Jurnal Agrimansion
Not a member yet
448 research outputs found
Sort by
ANALISIS PENDAPATAN DAN PEMASARAN BENIH KEDELAI DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengkaji pendapatan usahatani penangkar benih kedelai di Kabupaten Lombok Tengah; (2) Mengkaji saluran pemasaran yang dilakukan dalam usahatani penangkar benih kedelai di Kabupaten Lombok Tengah; (3) Mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam usaha dan pemasaran penangkar benih kedelai di Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan unit analisis yaitu penangkar benih kedelai dan kelembagaan pasar. Penentuan daerah sampel ditentukan menggunakan metode purposive sampling dengan objek penelitian di Desa Mujur Kecamatan Praya Timur dan Kota Praya di Kecamatan Praya. Penentuan untuk responden penangkar benih ditentukan dengan metode sensus sedangkan untuk penentuan responden lembaga pemasaran ditentukan dengan metode snowball sampling Jenis penelitian ini menggunakan data kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Pendapatan usahatani penangkaran benih kedelai di Kabupaten Lombok Tengah sebesar Rp 18.864.356/LLG atau sebesar Rp 2.694.908/Ha; (2) Pemasaran yang dilakukan oleh usahatani penangkaran benih kedelai di Kabupaten Lombok Tengah menggunakan saluran pemasaran I dan saluran pemasaran II. SP I : Penangkar benih kedelai → Konsumen akhir. SP II : Penangkar benih kedelai→Pedagang pengecer→Konsumen akhir. Sehingga menghasilkan total margin pemasaran sebesar Rp 27.975.000. Pemilik penangkar benih tidak mengeluarkan biaya pemasaran karena konsumen yang datang langsung kepada produsen. Sehingga menghasilkan keuntungan pemasaran sebesar Rp 27.675.000; (3) Hambatan yang dihadapi usaha penangkaran benih kedelai berasal dari modal dan keterlambatan pembayaran dari penjual benih (pengecer) yang membeli benih pada UD mereka
STRATEGI NAFKAH BERKELANJUTAN BERBASIS UBI KAYU BAGI RUMAHTANGGA PETANI MISKIN DI WILAYAH LAHAN KERING MARJINAL PULAU LOMBOK
Kesejahteraan petani lahan kering termasuk petani ubi kayu tergolong rendah akibat rendahnya produktivitas lahan dan nilai ekonomi komoditi tersebut serta gap periode yang lebih lama dibandingkan komoditi lain. Pengembangan agroindustri berbasis ubi kayu merupakan pendekatan strategis untuk menumbuhkan sumber nafkah berkelanjutan bagi keluarga petani. Tujuan utama penelitian adalah mengetahui: potensi produktif keluarga petani ubi kayu untuk pengembangan agroindustri, potensi nilai tambah agroindustri berbasis ubi kayu dan merancang model nafkah berkelanjutan berbasis ubi kayu yang berdampak mensejahterakan keluarga petani miskin di wilayah pertanian lahan kering marjinal. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dan pengumpulan data menggunakan teknik survai, studi kasus, Focus Group Discussion, penelusuran dokumen, observasi langsung, dan pengumpulan data sekunder. Lokasi penelitian adalah di wilayah lahan kering marjinal Pulau Lombok, yakni di Kabupaten Lombok Barat (meliputi Kecamatan Sekotong, Gerung, Gunungsari dan Lingsar) dan Lombok Tengah (meliputi Kecamatan Pringggarata dan Jonggat). Rancangan model Strategi Nafkah Berkelanjutan Berbasis Ubi Kayu Bagi Rumahtangga Petani Miskin di Wilayah Lahan Kering Marjinal mengutamakan potensi sumberdaya local, nilai tambah agroindustri ubi kayu, pemasaran terpadu, serta motivasi dan persepsi petani yang positif terhadap pemberdayaan dan peningkatan pendapatan ekonomi melalui pengembangan agroindustri berbasis ubi kayu, yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan petani ubi kayu
STUDI TINGKAT KEMISKINAN RUMAH TANGGA NELAYAN DI KECAMATAN BATULAYAR KABUPATEN LOMBOK BARAT
ABSTRAK
Rendahnya penghasilan nelayan tradisional merupakan masalah yang sudah lama, namun masalah ini masih belum dapat diselesaikan hingga sekarang, karena terlalu kompleks. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan sosioekonomi, namun berkait pula dengan lingkungan dan teknologi. Penelitian bertujuan untuk menganlisis pendapatan rumah tangga nelayan dan kontribusi pendapatan yang bersumber dari usaha tanggkapan ikan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan, serta menganalisis tingkat kesejahteraan rumahtangga nelayan di Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan mewawancarai responden sebanyak 35 responden. Data dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif selanjutnya dideskripsikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan rumah tangga nelayan di Kecamatan Batulayar selama sebulan sebesar Rp 1.625.983, kontribusi pendapatan dari usaha penangkapan ikan sebesar 64,65%. Tingkat kemiskinan rumahtangga nelayan di Kecamatan Batulayar Kabupaten Lombok Barat menurut BPS, termasuk kategori miskin namun menurut Bank Dunia dikategorikan tidak miskin.
