Berkala Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (BIMFI)
Not a member yet
    54 research outputs found

    Optimasi Natrium Alginat Dan Kalsium Klorida (Cacl2) Sebagai Agen Sambung Silang Nanopartikel Ekstrak Etanol Daun Katuk (Sauropus Androgynus (L.) Merr)

    No full text
    Obesity is defined as a condition with abnormal or excessive fat accumulation in adipose tissue so that it can interfere with health. The increasing prevalence of obesity was a major health problem worldwide. One effort to prevent obesity can be done by utilizing natural materials in Indonesia, including katuk leaves (Sauropus androgynus (L.) Merr). Katuk leaves contain kaempferol compounds which had the effect of reducing body fat or antiobesity. The nanoparticle formulation of katuk leaf ethanol extract made using a polymer of sodium alginate and calcium chloride (CaCl2) as a crosslinking agent. This study aims to determine the effect of the use of sodium alginate and calcium chloride (CaCl2) on physical characteristics in nanoparticle extracts of katuk leaf ethanol, and determine the nanoparticle formula with optimal physical characteristics. Optimized parameters were visual, transmittance, adsorption efficiency, particle size distribution, polydispersity index, zeta potential and particle morphology in the optimal formula of katuk leaf ethanol extract nanoparticles. Based on Design Expert 10.0.1 with the factorial design method, the optimal formula is obtained with a ratio of sodium alginate and calcium chloride (CaCl2) of 0.102%: 0.010%. Visual prediction results obtained 3 (clear); transmitting 90.66% and absorption efficiency 81.1359%. The t-test results showed that these observations differed insignificantly to the results of the predictions indicating that the equation of each optimization parameter was valid. The optimal formula had 66.4% units 54.59 nm of size nanoparticles and 33.6% units 440.1 nm, 0.465 of polydispersity index, -17.6 mV of zeta potential and particle morphology with a non-spherical shape in a loose aggregate.Obesitas didefinisikan sebagai keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebih di jaringan adipose sehingga dapat mengganggu kesehatan. Meningkatnya prevalensi obesitas merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Salah satu upaya pencegahan obesitas dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan alam di Indonesia antara lain daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr). Daun katuk mengandung senyawa kaempferol yang memiliki efek menurunkan lemak tubuh atau antiobesitas. Formulasi nanopartikel ekstrak etanol daun katuk dibuat dengan menggunakan polimer natrium alginat dan kalsium klorida (CaCl2) sebagai agen sambung silang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan natrium alginat dan kalsium klorida (CaCl2) pada karakteristik fisik dalam nanopartikel ekstrak etanol daun katuk, serta menentukan formula nanopartikel dengan karakteristik fisik optimal. Parameter yang dioptimasi adalah visual, transmitan, efisiensi penjerapan, disribusi ukuran partikel, indeks polidispersitas, zeta potensial dan morfologi partikel pada formula optimal nanopartikel ekstrak etanol daun katuk. Berdasarkan Design Expert 10.0.1 dengan metode factorial design diperoleh formula optimal dengan perbandingan natrium alginat dan kalsium klorida (CaCl2) sebesar 0,102% : 0,010%. Hasil prediksi yang didapatkan visual 3 (jernih); transmitan 90,66% dan efisiensi penjerapan 81,1359%. Hasil t-test menunjukkan hasil observasi tersebut berbeda tidak signifikan terhadap hasil prediksi menunjukkan bahwa persamaan dari masing-masing parameter optimasi adalah valid. Formula optimal mempunyai ukuran nanopartikel 54,59 nm sebesar 66,4% dan 440,1 nm sebesar 33,6%, indeks polidispersitas 0,465, zeta potensial -17,6 mV dan morfologi partikel dengan bentuk yang tidak sferis beragregat longgar

    Identifikasi dan Penetapan Kadar Senyawa Kuinin Fraksi Etil Asetat Kulit Batang Kina (Cinchona succirubra Pav. Ex Klotzsch) Secara KLT-Densitometri

