Jurnal Agrimansion
Not a member yet
448 research outputs found
Sort by
ANALISIS STRATEGI PENINGKATAN PENDAPATAN DAN NILAI TAMBAH AGROINDUSTRI BERBAHAN BAKU JAGUNG DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis pendapatan agroindustri berbahan baku jagung dari tahun 2014 – 2018; (2) Menganalisis besarnya nilai tambah agroindustri berbahan baku jagung; (3) Menganalisis perkembangan usaha agroindustri berbahan baku jagung dari tahun 2014 – 2018; (4) Menentukan strategi peningkatan pendapatan dan nilai tambah agroindustri berbahan baku jagung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Penentuan lokasi sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan penentuan responden dilakukan secara sensus. Penelitian dilakukan di Kabupaten Lombok Tengah. Analisis data yang digunakan diantaranya adalah analisis pendapatan, nilai tambah, perkembangan usaha, dan strategi. Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menujukkan bahwa: (1) Besarnya pendapatan agroindustri berbahan baku jagung per proses produksinya selama 5 tahun terakhir (tahun 2014 – 2018) tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup ( π < USD 1). Pendapatan produk emping jagung lebih besar dibandingkan marning jagung dan tortilla. ; (2) Nilai tambah dari proses pengolahan jagung menjadi tortilla lebih besar dibandingkan dengan emping jagung dan marning jagung. Pengolahan jagung menjadi emping jagung memiliki nilai tambah sebesar Rp 8.124,05/kg atau sebesar 32,31%; marning jagung sebesar Rp 12.295,80/kg atau sebesar 35,86% dan tortilla sebesar Rp 57.530,43/kg atau sebesar 69,04%.; (3) Perkembangan usaha agroindustri berbahan baku jagung selama 5 tahun terakhir (2014 – 2018) mengalami peningkatan dan penurunan, yang disebabkan oleh jumlah permintaan dan tenaga kerja.; (4) Strategi yang harus dilakukan dalam meningkatkan pendapatan dan nilai tambah yaitu: a) Mempertahankan atau meingkatkan jumlah produksi; b) Mempertahankan atau memperluas daerah pemasaran; c) Melakukan efisiensi produksi
ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI SAYURAN HIDROPONIK DI KOTA MATARAM
Tujuan penelitian untuk menganalisis: (1) besar pendapatan petani berdasarkan analisis struktur biaya, produksi dan penerimaan di Kota Mataram, (2) kelayakan usahatani sayuran hidroponik di Kota Mataram dan (3) kendala-kendala yang dihadapi oleh petani sayuran hidroponik di Kota Mataram.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan unit analisis petani sayuran hidroponik di Kota Mataram. Lokasi penelitian ditetapkan secara “purposive sampling” atas pertimbangan bahwa kecamatan yang terpilih terdapat petani yang sudah memproduksi sayuran hidroponik dengan skala komersial. Jumlah responden ditetapkan secara “sensus” sebanyak 4 orang. Analisis yang digunakan adalah: analisis pendapatan, analisis break event point, analisis revenue cost ratio, analisis revenue on investment.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu; (1) Sayuran hidroponik di Kota Mataram yang diproduksi diantaranya basil 36,75 kg dengan pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 511.848; selada keriting 37,25 kg dengan pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 268.964; selada merah 86 kg dengan pendapatan sebesar Rp 2.143.914; pakcoy 150 kg dengan pendapatan sebesar Rp 256.297. (2) Kelayakan usahatani sayuran hidroponik di Kota Mataram berdasarkan BEP pada sayuran basil diperoleh BEP harga Rp 22.322/kg, BEP produksi 23 kg, nilai R/C 1,53, ROI 53,18 %; selada keriting dengan BEP harga Rp 19.030/kg, BEP produksi 27 kg, R/C 1,33 dan ROI 32,86 %; selada merah diperoleh BEP harga Rp 10.071/kg, BEP produksi 25 kg, R/C 3,48, ROI 247,54 %, pakcoy dengan nilai BEP harga Rp 8.291, BEP produksi 124 kg, R/C 1,21 dan ROI 20,61 %. Nilai BEP lebih kecil dari nilai rata-rata yang berlaku, nilai R/C > 1, nilai ROI > 3,00%. Artinya bahwa usahatani sayuran hidroponik di Kota Mataram layak untuk diusahakan. (3) Kendala yang dihadapi dalam usahatani sayuran hidroponik ini terbagi menjadi 2 kriteria yaitu secara teknis (instalasi irigasi, hama dan penyakit) dan non teknis (pestisida, pengetahuan, pemasaran dan fluktuasi harga)