ABSTRACT
The low income of traditional fishermen is a long-standing problem, but this problem still cannot be resolved until now, because it is too complex. This is not only related to socioeconomic problems, but also related to the environment and technologists. The research aims to analyze fishermen's household income and the contribution of income derived from fish farming to the income of fishermen households, and to analyze the welfare level of fishermen households in Batulayar District, West Lombok Regency. The study applied descriptive methods, while collecting data were done with survey techniques, by interviewing 35 respondent. Collected data were analyzed using quantitative and qualitative analysis and was subsequently described. The results of the study show the average income of fisherman households in Batulayar District for a month was Rp. 1,625,983, with the contribution of income from fishing to fishermen's household income by 64.65%. The welfare level of fishermen households in Batulayar District, West Lombok Regency according to BPS is categorized as poor but according to the World Bank it is categorized as not poo
DAMPAK KONVERSI LAHAN PERTANIAN TERHADAP POLA PRODUKSI DAN POLA KONSUMSI RUMAHTANGGA PETANI DI KOTA MATARAM
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan di Kota Mataram periode 2014-2017 dengan tujuan untuk mengetahui dampak konversi lahan terhadap pola produksi rumahtangga petani, untuk mengetahui dampak konversi lahan terhadap pola konsumsi rumahtangga petani dan untuk mengetahui masalah yang dialami petani akibat konversi lahan. Kecamatan Sekarbela dan Kecamatan Sandubaya adalah lokasi penelitian, dengan jumlah petani responden sebanyak 30 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, konversi lahan berdampak menambah ragam kegiatan ekonomi produktif keluarga namun mengakibat-kan penurunan kontribusi pendapatan usahatani Rp 4.427.128/tahun atau menurun 18,51 % dari total pendapatan rumahtangga petani. Konversi lahan juga berdampak terhadap pola konsumsi pangan dan terhadap pola pola konsumsi non pangan keluarga petani. Masalah yang dihadapi petani setelah konversi lahan adalah harga pangan pokok yang tinggi, nilai tukar petani rendah, serangan hama/penyakit dan kesuburan tanah yang kurang baik.