    No full text
    Alkaloids quinine is found in the quinine plant which is the raw material for the manufacture of quinine pills that are effective in the treatment of malaria. Selection of the method, solvent, identification technique and characterization of the alkaloid quinine compound in the quinine plant (Cinchona succirubra Pav. Ex Klotzsch) need to be done in an effort to produce the compound with the best separation.Extraction by maceration method, identification of groups using phytochemical screening methods. Fractionation using liquid-liquid extraction method and column chromatography. Isolation using preparative chromatography method and TLC-Densitometry method. Maceration extraction obtained the filtrate with a reddish brown color. Phytochemical screening was positive for triterpenoids and alkaloids. Liquid-liquid extraction resulted in the water fraction, ethyl acetate fraction I, and ethyl acetate fraction II. TLC and identification of positive chemical reactions containing quinine in ethyl acetate fraction II. Column chromatography obtained results in the form of 4 fractionations with different colors. Preparative chromatography and compound isolation by TLC-Densitometry showed the average quinine content of ethyl acetate fraction was 15.30%. The ethyl acetate fraction of quinine stem bark (Cinchona succirubra Pav. Ex Klotzsch) produced average quinine alkaloids of 15, 30% according to the cultivated kina plant which contains up to 15% quinine alkaloids.  Alkaloid kuinin terdapat pada tanaman kina yang menjadi bahan baku untuk pembuatan obat pil kina yang berkhasiat dalam pengobatan penyakit malaria. Pemilihan metode, pelarut, teknik identifikasi dan karakterisasi senyawa alkaloid kina di dalam tanaman kina (Cinchona succirubra Pav. Ex Klotzsch) perlu dilakukan dalam upaya menghasilkan senyawa dengan pemisahan terbaik. Ekstraksi dengan metode maserasi, identifikasi golongan dengan metode screening fitokimia. Fraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair dan kromatografi kolom lambat. Isolasi dengan metode kromatografi preparatif dan metode KLT-Densitometri. Ekstraksi maserasi didapat hasil filtrat dengan warna coklat kemerahan. Skrining fitokimia hasil positif golongan triterpenoid dan alkaloid. Ekstraksi cair-cair didapat hasil fraksi air, fraksi etil asetat I, dan fraksi etil asetat II. KLT dan identifikasi perekasi kimia hasil positif mengandung kuinin pada fraksi etil asetat II. Kromatografi kolom didapat hasil berupa 4 fraksinasi dengan warna yang berbeda-beda. Kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP) dan isolasi senyawa dengan KLT-Densitometri didapat hasil kadar kuinin rata-rata fraksi etil asetat yaitu 15,30%. Fraksi etil asetat kulit batang kina (Cinchona succirubra Pav. Ex Klotzsch) menghasilkan kadar rata-rata kuinin sebesar 15,30% sesuai dengan tanaman kina yang dibudidayakan yang mengandung alkaloid kuinin sampai 15%. &nbsp

