Jurnal Agrimansion
Not a member yet
    448 research outputs found

    3. ANALISIS RANTAI NILAI DAN KINERJA PEMASARAN JAGUNG DI KABUPATEN LOMBOK UTARA

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk Menganalisis rantai nilai pemasaran jagung di Kabupaten Lombok Utara dan Menganalisis kinerja pemasaran jagung di Kabupaten Lombok Utara. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Desa Gumantar Kecamatan Kayangan dan Desa Akar-akar Kecamatan Bayan dijadikan daerah sampel.Analisis data menggunakan analisis rantai nilai, marjin pemasaran dan analsisi diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa,ada 4 alternatif saluran rantai nilai pemasaran jagung di Kabupaten Lombok Utara Yaitu :Saluran I : Petani → PAP, Saluran II : Petani → PPK → PAP, Saluran III : Petani → PPD → PAP dan Saluran IV : Petani → PPD → PPK → PAP. Aliran produk dari petani ,34 persen ke PAP, 26 persen ke PP Desa dan 41 persen ke PP Kecamatan.Aliran produkdari PP Desa, 75 persen ke PP Kecamatan dan 25 persen ke PedgangAntar Pulau. Aliran Produkdari PP Kecamatan adalah 100 persen kePedagang Antar Pulau. Aliran informasi berlangsung 2 arah antara Petani dengan Pedagang Antar Pulau, PP Desa dan PP Kecamatan. Saluran pemasaran yang memiliki Kinerja pemasaran terbaik adalah saluran Petani-PAP dan diikuti oleh saluran pemasaran Petani - PP Desa – PAP. ABSTRACT The purpose of this study is to analyze the value chain and the performance of maize marketing in North Lombok District. The method used in this research is descriptive method. As the sample of study area is determined Gumantar and Akar-Akar Villages, in Bayan Sub-District. The collected data is then analyzed by using value chain, marketing margin and descriptive analysis. The research results show that there are four type of marketing channels, namely: channel I: Farmers      Inter-Island Traders; channel II: Farmers      Sub-District Traders          Inter Island Traders; chanel III: Farmers        Village Traders        Inter Island Traders; chanel IV: Farmers         Village Traders           Sub-District Traders          Inter Island Traders. The total flow of corn products from farmers is as follows the flow to inter-island traders is 36%, to village traders is 26 %, and to sub-district traders is 41 %. The total flow of maize from village traders is as follows: to sub-district traders is about 75%, and to inter-island traders is about 25 %. Meanwhile the amount of maize flow from sub-district trader is 100 % to inter-island traders. The results also show that the flow of information takes places two directions, both between the farmers and the inter-island traders as well as between the village traders and the sub-district traders. Channels that have the best marketing performance are marketing channels from Farmers to inter island traders, and marketing channels from farmers to village traders and  then to inter island traders respectively