AGRIBISNIS UBI JALAR DI KECAMATAN TERARA KABUPATEN LOMBOK TIMUR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui agribisnis ubi jalar dan hambatan-hambatan dalam agribisnis ubi jalar di Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif, penentuan daerah sampel ditetapkan secara purposive sampling yaitu Desa Lando dan Desa Jenggik dari 16 desa yang ada di Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur. Penentuan responden usahatani ubi jalar secara “quota sampling” sebanyak 30 orang dan pemilihan responden dilakukan secara “accidental sampling”. Penentuan responden usaha agroindustri keripik ubi jalar ditetapkan secara “sensus”. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan pendapatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa agribisnis ubi jalar meliputi subsistem diantaranya: a) Susbsitem sarana dan penyaluran sarana produksi meliputi bibit dan pupuk dengan mudah petani dapatkan karena masih tersedia di lokasi penelitian. b) Subsistem usahatani ubi jalar: petani membudidayakan ubi jalar ungu (ubi jalar benson) dan ubi jalar kuning (ubi jalar madu) dengan rata-rata produksi satu kali musim tanam adalah 2.400 kg per luas lahan garapan atau 10.557 kg per hektar dengan pendapatan petani ubi jalar sebesar Rp 5.619.759 per luas lahan garapan atau Rp 24.720.349 per hektar. c) Subsistem pengolahan (agroindustri) keripik ubi jalar: jenis produksi yang dihasilkan adalah keripik ubi jalar gula merah (bahan baku ubi jalar ungu) dan keripik ubi jalar bumbu balado pedas (bahan baku ubi jalar kuning) dengan rata-rata penggunaan bahan baku 27 kg per proses produksi sehingga pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 388.094 per proses produksi atau Rp 3.882.064 per bulan. d) Subsistem pemasaran: petani memasarkan ubi jalar masih di lokasi penelitian dengan pedagang pengempul yang langsung mendatangi petani dengan harga jual Rp 3.500 per Kg. Usaha agroindustri keripik ubi jalar responden memasarkan di lokasi penelitian tanpa melalui pasar lainnya dengan pengrajin sendiri yang memasarkan ke konsumen akhir dengan harga Rp 5.000 per bungkus, e) Subsistem pendukung: Lembaga yang mendukung usaha agroindustri ubi jalar adalah BKP (Badan Ketahanan Pangan) dalam bentuk terop dan gerobak. Hambatan dalam agribisnis ubi jalar yang dialami petani ubi jalar adalah pemasaran hasil produksi
5. ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN NELAYAN KECIL BERDASARKAN INDIKATOR NILAI TUKAR NELAYAN (NTN) (Studi Kasus di Desa Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur)
ABSTRAK
Konsep Nilai Tukar Nelayan ini dikembangkan untuk mengetahui indikator kesejateraan nelayan yang diungkapkan melalui kalkulasi Nilai Tukar Nelayan masih dapat dipertahankan sebagai salah satu refrensi dasar yang amat berharga untuk merumuskan kebijakan pembangunan sektor kelautan dan perikanan. Penelitian ini bertujuan (1). Menganalisis pendapatan rumahtangga nelayan kecil dari kegiatan on-fishing dan off- fishing (2). Menganalisis pengeluaran rumahtangga nelayan kecil untuk pangan dan non pangan(3). Mengukur Nilai Tukar Nelayan kecil di Desa Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur. Penelitian ini dilakukan di Desa Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur melalui studi kasus dengan jumlah Responden 60 orang. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukan (1).Rata-rata total pendapatan rumah tangga Nelayan kecil di Desa Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur adalah Rp 3.341.379/bulan terdiri dari kegiatan on-fishing sebesar Rp.3.341.379/bulan dan off-fishing sebesar Rp. 1.510.00/bulan. (2).Total pengeluaran rumah tangga Nelayan kecil di Desa Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur sebesar Rp 1.823.735 terdiri dari pengeluaran pangan sebesar Rp.1.377.412/bulan dan Non-Pangan sebesar Rp. 446.323/bulan sehingga (3). Nilai Tukar Nelayan di Desa Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur sebesar 2,58 atau>1. Artinya rumahtangga nelayan kecil memiliki tingkat kesejahteraan cukup untuk memenuhi kebutuhan primer dan berpotensi dapat memenuhi kebutuhan non primer atau menabung.