    Berbagai Tumbuhan Obat Tradisional Di Asia Dengan Aktivitas Antiasma

    Get PDF
    Natural ingredients are a good source of active compounds and drugs. The study of plant content is very interesting in the discovery of active compounds, especially for therapy in asthma. Asthma is a chronic disease with symptoms of wheezing, shortness of breath, chest tightness, and coughing. There are several mechanisms of action of anti-asthma compounds related to the types of asthma, namely H1 and H2 receptor inhibitors, reducing immunoglobin E levels, inflammation mediators, preventing secretion of cytokine Th2, and other specific mechanisms. The method used is literature study. The study was conducted by searching keywords such as herbs, anti-asthma, medicinal plants, and anti-asthmatic activity on electronic databases including ClinicalKey, Science Direct, PubMed, and Google Scholar. Therefore, data and explanations about potential medicinal plants found throughout Asia as alternative sources of asthma treatment were obtained.Thirty types of traditional medicinal plants in Asia that have the anti-asthma activity potential to have been obtained by various mechanisms of action. The plants activity data collected in this literature review indicate their use as an alternative source of asthma treatment.  Bahan alam merupakan sumber senyawa aktif dan obat yang baik. Kajian kandungan tumbuhan sangat menarik dalam ditemukannya senyawa aktif terutama untuk terapi pada penyakit asma. Asma merupakan penyakit kronis dengan gejala mengi, sesak napas, dada sesak, dan batuk. Ada beberapa mekanisme kerja senyawa anti-asma, yaitu penghambat reseptor H1 dan H2, penurunan kadar imunoglobin E, mediator inflamasi, pencegahan sekresi sitokin Th2, dan mekanisme spesifik lainnya. Metode yang digunakan berupa tinjauan pustaka. Studi tinjauan pustaka dilakukan dengan mencari beberapa kata kunci seperti tumbuhan herbal, anti-asma, medicinal plants, antiasthmatic activity, dan lain-lain pada database elektronik termasuk ClinicalKey, Science Direct, PubMed, dan Google Scholar. Data yang diperoleh dikumpulkan, dianalisis, dan disimpulkan sehingga didapatkan data dan penjelasan tentang tumbuhan potensial yang ditemukan di seluruh Asia sebagai sumber alternatif pengobatan asma. Tiga puluh jenis tumbuhan obat tradisional di Asia yang berpotensi memiliki aktivitas anti-asma berhasil diperoleh dengan berbagai macam mekanisme kerja. Data mengenai aktivitas tumbuhan yang dikumpulkan dalam tinjauan pustaka ini menunjukkan penggunaannya sebagai bagian dari strategi pengobatan herbal alternatif dan sumber pengobatan asma. &nbsp

    Peran Perawatan Kulit (Skincare) Yang Dapat Merawat Atau Merusak Skin Barrier

    Get PDF
    Skincare is something that is highly valued in the present. Not only women but skincare is now beginning to spread to men. Having a bright, white, acne-free skin and free from excess oil is a dream for all people. Before skincare, makeup was the first popular because of the obvious results that were clearly seen in a short time. But the world of makeup that always provides improvement for its users by covering or polishing certain parts of a person's body is now slowly starting to be abandoned and replaced with skincare. This is because so many studies and opinions have emerged that skincare is healthier and the results obtained last longer in the longer term than makeup. The large variety of skincare products that have arisen has caused controversy and consumptive behavior. It also can not be separated from the impact that is felt after the use of skincare for a long time. This article was created to discuss the impact arising from the use of skincare on the skin barrier or the outer layer of skin that protects the skin naturally from a variety of external factors that can damage the skin.Perawatan kulit merupakan hal yang sangat diagungkan pada masa sekarang. Tidak hanya wanita namun perawatan kulit kini mulai merambah pada pria. Memiliki kulit yang cerah, putih, bebas jerawat serta bebas dari minyak berlebih merupakan idaman bagi semua kaum. Sebelum dikenalnya perawatan kulit, istilah makeup lebih pertama populer dikarenakan hasil nyata yang terlihat secara jelas dalam waktu yang singkat. Namun dunia makeup yang senantiasa memberikan perbaikan bagi penggunanya dengan cara menutupi atau mempoles bagian tertentu dari tubuh seseorang kini lambat laun mulai ditinggalkan dan berganti dengan perawatan kulit. Hal ini dikarenakan banyaknya bermunculan penelitian dan opini bahwa perawatan kulit lebih menyehatkan dan hasil yang didapat lebih bertahan dalam jangka waktu yang lebih panjang dibanding makeup. Banyaknya variasi produk perawatan kulit yang bermunculan menimbulkan kontroversi dan perilaku konsumtif pada penggunanya. Hal ini juga tidak terlepas dari dampak yang terasa setelah penggunaan perawatan kulit dalam jangka waktu yang lama. Artikel ini dibuat untuk membahas dampak yang timbul dari penggunaan perawatan kulit terhadap skin barrier atau lapisan kulit terluar yang menjaga kulit secara alami dari berbagai macam faktor luar yang dapat merusak kulit

