Berkala Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (BIMFI)
Not a member yet
54 research outputs found
Sort by
NARRATIVE REVIEW: MONSTERA DELICIOSA SEBAGAI ANTIBAKTERI DALAM SEDIAAN SPRAY HYDROGEL 3 IN 1
Introduction: Monstera deliciosa have the potential to be developed as anti-bacterial drugs due to secondary metabolite compounds such as tannins, steroids, saponins, flavonoids and alkaloids. The purpose of this review is to demonstrate potential of Monstera deliciosa as an antibacterial in spray hydrogel 3 in 1 spray dosage form.
Methods: This narrative review conducted the method of literature review or the secondary data compilation from several scientific journal such as wiley, sciencedirect, portal garuda, and google scholar.
Result: Monstera deliciosa have several volatile components that have been shown antibacterial activity included 1,6-Cyclodecadiene, 6,10,14-trimethyl-2-Pentadecanone, naphthalene, limonene, 1–methyl–5–methylene–8-(1-methylethyl), and 2-Furanmethanol so it can be used as an antibacterial agent in spray hydrogel 3 in 1 spray dosage form.
Conclusion: Monstera deliciosa have the potential to be developed as anti-bacterial in hydrogel 3 in 1 preparation.Pendahuluan: Monstera deliciosa memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat antibakteri karena memiliki metabolit sekunder seperti steroid, saponin, flavonoid, dan alkaloid. Tujuan dari penulisan review ini, yaitu untuk menunjukkan potensi Monstera deliciosa sebagai antibakteri dalam bentuk sediaan spray hydrogel 3 in 1.
Metode: Penelusuran jurnal atau pengumpulan data sekunder pada berbagai platform jurnal ilmiah seperti wiley, sciencedirect, portal garuda, dan google cendekia.
Hasil: Monstera deliciosa memiliki beberapa komponen volatil yang telah terbukti memiliki aktivitas sebagai antibakteri diantaranya 1,6-siklodekadiena, 6,10,14-trimetil-2-pentadekanon, naptalen, limonen, 1–metill–5–metilen–8-(1-metiletil), dan 2-Furanmetanol sehingga dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri dalam sediaan hidrogel semprot.
Kesimpulan: Monstera deliciosa memiliki potensi sebagai antibakteri dalam sedian spray hydrogel 3 in 1
Review: Interaksi Antara Obat Konvensional dan Herbal untuk Diabetes Mellitus
Introduction: The prevalence of Diabetes Mellitus (DM) in Indonesia is high and has even fluctuated from 422 million to 463 million in 5 years. In the management of DM, one of which is pharmacological therapy using antihyperglycemic drugs (AHD). Currently, besides AHD, people also use herbs to treat DM. While active herbal compounds that have been shown to contribute to DM treatment are diverse and multicomponent, not all of these components are known to have therapeutic effects. Thus, the aim of this literature review is to determine the interactions that might occur between conventional and herbal drugs for DM.
Method: A literature search was conducted in May 2020. The sites used were Google Scholar, Elsevier and NCBI. The keywords used to find the journal sources were "drug interactions with diabetes and herbs", "interaction of diabetic drugs and herbs", "herbs for diabetes", and "herbs for diabetes". The journals used as sources totaled 15 journals with a focus on in vivo and clinical research.
Results : Multi components in these herbs, when used together with AHD, have the potential to cause interactions. Several studies reported that AHD and herbs for antidiabetic have synergistic or antagonistic interactions. Based on the literature, some drug and herbal interactions can occur, such as Metformin, Glibenclamide and Pioglitazone with Aloe vera interact synergistically.
Conclusion: The potential for antagonistic and synergistic interactions emerged in several studies on herbal interactions with OAH.Pendahuluan: Prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia tinggi dan bahkan mengalami fluktuasi dari 422 juta jiwa menjadi 463 juta jiwa dalam 5 tahun. Pada tatalaksana penyakit DM, salah satunya ialah terapi farmakologi menggunakan Obat Antihiperglikemik (OAH). Saat ini selain OAH, masyarakat juga menggunakan herbal untuk mengatasi DM. Senyawa aktif herbal yang telah terbukti berkontribusi dalam pengobatan beragam dan multikomponen, namun tidak semua komponen tersebut diketahui memberikan efek terapeutik pada DM. Maka, tujuan dari tinjauan pustaka ini untuk mengetahui interaksi yang terjadi antara obat konvensional dan herbal untuk DM.
