Jurnal Agrimansion
Not a member yet
448 research outputs found
Sort by
6 OPTIMALISASI PENGGUNAAN SUMBERDAYA LAHAN DI WILAYAH IRIGASI AIR TANAH KECAMATAN PRINGGABAYA KABUPATEN LOMBOK TIMUR
ABSTRAK
Tujuan studi ini adalah untuk menganalisis biaya dan pendapatan pada berbagai pola tanam, menentukan pola tanam yang menguntungkan, dan menganalisis penggunaan sumberdaya lahan yang optimal di Wilayah Irigasi Air Tanah Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.
Studi ini dilakukan di Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur (1999/2000). Sebanyak 17 unit pompa irigasi air tanah sampel diperoleh secara proportional random sampling atas dasar tahun awal operasi sumur pompa. Kemudian, dari setiap sumur pompa ditentukan sebanyak 5 responden petani, sehingga secara keseluruhan terdapat 85 responden petani. Untuk menganalisis data yang diperoleh digunakan Linear Programming.
Hasil studi diperoleh: (1) terdapat 6 pola tanam dominan yang diusahakan petani, yaitu: jagung–jagung–jagung, kacang tanah–bawang merah–jagung, jagung–kacang tanah–kacang hijau, lombok–tembakau, bawang merah–kacang tanah–kacang hijau, dan jagung–terong, (2) dari 6 pola tanam dominan, pola tanam lombok–tembakau memberikan pendapatan paling tinggi dalam setahun, (3) pola tanam yang optimal adalah jagung–tembakau–kacang tanah, bawang merah–jagung–tembakau, jagung–lombok, tomat–tembakau, and lombok–tembakau, (4) penambahan Urea, TSP, tenaga kerja dalam keluarga, dan air irigasi dapat memberikan pendapatan yang lebih tinggi pada pola tanam optimal.
Untuk mengoptimalkan penggunaan sumberdaya lahan, pola tanam yang disarankan diterapkan di wilayah irigasi air tanah Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur adalah: tembakau–kacang tanah, bawang merah–jagung–tembakau, jagung–lombok, tomat–tembakau, and lombok–tembakau. Lahan usahatani yang direkomendasikan untuk setiap pola tanam tersebut secara berurutan masing-masing adalah: 341.8507ha, 164.2514ha, 310.0701ha, 127.418ha, and 282.8146ha. Penambahan pupuk Urea dan TSP diperlukan untuk meningkatkan pendapatan para petani, dan tenaga kerja dalam keluarga perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Untuk memenuhi kebutuhan irigasi lebih luas, kontinuitas pengembangan pompa irigasi air tanah sangat diperlukan. Program-program pendidikan non formal seperti penyuluhan pertanian, pelatihan, dan demonstrasi plot perlu digalakkan terutama di wilayah irigasi air tanah Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur.
ABSTRACT
The objectives of the study are to analyze the cost and income in various cropping patterns, to determine the profitable cropping patterns, and the optimal land resource use in groundwater irrigation areas of Pringgabaya, East Lombok Regency.
The study was conducted in the sub-district of Pringgabaya, East Lombok Regency (1999/2000). Proportional random sampling was used to obtain 17 unit samples of groundwater irrigation pumps based on the term when they started operation. Then, random sampling was applied to gain 5 respondent farmers from each pumps, so that there were 85 respondent farmers overall. Linear Programming was applied to analyze the collected data.
The results of the study are as follows (1) There were 6 dominant cropping patterns that cultivated by farmers, namely: corn-corn-corn, peanuts-shallots-corn, corn-peanuts-small green pea, chilies-tobacco, shallots-peanuts-small green pea, and corn-an edible nightshade, (2) from 6 dominant cropping patterns, chilies-tobacco gave the highest total annual income, (3) the optimal cropping patterns were corn–tobacco–peanuts, shallots–corn–tobacco, corn–chilies, tomato–tobacco, and chilies–tobacco, respectively, (4) the addition of Urea, TSP, family labor, and irrigation water may give the higher possible income of the optimal cropping patterns.
