Jurnal Agrimansion
Not a member yet
    448 research outputs found

    5. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, UNRAM

    No full text
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Menganalisis ketersediaan pangan rumahtangga Keluarga Prasejahtera. 2). Mengetahui konsumsi energi, protein dan status gizi balita pada rumahtangga Keluarga Prasejahtera. 3). Mengetahui ketahanan pangan rumahtangga keluarga Prasejahtera. 4). Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan rumahtangga Keluarga Prasejahtera.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1). Ketersediaan pangan di tingkat rumahtangga Keluarga Prasejahtera tergolong dalam kategori rendah dengan rata-rata ketersediaan sebesar 1.360 kal/kapita/hari. 2). Rata-rata konsumsi energi aktual sebesar 76,75 persen dari taraf konsumsi energi anjuran, konsumsi protein aktual mencapai 54,90 persen dari taraf konsumsi protein anjuran. Konsekuensi dari rendahnya konsumsi energi dan protein teridentifikasi sebesar 30 persen balita status gizi kurang dan 16,67 persen status gizi buruk. 3). Rendahnya status gizi balita tidak hanya disebabkan rendahnya ketersediaan pangan di tingkat rumahtangga, tetapi juga dipengaruhi oleh pola asuh makan maupun pola asuh sosial yang dilakukan keluarga. 4). Teridentifikasi sebesar 38,33 persen rumahtangga tidak tahan pangan dan 61,67 persen rumahtangga tahan pangan. 5). Rendahnya ketahanan pangan rumahtangga Keluarga Prasejahtera dipengaruhi oleh rendahnya ketersediaan pangan dan rendahnya daya beli. Abstract   This research aims at: 1) analyzing food availability in poor household;  2) knowing  energy and protein consumption as well as nutrient status of Balita (children under 5 years old) in poor household, 3) knowing food security in poor household, 4) identifying factors affecting food security in poor household, 5) identifying coping mechanism by poor household in facing food shortage situation. The results of research showed that 1) food availability in poor household was low category with average of food availability was 1360 calorie/capita/day or 54,40 percent from recommended level of food availability (2500 calorie/capita/day). 2) Average actual consumption of energy was 76.75 percent from recommended level of energy consumption of 2150 calorie/capita/day, protein actual consumption of protein reached 54.9 percent for recommended level of 55 gram/capita/day.  As consequences of these two low consumptions made nutrient status of Balita low where only 53.33 percent had good nutrient status, 30 percent was moderate nutrient status, and 16.67 percent had bad nutrient status. 3) Low nutrient status of Balita was not merely caused by low food availability at household level but it was affected by eating habit patterns of household and social of family. 4) 38.33 percent of respondents had low level of food security and 61.67 percent had good household food security. 5) Low household food security was mainly caused by low food availability at household level and low purchasing power

    PENGETAHUAN DAN PERSEPSI AYAH TENTANG PENGASUHAN ANAK YANG BERKAITAN DENGAN ASPEK GIZI DAN KESEHATAN ANAK BALITA PADA RUMAHTANGGA PETANI DI KECAMATAN JEROWARU