Metode: Pencarian literatur dilakukan pada bulan Mei 2020. Situs yang digunakan adalah Google Scholar, Elsevier dan NCBI. Kata kunci yang digunakan untuk menemukan sumber jurnal ialah “interaksi obat DM dan herbal”, “interaction of diabetic drugs and herbs”, “herbal untuk diabetes”, dan “herbs for diabetes”. Jurnal yang digunakan sebagai sumber berjumlah 15 jurnal dengan fokus penelitian secara in vivo dan klinis.
Hasil: Multikomponen pada herbal tersebut jika digunakan bersamaan dengan OAH berpotensi untuk menimbulkan interaksi, beberapa studi melaporkan bahwa OAH dan herbal untuk antidiabetes memiliki interaksi sinergis atau antagonis. Berdasarkan pustaka beberapa penelitian interaksi obat dan herbal bisa terjadi, seperti Metformin, Glibenklamid dan Pioglitazon dengan Aloe vera berinteraksi sinergis.
Kesimpulan: Potensi interaksi antagonis dan sinergis muncul pada beberapa hasil penelitian interaksi herbal dengan OAH
Optimasi Formula Patch Transdermal Ekstrak Etanol Daun Seledri untuk Pengobatan Hipertensi
Introduction: Hypertension is one of the biggest health problems for Indonesian people. Celery leaves are a plant that can be used to treat hypertension. Research shows that the ethanol extract of celery leaves at a dose of 150 mg / day can reduce blood pressure. Antihypertensive drugs have low oral bioavailability due to first pass metabolism in the liver. The use of transdermal patches can improve patient comfort and may improve low oral bioavailability. One of the important components in the patch preparation is a polymer matrix consisting of hydrophilic (PVP K-30) and hydrophobic (EC N-20) polymers.
Methods: this review article using literature review and evaluation results from research journals.
Results: Optimization of the formula for transdermal patch preparations was carried out using three variations of the ratio of PVP K-30 and EC N-20 for the transdermal patch polymer matrix, namely 1: 2, 2: 3, and 1: 3. The best transdermal patch formula of celery leaf ethanol extract in terms of physical characteristics parameters and has the potential to provide optimal release of active ingredients to reduce blood pressure, namely the formula with a combination of polymer matrix PVP K-30 and EC N-20 2: 3.
Conclusion: The writing of this review article is to obtain the best comparison of hydrophilic polymer (PVP K-30) and hydrophobic polymer (EC N-20) in celery leaf extract patch preparations (Apium graveolens) which have the potential to provide optimal release of active ingredients to lower blood pressure.Pendahuluan: Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar bagi masyarakat Indonesia. Daun seledri merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit hipertensi. Penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol daun seledri dengan dosis 150 mg/hari dapat menurunkan tekanan darah. Obat antihipertensi memiliki bioavailabilitas oral yang rendah karena mengalami first pass metabolism di hati. Penggunaan patch transdermal dapat meningkatkan kenyamanan pasien dan dapat memperbaiki biaovaibilitas oral yang rendah. Salah satu komponen penting dalam sediaan patch adalah matriks polimer yang terdiri dari polimer hidrofilik (PVP K-30) dan hidrofobik (EC N-20).
Metode: penulisan artikel review ini menggunakan kajian pustaka hasil review dan evaluasi dari jurnal-jurnal penelitian.
Hasil: Optimasi formula sediaan patch transdermal dilakukan dengan menggunakan tiga variasi perbandingan PVP K-30 dan EC N-20 untuk matriks polimer patch transdermal yaitu 1:2, 2:3, dan 1:3. Formula patch transdermal ekstrak etanol daun seledri terbaik ditinjau dari parameter karakteristik fisik dan berpotensi memberikan pelepasan bahan aktif secara optimal untuk menurunkan tekanan darah yaitu formula dengan kombinasi matriks polimer PVP K-30 dan EC N-20 2:3.
