Berkala Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (BIMFI)
Not a member yet
54 research outputs found
Sort by
TINJAUAN COST-EFFECTIVENESS ANALYSIS PENGGUNAAN INSULIN SECARA ASEPTIC DISPENSING DI RAWAT INAP RSUD TEBET: TINJAUAN COST-EFFECTIVENESS ANALYSIS PENGGUNAAN INSULIN SECARA ASEPTIC DISPENSING DI RAWAT INAP RSUD TEBET
Diabetes mellitus is a chronic disease that requires continuous medical care. Diabetes mellitus is defined as a disease or chronic metabolic disorder with multiple etiologies. It is characterized by high blood sugar levels accompanied by impaired carbohydrate, lipid, and protein metabolisms as a result of insulin insufficiency. The prevalence of people with diabetes mellitus increases constantly every year. Insulin is one of the therapeutic options formed by PERKENI and PAPDI to treat hyperglycemic patients, both outpatients and inpatients. The purpose of this study is to find the cost-efficiency by sharing the insulin dispensed following rules of aseptic dispensing for inpatients at Tebet General Hospital. The method of the study was an observational study with a descriptive design. Data were obtained from the pharmacy installation of sterile medication mixing forms for inpatients who used shared insulin from January to September 2023. 81% of 121 hospitalized patients who were diagnosed with diabetes mellitus used insulin as the therapy. The cost-effectiveness review stated that the use of shared insulin which was dispensed aseptically could save insulin dispensing costs with an average savings 33% or Rp.1,435,943,- per month. It concludes that the use of shared insulin which is dispensed aseptically for inpatient care can save patient care costs and insulin dispensing costs at the pharmacy installation of the hospital.
Keywords: cost-efficiency, Diabetes Mellitus, inpatient, shared insulin, aseptic dispensing,Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan perawatan medis berkelanjutan. Diabetes mellitus didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat dari insufisiensi fungsi insulin. Prevalensi pengidap diabetes mellitus terus meningkat setiap tahunnya. Insulin merupakan salah satu pilihan terapi yang ditetapkan oleh PERKENI maupun PAPDI dalam penanganan pasien hiperglikemia baik pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi biaya pemakaian sharing insulin secara aseptic dispensing pada pasien rawat inap di RSUD Tebet. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan deskriptif. Data diperoleh melalui formulir pencampuran obat steril pasien rawat inap pengguna insulin secara sharing sesuai kaidah dan aturan aseptic dispensing yang dilakukan oleh Instalasi Farmasi. Data periode Januari sampai September 2023 didapatkan 81% dari total 121 pasien rawat inap dengan diagnosis diabetes mellitus menggunakan insulin sebagai terapi pengobatannya. Dari hasil tinjauan cost-effectiveness penggunaan sharing insulin dirawat inap secara aseptic dispensing dapat menghemat biaya pengeluaran insulin dengan rata-rata penghematan yang dihasilkan sebesar 33% atau Rp.1.435.943,- per bulannya. Penggunaan sharing insulin secara aseptic dispensing yang digunakan di rawat inap dapat menghemat biaya perawatan pasien dan biaya pengeluaran insulin di Instalasi Farmasi.