ABSTRACT
This research was conducted in Mataram City for the period of 2014-2017 with the aim to know the impact of land conversion on farmer’s household production pattern, to know the impact of land conversion to farmer household consumption pattern and to know problem experienced by farmer due to land conversion. Sekarbela Sub-District and Sandubaya Sub-District are the location of research. Respondents studied were 30 farmers. The result of the research shows that, the impact of land conversion is the addition of various productive economic activities in the farmer's household and decreased contribution of farming income Rp 4,427,128/year or decreased 18,51 % from total household income of farmer. Impact of land conversion to food consumption pattern that is change of consumption pattern Food and impacts on non-food consumption patterns. Problems experienced by farmers after land conversion are high staple food prices, low farmer exchange rates, poor pest/disease and soil fertility
DAMPAK HUTAN KEMASYARAKATAN TERHADAP PENGENTASAN KEMISKINAN RUMAHTANGGA SEKITAR HUTAN DI KECAMATAN BATUKLIANG UTARA KABUPATEN LOMBOK TENGAH
ABSTRAK
Kawasan pegunungan Rinjani, khususnya resort Setiling Batukliang Utara Kabupaten Lombok Tengah memiliki fungsi biologi, ekologis, dan estetika serta sosial-ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan. Deforestrasi sering dikaitkan dengan tingkat kemiskinan masyarakat sekitar hutan, sehingga dengan diberikannya Hutan Kemasyarakatan (HKm) di wilayah tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menekan kemiskinan. Penelitian ini telah dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif-eksploratif-partisipatif dengan mengkombinasikan studi dokumen, wawancara terstruktur, indepth interview, serta diskusi kelompok terarah (FGD) terbatas. Penelitian dilakukan desa Aik Berik dan Desa Setiling dengan jumlah responden sebanyak 40 orang, dengan juga melibatkan tokoh masyarakat di wilayah tersebut. Data yang telah dikumpulkan dianalisa secara deskriptif analisis pendapatan rumahtangga dan pendapatan per kapita yang kemudian digunakan untuk menganalisis tingkat kesejahteraan masyarakat berdasarkan tiga standar yang berbeda, yaitu Sajogyo, BPS, dan Bank Dunia. Hasil studi menunjukkan bahwa: 1) rata-rata total pendapatan rumahtangga masyarakat sekitar hutan mencapai Rp. 20.057.950 yang terdiri dari Rp. 13.597.950 (67,79%) dari sektor pertanian dan Rp. 6.460.000 (32,21%) dari sektor non pertanian dengan pendapatan per kapita sebesar Rp. 4.667.549,- per tahun; 2) berdasarkan kriteria BPS, masyarakat sekitar hutan di kecamatan Batukliang Utara masuk kategori tidak miskin, selanjutnya berdasarkan kriteria Sayogyo menghasilkan kategori hampir miskin, dan Kriteria bank Dunia manghasilkan kategori miskin, sehingga ketiganya memberikan tingkat kesejahteraan yang relatif berbeda; 3) Adanya Hkm telah mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan karena mampu meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat sebesar 22,18 persen dan telah mampu mengentaskan kemiskinan 7,5 sampai 22,5 persen. Oleh karena itu disarankan agar perbaikan ekonomi masyarakat sekitar hutan harus dipercepat melalui pola pembinaan dan pengembangan pada bidang-bidang usaha yang menjadi kekuatan utama mereka yaitu kehutanan, peternakan, dan perkebunan serta juga mendorong peningkatan kegiatan perdagangan dan ekonomi produktif skala rumahtangga.
ABSTRACT
The Rinjani mountain region, especially the North Batukliang Setiling resort of Central Lombok district holds functions biological, ecological, and aesthetical and socio-economic functions for the community near the forest. Deforestation is often associated with the level of poverty of the community near the forest, so that introduction of the Community Forest (HKm) in the region may increase people's income and reduce poverty. This research has been carried out using a descriptive-exploratory-participatory method by combining document studies, structured interviews, in-depth interviews, and limited focus group discussions. The research was conducted at the villages of Aik Berik and Setiling with 40 respondents, as well as community leaders in the area. The collected data was analyzed descriptively by analysis of household income and per capita income which was then used to analyze the level of community welfare based on three different standards, namely Sajogyo, BPS, and the World Bank. The results of the study show that: 1) the average total household income of the community near the forest reaches Rp. 20,057,950 consisting of Rp. 13,597,950 (67.79%) from the agricultural sector and Rp. 6,460,000 (32.21%) from the non-agricultural sector with a per capita income of Rp. 4,667,549, - per year; 2) based on BPS criteria, the community around the forest in the North Batukliang sub-district is categorized as