In order to optimize the land resource use, the following cropping patterns suggested to be cultivated in the groundwater irrigation areas of Pringgabaya, East Lombok Regency: corn–tobacco–peanuts, shallots–corn–tobacco, corn–chilies, tomato–tobacco, and chilies–tobacco. Farmland area that recommended to each cropping patterns were distributed: 341.8507 hectare, 164.2514 hectare, 310.0701 hectare, 127.418 hectare, and 282.8146 hectare, respectively. The addition of Urea and TSP can increase farmers income, and the use of family labor needs to be maximized. To fulfil the requisite irrigation widely, the continuing development of groundwater irrigation pumps is essentially needed. Education programs (non-formal education) such as agricultural extension, training, and demonstration plots should be established, particularly in the groundwater irrigation areas, East Lombok Regenc
PENGEMBANGAN RANTAI NILAI KOMODITAS KEMIRI SEBAGAI UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN DAN PELESTARIAN SUMBERDAYA HUTAN DI KAWASAN HUTAN GUNUNG RINJANI LOMBOK UTARA
ABSTRACT
This research aims at developing value chain of the candlenut (Aleurites muccanus) and formulating a program action to make the candlenut as an economic engine for conserving forest resources within the area of Rinjani Mountain, Northern Lombok. Research utilized snow ball method, while data were collected through observation, in-depth interview, virtual survey, and Focus Group Discussion (FGD). Data was then analyzed using combination of quantitative and qualitative methods. Results indicate that candlenut commodity faces many problems along its marketing channels. Candlenut trees have relatively low productivity, so that they need to be replanted using local varity. Moreover, farmers mostly sold candlenut in form of raw commodity, therefore, farmers need to be trained proper de-shelling process in order to gain more added value
KERAGAAN USAHA EKONOMI PRODUKTIF PEREMPUAN DAN DAMPAKNYA BAGI PENGUATAN EKONOMI RUMAHTANGGA PETANI UNTUK MENGATASI MASALAH KEMISKINAN DI KABUPATEN LOMBOK BARAT
ABSTRAK
Masalah kemiskinan masih tetap merupakan masalah utama pembangunan di Indonesia, pemberdayaan ekonomi wanita merupakan salah satu upaya dalam penanggulangan kemiskinan. Identifikasi tentang potensi ekonomi produktif perempuan, akses dan kontrol perempuan terhadap sumberdaya lokal serta gambaran persepsi masyarakat terhadap peran perempuan bagi penguatan ekonomi rumahtangga petani, merupakan kegiatan awal untuk menunjang penyusunan suatu model pemberdayaan perempuan untuk mengatasi kemiskinan rumahtangga tani. Keragaan kegiatan ekonomi produktif perempuan dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi rumahtangga petani yaitu mencapai 46,01 %. Hal ini didukung oleh motivasi perempuan untuk ikut mencari nafkah sangat tinggi, kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran perempuan bagi penguatan ekonomi rumahtangga, perubahan pemahaman laki-laki terhadap peran domestik, adanya program-program, organisasi dan kader pemberdayaan perempuan serta akses dan kontrol perempuan terhadap sumberdaya lokal yang hampir sama dengan laki-laki, namun keterampilan yang dimiliki perempuan dan beban kerja domestik perempuan yang tinggi merupakan hambatan utama, kondisi ini sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya dan norma masing-masing daerah. Oleh karena itu upaya peningkatan peran perempuan pada kegiatan ekonomi produktif untuk mendukung penguatan ekonomi rumahtangga, perlu memperhatikan karakteristik relasi perempuan dan laki-laki di masing-masing daerah.
ABTRACT
The problem of poverty still remains a major problem in Indonesian development, economic empowerment of women is one of the efforts in poverty reduction. Identification of women's productive potential of the economy, women's access to and control over resources as well as an overview of local public perception of the role of women to the strengthening of farm household economy, an initial activity to support the development of a model of empowering women to overcome poverty farm households. Performance of productive economic activities of women can contribute significant for farm households, reaching 46.01 %. This is supported by the motivation of women to participate for a living is very high, public awareness of the importance of strengthening the role of women to the household economy, changes in the understanding of men against domestic role, the existence of programs, organizations and cadres of women's empowerment and women's access to and control over resources locally similar to men, but women have the skills and the workload of women's domestic high is a major obstacle, this condition is strongly influenced by social and cultural conditions and norms of each region. Therefore, efforts to increase the role of women in productive economic activities to support strengthening of the household economy, need to pay attention to the characteristics of the relation of women and men in each region
2. PARTISIPASI WANITA DALAM PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI DI DESA-DESA TERTINGGAL PULAU LOMBOK
ABSTRAK
Partisipasi wanita dalam melaksanakan suatu usaha ekonomi produktif pada hakikatnya merupakan salah satu wujud pemberdayaan wanita di bidang ekonomi. Penelitian ini terutama bertujuan untuk mengetahui partisipasi wanita dalam program pemberdayaan ekonomi di desa-desa tertinggal Pulau Lombok. Pendekatan yang digunakan adalah waktu kerja wanita yang dicurahkan dalam suatu usaha ekonomi produktif yang dilaksanakan.