ABSTRACT
Exchange Rate Fishermen concept was developed to determine the indicators of the welfare of fishermen expressed through the calculation of the Exchange Rate Fishermen can still be maintained as a valuable reference base for formulating development policy marine and fisheries sector. The aim of this study (1).Analyzing household income of small fishing-fishing activities on and off-fishing (2).Analyzing small fishing household expenditures for food and non food (3).Measuring Exchange Rate small fisherman in the village of East Lombok Tanjung Luar This research was conducted in the village of Tanjung Luar East Lombok through case studies the number of respondents 60 people. While the data collection was done by interview techniques. The results showed (1).Average total household income in the small fisherman village of Tanjung Outer East Lombok district is Rp.3,341,379/month-on activities consist of fishing for Rp.3.341.379/month and off-fishing Rp.1.510.00/month. (2).Total household expenditure in the small fisherman village of Tanjung Outer East Lombok district is Rp 1,823,735 consist of Food expenditure is Rp. 1,377,412/month and Non-Food Rp.446 323/month so that (3).Exchange Rate Fishermen in the village of East Lombok Tanjung Luar of 2.58 or> 1. means small fishing households have welfare level sufficient to meet the primary needs and can potentially meet the needs of non-primary or saving.
 
STUDI KOMPARATIF PENDAPTAN DAN KESEMPATAN KERJA PADA USAHTANI KEDELAI DENGAN SISTEM TANAM SEBAR DAN TUGAL DI KECAMATAN ALAS KABUPATEN SUMBAWA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji perbandingan struktur pembiayaan usahatani kedelai dengan sistem tanam sebar dan sistem tanam tugal. (2) mengkaji perbandingan produksi usahatani kedelai dengan sistem tanam sebar dan sistem tanam tugal, (3) mengkaji perbandingan pendapatan usahatani kedelai sistem tanam sebar dan sistem tanam tugal, (4) mengkaji kesempatan kerja yang tersedia pada usahatani kedelai dengan sistem tanam tanam sebar dan sistem tanam tugal. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan tekhnik survei. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji t data tidak berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Biaya produksi pada usahatani kedelai sistem sebar lebih kecil dibandingkan usahatani kedelai sistem tugal dengan nilai masing-masing secara berurutan sebesar Rp 5.741.324/ha dan Rp 7.205.809/ ha, dengan persentase biaya variabel masing-masing sebesar 97,47% dan 97,68% dan sisanya 2,53% dan 2,32% pada biaya tetap. (2) Produksi pada usahatani kedelai sistem sebar lebih kecil dibandingkan usahatani kedelai sistem tugal setelah diuji dengan uji-t dengan taraf nyata 0,5 % dengan nilai masing-masing secara berurutan sebesar 1.301,42 kg/ha sebesar 1.787,04 kg/ha. (3) Pendapatan pada usahatani kedelai sistem sebar lebih kecil dibandingkan usahatani kedelai sistem tugal dengan nilai masing-masing secara berurutan sebesar Rp 1.806.935,65/ha; Rp 3.159.007,17/ha. (4) Kesempatan kerja pada usahatani kedelai sistem sebar dan sitem tugal sama dengan nilai masing-masing secara berurutan sebesar 53,47 HKO/ha dan 61,06 HKO/ha, dengan kesempatan kerja paling banyak berda pada jenis kegiatan penanaman dan pemanenan yang masing-masing sebesar 8,71 HKO/ha dan 12,82 HKO/ha pada sistem sebar sedangkan 12,59 HKO/ha dan 12,82 HKO/ha pada sistem tugal. (1) Disarankan kepada pemerintah untuk melakukan penyuluhan kepada petani untuk menggunakan sistem tanam tugal dalam usahatani kedelai. (2) Disarankan kepada petani untuk mengoptimalkan penggunaan input seperti pupuk sesuai dengan yang direkomendasikan. (3) Disarankan kepada petani untuk menggunakan teknologi pemupukan menggunakan sistem pembenaman di antara baris tanaman.
