Jurnal Agrimansion
Not a member yet
448 research outputs found
Sort by
4. TINGKAT KEMISKINAN PETANI BINAAN PADA PROYEK PENGEMBANGAN GAHARU DI SENARU LOMBOK BARAT
ABSTRAK
Artikel ini memaparkan hasil penelitian tentang tingkat kemiskinan petani binaan pada Proyek Pengembangan Tanaman Gaharu dan sumber-sumber pendapatannya di Desa Senaru Lombok Barat. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Analisis tingkat kemiskinan mengacu pada tingkat pendapatan dengan menggunakan pendekatan kebutuhan pangan dan kriteria Sajogyo. Hasil analisis menunjukkan bahwa Proyek pengembangan gaharu mengurangi tingkat kemiskinan petani yaitu yang termasuk kriteria sangat miskin dan miskin setelah masuk proyek terjadi pengurangan jumlah petani sangat miskin sebanyak 4 orang (13,33 persen), miskin sebanyak 5 orang (16,67 persen).
ABSTRACT
This article describes the result of research about the poverty level of empowered farmers who participated in the Gaharu Development Project. The study was conducted at Senaru village West Lombok. Primary and secondary data were used in this study. The analysis of poverty level referred to the income level of based on food need and referred to the Sajogyo’s criteria. The study indicates that according to the Sajogyo’s criteria of poverty level of the empowered farmers who participated in the Project there was a decreasing trend of the numbers of poor farmers. The very poor and poor farmers had decreased for about 13.33% and 16.67%.
 
5. ANALISIS DAYA SAING KOMODITI RUMPUT LAUT MELALUI PENDEKATAN POLICY ANALYSIS MATRIX (PAM) DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif komoditi rumput laut di Kabupaten Lombok Timur. Pengumpulan data dilakukan pada bulan September sampai Oktober 2003 melalui wawancara langsung dengan petani rumput laut, stakeholder, pedagang input, pedagang pengumpul, pedagang antar pulau dan instansi terkait. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil analisis menunjukkan bahwa komoditi rumput laut memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif seperti dicerminkan oleh nilai DRCR dan PCR yang kurang dari satu.
ABSTRACT
The objective of the research was to analyze the competitive and comparative advantages of seaweed in East Lombok Regency. Data was conducted from September to October 2003 by interviewing seaweed farmers, stakeholder, input traders, local and inter-island merchants, and related institutions. Data gathered were analyzed by using Policy Analysis Matrix (PAM). The results of the analysis indicated that the seaweed had competitive and comparative advantages reflected by DRCR and PCR values that less than one
1. Predicting the value of standing trees through quality inventory: a case study of Meranti trees (Shorea sp.) in Province of Jambi, Indonesia
Abstract
The value of trees depends not only on dimension and price but also on its quality. Until now, the estimation of tree value is still done when the tree has already felled. This condition caused only certain quality of wood will be extracted. This study tried to correlate the dimension of standing tree, which is easy to measure, and its economic value. Quality inventory method was implemented on standing trees. The result shows that basically the value of standing tree can be estimated through its dimension which has already included the quality on it.
Abstrak
Nilai ekonomis suatu pohon tidak hanya ditentukan oleh dimensi dan harganya tetapi sangat ditentukan pula oleh kualitasnya. Selama ini, penentuan nilai pohon hanya dilakukan ketika pohon telah rebah. Hal tersebut yang menyebabkan kayu dengan kualitas tertentu saja yang diekstrak ke luar hutan. Penelitian ini mencoba menghubungkan antara dimensi pohon berdiri yang mudah untuk diukur dengan nilai ekonomisnya. Metode invetarisasi kualitas pada pohon berdiri dicobakan pada penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa ternyata nilai satu pohon berdiri dapat diduga melalui dimensinya yang telah memasukkan unsur kualitas didalamnya
4. A Missing Link in Empowerment Program in Indonesia
Abstrak
Pemerintah daerah telah diberikan otoritas untuk melaksanakan program pemberdayaan. Dukungan regulasi dan keuangan telah diberikan oleh pemerintah pusat dan badan pemberdayaan masyarakat juga telah di bentuk. Namun dampak dari program pemberdayaan masih rendah. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Untuk menjawab pertanyaan ini survei dengan wawancara langsung dan wawancara mendalam dengan stakeholder kunci telah dilakukan di tujuh desa pesisir di Lombok. Hasil penelitian menunjukkan, walaupun berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memberdayakan masyarakat pesisir, namun aparat pemerintah yang diharapkan melaksanakan program pemberdayaan tidak dilatih tentang pemberdayaan itu sendiri. Akibatnya aparat tidak mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan prilaku yang memberdayakan sehingga mereka tetap mengimplementasikan cara lama yang top down dan pendekatan target. Hal ini berakibat pada gagalnya program.