    ANALISIS TINGKAT KETAHANAN PANGAN RUMAHTANGGA PETANI PESERTA UPSUS PADI DI KABUPATEN LOMBOK BARAT

    Get PDF
    ABSTRAK Dalam jangka panjang penelitian ini bertujuan untuk mengkaji  upaya yang integratif guna mencari faktor-faktor yang mempengaruhi kesuksesan dan kegagalan program-program ketahanan pangan serta bentuk-bentuk program peningkatan ketahanan pangan rumahtangga petani  peserta Upsus Padi di Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat.  Untuk itu dirancang penelitian dengan desain Cross sectional study dengan metode survei. Data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan metode analisis data kualitatif dan kuantitatif.  Secara umum analisis data kualitatif yang digunakan adalah analisis kebijakan (evaluasi program), analisis kelembagaan, analisis potensi dan penentuan prioritas masalah tingkat komunitas. Analisis data kualitatif dilakukan melalui proses penyaringan data, penggolongan/pengakategorian, penyimpulan serta uji ulang.  Analisis data kuantitaif menggunakan model tingkat ketahanan pangan, kerawanan pangan dan regresi logistik. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: 1) pendapatan rata-rata per tahun rumah tangga petani sebesar Rp 22.410.023. Sementara itu pendapatan rata-rata dari luar usahatani sendiri sebesar Rp 7.086.667 atau 31,62 % dari total pendapatan rumahtangga, 2) Rata–rata pengeluaran rumahtangga petani sebesar Rp 15.045.167. Pengeluaran rumah tangga petani terbesar adalah untuk pangan yaitu Rp 11.572.400 per tahun atau 76,92 % dari total pengeluaran, 3) Ketahanan pangan rumahtangga petani tergolong tahan pangan, 4) Faktor yang mempengaruhi ketahanan rumahtangga petani adalah pendapatan rumahtangga petani. ABSTRACT In the long term this study aims to examine the integrative effort to find the factors that influence the success and failure of food security programs as well as the forms of programs to increase household food security of Upsus Rice farmers in Gerung District, West Lombok Regency.  For this purpose, we designed a research with cross sectional design with survey method. The collected data will be analyzed using qualitative and quantitative data analysis methods. In general, the qualitative data analysis used is policy analysis (program evaluation), institutional analysis, potential analysis and prioritization of community level issues. Qualitative data analysis is done through data filtering process, classification / categorization, conclusion and retest. Quantitative data analysis used a model of food security, food insecurity and logistic regression. The result of the research concludes that 1) the average income per farm household per year is Rp 22,410,023, -. Meanwhile, the average income from outside the farming itself amounted to Rp 7,086,667, - or 31.62% of total household income, 2) Average household expenditure of farmers amounted to Rp 15,045,167. The largest household expenditure of farmers is for food that is Rp 11,572,400, - per year or 76.92% of total expenditure, 3) Household food security of farmers classified as food resistant, 4) Factors affecting the resilience of farm households is household income of farmers

    ESTIMASI PERMINTAAN AIR RUMAHTANGGA DI PULAU LOMBOK: PENDEKATAN KONSEP AIR MAYA

    Get PDF
    ABSTRAK Penanganan kelangkaan sumberdaya air dapat didekati melalui dua sisi, penawaran dan permintaan. Penelitian ini difokuskan pada upaya menangani kelangkaan sumberdaya air melalui sisi permintaan. Upaya penekanan permintaan memerlukan informasi prilaku konsumen terhadap variabel penentu permintaan air, baik permintaan air (langsung) maupun permintaan air maya/virtual water (air yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat). Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengestimasi fungsi permintaan air langsung dan air maya (2) menganalisis elastisitas permintaan air dan (3) menganalisis kebutuhan air dan air maya masyarakat Pulau Lombok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan air pada level rumahtangga secara signifikan dipengaruhi oleh harga, jumlah anggota rumahtangga (kecuali permintaan air minum kemasan) dan pendapatan (kecuali permintaan air sumur). Seperti harapan, harga berpengaruh negatif terhadap jumlah air yang diminta/dikonsumsi pada seluruh jenis permintaan air, sedang pendapatan, jumlah anggota rumahtangga, dan pendidikan berpengaruh positif kecuali pendidikan berpengaruh negatif pada permintaan air sumur. Permintaan air minum kemasan memiliki elastisitas harga tertinggi (-5,22), diikuti air PDAM (-0,66) dan air sumur (-0,24). Seperti halnya pada permintaan air, permintaan air maya pada level  rumahtangga juga dipengaruhi secara negatif oleh harga barang tersebut. Elastisitas harga permintaan air untuk menghasilkan barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumahtangga seluruhnya bersifat elastis, kecuali permintaan air untuk tahu dan tempe. Permintaan telur paling elastis terhadap harga      (-6,6), kemudian berikutnya berturut-turut adalah permintaan ikan air tawar   (-2,82), kedelai (-2,29), daging sapi (-2,52), beras (-2,05), kacang tanah        (-1,29), dan jagung (-1,23). Untuk memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih serta kebutuhan pangan masyarakat Pulau Lombok diperlukan air sebesar 2.622.092.101,44 m3, yang terdiri dari air langsung yang bersumber dari air PDAM sebesar 6,79 m3/kapita/bulan, air sumur 6,24 m3/kapita/bulan, air minum kemasan 10,18 liter/kapita/bulan, dan air maya sebesar 48,6 m3/kapita/bulan. ABSTRACT Water scarcity can be addressed by managing both supply and demand side. In general this research was designed to study the consumer behavior toward variables determined water dan virtual water demand. Specifically this research was aimed to (1) estimate water and virtual water demand function, (2) estimater their elasticities, and (3) analyze water and virtual water consumption.             The results show that water demand at household level significantly affected by its own price, the number of family member (except for bottle water demand), and income (except for pumping water demand). As expected. Water price affect negatively for all water demand, while income, the number of family member, and level of education (except for pumping water) affect positively. Bottle water demand has the highest price demand elasticity, reach up to -5.22 compare to PDAM water demand (-0.66) and pumping water demand (-0.24). Virtual water demand was also negatively affcted by their own price of several commodities consumed. Virtual water demand for all comodities are considered elastic, except for tofu and tempe demand. Virtual water for producing egg was considered the most elastic (-6.6), followed by virtual water demand for producing fresh water fish (-2.82), soybean (-2.29), meet  (-2.52), rice (-2.05) peanuts (-1.29) and corn (-1.23). Total water consumption of Lombok reached up to 2.622 million/ month, consisted of 6.79 m3/capita/month of PDAM water, 6.24 m3/capita/ month of pumping water, 10.18 liter/capita/month of bottle water and 48.6 m3/ capita/month of virtual water