Kesimpulan: penulisan artikel review ini adalah memperoleh perbandingan polimer hidrofilik (PVP K-30) dan polimer hidrofobik (EC N-20) terbaik pada sediaan patch ekstrak daun seledri (Apium graveolens) yang berpotensi memberikan pelepasan bahan aktif secara optimal untuk menurunkan tekanan darah
STUDI LITERATUR PEMANFAATAN SINTESIS SENYAWA PIPERIDINIL-P-KUMARAMIDA DARI ASAM-P-KUMARAT YANG DIPEROLEH DARI LIMBAH SEKAM PADI (ORYZAE SATIVA) SEBAGAI OBAT ANTI KANKER LEUKEMIA
Introduction: In 2018, the incidence of cancer in Indonesia reached 136.2 per 100,000 population and leukemia cancer was in the fifth position as the deadliest cancer and has killed 11,314 lives. The high cost of treating leukemia has costed the funding budget in the JKN-KIS program up to Rp3.4 trillion. Researchers have tried to use natural ingredients to develop new anti-leukemia agents.
Content: One of the compounds that can inhibit leukemia cancer is piperidinyl-p-coumaramide, a derivative of p-coumaric acid which can be found and isolated from rice plant waste or Oryzae sativa. Each year, 79.2 million tons of rice are produced and generate 19.8 million tons of husk. The aim of this article is to utilize rice husk as a piperidinyl-p-coumaramide precursor for leukemia drug.
Method: The method used was stratified extraction of the husk waste using a water-methanol and ethyl acetate solution. The extract was then isolated and purified by TLC. After that, the assay was analyzed using HPLC. P-coumaric acid is modified into piperidinyl-p-coumaramide by reacting it with piperidine.
Conclusion: The activity of piperidinyl-p-coumaramide as an anti-leukemic cancer on p388 cells can be tested in vitro and in vivo. According to the literature study, 100 grams rice husk may generate 265.4 ± 2.4 milligrams p-coumaric acid that can be synthesized into piperidinyl-p-coumaramide which has IC50 around 5,34 µg/mL thus can be utilized as an anti-leukemia cancer.Pendahuluan: Pada tahun 2018, angka kejadian kanker di Indonesia mencapai 136,2 per 100.000 penduduk serta kanker leukemia menduduki posisi kelima sebagai kanker paling mematikan dan telah merenggut 11.314 jiwa. Tingginya biaya pengobatan leukemia menjadikan penyerapan anggaran pembiayaan dalam program JKN-KIS sebesar Rp3,4 triliun. Melihat masalah tersebut, para peneliti mencoba memanfaatkan bahan alam untuk mengembangkan agen anti-leukemia yang baru.
Isi: Salah satu senyawa yang dapat menghambat kanker leukemia adalah piperidinil-p-kumaramida, turunan dari asam-p-kumarat yang dapat ditemukan dan diisolasi dari limbah tanaman padi atau Oryzae sativa. Setiap tahunnya, 79,2 juta ton tanaman padi diproduksi dan menghasilkan 19,8 juta ton limbah sekam. Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengoptimalisasi pemanfaatan limbah sekam padi sebagai prekursor piperidinil-p-kumaramida untuk antikanker leukemia.
Metode: Metode yang digunakan adalah ekstraksi bertingkat limbah sekam dengan menggunakan larutan air-metanol dan etil asetat. Ekstrak lalu diisolasi dan dipurifikasi KLT. Setelah itu, penetapan kadar dianalisis menggunakan KCKT. Asam-p-kumarat dimodifikasi menjadi piperidinil-p-kumaramida dengan cara mereaksikannya dengan piperidin.
Kesimpulan: Aktivitas piperidinil-p-kumaramida sebagai anti kanker leukemia pada sel p388 dapat diuji secara in vitro dan in vivo. Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan, sebanyak 100 gram limbah sekam padi dapat menghasilkan 265.4 ± 2.4 mg asam p-kumarat. Setiap 0,5 gram asam-p-kumarat dapat yang dapat disintesis menjadi piperidinil-p-kumaramida yang mempunyai IC50 sebesar 5,34 µg/mL sehingga dapat dimanfaatkan sebagai agen anti kanker leukemia.
