Jurnal Agrimansion
Not a member yet
    448 research outputs found

    2. AGROINDUSTRI DAN AGROWISATA DAPAT MENINGKATKAN KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT

    No full text
    ABSTRAK Tulisan ini memberi analisis tentang peranan agroindustri bersama agrowisata dalam meningkatkan ketahanan pangan masyarakat. Secara khusus penelitian ini dilaksanakan di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Di lokasi ini dilakukan pengembangan agrowisata dengan penanaman tanaman-tanaman yang mempunyai daya tarik keindahan dan juga menguntungkan bagi petani pelaku.  Nilai tambah terhadap produk yang dihasilkan diciptakan dengan cara melakukan kegiatan pengolahan (agroindustri) produk hasil pertanian menjadi produk-produk olahan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan dinilai sesuai dengan kebutuhan wisatawan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan agrowisata yang dilanjutkan dan dikombinasikan dengan kegiatan agroindustri dapat meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.    ABSTRACT This paper provides an analysis of the role of agro-industry along with agro-tourism in improving the food security of the community. Specifically this research was conducted in Gumantar Village, Kayangan District, North Lombok Regency. In this location, the development of agro-tourism is implemented by planting of plants that have atractions of beauty and also provitable to the farmers. Added value to the resulted product is created by processing  of agricultural products into processed products that have high economic value and viewed can meet the needs of tourists. The result of analysis shows that the development of agro-tourism which is combined with agroindustry activities can increase the food security of the community.&nbsp

    4 PROSPEK USAHATANI BUAH NAGA DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH

    No full text
    ABSTRAK Tanaman buah naga (dragon fruit) tergolong tanaman pendatang baru di Indonesia khususnya di Kabupaten Lombok Tengah dan masih sedikit petani yang melakukan usahatani buah naga tersebut, padahal usahatani buah naga cocok untuk dikembangkan di kabupaten ini karena memiliki iklim tropis. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui prospek pengembangan usahatani buah naga di Kabupaten Lombok Tengah dilihat dari segi teknis, finansial dan pasar.                 Penelitian ini dilakukan di lima desa dari tiga kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. Desa tersebut meliputi: Desa Puyung, Perina, Bonjeruk, Tampak Siring dan Pringgarata. Untuk mencapai tujuan tersebut maka data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis kriteria investasi (investment criteria): NPV, IRR, Net B/C dan pay back period.                 Hasil penelitian menunjukkan bahwa prospek pengembangan usahatani buah naga di Kabupaten Lombok Tengah sangat baik untuk dikembangkan karena dari segi teknis (iklim dan curah hujan) menunjukkan bahwa buah naga cocok diusahakan di Kabupaten Lombok Tengah, dari segi finansial memberikan nilai NVP = Rp. 547.382.918/ha, nilai Net B/C ratio = 4,21, IRR = 59% dan tingkat pengembalian modal (pay back period) = 3 tahun. Selain itu, Pasar buah naga sangat prospektif karena pasar nasional dan internasional belum terpenuhi. ABSTRACT                 Dragon fruit commoditi is a new commoditi in indonesia spesificly Middle Lombok District and has been not many used developing by farmer, however dragon fruit farms is availabilty to developing in Middle Lombok District. Therefor, this research aim to know developing of dragon fruit farms prospect on three aspects such as teckniq aspect, financial aspect and market aspect in Middle Lombok District.                 This research  was held in five villages of three subdistricts of Middle Lombok District. These vilages such as Puyung village, Perina, Bonjeruk, Tampak Siring and Pringgarata village. For exhausting to aim data collected is analysed using invesment criteria such as net present value (NPV), net B/C ratio and pay back period.                 The result of this study indicated that developing prospect of dragon fruit farms in middle lombok district is availabilty because on techniq aspect like climite and weather is availability, on financial apect give value of net present value (NPV) Rp. 547.382.918/ha, Net B/C ratio = 4,21, IRR = 59% and pay back period is three years. Besides it, markets of dragon fruit farms is prospectively because national and international markets is can’t full of