Abstract
Local government was given authority to implement empowerment programs. Support including regulations, and financial were also provided by the central government. Empowerment bureau was established to accelerate empowerment programs. However, the impact of the empowerment program was low. What missing in government effort to empower coastal community in Lombok? To answer this question, a survey with face to face interview and in-depth interview with key stakeholders was carried out in seven coastal villages. The results indicate, even though various efforts have been carried out by the government to empower coastal communities, government staff who implement empowerment program were not trained on empowerment. As a result there was no change in government staff members’ knowledge, skills and behaviours, and staff continued practising the old top down mode of delivery and target focused approach to development processes. This had led to program failure
5. Dampak Pembangunan Sektor Pertanian Pangan Terhadap Output dan Nilai Tambah Perekonomian Nusa Tenggara Barat: Suatu Pendekatan Input-Output
Abstrak
Studi ini bertujuan untuk menganalisis dampak pembangunan sektor pertanian pangan terhadap output dan nilai tambah sektor pertanian pangan di Nusa Tenggara Barat. Sumber data dalam studi ini adalah Tabel Input-Output Nusa Tenggara Barat tahun 2005. Dengan menggunakan analisis dampak output dan nilai tambah disimpulkan bahwa (1) setiap satu rupiah peningkatan permintaan akhir sektor pertanian pangan akan berdampak terhadap peningkatan output seluruh sektor dalam perekonomian Nusa Tenggara Barat sebesar 1,29294 rupiah, (2) lebih dari separo (67,86%) nilai tambah sektor pertanian pangan merupakan dampak dari konsumsi rumahtangga, sisanya masing-masing 0,59%, 15,81%, dan 15,74% merupakan dampak dari konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor. Dalam upaya mempercepat peningkatan output disarankan untuk mengembangkan bawang merah dan bawang putih, sedangkan untuk nilai tambah diperlukan dorongan konsumsi rumahtangga dan ekspor. Dampak yang diharapkan terjadi dari pengembangan kedua komoditi tersebut adalah meningkatnya output sektor-sektor lain dalam perekonomian terutama perdagangan, angkutan darat, industri makanan, dan restoran.
Abstract
This study aims to analyse the effect of food-crop sector development on West Nusa Tenggara economic output and value added. Main source of data for this study is Input-Output Table of West Nusa Tenggara in 2005. By applying analysis output and value added effect, it was concluded that 1) Every Rp. 1 of last demand for food-crop sector give effect to total economic sector of West Nusa Tenggara in amount of Rp. 1.29294; 2) over a half (67.86%) value added food-crop sector is an effect from household consumption and the rest 0.59%, 15.18% and 15.74% were from government, investment and export consumption respectively. In the effort on accelerating the increase of output, it was suggested to cultivate onion and garlic, and for value added is increasing household consumption and export. Expected effect from cultivating those two commodities is increasing output from other sectors mainly trading, land transportation, food industries and restaurant
1. Analisis Produksi dan Kebutuhan Beras Di Kabupaten Lombok Barat
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengetahui perkembangan produksi dan kebutuhan beras di Kabupaten Lombok Barat; (2) memproyeksikan produksi dan kebutuhan beras di Kabupaten Lombok Barat tahun 2008-2012; (3) mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi perkembangan produksi dan kebutuhan beras di Kabupaten Lombok Barat.