 
Bergamot Essential Oil (Citrus bergamia) sebagai Terapi Alternatif Lanjutan untuk Komplikasi Kesehatan yang disebabkan oleh Internet Gaming Disorder (IGD)
Activities that are liked by everyone to fill the spare time, especially boys, is playing games online or video-games. The increased duration of playing games can be addictive when playing games and restlessness if he do not play games. If this things continues it can develop into Internet Gaming Disorder (IGD) or gaming disorder. In 2018, International Classification of Diseases (ICD) released an 11th revision and stated that “gaming disorder” was officially declared as a disease. IGD can also potentially cause depression, social difficulties, ADHD and substance abuse. The fruit of the bergamot plant (Citrus bergamia) can be used for bergamot essential oil (BEO) by squeezing and cold pressing the fruit skin. Bergamot essential oil is widely used as aromatherapy to improve mood and symptoms of stress disorders. The aromatic materials will stimulate the autonomic nervous system so the receptors will receive BEO containing linalyl acetate and linalool. The odor will be delivered to the limbic system so that it can improve mood and trigger the release of hormones serotonin and endorphinsKegiatan yang disukai oleh semua orang untuk mengisi waktu luang, terkhusumya disukai oleh laki-laki, adalah bermain game online atau video-game. Meningkatnya durasi bermain game dapat menimbulkan kecanduan bermain game dan rasa resah jika tidak bermain game. Jika hal ini terus berlanjut dapat berkembang menjadi Internet Gaming Disorder (IGD) atau gaming disorder. Pada tahun 2018, International Classification of Diseases (ICD) mengeluarkan revisi ke-11 dan menyatakan bahwa “gaming disorder” resmi dinyatakan sebagai penyakit. IGD juga dapat berpotensi menyebabkan depresi, kesulitan sosial, ADHD, dan penyalahgunaan zat. Buah dari tanaman bergamot (Citrus bergamia) dapat digunakan untuk minyak esensial bergamot (BEO) dengan cara memerut dan cold pressing kulit buah. Minyak esensial bergamot banyak digunakan sebagai aromaterapi untuk meningkatkan suasana hati dan gejala-gejala gangguan stres. Bahan - bahan aromatik yang digunakan pada aromaterapi akan merangsang sistem saraf otonom sehingga saat reseptor akan menerima BEO dengan kandungan linalyl acetate dan linalool. Bau akan dihantarkan ke sistem limbik sehingga dapat memperbaiki suasana hati dan memicu pengeluaran hormon serotonin dan endorfi
Nano-Androcerum Nano-Androcerum: Inovasi Wound Healing Gel Dari Nanopartikel Daun Binahong dan Kayu Manis Sebagai Akselerator Regenerasi Sel Pada Luka Kronis
Luka kronis merupakan bentuk kerusakan jaringan pada kulit akibat infeksi, trauma berulang, dan sebab sistemik seperti diabetes mellitus serta membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Luka akan memicu mekanisme regenerasi sel yang meliputi tiga fase utama: inflamasi, proliferasi, dan pembentukan jaringan, tetapi adanya luka kronis akan menghambat penyembuhan luka (wound healing). Saat ini penggunaan obat sintesis masih menjadi pilihan utama, sedangkan pemanfaatan bahan alam sebagai obat untuk luka masih jarang dioptimalkan menjadi sediaan farmasetis. Selain itu, sifat fisikokimia bahan alam menyebabkan bioaktifnya sulit untuk menembus jaringan kulit. Pengembangan teknologi formulasi sediaan perlu dilakukan untuk mengoptimalkan potensi dari bahan alam dalam menunjang efektivitas pengobatan luka kronis. Formulasi sediaan nano gel dapat menjadi solusi untuk mengatasi hal tersebut. Nano Gel memiliki keunggulan seperti ukuran partikel kecil, lebih stabil, tidak lengket, memiliki efek pendinginan pada kulit dan secara estetika lebih disukai. Kandungan flavonoid dari daun binahong (Anredera corifolia) diketahui memiliki aktivitas antiinflamasi dengan menghambat enzim siklooksigenase dan lipoksigenase. Disamping itu kandungan sinamaldehid dari kayu manis (Cinnamomum verum) dapat mempercepat regenerasi sel dengan meningkatkan proses angiogenesis melalui up-regulation sinyal jalur PI3K dan MAPK serta telah terbukti memiliki aktivitas melawan bakteri gram positif dan gram negatif. Kombinasi kedua tanaman tersebut berpotensi mempercepat regenerasi sel pada luka melalui aktivitas antimikroba, mengurangi inflamasi dan meningkatkan proses angiogenesis. Formulasi nano gel akan membantu meningkatkan penetrasi bioaktif dan bentuk gel berperan sebagai wound dressing yang dapat melindungi luka dari kontaminasi. Dengan demikian, formulasi nano gel kombinasi sinergis dari aktivitas kedua tanaman tersebut diharapkan mampu menunjang dan mempercepat proses wound healing