ABSTRACT
This study aims to: (1) To assess the comparison of the financing structure of soybean farming with spread cropping system and digging stick. (2) To examine the comparison of soybean farming production with spread cropping system and digging stick. (3) To examine the comparison of soybean farming income of spread cropping system and digging stick. (4) To assess available employment opportunities in soybean farming with spread cropping system and digging stick. This study uses descriptive methods with survey techniques. The data obtained were analyzed using unpaired data t test. The results showed that: (1) Production costs on soybean farming systems were smaller than those of digging stick soybean farming with their respective values of Rp 5,741,323.84/ha and Rp 7,205,808.64/ha, with a percentage variable costs were 97.47% and 97.68% and the remaining 2.53% and 2.32% at fixed costs. (2) Production on soybean farming system is smaller than tugal soybean farming after being tested by t-test with a real level of 0.5% with respective values of 1,301.42 kg/ha of 1,787.04 kg/ha. (3) Revenue on soybean farming system spreads smaller than digging stick system soybean farming with their respective values of Rp. 1,806,935.65/ha for Rp. 3,159,007.17/ha. (4) Job opportunities in the soybean farming system spread and digging stick system are equal to respectively value of 53.47 HKO/ha and 61.06 HKO/ha, with the most employment opportunities in each type of planting and harvesting activities -same at 8.71, HKO/ha and 12.82 HKO/ha on spread systems while 12.59 HKO/ha and 12.82 HKO/ha on digging stick systems. Suggestions that can be given (1) It is recommended to the government to conduct counseling to farmers to use digging stick planting systems in soybean farming. (2) It is recommended to farmers to optimize the use of inputs such as fertilizers as recommended. (3) It is recommended to farmers to use fertilization technology using a seeding system between rows of plants
2. STUDI PENERAPAN KEARIFAN LOKAL SISTEM BAGI HASIL DALAM UPAYA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS JAGUNG DI KABUPATEN LOMBOK UTARA
ABSTRAK
Tujuan penelitian adalah: (1) mengetahui pernjanjian yang disepakati antara pemilik lahan pertanian dan pemilik modal operasional dengan petani penggarap; (2) mengetahui proporsi bagi hasil antara pemilik lahan pertanian dengan petani penggarap dan mengetahui balas jasa atau imbalan yang diberikan oleh petani penggarap kepada pemilik modal operasional; (3) mengetahui penerapan sistem bagi hasil antara para pihak yang mendukung pengembangan agribisnis jagung. Lokasi penelitian di Kecamatan Bayan dan Kecamatan Kayangan yang merupakan sentra produksi jagung di Kabupaten Lombok Utara. Pemilihan responden dilakukan dengan teknik sampling terbuka dengan jumlah minimum 40 responden petani penggarap. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara berstruktur, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah, desk study dan observasi. Analisis data dan informasi menggunakan analisis isi, deskriptif kuantitatif dan kualitatif serta deskriptif narasi. Hasil penelitian menujukkan bahwa:
Perjanjian yang disepakati dan ditaati antara pemilik lahan pertanian dengan petani penggarap adalah:
Pada lahan sawah, bagi hasil mertelu, yaitu 1 (satu) bagian untuk pemilik lahan pertanian dan 2 (dua) bagian untuk petani penggarap dengan perjanjian seluruh biaya produksi usahatani dari pengolahan tanah sampai dengan tanaman siap panen ditanggung oleh petani penggarap, sementara biaya panen, pascapanen dan pengolahan hasil, pengangkutan (transport) dan penjualan ditanggung bersama pemilik lahan dan petani penggarap.
Pada lahan ladang, bagi hasil merampat, yaitu 1 (satu) bagian untuk pemilik lahan pertanian dan 3 (tiga) bagian untuk petani penggarap dengan perjanjian semua biaya usahatani mulai dari pengolahan tanah sampai dengan tanaman siap dipanen menjadi tanggungan petani penggarap, sementara biaya panen, pascapanen, pengolahan, pengangkutan (transport) dan biaya penjualan ditanggung bersama pemilik lahan dan petani penggarap.