    KAJIAN KEBIJAKAN PIJAR DALAM PENGEMBANGAN KOMODITAS UNGGULAN DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP EKONOMI RUMAHTANGGA (KASUS PETANI JAGUNG DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR)

    Get PDF
    ABSTRAK Petani yang mengikuti Program PIJAR jagung di Kabupaten Lombok Timur menghadapi persoalan pemasaran. Kelembagaan pasar jagung yang dibangun pemerintah nampaknya belum mampu mengakomodir produksi jagung yang ada khususnya produksi jagung yang diprodruksi pada lahan sawah. Oleh karena itu penelitian tahap II dengan judul Kajian Kebijakan PIJAR dalam Pengembangan Komoditas Unggulan dan Kontribusinya Terhadap Ekonomi Rumahtangga (Kasus Petani Jagung di Kabupaten Lombok Timur) memiliki tujuan khusus adalah: (a) Mengkaji struktur pasar jagung di Kabupaten Lombok Timur, dan (b) mendesain pola pemasaran dan kemitraan kelompok petani jagung dengan kelembagaan pasar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Participatory Rural Appraisal (PRA) pada pelaksanaan Program PIJAR. Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa struktur pasar jagung di Pulau Lombok adalah oligopsoni dengan melibatkan kelembagaan pasar seperti pedagang antar pulau, kelompok tani, pedagang pengumpul desa dan koperasi (iPasar). Temuan lainnya, berdasarkan hasil analisis AHP dapat disimpulkan bahwa petani lebih memilih untuk bermitra dengan pedagang antar pulau dalam bentuk contract farming termodifikasi daripada kelembagaan pasar lainnya. ABSTRACT The famers who has allowed and involped on PIJAR Program in East Lombok District has several problems not only the marketing but also the institutions that developed by the government. It has lack capable to accomudate all product of corn produced on dry land and wet land. Based on the fact, so that this reseach to be importan to be conducting. The aims of the researh are to study market structures of corn in East Lombok District and to design of market structure of corn and the collaborating among farmers-farmer institution/collectors and traders. Tembeng Putik Village is sample area of this research and farmers sample  were farmers that involving in PIJAR Program. Participatory Rural Appraisal (PRA) method involved in this research and then AHP (Analytical Heirarchy Process) tool  and analiytical concentration ratio that used to analysize the data. The result that  olygopsoni is  the market structuer of corn  in East Lombok District and the kind of the collaboration is modified contract farmyng

