Jurnal Agrimansion
Not a member yet
448 research outputs found
Sort by
3 Analisis Jender Pada Rumah Tangga Petani Tembakau Di Wilayah Kerja Kelompok Petani Pemakai Air Tanah (P2AT) Di Kabupaten Lombok Tengah
Ringkasan
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang berperspektif jender dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang pembagian kerja dalam rumah tangga tani dan kegiatan usaha tani tembakau, serta sosial kemasyarakatan; akses dan kontrol terhadap sumber daya; manfaat yang dirasakan rumah tangga petani tembakau; dan pendapat petani tentang keterlibatan perempuan dalam kelembagaan kelompok P2AT di lokasi sumur air dalam di Kabupaten Lombok Tengah.
Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terfokus pada 20 subjek penelitian. Kemudian, data yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menggunakan teknik analisis jender.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Adanya pembagian kerja berdasarkan jender baik pada kegiatan dalam rumah tangga, usaha tani tembakau, maupun sosial kemasyarakatan; 2) Rendahnya akses dan kontrol perempuan terhadap sumber daya yang disebabkan oleh faktor budaya dan belum tumbuhnya kesadaran jender antara perempuan dan laki-laki; 3) Meningkatnya pendapatan keluarga; dan meningkatnya kepercayaan diri perempuan, kesadaran jender subjek penelitian, adanya penghargaan dan pengakuan laki-laki terhadap kemampuan perempuan, dan adanya kesepakatan perempuan untuk membentuk kelompok usaha sendiri yang tergabung dalam kepengurusan P2AT; 4) Positifnya pendapat petani tentang keterlibatan perempuan dalam kepengurusan kelompok P2AT.
Oleh karena itu perlu merestrukturisasi kembali kelompok untuk memberikan kesempatan pada perempuan agar terlibat dalam pengelolaan kelembagaan kelompok P2AT; meningkatkan kepercayaan diri perempuan agar mereka dapat berpartisipasi aktif dalam keanggotaan dan kepengurusan kelompok P2AT, dan secara berkesinambungan perlu meningkatkan atau menyegarkan kembali pemahaman tentang kesadaran, keadilan dan kesetaraan jender bagi petani anggota dan pengurus kelompok agar mereka selalu mempunyai komitmen dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan jender dalam rumah tangga, kegiatan usaha tani, dan social kemasyarakatan (kelembagaan kelompok P2AT)
8. HUBUNGAN PERILAKU IBU RUMAHTANGGA DENGAN POLA DISTRIBUSI PANGAN RUMAHTANGGA, STATUS GIZI DAN KESEHATAN ANAK BALITA (Kasus Rumahtangga Petani di Desa Miskin Kabupaten Lombok Tengah)
ABSTRAK
Mengingat peranan ibu rumahtangga yang demikian besarnya dalam mengurus anak balitanya, maka perilaku ibu merupakan kunci pokok yang sangat menentukan kondisi anak balitanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku ibu rumahtangga yang berkaitan dengan pola distribusi pangan rumahtangga, status gizi dan kesehatan anak balita pada rumahtangga petani di desa miskin.
Penelitian ini dilakukan di desa-desa miskin Kabupaten Lombok Tengah, dan dirancang sebagai penelitian deskriptif eksploratif. Sebagai sampel desa ditetapkan tiga buah desa, yaitu Desa Semoyang Kecamatan Praya Timur, Desa Saba Kecamatan Janapria, dan Desa Bonder Kecamatan Praya Barat. Sebagai unit analisis adalah rumahtangga petani yang memiliki anak balita, sedangkan sebagai responden adalah ibu rumahtangga yang jumlahnya ditetapkan secara proporsional random sampling sebanyak 80 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku ibu yang meliputi pengetahuan, persepsi serta sikap yang menyangkut pola distribusi pangan rumahtangga dan kesehatan anak balita berturut-turut mencapai skor 21,3 dari skor maksimal 36 dan 30,4 dari skor maksimal 45, dan kedua-duanya tergolong sedang. Sedangkan perilaku ibu yang berkaitan dengan keadaan gizi anak balitanya hanya mencapai skor 21,4 dari skor maksimal 45, dan tergolong rendah.
ABSTRACT
The behaviors of house wife affect the conditions of “Balita” (children under five years aod). This research aims to know the behavior of household about household food distribution patterns, nutrition status and healthy of “Balita” in farmer househods at the poor villages.