Studi Penambatan Molekuler dan Prediksi ADMET Senyawa Bioaktif Beberapa Jamu Indonesia terhadap SARS-CoV-2 Main Protease (Mpro)
The novel coronavirus SARS-CoV-2 continues causing viral respiratory illness, known as Coronavirus Disease-2019 (COVID-19). COVID-19 is considered as the biggest global pandemic disease in 2020 and its antiviral therapies are still lacking worldwide. Current studies are still trying to find potential therapies of the disease, including from natural compounds. Therefore, it is important to acknowledge what the most effective herbs’ compounds can be used against the virus. Jamu is traditional medicine from herbs in Indonesia that possesses some medicinal properties. This research was done to find and explore the potential of Indonesian jamus as novel COVID-19 treatment. 283 bioactive compounds from Indonesian jamus were screened with ADMET (Absorption, Distribution, Metabolism, Excretion, and Toxicity) predictions and Lipinski’s Rule of Five parameters using ProTox-II and SwissADME. The 12 screened compounds then continued to be tested through molecular docking against SARS-CoV-2 Main Protease (Mpro) using AutoDock Vina. The result of our study showed that Curcuminol D has the lowest binding free energy of -6.9 kcal/mol and Ki (inhibition constant) of 2.99 µM compared to the other screened compounds. However, none of the screened compounds has lower binding free energy than the positive controls’, which valued -8.2 kcal/mol (Lopinavir) and -7.8 kcal/mol (Ritonavir). Despite their unfulfilled parameters, the other 271 compounds might have higher potential than the standard drugs. Therefore, the finding in the present study can be used as a starting point in the drug discovery process from natural compounds for treating COVID-19.Coronavirus jenis baru SARS-CoV-2 terus meyebabkan penyakit pernapasan, yang dikenal dengan Coronavirus Disease-2019 (COVID-19). COVID-19 dianggap sebagai penyakit pademi global terbesar pada tahun 2020 dan terapi antiviral COVID-19 masih kurang di seluruh dunia. Penelitian saat ini masih berusaha untuk menemukan terapi potensial untuk penyakit tersebut, termasuk dari senyawa alami. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui senyawa herbal apa yang paling efektif untuk melawan virus tersebut. Jamu merupakan obat tradisional yang berasal dari tumbuhan herbal di Indonesia dan memiliki beberapa khasiat obat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menemukan potensi jamu Indonesia dalam terapi COVID-19. Sebanyak 283 senyawa bioaktif dari jamu Indonesia disaring melalui penapisan berdasarkan parameter Lipinski’s Rule of Five dan prediksi ADMET (Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, Eksreksi, dan Toksisitas) menggunakan ProTox-II dan SwissADME. Sebanyak 12 senyawa hasil penapisan kemudian dilanjutkan untuk diuji melalui penambatan molekuler terhadap SARS-CoV-2 Main Protease (Mpro) menggunakan AutoDock Vina. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Kurkuminol D memiliki energi bebas ikatan (ΔG); sebesar -6,9 kkal/mol; dan konstanta inhibisi (Ki); sebesar 2,99 µM; terendah dibandingkan senyawa hasil penapisan lainnya. Namun, tidak ada senyawa hasil penapisan yang memiliki ΔG lebih rendah daripada ΔG kedua kontrol positif, yaitu sebesar –8,2 kkal/mol (Lopinavir) dan –7,8 kkal/mol (Ritonavir). Walaupun 271 senyawa lain tidak memenuhi syarat dalam penapisan, senyawa tersebut mungkin saja memiliki potensial yang lebih tinggi daripada obat standar. Oleh karena itu, penelitian ini dapat menjadi titik awal dalam proses pengembangan obat terapi COVID-19 dari senyawa alami
Pemanfaatan Daun Kersen (Muntingia calabura L.) dalam Penanganan Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus (DM) or better known as diabetes, is one of the diseases caused by high blood sugar accompanied by disorders of carbohydrate, fat, and protein metabolism as a result of insufficient insulin function. a study by Hendra Stevani, et al in 2016 concerning the effectiveness of the Decoction of Kersen Leaves (Muntingia calabura L.) on Reducing Blood Glucose Levels in Mice (Mus musculus). Cherry leaves are proven to reduce blood sugar levels conducted in animal experiments in the form of mice, with a concentration of 15%Diabetes Melitus (DM) atau yang lebih di kenal dengan sebutan kencing manis, merupakan salah satu penyakit yang disebabkan tingginya gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein sebagai akibat ketidakcukupan fungsi insulin. penelitian dari Hendra Stevani, dkk tahun 2016 mengenai efektifitas Rebusan Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Mencit (Mus musculus). Daun kersen terbukti dapat menurunkan kadar gula darah yang dilakukan pada hewan percobaan berupa mencit, dengan konsentrasi 15
