng kayu, Merupakan karya topeng yang fokus terhadap ornamen Gorga Ulu Paung, berlandaskan wujud dan maknanya. Gorga Ulu paung pada rumah Batak Toba berbentuk ornamen dua dimensi, serta penempatan motif Ulu Paung berada di puncak atap rumah, mengandung makna kuasa, kekuatan, melindungi manusia (penghuni rumah) dari segala ancaman atau maksud jahat dari orang lain. Makna pelindung dalam fenomena sosial menjadi inspirasi bagi pengkarya mewujudkan topeng dengan mengekspresi Gorga Ulu Paung, dapat difungsikan sebagai kostum karnaval.Dalam proses perwujudan karya topeng ornamen Gorga Ulu Paung pengkarya melakukan tahap distorsi, disformasi dan eksplorasi hingga dapat menghasilkan sketsa desain yang dibuat pada topeng. Dengan menggunakan teknik ukir rendah (bas relief) pada patung kepala dengan media kayu bayur dan suren dengan pewarnaan cokelat, merah, putih dan hitam.Hasil karya topeng yang berjudul. Raja, Ratu, Datu, Begu dan Kepala Suku dengan makna yang terdapat pada budaya Batak Tob
MANUMBUAK PADI PADA KARYA SULAM
Manumbuak padi is an activity of Minangkabau`s women in processing paddy into rice
traditionally using traditional tools. the traditional tools is lasuang, pestle/antan and tampian.
Nowadays, rice processing using lasuang is starting to be abandoned, because it has been
replaced by more sophisticated technology. This is the interest and concept in creating
embroidery works. The embroidery creation methods that we used are three-stage theory, the
exploration stage, looking for ideas and reference sources. The design stage, namely expressing
ideas in the form of a design, continued with the realization stage. The work is made using
embroidery techniques using cotton linen and polycherry thread. The works in the form of wall
decorations have a diameter of 80 cm, and each work has a storyline according to its title, namely
Work 1 entitled manjamua padi (drying rice), work 2 manumbuak padi (pounding rice), work 3
basumarak (lively/excited), work 4 manampi (winnowing), work 5 manyumpik bareh (putting rice
into a sack), and work 6 malapeh panek (unwinding or resting)
SONGKET NAGARI UNGGAN KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI
The research conducted in Nagari Unggan aims to describe the form of motifs and product forms produced by songket craftsmen, as well as to find out what the functions of Nagari Unggan songket are. The theory used in this study is the theory of form, function, songket, motifs, clothing and products, while the method used in this study is qualitative, data collection is carried out by observation, documentation and interviews. Songket Unggan has 30 motifs that are typical of the area, 15 motifs are very popular in the market, namely the Unggan thousand hills, lansek manih, tampuak manggi, cantik manis, cemara, lotus, chain, kelok lontiak, itiak pulang patang, makota, bintang, rangkiang, rumah gadang, pucuak rebung and pintuek motifs. Songket Nagari Unggan also uses other regional motifs, namely motifs from Pandai Sikek, Halaban and Silungkang. Products produced by songket craftsmen in Nagari Unggan include Koko shirts, skirts or kodek, kuruang shirts or tunics, gamis shirts, jackets, tingkuluak, shawls, scarves, deta, outer, shirts, wallets, bucket hats, peci, bags, and household items such as tablecloths. The function of songket in Nagari Unggan is used for traditional events, and parties, and also used as everyday clothing
Ekspresi Kaligrafi Surat Al-Qariah pada Kriya Kulit
Seni sebagai ekspresi merupakan ungkapan seorang seniman yang dituangkan dalam karya seni lewat media dan alat. Pengkarya menjadikan surat Al-Qariah, surat ke-101 sebagai ide penciptaan pada kriya kulit. Al-Qariah berarti hari kiamat. Ide penciptaan tugas akhir yang berjudul ‘Ekspresi Kaligrafi Surat Al-Qariah Pada Kriya Kulit’, terinspirasi dari lingkungan dan juga melihat berita-berita yang beredar di internet seperti, korupsi, pelecehan seksual, dan hal-hal lain yang sudah menyimpang dari agama, seakan manusia berfikir bahwa kehidupan hanyalah di dunia saja. Maka dari itu pengkarya berinisiatif untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa kehidupan di dunia ini tidaklah abadi dan akan ada pembalasan tentang apa yang kita perbuat di dunia.Teori yang dipakai dalam penciptaan karya ini yaitu teori bentuk, teori fungsi, dan teori estetis. Metode penciptaan karya seni melalui tiga tahap. Tahap eksplorasi dengan mencari referensi melalui studi pustaka maupun lapangan. Tahapan perncangan dengan membuat gambar rancangan melalui gambar sketsa alternatif dan desain gambar kerja. Tahap perwujudan menggunakan bahan kulit samak sol, dengan teknik tatah, dan finishing menggunakan cat acrily