Penelitian ini dilakukan di desa-desa tertinggal Pulau Lombok, dengan menetapkan tiga buah desa sampel yaitu Desa Sukaraja Lombok Timur, Desa Semoyang Lombok Tengah, dan Desa Banyumulek Lombok Barat. Jumlah responden seluruhnya adalah 90 orang.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa partisipasi wanita dalam berbagai bidang usaha ekonomi produktif di desa-desa tertinggal Pulau Lombok tergolong tinggi, kecuali dalam bidang usaha ternak yang tergolong rendah. Sedangkan keterlibatan wanita dalam pengambilan keputusan di berbagai bidang usaha relatif beragam. Keterlibatan wanita dalam pengambilan keputusan di bidang usaha dagang dan usaha industri kain tenun tergolong tinggi, di bidang usaha ternak tergolong rendah, dan di bidang industri gerabah tergolong sedang.
ABSTRACT
Participation of women in an economic productive business is essentially the concrete manifestation of their empowerment in the sector of economy. This research specifically aims to identify the participation of women in the economic empowerment programs in poor villages in Lombok. The approach taken was to calculate the amount of time invested by women in the economic productive business.
This research was conducted in poor villages in the island of Lombok, with three villages as samples, namely, Sukaraja Village of East Lombok , Semoyang Village of Central Lombok, and Banyumulek Village of West Lombok. The number of respondents was 90 persons.
The results show that participation of women in various economic productive businesses was high, except in poultry, which was regarded low. Meanwhile, the participation of women in the decision making in some businesses was relatively varied. Their participation in the decision making in trade businesses and hand-weaving industries was high, in poultry low, and in earthen ware industries medium
MODEL KEMITRAAN YANG BERKESINAMBUNGAN PADA INDUSTRI METE DI KAWASAN PERKEBUNAN JAMBU METE NUSA TENGGARA BARAT
ABSTRAK
Kemitraan yang diharapkan dapat menjembatani keterkaitan perusahaan pengelola dengan pelaku industri hingga saat ini kurang dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu pemikiran secara seksama dalam bentuk penelitian model kemitraan yang berkesinambungan dan harmonis, khususnya dalam agribisnis atau pemasaran kacang mete dinilai sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk mengevaluasi pola kemitraan yang dikembangkan saat ini, meliputi: (i) tingkat pengetahuan pelaku industri tentang hak (right) dan kewajibannya (obligation) dalam kaitannya dengan hubungan kerja kemitraan, (ii) rules of representation (pelibatan) pelaku industri mitra dalam proses pengambilan keputusan tentang penentuan harga, (2) untuk menemukan model kemitraan yang berkesinambungan dan harmonis dalam agribisnis atau pemasaran kacang mete, dan (3) untuk menganalisis sikap dan perilaku pelaku industri dan perusahaan mitra terhadap model kemitraan yang dikembangkan saat ini berikut kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancamannya.
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, yang diarahkan kepada upaya menggali informasi yang berkaitan dengan kemitraan dalam agribisnis kacang mete. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik survei melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD).
Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisis skor untuk pola kemitraan, sikap dan perilaku principal-agent dengan Skala Likert, dan analisis SWOT untuk mengkaji kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman atau hambatan dari operasionalisasi kemitraan yang dikembang-kan saai ini sehingga dapat ditentukan model kemitraan baru yang berkesinambungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat dua bentuk kemitraan dalam penyaluran mete gelondongan dan kacang mete yaitu Kemitraan Bapak Angkat yang Termodifikasi dan Kemitraan Penghela, (2) model kemitraan industri kacang mete berkelanjutan terbangun dengan strategi bermitra yaitu : (a) strategi pengembangan kapasitas kelembagaan (pembangunan kelompok industri kacang mete, pembangunan asosiasi (kolaborasi) kelembagaan industri kacang mete, pembangunan kemitraan dengan pelaku pasar lainnya, dan pendampingan pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan teknologi kacang mete dan kelembagaan industri kacang mete; (b) strategi pembangunan kontrak atau kesepakatan bermitra (tersusunnya secara tertulis kesepakatan kerjasama antara industri kacang mete dan kelembagaan lainnya, terumuskannya persyaratan kualitas dan harga untuk setiap kelas kacang mete, dan adanya pihak ketiga sebagai penengah bila terjadi sengketa.