This research was conducted at the poor villages of Central Lombok district, and using a discriptive-exploratie research method. The selected villages sample are Semoyang Village East Praya Sub District, Saba Village Janapria Sub District, and Bonder village West Praya Sub District. The unit of analysis are households of farmers that have “Balita” (children under five years old). The number of respondents were 80 house wifes, taken by proportional random sampling.
This research shows that behavior of household wife about household food distribution achieved score 21,3 from maximal score 36, and about healthy of underfive children achieve 30,4 from maximal score 45, and both are catagorized as “midle”. While, behavior of house wife about nutrition status of underfive children achieved score 21,4 from maximal score 45, and is catagorized as lowe
4. STRATEGI AGROINDUSTRIALISASI DI DAERAH PEDESAAN: KASUS PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI UBI KAYU DI PEDESAAN LOMBOK
ABSTRAK
Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan hasil kajian empiris tentang strategi agroindustrialisasi di pedesaan. Penelitian difokuskan pada proses agroindustrialisasi di pedesaan dengan menggunakan agroindustri ubi kayu sebagai kasus. Tujuannya adalah untuk mengkaji proses agroindustrialisasi guna menyusun konsep strategi yang erfektif dalam mengembangkan agroindustri di pedesaan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kaji tindak partisipatif jangka panjang dengan menggunakan pendekatan partisipasi masyarakat desa. Introduksi agroindustri dilaksanakan dengan memfasilitasi dan memberikan bantuan teknis kepada kelompok sasaran tentang prosedur pengolahan ubi kayu menjadi berbagai produk olahan bernilai ekonomi dan berdaya saing tinggi. Pengamatan difokuskan pada perkembangan kelompok sasaran dan proses adopsi teknologi oleh kelompok sasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Agroindustrialisasi di pedesaan perlu proses dan memerlukan waktu yang cukup lama. Pengembangan jangka pendek, menengah dan panjang sangat memerlukan dukungan pasar, modal, sarana dan prasarana transportasi, kemitraan, SDM agribisnis yang terampil, pemerintah, lembaga perbankan, lembaga penelitian dan pengembangan di perguruan tinggi serta dukungan partisipasi masyarakat. Oleh karena itu pengembangan agroindustri ke depan harus secara simultan dan memfokuskan perhatian pada aspek-aspek daya saing, kerakyatan, desentralisasi, dan berkesinambungan serta kelestarian lingkungan, serta fokus perhatian pada Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas Unggulan (SPAKU).
ABSTRACT
The overal goal of this article is to discuss broadly the result of an empirical study of agroindustrialisation strategy in the rural area. The research was focused on the agroindustrial process, and the agroindustrial development of cassava has been used as a case. The main objective of the study is to find out the most effective strategy to develop agroindustry in the rural area and change a traditional and subsistence attitude of rural community to a modern and commercial attitude. By using longitudinal participatory action research and applying a model of Rural Community Participatory Approach, processing technology of cassava was introduced to the rural community.
The target groups were facilitated and provided a technical assitanece to create a high economic value and competitive advantage of a variety of processed products of cassava in order to enhance their income. The agroindustrialisation takes time through a process to convince the member of rural community to adapt the innovation we deliver. Therefore, the development of agroindustry, whether short term or intermediate and long term needs supporting factors, including marketing strategies, capital, infrastructure facilities, partnership, natural resources, skilled human resources, government agencies, financial funding, research and development, as well as university involvement and community participation. Therefore, it is recommended that agroindustry enterprises have to be developed simultaneously in the future and focusing the attention on the following aspects, including competitive power, community, decentralization, sustainability and sustainable environment, as well as the center of agribusiness development for advantage commodities
7. STUDI PEMANFAATAN KELEMBAGAAN PONDOK PESANTREN BAGI KEGIATAN PENYULUHAN PERTANIAN DI KECAMATAN GUNUNG SARI LOMBOK BARAT
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk pemanfaatan kelembagaan Pondok Pesantren bagi Kegiatan Penyuluhan Pertanian di tingkat Kecamatan. Kegiatan tersebut dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan focus group discussion.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pondok pesantren memiliki potensi yang dapat dijadikan sebagai sarana pemberdayaan petani seperti adanya tingkat kepatuhan para santri dan jamaahnya terhadap tuan guru. Model intervensi langsung adalah cara yang tepat untuk memanfaatkan kelembagaan tersebut. Tahapan ini menekankan adanya pelayanan langsung setelah identifikasi sumberdaya, minat dan prioritas utama dari kelompok sasaran. Selain itu intervensi diupayakan pada level individual atau keluarga dan melibatkannya dalam pengembangan rencana pelayanan. Rencana pelayanan termasuk aktivitas membantu akses kelompok sasaran pada sumber-sumber (mitra kerja) yang sudah ada serta mengusahakan mitra kerja baru.
