Jurnal Agrimansion
Not a member yet
448 research outputs found
Sort by
PENGARUH DOC, JUMLAH AYAM, VAKSIN, DAN MORTALITAS TERHADAP PRODUKSI AYAM BOILER
Sub sektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam menyediakan pangan hewani. Salah satu komoditi peternakan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein adalah daging. Dalam upaya pemenuhan protein hewani dan peningkatan pendapatan peternak, maka pemerintah telah berupaya meningkatkan hasil produksi yang bersumber dari usaha ternak, diantaranya adalah ayam broiler. Pengembangan usaha ternak ayam pedaging broiler akan berhasil apabila peternak mampu mengelola usaha tersebut dengan baik, pengelolaan usaha ternak ayam broiler harus ditunjang dengan berbagai input beberapa diantaranya adalah jumlah Day Old Chicken (DOC), jumlah ayam, mortalitas, dan vaksin sehingga mampu mengoptimumkan output berupa produksi ayam boiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap produksi ayam boiler dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dalam bentuk fungsi produksi Cobb Douglas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel DOC, jumlah ayam, dan vaksin secara parsial berpengaruh positif terhadap variabel produksi ayam boiler. Sedangkan variabel mortalitas berpengaruh secara negatif terhadap produksi ayam boiler.
Kata Kunci: produksi, ayam boiler, cobb dougla
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PETANI KUBIS DI DESA PETLENG KECAMATAN ALOR TENGAH UTARA KABUPATEN ALOR
Cabbage is a leaf vegetable that is quite popular and popular in Indonesia and has high commercial value and prospects. The research was carried out in Peteleng Village, North Central Alor District from March - May 2024. The total sample was 30 people using saturated samples. Data collection was done through direct interviews with respondents, publication of data from the Alor Regency Central Statistics Agency and the Alor Regency Agriculture and Plantation Service. The research aims to analyze the factors that influence farmers' decisions in cabbage farming in Petleng Village, North Central Alor District. The results of the research show that the F test shows that the independent variables income, land area, farming experience and capital have a significant influence on farmers' decisions (Y) and the t test shows that the variables of land area and capital have a positive and insignificant effect on farmers' decisions in carrying out cabbage farming, while the variables income and farming experience have a positive and significant influence on farmers' decisions in carrying out cabbage farming in Petleng Village, Alor Tengah Utara District
ANALISIS KONJOIN UNTUK MENGUKUR PREFERENSI KONSUMEN BERAS DI KECAMATAN MATARAM
Penelitian ini bertujuan adalah: (1) Untuk menganalisis preferensi konsumen terhadap beras di Kecamatan Mataram, dan (2) Untuk menganalisis atribut yang paling dipertimbangkan oleh konsumen beras di Kecamatan Mataram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik survei dengan berpedoman pada kuesioner. Unit analisis pada penelitian ini adalah konsumen yang membeli beras di Kecamatan Mataram. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Penentuan daerah penelitian menggunakan purposive sampling dan sengaja memilih Kecamatan Mataram. Penentuan responden menggunakan rumus slovin dengan jumlah sebanyak 100 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling. Metode accidental sampling merupakan metode pemilihan sampel yang kebetulan bertemu dengan peneliti di lokasi penelitian. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Analisis data yang digunakan adalah analisis konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: beras yang menjadi preferensi konsumen di Kecamatan Mataram adalah beras warna putih karena banyak konsumen atau masyarakat yang beranggapan bahwa beras yang berwarna putih memiliki kualitas yang lebih baik dibanding beras yang berwarna putih susu, dan atribut beras yang paling dipertimbangkan responden di Kecamatan Mataram adalah atribut kualitas beras, karena beras adalah makanan yang dikonsumsi sehari-hari sehingga responden memilih beras dengan mutu yang baik, dan juga apabila konsumen membeli beras dengan kualitas yang diinginkan akan memberikan kepuasan tersendiri bagi konsumen, tetapi dengan kisaran harga yang masih terjangkau sesuai dengan kemampuannya