Susu Fermentasi Anti Hipertensi ( SUFERANTIH)
Work is a man's duty when he is the head of the household. Long working hours cause physical fatigue both physically and psychologically. It will significantly affect the lifestyle that has an impact on the quality of health. Hypertension is a disease that is triggered due to physical and psychological fatigue. The drug that is often used as a pharmacological therapy for hypertension is captopril, which functions as an angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE I). On the other hand captopril has a high toxicological effect including kidney disorders and hypersensitivity reactions appear. So it is necessary to innovate antihypertensive therapy which functions the same as captopril but has no side effects. Fermented milk has a compound that has the potential as an ACE inhibitor which acts to prevent the formation of aldosterone-producing angiotensin II which causes a rise in blood pressure. Fermented milk is a mild preparation that can be consumed without knowing age restrictions. Consumption of fermented milk can be combined with a variety of healthy food menus and other drinks. In the process of lactic acid bacterial fermentation, it will turn beta casein into a compound that has the potential to be ACE I. However, adding to the great potential of fermented milk as an antihypertensive agent, people's misconceptions about milk need to be corrected first. Therefore, "SUFERANTIH" can be an alternative non-pharmacological therapy for hypertension that provides both curative and preventive effectsBekerja adalah kewajiban seorang pria ketika sudah menjadi kepala rumah tangga. Jam kerja yang panjang menyebabkan kondisi badan kelelahan baik secara fisik maupun psikis. Secara nyata akan berpengaruh pada pola hidup yang berdampak pada kualitas kesehatan. Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang dipicu akibat kelelahan fisik dan psikis. Obat yang sering digunakan sebagai terapi farmakologi hipertensi adalah kaptopril yang berfungsi sebagai Angiotensin Converting Enzym Inhibitor (ACE I). Disisi lain kaptopril memiliki efek ketoksikan yang tinggi diantaranya gangguan ginjal dan muncul reaksi hipersensitivitas. Sehingga diperlukan inovasi terapi antihipertensi yang fungsi kerjanya sama dengan kaptopril namun tidak memiliki efek samping ketoksikan. Susu fermentasi memiliki senyawa yang yang berpotensi sebagai ACE Inhibitor yang berperan mencegah terbentuknya angiotensin II penghasil aldosteron yang menyebabkan naiknya tekanan darah. Susu fermentasi menjadi sediaan ringan yang dapat dikonsumsi tanpa mengenal batasan usia. Konsumsi susu fermentasi dapat dikombinasikan dengan berbagai menu makanan maupun minuman sehat lainnya. Dalam proses fermentasi bakteri asam laktat akan mengubah kasein beta menjadi senyawa yang berpotensi sebagi ACE I. Namun, menambetapa besar potensi susu fermentasi sebagai antihipertensi, miskonsepsi masyarakat tentang susu perlu diluruskan terlebih dahulu. Oleh karena itu, “SUFERANTIH” dapat menjadi alternatif terapi non farmakologi untuk hipertensi yang memberikan efek kuratif sekaligus preventi
Upaya Penyembuhan Alopesia Androgenetik Melalui Obat-Obatan Baru Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Laki-Laki
Baldness in men can affect social interactions, thereby reducing quality of life. The type of baldness that most often affects men is Androgenetic Alopecia (AGA) which is caused by hormonal and gene factors. Efforts to find new drugs for AGA therapy are continuing. Various drugs that are currently being developed are Clascoterone with hormonal blocking mechanism; FOL-005 with affecting network repair mechanism; Cysclospoerine with inhibiting hair growth mechanismKebotakan pada pria dapat mempengaruhi interaksi sosial hingga menurunkan kualitas hidup. Jenis kebotakan yang paling sering menyerang pria adalah Alopesia Androgenetik (AGA) yang disesbabkan oleh faktor hormon dan gen. Usaha penemuan obat-obat baru untuk terapi AGA terus dilakukan. Berbagai obat yang kini tengah dikembangkan adalah Clascoterone dengan mekanisme memblok hormon; FOL-005 dengan mekanisme mempengaruhi perbaikan jaringan; Cysclospoerine dengan mekanisme menghambat pertumbuhan rambu