    5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENAWARAN METE GLONDONGAN PADA TINGKAT PETANI DI NUSA TENGGARA BARAT

    No full text
    ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran mete glondongan dan elastisitas penawaran mete glondongan pada tingkat petani  di Nusa Tenggara Barat. Data yang digunakan adalah data time series periode 1985–2000; selain itu digunakan juga data primer untuk mendukung pembahasan. Kemudian untuk menganalisis respon penawaran mete glondongan di Nusa Tenggara Barat digunakan Expectation Adjustment Model dengan metode analisis OLS (ordinary least square). Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penawaran mete glondongan pada tingkat petani adalah: produksi mete glondongan satu tahun yang lalu, curah hujan, tren waktu dan krisis ekonomi; (2) Elastisitas penawaran mete glondongan pada tingkat petani dalam jangka pendek tergolong in elastis.   ABSTRACT The aims of the research are to identify factors affecting the supply and elasticity of cashew supply on farmer level in West Nusa Tenggara. This research used time series data in year of 1985–2000 and primary data was collected for completion of discussion. Expected Adjustment model with OLS analysis is used to predict the supply function and supply elasticity. The result shows that: (1) the factors affecting the supply of cashew at farmer level were previous year production, rainfalls, annual trend, and economic crisis. (2) At farmer level, in the short run  elasticity of cashew supply is inelastic

    STRATEGI PEMASARAN TANAMAN HIAS DI KOTA MATARAM

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) manajemen pemasaran tanaman hias di Kota Mataram; (2) faktor internal dan eksternal usaha pemasaran tanaman hias di Kota Mataram; (3) strategi pemasaran untuk meningkatkan omzet penjualan tanaman hias di Kota Mataram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive sampling, yaitu Kecamatan Ampenan, Mataram, dan Selaparang. Selanjutnya di ketiga kecamatan ini dilakukan survai untuk menentukan perusahaan yang memenuhi dua kriteria, yaitu: (1) mengusahakan lima jenis tanaman hias (Anthurium, Aglaonema, Dendrum, Palem, dan Sanseveria), (2) menjual dan menyewakan kelima jenis tanaman hias tersebut. Hasilnya adalah Sekar Ulangun Nursery terletak di Kecamatan Mataram, Nadi Mulya Roses terletak di Kecamatan Selaparang, dan Putu Garden & Sulution di Kecamatan Ampenan. Responden dalam penelitian ini adalah pemilik perusahaan tanaman hias. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis IFAS dan EFAS, analisis SWOT dan QSPM.  Hasil dari penelitian ini adalah: (1) Pelaksanaan manajemen pemasaran usaha tanaman hias berdasarkan 4P (product, price, place, promotion); (2) Faktor strategis internal dan eksternal usaha pemasaran tanaman hias terdiri atas kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman; (3) Strategi prioritas usaha pemasaran tanaman hias adalah menguasai manajemen pemasaran. ABSTRACT The aim of this research was to find out about : (1) marketing management of ornamental plants in Mataram; (2) internal and external factors of marketing business of ornamental plants in Mataram; (3) marketing strategy to increase sales turnover of ornamental plants in Mataram. The method used in this research was descriptive method. The research location was determined by purposive sampling, and the districts of Ampenan, Mataram, and Selaparang were selected.  Furthermore, in the three districts survey was conducted to determine the companies that meet two criteria, namely: (1) market five species of ornamental plants (Anthurium, Aglaonema, Dendrum, Palm, and Sanseveria), (2) sell and lease the five species of ornamental plants.  The result is that Sekar Ulangun Nursery located in the District of Mataram, Nadi Mulya Roses located in District of Selaparang, and Putu Garden & Sulution in District of Ampenan.  Respondents in this study were the company owners of ornamental plants. Analyses of the data used were descriptive analysis, IFAS and EFAS analysis, SWOT analysis and QSPM. The results of this study are: (1) The marketing management of ornamental plants business was based on 4P (product, price, place, promotion); (2) strategic internal and external factors marketing of ornamental plant consists of strength, weakness, opportunities, and threats; (3) Priority strategy for marketing ornamental plants business is to master marketing management