    Anti-Diabetes Mellitus Potential Compounds Of Flavonoid Citrus Peel: A Review On Mechanism

    No full text
    Diabetes therapy with commonly used of anti-diabetes drugs (OAD) have unwanted side effects and the high price become problematic, so it is necessary to find or develop other safer, more effective, and inexpensive OAD alternatives. Based on in vitro and in vivo research models, flavonoids are proven to have efficacy in lowering blood glucose levels. In the citrus peel, flavonoid compounds are abundant. However their utilization is not optimal even though the mass production is very high. This study is to review current information regarding the effects of flavonoids on citrus peel in diabetes management and their molecular mechanisms. A literature review was conducted using the electronic databases of Scopus, ScienceDirect, and the American Chemical Society covering the most recent literature published from the years 2010 till present. Several keywords were combined to ensure all in vitro and in vivo studies were obtained. Key words used were “citrus peel”, “flavonoid”, “diabetes mellitus”, “mechanism”, and “blood glucose”.Based on the results of research that has been conducted by previous researchers, it was found that the flavonoids of citrus peel can improve glucose metabolism, hepatic enzyme activity, insulin signalling and lipogenesis regulation, repair damage to pancreatic islet cells and stimulate insulin secretion, and protect against complications of diabetes. Overall, citrus peel flavonoids as an antidiabetic can prevent an increase in blood sugar levels and reduce insulin resistance, the two hallmarks in diabetes melitus. Flavonoids play a role in enzyme inhibition, which is the main mechanism of medicine as well as inhibition at the level of gene expression and its antioxidant properties. Further research on the safety and efficacy of flavonoids is needed for the development of citrus fruit peel flavonoids as an alternative therapy for diabetes melitus.  Terapi diabetes dengan obat anti diabetes (OAD) yang umum digunakan memiliki efek samping yang tidak diinginkan serta masih tingginya harga OAD menjadi permasalahan, sehingga perlu dicari atau dikembangkan alternatif OAD lain yang lebih aman, efektif, dan murah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan secara in vitro dan in vivo, flavonoid memiliki khasiat dalam menurunkan kadar glukosa darah. Kulit buah jeruk mengandung banyak senyawa flavonoid. Namun pemanfaatannya belum maksimal walaupun jumlah produksi jeruk dunia sangat tinggi.  Penulisan review ini bertujuan untuk mengulas informasi terkini mengenai efek flavonoid pada kulit jeruk dalam manajemen diabetes serta mekanisme molekulernya. Sebuah tinjauan pustaka dilakukan menggunakan database elektronik Scopus, ScienceDirect, dan American Chemical Society mencakup literatur terbaru dengan tahun publikasi penelitian dari 2010 sampai sekarang. Beberapa kata kunci dikombinasikan untuk memastikan semua penelitian in vitro dan in vivo didapatkan. Kata kunci yang digunakan: “citrus peel”, “flavonoid”, “diabetes melitus”, “mechanism”, dan “blood glucose”.Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti sebelumnya didapatkan bahwa flavonoid kulit jeruk dapat memperbaiki metabolisme glukosa, aktivitas enzim hati, pensinyalan insulin dan regulasi lipogenesis, memperbaiki kerusakan pada sel islet pankreas dan stimulasi sekresi insulin, dan melindungi dari penyakit komplikasi diabetes. Secara keseluruhan, flavonoid kulit jeruk sebagai antidiabetes yang dapat mencegah peningkatan kadar gula darah dan menurunkan resistensi insulin. Flavonoid berperan dalam penghambatan enzim yang utamanya merupakan mekanisme utama obat-obatan dan juga penghambatan pada level ekspresi gen dan sifatnya sebagai antioksidan. Penelitian lebih lanjut mengenai keamanan dan efikasi flavonoid dibutuhkan untuk pengembangan flavonoid kulit buah jeruk sebagai terapi alternatif diabetes melitus. &nbsp

    TARI LATIN UNTUK MANTANMU (SEDOTAN DARI GELATIN SOLUSI PENYELAMATAN PENYU)