ABSTRACT
Collaboration that was assuned to bridge the interest between cashew farmers and industries is not easly materialized. For this season, research to develop model thad could create a sustainable collaboration model with regards to agribusinness of cashew is verry appreciated. The objective of this measured are : (1) to evaluate the present existing collaboration, with respect to: (a) their awaran as interms of right and obligation in collaboration, and (b) their involment in deciding the cashew price, (2) to find or develop sustainable collaboration model in agribusiness and marketing of cashew, and (3) to analyze the behaviors of cashew farmers and its industrial comitenpart lowerd present collaboration model developed, including its strength, weaknes, opportunity, and threat.
This research was designed using qualitative and quantitative method analyze, that was directed to colhet information that coincide with collaboration in cashew agribusinesses. Data collection was done using tehnich survey throngh in-depth interview and focus group discussion (FGD).
Data analyses was conducted through score analyses for collaboration scheme, Likert Scale for principle agent behaviour, and SWAT analyses for knowing the strength, weaknes, opportunity, and threats from the present developed collaboration, so that can be formulated new collaboration model that can exist sustainably.
Results of study shows that : (1) there are two forms of collaborations in distributing raw cashew product thar are: (a) Kemitraan Bapak Angkat yang Termodifikasi dan (b) Kemitraan Penghela, (2) a sustainable collabo-ration model for cashew agribusiness could be established through: (a) development institutional capacity for cashew industry group, cashew nut association, collaboration development with other market stakeholders, people empowerment, and cashew on memorandum of understanding to collaborate. In this MoU must include: agreement to collaboaration, statement about price for each cashew quality, and the stated mediator in case there are any disagreements/conflicts
PELAKSANAAN PROGRAM UPAYA KHUSUS PADI, JAGUNG DAN KEDELE (UPSUS PAJALE) DI KECAMATAN TERARA KABUPATEN LOMBOK TIMUR
ABSTRAK
Sesuai ketetapan Pemerintah bahwa swasembada berkelanjutan untuk padi, jagung dan kedelai harus dicapai dalam 3 tahun ke depan. Untuk mencapai target tersebut diterapkan Pola Upaya Khusus untuk usahatani padi, jagung dan kedelai (Upsus Pajale). Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran program Upsus Pajale di Kecamatan Terara, terkait dengan pelaksanaan program Upsus Pajale oleh petani, dan permasalahan yang terjadi, jenis kegiatan dan hal-hal yang perlu dilakukan untuk peningkatan pelaksanaan program Upsus Pajale di Kecamatan Terara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan produksi padi, tetapi masih ada permasalahan baik di tingkat petani maupun penyuluh. Beberapa saran dari hasil studi adalah agar pendampingan ditugaskan pada awal musim tanam sehingga pendamping bisa melaksanakan tugasnya semaksimal mungkin; dan menaikkan gaji pendamping untuk memotivasi dalam menjalankan pekerjaannya.
ABSTRACT
The goverment of Indonesia has targetted self-sufficiency in production of rice, maize, and soybean in a program called “Upsus Pajale” (Special effort for increasing production of rice, maize, and soybean). This paper aims to describe: the implementation of “Pajale” program by farmers, problem, and kinds of activies in the program.
Result of this study reveals that there was an improvement in the production of rice, yet there were problems both at farmers and extentions worker. Recomendation for this study are that supervision need to be beginned at the start of the season for better duty implementation, and supervisor’s salary need to be increased for improving working motivation
ANALISIS PERMINTAAN KEDELAI PADA AGROINDUSTRI BERBASIS KEDELAI DI KOTA MATARAM
ABSTRAK
Kebutuhan kedelai sebagian besar digunakan untuk bahan baku pada agroindustry berbasis kedelai utamanya tahu dan tempe. Penelitian telah dilakukan untuk: Identifikasi penggunaan bahan baku kedelai lokal dan impor; Analisis permintaan kedelai; dan Permasalahan terkait bahan baku kedelai dan produk pada agroindustri berbasis kedelai. Penelitian menggunakan metode deskriptif, dan analisa data menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kebutuhan kedelai per unit usaha sebanyak 2.469 kg/bulan (terdiri dari 37% kedelai lokal dan 63% kedelai impor). Rata-rata kebutuhan kedelai untuk agroindustri tempe sebanyak 1.225,67 kg (terdiri dari 4% kedelai lokal dan 96% kedelai impor) dan untuk agroindustri tahu sebanyak 1 243 kg (terdiri dari 68% kedelai lokal dan 32% kedelai impor) per bulan; Faktor-faktor yang secara bersamaan mempengaruhi permintaan kedelai adalah harga kedelai lokal dan impor, pendapatan, jumlah tenaga kerja, harga output (tempe dan tahu) dan intensitas produksi tetapi faktor yang signifikan secara parsial adalah pendapatan dan jumlah tenaga kerja; dan bila harga kedelai meningkat, sebanyak 83,33% responden tetap berproduksi, mengurangi ukuran produk dan menjual dengan harga tetap; sebanyak 70% responden mengolah kembali produk untuk dijual bila produk tidak habis. Pemilihan kedelai impor karena perilaku pelaku usaha menginginkan kedelai yang bersih, kualitas produk tempe lebih baik.