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji pengetahuan dan persepsi ayah tentang pengasuhan anak yang berkaitan dengan aspek gizi dan kesehatan anak balita pada rumahtangga petani di perdesaan, (2) mengkaji keterlibatan ayah dalam aktivitas pengasuhan anak pada rumahtangga petani, dan (3) mengkaji pemahaman ayah mengenai gizi dan kesehatan anak pada rumahtangga petani. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kecamatan Jerowaru Lombok Timur dengan melibatkan 40 orang responden. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksploratif-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ayah pada rumahtangga petani di perdesaan umumnya memiliki pengetahuan yang kurang tentang pola asuh anak balita yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan anak balita, (2) ayah pada rumahtangga petani di perdesaan memiliki persepsi mengenai gizi dan kesehatan anak yang kurang sesuai dengan yang seharusnya mereka persepsikan, (3) umumnya ayah pada rumahtangga petani di perdesaan tidak banyak terlibat dalam mengasuh anak balita. Hal ini terutama disebabkan karena adanya persepsi ayah bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab ibunya, (4) umumnya ayah pada rumahtangga petani di perdesaan kurang memahami hal-hal yang berkaitan dengan status gizi dan kesehatan anak, dan (5) kondisi kesehatan anak balita pada rumahtangga petani di perdesaan relatif beragam, mulai dari kondisi tidak sakit sampai kondisi sakit dan tidak mau makan dan minum, namun umumnya mereka memiliki kondisi tidak pernah sakit atau hanya mengalami sakit yang tergolong ringan. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan bahwa ayah perlu dilibatkan dalam setiap kegiatan sosialisasi maupun penyuluhan guna memberikan pemahaman dan menanamkan kesadaran bagi ayah pada rumahtangga petani di perdesaan, khususnya yang terkait dengan gizi dan kesehatan anak balita. ABSTRACT This research aims to: (1) study fathers’ knowledge and perceptions on child parenting related to the nutrition and health aspects of under-five childrent peasant households in rural areas,  (2) study fathers’ involvement in child parenting in peasant households; and (3) study fathers’ understanding on child nutrition and health at peasant households. This study was conducted at Jerowaru subdistrict, East Lombok regency, on 40 respondents.The research employed explorative-descriptive method. The Findings of this research show that: (1) fathers in peasant households in rural areas generally have lack of knowledge on under-five child parenting related to child nutrition and health, (2) fathers at peasant households in rural areas have child nutrition and health perceptions that are not really relevant with what they should perceive, (3) fathers at peasant households in rural areas are generally not much involved in under-five child parenting. This is especially due to fathers’ perception that child parenting is mother’s responsibility, (4) fathers at peasant households in rural areas generally do not understand matters related to child nutrition and health, and (5) under-five children’s health condition at peasant households in rural areas relatively vary, from healthy to sick condition and refusing to take drink and food. The children however generally did not get sick or had just minor sickness. Based on research findings, it is recommended that fathers should be involved in socialization and information sessions to improve understanding and awareness among fathers at peasant households in rural areas, especially on under-five children’s nutrition and health

    RESPON AREAL DAN PRODUKTIVITAS USAHATANI KEDELAI DI NUSA TENGGARA BARAT

    Get PDF
    ABSTRAK Secara teoritis, keputusan petani untuk mengembangkan komoditi tertentu didasarkan atas pertimbangan harga input, output  dan iklim. Untuk mengetahui apakah variabel-variabel tersebut berespon terhadap areal pengembangan dan produktivitas kedelai di Nusa Tenggara Barat telah dilakukan penelitian dengan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga kedelai tahun sebelumnya dan besarnya curah hujan bulanan berespon secara nyata terhadap luas areal pengembangan kedelai. Sementara terhadap produktivitas hanya curah hujan bulanan yang berespon secara nyata. Oleh karena itu, untuk memacu pertumbuhan produksi kedelai melalui program perluasan areal maka kebijakan insentif harga kepada petani seyogyanya mendapat perhatian serius.  ABSTRACT Theoritically, farmers decision to cultivate certain commodity is based on the consideration of input-output price and climate. To understand whether those variables have significant respons to the size of cultivation area and productivity of soybean in West Nusa Tenggara, this research was designed under descriptive method. The result shows that the soybean price per year recent monthly rainfall significantly were related to the size of soybean cultivation area. On the other hand, only monthly rainfall related to productivity. Therefore, to stimulate the improvement of soybean production through exetended areal program, the implementation of price incentive policy to the farmers should be concerned by goverment seriously

