Jurnal Agrimansion
Not a member yet
    448 research outputs found

    5. STRATEGI MENGEFEKTIFKAN GAPOKTAN SEBAGAI LEMBAGA EKONOMI DIPERDESAAN

    No full text
    ABSTRACT Farmers group union (Gapoktan) can bee perceived as a breaktrough to enhance farmer’s bargaining position in market both output market, input market and money market.  This isyu is getting relevant especially in liberalisation era.  Such institution is extremly important to shield farmers dan informal sectors from modern sector’s invation.  Farmer’s weak position in global competition can be the cause of why modern retail like Alfamart which has been partly owned by Carrefour dominates the outlet of agribussness products.  This paper attempt to highlight some thoughs related to strategy to emprove the union to be more effective.  This descriptive study uses qualitatif data and information, presented to encourage scientific discussion.  After doing overviewing union concept, this paper attempts to raise theoretical fondation to evaluate the union.  By then, it can be evaluate the position of current union, understanding the problems and their solutions.  The union can be studied using public good theory, market structure, market separation dan price discrimination, market information, producer behavour.  To enhance efectiveness of the union can use the strategi concern to bottom up initial establishing, and by maintaining condusive bussiness climate. ABSTRAK Gabungan kelompok tani (Gapoktan) bisa dipandang sebagai terobosan usaha untuk memperkuat posisi rebut tawar (bargaining position) petani dipasar.  Isyu ini semakin relefan dikaji terutama dalam konteks liberalisasi perdagangan dan membentengi usaha lokal dalam persaingan global dengan menggunakan kelembagaan modern seperti ritel alfamart yang sekarang sebagian sahamnya sudah diacquisisi oleh Carrefour, yang membuat pengusaha lokal semakin terpinggirkan.  Paper ini berupaya menelaah beberapa kemungkinan strategi didalam mengefektifkan gapoktan yang selama ini masih belum terasa peranannya.  Kajian ini bersifat diskriptif dengan menggunakan data dan informasi qualitatif yang dikemas dalam format diskusi ilmiah.  Paper ini menyoroti (overview) gapoktan dan mencari landasan teoritisnya sebagai acuan dalam pengkajian.  Empirik dilapangan dievaluasi dengan teoritis sehingga bisa dipahami posisi pelaksanaan gapoktan, masalah dan solusinya.  Gapoktan dapat dikaji dengan menggunakan teori public good, struktur pasar, market separation dan price discrimination, informasi pasar, dan prilaku produsen.  Untuk meningkatkan efektiifitas gapoktan bisa digunakan strategi pembentukan yang bottom up dan strategi membangun iklim usaha yang kondusif