    5 Mengoptimalkan Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan Masyarakat Desa Melalui Proses Penguatan Keterikatan dengan Organisasi

    No full text
    ABSTRACT The aims of this project were to improve the engagement processes of women cooperative members in their organizations, and in broader learning is to understand community situations and needs in a cooperative, not only from the economic orientation aspect but also from the perspective of Rural Community Development (RCD) principles. The topics will be discussed in this paper include the situation analysis, engagement and participation, and the tools in engagement approach. Choosing the right tools for engagement, and being a skilled facilitator seems could also potentially enhance members’ participation. Also, the paper has initiated an idea that a cooperative is not only a financial institution but also a place to build the members’ capacity. ABSTRAK Tulisan ini memberikan gambaran tentang bagaiman pentingnya dan cara meningkatkan dan memperkuat rasa keterikatan anggota koperasi perempuan di dalam organisasi mereka. Lebih luas lagi, tulisan ini bertujuan untuk memahami situasi dan kebutuhan masyarakat  yang bergabung dalam koperasi tidak hanya dari aspek ekonomi namun juga dari aspek prinsip-prinsip pembangunan masyarakat desa. Topik-topik yang akan didiskusikan meliputi analisis situasi, keterikatan dan partisipasi, alat-alat pendekatan untuk memperkuat proses keterikatan. Memilih alat-alat pendekatan yang tepat dan menjadi seorang fasilitator yang terampil sangat potensial dalam meningkatkan partisipasi anggota koperasi wanita dalam organisasinya. Selain itu, melalui artikel ini terlahir sebuah pemikiran bahwa koperasi bukanlah sekedar lembaga keuangan semata, melainkan tempat untuk membangun kapasitas para anggotanya

    DAMPAK PROYEK PENGEMBANGAN IRIGASI DESA TERHADAP EFISIENSI USAHATANI DI KECAMATAN MASBAGIK LOMBOK TIMUR

    Get PDF
    ABSTRAK Salah satu cara untuk menilai keberhasilan proses produksi usahatani adalah melalui penilaian efisiensi usahatani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak proyek pengembangan irigasi desa terhadap efisiensi ekonomi relatif dan skala usaha petani dalam mengelola usahataninya.  Metode analisis data menggunakan fungsi keuntungan Cobb Douglas (UOP) dengan Seemingly Unrelated Regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penggunaan teknologi menunjukkan pencapaian keuntungan dalam kondisi decreasing returns to scale; (2) terdapat perbedaan nyata efisiensi ekonomi relatif baik efisiensi teknis maupun efisiensi alokatif antara usahatani padi di daerah irigasi PID dan non PID. Dalam usahatani palawija terdapat perbedaan tidak nyata efisiensi ekonomi relatif dari sisi efisiensi teknis, namun  terdapat perbedaan nyata efisiensi alokatif. ABSTRACT One of the ways to evaluate farm production process is by conducting farm efficiency analysis. The research objectives are to analyze the impact of rural irrigation  development project on the relative economic efficiency and returns to scale of farm that carried out by farmers. Cobb-Douglas profit function was used as the method of data analysis by the Seemingly Unrelated Regression. The results of this research indicated that  (1) the utilization of technology have resulted in maximum profit under then decreasing returns to scale condition; (2) there were significant differences on relative economic efficiency of rice as a main foodcrop both for technical efficiency and allocative efficiency, between rural irrigation development area and non-rural irrigation development area. In contrast, there was no significant difference on the relative economic efficiency of a second foodcrop for the technical efficiency. However, in term of allocative efficiency the difference was significant

    5. METODE PENGELOLAAN SUMBERDAYA LAHAN KERING SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP TINGKAT KESEJAHTERAAN PETANI DI SEKOTONG, LOMBOK BARAT