    7. TINGKAT PRODUKTIVITAS KERJA NELAYAN SKALA KECIL DI WILAYAH PESISIR LOMBOK BARAT

    No full text
    ABSTRAK Tujuan penelitian adalah  mengetahui pendapatan dan  menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi  produktivitas kerja nelayan skala kecil di Kabupaten Lombok Barat. Penelitian ini dilakukan di desa-desa pesisir Lombok Barat dan dirancang sebagai  penelitian deskriptif. Sebagai sampel desa ditetapkan tiga desa yaitu  Desa Pemenang Barat Kecamatan Tanjung, Desa Meninting  Kecamatan Gunung Sari dan Desa Kuranji  Kecamatan Labuapi.  Sebagai responden adalah nelayan skala kecil yang jumlahnya ditetapkan secara stratified random sampling sebanyak 60 orang. Hasil penelitian menunjukkan  : 1).  Pendapatan nelayan pemilik Rp 4.661.218,67 dan pendapatan buruh nelayan Rp 1.506.730,57 per tahun; 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja nelayan meliputi  jenis perahu, status nelayan, dan jenis alat tangkap. ABSTRACT This research aimed at: a) knowing the income of small scale fishermen, and b) analysing factors that influence their working productivity . This research was conducted at the coastal villages of West Lombok District by appliying  descriptive  method. Theree villages were selected as sample, namely  Pemenang Barat village West Pemenang Sub District, Meninting Village Gunung Sari Sub District, and Kuranji Village Labuapi Sub District. The number of respondents were 60 households  selected by stratified random sampling. Results showed that: a) owner fishermen income was Rp 4.661.218,67 and labour fishermen income was Rp Rp 1.506.730,57 per year, and b) Factors that influenced the productivity were types of ship, fishermen status, and types of catching equipmen

    6. PERANAN WANITA DALAM USAHATANI PADI SAWAH DI KECAMATAN NARMADA, LOMBOK BARAT

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan: (1) mengetahui pola pembagian kerja wanita dan pria pada usahatani keluarga dalam bentuk curahan waktu kerja; (2) mengetahui besarnya sumbangan pendapatan  wanita  tani terhadap  pendapatan rumah tangga; dan (3) mengetahui peranan wanita tani dalam pengambilan keputusan. Metode penelitian adalah deskriptif, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei. Hasil penelitian menunjukkan: (1) pola  pembagian kerja produktif pada usahatani padi sawah didominasi  oleh tenaga kerja pria 60,06%. Jenis kegiatan yang dominan dikerjakan wanita adalah persiapan benih 81,77%, penanaman 72,54%, panen dan prosesing 55,32%; (2) kontribusi  wanita terhadap pendapatan  rumahtangga  sebesar 19,08%; dan (3) pengambilan keputusan untuk kegiatan usahatani dan kegiatan sosial  didominasi oleh pria yaitu 51,21% dan  43,81%, sedangkan sisanya terdistribusi  pada  keputusan wanita (26,06% dan 35,24%), keputusan seimbang antara  pria  dan wanita (20,96% dan 22,72%). Untuk  kegiatan rumahtangga pola pengambilan  keputusan terbanyak dilakukan oleh wanita sebesar 36,89%, sedangkan  sisanya berupa keputusan pria  24,44% dan keputusan  seimbang antara pria dan wanita 38,89%.   ABSTRACT          The aims of this research were to know: (1) the job alocation between male and female in running family farms, (2) the share of female farmers in family income  and, (3) the role of female farmers in making  decisions. The study used discriptive method, and the data were collected using  survey technique. The results show that: the  pattern  of allocation of productive job in rice farms was dominated by male labor, for 60.06%. The dominant activities of female were seed preparation 81,77%, planting, 72,54%, harvesting and procesing 55,32%. About 19,08% of family  income was generated from female activities. In making decision related to farms and  social activities, male dominates the role namely 51,21% and 43,81% respectively. The remain is decided by female (26,06% and 35,24 %), both sides together (20,96% and 22,72%). Decicion related to domestic affairs was domi­nated by female (36,89%), 24,44% by male and 38,89% was by both sides