ABSTRACT
This research analyzed the Utilization of Islamic Study Center (Pondok Pesantren) for Agricultural Extension in sub-district level. Observation, in-depth interview and focus group discussion (FGD) were used in data collection.
The results of the study show that Islamic Study Center could be used as a potential partner for agricultural extension through its potential such as the respect of rural community and Islamic students to their respective teachers (Tuan Guru). The direct intervention model is the most appropriate in this case, and this step emphasizes the provision of services after identification of client’s resources, concerns and priorities. In these services, intervention at the individual or family (micro) level involves the development of a service plan. Service plans include activities of two types, those that help the client gain access to resources that already exist and those that create new resources
7. OPTIMASI INDUSTRI RUMAH TANGGA GULA AREN DI DESA PEMEPEK KABUPATEN LOMBOK TENGAH
ABSTRAK
Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui : (1) penggunaan input optimal yang memaksimumkan keuntungan, (2) output optimal yang memaksimumkan keuntungan, (3) keuntungan maksimal yang dapat dicapai KUB dan Non KUB, (4) keuntungan per unit produksi yang dapat dicapai KUB Non KUB telah dilaksanakan di Desa Pemepek Kabupaten Lombok Tengah dengan Metode Analisis Deskriptif pada 16 responden KUB dan Non KUB. Analisis data dengan melihat turunan pertama dan kedua dari model kuadratis dan uji Z.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1). Jumlah penggunaan input optimal yang memaksimalkan keuntungan pada KUB adalah bahan baku nira 3.02 liter, kayu bakar 1.16 ikat, kayu korot 57.21 gram dan tenaga kerja wanita 0.04 HKO sedangkan pada Non KUB bahan baku nira 0.47 liter, kayu bakar 0.42 ikat, kayu korot 44.07 gram, tenaga kerja wanita 0.15 HKO dan minyak kelapa 394.10 mililiter. (2) Tingkat produksi optimal yang memaksimalkan keuntungan pada KUB sebesar 16,35 kg dan pada Non KUB tidak diperoleh tingkat output yang memaksimalkan keuntungan tetapi diperoleh tingkat kerugian minimal pada output 20.34 kg dan untuk mendapatkan keuntungan diatas nol harus memproduksi minimal 40.68 kg. Untuk mendapatkan output optimal pada Non KUB dapat dlakukan dengan menaikan fungsi TR dengan cara meningkatkan kualitas produk dengan menggunakan input kayu korot dan minyak kelapa.sehingga harga produk meningkat. (3) Keuntungan maksimal yang dicapai KUB sebesar Rp 64 865 pada tingkat output 16.35 kg dan pada Non KUB tidak diperoleh keuntungan maksimal tapi diperoleh kerugian minimal pada tingkat output 20.34 kg sebesar Rp 38 000.dan (4) Keuntungan per unit produksi pada KUB sebesar Rp 317 berbeda nyata terhadap keuntungan perunit produksi pada Non KUB sebesar -Rp 920.
ABSTRACT
This research was carried out (1) optimum input to maximize profit (2) optimum output to maximize profit (3) maximum profit to KUB and Non KUB, and (4) profit perunit product to KUB and Non KUB. This research was conducted at Desa Pemepek Village Central District with Descriptive Analysis Methods method on 16 respondends from KUB and Non KUB. For extended analysis were first and second derivatives from Quadratic model of Cost and profit function and Z test were used.