Daerah penelitian ditentukan secara sengaja (studi kasus) karena Lombok Barat merupakan salah satu lumbung pangan bagi daerah NTB. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Data yang diperoleh disajikan dalam tabel dan analisis yang digunakan adalah analisis trend linear.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) produksi beras di Kabupaten Lombok Barat selama lima tahun terakhir (2003-2007) rata-rata sebesar 89.576,53 ton/th dengan peningkatan rata-rata 2,5%/th, sedangkan kebutuhan beras sebesar rata-rata 75.123,18 ton/th dengan peningkatan kebutuhan rata-rata 3,46%/th; (2) hasil proyeksi produksi beras lima tahun ke depan (2008-2012) rata-rata sebesar 100.039,68 ton/th, sementara hasil proyeksi kebutuhan beras rata-rata sebesar 88.195,68 ton/th; (3) dalam lima tahun terakhir (2003-2007) Kabupaten Lombok Barat masih mengalami surplus beras rata-rata 14.453,36 ton/th dengan kecenderungan surplus menurun. Hasil proyeksi lima tahun ke depan (2008-2012) menunjukkan bahwa surplus beras rata-rata menjadi 11.844,00 ton/th; (4) faktor yang mempengaruhi produksi beras adalah luas panen, produktivitas lahan, pola tanam dan ketersediaan input pertanian, sedangkan faktor yang mempengaruhi kebutuhan beras meliputi pertambahan jumlah penduduk dan pola konsumsi penduduk.
Sarannya adalah: (1) peningkatan produksi pangan (beras) menjadi prioritas dalam pembangunan pertanian; (2) perlu penyempurnaan sistem dan pola penyuluhan pertanian dengan orientasi peningkatan kemampuan sumberdaya manusia; (3) perlu penyempurnaan kelembagaan, lembaga ekonomi desa, serta kelembagaan di tingkat petani.
Abstract
The research objectives were to: ( 1) knowing growth of production and requirement of rice in West Lombok Regency; ( 2) projecting production and requirement of rice West Lombok Regency for 2008-2012; ( 3) identifying factors influencing growth of production and requirement of rice in West Lombok Regency.
This Research conducted in West Lombok Regency. Research area was determined intentionally as case study due to West Lombok Regency representing one of food mow of NTB. This research use descriptive method. Secondary data collected from relevant institution and primary data through circumstantial interview to central figure and farmer in countryside. Obtained data to be presented in tables and trend linear is applied to analyze data.
Result of research indicate that: (1) rice production in West Lombok Regency during last five years ( 2003-2007) equal to 89.576,53 ton/year with growth rate about 2,5%/year, while rice needs equal to 75,123.18 ton/year with growth rate 3,46%/year; ( 2) result of projection of rice production for five year forwards (2008-2012) mean equal to 100,039.68 ton/year, whereas result of projection of rice needs mean equal to 88.195,68 ton/year; ( 3) in last five years (2003-2007), West Lombok Regency still have surplus about 14,453.36 ton/year with decline tendency of surplus. Result of projection for five year forwards ( 2008-2012) indicating that rice surplus become 11,844.00 ton/year; (4) factors influencing rice production are harvested area, farm productivity, cropping pattern and agriculture input availability, while factors influencing rice need are resident growth rate and consumption pattern.
Suggestion to be raised are: (1) food (rice) production become priority in development of agriculture; (2) regulation of agriculture extension systems is needed based on the human resource oriented; (3) countryside economic institution needs to be improved, and also in farmer level
5. Perubahan Keseimbangan Ekonomi Rumah Tangga TKI Pria Dan TKI Wanita Di Daerah Asal Pulau Lombok
Abstrak
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui perubahan atau perbedaan keseimbangan ekonomi rumahtangga TKI pria dan rumahtangga TKI wanita di daerah asalnya Pulau Lombok. Secara rinci penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui perubahan pola alokasi waktu kerja, pola/struktur pendapatan dan pola/struktur pengeluaran rumahtangga TKI; 2) menganalisis faktor penentu yang mempengaruhi waktu kerja, pendapatan dan pengeluaran rumahtngga dan 3) membandingkan model keseimbangan ekonomi rumahtangga TKI pria dan rumahtngga TKI wanita. Metode penelitian yang diterapkan adalah metode deskriptif dengan teknik survai. Data dikumpulkan melalui teknik triangulasi, yaitu dengan mengawinkan beberapa teknik penelitian secara bersama-sama; yaitu: teknik wawancara (interview), pengamatan lapang (observation) dan studi pustaka (desk study). Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan ekonomi rumahtangga TKI pria dan rumahtangga TKI wanita di daerah asal Pulau Lombok sebelum maupun setelah TKI pergi kerja ke luar negeri ternyata tidak berubah dan tidak berbeda secara signifikan. Tingkat keseimbangan ekonominya berada sedikit diatas tingkat keseimbangan dasar. Faktor yang mempengaruhi waktu kerja pendapatan dan pengeluaran rumahtangga TKI pria dan wanita secara konsisten dan simultan adalah nilai konsumsi untuk bahan makanan setiap hari dan pendapatan yang diperoleh dari luar hasil kerja dan dari luar kiriman TKI. Sedangkan uang kiriman TKI tidak mempengaruhi waktu kerja, pendapatan dan pengeluaran rumahtangga secara signifikan. Ini menunjukkan bahwa kiriman TKI tidak dimanfaatkan untuk tujuan konsumtif oleh rumahtangga. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada keluarga TKI di dalam negeri, supaya memanfaatkan hasil kerja para TKI untuk diinvestasikan pada barang-barang produktif, seperti usaha ternak, unggas, dagang atau usaha-usaha lain yang layak diusahakan secara ekonomi. Kepada TKI yang sudah pulang ke daerah asal, pengalaman kerja di luar negeri supaya diterapkan di dalam asal, terutama tentang semangat kerja keras. Dan kepada pemerintah daerah atau Dinas Instansi terkait, supaya membuat skema perkreditan untuk para calon TKI agar tidak terjebak oleh para rentener atau pelepas uang dengan bunga yang tinggi, karena rata-rarta TKI berasal dari keluarga miskin.