ABSTRACT
Soybean demand is mostly for raw material in the soybean agroindustry such as tofu and tempeh. This study was carried out to: identify the use of raw soybeans locally and imported; analyze soybean demand; and identify problems related to soybeans and soy-based products in the agro-industry. Research used descriptive methods and data were analyzed using multiple linear regression. The results of the study indicate that average soybean demand per business unit was as much as 2,469 kg/month (consisting of 37 % local and 63 % imported soybean). The average soybean demand for tempeh was as much as 1225.67 kg (consisting of 4 % local and 96 % imported soybean) and to tofu was as much as 1243 kg (consisting of 68 % local and 32 % imported soybean); Factors that jointly affect soybean demand are local and imported soybean prices, income, labor quantity, output (tempe and tofu) prices and production intensity but significant partial affecting factors are income and labor quantity. When soybean prices rise, 83.33 % of respondents still produce, but reduce the size of the products and sell at a same price; 70% of respondents reprocess the unsold products for selling. Selection of imported soybean was because of the behavior of the companies who want clean soybeans and better quality tempeh
ANALISIS LUAS LAHAN USAHATANI UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP LAYAK RUMAH TANGGA PETANI PADI DI KOTA MATARAM
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) petani di Kota Mataram, untuk menganalisis pengaruh peggunaan faktor-faktor produksi luas lahan, bibit, tenaga kerja, pupuk, dan pestisida terhadap produksi padi di Kota Mataram, dan untuk menganalisis luas lahan untuk memenuhi kebutuhan hidup layak petani pada usahatani padi di Kota Mataram. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Unit analisis adalah rumah tangga petani. Penelitian dilaksanakan pada enam kecamatan di Kota Mataram. Pengumpulan data menggunakan teknik survey. Penentuan daerah penelitian secara sensus, pengambilan responden secara proporsional random sampling. Jenis data adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Sumber data adalah data primer dan data sekunder Analisis data menggunanakan analisis kebutuhan hidup layak minimal petani, analisis fungsi produksi Cobb-Douglass, dan analisis lahan luas lahan optimum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan petani lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan hidup layak, minimalnya pendapatan petani sebesar Rp 2.511.763 per luas lahan garapan sedangkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sebesar Rp 2.411.944 per bulan. Hasil regresi secara serentak menunjukkan bahwa semua variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap jumlah produksi padi dengan Signifikan F sebesar 0,000b lebih kecil dari 0,05 (taraf nyata). Sedangkan secara parsial, faktor-faktor yang paling mempengaruhi produksi padi adalah luas lahan, benih, pupuk NPK phonska dan signifikan pada taraf 5%. Uji asumsi kasik menunjukan bahwa data berdistribusi normal, tidak terjadi multikolinieritas, tidak ada autokorelasi, dan tidak terjadi heteroskedasrtisitas. Luas lahan minimum yang harus dimiliki oleh rumah tangga petani seluas 0,91 ha untuk memenuhi Kebutuhan Hidup Layaknya (KHL).