Result of analysis shows were (1) The optimum input to maximize profit by KUB are sap 3.02 liter, firewood 1.16 set, korotwood 57.21 gram, women manpower 0.04 mandays and by Non KUB are sap 0.47 liter, firewood 0.42 set, korotwood 44.07 gram, women power 0.15 mandays, coconut oil 394.10 mililiter, (2) Optimum product to maximize profit by KUB are 16.35 kg and Non KUB 20.34 kg, (3) Maximum profit by KUB are Rp 64 865 and by Non KUB -Rp 30 000., (4) Profit per unit product by KUB are Rp 317 and Non KUB –Rp 920
5. ANALISIS SOSIAL DAN KELEMBAGAAN DALAM PENGELOLAAN HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm) DI BATUKLIANG UTARA – LOMBOK TENGAH
ABSTRAK
Membangun dan melestarikan hutan menjadi isu yang semakin kompleks dalam satu dekade terakhir. Di satu sisi hutan diharapkan mampu untuk mempertahankan fungsi ekologisnya, sementara di sisi lain hutan diharapkan berperan banyak dalam memenuhi fungsi sosial dan ekonomi. Atas dasar persoalan ini, sebuah penelitian telah dilakukan untuk mengkaji dan menganalisa aspek sosial dan kelembagaan dalam pengelolaan hutan. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode “Modified Participatory Action Research” ini menemukan adanya beberapa persoalan strategis dalam aspek sosial dan kelembagaan yang terkait dengan interaksi manusia dengan hutan. Dalam aspek sosial diidentifikasi tingginya tingkat ketegantungan masyarakat sekitar hutan terhadap hutan, yang kemudian mendorong mereka untuk masuk mengelola dan atau merusak hutan. Dalam aspek kelembagaan diketahui bahwa masyarakat di sekitar kawasan telah memiliki “lembaga” yang diharapkan berperan dalam pengelolaan hutan, namun hingga penelitian ini dilakukan kelembagaan yang ada belum mampu berperan sebagaimana mestinya.
ABSTRACT
Developing and sustaining forest becomes complex issues in the last one decade. In one hand, forest development is directed to improve its ecological functions while on the other hand forestry development is supposed to fulfil its socio-economic functions. On the basis of these expectations, this study was carried out to analyse socio-institutional aspects of forest management. Through the application of the “Modified Participatory Action Research” method, this study found some critical and strategic issues associated social and institutional aspects of forest management. In social aspect for instance, it was found that the surrounding community has high dependency toward forest that lead to their actions in managing and or destroying the forest. From institutional point of view, it was found that the community has had some forms of institutional arrangement, however they could not be implemented effectively
3. Analisis Pemasaran Sayuran Dataran Tinggi di Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur
Abstrak
Tujuan penelitian adalah: (1) mengetahui lembaga pemasaran dan saluran pemasaran sayuran dataran tinggi Kecamatan Sembalun; (2) menganalisis margin dan efisiensi pemasaran; (3) menganalisis elastisitas transmisi; dan (4) mengidentifikasi masalah yang dihadapi petani dalam pemasaran hasil-hasil sayuran.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey. Unit analisis dalam penelitian ini adalah petani produsen sayuran dan lembaga pemasaran. Dua desa sampel ditentukan secara purposive sampling atas pertimbangan areal panen dan jenis komoditas sayuran yang bervariasi. Jumlah responden petani sebanyak 30 orang ditentukan secara random sampling, sedangkan responden lembaga pemasaran dilakukan dengan teknik snowball sampling. Analisis data menggunakan metode deskriptif, analisis margin pemasaran, efisiensi pemasaran serta analisis elastisitas transmisi harga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Lembaga pemasaran sayuran dataran tinggi yang teridentifikasi meliputi pedagang pengumpul desa dan pengecer; (2) terdapat dua saluran pemasaran, yaitu (I) petani-PPD-Pr-konsumen, dan (II) petani-PPD-konsumen; (2) Margin pemasaran pada saluran I dan II masing-masing sebesar Rp.3.377,00/kg dan Rp.862,00/kg; (3) Saluran II lebih efisien dibandingkan saluran I; (4) Pada saluran I, harga di konsumen akhir ditransmisikan secara sempurna ke produsen, sedangkan pada saluran II tidak ditransmisikan secara sempurna; (5) Masalah-masalah yang dihadapi petani dalam pemasaran sayuran khas dataran tinggi adalah kurangnya modal usahatani dan jarak yang jauh antara lahan usahatani dengan lokasi pasar.