    Get PDF
    Sebagai upaya untuk mewujudkan salah satu tujuan SDGs 2030 yang berhubungan dengan ekosistem lautan dan sebagai upaya untuk mengurangi segala jenis polusi kelautan, terutama dari aktivitas daratan, penulis menggunakan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) untuk mengembangkan sedotan yang berbahan dasar gelatin. “Tari Latin untuk Mantanmu” dibuat menggunakan mesin pencetak sedotan dengan menggantikan bahan dasar yang tadinya plastik dengan campuran gelatin dan air seperti yang tertera pada formulasi di atas. Setelah dicetak, sedotan gelatin dipisahkan dan dibiarkan pada suhu ruangan untuk mempercepat pengeringan dan mencegah agar sedotan tersebut tidak menempel satu sama lain. Selanjutnya, sedotan gelatin dikemas dalam plastik biodegradable dan siap dipasarkan ke masyarakat. “Tari Latin untuk Mantanmu” merupakan inovasi paling tepat dan efektif untuk menghadapi permasalahan – permasalahan yang terjadi di Indonesia saat ini, yang terkait dengan penumpukan sampah sedotan plastik. Selain itu, “Tari Latin untuk Mantanmu” dapat mencegah timbulnya penyakit yang disebabkan oleh sedotan plastik.  Dengan diwujudkannya inovasi ini, diharapkan dapat membantu Indonesia bebas dari sampah sedotan plastik dan menjaga keseimbangan ekosistem lautan

    Si Kenyal Manis, Obat Diabetes Mujarab

    Get PDF
    A serious disease occurs when the pancreas produce insufficient insulin is called diabetes. A various complications that affected to eyes, heart, and nervous system caused by diabetes. The use of synthetic drugs both oral and injection can cause a serious side effects like hypoglycemia. Based on these reasons, many researchers try to develop an anti-diabetic drugs derived from natural resources.One of the plants which potential to decrease glucose level in diabetic patients is Cinnamon (Cinnamomun zeylanicum). Cinnamon extract is very potent to decreases the glucose level in diabetic conditions. Based on this, the cinnamon extract will formulate in softgel forms. The manufacturing process occurs by encapsulate the extract with gelatin film as a shell material. Gelatin is a chewy shell material. The addition of plasticizer in gelatin is very important because its can affected to flexibility of capsule. The encapsulation process with rotary die method occurs using a special machine. The encapsulation process occurs by create a contract manufacture with third person. To ensure theproduct quality, a various test like organoleptic, weight-content uniformity, and rupture test was conducted.Penyakit serius yang terjadi ketika pankreas tidak dapat menghasilkan hormon insulin yang cukup ialah diabetes. Berbagai macam komplikasi yang berdampak pada mata, jantung dan sistem saraf disebabkan oleh diabetes. Penggunaan obat sintetik baik oral maupun injeksi dapat menyebabkan efek samping serius berupa hipoglikemi. Berdasarkan hal ini, banyak peneliti mencoba untuk mengembangkan obat anti-diabet dari bahan alam. Salah satu jenis tanaman yang berpotensi dalam menurunkan kadar glukosa pada pasien diabetes ialah kayu manis (Cinnamomum zeylanicum). Ekstrak dari kayu manis sangat berpotensi menurunkan kadar glukosa pada kondisi diabetes. Berdasarkan hal ini, ekstrak kayu manis akan diformulasikan dalam bentuk kapsul lunak.Proses pembuatan dilakukan dengan cara enkapsulasi ekstrak terstandar pada lembaran polimer gelatin sebagai cangkang. Gelatin merupakan polimer cangkang yang memiliki sifat kenyal.Penambahan bahan plasticizer pada gelatin sangat penting karena dapat mempengaruhi fleksibilitas kapsul. Proses enkaspulasi menggunakan metode rotary die dengan menggunakan mesin khusus.Proses enkapsulasi dilakukan dengan mengadakan kontrak pembuatan kepada pihak ketiga. Untukmenjamin kualitas sediaan, berbagai macam pengujian seperti organoleptis, keseragaman bobot,keseragaman kandungan, dan rupture test dilakukan