TINJAUAN PERSPEKTIF FILSAFAT: KEBIJAKAN EKONOMI BIRU UNTUK PENGENTASAN KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR
Terjadi paradoks dimana kekayaan sumberdaya pesisir yang melimpah namun belum mampu mensejahterakan masyarakat pesisir. Persoalan ini menjadi bahan diskusi yang menarik dalam konteks filsafat. Tujuan penelitian adalah : a) membedah dari perpektif filsafat tentang kemiskinan, b) Tinjauan ontologis: mengapa masyarakat pesisir miskin? c) apakah kebijakan ekonomi biru dapat mengentaskan kemiskinan masyarakat pesisir dan d) bagaimana potensi dan tantangan ekonomi biru dalam pengentasan kemiskinan masyarakat pesisir?Penelitian ini menggunakan studi literatur ilmiah yang dikaji dari berbagai sumber terutama dari artikel yang dipublikasikan pada jurnal internasional maupun jurnal nasional baik yang yang sudah terindex scopus maupun jurnal yang sudah terakreditasi SINTA. Berdasarkan kajian dan riset dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kemiskinan dapat dilihat dari prespektif filsafat yang berbeda, tapi pada intinya kemiskinan dipandang pada ketimpangan struktural dalam cara manusia memanfaatkan sumber daya alam.selain itu. kemiskinan masyarakat pesisir disebabkan pada keterbatasan akses terhadap sumber daya ekonomi dan keterbatasan akses terhadap infrastruktur serta layanan dasar. Kemudian ekonomi biru memberikan ruang bagi masyarakat pesisir untuk mencapai kesejahteraan. Selain itu potensi ekonomi biru, adalah penciptaan lapangan kerja baru dan pengelolaan sumber daya alam yang lebih efisien dan berkelanjutan. Tantangan yang dihadapi ekonomi biru adalah keterbatasan akses terhadap infrastruktur, teknologi dan perubahan iklim serta ketidakpastian ekosistem laut
ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN EKONOMI RUMAH TANGGA PETANI JAGUNG LAHAN KERING DI KECAMATAN ALAS BARAT KABUPATEN SUMBAWA
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui besar pendapatan dan kontribusi pendapatan usahatani jagung terhadap pendapatan rumah tangga petani jagung di Kecamatan Alas Barat Kabupaten Sumbawa; (2) Mengetahui tingkat kesejahteraan rumah tangga petani jagung terhadap pendapatan rumah tangga petani jagung di Kecamatan Alas Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Unit analisis pada penelitian ini adalah rumah tangga petani jagung di Kecamatan Alas Barat Kabupaten Sumbawa. Metode penentuan daerah penelitian yaitu dengan metode purposive sampling atau sengaja. Metode penentuan jumlah responden dilakukan dengan menggunakan rumus slovin yaitu dengan jumlah kelompok tani sebanyak 123. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data kuantitatif dan data kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik survei yaitu dengan wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Pendapatan rumah tangga petani jagung di Kecamatan Alas Barat Kabupaten Sumbawa bersumber dari pendapatan usahatani sendiri (jagung dan padi), usahatani diluar usahatani sendiri (buruh tani), dan dari luar kegiatan usahatani/ non pertanian. Pendapatan petani yang berasal dari kegiatan usahatani sendiri memberikan kontribusi lebih besar (75%) dibandingkan dengan pendapatan yang berasal dari kegiatan lainnya (buruh tani dan luar pertanian) dengan persentase tertinggi yaitu 46% dari usahatani jagung. Pendapatan yang berasal dari usahatani diluar usahatani sendiri memberikan kontribusi 3% dan dari luar usahatani/pertanian memberikan kontribusi 23%. (2) Berdasarkan kriteria Sajogyo (1982), petani jagung di Kecamatan Alas Barat Kabupaten Sumbawa tergolong tidak miskin yaitu memiliki rata-rata pendapatan yang disetarakan dengan beras per tahun lebih dari standarisasi yang sudah ditentukan sebesar 480 kg beras per tahun. Berdasarkan kriteria BPS (2022) rumah tangga petani jagung di Kecamatan Alas Barat masuk dalam kategori sejahtera yaitu dengan rata-rata pengeluaran rumah tangga petani jagung sebesar 21.215.018/tahun. Atau pengeluaran pangan dan non pangan lebih dari standarisasi yang telah ditentukan BPS yaitu Rp 505.469/kapita/bulan atau Rp 6.065.628/kapita/tahun
