Relief : Journal of Craft
Not a member yet
45 research outputs found
Sort by
Burung merak hijau sebagai ide penciptaan motif batik pada cardigan
Burung Merak Hijau merupakan salah satu burung terindah di dunia yang juga terdapat di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, yaitu Pavo muticus. Bulu ekor ini tumbuh dari pangkal ekor sehingga dapat berbentuk seperti sebuah kipas yang sangat besar dan indah. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak. Sedangkan merak betina memiliki bulu-bulu yang kurang mengkilap, berwarna hijau keabu-abuan tanpa dihiasi bulu penutup ekor. Burung merak hijau walaupun berukuran besar, tetapi memiliki keunikan pandai terbang dan bulu ekor yang memiliki warna yang indah yaitu hijau keemasan yang berkilau dengan ujung ekor berbentuk seperti mata berwarna coklat, hijau dan biru.Konsep penciptaan karya ini berangkat dari burung merak hijau karena memiliki bulu yang indah, memiliki warna yang cerah, serta hewan yang dilindungi sebagai motif batik pada cardigan. Landasan teori yang digunakan dalam mewujudkan karya ini yaitu teori bentuk, fungsi, warna, motif, kreasi, dan estetis. Metode pada proses penciptaan karya ini dimulai dari tahap eksplorasi dilanjutkan pada tahap perancangan kemudian perwujudan karya. Karya ini menggunakan teknik batik tulis dan jahit dengan media kain mori primisima dan zat pewarna remazol. Karya yang diciptakan merupakan karya fungsional. Adapun fungsi karya secara fisik adalah sebagai pakaian cardigan yang berlengan panjang dan tanpa lengan dengan ukuran L. Karya yang diciptakan berupa cardigan sebanyak tujuh dengan judul bertengger, bersuara, kasih sayang ibu, terbang, cantik, kipas, dan merak betina
Bunga Kembang Sepatu Sebagai Motif Sulam Karya Dua Dimensi
Bunga kembang Sepatu lebih dikenal dengan bunga raya memiliki nama latin Hibiscus rosa sinensis berasal dari daerah tropis dan subtropic di Asia Timur dan Kepulauan Pasifik yang ditanam sebagai tanaman hias. Bunga ini merupakan tanaman yang mudah dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Keindahan bunga ini menjadi inspirasi dalam penciptaan karya dalam bentuk sulaman yang merupakan tradisi yang ada di Sumatera Barat khususnya di daerah Nareh, Pariaman. Karya ini merupakan penggabungan antara seni tradisional dan seni modern serta mengembangkan kreasi dan kebudayaan di lingkungan masyarakat.Proses penciptaan karya ini menggunakan metode yang dikemukan Gustami terdiri dari tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan dengan menggunakan beberapa teori yaitu kreasi, bentuk, fungsi, dan warna. Bunga kembang sepatu diwujudkan menjadi motif sulam karya dua dimensi menggunakan teknik sulam suji caia dan banang ameh dengan teknik tambahan pewarnaan pada kain dasar menggunakan pewarna batik. Karya-karya yang dihasilkan merupakan benda untuk penghias atau dekorasi ruangan sebagai pajangan dinding.Bunga kembang sepatu dijadikan sebagai motif utama dalam karya yang lahir dalam wujud karya dua dimensi yang berjumblah tujuh karya; berjudul Dari Kejauhan, Malam, Dari Waktu Kewaktu, Bergandengan, Berkelanjutan, Mencengkram Malam, dan Saling Melengkapi.Kata kunci: Bunga kembang sepatu, motif sulaman.
KREASI MOTIF KELUK PAKU PADA TAS KULIT
Ragam hias Kerinci mempunyai bentuk yang berasal dari tumbuhan dan benda alam diantaranya seperti: Ao Cino Bacabang, Tampuk Nio, Ula Nyuhuk, Lampit Simpai, Lampit Dueay dan bintae – bintae dan keluk paku. Dilihat dari bentuk ragam hias Kerinci dapatlah diketahui bahwa kebanyakan ragam hias Kerinci berbentuk tumbuhan dan benda alam, pengkarya tertarik menerapkan motif keluk paku pada produk tas kriya kulit sebagai bentuk melestarikan motif yang sudah jarang ditemukan tersebut. Motif keluk paku merupakan ragam hias yang berasal dari bentuk tanaman pakis yang masih muda, yang mempunyai keunikan relung yang indah itu yang dijadikan motif ragam hias, sehingga jadilah nama motif keluk paku.