    1. ROLES OF COMMUNITY ORGANIZATIONS IN RURAL DEVELOPMENT: Lessons Learned from Malaysia and Thailand

    No full text
    ABSTRACT Community Organizations (COs) have been seen as an intermediary institution through which rural development programs are promoted. Rural development programs use COs to facilitate social changes. In Indonesia for example, there are large number and many types of COs such as farmer groups, poverty groups, women groups, and saving groups. However, studies indicate that most COs ineffective and stagnant. This study was conducted to understand the roles of COs in promoting rural development in Malaysia and Thailand. Findings from this study indicate that the success of rural development in those countries has been due to strategic roles of COs. Lessons learned from this study highlighted that to promote better rural development, COs such as community groups could be an option, however, critical steps to establish and to run the COs should be considered seriously. ABSTRAK Organisasi masyarakat dipandang sebagai lembaga perantara dalam proses pembangunan pedesaan. Program-program pembangunan pedesaan menggunakan kelembagaan ini guna memfasilitasi proses perubahan sosial. Di Indonesia misalnya, dijumpai banyak jenis dan jumlah organisasi masyarakat seperti kelompok tani, kelompok masyarakat (pokmas dalam program IDT), dan kelompok wanita. Namun demikian, sejumlah studi menunjukkan banyak kelompok tidak efektif dan bahkan stagnan. Penelitian ini dilakukan untuk memahami peran organisasi masyarakat dalam pembangunan pedesaan di Malaysia dan Thailand. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan pedesaan di kedua negara tersebut tidak terlepas dari peran strategis organisasi masyarakat. Pelajaran penting yang dipetik dari penelitian ini adalah bahwa organisasi masyarakat dapat menjadi pilihan dalam mencapai keberhasilan pembangunan pedesaan dengan catatan bahwa tahapan kritis dalam pembentukan dan pengelolaan organisasi masyarakat harus dipertimbangkan secara serius

    2. Pelaksanaan manajemen produksi pada agroindustri tahu dan tempe di Kota Mataram

    Get PDF
    Abstrak Agroindustri Tahu dan Tempe di Kota Mataram umumnya merupakan usaha kecil berbasis rumah tangga sehingga pelaksanaan fungsi-fungsi manajemennya masih dipertanyakan sehingga telah dilakukan penelitian dengan tujuan (1) untuk mengetahui pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen produksi; (2) untuk mengetahui Titik Pulang Pokok (TPP) atau Break Even Point (BEP) dan tingkat keuntungan; serta (3) untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi dalam pengelolaan agroindustri tahu dan tempe. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei pada 40 orang responden yang terdiri dari masing 20 orang untuk pengusaha agroindustri Tempe dan Tahu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen pada agroindustri Tahu dan Tempe sudah tergolong baik, walaupun belum mencapai tataran yang ideal; (2) Nilai BEP untuk pendekatan total sebesar Rp. 23.150 untuk usaha tahu, sedangkan untuk tempe sebesar Rp.138.159; sedangkan untuk pendekatan per unit diperoleh nilai BEP rata-rata sebesar 10 cetak untuk usaha tahu dan untuk usaha tempe rata-rata sebesar 12 bungkus; (3) Usaha Agroindustri ini cukup menguntungkan dengan keuntungan mencapai Rp 3.721.597 per bulan (tingkat keuntungan sebesar 33%) untuk tahu dan sebesar Rp. 6.002.246 per bulan (tingkat keuntungan sebesar 66 %) untuk tempe. Masalah menonjol yang dihadapi adalah  kurangnya pemahaman tentang konsep manajemen dan  permodalan. Oleh karenanya diajukan saran-saran  sebagai berikut: (1) pemerintah diharapkan untuk membantu para pengusaha tahu dan tempe khususnya pelatihan tentang manajemen usaha  serta bantuan permodalan; (2) perlu dibangun komitmen para pengusaha untuk melaksanakan manajemen produksi yang lebih baik sehingga  berkembang menjadi usaha yang modern dan professional. Abstract Agro-industries of Tofu and Tempe in Mataram city, generally, are small scale-home industries which may imply that implementation of management functions becomes questionable, therefore a study on that issue has been carried out to fulfill the following objectives: (1) to investigate nature of implementation of management functions in those agro-industries; (2) to estimate Break Even Point and profitability; and (3) to identify problems in managing the agro-industries of Tofu and Tempe. Descriptive research using survey technique was employed to 40 respondents comprising 20 respondents from the Tofu agro-industry and 20 respondents from the Tempe agro-industry. Results of this study show that (1) implementation of management functions in the Tofu and Tempe industries has been in good performance, although it has not been in ideal nature; Break Even Point (BEP) based on total approach (revenues) was  Rp. 23,150 for tofu and Rp.138,159 for tempe, whereas in term of unit approach, BEP was  10 units for Tofu and 12 units; (3) Both agro-industries were profitable with profit of Rp 3,721,597 per month (profitability of  33%) for tofu and  Rp. 6,002,246 per month (profitability of 66 %) for tempe. Main problems faced by those agro-industries were lack of understanding of management concept and lack of capital. Therefore, it is recommended that: (1) the government of Mataram city provides some assistances such as more training on business management and capital; (2) businessmen of those agro-industries should encourage themselves to build a good commitment in developing better production management to achieve professional business management. &nbsp