Abstract
The general objective of research was tostudy the change or difference of the balance oh household economic of both men and women labour in origin region region Lombok Island. The detail objecttives of researh were to 1) know the change of pattern of a work time alocation, pattern /structure of income and pattern/structure of household expendeture of Indonesian Labour; 2) analyse the main factor affecting work time, income and expenditure of household and 3) compare the balance model of both men and women Indonesian labour. This research used descriptive method designed in suevey research. The data was collected thriught triangulasi tchnic by combining several research technics i.c. interview, observation, and desk study. The data was analysed using descriptive and multiple regression. The result of this research showed that balance both household economics of men TKI and women TKI in the origin regional Lombok Island both before and after TKI went to overseas indicated that there was no change and not significantly different. The level of economics balance was on little up base balance level. The factors effecting the work time, income and expenditure of men and women TKI household consistently and simultanly was consumtion value for food material everyday and income achieved from out of TKI sending. While sent money of TKI was not influence significantly work time, income, and expenditure of household. This indicated that TKI sending was not utilize for consumtive objective of household. Based ond the result of this research it was suggedsted for TKI in domestic country to utilize work result of TKI for investationof productive materials such as animal husbandry, poultry husbandry, business, or other effort that are economically suitable to be managed. For TKI that have returned to original region, work experience in overseas should be applied in a original region especially hard work spirit. For region governmnet or related departement should make credit scheme for TKI candidate in order to ovoid illegal crediors becouse everage TKI come from poor family
1. DAMPAK PROYEK PENGEMBANGAN IRIGASI DESA TERHADAP EFISIENSI USAHATANI DI KECAMATAN MASBAGIK LOMBOK TIMUR
ABSTRAK
Salah satu cara untuk menilai keberhasilan proses produksi usahatani adalah melalui penilaian efisiensi usahatani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak proyek pengembangan irigasi desa terhadap efisiensi ekonomi relatif dan skala usaha petani dalam mengelola usahataninya.
Metode analisis data menggunakan fungsi keuntungan Cobb Douglas (UOP) dengan Seemingly Unrelated Regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penggunaan teknologi menunjukkan pencapaian keuntungan dalam kondisi decreasing returns to scale; (2) terdapat perbedaan nyata efisiensi ekonomi relatif baik efisiensi teknis maupun efisiensi alokatif antara usahatani padi di daerah irigasi PID dan non PID. Dalam usahatani palawija terdapat perbedaan tidak nyata efisiensi ekonomi relatif dari sisi efisiensi teknis, namun terdapat perbedaan nyata efisiensi alokatif.
ABSTRACT
One of the ways to evaluate farm production process is by conducting farm efficiency analysis. The research objectives are to analyze the impact of rural irrigation development project on the relative economic efficiency and returns to scale of farm that carried out by farmers.
Cobb-Douglas profit function was used as the method of data analysis by the Seemingly Unrelated Regression. The results of this research indicated that (1) the utilization of technology have resulted in maximum profit under then decreasing returns to scale condition; (2) there were significant differences on relative economic efficiency of rice as a main foodcrop both for technical efficiency and allocative efficiency, between rural irrigation development area and non-rural irrigation development area. In contrast, there was no significant difference on the relative economic efficiency of a second foodcrop for the technical efficiency. However, in term of allocative efficiency the difference was significant