Perjanjian kerja sama antara pemilik modal operasional dengan petani pemilik penggarap adalah sistem pinjaman modal (kredit) dengan tingkat bunga flat, sementara sistem bagi hasil 50% bagian pemilik modal operasional dan 50% bagian petani pemilik penggarap tidak dapat diwujudkan sebagai mana yang diharapkan, karena ada pihak yang mengalami kerugian.
Proporsi bagi hasil antara pemilik lahan pertanian dengan petani penggarap dalam sistem bagi hasil adalah pemilik lahan mendapatkan proporsi 41,50% di Kecamatan Bayan dan 55,52% di Kecamatan Kayangan, sementara bagian petani penggarap adalah 58,50% di Kecamatan Bayan dan 44,48% di Kecamatan Kayangan.
Balas jasa atau imbalan yang diberikan oleh petani penggarap kepada pemilik modal operasional pada sistem kredit dengan bunga plat 4,5% per semester sebesar 5,2% dari gross margin usahatani jagung.
Penerapan sistem bagi hasil berkontribusi dalam memperluas lahan usahatani jagung seluas 17,19%, serta meningkatkan produktivitas usahatani jagung antara 0,168 ku/ha sampai dengan 0,193 ku/ha, serta KUR dinilai mampu memenuhi kebutuhan pembiayaan pada pengembangan agribisnis jagung di Kabupaten Lombok Utara.
ABSTRACT
The objectives of the study were: (1) to know the agreement between the landowner and the working capital owner with the farmers; (2) to know the proportion of income sharing between the landowner and the farmer and to know the remuneration or remuneration given by the tiller to the owner of the operational capital; (3) to know the application of income-sharing system between the parties supporting the development of corn agribusiness. The research location in Bayan and Kayangan sub-districts is the corn production center in North Lombok Regency. Selection of respondents was done by open sampling technique with a minimum number of 40 respondents of farmers. Data collection was done by structured interview, in-depth interview, focus group discussion, desk study and observation. Data and information analysis using content analysis, descriptive quantitative and qualitative as well as descriptive narration. The results showed that:
Agreements agreed upon and adhered to between the landowner and the farmer are:
In paddy fields, the share of mertelu, which is 1 (one) part for the owner of agricultural land and 2 (two) parts for the farmer with the agreement of all farm production cost from the processing of the soil until the crop ready for harvest is borne by the farmer, while the cost of harvest, postharvest and processing results, transport (transport) and sales are borne with landowners and smallholders.
In the field of land, the profit share is 1 (one) part for the land owner and 3 (three) parts for the farmer with the agreement of all farming costs starting from the processing of the soil until the crop is ready to be harvested to the dependent of the farmer, postharvest, processing, transportation and sales costs shall be borne with landowners and smallholders.
Cooperation agreement between the operational capital owner and the farmer owner is a capital loan (credit) system with a flat interest rate, while the profit sharing system is 50% share of the operational capital owner and 50% share of the farmer owner can not be realized as expected, because there are parties who suffered losses.
Proportion of profit sharing between farmers and farmers in the profit-sharing system is landowners obtaining a proportion of 41.50% in Bayan Sub-district and 55.52% in Kecamatan Kayangan, while the share of farmers is 58.50% in Kecamatan Bayan and 44.48% in Kecamatan Kayangan.
Remuneration or remuneration given by the farmer to the owner of operational capital in the credit system with the interest of plate 4.5% per semester of 5.2% of the gross margin of corn farming.
Implementation of profit sharing system contributed to the expansion of corn farming area of 17.19%, and increased productivity of maize farming between 0.168 ku/ha to 0.193 ku/ ha, and KUR considered able to meet the financing needs in the development of corn agribusiness in North Lombok.