KREASI MOTIF RUMOH ACEH PADA KEMEJA BATIK PRIA
Kreasi motif rumoh Aceh bersumber dari rumah adat Aceh, rumoh adat yang berbentuk panggung memiliki serambi depan, serambi tengah dan serambi belakang. Rumah Aceh sebagai rumah tradisional memiliki ornamentasi yang khas Aceh seperti sumber ini yang dipilih sebagai acuan untuk motif pada baju batik yaitu, bungoeng meusingklet dan taloe meuputa yang dikreasikan ke bentuk Motif rumah Aceh. Metode penciptaan motif baju batik bercorak kreasi motif rumoh Aceh melalui tiga tahap yaitu, tahap Eksplorasi, tahap Perancangan dan tahap Perwujudan. Eksplorasi melalui pengumpulan data, referensi yang berhubungan dengan kreasi motif rumoh Aceh. Perancangan membuat gambar motif secara sederhana dan dikreasikan, Perwujudan motif ini melalui teknik batik tulis yang dicanting pada mori menggunakan teknik pewarnaan reaktif atau remazol menggunakan teknik mencolet. Hasil karya kreasi motif rumoh Aceh pada baju kemeja laki-laki terdiri dari motif roa umah, Motif taloe takue rumoh, kubah rumoh, jeundela rumoh, rumoh meupucok, rumoh singet, dan ija simpla
Kuluk Kerinci Sebagai Motif Hias Pada Tas Wanita
Tengkuluk (kuluk) adalah penutup kepala tradisional perempuan suku Kerinci yang dikenakan oleh anak batino. Secara umum, kuluk berbentuk lingkaran besar (2 gelang besar) dengan lidah atau jumbei berupa kain beludru hitam atau merah (8-10 cm) yang dipasang dari atas lingkaran hingga belakang kepala sebatas pinggang. Bentuk kuluk menginspirasi motif hias pada tas dengan pola berulang melingkar. Proses penciptaan karya ini meliputi tiga tahap: eksplorasi dengan mengamati langsung bentuk kuluk, perancangan sketsa hingga desain terpilih, serta perwujudan karya melalui teknik batik tulis pada tas wanita. Penciptaan didasarkan pada teori bentuk, fungsi, kreasi, motif, dan warna. Tas yang dihasilkan berupa tas selempang dan tas tangan untuk membawa barang pribadi dalam acara formal atau resmi. Karya ini bertujuan melestarikan budaya serta menggabungkan motif nagguri lahak sebagai simbol pentingnya hidup bersih dalam masyarakat. Motif pada tas mencerminkan kebersihan pikiran, perkataan, dan perbuatan perempuan. Tujuh karya yang dihasilkan berjudul: “Berdampingan”, “Refleksi”, “Seluruh Sisi”, “Beriringan”, “Bersua”, “Kesatuan”, dan “Saling Support.”
KREASI MOTIF LIMPAPEH PADA OUTER WANITA
Limpapeh merupakan sejenis binatang yang selalu mendiami rumah atau bangunan yang besar. Limpapeh adalah sebutan untuk kaum perempuan atau anak gadis yang mendiami sebuah rumah gadang. Limpapeh memberi pengertian bahwa apabila dalam sebuah rumah tersebut ada seorang wanita, maka rumah tersebut terlihat semarak. Bentuk motif limpapeh menginspirasi pengkarya untuk dijadikan motif hias outer wanita dengan menggunakan komposisi pola berulang. Metode penciptaan karya seni melalui tiga tahap. Tahap eksplorasi dengan mencari referensi melalui studi pustaka. Tahapan perancangan dengan membuat gambar rancangan melalui gambar sketsa alternatif dan desain gambar kerja. Tahapan perwujudan menggunakan teknik batik tulis dan jahit. Penciptaan menggunakan teori bentuk, fungsi, kreasi, warna dan komposisi. Bentk karya yang diciptakan adalah outer wanita dengan jenis outer panjang dan vest menggunakan teknik batik tulis. Fungsi outer ini sebagai pakaian wanita remaja hingga dewasa yang bisa digunakan pada saat santai dan formal, pemakaiannya harus disesuaikan dengan kegiatan yang kita lakukan. Alasan pengkarya menciptakan karya ini yaitu memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa banyak motif-motif yang terdapat di Sumatera Barat, salah satunya motif limpapeh, sesuai dengan maknanya kita sebagai perempuan haruslah pandai menjaga diri. Jumlah karya yang dibuat sebanyak tujuh karya dengan judul yaitu : “Ketegasan”, “Sang Bijaksana”, “Kemurahan”, “Keadilan”. “Keijaksanaan”. “Kebijaksanaan 2”, “Kehormatan”.