    3. Optimalisasi Usahatani Sayuran Dataran Tinggi Sembalun, Lombok Timur

    No full text
    Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pendapatan petani dari berbagai usahatani sayuran serta menentukan kombinasi usahatani sayuran optimal yang memaksimumkan pendapatan petani sayuran di dataran tinggi Sembalun, Lombok Timur.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan pengumpulan data dilakukan dengan teknik survey.  Unit analisis dalam penelitian ini adalah usahatani sayuran di dataran tinggi Sembalun, Lombok Timur.  Dua desa sampel ditentukan secara purposive sampling atas pertimbangan luas areal panen dan jenis usahatani sayuran yang bervariasi. Jumlah responden petani sebanyak 30 orang ditentukan secara random sampling. Untuk menganalisis data digunakan analisis pendapatan dan Linear Programming.Hasil  penelitian menunjukkan adalah: (1) rata-rata luas lahan garapan petani sayuran di wilayah dataran tinggi Sembalun adalah 0,27 ha dan terdapat 6 jenis komoditas sayuran yang dominan diusahakan petani meliputi wortel, kentang, buncis, kubis, bawang daun dan kembang kol; (2) pendapatan petani dari usahatani  wortel sebesar Rp.4.272.161,00/grp, kentang Rp. 8.515.629,00/grp, buncis Rp.2.693.871,00/grp, kubis Rp. 5.339.323,00/grp, bawang daun Rp.4.790.957,00/grp dan kembang kol sebesar      Rp.4.440.899,00/grp; (3) usahatani seluas rata-rata 0,27 ha (luas lahan garapan) dapat dioptimalkan dengan kombinasi usahatani kentang seluas 8,3 are; buncis 2 are; kubis 11,4 are dan usahatani bawang daun seluas 5,3 are; (4) solusi optimal dapat memaksimumkan pendapatan petani sebesar Rp. 6010646,00. Untuk mengoptimalkan usahatani sayuran dengan rata-rata lahan garapan 0,27 are, pola usahatani yang dianjurkan adalah usahatani kentang seluas 8,3 are; buncis 2 are; kubis 11,4 are dan usahatani bawang daun seluas 5,3 are. Abstract The objectives of the research are to analyze farmer’s income in various farming of vegetables and determine optimal combination of vegetables farming that maximize farmer’s income in up-land of Sembalun, East Lombok.This research used descriptive method and data collecting conducted by survey technique. Analyzing unit in this research were vegetables farming in up-land of Sembalun, East Lombok. Two sample villages determined by purposive sampling based on harvested area and various vegetables farming. There were 30 respondent farmers determined by random sampling. Data analysis used income analysis and apllied Linear Programming.The results of the research are as follows: (1) the average of cultivated area of vegetables farming in up-land of Sembalun was about 0.27 ha and there were 6 dominant commodities that cultivated by farmers, namely: carrot, potato, beans, cabbage, leaf-onion, and cauliflower; (2) Carrot farming gave farmer’s income of Rp 4,272,161.00/ca (cultivated area), and potato, beans, cabbage, leaf-onion, and cauliflower gave Rp 8,515,629.00/ca, Rp 2,693,871.00/ca, Rp 5,339,323.00/ca, Rp 4,790,957.00/ca, and Rp 4,440,899.00/ca, respectively; (3) farming area of 0.27 acre can be optimized by arranging farming patterns, namely: potato 8.3 acre; beans 2 acre; cabbage 11.4 acre and cauliflower 5.3 acre; (4) the optimal solution can maximize farmer’s income of Rp 6,010,646.00. In order to optimize the vegetables farming of 0.27 acre cultivated area in up-land of Sembalun, the following farming patterns that recommended to each farming were distributed, namely: potato 8.3 acre; beans 2 acre; cabbage 11.4 acre and cauliflower 5.3 acre, respectively