 
1. STRATEGI PEMASARAN USAHA BUAH NANAS MADU DI KOTA MATARAM
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi dan menganalisis faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pemasaran usaha buah nanas madu di Kota Mataram; (2) Memformulasikan strategi pemasaran usaha buah nanas madu di Kota Mataram. Lokasi penelitian ini ditentukan secara purposive sampling yaitu di Kota Mataram. Penentuan responden dilakukan dengan metode sensus yaitu berjumlah 26 usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) usaha buah nanas madu di Kota Mataram. Kekuatannya adalah: (a) rasa buah nanas madu yang manis, (b) harga buah nanas madu terjangkau, (c) bahan baku mudah ditemukan, (d) keuntungan usaha nanas madu yang relatif tinggi. Kelemahannya adalah: (a) keterbatasan modal, (b) manajemen usaha masih lemah, (d) buah yang mudah busuk. Peluangnya adalah: (a) permintaan pasar yang tinggi, (b) khasiat buah nanas madu, (c) Kesadaran masyarakat. Ancamannya adalah: (a) adanya buah substitusi, (b) adanya pedagang lain, (c) gangguan hujan. (2) Strategi pemasaran yang harus dilakukan oleh usaha pemasaran buah nanas madu adalah pertumbuhan agresif (growth oriented strategy) yaitu meningkatkan jumlah penjualan buah nanas madu dengan cara memberbanyak membeli buah nanas madu di tempat pusat-pusat produksi buah nanas madu dan membuka cabang-cabang usaha buah nanas madu di tempat yang berbeda.
ABSTRACT
The aims of this research are to identify internal and external factors that affect the marketing of honey pineapplebusiness in Mataram, and to formulate marketing strategy for business of honey pineapple in Mataram. The study area is determined by purposive sampling in Mataram. The determination of respondents was done by sensus method that is amounted to 26 respondents. The results showed thatthere are two factors influencing pineapple busuiness, nameley internal factors (strenghts and weaknessesof the business) and external factors(opportunities and threats of the business). The Strenghts consisting of: (a)sweet taste ofhoney pineapple, (b) price of honey pineapple, (c) late availability of honey pineapple, (d) high profit of the business. The weakness consiting of: (a)limited funds, (b) business management, (c) perishable honey pineapple. Meanwhile the opportunities of the business consiting of (a) high market demand; (b) the efficacy of honey pineapple, (c) citizen’s awareness. Thethreats of the business consisting of: (a) the presence of substitutes; (b) the presence of other traders; (c) rain disturbance. Marketing strategy that must be done in marketing effort of honey pineapple fruit is aggressive growth strategy, that is to increase the number of sales of honey pineapple by purchasing honey pineapple in production centers and opening branches of fruit business of honey pineapple in different places
4. ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN DAN PEMASARAN IKAN LAUT DI KECAMATAN HU’U KABUPATEN DOMPU
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis pendapatan nelayan di Kecamataan Hu’u; (2) Menganalisis saluran pemasaran ikan laut di Kecamatan Hu’u; (3) Menganalisis perilaku pasar ikan laut di Kecamatan Hu’u. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan penentuan daerah penelitian secara purposive samplingyaitu Desa Jala, Desa Hu’u dan Desa Cempi Jaya. Jumlah responden nelayan ditentukan secara quota sampling, yaitu sebanyak 30 orang. Penentuan responden pedagang dilakukan secara snowball sampling, sedangkan dalam pengumpulan data dilakukan dengan teknik survei. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, analisis pendapatan, analisis saluran pemasaran dan analisis perilaku pasar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Total pendapatan nelayan dari usaha penangkapan ikan per tahun sebesar Rp. 17.595.118,17, total pendapatan pada musim barat sebesar Rp. 6.001.626,92 dan pada musim timur sebesar Rp. 11.594.491,25. Sedangkan Total biaya sebesar Rp. 25.863.668,41 per tahun, dimana total biaya pada musim barat sebesar Rp. 8.781.913,37dan pada musim timur sebesar Rp. 17.486.215,04. (2) Saluran pemasaran ikan laut melalui tiga saluran, yaitu: a. Dari nelayan ke Pedagang Pengumpul Desa, ke Pedagang Pengumpul Kecamatan, ke Pedagang Antar Pulau. b. Dari nelayan ke Pedagang Pengumpul desa, ke Pedagang Pengecer, ke Komsumen Akhir. c. Dari nelayan ke Konsumen Akhir. (3). Perilaku pasar ikan laut di kecamatan hu’u kabupaten dompu, yaitu: a. Harga ditentukan oleh lembaga pemasaran yang dibayar secara tunai. b. kerjasama antar lembaga pemasaran dalam peminjaman modal. (4) fungsi pemasaran yang tidak dilakukan oleh nelayan adalah fungsi pembelian, penyimpanan, pengolahan, pengangkutan, standarisasi dan grading, dan informasi pasar, sedangkan fungsi pemasaran yang tidak dilakukan oleh lembaga pemasaran adalah pada PPD adalah fungsi penyimpanan dan pengolahan, pada PPKC pada fungsi pengolahan dan pengecer pada penyimpanan dan pengolahan.
