Jurnal Institut Pemerintahan Dalam Negeri
Not a member yet
1935 research outputs found
Sort by
Preservation of Traditions and Economic Development of the Sayyid Traditional Community in Cikoang
The purpose of this study was to determine the economic activities of the Sayyid indigenous community, not only as an effort to maintain the uniqueness of their customs that require high costs but also in pursuing the ideals of achieving a better standard of living and government policies both national, regional, and local/village related to the economic development of the Sayyid indigenous community. This study is descriptive and uses qualitative research methodology to collect information. Data were collected through interviews, observations and documentation. Data analysis includes data reduction, data display and drawing conclusions (verification). The results of the study indicate that the economic activities of the Sayyid indigenous community are no different from those of society in general, they work not only to get a better quality of life, but also in order to preserve their traditional traditions. The village government policy is not only to build road infrastructure in the context of economic development in Cikoang Village, but also to provide equipment to the Sayyid indigenous community in order to support their economic activities
Overcoming Challenges in Digital Public Service Delivery: Insights from Lapak Aduan Implementation
The Banyumas Regency Government provides services to the community and establishes interactive government and public services through a public communication space called "Lapak Aduan." In practice, Lapak Aduan, which utilizes social media platforms, serves as a bridge for the public to interact with the relevant local government agencies, with a maximum response time of 3 hours. However, Lapak Aduan often fails to meet the specified response time for public complaints, and the lack of public engagement has led to low utilization of the complaint platform. This research aims to identify the reasons for the public's lack of interest in the Lapak Aduan application and improve Lapak Aduan's service standards. This study adopts a qualitative research method, utilizing data collection techniques such as observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the Lapak Aduan application still has numerous shortcomings in terms of usefulness and ease of use, hindering its ability to facilitate public digital complaint services. Consequently, the public's interest in utilizing Lapak Aduan remains low, necessitating periodic socialization efforts to ensure that the community can fully benefit from its convenience
Digital Poverty Map Among Coffee Farmers in Pupuan and Wanagiri: A Comparative Regional Study
This study aimed to examine the level of digital poverty among coffee farmers in two regions with different geographical and socioeconomic characteristics, namely Pupuan as well as Wanagiri. The analysis focused on three main indicators such as access to digital devices, digital skills, and productive use of technology. The results were categorized into varying degrees of digital poverty to give an understanding of the situation of each region. The findings showed that coffee farmers in Pupuan generally fell into the low digital poverty category across all three indicators. The farmers had sufficient devices, operating skills, and a strong motivation to use digital technology for economic activities such as marketing coffee via social media, monitoring market prices, and taking part in online training, respectively. This productive use of technology had contributed to increased income and competitiveness. Farmers in Wanagiri tended to be in the middle range of digital poverty, specifically concerning skills and productive use. As access to devices was relatively good, technology use was mostly limited to basic communication or entertainment. Low motivation, limited knowledge, and a lack of modified training were the main barriers to maximizing the economic benefits of digital technology. These findings signified that reducing the digital divide required interventions by providing devices, infrastructure, and focusing on improving skills, motivation, and localized institutional support. Incorporated efforts were expected to promote inclusive digital transformation for farmers in rural areas.Penelitian ini menganalisis tingkat kemiskinan digital pada petani kopi di dua wilayah dengan karakteristik geografis dan sosial ekonomi yang berbeda, yaitu Pupuan dan Wanagiri. Analisis dilakukan dengan mengukur tiga indikator utama: akses terhadap perangkat digital, keterampilan digital, dan pemanfaatan produktif. Hasil pengukuran selanjutnya dikategorikan ke dalam degree of digital poverty dan level of digital poverty untuk memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi masing-masing wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani kopi di Pupuan umumnya berada pada kategori low digital poverty pada ketiga indikator. Mereka memiliki perangkat yang memadai, keterampilan untuk mengoperasikannya, serta motivasi tinggi untuk memanfaatkan teknologi digital dalam aktivitas ekonomi, seperti pemasaran kopi melalui media sosial, memantau harga pasar, dan mengikuti pelatihan daring. Pemanfaatan teknologi yang produktif ini mendorong peningkatan pendapatan dan daya saing. Sebaliknya, petani di Wanagiri cenderung berada pada kategori middle digital poverty, terutama pada aspek keterampilan dan pemanfaatan produktif. Walaupun akses perangkat relatif baik, penggunaan teknologi sebagian besar terbatas pada komunikasi dasar atau hiburan. Rendahnya motivasi, keterbatasan pengetahuan, dan minimnya pelatihan berbasis kebutuhan lokal menjadi faktor penghambat utama dalam mengoptimalkan manfaat ekonomi dari teknologi digital. Temuan ini menegaskan bahwa pengurangan kesenjangan digital memerlukan intervensi yang tidak hanya berfokus pada penyediaan perangkat dan infrastruktur, tetapi juga peningkatan keterampilan, motivasi, serta dukungan kelembagaan yang kontekstual. Upaya terintegrasi diharapkan dapat mendorong transformasi digital yang inklusif bagi petani di wilayah perdesaan
INTEGRATION OF DATA SCIENCE AND AI ENGINEERING FOR CLUSTERING AND FORECASTING OF WEST JAVA REGIONAL BUDGET 2015–2024
The management of regional revenue and expenditure budgets (APBD) plays a critical role in supporting local economic development. However, conventional evaluations often fail to capture complex patterns and long-term fiscal dynamics. This study integrates Data Science and AI Engineering approaches to analyze APBD data of municipalities and regencies in West Java Province for the 2015–2024 period. The workflow begins with data preparation, including cleaning, normalization, and the construction of derived variables such as year-on-year growth, the ratio of personnel to capital expenditure, and surplus/deficit status. Exploratory Data Analysis (EDA) was conducted through trend visualization and distribution analysis across regions. Clustering was carried out using the K-Means algorithm and compared with alternative methods such as DBSCAN and hierarchical clustering, evaluated by Silhouette Score and Davies-Bouldin Index. For forecasting, the study employed time-series models ranging from ARIMA and Prophet to advanced LSTM, with accuracy measured by RMSE and MAPE. The findings reveal substantial disparities across regions, such as clusters of high-growth yet recurrent deficit areas, as well as fiscally stable but small-capacity regions. Forecasts for 2025–2026 provide projections of revenue and expenditure, which serve as evidence-based guidance for regional fiscal planning. The main contribution of this research lies in offering a data-driven framework that not only explains historical fiscal performance but also delivers actionable policy recommendations for local governments in West Java.Pengelolaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) memainkan peran kritis dalam mendukung pengembangan ekonomi lokal. Namun, evaluasi konvensional seringkali gagal menangkap pola kompleks dan dinamika fiskal jangka panjang. Studi ini mengintegrasikan pendekatan Data Science dan AI Engineering untuk menganalisis data APBD kota dan kabupaten di Provinsi Jawa Barat untuk periode 2015–2024. Proses kerja dimulai dengan persiapan data, termasuk pembersihan, normalisasi, dan pembentukan variabel turunan seperti pertumbuhan tahunan, rasio pengeluaran personel terhadap pengeluaran modal, serta status surplus/defisit. Analisis Data Eksploratori (EDA) dilakukan melalui visualisasi tren dan analisis distribusi di berbagai wilayah. Pengelompokan dilakukan menggunakan algoritma K-Means dan dibandingkan dengan metode alternatif seperti DBSCAN dan pengelompokan hierarkis, dievaluasi menggunakan Skor Silhouette dan Indeks Davies-Bouldin. Untuk peramalan, studi ini menggunakan model deret waktu mulai dari ARIMA dan Prophet hingga LSTM canggih, dengan akurasi diukur menggunakan RMSE dan MAPE. Temuan menunjukkan disparitas yang signifikan antar wilayah, seperti kluster wilayah dengan pertumbuhan tinggi namun defisit berulang, serta wilayah yang stabil secara fiskal namun berkapasitas kecil. Peramalan untuk tahun 2025–2026 memberikan proyeksi pendapatan dan pengeluaran, yang berfungsi sebagai panduan berbasis bukti untuk perencanaan fiskal regional. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada penyediaan kerangka kerja berbasis data yang tidak hanya menjelaskan kinerja fiskal historis tetapi juga memberikan rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan bagi pemerintah daerah di Jawa Barat
Inovasi Pemungutan Pajak Tanah Dan Bangunan Pedesaan Dan Perkotaan (PBB-P2) Melalui E-Banking Di Kabupaten Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat
ABSTRAK
Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan tuntutan penting bagi pemerintah daerah dalam rangka mendukung pembiayaan pembangunan. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sebagai salah satu pajak daerah strategis memerlukan inovasi dalam sistem pemungutannya. Kabupaten Pasangkayu telah menerapkan inovasi pemungutan PBB-P2 melalui layanan e-banking, namun implementasinya belum menunjukkan hasil yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan inovasi pemungutan PBB-P2 melalui e-banking serta mengidentifikasi faktor-faktor penghambat yang memengaruhi efektivitas peningkatan PAD di Kabupaten Pasangkayu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan induktif. Data diperoleh melalui wawancara terhadap enam informan kunci dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Selain itu, penelitian ini menggunakan Interpretative Structural Modelling (ISM) untuk menentukan prioritas dan hubungan antar faktor penghambat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi pemungutan PBB-P2 melalui e-banking belum berjalan secara efektif akibat rendahnya literasi digital wajib pajak, keterbatasan akses internet, belum optimalnya kerja sama dengan pihak perbankan dan penyedia sistem, serta kurangnya sosialisasi oleh aparat pemungut pajak. Analisis ISM mengidentifikasi bahwa keterbatasan akses internet merupakan faktor penghambat utama dengan daya pengaruh tertinggi terhadap faktor lainnya. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada pemanfaatan ISM untuk memetakan dan menentukan prioritas faktor penghambat inovasi pemungutan PBB-P2 berbasis e-banking di tingkat pemerintah daerah, sehingga dapat menjadi dasar perumusan kebijakan peningkatan PAD yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Kata kunci: Inovasi; Pemungutan Pajak; E-Banking; PBB-P2
ABSTRAK
Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan tuntutan penting bagi pemerintah daerah dalam rangka mendukung pembiayaan pembangunan. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) sebagai salah satu pajak daerah strategis memerlukan inovasi dalam sistem pemungutannya. Kabupaten Pasangkayu telah menerapkan inovasi pemungutan PBB-P2 melalui layanan e-banking, namun implementasinya belum menunjukkan hasil yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan inovasi pemungutan PBB-P2 melalui e-banking serta mengidentifikasi faktor-faktor penghambat yang memengaruhi efektivitas peningkatan PAD di Kabupaten Pasangkayu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan induktif. Data diperoleh melalui wawancara terhadap enam informan kunci dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Selain itu, penelitian ini menggunakan Interpretative Structural Modelling (ISM) untuk menentukan prioritas dan hubungan antar faktor penghambat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi pemungutan PBB-P2 melalui e-banking belum berjalan secara efektif akibat rendahnya literasi digital wajib pajak, keterbatasan akses internet, belum optimalnya kerja sama dengan pihak perbankan dan penyedia sistem, serta kurangnya sosialisasi oleh aparat pemungut pajak. Analisis ISM mengidentifikasi bahwa keterbatasan akses internet merupakan faktor penghambat utama dengan daya pengaruh tertinggi terhadap faktor lainnya. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada pemanfaatan ISM untuk memetakan dan menentukan prioritas faktor penghambat inovasi pemungutan PBB-P2 berbasis e-banking di tingkat pemerintah daerah, sehingga dapat menjadi dasar perumusan kebijakan peningkatan PAD yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Kata kunci: Inovasi; Pemungutan Pajak; E-Banking; PBB-P2
Human Resource Management in Public Sector Policy Implementation (A Case Study of Sanitary Landfill Operations in Malang City)
The sanitary landfill system has become a critical strategy for urban waste management to minimize environmental risks and ensure sustainable public service delivery. However, the effectiveness of this policy largely depends on the capacity and performance of public sector human resources as the primary implementers. This study examines the role of public sector human resource management (HRM) in supporting the implementation of sanitary landfill operations at the Supit Urang Final Disposal Site (TPA) in Malang City, Indonesia. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and document analysis involving key informants such as the UPT head, administrative staff, heavy-equipment operators, and landfill workers. Informants were selected purposively. Data analysis followed the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. Findings indicate that the effectiveness of sanitary landfill implementation is significantly influenced by the capacity of human resources, including uneven technical competency, high workloads, and limited formal training. Employee motivation was found to be low due to the absence of incentives and performance-based rewards, affecting the consistency of SOP implementation. Furthermore, leadership practices characterized by informal communication and irregular supervision contributed to gaps between standard procedures and actual practices in the field. The study concludes that public sector HRM plays a decisive role in the successful implementation of sanitary landfill policies. Strengthening HR capacity through technical training, incentives, structured communication, and routine supervision is essential to ensure consistent and sustainable policy implementation
