Jurnal Agrimansion
Not a member yet
    448 research outputs found

    ANALISIS BIAYA DAN PENDAPATAN USAHA PENJUALAN RUJAK KELILING DI KOTA MATARAM

    Full text link
    Usaha dagang rujak keliling merupakan salah satu jenis kegiatan perdagangan di bidang informal yang memproduksi dan mendistribusikan buah-buahan yang sudah dipotong-potong dan disajikan dengan bumbu khas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis biaya yang dikeluarkan dan pendapatan yang diperoleh unit usaha penjualan rujak keliling di Kota Mataram. (2) Menganalisis kelayakan usaha penjualan rujak keliling di Kota Mataram. (3) Mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang dihadapi oleh pedagang rujak keliling di Kota Mataram.Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah usaha penjualan rujak keliling di Kota Mataram. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara Purposive Sampling di 6 (enam) kecamatan di Kota Mataram. Jumlah responden dalam penelitian ini ditentukan secara Quota Sampling, yaitu sebanyak 30 orang yang diambil masing-masing 5 orang dari setiap kecamatan yang ada di Kota Mataram. Jenis data yang digunakan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Total biaya produksi yang diperoleh sebesar Rp 318.428 per hari atau sebesar Rp 8.279.119 per bulan, pendapatan yang sebesar Rp 162.906 per hari atau Rp 4.235.548 per bulan. Pendapatan usaha penjualan rujak keliling lebih tinggi dari rata-rata upah minimum regional Kota Mataram Tahun 2022 yaitu Rp. 2.416.953. (2) Nilai R/C yang diperoleh sebesar 1,5 yang berarti setiap Rp 1 pengeluaran biaya dapat memberikan penerimaan sebesar Rp 1,5. (3) Kendala yang dihadapi usaha penjualan rujak keliling yaitu sifat bahan baku buah-buahan yang bersifat musiman harga bahan baku relative lebih mahal dan keadaan cuaca yang tidak menentu.   &nbsp

    ANALISIS PENDAPATAN DAN PEMASARAN AGROINDUSTRI TELUR ASIN DI KECAMATAN SANDUBAYA KOTA MATARAM

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen usaha agroindustri telur asin di Kecamatan Sandubaya Kota Mataram, mengetahui pendapatan pengusaha agroindustri telur asin di Kecamatan Sandubaya Kota Mataram, mengetahui besar margin pemasaran agroindustri telur asin di Kecamatan Sandubaya Kota Mataram dan menginventarisir alasan pengusaha telur asin di Kecamatan Sandubaya Kota Mataram pasif beroperasi. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah agroindustri telur asin di Kecamatan Sandubaya Kota Mataram. Penentuan daerah sampel menggunakan purposive sampling yaitu Kecamatan Sandubaya Kota Mataram dengan pertimbangan bahwa kecamatan tersebut merupakan kecamatan dengan populasi pengusaha agroindustry tertinggi di Kota Mataram. Jumlah responden pada penelitian ini sebanyak 8 responden yang ditentukan secara sensus. Jenis data yang digunakan yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Analisis data yang digunakan yaitu analisis manajemen usaha, pendapatan, efisiensi pemasaran, dan menginventarisir alasan pengusaha pasif beroperasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Manajemen pada produksi agroindustri telur asin tidak menerapkan unsur-unsur manajemen mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan evaluasi pada hari-hari biasa; (2) Pendapatan pada agroindustri telur asin sebesar Rp. 213.208 per proses atau Rp 1.921.383 per bulan.; (3) Pemasaran telur asin  di Kecamatan Sandubaya Kota Mataram termasuk efisien, pada saluran pemasaran I memiliki margin pemasaran sebesar Rp. 636 ditingkat pedagang pengumpul, Rp. 483 ditingkat pedagang pengecer, dengan share harga sebesar 74 % dengan distribusi keuntungan 0,6 yaitu adil atau merata, pada saluran pemasaran II memiliki margin pemasaran sebesar Rp. 483, share harga sebesar 77 %  dan pada saluran pemasaran III memiliki share harga sebesar 100 %; (4) Alasan yang membuat beberapa pengusaha agroindustri telur asin di Kecamatan Sandubaya Kota Mataram pasif dan memiliki tingkat produksi rendah terdiri dari kelangkaan bahan baku yang menyebabkan pendapatan rendah, persaingan produk serupa, dan gagap teknologi yang berimbas pada cakupan pemasaran yang sempit. Sedangkan margin pemasaran tidak berpengaruh terhadap pasifnya usaha agroindustri  telur asin dikarenakan margin pemasaran rendah dan rantai pemasaran yang pendek