Abstract
The research objectives were to identify: ( 1) marketing institute and marketing chains of upland vegetables of Sembalun Sub-district; ( 2) analyze margin and marketing efficiency; ( 3) analyze transmission elasticity; and ( 4) identify the marketing problems that faced by farmers. This Research used descriptive method and data collecting conducted by survey technique. Unit analyze in this research were farmers and marketing institute. There were two sample villages determined by purposive sampling based on harvested area and vegetable commodities. Respondent farmers determined by random sampling, while marketing institutions conducted by snowball sampling technique. Data analysis used descriptive method, marketing margin analysis, marketing efficiency and also price transmission elasticity.Result of research indicate that: (1) marketing institutions of up-lend vegetables identified were merchant and retailer; (2) there are two marketing channel, that are (I) farmer-merchant-retailer-customer, and (II) farmer-merchant-customer; (2) marketing margin of channel I and II were Rp.3.377,00/kg and Rp.862,00/kg; (3) marketing channel II is more efficient than channel I; (4) at channel I, market price is perfectly transmitted to producer, while channel II is not; ( 5) marketing problems that faced by farmers were the lack of farming capital and the distance of their farm and market location
OTIMALISASI PENGGUNAAN SUMBERDAYA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN MELALUI PENERAPAN POLA USAHATANI DI DESA REMBITAN KECAMATAN PUJUT KABUPATEN LOMBOK TENGAH
ABSTRAK
ABSTRACT
In order to obtain maximum results in a farming system, especially farming in rainfed areas, where both planting and harvesting failure often occur, the determination or selection of crop and cropping patterns becomes important. Likewise, combining different types of crop and livestock farming in a particular farming pattern is an effort in order to increase the farmer's total income.This study aims to: (1) Identify the farming pattern or mixed farm applied by rainfed farmers; (2) Calculating the income of each farming pattern; (3) Optimalizing the rainfed farming in Rembitan Village, Pujut Sub-district. This research uses descriptive method. The analysis used are: income analysis, linear programming, and sensitivity analysis.The results showed that: (1) There are 10 farming patterns conducted by farmers in the rainfed areas of Rembitan Village, Pujut Sub-district, Central Lombok Regency; (2) The average total farming pattern income in the rainfed areas of Rembitan Village, Pujut Sub-district, Central Lombok Regency, which combines crop and livestock farming is Rp 12.263.596,00/year; (3) There are three recommended farming petterns activity in rainfed areas of 882 ha maximizing Rembitan Village revenue of Pujut Sub-district, Central Lombok Regency, Rp 20,649,455,129 per year with distribution, namely: X4 activity of 177,71 hectares (20,15 %); X7 of 145,633 hectares (16,51%); and X10 of 558,657 hectares (63,34%)
1. Determinants of technical efficiency of rice farming in dryland area of Central Lombok: An application stochastic frontier production function
Abstrak
Pertanian memainkan peranan penting dalam pembangunan ekonomi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Padi merupakan tanaman pangan utama untuk pertanian di Indonesia sebab beras merupakan makanan pokok bagi penduduk negara ini. Walaupun produksi padi secara nasional meningkat, produktifitas per satuan input menurun. Hal ini sangat erat kaitannya dengan efisiensi produksi. Studi ini menampilkan ukuran langsung dari efisiensi produksi menggunakan fungsi produksi stokastik frontier dan model pengaruh inefisiensi. Hasil studi menunjukkan bahwa terdapat efisiensi tinggi yang rata-rata 86,75 persen dalam penggunaan input usahatani. Faktor penentu tingkat efisiensi ini adalah umur, pendidikan, pengalaman berusahatani, ketersediaan kredit, lokasi usahatani dan jumlah tenaga kerja dalam keluarga.
Abstract
Agriculture plays important role in economic development for most developing countries including Indonesia. Rice is a main crop for agriculture in Indonesia because it is a staple food for the populations. Even though rice production nationally increases, the productivity per input uses basis decrease. This issue is related to production efficiency. This study provides a direct measure of production efficiency using a stochastic production frontier and inefficiency effects model. The result shows that there is high level efficiency in using farm input with on average 86.75 percent. The efficiency differences can be explained by age, education, experience, credit availability, farm location and number of family labour.