    Prediksi Efektivitas Efavirenz terhadap Berbagai Human-Infecting Retrovirus secara In-Silico Menggunakan Tools Bioinformatika dan Kimia Medisinal

    Get PDF
    Introduction: One strategy for HIV-1 (retroviridae) infection therapy is using NNRTI (non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor) to suppress viral replication by binding to the reverse transcriptase (RT-ase) enzyme. One drug in this class is Efavirenz (EFV). Based on the good effectivity of EFV in HIV-1, it is suspected that EFV also has activity against HIV-2 and HTLV. This study aims to determine the activity of EFV in the human-infecting retroviruses such as HIV-2, HTLV-1, and HTLV-2. Methods: This study uses Bioinformatics and Medicinal Chemistry tools such as, phylogenetic tree construction, pairwise sequence alignment, looking for RT-ase motifs and domains, predicting secondary structures, modelling 3D RT-ase structures, docking, and predicting hydrophobicity with Kyte-Doolittle Hydropathy Plot. Result: There is a common ancestor of the four viruses according to the constructed phylogenetic tree. There are also RT_like Superfamily domains at HIV-2 and HTLV-1. The similarity and identity value, and results of HTLV-1 and HTLV-2 RT-ase structural modeling do not give good results. Binding energy value of EFV to HIV-2 RT-ase is higher than HIV-1 RT-ase. Conclusion: EFV is not effective against HIV-2, HTLV-1 and HTLV-

    KIT DIAGNOSTIK DIFTERI BERBASIS HIBRIDISASI DNA

    Get PDF
    Introduction: Diphtheria is an upper respiratory tract infection caused by Corynebacterium diphtheria bacterium. The recent diphtheria outbreak caused a large number of deaths in rapid period. This is due to the absence of a fast and precise method of diphtheria diagnosis. Current diagnosis practices aredone by cultivating bacteria which takes a relatively long time, which is 3 to 5 days, while the patients may already develop severe infection by the time the results are accessible. Therefore, a sensitive, easy and fast diphtheria diagnostic method is needed so that patients suspected of being infected can betreated quicker.Methods: This advertorial is written based on literature study method.Result: The diphtheria diagnostic kit was designed based on the DNA hybridization method by using DNA microarray. There are probes on the microarray plate in the form of a single stranded DNA fragment that is complement to the unique area of gene that encodes diphtheria toxin. The test sample wasobtained from the preparation of the patient's throat smear and labeled with a fluorescence marker before dropped onto the plate. Thus, if there is diphtheria DNA in the patient's sample, hybridization will occur between diphtheria DNA and the complementary DNA probe. The occurrence of hybridization will be characterized by fluorescence as an indicator of whether patients have diphtheria or not. The application of this diagnostic kit can shorten the diagnosis of C. diphtheria to less than 24 hours .Conclusion: Diphtheria diagnostic kit based on DNA hybridization can be made and applied.Pendahuluan: Difteri merupakan penyakit infeksi saluran pernapasan atas yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Kemunculan kembali wabah difteri menyebabkan kematian dalam jumlah banyak dan dalam kurun waktu cepat. Hal ini diakibatkan karena tidak adanya metode diagnosisdifteri yang cepat dan tepat. Metode diagnosis umum yang saat ini dilakukan adalah kultivasi bakteri dan metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu 3 hingga 5 hari, dengan kondisi pasien yang mungkin sudah sangat parah ketika hasil diagnosis tersebut dapat dirilis. Oleh karena itu,dibutuhkan metode diagnosis difteri yang sensitif, mudah dan cepat sehingga pasien yang diduga terjangkit dapat ditangani dengan lebih cepat.Metode: Advertorial ini ditulis berdasarkan metode penelusuran pustaka.Hasil: Kit diagnostik difteri dirancang berdasarkan metode hibridisasi DNA menggunakan metode DNA microarray. Pada pelat microarray terdapat probe berupa fragmen DNA untai tunggal yang merupakan komplemen dari daerah unik berupa gen pengkode protein toksin difteri. Sampel uji diperoleh daripreparasi sampel apusan tenggorokan pasien kemudian dilabeli dengan penanda fluoresensi dan diteteskan ke pelat. Dengan demikian, jika terdapat DNA difteri di dalam sampel maka akan terjadi hibridisasi antara DNA difteri dengan probe. Terjadinya hibridisasi akan ditandai dengan fluoresensi yang merupakan indikator pasien terjangkit difteri atau tidak. Pengaplikasian kit diagnostik ini dapat mempersingkat proses diagnosis C. diphtheria menjadi kurang dari 24 jam.Kesimpulan: Kit Diagnostik Difteri berbasis hibridisasi DNA dapat dibuat dan diterapkan