    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN DAGING AYAM OLEH RUMAH MAKAN TALIWANG DI KOTA MATARAM

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi jenis daging ayam yang digunakan sebagai bahan baku olahan ayam Taliwang oleh Rumah Makan Taliwang di Kota Mataram; (2) Menganalisis jumlah permintaan daging ayam yang digunakan sebagai bahan baku olahan ayam Taliwang oleh Rumah Makan Taliwang di Kota Mataram; (3) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging ayam yang digunakan sebagai bahan baku olahan ayam Taliwang oleh Rumah Makan Taliwang di Kota Mataram. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Dalam menentukan lokasi sampel digunakan metode purposive sampling dan dipilih 5 kecamatan yang ada di Kota Mataram, yakni Kecamatan Ampenan, Selaparang, Mataram, Sekarbela dan Cakranegara. Penentuan responden dalam penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling dan diambil sampel sebanyak 30 orang Pemilik Rumah Makan Taliwang di Kota Mataram. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Cara pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara dan pengisian kuesioner. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Regresi Linear Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Jenis daging ayam yang digunakan sebagai bahan baku olahan ayam Taliwang oleh Rumah Makan Taliwang di Kota Mataram adalah daging Ayam Buras, daging Ayam Pejantan dan daging Ayam Ras Pedaging; (2) Rata-rata permintaan dari daging ayam yang digunakan sebagai bahan baku olahan ayam Taliwang oleh Rumah Makan Taliwang di Kota Mataram setiap bulannya adalah sebanyak 348,70 kg. Rata-rata permintaan daging Ayam Buras setiap bulannya adalah sebanyak 395,76 kg (1.649 ekor); rata-rata permintaan daging Ayam Pejantan setiap bulannya sebanyak 269,64 kg (1.284 ekor); dan rata-rata permintaan daging Ayam Ras Pedaging setiap bulannya sebanyak 380,70 kg (810 ekor); (3) Faktor yang secara signifikan mempengaruhi permintaan daging ayam yang digunakan sebagai bahan baku olahan ayam Taliwang oleh Rumah Makan Taliwang di Kota Mataram adalah Harga Daging Ayam (X1) dan Jumlah Konsumen Rumah Makan (X3). Kemudian, koefisien elastisitas Harga Daging Ayam (X1) dan Pendapatan Pemilik Rumah Makan (X2) seluruhnya < 1 atau tergolong inelastis yang artinya perubahan pada variabel Harga Daging Ayam (X1) dan Pendapatan Pemilik Rumah Makan (X2) sebesar 1% menyebabkan perubahan pada Permintaan Daging Ayam (Y) kurang dari 1%

    PERILAKU BISNIS BUDIDAYA KOLAM IKAN DI KOTA TASIKMALAYA

    Full text link
    The fisheries sector is a potential sector but with stagnant development in Tasikmalaya City. Hence, the importance of identification of driving factors of entrepreneurial behavior in fisheries sectors emerged. This research aims to study the determinants of entrepreneurial behavior and their effect on fisheries business performance in Tasikmalaya City. The research was conducted in Tamansari and Mangkubumi Districts involving 100 fish farm owners. Structural equation model (SEM) analysis was employed for data analysis. Results revealed the positive influence of individual characteristics and environment influence on entrepreneurial behavior. The results also confirmed the positive effect of entrepreneurial behavior on business performance

    DINAMIKA DAN TANTANGAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI WILAYAH PULAU KECIL (STUDI KASUS GILI MENO, TRAWANGAN DAN AIR)

    Full text link
    Gili Matra is a small island in the northern part of Lombok Island that is vulnerable to climate change's impacts. Rising sea levels, coastline changes, abrasion, rising earth temperatures, and global warming consequences cause climate change. The pressure on the need for space to develop facilities and infrastructure to support tourism has resulted in a change in land use from green open land to built-up land. Based on these problems, this research aims to describe the dynamics and challenges in regulating land use in Gili Matra. The method used in this research is a descriptive, evaluative analysis using policy analysis and DPSIR (Drivers, Pressures, States, Impacts, Responses) analysis to facilitate systematic thinking in analyzing research objectives. The results of this study indicate that tourism development is a trigger for the development of space requirements in Gili Matra, which causes changes in land use. In addition, there needs to be more overlap in determining area functions and spatial planning, resulting in stronger implementation of spatial use control in Small Islands