    2. PENDUGAAN FUNGSI KEUNTUNGAN DAN SKALA USAHA PADA USAHATANI PADI SAWAH DI KECAMATAN LAPE LOPOK

    No full text
    ABSTRAK                 Penelitian ini mencoba menelaah faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keuntungan usahatani padi sawah, tercapai tidaknya keuntungan maksimum dan keadaan skala usaha. Luas lahan garapan diperlakukan sebagai input tetap. Data yang digunakan adalah data input output usahatani padi dari hasil survei yang dilakukan di Desa Dete Kecamatan Lape-Lopok. Analisis dilakukan pada musim tanam MH 1999/2000. Hasil pendugaan menunjukkan bahwa usahatani dengan luas lahan garapan 0,537 hektar masih belum memberikan tingkat keuntungan maksimum kepada petani pengelolanya dan skala usaha masih berada pada kondisi increasing returns to scale. Hasil analisis juga menunjukan bahwa harga pupuk urea, upah tenaga kerja ternak, luas lahan garapan dan biaya tetap mempunyai pengaruh yang nyata terhadap keuntungan usahatani padi sawah. ABSTRACT                 The objektive of this research is to examine factors affecting the rate of profit of rice farming, achievements of profit maximization, and conditions of farm’s returns to scale. Size of rice field is assumed as fixed input. Data used in this study “rice farming input output” were collected through survey in Dete village Lape-Lopok subdistrict. The analysis was based on the rainy season 1999/2000 data. Results of this analysis show the average size of rice area 0,537 hectare has not given a maximum profit yet, and the rice farming activities are at the increasing returns to scale. The analysis also shows that price of urea, wages of livestock power, size of rice area, and fixed cost were significant with respect to rice farm actual profit function

    3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI DAN KETAHANAN PANGAN RUMAHTANGGA DI DAERAH RAWAN

    No full text
    ABSTRAK                 Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengidentifikasi wilayah yang telah mengalami kerawanan pangan dengan menggunakan pendekatan kebutuhan pokok masyarakat berdasarkan jumlah produksi pangan pokok padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar. 2) Mengetahui pola konsumsi dan ketahanan pangan rumahtangga. 3). Mengetahui faktor-faktor  yang mempengaruhi ketahanan pangan  rumahtangga.                 Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Teridentifikasi Kecamatan Praya Timur dan Kecamatan Pujut tergolong daerah rawan pangan (belum mampu memproduksi pangan sumber karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan penduduknya). 2) Sebanyak 40 rumahtangga keluarga Pra Sejahtera teridentifikasi tidak tahan pangan dan sebanyak 60 persen termasuk rumahtangga tahan pangan. 3) Faktor yang berpengaruh terhadap ketahanan pangan rumahtangga keluarga Pra Sejahtera adalah ketersediaan pangan dan daya beli rumahtangga                  ABSTRACT                 The purpose of this research was to: 1) Identify food allertness areas by using social basic need approach based on total production of main foods: rice, corn, cassava and sweet pottatoes. 2) Investigate the consumption pattern and food security of household; and 3) Identify factors affecting the food security of household. The result of research were: 1) East Praya and Pujut subregencies identified to haveare food allertness (not yet capable to product carbohydrats for population). 2) 40 percent of Pra Sejahtera families were identified as food security and 60 percent of them food insecurity. 3) Factors affecting food security for Pra sejahtera families are food availability and purchasing power of househol

    1. Pendekatan Kelompok dalam Penyuluhan Pertanian di Indonesia: Perlunya Pergeseran Paradigma

    No full text
    ABSTRACT The Indonesian government has put farmer groups in a strategic position within the system of Agricultural Extension. Farmer groups have been used to promote community participation and community learning, the key processes in sustainable agricultural and rural development. Moreover, according to the new policies of agricultural extension, farmer groups are expected to run a Rural Extension Center (REC). The focus of this paper is to discuss the existing situation of Indonesian extension, especially the farmer groups. Review of extension policies and our findings on farmer groups’ role performance are presented in this paper. Based on the three years longitudinal study using Modified Participatory Action Research (MPAR) method, this study indicates that most groups failed to perform critical roles in supporting sustainable agricultural and rural development. The learning outcomes generated through the study revealed the needs for paradigm shifts in the implementation of agricultural extension policies to meet the existing demand for changes. ABSTRAK Pemerintah Indonesia menempatkan kelompok tani pada posisi strategis dalam sistem penyuluhan pertanian. Kelompok tani telah digunakan untuk mendorong partisipasi dan pembelajaran, yang keduanya merupakan kunci dari proses pembangunan berkelanjutan. Lebih dari itu, dalam kebijakan Nasional penyuluhan pertanian kelompok tani diharapkan menjadi lembaga terdepan dalam proses penyuluhan. Fokus dari tulisan ini adalah membahas tentang situasi terkini penyuluhan pertanian, khususnya yang berkenaan dengan kelompok tani. Review atas kebijakan dan temuan penelitian tentang peran kelompok dalam penyuluhan juga dilakukan dalam tulisan ini. Atas dasar kajian longitudinal selama tiga tahun dengan menggunakan metode Modified Participatory Action Research (MPAR), studi ini menunjukkan bahwa banyak kelompok tidak mampu berperan dalam mendukung pembangunan pertanian dan pedesaan secara berkelanjutan. Hasil penelitian ini menunjukkan perlunya pergeseran paradigma dalam implementasi kebijakan penyuluhan dalam rangka menghadapi tantangan perubahan saat ini