    "Permen Jasa" (Permen Jahe-Daun Sirsak), Pemanfaatan Kombinasi Pengobatan dari Leluhur sebagai Solusi Alami dalam Pencegahan Penyakit Kardiovaskuler pada Pria dan Pekerja Menggunakan Produk Lokal

    Get PDF
    Minister of Health, Nila F. Moeloek, said that Indonesian men’s life expectancy is only 69 years. This data is worsened by the fact 9 last years of men is sickly age, leaving only 60 years of life span.There are many factors affecting the short age of Indonesian men, one of which is cardiovascular disease.Based on WHO 2012, cardiovascular disease claimed 31% of total world deaths and ¾ of it occurred in developing countries such as Indonesia. This is caused by high in fat, sugar and salt diet. As a result, risk factor for high prevalence of cardiovascular disease in Indonesian men is lifestyle. Of course, public participation would be minimal if they are forced to abandon the famous Indonesian culinary, one of the most delicious in the world. Even so, the problem suffered by these men cannot be ignored.Acaraki, or Nusantara’s ancient pharmacists have found herbs to deal with heart disease and its symptoms using ginger and soursop leaves. Phytochemistry has revealed the efficacy of Gingerol in ginger as a blood thinner, antihyperlipidemia, and antioxidants agent as well as efficacy of soursop as an effective vasodilator. All these properties are packed into herbal candy namely Permen Jasa.Menurut Menteri Kesehatan, Nila F.Moeloek, usia harapan hidup pria Indonesia hanyalah 69 tahun. Angka ini diperparah dengan 9 tahun terakhir pria yang merupakan usia tidak sehat,menyisakan hanya 60 tahun jangka waktu hidup kaum pria Indonesia. Terdapat banyak factor yang memengaruhi singkatnya umur pria Indonesia, salah satunya adalah penyakit kardiovaskuler. Berdasar data WHO 2012, penyakit kardiovaskuler merenggut 31% kematian total dunia dan ¾-nya terjadi di negara berkembang seperti di Indonesia. Hal ini sangat dipengaruhi diet masyarakat yang tinggi lemak, gula, dan garam. Alhasil, faktor risiko tingginya prevalensi penyakit kardiovaskuler pada pria Indonesia adalah gaya hidup. Tentunya, partisipasi masyarakat akan minim jika mereka dipaksa untuk meninggalkan kuliner Indonesia yang terkenal salah satu dari yang terlezat sedunia. Walau begitu, permasalahan yang diidap kaum pria ini tidak bisa dianggap remeh mengingat mayoritas tenaga pekerja di Indonesia dihantui penyakit paling mematikan di dunia.Acaraki, atau farmasis kuno Nusantara telah menemukan berbagai herbal untuk menangani penyakit jantung dan gejala-gejalanya menggunakan jahe dan daun sirsak. Fitokimia telah mengungkapkan khasiat Gingerol pada jahe sebagai pengencer darah, antihiperlipidemia, dan antioksidan serta khasiat sirsak sebagai vasodilator efektif. Semua khasiat in dikemas menjadi bentuk sediaan permen herbal bernilai jual internasional, yaitu Permen Jasa

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Berkala Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (BIMFI)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