    9. DETERMINANTS OF TECHNOLOGY ADOPTION: THE CASE OF DRYLAND FARMER IN LOMBOK

    Get PDF
    ABSTRACT Dryland farmers in Lombok underuse the water provided through deep well irrigation pump, far below the optimum level of wateruse.  Question raised in this study is what are the determinants factors explaining wateruse level of dryland farmers in Lombok.  Therefore, this study aims to identify such determinants factors and by knowing the factors, it can be a valuable consideration in motivating farmers to optimize their wateruse. This study used a two-stage cluster sampling method: (1) to choose pumps by classifying a total of 168 pumps into 23 existing pump groups and (2) to select farmers from each selected pumps.  The number of farmers interviewed is 323.  To investigate the factors affecting the level of wateruse, linear multiple regression was used. This study revealed that Adopters are significantly different to non-adopters in terms of age, farming experience, hours of extension attended, holding area, farm income, farmer income, household income and cropping intensity.  Land status, the frequency of operator change, the access of respondents to part time jobs, migration status and dryland problems are significant at the five percent level or lower.  Determinant factors which can be used to explain the phenomenon of under use of water are: price of water, proportion of cash-cost farm income, household income, and hours of attending extension training. Implication of this study is that attempt to motivate farmers in optimizing wateruse can be more effective if we can reduce the water price or find the in-question product market which is provide more reasonable price. ABSTRAK Penggunaan air irigasi pompa artesis oleh petani lahan kering di Pulau Lombok masih jauh dibawah tingkat penggunaan optimum.  Masalah yang diangkat dalam kajian ini adalah apa saja yang menjadi faktor penentu didalam menjelaskan tingkat penggunaan air oleh petani lahan kering di Pulau Lombok.  Karena itu, kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor penentu yang dimaksud yang dengan memahaminya dapat diupayakan solusi untuk mendorong petani agar mengoptimumkan penggunaan air. Kajian ini menggunakan sampel yang ditentukan dengan metoda cluster dua langkah: (1) untuk menentukan pompa dengan mengkalisifikasikan 168 pompa kedalam 23 group and (2) untuk memilih petani dari masing-masing skim dari pompa yang terpilih.  Petani yang diwawancara 323 orang.  Untuk memeriksa faktor penentu digunakan regresi berganda. Study ini mengungkapkan bahwa adopter berbeda dengan non adopter dalam hal: umur, pengalaman bertani, penyuluhan, luas areal, pendapatan usahatani, pendapatan rumah tangga dan intensitas tanam.  Faktor penentu adopsi teknologi meliputi: harga air, proporsi pendapatan, pendapatan rumah tangga, dan penyuluhan. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa memotivasi petani agar mengoptimumkan penggunaan airnya dapat dilakukan dengan menekan harga air atau mengusahakan pasar produk yang dihasilkan petani lahan kerin

    3. ADOPSI TEKNOLOGI USAHATANI KONSERVASI LAHAN KERING SERTA DAMPAKNYA TERHADAP PRODUKSI DAN KONSUMSI RUMAHTANGGA PETANI DI KECAMATAN SEKOTONG TENGAH-KABUPATEN LOMBOK BARAT

    No full text
    ABSTRAK             Tulisan ini memberi gambaran tentang dampak adopsi teknologi usahatani konservasi lahan kering terhadap produksi dan konsumsi pangan dan non pangan rumahtangga adopter. Penelitian menggunakan metode survei dan pengumpulan data dengan kombinasi metode observasi serta wawancara intensif terhadap petani adopter dan non adopter masing-masing 35 orang serta dilengkapi dengan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi teknologi konservasi tergolong sedang dan adopsinya berdampak positip terhadap produksi dan pendapatan usahatani adopter sehingga meningkatkan kemampuan permodalan kegiatan produktif lainnya. Selain itu, adopsi teknologi tersebut mengakibatkan meningkatnya kuantitas dan kualitas konsumsi pangan dan non-pangan keluarga petani adopter.   ABSTRACT              This article gives the picture of impacts of adoption of up land farming conservation technologies on production and food and non-food consumption of farmer households. This research used survey method. The data were collected by interviewing 35 farmers who adopted the technology and 35 farmers as non-adopters. Secondary data were also colleted. Results of this research indicate that the farmers have adopted the conservation technologies by a medium level and has positively affected farm production and farmers’ income as well as increased funding capacity to run their farms. Additionally, the adoption of the technologies increased the quantity and the quality of food and non-food consumptions of the farm households

    2. ANALISIS EKONOMI PERAN IBU RUMAH TANGGA MELALUI PROGRAM KARYA USAHA MANDIRI (KUM) DI DESA JENGGALA KABUPATEN LOMBOK BARAT