Child-Friendly City Model Based on Collaborative Governance in Depok City, Indonesia
Despite the adverse impacts of Jakarta's rapid development as the national capital, Depok City must ensure a safe and supportive environment for particularly vulnerable children in need of protection. As a fundamental asset to the city's future, children play a critical role in its long-term development.This study explores a collaborative governance model on a Depok Child-Friendly City model. The paper employs a qualitative research approach; data were collected through field observations, in-depth interviews with key stakeholders, and analysis of secondary sources, including policy documents, regulations, and prior research. The findings reveal that, despite the constraints posed by rapid urbanization, implementing the Child-Friendly City program in Depok continues to progress. The initiatives primarily attributed to fulfilling critical collaboration prerequisites, including the active involvement of multi-level government actors, the private sector, community organizations, and academic institutions. These stakeholders contribute through contextual understanding, shared commitment, and aligning responsibilities and visions based on their respective capacities and authorities. The study concludes that such a multi-stakeholder collaboration model is instrumental in promoting an urban environment conducive to children's growth and development.Meskipun menerima dampak buruk dari pembangunan Jakarta yang pesat sebagai ibu kota negara, Kota Depok harus memastikan lingkungan yang aman dan mendukung bagi pertumbuhan anak-anak yang rentan dan membutuhkan perlindungan. Anak-anak adalah aset penting dan memiliki peran penting dalam pembangunan jangka panjang. Penelitian ini berupaya mengungkap model kolaborasi untuk mewujudkan Kota Layak Anak di Kota Depok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif; Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan pemangku kepentingan, dan data sekunder berupa kebijakan, peraturan, dan penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun tekanan urbanisasi menghambat sebagian besar program Kota Layak Anak di Depok, namun program ini masih berjalan sesuai rencana karena pemenuhan persyaratan kolaborasi sudah ditetapkan: keterlibatan berbagai aktor: pemerintah dari tingkat kota hingga tingkat administrasi paling bawah, dunia usaha, lembaga kemasyarakatan, perguruan tinggi untuk menciptakan konteks, komitmen, berbagi masalah, visi, tugas sesuai kewenangan dan kapasitas, menjadikan Kota Depok kota yang layak untuk tumbuh kembang anak
Dinamika Permasalahan Masyarakat Perbatasan Indonesia – Timor Leste: Menyikapi Lintas Batas Negara
The border area between Indonesia and Timor Leste in East Nusa Tenggara exhibits complex social, economic, and cultural dynamics that rely heavily on cross-border activities facilitated by the Border Pass (PLB) and Border Crossing Identification Card (KILB). The COVID-19 pandemic temporarily halted these activities, disrupting trade, social relations, and the economic well-being of border communities. This study aims to examine the role of PLB and KILB in the lives of people living along the Indonesia–Timor Leste border. The research adopts a qualitative approach using a literature review method presented descriptively. The findings indicate that the restriction of cross-border mobility led to limited access in maintaining family ties, practicing cultural traditions, and engaging in economic activities. Communities experienced a sense of loss in their daily social interactions. Within the framework of cultural constructivism, social interactions and legal frameworks shape a culture that influences identity and cross-border relationships. Therefore, restoring mobility and the functions of PLB/KILB is essential for post-pandemic cultural reconstruction and for strengthening the social ties and identity of border communities.Wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste di Nusa Tenggara Timur memiliki dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang bergantung pada aktivitas lintas batas melalui PLB dan KILB. Pandemi COVID-19 menghentikan sementara aktivitas tersebut, mengganggu perdagangan, hubungan sosial, dan kesejahteraan masyarakat perbatasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran PLB dan KILB dalam kehidupan masyarakat perbatasan Indonesia–Timor Leste. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan yang disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelarangan mobilitas lintas batas mengakibatkan keterbatasan akses dalam mempertahankan hubungan kekeluargaan, pelaksanaan tradisi budaya, dan aktivitas ekonomi. Masyarakat merasa kehilangan makna dalam interaksi sosial sehari-hari. Dalam kerangka konstruksivisme budaya, interaksi sosial dan ketentuan hukum berperan dalam membentuk budaya yang memengaruhi identitas serta hubungan lintas batas. Oleh karena itu, pemulihan mobilitas dan fungsi PLB/KILB menjadi sangat penting untuk merekonstruksi budaya pasca-pandemi serta memperkuat kembali ikatan sosial dan identitas masyarakat perbatasan
ANALISIS KUALITAS PELAYANAN DI MALL PELAYANAN PUBLIK KOTA CIMAHI: PENDEKATAN KUALITATIF DESKRIPTIF
Public service is a key pillar of bureaucratic reform in Indonesia, and the Public Service Mall (MPP) is a strategic innovation for delivering integrated, fast, and efficient services. This study uses a descriptive qualitative approach to analyze service quality at the Cimahi City MPP based on five SERVQUAL dimensions: tangible, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation with informants from employees, managers, and service users. Data were then analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model. The results indicate that the tangible and assurance dimensions have performed well, reflecting modern facilities and professional attitudes of officers. However, the reliability, responsiveness, and empathy dimensions still face challenges such as delays in cross-agency services, suboptimal coordination, and variations in empathetic attitudes among officers. This study concludes that the Cimahi City MPP has become a positive example of public service innovation, but strengthening inter-agency coordination, service digitization, and excellent service training are needed to achieve optimal service qualityPelayanan publik merupakan pilar utama reformasi birokrasi di Indonesia, dan Mall Pelayanan Publik (MPP) menjadi inovasi strategis untuk menghadirkan layanan terpadu, cepat, dan efisien. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis kualitas pelayanan di MPP Kota Cimahi berdasarkan lima dimensi SERVQUAL: tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan informan dari pegawai, pengelola, serta masyarakat pengguna layanan, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi tangible dan assurance telah berjalan baik, mencerminkan fasilitas modern dan sikap profesional petugas, namun dimensi reliability, responsiveness, dan empathy masih menghadapi tantangan seperti keterlambatan layanan lintas instansi, koordinasi yang belum optimal, serta variasi sikap empatik antar petugas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa MPP Kota Cimahi telah menjadi contoh inovasi pelayanan publik yang positif, tetapi penguatan koordinasi antar instansi, digitalisasi layanan, dan pelatihan pelayanan prima diperlukan untuk mencapai kualitas layanan yang optimal
Studi Kuantitatif tentang Efektivitas Program Pemutihan Pajak dalam Meningkatkan Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Kota Ambon
Jumlah pajak kendaraan yang diterima di Kota Ambon dari Januari hingga Juni 2024 belum mencapai target yang ditetapkan. Menurut data yang dikumpulkan oleh Dinas Pendapatan Provinsi Maluku, target penerimaan sebesar 150 miliar hanya mencapai 95 miliar, atau sekitar 63,33% dari target, hingga Juni 2024. Ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara kemungkinan penerimaan dan kenyataan yang harus diperbaiki. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana program pemutihan pajak berdampak pada seberapa efektif penerimaan pajak kendaraan bermotor di Kota Ambon. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data primer diperoleh dari survei terhadap 200 wajib pajak dan data sekunder diperoleh dari laporan keuangan Badan Pendapatan Daerah Kota Ambon. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda menggunakan SPSS 28. Penelitian menunjukkan bahwa program pemutihan pajak meningkatkan penerimaan pajak di Kota Ambon sebesar 16,2% setelah dilaksanakan. Model regresi menunjukkan bahwa kejelasan informasi (X1.3) memiliki pengaruh yang signifikan dan positif (Beta = 1.059, Sig. = 0.000), sementara intensitas sosialisasi (X1.1) memiliki pengaruh yang negatif (Beta = -0.314, Sig. = 0.000), menunjukkan bahwa Program pemutihan pajak sangat membantu proses penerimaan pajak kendaraan bermotor di Ambon. Program berhasil tidak hanya berdasarkan seberapa sering sosialisasi, tetapi juga seberapa jelas dan berkualitas informasi yang disampaikan kepada masyarakat.
Kata Kunci: Pemutihan Pajak; Pendapatan Daerah; Kepatuhan