 
5. Efektivitas Kebijakan Pengamanan Harga Gabah Petani Pada Pelaksanaan DPM- LUEP di Kabupaten Lombok Barat
Abstrak
Pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani. Pembangunan pertanian yang mendapat prioritas utama adalah sub sektor tanaman pangan yang salah satunya adalah padi. Padi merupakan bahan makanan pokok sekitar 95% penduduk Indonesia, sehingga merupakan komoditas strategis dalam kehidupan sosial ekonomi nasional. Kebijakan pengamanan harga merupakan salah satu komponen kebijakan perberasan nasional untuk meningkatkan pendapatan petani dan ketahanan pangan nasional. Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu kabupaten sentra produksi padi di Nusa Tenggara Barat. Pada musim panen raya, panen serempak dan gabah melimpah menyebabkan harga jual gabah petani menjadi rendah. Kabupaten Lombok Barat juga telah melaksanakan program Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) yang bertujuan untuk menjaga harga jual gabah di tingkat petani agar tetap aman, untuk meningkatkan pendapatan petani, dan menumbuhkan kelembagaan usaha ekonomi di pedesaan serta meningkatkan ketahanan pangan daerah di desa.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis; (1) Efektivitas Kebijakan pengamanan harga gabah di kabupaten Lombok Barat; (2) Efektivitas Sistem Kerja Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan pada pelaksanaan program Dana Penguatan Modal di kabupaten Lombok Barat.Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Lombok Barat pada buulan Desember 2007 terhadap pelaksanaan program DPM-LUEP Tahun 2005-2007. Metode yang digunakan adalah Metode deskriptive dengan tehnik survei. Data yang diperoleh dianalisis dengan Regresi Logistik.Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Kebijakan pengamanan harga gabah pada tahun 2005-2007 kurang efektif. Efektivitas kebijakan pengamanan harga tahun 2005-2007 mencapai 72,92 %. Efektivitas kebijakan pengamanan harga gabah (KPHG) dipengaruhi proses pembelian (PB). Secara parsial efektivitas kebijakan akan meningkat bila dilakukan pembelian secara langsung. Proses Pembelian langsung meningkatkan harga yang diterima petani. Efektifitas sistem kerja LUEP di Kabupaten Lombok Barat adalah baik untuk tahun 2005, dan sangat baik untuk tahun 2006 dan 2007.
Peranan LUEP relatif kecil dan tidak efektif dalam kebijakan pengamanan harga gabah karena berbagai kendala.
Abstract
Agricultural development is directed toward increasing farmer’s income and welfare. Agricultural development that is put as first priority is food crop sub sector and one of them is rice. Rice is staple food of nearly 95 % of Indonesian so as a strategic commodity in national socio economic life. Price Security Policy of Farmers’ Rice is one of national rice policy to increase farmer’s income and strengthen food security.West Lombok District is one of rice production centre in the Province of West Nusa Tenggara. In a great harvest season, rice is harvested at the same time therefore there is abundant of rice supply that directs the price is going low. On the other side, farmer requires amount of fresh cash for their cost of living and for following farm business. This situation forces farmer to sell their harvested rice at low price. West Lombok District also conducts a Price Security Policy of Farmers’ Rice through Capital Strengthen Fund for Rural Economic Business Institution (DPM-LUEP) that directs to secure rice price at farm gate, to increase farmer’s income, to grow good rural business institution, and to strengthen rural food security. The objective of this study is to analyze; (1) The effectiveness of rice price security policy; (2) The effectiveness of LUEP’s working system in West Lombok District. This study has been conducted in West Lombok District on December 2007 to evaluate the implementation of DPM-LUEP fiscal year 2005 – 2007. Method employed to this study is descriptive method with survey technique. Data collected were analyzed under Logistic Regression. The result of this study reveals that the policy of rice price policy in 2005 – 2007 is less effective. Effectivity of rice price policy in 2005 – 2007 reaches up to 72.92 %. Rice price in 2007 has the least variance coefficient therefore it was relatively more stable than those of in 2005 and in 2006. Effectivity of rice price security policy or kebijakan pengamanan harga gabah (KPHG) by purchasing process (PB). Partially, effectivity will increase if direct purchasing is conducted because the price at farmer level is increase as well. Effectivity of LUEP’s working system in West Lombok District is ‘good’ for 2005 and ‘very good’ for 2006 and 2007. The role of LUEP is relatively low and ineffective in the rice price security policy due to several obstacles