not poor, then based on the Sayogyo criteria produces an almost poor category, and the World Bank Criteria produce a poor category, so the three provide relatively different levels of welfare; 3) The presence of Hkm has been able to improve the welfare of the community near the forest because it is able to increase the per capita income of the community by 22.18 percent and has been able to alleviate poverty 7.5 to 22.5 percent. Therefore, it is suggested that the economic improvement of the community near the forest should be accelerated through policy interventions in business sectors which are on their main strengths, namely forestry, livestock, and plantations, as well as in non agricutural sector such as trade and other economic activities (such as home agroindustry)
6. STUDI KEBIJAKAN PRODUKSI PANGAN HUBUNGANYA DENGAN KETAHANAN PANGAN RUMAHTANGGA DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR (Kasus Rumahtangga Petani Konservasi Kecamatan Jerowaru)
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini yaitu ; 1. Mengkaji kebijakan pemerintah dan bentuk implementasinya program yang berkaitan dengan peningkatan produksi pangan dan ketahanan pangan di Kecamatan Jerowaru, 2. Mengkaji ketahanan pangan rumahtangga petani konservasi di Kecamatan Jerowaru, dan 3. Mengkaji hubungan pendapatan dan ketersediaan pangan rumahtangga petani konservasi di Kecamatan Jerowaru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi, desk study dan teknik survei. Lokasi penelitian ini adalah Desa Sekaroh dan Desa Pemongkong yang dipilih secara purposive sampling. Responden penelitian berjumlah 40 rumahtangga petani sampel yang dipilih secara quota sampling. Data yang terkumpul dianalisis dengan cara; 1) analisis isi, 2) analisis pendapatan dan pengeluaran rumahtangga petani, 3)pola konsumsi pangan rumahtangga petani serta 4) analisis ketahanan pangan rumahtangga serta analisis korelasi spearman. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa: (1) kebijakan pemerintah dibidang produksi pangan memepengaruhi ketersediaan pangan dan ketahanan pangan rumahtangga petani konservasi, (2) tingkat ketahanan pangan rumahtangga petani konservasi adalah lemah ditunjukkan oleh sebagian besar rumahtangga berada pada tingkat rentan pangan, (3) pendapatan rumahtangga memiliki hubungan yang lemah dengan ketahanan pangan rumahtangga dengan nilai korelasi (r) yaitu 0,29.
ABSTRACT
The issue of food production policy is interested to be discussedtoday because it is relate to sustainable of production and farmer’s household wellfare and behind to increase food security until the household. So that, this research has several objectives are (1) to learn government policy that relate to food availability and food security at Jerowaru District; (2) to learn level of food security farmer’s household conservation at Jerowaru District; (3) to learn correlation of household farmer income with food security of conservation farmer household at Jerowaru District. Descriptive method was used with involved of observation technique, desk study and survey. Sekaroh and Pemongkong villages as sample areas was choosed by purposive sampling within 40 farmers to be the responden chossed by quota sampling. Deskriptive analysis, content analysis and consumption analysis and corelation analysis were involved in this research.The results showed: (1) The production policy were able to provide the food for farmer household, so influenced the food security of the farmers household conservation, (2) Levels of household food security atJerowaru District was still weak was 14 (35%), 4 (10%) was, vulnerable and 11 (27.5%) was strong. Futhermore, proportion of food expenditure (PFE) more than 60% and the rate of consumption of energy (RCE) less than 80% of the amount of nutritional adequacy (NA), (3) the food avaibility has a weak relationship to food household security with value of correlation (r) was 0.29.  
PENGARUH PENURUNAN TARIF IMPOR DAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI TERHADAP DAYA SAING DAN EFISIENSI AGRIBISNIS KOPI ROBUSTA DENGAN PENGOLAHAN KERING DAN BASAH DI PULAU LOMBOK PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh penurunan tarif impor dan pajak pertambahan nilai terhadap daya saing, dan efisiensi usahatani kopi robusta dengan pengolahan kering dan pengolahan basah di Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat. Metode analisis data yang digunakan adalah Matrik Analisis Kebijakan (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani kopi robusta dengan pengolahan kering dan basah di Lombok memiliki daya saing, dan efisien pada empat skenario kebijakan. Daya saing dan efisiensi ditunjukkan dengan nilai keuntungan privat (D) dan keuntungaan sosial (H) lebih besar dari nol, serta Privat Cost Ratio (PCR) dan Domestic Resources Cost Ratio (DRCR) lebih kecil dari satu.