    No full text
    ABSTRAK             Program Karya Usaha Mandiri (KUM) merupakan suatu kegiatan pemberian bantuan keuangan yang dimaksudkan sebagai penunjang kegiatan ekonomi istri-istri petani (wanita tani). Seiring dengan sasaran yang hendak dicapai dalam KUM, maka tujuan utama penelitan ini adalah untuk menganalisis sejauh mana peran ibu (wanita) tani dalam perekonomian rumah tangga terutama melalui kontribusi pendapatannya dengan adanya program KUM. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Jenggala, sebagai daerah pusat pengembangan program di Kabupaten Lombok Barat, dengan menggunakan metode deskriptif dan teknik survei, yaitu dengan mewawancarai 42 wanita tani peserta kegiatan KUM dengan berpedoman pada quesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program KUM belum mampu meningkatkan peran ekonomi ibu rumah tangga secara signifikan. Namun secara umum wanita tani di Desa Jenggala telah mampu memberikan kontribusi sebesar 25% terhadap total pendapatan keluarga.             ABSTRACT “Karya Usaha Mandiri” Program is an activity directed to support housewive of  farmers to increase their economic contribution through financial aid. In line with KUM objectives, the main aim of this study was to analize  economic contribution of housewife, mainly their contribution to family income as a member of KUM. This study was conducted in Jenggala village West Lombok by using descriptive method and survey technique. The data was collected by interviewing 42 housewive based on prepared quesionary.  The results of the study indicated that KUM program has not been able to increase significantly economic contribution of housewife, however in general housewife contributed about 25 % to family income

    7. Farming under constrained budgets: Practices of agricultural credit users in Central Lombok, Indonesia

    No full text
    Abstrak Petani Indonesia telah lama bergantung kepada kredit untuk membiayai usahataninya.  Tulisan ini mendeskripsikan kegiatan bertani yang dilakukan oleh petani pemakai kredit di Lombok Tengah, Indonesia.  Survei telah dilaksanakan pada Juli 2001 – Maret 2002 terhadap 65 petani pemakai kredit pemerintah atau swasta di tiga desa dalam kabupaten tersebut.  Data dari petani dikumpulkan melalui wawancara secara tatap muka dan semi terstruktur dan dianalisis secara deskriptif. Hasil-hasil survei menunjukkan bahwa secara rata-rata petani mempunyai status sosial ekonomi yang rendah, seperti yang ditunjukkan oleh penguasaan lahan yang rendah dan kurangnya modal.  Akibat keterbatasan modal, produsen biasanya menggunakan kredit untuk melangsungkan kegiatan pertaniannya, dan dengan menerapkan tingkat input yang lebih rendah dari yang direkomendasikan.  Akibatnya, usahatani mereka menjadi kurang produktif dan pendapatan beserta kemampuan membayar hutang mereka menjadi menurun.  Karena keterbatasan pendapatan tersebut maka petani selayaknya diberikan bantuan dana gratis alias tanpa kewajiban membayar kembali. Abstract There has been a long dependency on credit by Indonesian farmers as a result of the lack of capital to apply proper farming practices.  This paper describes the farming activities applied by agricultural credit users in Central Lombok, Indonesia.  A survey was conducted during July 2001- March 2002 of 65 farmers making use of government or private credit in three villages within the Regency.  Data from the farmers were collected using face-to-face, semi-structured interviews, and were analysed descriptively.  Survey results indicated that on average, farmers had low socio economic status, such as small land holding and lack of capital.  As a consequence of their capital constraints, farmers were commonly making use of credit to finance their farming activities, in which farmers generally applied less than recommended amount of inputs.  As a result, their farms become less productive and their income and repayment capability of loans diminished.  Due to such low income the producers should be granted funds rather than providing them with credit with repayment responsibility

    3. Determinants of buyer-seller relationships in agribusiness supply chains for dry-land farming products in Lombok Indonesia

    No full text
      Abstrak Walaupun ada banyak cerita sukses tentang pembangunan pertanian di Indonesia tetapi belum memberikan perbaikan yang berarti buat kesejahteraan petani.  Hal ini umumnya juga terjadi di pertanian lahan kering di Lombok.  Banyak penelitian dan penyuluhan di wilayah ini ditekankan pada perbaikan sistem produksi dan sangat sedikit yang diarahkan untuk pengembangan rantai pasokan (supply chain).  Tulisan ini menggambarkan tentang rantai pasokan agribisnis untuk hasil pertanian petani kecil di lahan kering dan menganalisis faktor yang menentukan proses rantai pasokan itu.  Studi ini mengamati rantai pasokan untuk empat komoditi – jagung, kacang tanah, ubikayu dan padi.  Hasil tulisan ini mengungkapkan pola hubungan antara petani dengan pelaku rantai pasokan lainnya. Abstract Although there have been a number of success stories from the agricultural development programs undertaken in Indonesia it is acknowledged that the change has not led to a significant improvement of farmers’ welfare.  This is generally the case for dryland farmers in Lombok.  Much of the research and extension effort in Lombok has been targeted at developing improved dryland production systems and little effort has been devoted to developing the product supply chains.  This paper describes the agribusiness supply chain (SC) issues for produce from small farmers in dry land areas and analyses the factors contributing to the supply chain process.  This study has looked at four product supply chains – those for maize, peanuts, cassava, and paddy.  The results explore the relationships between farmers and others in the supply chain