ANALISIS BREAK EVEN POINT DAN RETURN OF INVESTMENT PADA USAHA TANI BAYAM DI KECAMATAN AMPENAN KOTA MATARAM
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Break Event Point (BEP) dan Return Of Investment (ROI) pada usahatani bayam di Kecamatan Ampenan Kota Mataram.Lokasi penelitian ditentukan dengan cara Purposive Sampling Dalam penelitian ini Kelurahan Pejarakan Karya terpilih sebagai lokasi penelitian karena dengan pertimbangan bahwa jumlah usahatani bayam terbesar di Kecamatan Ampenan berada di wilayah tersebut. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan jumlah 15 orang petani responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha pada usahatani bayam di Kecamatan Ampenan Kota Mataram sudah melampaui BEP dengan keuntungan sebesar Rp. 4.686.087,- per produksi. Nilai ROI usahatani bayam di kKecamatan Ampenan memiliki tingkat pengembalian modal atau investasi yang cukup tinggi sebesar 830%, sehingga usahatani bayam di kecamatan Ampenan dikatakan efisien. Adanya beberapa kendala atau hambatan yang yang dihadapi dalam usahatani bayam di Kecamatan Ampenan antara lain : (a) Fluktuasi harga bayam; (b)Penerapan teknologi Inovatif yang masih kurang dilakukan oleh petani dalam mengembangkan usahataninya; (c)Hama penyakit yang mengganggu pertumbuhan tanaman bayam; (d)Keterbatasan modal yang dimiliki petani untuk memperluas dan mengembangkan usahanya.
Kata Kunci : Ampenan, Bayam, Break Even Point, Return Of Investment, Usaha Tan
PERBANDINGAN KEUNTUNGAN USAHATANI PADI BERDASARKAN BEBERAPA SUMBER PEMBIAYAAN PERTANIAN: ANALISIS DI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
Padi merupakan komoditas pertanian penting di Kabupaten Lampung Tengah. Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh petani padi di Lampung Tengah adalah kapasitas permodalan bagi usahatani. Keberadaan lembaga keuangan mikro, baik yang beroperasi secara syariah maupun konvensional, memberikan layanan pembiayaan pertanian mikro bagi usahatani padi. Penelitiain ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan keuntungan usahatani padi yang menggunakan beberapa sumber permodalan di Kabupaten Lampung Tengah. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa usahatani padi di Kabupaten Lampung Tengah cukup menguntungkan. Petani yang menggunakan modal sendiri memiliki tingkat keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan petani yang mengakses pembiayaan usahatani dari lembaga keuangan mikr
KESENJANGAN SOSIAL EKONOMI DI MASYARAKAT SEKITAR PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PROVINSI JAMBI
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memberikan solusi terkait dampak sosial ekonomi industri kelapa sawit terhadap masyarakat di sekitarnya, terutama dalam konteks kesenjangan sosial ekonomi. Penelitian dan pemahaman yang lebih baik tentang fenomena ini dapat menjadi dasar untuk merancang kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, serta upaya untuk mengurangi kesenjangan sosial ekonomi yang ada. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian kualitatif deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi (sociological approach) dan pendekatan kasus (case approach). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa untuk mengatasi permasalahan ini perlu dilakukan beberapa hal; pertama; untuk mencapai keadilan sosial dan ekonomi, penting untuk mengatasi ketimpangan dalam kepemilikan lahan dengan cara yang adil dan berkelanjutan. Hal ini dapat dilakukan dengan pendistribusian lahan oleh pemerintah untuk di sewa atau digunakan kepada masyarakat. Kedua; untuk mengatasi mahalnya biaya pembukaan lahan dan perawatan kelapa sawit, ada beberapa langkah yang dapat diambil. Salah satunya adalah melalui pendekatan berbasis agroekologi dan memberikan subsidi untuk pembukaan dan pengelolaan lahan pertanian. Ketiga; untuk mengatasi masalah permodalan dan informasi yang terbatas, hal ini dapat dilakukan dengan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, lembaga keuangan, lembaga riset pertanian, dan organisasi masyarakat sipil. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah menyediakan akses yang lebih luas dan terjangkau terhadap kredit dan pinjaman untuk petani kecil dan pemilik lahan yang ingin terlibat dalam industri kelapa sawit. Pemerintah juga harus menyiapkan satu platform yang terpercaya, teruji, dan lengkap sehingga dapat diakses oleh semua pihak. Platform digital ini dapat diakses melalui aplikasi smartphone ataupun website, yang berisi informasi tentang harga pasar, ketersediaan pupuk dan obat, praktik pertanian yang baik, pelatihan dan pendidikan, dan pengumuman lainnya secara real-time. Ini dapat membantu mengatasi hambatan geografis dan infrastruktur yang mungkin menghambat akses masyarakat lokal terhadap informasi
ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP ATRIBUT BUAH PISANG DI KOTA MATARAM
This study aims to analyze consumer preferences for banana attributes in Mataram City using a descriptive method, as many as 100 respondents in Mataram City selected using a systematic random sampling method. Determination of the sample area is carried out by purposive sampling. Data collection with survey techniques, namely interviews and questionnaire distribution. The collected data was analyzed using conjoint analysis. The results showed that the attributes of bananas most considered by consumers based on importance value in order were freshness, ripening, price, type of banana, and safety label. The attributes of bananas that become consumer preferences based on the value of usefulness are the type of yellow banana, fresh conditions, natural ripening, there is a safety label, and prices range from Rp. 12,000-18,000/kg. 
ANALISIS POLA SEWA LAHAN (LAND RENT) PADA USAHATANI BAWANG MERAH DI KABUPATEN SUMBAWA
This research aims to: (1) determine more efficient land rental patterns; (2) knowing the costs and income of farmers in each shallot farming pattern in the rental system; (3) determine the level of efficiency of farmer input use in shallot farming in the land rental system in Sumbawa Regency. Research using descriptive methods, qualitative and quantitative data types. Determination of villages was carried out using a purposive sampling method, namely Plampang District. Respondents were determined using proportional random sampling with 30 farmer respondents. The research results show that there are two patterns, namely Pattern 1 and Pattern 2, where Pattern 1: one year before planting, while Pattern 2: one year, half before planting and half before harvest. The average land rental price for MT II shallot farming in Pattern 1 is IDR 6,395,348.84/Ha, while the average land rental price in Pattern 2 is IDR 6,524,822.69/Ha before discounts and IDR 6,285,106 .38/Ha after discount. (2) The average cost of shallot production in Plampang District, Sumbawa Regency at MT II in Pattern 1 is IDR 45,421,988.91/Ha/MT, while in Pattern 2 it is IDR 35,282,003.13/Ha/MT. Meanwhile, the average income in Pattern 1 is IDR 27,462,774.04/Ha/MT, while in Pattern 2 it is IDR 21,741,188.33/Ha/MT. (3) The ratio of Marginal Product Value (NPMx) to the Average Price of Production Factors (Px) for each variable does not have a value equal to one. The use of production factors of land area (X1), seeds (X2), and labor (X3) is not efficient. Meanwhile, the use of fertilizer (X4), pesticides (X5), and land rental (X6) is inefficient