    6. Studi perubahan aplikasi nilai teori pada masyarakat etnis Samawa di kawasan pertambangan PT. Newmont Nusa Tenggara

    No full text
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan nilai budaya masyarakat Etnis Samawa ditinjau dari aplikasi nilai teori (landasan masyarakat dalam bertindak dan berprilaku). Penelitian menggunakan metode survei yang didesain dengan model studi kasus. Objek penelitian adalah masyarakat Etnis Samawa yang berdomisili di pusat pertumbuhan, yaitu Desa Maluk dan Desa Benete. Pengumpulan data  menggunakan teknik triangulasi, yaitu:dengan mengawinkan 4 teknik secara bersamaan, yakni: pengamatan lapang (field observation),  wawancara terstruktur (structured interview), wawancara mendalam (in-depth interview) dan studi pustaka (desk study). Analisis data menggunakan metode deskriptif.  Data disajikan dalam bentuk tabel dan uraian-uraian penjelasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum masuk proyek pertambangan, landasan masyarakat dalam mengaplikasian nilai teori didasari oleh nilai-nilai mistis sistemis; pengalaman, perasaan dan gerak intuisi; menggunakan peralatan tradisional, kegiatan gotong royong dan tolong menolong masih  menggunakan barang dan tenaga kerja (basiru) berdasarkan kebiasaan. Setelah masuk proyek pertambangan, meskipun masih didasari oleh nilai mistis sistemis, tapi penyelenggaraan semakin praktis, mulai menggunakan kekuatan berfikir yang rasional dan ilmiah; peralatan semakin modern dan kegiatan gotong royong dan tolong menolong menggunakan uang atas dasar efisiensi. Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan perubahan masyarakat dari ciri-ciri masyarakat tradisional pedesaan menuju cirri-ciri masyarakat modern perkotaan. Abstract This study mainly aims at examining the change of the Samawa cultural values perceived from the application of theoretical values (basic philosophy, attitude and behavior).  The survey method is applied to this case study. The research object is the Samawa ethnic group living in the development center, namely the Maluk and Benete villages. Data are collected by technical triangulation, i.e. by combining some of the research techniques,namely field observation, structured interview, in-depth interview and desk study. The descriptive method is used in analysing the data.  The result of the research showed that basic principle of society to apply theoretical value before mining project are mistic systems, experience, feeling and intuition, using traditional tools, helping each other in daily life, using their goods and labourers based on customary attitude.  After the establishment of mining project, although the people life is still based on the value of mistic systemic, the application is more practical, starting to use rasional and logical thought, using modern tools, helping each other based on remuneration for the sake of efficiency.  Those changes indicate the cultural movement from rural to urban society

    4. PERANAN LEMBAGA ADAT MASYARAKAT SASAK DALAM PROGRAM PEMBANGUNAN DESA (Studi Kasus di Desa Sesait Kabupaten Lombok Barat)