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini ditujukan untuk: (1) mengidentifikasi metode-metode konservasi tanah yang diadopsi petani  lahan kering dan miring di lokasi penelitian; (2) Mengetahui dampak Program Usahatani Konservasi terhadap perubahan keragaman pola tanam dan terhadap tingkat kesejahteraan petani lahan kering. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Pelangan-Kecamatan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat. Jumlah petani yang dijadikan responden adalah 72 orang, dengan rincian 36 respoden yang menerapakan sistem konservasi pada usahataninya dan 36 responden yang tidak menerapakan sistem konservasi. Hasil penelitian menunjukkan: (1) ada 2 metode konservasi yang diterapkan, yaitu metode vegetatif dan mekanik; (2) penerapan konservasi pada usahatani telah berhasil meningkatkan produktivitas lahan, meningkatkan ragam tanaman yang diusahakan, dan meningkatkan tingkat kesejahteraan petani.   ABSTRACT   This research was addressed: (1) to identify conservation methods adopted by upland farmers in research location; ( 2) to know the impact of the conservation program on cropping patterns  and level of prosperity of upland farmers.This research was carried in Middle Countryside Pelangan, Sekotong Subdistrict, and Regency of Lombok Island West. Sum up the farmer taken as respondent was 72 people, with the detail 36 respondent which applied  conservation system at their farm and 36 respondent which did not apply conservation system. The results of the study indicated: (1) there were two conservation method applied by farmer, that is method of vegetatif and mechanic; (2) conservation applying have succeeded to improve the farm productivity, improving laboured crop manner, and improve the level of farmer prosperity

    1. STRATEGI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN AGROMARIN DI PULAU LOMBOK

    No full text
    ABSTRAK Pasal 10 UU No.22 Tahun 1999 mengenai otonomi daerah menyatakan bahwa daerah berwenang mengelola sumberdaya alam di wilayah yurisdiksinya. Pengaturan yang lebih spesifik terdapat pada pasal 5 UU No. 25 Tahun 1999 mengenai perimbangan keuangan daerah menyatakan penerimaan yang berasal dari sektor perikanan dibagi dengan proporsi 20 persen pemerintah pusat dan 80 persen untuk pemerintah daerah. Pemberlakuan undang-undang ini berarti menyediakan kesempatan bagi pemerintah daerah untuk mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan dalam rangka pembangunan agromarin. Oleh karena itu identifikasi berbagai pilihan strategi untuk mengembangkan sektor ini sangat diperlukan. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif, sedangkan analisis data dengan mengkombinasikan teknik SWOT (strength, weakness, opportunity, and threat) dan AHP (analytic hierarchy process). Kesimpulan penelitian mengenai strategi kebijakan dikelompokan kedalam dua level pengambilan keputusan. Pertama strategi pada tingkat perusahaan (industri) yaitu: (1) mengusahakan  pasar baru, (2) menjaga pasar yang ada, (3) memperkuat organisasi, (4) mengadakan penelitian dan pengembangan secara kolaboratif, (5) memberi prioritas kepada tenaga kerja lokal. Kedua strategi pada tingkat pemerintah, baik daerah maupun pusat, yaitu: (1) memperbaiki infrastruktur, (2) menghasilkan Perda yang konsisten dan kondusif, (3) mengundang investor baru, (4) memperluas akses informasi pasar, (5) menghasilkan tenaga kerja terampil, dan (6) meningkatkan alokasi kredit bagi industri agromarin.   ABSTRACT As stated in article 10 of Act No.22/1999 on regional autonomy, regency governments have authorities in managing their natural resources available in their jurisdiction. Specifically article 5 of Act No. 25/1999 on financial balance argues that revenu generated from fishery sector are allocated as 20 percent for central government and 80 percent for provincial and regency governments. The enactment of these acts has provided opportunities for regency governments to optimally utilize marine and fishery  resources in the context of agromarine development. Therefore identification of policy strategies to develop the sector is urgently needed. Research was undertaken by utilizing descriptive method, while data analysis was accomplished by combining SWOT technique (strength, weakness, opportunity, and threat) and AHP (analytic hierarchy process). The research concludes that policy strategies that should be implemented are categorized into two broad levels. First, strategies at industry level, namely: (1) market penetration, (2) maintain existing market, (3) strengthening organization, (4) collaboration in research and development, and (5) provide more priority to local labors. Second, strategies at government level that are: (1) improving infrastructures, (2) producing conducive and consistent regulations, (3) inviting new investors, (4) enhancing access on market information, (5) providing skilled labors, (6) increasing credit allocation to agromarine activities