ABSTRACT
The aim of this research is to analyze the impacts of decreasing of import tariff and value added tax on competitiveness and efficiency of farming of coffee robusta for both dry and wet processing in Lombok Island, West Nusa Tenggara Province. Policy analysis matrix (PAM) had been used as analysis method. The results of analysis indicated that coffee robusta farming has competitiveness and efficient in four scenario of trade. Competitiveness and efficiency reflected by Privat Profit (D), and Social Profit (H) were more than zero, while Privat Cost Ratio (PCR) and Domestic Reources Cost Ratio (DRCR) were less than one
ANALISIS EKONOMI DAN PEMASARAN AGROINDUSTRI TELUR ASIN DI KOTA MATARAM
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pendapatan, kelayakan usaha, rentabilitas usaha, dan BEP usaha telur asin, (2) Saluran dan efisiensi pemasaran agroindustri telur asin, (3) Masalah yang dihadapi pengusaha telur asin di Kota Mataram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pendapatan yang diterima pengusaha telur asin mentah Rp 98.843,35/proses produksi dan telur asin matang Rp 76.572,68/proses produksi, nilai R/C ratio lebih besar dari 1 yaitu 1,09 untuk telur asin mentah dan telur asin matang 1,11, dengan demikian usaha telur asin layak untuk diusahakan, rentabilitas usaha telur asin mentah sebesar 9,06%, sedangkan dari produk telur asin matang diperoleh 11,20%, BEP produksi telur asin mentah yaitu 17 butir/proses dan telur asin matang 14 butir/proses produksi, BEP harga telur asin mentah Rp 2.219,53/butir dan telur asin matang Rp 2.278,09/butir, BEP penerimaan telur asin mentah Rp 41.037,95 dan telur asin matang Rp 35.502,85. (2) Terdapat dua saluran pemasaran, yaitu saluran I (Produsen – Konsumen Akhir), saluran II (Produsen – Pedagang Pengecer – Konsumen Akhir) dan tergolong efisien, dengan alasan share produsen lebih besar dari 60%, dan margin pemasaran adalah Rp 366/butir untuk telur asin mentah dan Rp 450/butir untuk telur asin matang (3) Masalah yang dihadapi pengusaha telur asin di Kota Mataram adalah bahan baku, permodalan, keterampilan dan pemasaran.
ABSTRACT
Purpose of this study are to knew: (1) revenue, business feasibility, business profitability, and Break Event Point salted egg business, (2) channels and marketing efficiency salted egg (3) he issues facing entrepreneurs salted eggs in Mataram Regency. The results of this study indicate (1) Revenue received salted egg entrepreneur Rp 98843.35/ production process for raw salted egg and Rp 76572.68 / production process for salted eggs mature , the value of R/C ratio greater than 1 is 1.09 for raw salted eggs and 1.11 for salted eggs mature, so businesses salted egg worth the effort , profitability of the business of raw salted egg is equal to 9.06 % , and mature salted egg product that is equal to 11.20 %, and for the production of BEP is 17 grains / production process for raw salted egg and 14 grains/production process for salted eggs mature, BEP obtained at the price of Rp . 2219.53/grain for raw salted eggs and Rp 2278.09/grain for salted eggs mature, to the BEP revenues of Rp 41037.95 for raw salted egg and Rp . 35502.85 for salted egg cooked,(2) marketing channel for salted egg are two marketing channels, marketing channel I (Manufacturer - Consumer), and marketing channel II ( Manufacturers - Retailers - Consumer) are efficient criterion, by reason producers share greater than 60 %, and marketing margins are Rp 366/grain for raw salted eggs and Rp 450/grain for salted eggs mature (3) The problems faced by entrepreneurs salted eggs are raw materials, capital, skills and marketing
5. PENANGANAN FUNGSI-FUNGSI PEMASARAN DAN LABA USAHA PERMEN SUSU KHAS SAMAWA DI KABUPATEN SUMBAWA
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi pelaku fungsi pemasaran permen susu khas Samawa, (2) mengidentifikasi teknik penanganan fungsi pemasaran permen susu oleh pelaku fungsi pemasaran, dan (3) menganalisis laba usaha pelaku fungsi pemasaran permen susu khas Samawa.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dilaksanakan di Kabupaten Sumbawa dengan lokasi utama di Kecamatan Moyohilir dan lokasi tambahan di kecamatan lainnya. Pengumpulan data sekunder dengan teknik kajian pustaka/ publikasi data, sedang data primer melalui wawancara dengan responden. Analisis data untuk menjawab tujuan ke-1 dan ke-2 dilakukan secara deksriptif, sedang analisis data untuk menjawab tujuan ke-3 digunakan “Analisis Laba Usaha”.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pelaku fungsi pemasaran permen susu khas Samawa terdiri atas: Produsen dan Pedagang Pengecer; (2) Produsen menangani 10 jenis fungsi pemasaran (yaitu: informasi pasar input, pembelian input, pengangkutan input, pengolahan produk, penyimpanan produk olahan, informasi pasar output, pengangkutan output, penjualan output, pembiayaan usaha, dan penanggungan resiko), sedang Pedagang Pengecer menangani enam jenis fungsi pemasaran (yaitu: informasi pasar output, pembelian output, penyimpanan output, penjualan output, pembiayaan usaha, dan penanggungan resiko); dan (3) laba usaha Produsen Rp. 432. 949,11/ bulan, sedang laba usaha Pedagang Pengecer Rp. 205.861,11/ bulan.