ABSTRACT
This study aims to: (1) Analysis of fisherman income in Hu’u Distric; (2) Analysis channel marketing of marine in Hu’u Distric; (3) Analysis market behavior of marine in Hu’u Distric . This research uses descriptive method with the determination of the research are by Purposive Sampling, namely the village of Jala, village of Hu’u and village of Cempi Jaya. The number of fishermen respondents was determination by Quota Sampling, which was 30 people. Determination of trader’s respondents is done by Snowball Sampling, while data collection is done by surveying techniques. The analysis used is Descriptive Analysis, income analysis, marketing channel analysis and market behavior analysis. The results showed that: (1) the total income of fishermen from fishing business per year was Rp. 17,595,118.17, the total income in the west season is Rp. 6,001,626.92 and in the east season Rp. 11,594,491.25. While the total cost is Rp. 25,863,668.41 per year, where the total cost in the west season is Rp. 8,781,913.37 and in the east season Rp. 17,486,215.04. (2) Marine marketing channels through three channels, namely: a. From fishermen to Village Collectors, to Sub-district Collectors, to Inter-island Traders. b. From fishermen to village collectors, to retailers, to Komsumen Akhir. c. From fishermen to Final Consumers. (3). The behavior of the marine market in the huu district of dompu district, namely: a. Prices are determined by marketing agencies that are paid in cash. b. cooperation between marketing institutions in capital borrowing. (4) The marketing function that is not carried out by fishermen is the function of purchasing, storing, processing, transporting, standardizing and grading, and market information, while the marketing function that is not carried out by the marketing institution is PPD is a function of storage and processing, in PPKC on the function processing and retailers on storage and processing
3. ANALISIS RANTAI PEMASRAN BAWANG MERAH DI KABUPATEN BIMA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) memetakan rantai pemasaran bawang merah di Kabupaten Bima; (2) menganalisis fungsi pelaku pemasaran bawang merah di Kabupaten Bima; dan (3) menganalisis margin pemasaran bawang merah pada tingkat pelaku dan tingkar rantai di Kabupaten Bima.Metodologi penelitian yang digunakan adalah deskriptif.
Ditemukan bahwa pemasaran bawang merah di Bima melibatkan tiga rantai, yaitu:(i)Petani (P)-Pedagang pengumpul desa (PPD)–Pedagang pengecer (PP) Bima–Konsumen (K) di Bima; (ii) P–PPD–Pedagang antar pulau/besar (PAP/B)–PPdi Mataram - K; dan (iii) P – PPD – PAP/B – PPdi Provinsi lain – K di Provinsi Lain. Proporsi aliran produksi bawang merah adalah 42% melalui Rantai I, 25% melalui Rantai II, dan 34% melalui Rantai III.Harga yang diterima petani bawang merah tidak berbeda menurut rantai pemasaran, yakni: Rp. 1.800.000 per kwintal.Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan olehpetani adalah penjualan, penyimpanan, pengangkutan, sortasi, dan penanggungan risiko. Semua fungsi ini juga dilakukan oleh PPD, dan PAP/B, ditambah dengan fungsi-fungsi berikut: pembelian, pembiayaan, penanggungan risiko, dan informasi pasar.Semua fungsi pemasaran yang dilakukan oleh PPD dan PAP/B adalah juga dilakukan oleh PP, kecuali: fungsi pembiayaan. Marjin pemasaran pada Rantai I adalah 12,84 persen dari harga konsumen, lebih rendah dibandingkan dengan margin pemasaran pada Rantai II yang sebesar 11,51% dari harga konsumen. Margin rantai pemasaran III tidak dianalisis karena data tidak lengkap. Perbedaan margin pemasaran antar rantai pemasaran tersebut adalah terutama disebabkan oleh faktor selisih harga konsumen dan harga petani, bukannya oleh faktor biaya pemasaran. Proporsi margin pemasaran terhadap harga jual masing-masing jenis pedagang bervariasi antar rantai pemasaran: PPD menerima antara 5,71% dan 6,25%; PAP/B antara 0,52% dan 5,21%; dan Pengecer antara 2,26% dan 7,02%.