    3. Ketersediaan dan distribusi pangan rumahtangga: Suatu kajian ketahanan pangan rumahtangga di wilayah rawan pangan Kabupaten Lombok Barat

    No full text
    Abstrak Ketersediaan pangan di tingkat rumahtangga merupakan salah satu faktor penentu ketahanan pangan rumahtangga tersebut. Di pihak lain, ketersediaan pangan di tingkat rumahtangga juga berpengaruh terhadap pola distribusi dan pola konsumsi pangan. Sedangkan ketahanan pangan rumahtangga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi anggota rumahtangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  ketersediaan pangan, pola distribusi pangan serta pola konsumsi pangan di tingkat rumahtangga, dan sekaligus untuk mengetahui  ketahanan pangan rumahtangga. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Lombok Barat, yaitu di  Desa Gumantar, Desa Sandik, dan Desa Pelangan. Jumlah responden adalah 80 orang yang ditetapkan secara proportional random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa taraf ketersediaan pangan rumahtangga tergolong sedang. Pembagian pangan kepada anggota rumahtangga cenderung kurang proporsional. Secara umum, ketahanan pangan rumahtangga tergolong kurang tahan pangan. Abstract The availability of food at a household is one factor affect household food security. On the other hand, the availability of food at the household affect distribution and consumption pattern of food. The household food security is one factor affect nutrition status. This research aims to know availability, distribution and consumption pattern of food at household level,  and  household food security level. This research was condacted at food inscured areas in West Lombok, that representatived  by Gumantar Village, Sandik Village, and Pelangan Village.  A number of 80 housewives were taken based on proportional random sampling methode. Results of the research show that the availability of food at household is catagorized midle. Distribution of food at the household members tends to be not proportional. Generally, household food security is catagorized less secure

    1. The microfinance linkages in Indonesia: An overview and taxonomy

    No full text
    Abstrak Berbagai macam lembaga keuangan terlibat dalam hubungan-hubungan pelayanan jasa keuangan mikro (linkages) di Indonesia. Sebuah ‘linkage’ antar dua lembaga sederhana baik formal ataupun informal tidak dapat menjelaskan tata hubungan antar lembaga yang sebenarnya. Indonesia memiliki lembaga keuangan kecil formal yang jarang dijumpai di tempat lain. Banyak dari lembaga keuangan kecil formal tersebut terlibat dalam rantai-rantai hubungan dengan lembaga-lembaga keuangan utama dan para pelaku keuangan di tingkat akar rumput.  Indonesia juga memiliki lembaga-lembaga ‘Apex’ yang didirikan untuk menciptakan hubungan-hubungan pelayanan keuangan mikro. ‘Linkages’ memiliki peran eksplisit dalam “Arsitektur Perbankan Indonesia” yang disusun oleh Bank Indonesia. Artikel ini menyusun taksonomi dari linkages di Indonesia, berdasar pada perbedaan-perbedaan akibat kekuatan pasar dan akibat pengaruh (kebijakan) pemerintah. Abstract A wide range of financial institutions engage in linkages in Indonesia. A simple formal/informal duality is inadequate to describe the nature of these arrangements. Indonesia has small, regulated financial institutions that have relatively few analogues elsewhere. Many of these engage in chain relationships with major financial institutions and grassroots financial actors. Indonesia also has apex institutions set up to create linkages, and linkages have an explicit role in a new ‘banking architecture’ being created by the central bank. The paper develops a taxonomy of linkages, based on a distinction between arrangements that reflect market forces, and those occurring as the result of government or central bank initiative

    308

    full texts

    448

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agrimansion
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