    No full text
    ABSTRAK Menguatnya institusi lokal termasuk lembaga adat akhir-akhir ini adalah sebuah fenomena yang menarik untuk dicermati, karena lembaga adat mampu berperan dalam pembangunan desa. Penelitian ini ditujukan untuk mencari jawaban atas pertanyaan “peranan apa saja yang dilakukan lembaga adat dalam pembangunan di Desa Sesait?”  Metode penelitian kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan langkah-langkah pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan Key Informan (informan kunci), dan dokumentasi. Untuk mengukur validitas keabsahan data dilakukan teknik pemeriksaan dengan derajat kepercayaan, ketergantungan, dan kepastian atas obyek penelitian. Analisis data kualitatif menggunakan model analisis yang dikembangkan oleh Miles dan Hubermans (1984) yang meliputi proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa norma-norma/nilai-nilai adat sudah membumi dan mendarah mendaging di masyarakat Desa Sesait, begitu pula para tetua adat atau para tau lokak empat (tau = manusia/orang, lokak = tua, empat = empat) yaitu Pemusungan/kepala desa, Penghulu (yang menangani masalah agama), Mangku Gumi (menangani pertanian), dan Jintaka (menangani bagian prekonomian). Dengan wibawa dan kharismanya mereka selalu dihormati dan disegani, dan fatwa-fatwanya sampai saat ini tetap dipatuhi dan dilaksanakan. Dengan demikian Lembaga Adat di Desa Sesait tetap berperan dalam pembangunan desa. Lembaga adat mampu memainkan peranannya sebagai mediator bagi masyarakat setempat, sebagai media mayarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan desa. Lewat lembaga adat ini pula dipupuk rasa persaudaraan yang tinggi. Dengan semangat otonomi daerah hendaknya lembaga adat diformalkan dalam struktur pemerintahan desa, dan hendaknya pemerintah memanfaatkan lembaga adat yang sudah mengakar dalam masyarakat sebagai ujung tombak pembangunan desa. ABSTRACT Reinforcement of lokal institutions, included custom institutes, is an interesting phenomenon to be considered, where custom institutes are expected to survive and have important roles in rural development. This research was conducted to find out “what are the roles of custom institutes in rural develovment of Sesait Village?” This research used qualitative method, while data were collected through observation, documentation, and in-depth interview with key informants. Test of credibility, dependability, and conformability was applied for the study. Qualitative data analysis was performed using Miles and Huberman’s (1984) interactive data analysis model comprised of data reduction, presentation, and conclusion. The results of the study indicate that norms/values have internalised within the heart of society of Sesaot Village, and also within hearth of elders, known as Tau Lokak Empat (Tau=human being, lokak= old, empat=four). So this word means four elder people. They are: Pemusungan (Village Head), Penghulu (religious scholars), Mangku Gumi (Agriculture Affair), Jintaka (Economic Affair). With their charisma, they are not only respected, but also their instructions are always obeyed and done. Custom institutes have had important roles in rural development.             Custom institutes are able to play their roles as mediator, and participatory instrument in rural development. Custom institutes have promoted community cohesiveness at the Sesait village. This research suggested that the government should (1) formalise custom institutes within rural governmen

    3. Apakah perubahan Excise Subsidy menjadi Cash Grant membantu petani kecil?

    No full text
    Abstrak Pemberian subsidi BBM selama ini dianggap salah sasaran karena lebih banyak dinikmati kelompok masyarakat menengah ke atas. Oleh karena itu pemerintah menggantinya dengan memberikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada rumahtangga miskin termasuk rumahtangga petani kecil dan melepaskan harga minyak dalam negeri mengikuti harga dunia. Dengan menggunakan indikator nilai tukar petani diperoleh hasil bahwa kebijakan tersebut bukan saja gagal mempertahankan status kemakmuran petani tetapi justru berakibat kontra produktif bagi upaya pemerintah mengurangi tingkat kemiskinan. Program pembangunan ekonomi yang sebelumnya menyebabkan nilai tukar petani menurun 2,23 % per tahun mengalami percepatan penurunan menjadi 13.5 % untuk rumahtangga petani dan 21,4 % untuk rumahtangga buruh tani setelah pemerintah mengganti kebijakan excise subsidy dengan BLT.   Abstract Subsidy on oils is assumed to reach wrong target since it is received mainly by middle and upper class of society. The government therefore replaced it with cash grant given to poor households including small farmers and freed the domestic price of oils to follow its counterpart world price. By utilizing farmer terms of trade as an indicator of welfare change it can be concluded that the replacement policy was not only fail to maintain the welfare of farmer but more than that it was also unproductive to the government’s efforts  in reducing poverty. Economic development program that caused farmer terms of trade to be down 2.23 % per year has experienced progressive decline to reach 13.5 % per year for farmer households and 21.4 % per year for farm labor households since the government replaced excise subsidy with cash grant. &nbsp

    308

    full texts

    448

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agrimansion
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