    2. Studi penampilan pasar kayu jati di Kabupaten Sumbawa

    No full text
    Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui struktur dan perilaku  pasar kayu jati (Tectona grandis)  telah dilakukan dengan metode deskriptif dan teknik survai dengan mengambil 41 petani jati, 3 pedagang besar 1 agen pedagang besar, dan 4 pengolah kayu. Hasil penelitian menunjukan bahwa struktur pasar kayu jati mengarah ke oligopsoni dengan konsentrasi tinggi, sedangkan perilaku  pasar kayu menunjukkan adanya kerjasama antar pedagang kayu di Kabupaten Sumbawa dan pedagang antar pulau. Abstract The research, to know structure and behavior of teak market (Tectona grandis), was conducted using descriptive method and survey technique. Samples included 41 teak farmers, 3 wholesellers, 1 major marketing agent , and 4 wood processor. The study revealed that market structure is rather olygopsony with high consentration while market behaviour indicated some collaboration among wood traders within the regency and with traders outside the island

    2. Dampak Sosial Pengembangan Pengelolaan Kawasan Tambak Udang Berkelanjutan di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat

    No full text
    Abstract The aims of this research are (a) to asses social impacts on existing shrimp culture zone management (b) to predict social impacts of sustainable shrimp culture area management development. The research was conducted in Dompu Regency, West Nusa Tenggara using survey, and stakeholders’ participatory methods. The collected data was analyzed under descriptive, laboratory and trade off analyses. The result shows that the existing shrimp culture zone management employed 27,871.29 man days of the workforce and induced low growth to the informal sector.  The total areas of sustainable shrimp culture area management is 2,350 ha, consisting of 325.5 ha intensive; 117.5 ha semi-intensive and 1,880 ha traditional cultures. It was predictied that the sustainable shrimp culture management would create larger employment (124,146.98 man days) and promote higher growth to the informal sector.   Abstrak Penelitian ini bertujuan (a) untuk menilai dampak sosial pada pengelolaan kawasan tambak udang (b) untuk memprediksi dampak sosial pengembangan pengelolaan kawasan tambak udang berkelanjutan.  Penelitian ini telah dilakukan di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat dengan menggunakan metoda survey, dan partisipasi stakeholders. Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, laboratorium dan trade Off. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak sosial budidaya tambak udang dapat menyerap tenaga kerja sebesar 27 871,29 HKO dan perkembangan sektor informal rendah. Luas kawasan budidaya tambak udang berkelanjutan adalah 2 350 ha (50 % dari potensi kawasan) yang terdiri atas penggunaan 325,5 ha tambak intensif; 117,5 ha tambak semi intensif dan 1 880 ha tambak tradisional. Dengan budidaya tambak udang berkelanjutan ini, diperkirakan dapat menyerap tenaga kerja sebesar 124 146,98 HKO dan perkembangan sektor informal yang tinggi