    STUDI KELAYAKAN TEKNIS DAN FINANSIAL IRIGASI TETES PADA TANAMAN CABAI RAWIT DI LAHAN KERING KABUPATEN LOMBOK UTARA

    Full text link
    Menanam di lahan kering memiliki tantangan yang cukup besar diantaranya ketersediaan air yang terbatas, tingkat adopsi teknologi yang masih rendah, serta infrastruktur pertanian yang belum memadai. Teknologi  yang dapat dikembangkan di lahan kering adalah irigasi tetes. Teknologi irigasi yang tepat akan dapat meningkatkan produktivitas tanaman sehingga juga dapat meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan teknis dan finasial irigasi tetes yang diterapkan pada tanaman cabai di lahan kering. Penelitian dilakukan di lahan kering Desa Slengen Kecamatan Kayangan, Lombok Utara pada bulan Mei-November 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kelayakan penerapan sistem irigasi tetes yang mencakup luas lahan penanaman, waktu penanaman, dan efisiensi irigasi tetes dan kelayakan finansial yag diukur dari R/C Ratio. Hasil penelitian menujukkan bahwa instalasi irigasi tetes yang dirancang untuk luas lahan 227,5 m2 di lahan kering memiliki efisiensi keseragaman penyebaran air sebesar 89,90 % dengan kriteria baik berdasarkan standar ASAE American Society of Agricultural Engineers). Selain itu, berdasarkan R/C Ratio penggunaan irigasi tetes di lahan kering untuk usaha tani budidaya cabai rawit selama 5 kali panen juga cukup layak untuk dikembangkan dengan nilai sebesar 1.31. Nilai R/C Ratio ini akan semakin besar dengan penambahan masa panen

    EFISIENSI SALURAN PEMASARAN KEMIRI (ALEURITES MOLUCCANA) PADA KELOMPOK TANI HUTAN WAHANA KAWASAN DI HUTAN KEMASYARAKATAN GUNUNG SASAK, KABUPATEN LOMBOK BARAT

    Full text link
    Mount Sasak Community Forest (HKm) has the potential that can be utilized by the surrounding community through the utilization of Non-Timber Forest Products (NTFPs). The Wahana Kawasan Forest Farmer Group (KTH) is one of the groups that utilizes and manages NTFPs in the form of candlenuts in the Mount Sasak HKm. In the production and utilization activities of candlenut, it will focus on marketing channels as a form of effort made by a person or marketing institution to achieve a level of marketing success. The method used in this research is descriptive with a total of 32 respondents. The sampling technique was carried out by purposive sampling method. Determination of the number of respondents for intermediary traders is determined by the snowball sampling method. The results showed that there were 2 marketing channels. The marketing margin of marketing channels 1 and 2 has the same value of Rp. 2,000/kg. Meanwhile, the farmer's share obtained by marketing channel 1 amounted to 67% and marketing channel 2 amounted to 83%. The level of marketing efficiency in channel 1 of 7.8% indicates a less efficient marketing channel and marketing channel 2 of 3.7% indicates an efficient marketing channel

    TRANSFORMASI PEREKONOMIAN KABUPATEN LOMBOK TENGAH: SUATU TINJAUAN SEKTOR BASIS

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam mengenai transformasi ekonomi Kabupaten Lombok Tengah dari kontribusi output sektoral perekonomian, pola pertumbuhan dan klasifikasi sektor perekonomian, serta sektor basis (unggulan) di Kabupaten Lombok Tengah. Jenis data penelitian adalah data sekunder berupa data time series tahun 2018-2022. Unit analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Struktur PDRB sektoral Provinsi Nusa Tenggara Barat sebagai wilayah referensi dan Struktur PDRB sektoral Kabupaten Lombok Tengah sebagai wilayah yang dianalisis. Metode yang diterapkan dalam riset ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Data yang tersedia dianalisis menggunakan pendekatan Tipologi Klassen dan analisis Location Quotient (LQ). Hasil penelitian menunjukkan sektor pertanian sebagai sektor terbesar dalam kontribusinya membentuk PDRB Kabupaten Lombok Tengah. Berdasarkan Klassen Typology terdapat 5 sektor termasuk pada sektor Maju dan Tumbuh Cepat (kuadran I); 3 sektor tergolong pada sektor maju tapi tertekan (kuadran II), 8 sektor tergolong potensial dan berkembang (kuadran III); sektor pertambangan dan penggalian masuk kategori sektor yang relatif tertinggal (kuadran IV). Berdasarkan analisis LQ, terdapat 8 sektor yang masuk kategori sektor basis

    ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI BAWANG MERAH DENGAN SISTEM BAGI HASIL DI KECAMATAN WERA KABUPATEN BIMA

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui jenis sistem bagi hasil usahatani bawang merah yang diterapkan di Kecamatan Wera Kabupaten Bima; (2) Untuk mengetahui kelayakan usahatani bawang merah di Kecamatan Wera Kabupaten Bima; (3) Untuk mengetahui kendala usahatani bawang merah dengan sistem bagi hasil di Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Unita analisisnya adalah ushatani bawang merah dengan sistem bagi hasil di Desa Hidirasa dan Desa Ranggasolo Kecamatan Wera Kabupaten Bima. Penentuan jumlah sampel responden menggunakan “quota sampling” yaitu dengan menetapkan 30 orang dan penentuan jumlah sampel responden masing-masing desa menggunakan “proportional sampling” yaitu 16 sampel responden dari Desa Hidirasa dan 14 sampel responden dari Desa Ranggasolo. Pengumpulan data dilakukan dengan cara survey yaitu wawancara langsung dengan responden dengan alat bantu kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis biaya, analisis pendapatan, analisis kelayakan, dan analisis kendala. Hasil penelitian ini yaitu rata-rata biaya produksi usahatani bawang merah sebesar Rp. 20.065.885/LLG atau Rp. 87.242.979/Ha. Rata-rata produksi bawang merah yaitu 2.705 Kg/LLG atau 11.761 Kg/Ha, rata-rata harga jual Rp. 15.933 dan rata-rata pendapatan Rp. 23.033.781/LLG atau Rp. 100.146.876/Ha. Semua responden menggunakan sistem mrapat (80:20) pada usahatani bawang merahnya. Rata-rata R/C Ratio usahatani bawang merah yaitu 2,1. Kata kunci: Bawang merah, Bagi hasil, Kelayakan.   ABSTRACT This research aims to (1) find out the type of onion farming profit-sharing system implemented in Wera District, Bima Regency; (2) determine the feasibility of shallot farming in Wera District, Bima Regency; (3) identify the obstacles to shallot farming using a profit-sharing system in Wera District, Bima Regency. This research uses a descriptive method. The unit of analysis is shallot farming with a profit-sharing system in Hidirasa Village and Ranggasolo Village, Wera District, Bima Regency. The number of sample respondents was determined using "quota sampling," with 30 people selected, and the number of sample respondents for each village was determined using "proportional sampling," with 16 sample respondents from Hidirasa Village and 14 sample respondents from Ranggasolo Village. Data collection was carried out through a survey, involving direct interviews with respondents using a questionnaire tool. The data analysis included cost analysis, income analysis, feasibility analysis, and obstacle analysis. The results of this research show that the average production cost of shallot farming is IDR 20,065,885/LLG or Rp. 87,242,979/Ha. The average production of shallots is 2,705 Kg/LLG or 11,761 Kg/Ha, with an average selling price of IDR 15,933 and average income of Rp. 23,033,781/LLG or Rp. 100,146,876/Ha. All respondents use the mrolimo (80:20) system in their shallot farming. The average R/C Ratio for shallot farming is 2.1. Keywords: Red Onion, Profit Sharing, Feasibilit

    ANALISIS INTEGRASI PASAR JAGUNG HIBRIDA DI PULAU SUMBAWA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis integrasi pasar jagung hibrida dalam jangka pendek, dan (2)menganalisis integrasi pasar jagung hibrida dalam jangka panjang di Pulau Sumbawa, menggunakan metode deskriptif.Unit analisis dalam penelitian ini harga jagung hibrida per bulan di level pasar kabupaten yang berada di Pulau Sumbawadaritahun 2016 sampai 2020. Jenis data yang digunakan yaitu data kuantitatif. Analisis data yang digunakan adalah model regresi Ravallion dan Heytens (1986) dan Index Of Market Connection (IMC). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : (1) Pemasaran jagung hibrida di Pulau Sumbawa menunjukkan integrasi pasar dalam jangka pendek antara Pasar Sumbawa dengan Sumbawa, dan antar pasar Dompu dengan Bima dan sebaliknya, (2) Dalam jangka panjang pasar jagung hibrida di Pulau Sumbawa terintegrasi antar satu dengan pasar lainnya baik pasar lokal maupun pasar rujukan pada keempat pasar yaitu pasar: Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu dan Bima. Petani diharapkan secara aktif mencari informasi pasar baik dari tingkat konsumen maupun pedagang, sehingga petani mengetahui dan memilih pola saluran yang paling efisie

    308

    full texts

    448

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agrimansion
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