    4. SIMULASI KEBIJAKAN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI, PROFITABILITAS DAN DAYA SAING UDANG PADA BERBAGAI TEKNOLOGI BUDIDAYA

    No full text
    Abstact As an exportable goods, shrimp price was highly determined by international market and exchange rate of domestic currency. Therefore the devaluation of rupiah was expected to be a favorable condition for shrimp culture as indicated by the rise of shrimp production and productivity in 1998. However, it turn back to decline along with the strenghtening of rupiah and international protection policies imposed by importing countries in 2004. In addition, the escalation of regional laws (Perdas) issued at the provincial or district level might  increased production costs and local tax, and therefore has decreased profit. The question then, is production of cultured shrimp within unfavorable domestic environment and protectionist international policies still profitable? What policies should be imposed to induce shrimp culture production efficiency, profitability and competitiveness? The objectives of the study were to evaluate shrimp culture profitability, and simulate  such policies favorable for the development of shrimp culture. Research was conducted by survey and literature review, while analysis was carried out by applying Policy Analysis Matrix (PAM). The strong point of this technique is its ability to provide information on policy impacts on farm level profits. Stochastic frontier productivity function (SFPF) model was employed to simulate the impact of several policies. The results showed that based on private prices, shrimp culture in Dompu district still profitable, however, analysis based on social prices the traditional system   indicated negative profit. Intensive system produced 1,121.67 kg/ha or Rp 8,089,796 profit, while the traditional one generated only 123.60 ka/ha or Rp 1,661,659 profit. The government therefore was recommended to promote the intensive system after conducting risk assessment both domestic (security, pests, and diseases) and international (health, environmental, and trade policy issues). In addition to this the enforcing law and order is also critical to eliminate fear over uncertainty. The policy simulations indicated that imposing 100 % of technical  efficiency is the most favorable policy for semi intensive and intensive shrimp culture, while price and exchange rate policies more favorable for the traditional one

    5. HUBUNGAN EFISIENSI TEKNIS USAHATANI DENGAN KENDALA SOSIAL EKONOMI PADA USAHATANI PADI DI DAERAH IRIGASI MAMAK KAKIANG KABUPATEN SUMBAWA

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (a) untuk mengetahui  produksi frontir dan tingkat efisiensi teknis dan (b) mengetahui hubungan antara efisiensi teknis  usahatani dengan kendala sosial ekonomi. Penaksiran fungsi produksi Cobb-Douglas digunakan metode Ordinary Least Square (OLS) dan fungsi produksi frontir diperoleh dari fungsi produksi Cobb-Douglas dengan cara “Stokastik”. Selanjutnya untuk mengetahui hubungan efisiensi teknis usahatani dengan kendala sosial ekonomi dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi frontir usahatani padi pada sawah beririgasi pada musim hujan sebesar 6,5511 ton/ha dengan tingkat efisiensi teknis usahatani sebesar 69,94 %, sedangkan pada musim kemarau diperoleh produksi frontir sebesar 5,9723 ton/ha dengan tingkat efisiensi teknis usahatani sebesar 76,58 %.  Ada hubungan positif antara tanggungan keluarga, umur, dan status petani dalam kelompok tani dengan efisiensi teknis usahatani, sedangkan pendapatan luar usahatani berhubungan negatif dengan efisiensi teknis usahatani. ABSTRACT The aims of this research are (a) to investigate frontier production function and Technical Efficiency Rating (TER) (b) to identify  socioeconomic constraints and  technical efficiency relationships. Cobb-Douglas production function was estimated by “Ordinary Least Square (OLS)”. The frontier production function of Cobb-Douglas production function was iterated by Stocastic method. And finally, the correlation between technical efficiency  and socioeconomic constraints was tested by   Spearman rank correlation. Frontier Production on the rainy season was 6.5511 tones per hectar with technical efficiency was 69.94 %. Frontier Production on the dry season  was 5.9723 tones per hectar with technical efficiency was 76.58 %. There were positive correlations between technical efficiency and  family members, ages, status of farmers in representative group, farm. However, off-farm income and technical efficiency  was correlated  negatively

    308

    full texts

    448

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agrimansion
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