ABSTRACT
The aims of the study are: (1) to identify actors of marketing functions of milk candy, (2) to identify the procedure of marketing functions of milk candy carried out by actors of marketing functions, and (3) to analyse the business profit of actors of the marketing functions.
This study used descriptive method and was carried out in Sumbawa Regency with the sample location is Moyohilir District. The collection of secondary data carried out by analysing published data, meanwhile primary data were collected by interviewing with respondent. To answer the first and second aim was used descriptive analysis, while to answer the third aim was applied the business profit analysis.
The results of research indicated that: (1) the actors of milk candy marketing functions consist of milk candy producer and retailer, (2) milk candy producer has been implementing ten marketing function activities, meanwhile retailer has been handling six marketing function activities, and (3) the business profit of producer was Rp. 432.949,11/month, while the business profit of retailer was Rp. 205.861,11/month
8. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN RUMAH TANGGA DI SEKITAR KAWASAN HUTAN PRODUKSI REMPEK – MONGGAL
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang paling dominan mempengaruhi tingkat pendapatan rumah tangga di sekitar kawasan hutan produksi Rempek-Monggal. Metode pengumpulan data menggunakan Survey; dan penentuan jumlah responden berdasarkan purposive random sampling yaitu sebanyak 50 Kepala Keluarga. Responden dalam penelitian ini adalah rumah tangga yang tinggal di sekitar /kawasan hutan produksi Rempek-Monggal Desa Rempek Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Barat. Analisis data menggunakan Analisis Kuantifikasi Hayashi I, Analisis Komponen Utama, dan Regresi Linear Berganda.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa peubah yang paling dominan mempengaruhi pendapatan rumah tangga adalah kombinasi peubah luas lahan garapan, harga jual tanaman pokok dan harga jual tanaman tumpangsari. Untuk meningkatkan pendapatan, kesejahteraan dan memberdayakan masyarakat, maka redistribusi lahan dalam arti “pengelolaan” menjadi prioritas utama kebijakan pemerintah. Disamping itu peran kelompok tani, koperasi dan lembaga keuangan perdesaan sangat penting dalam menjaga fluktuasi harga komoditi pertanian.
ABSTRACT
The purpose of this research is to find out the most dominant factor that affecting household income. Data was collected through survey and the total samples are 50 respondent sellected by purposive sampling. Respondent in this research were those households who live in Rempek-Monggal forest zone, Rempek village, Gangga Sub District west Lombok District. Data analysis uses Hayashi Quantification Analysis 1, Principal Component Analysis, and Multiple Lenear Regression
The result of this research shows that the most dominant variabel affecting household income rate are the combination of extention farming, the value of main crops and multicroping variabel. To increase in term of management must be the priority of government policy the income, welfare and commmunity empowerment the farm redistribution in term of “Management” must be the priority of government policy. Beside farmer action, cooperation and rural financial institutions will be very important in keeping the fluctuation of the price of agricultural comodity