ABSTRACT
The purposes of this research are to determine quantity of farmer needs for proper living in Mataram; to analyze the influence of production factors, such as land, seed, labor, fertilizer, and pesticide on rice production in Mataram; and to analyze the optimum land size to meet the paddy farmer needs for proper living in Mataram. This research used descriptive method. The analysis unit was farmer household. Research was conducted in six districts in Mataram. Data collection used survey techniques. Determination of research area was by census. Determination of respondents used proportional random sampling. This research used qualitative and quantitative data, collected from primary and secondary sources. Analysis of the data used the analysis of minimum farmer needs for proper living, Cobb-Douglass analysis, and the analysis of farmers land size in Mataram. The results showed that farmer income was higher than the needs for proper living, minimum income of farmers amounted to Rp 2,511,763 per acreage while the needs of proper living amounting to at least Rp 2,411,944 per month. The analysis of regression showed that all independent variables affect the amount of rice production with significant F value of 0.000, smaller than 0.05 (the significant level). Partially, the most affecting factors, at 5% level, for rice production are land size, seed, fertilizer (such as NPK, Phonska). The classic assumption test showed the normal distribution of data, no multi collinearity, no autocorrelation, and no hetero schedasticity. The land size to be possessed by farmer household is 0.91 ha to meet the needs for proper living
PEMANFAATAN SUMBERDAYA LAHAN KERING MELALUI INTEGRASI TANAMAN DAN TERNAK DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan: 1) untuk memberikan gambaran tentang kondisi lahan kering di Kabupaten Lombok Timur, 2) untuk mengetahui pengembangan pertanian oleh rumah tangga serta pemanfaatan lahan melalui integrasi tanaman dan ternak di Kabupaten Lombok Timur, dan 3) untuk mengetahui strategi pengembangan lahan kering melalui integrasi tanaman dan ternak di Kabupaten Lombok Timur.
Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian ini adalah studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan melihat kondisi geografis dan keadaan penduduk maka Kabupaten Lombok Timur memiliki potensi untuk pengembangan pertanian lahan kering sebagai sistem usahatani yang berwawasan pertanian berkelanjutan. Pengembangan pertanian lahan kering di Kabupaten Lombok Timur dilakukan dengan kombinasi tanaman dan ternak oleh rumah tangga pertanian guna peningkatan pendapatan dan memperbaiki struktur lahan. Strategi pengembangan pertanian di Kabupaten Lombok Timur adalah dengan Sistem pertanian terpadu (integrasi tanaman dan ternak) memberikan keuntungan kepada petani-peternak. Sistem integrasi tanaman dan ternak dapat meningkatkan pendapatan usahatani, sekaligus dapat juga memperbaiki struktur lahan melalui penggunaan pupuk kandang dari ternak.
ABSTRACT
This study aims to: (1) describe the condition of dry land in East Lombok; (2) determine the development of agriculture and the integration of crops and livestock in East Lombok; and (3) find out strategies for dry land development through the integration of crops and livestock in East Lombok. Data were collected from literature study. The results showed that by looking at the geography and population, East Lombok has potential for future development of dryland agriculture as a farming system. The development of dryland farming in East Lombok is performed by combination of crops and livestock, in order to increase revenue and improve soil structure. The strategy for agricultural development in East Lombok is by integrated farming system (integration of crops and livestock). The integration of crops and livestock can increase farm income, and can also improve soil structure through the use of manure from livestock
1 KONTRIBUSI USAHA AGROINDUSTRI JAMBU METE TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI DI KECAMATAN KEMPO KABUPATEN DOMPU
ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk: (1) Menganalisis pendapatan usaha agroindustri jambu mete di Kecamatan Kempo dan (2) Menganalisis kontribusi usaha agroindustri jambu mete terhadap pendapatan rumah tangga petani di Kecamatan Kempo. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan tehnik survey, melibatkan 6 responden di Desa Songgajah dan 4 responden di Desa Tolokalo.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Pendapatan yang diperoleh petani dari Usaha Agroindustri Jambu Mete adalah Rp. 2.114.673,33 per proses produksi (sekitar 3 bulan, Nopember s.d Januari) dan (2) Besarnya kontribusi usaha agroindustri jambu mete terhadap pendapatan rumah tangga petani tergolong cukup besar 26,18%, artinya bahwa usaha agroindustri jambu mete sebagai usaha sampingan petani responden dapat diandalkan sebagai salah satu usaha dalam meningkatkan pendapatan rumah tangga petani.
ABSTRACT
This research aimed to analyse income of cashew fruit agroindustry and to analyse of cashew fruit agroindustry contribution to income household farmer in District Kempo. This research used a descriptive method and survey technique, involving 6 respondents in Songgajah village and 4 respondents in Tolokalo village.
The result of analyse indicated that income of cashew fruit agroindustry in the amount of Rp 2.114.673 every processing and the amount contribution to income household farmer is 26,18 %.