Harimau Sumatera Pada Relief Kayu
Harimau Sumatera adalah satwa asli pulau Sumatera yang sangat patut untuk dilestarikan keberadaannya. Dalam Konsep perwujudan karya menghadirkan bentuk dari harimau Sumatera yang diwujudkan dalam bentuk relief kayu sebanyak tujuh buah karya yang ditambah dengan beberapa objek pendukung seperti gunung, pohon, batu, semak belukar, rawa, rusa, buaya, teratai dan tebing sehingga memberi kesan alam yang indah dan alami layaknya hutan Sumatera sebagai tempat tinggal harimau Sumatera.Teknik yang digunakan pada pembuatan karya ini adalah teknik ukir tinggi, dengan menggunakan bahan utama kayu surian, difinishing menggunakan wood stain salak brown, tinta printer dan clear dof. Hasil akhir dari karya relief kayu bejumlah tujuh karya yang berjudul yaitu: Karya I King Phantera Tigris Sumatrae, Karya II Queen Phantera Tigris Sumatrae, Karya III Perjumpaan, Karya IV Raja dan Ratu, Karya V Buah Hati, Karya VI Tidak akan Dibagi, Karya VII Pedalaman. Dalam setiap karya mengandung pesan, kesan dan ilmu pengetahuan tentang harimau Sumatera
KREASI KALIGRAFI ASMA’UL HUSNA PADA KRIYA KAYU
ABSTRAKKarya ini mengangkat kreasi kaligrafi Asma’ul Husna pada kriya kayu dengan menggunakan khat Tsuluth. Asma’ul Husna, yang terdiri dari 99 nama-nama Allah, mengandung makna yang sangat dalam, mencerminkan sifat-sifat Tuhan yang Maha Esa. Setiap nama dalam Asma’ul Husna mengandung pesan spiritual yang dapat menjadi petunjuk hidup bagi umat manusia. Pemilihan kayu sebagai media dalam pembuatan karya ini memberikan sentuhan alami yang memperkaya dimensi estetika dan filosofi yang terkandung dalam setiap nama Allah. Gaya khat Tsuluth dipilih karena memiliki karakteristik goresan yang elegan dan melengkung, yang mampu menggambarkan keindahan serta kebesaran Tuhan dengan cara yang dinamis namun terstruktur. Karya ini tidak hanya berfokus pada nilai estetika, tetapi juga mengajak penikmat untuk merenungkan makna spiritual dari setiap nama Allah yang ditulis. Penciptaan karya ini menggunakan teori fungsi, dan teori estetis. Metode penciptaan karya seni melalui tiga tahap, tahap eksplorasi dengan mencari referensi melalui studi pustaka maupun lapangan. Tahapan perancangan dengan membuat gambar rancangan melalui gambar sketsa alternatif dan desain gambar. Tahap perwujudan menggunakan bahan kayu surian, dengan teknik ukir pahat ketinggian sedang, dan finishing menggunakan tinta printer yang dilapis memakai melamin lack clear doff dan penyajian karya merupakan metode yang digunakan dalam mengenalkan hasil karya seni kepada masyarakat luas sebagai media dakwah. Karya berupa kaligrafi dua dimensi, yang diciptakan sebanyak tujuh karya, yaitu: Al Hakiim, Al Wadud, Al Kariim, Ar Rahman, Al Lathiif, Ar Rahiim, dan Al Wakiil.
Perancangan Media Informasi Mengatasi Quarter Life Crisis Dalam Pandangan Islam
Quarter life crisis is an identity crisis resulting from an individual's unpreparedness in the early adulthood phase. Based on surveys and interviews conducted by the author in Padangpanjang City, data was obtained that 63.70% of early adults experienced a quarter life crisis. The design of an illustrated book on overcoming the quarter life crisis from an Islamic perspective aims to provide information about the quarter life crisis in early adults aged 18-25 years. Data collection methods through the process of interviews, questionnaires, and literature studies, design analysis using 5W+1H analysis, and using a semiotic approach.The visual concept of illustrative book design applies a flat design style with vector techniques. The illustrated book contains information about quarter life crises, the causes of quarter life crises, and how to overcome quarter life crises based on Islamic views. The design stages include brainstorming, keywords, sketches, storyline, color study, typography study. The results of designing information media in the form of an illustrated book address the quarter life crisis from an Islamic perspective. Other media mixes include e-books, posters and supporting media such as banners, t-shirts, quote cards, stickers and instagram feeds.
Tari Rangguk Sebagai Ide Penciptaan Pada Karya Kulit
Penciptaan karya “Tari Rangguk Sebagai Ide Penciptaan Pada Kriya Kulit” dilatarbelakangioleh ketertarikan pengkarya, terhadap tari rangguk yang ada di wilayah Kumun Debai. MasyarakatKumun Debai masih menjaga dan melestarikan tradisi ini sampai sekarang. Tari Rangguk adalahsalah satu kesenian tradisional yang bernuansakan Islam yang tumbuh dan berkembang di KumunDebai. Tari rangguk biasanya ditarikan oleh 7 sampai 15 orang remaja putri sebagai penari, 2 oranglaki-laki sebagai penabuh rebana dan 2 orang perempuan sebagai pelantun tale. Penciptaan karyaini menjadi salah satu media promosi bagi masyarakat luas, tidak hanya masyarakat pemilik tradisitersebut, namun juga masyarakat luas. Metode penciptaan karya yaitu melalui tahapan dan proseseksplorasi terhadap sumber ide, perancangan dengan menghasilkan sketsa dan desain, danperwujudan atau visualisasi menjadi karya. Secara umum penciptaan karya menggunakan landasanteori berupa bentuk, fungsi, estetis, dan dekoratif. Sementara perwujudan karya menggunakanmedia kulit samak nabati, dengan teknik tatah kempa dan pyrography