    1. Principal-Agent Problem Dalam Kemitraan Pertanian

    No full text
    Abstrak Kemitraan antara petani pemilik lahan (principal) dengan petani lain yang bertindak sebagai penyakap dalam sistem bagi hasil atau penyewa (agent) telah lama berlangsung.Tulisan ini menelaah aspek teoritis dari hubungan tersebut dengan mengambil kasus kemitraan dalam agribisnis tembakau virginia yang transaksinya berada pada kondisi informasi tidak sempurna. Hasil studi empiris menunjukkan, bahwa kemitraan dalam agribisnis tembakau virginia di Pulau Lombok telah berdampak terhadap semakin berkembangnya kelembagaan penyewaan tanah sebagai konsekuensi dari luas kepemilikan lahan yang relatif sempit (0,56 ha) sementara kemitraan mempersyaratkan luas lahan minimal 1,75 hektar. Sesuai dengan teori agency, pilihan bagi para petani pemilik tanah (principal) dan petani tembakau yang bertindak sebagai penyewa (agent) merupakan alternatif terbaik karena masing-masing pihak mendapatkan penerimaan maksimum. Mengingat principal netral terhadap risiko maka ia tetap memperoleh penerimaan sebesar harga sewa yang telah disepakati meskipun hasil panen agent mengalami kegagalan karena faktor iklim. Demikian halnya dengan petani tembakau penyewa lahan (agent), mengingat adanya beban risiko yang ditanggung maka agent akan berusaha mencurahkan semua sumberdaya yang dimiliki untuk memaksimumkan penerimaannya karena semakin tinggi beban risiko yang ditanggung semakin besar insentif yang akan diterima dibanding tidak ada beban risiko yang hanya menerima upah tetap. Abstract Partnership between farmer owner (principal) and farmer sharecroper or leaser (agent) has been exist for long time.  This paper studies theoritical aspect from their relationship with case of partnership in virginea tobacco farm industries with its transaction under imperfect information situation.  The empirical study result shows that partenrship in virginea tobacco farm industries in Lombok Isalnd has given effect to increase land leasing because the size of land owned by farmers very low (0.56 ha) while the partnership system needs minimum size 1.75 ha for each.  Based on Agecy Theory, the choice of principal and agent is a best alternative because each side earn maksimum benefit.  Considering principals are neutral to risk, they always earn economic benefit in amount of the price of leasing their land although agent faced failure in harvesting.  Similarly, agent will all out use their resource because they load with high risk.  This is applied because theoritically the higher the risk the more benefit will earn compare to work for fixed wage only

    3. Bahan Bakar Alternatif Pengganti Minyak Tanah Dalam Pengomprongan Tembakau Virginia: Tinjauan Dari Aspek Ekonomi

    No full text
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah sebagai bahan bakar dalam pengomprongan tembakau virginia. Dengan menggunakan metode eksperimental terhadap masing-masing bahan bakar minyak tanah, batubara, dan LPG disimpulkan bahwa batubara merupakan bahan bakar yang paling murah, kemudian berturut-turut diikuti oleh LPG dan minyak tanah. Timbulnya masalah eksternalitas negatif bagi masyarakat berupa polusi zat terbang, limbah karbon dan belerang yang keluar dari cerobong asap telah dapat diatasi dengan ditemukannya model tungku gasifikasi. Karena itu disarankan kepada Dinas Perkebunan Propinsi Nusa Tenggara Barat untuk segera membentuk tim terpadu yang bertugas untuk merumuskan mekanisme sistem pengadaan dan pendistribusian batubara hingga ke tingkat petani. Disarankan pula kepada pemerintah, perusahaan pengelola, dan petani tembakau untuk bersama-sama menanggung renteng biaya renovasi struktur tungku omprongan sebagai konsekuensi penggantian bahan bakar minyak tanah dengan batubara. Abstract This study aims to know alternative fuel to replace kerosene as main fuel to dry Virginia tobacco.  By applying experimental method for kerosene, coal and LPG, it was concluded that coal is the cheapest fuel then followed by LPG and kerosene.  Gasification stove model can cope with the negative externality problem such as gas pollutant, waste carbon and sulphuric that was produced from chimney. Therefore, it was suggested to Department of Estate Province of West Nusa Tenggara to establish integrated team that assigned to formulate procurement and distribution system for coal until farmer level. It was also suggested to government, company management and farmers to work hand in hand to renovate structure of the stove as a consequence of replacing kerosene to coal.&nbsp

    308

    full texts

    448

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agrimansion
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