Penerapan manajemen rantai pemasaran berpotensi untuk menurunkan beban biaya pemasaran yang ditanggung para pelaku dan untuk meningkatkan pendapatan petani bawang di kabupaten Bima. Ini dapat diupayakan melalui: (i) koordinasi vertikal untuk meminimalisasi repetisi fungsi pemasaran lintas pelaku; dan (ii) koordinasi horizontal (kelompok) petani untuk meraih manfaat dari skala ekonomi bersama.
ABSTRACT
The study’s objectives are (1) to map the marketing chains of onion in Bima district; (2) to analyze the functions of the marketing players; and (3) to analyze the marketing margins at actor and chain levels. For the objectives, the study used the descriptive methodology.
It was found that the marketing of onion in Bima involved three different chains of onion, namely:(i)Farmer(P)-Villlage CollectorTrader (PPD)–Retail Trader(PP) in Bima–Consumer (K) Bima; (ii) P–PPD–InterIsland/Big Trader (PAP/B)–PPin Mataram - K; and (iii) P – PPD – PAP/B – PPin onthet province – K in other province. The flows of onion products by chains were 42% chain I, 25% chain 2 and 34% chain 3. The price received by farmers IDR 1,800,000 was not different across the markating chains.
Marketing functions carried out by farmers included: saling, storing, transporting, sorting/grading, and risk bearing.All these functions were alo carried out by PPD, and PAP/B, together with: buying, financing, and market information. PP carried out the same functions as those of PPD dan PAP/B, exept for the financing function. Measured as percentage of the selling price, the marketing margin was 12.84 % of the consumers’ pricein the first chain, higher than the margin in the second chain which was 11,51%. The marketing margin for the third chain was not calculated because of incomplete data. The marketing margin difference was mainly because of consumer-farmer price margin factor rather than marketing cost factor. The marketing margins by actors were varied: PPD received between 5.71-6.25%; PAP/B received between 0.52%-5.21%; and PP received between 2.26%-7.02%.
Applicantion of effective marketing chain manajemen was considered potensial to reduce the burden of marketing cost bared by the chain actors, and to increase farmer incomes in Bima. This should include (i) vertical coordination to minimize number of functions repetitively done by two or more chain actors; and (ii) horizontal coordination of the farmers to achieve the benefits of farmer group’s economics of scale
PROSPEK PENGEMBANGAN USAHATANI BAWANG MERAH DI KECAMATAN SAPE KABUPATEN BIMA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan petani dalam usahatani bawang merah, menganalisis prospek pengembangan usahatani bawang merah ditinjau dari aspek teknis, aspek ekonomi, dan aspek pasar, mengetahui kendala apa saja dalam usahatani bawang merah.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif, penentuan daerah sampel ditetapkan secara purposive sampling di Kecamatan Sape Kabupaten Bima yaitu Desa Parangina dan Desa Rasabou. Penentuan responden secara quota sampling sebanyak 40 orang, dan penentuan responden pada masing-masing desa dilakukan secara acidental sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif, analisis pendapatan, dan revenue cost ratio (R/C).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prospek pengembangan usahatani bawang merah di Kecamatan Sape Kabupaten Bima memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan, dilihat dari aspek teknis usahatani bawang merah sesuai untuk diusahakan dan memiliki potensi lahan sebesar 310 Ha, aspek ekonomi menunjukkan layak dengan pendapatan permusim tanam sebesar Rp.39.762.289,44/LLG atau Rp.113.121.733,84/Ha, serta R/C ratio sebesar 3,80, dan aspek pasar komoditi bawang merah masih memiliki potensi pasar.
Kendala dalam usahatani bawang merah yaitu aspek teknis serangan hama dan penyakit, cuaca dan iklim, dan kurangnya penyuluhan. Aspek ekonomi harga jual yang tidak stabil dan harga saprodi mahal. Serta aspek pasar kurangnya informasi harga jual dan tidak ada tempat penyimpanan