Kata Kunci : cost-efficiency, Diabetes Mellitus, Rawat Inap, sharing insulin, Aseptic Dispensin
The Ketepatan Penyimpanan Obat High Alert Medication di Instalasi Farmasi RSUD Dr. Soegiri Lamongan: Penyimpanan Obat High Alert Medication di Instalasi Farmasi RSUD Dr. Soegiri Lamongan; Ketepatan Penyimpanan Obat High Alert Medication
Rahmadinah, H. 2022. Accuracy of Storage of High Alert Medication in the PharmacyInstallation of RSUD Dr. Soegiri Lamongan 2022. Thesis. Pharmacy StudyProgram, Faculty of Medicine and Health Sciences, Maulana Malik IbrahimState Islamic University, Malang. Supervisor I : apt. Hajar Sugihantoro,S.Farm., M.P.H.; Supervisor II : apt. Ah. Syahrir, M. Farm.High Alert Medication (HAM) is a group of drugs that need to be watched out for in theiruse because they can lead to high use of unwanted drugs (Medication Error). The highalert medication group is divided into LASA (Look A Like Sound A Like) drugs, highlyconcentrated electrolytes, and cytostatics (cancer drugs). The purpose of this study was todetermine the profile and accuracy of storage of LASA (Look A Like Sound A like)drugs and high-concentrate electrolytes based on the issued SOPs. This research includesdescriptive research by observing, classifying, recording, and analyzing with SOPguidelines. The sample of this study used LASA (Look A Like Sound A Like) drugs andhighly concentrated electrolytes. Location The research was conducted at the pharmacyinstallation of RSUD Dr. Soegiri Lamongan in 2022. The results show that the storageprofile of LASA (Look Alike Sound A Like) and high concentrate electrolytes uses astorage method based on the storage method based on the form and type ofpharmaceutical preparations, FIFO, FEFO, and alphabetically. The storage accuracy ofLASA drugs (Look Alike Sound A Like) for indicators of separated LASA drugs withtheir equivalents is 97.72% and LASA drugs labeled "LASA" with a yellow base is90.9%. Accuracy of high-concentrated electrolyte drug storage for indicators Highconcentrated electrolyte medicine is labeled “High Alert” at 100% and high-concentratedelectrolyte medicine is labeled “Concentrated Electrolyte” with a yellow base color of100%. Based on these results, it can be concluded that the LASA (Look Alike Sound ALike) storage has not met the accuracy based on the issued SOP.Keywords : LASA (Look A Like Sound A Like), high concentrate electrolyte,Medication ErrorRahmadinah, H. 2022. Ketepatan Penyimpanan Obat High Alert Medication di InstalasiFarmasi RSUD Dr. Soegiri Lamongan Tahun 2022. Skripsi. Program StudiFarmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam NegeriMaulana Malik Ibrahim Malang. Pembimbing I : apt. Hajar Sugihantoro, S.Farm.,M.P.H.; Pembimbing II :apt. Ach. Syahrir, M.Farm.High Alert Medication (HAM) merupakan kelompok obat yang perlu diwaspadaidalam penggunaannya karena dapat menyebabkan penggunaan obat yang tidakdiinginkan oleh tubuh (Medication Error) tinggi. Kelompok obat high alert medicationterbagi menjadi obat LASA (Look A Like Sound A Like), elektrolit konsentrat tinggi, dansitostatika (obat kanker). Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui profil danketepatan penyimpanan obat LASA (Look A Like Sound A like) dan elektrolit konsentrattinggi berdasarkan SOP yang dikeluarkan. Penelitian ini termasuk penelitiandeskriptifdengan mengamati, mengklasifikasi, mencatat, dan menganalisis dengan pedomanSOP. Sampel penelitian ini menggunakan obat LASA (Look A Like Sound A Like)dan elektrolit konsentrat tinggi. Lokasi Penelitian dilakukan di instalasi farmasiRSUD Dr. Soegiri Lamongan tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwaprofil penyimpanan obat LASA (Look A like Sound A Like) dan elektrolitkonsentrat tinggi menggunakan metode penyimpanan berdasarkan metodepenyimpanan berdasarkan bentuk dan jenis sediaan farmasi, FIFO, FEFO, danabjad/alfabetis. Ketepatan penyimpanan obat LASA (Look A like Sound A Like)untuk indikator obat LASA yang dipisah dengan padanannya 97,72 % dan obat LASAberlabel “LASA” dengan dasar kuning sebesar 90,9 %. Ketepatan Penyimpanan obatelektrolit konsentrat tinggi untuk indikator Obat elektrolit konsentrat tinggi diberi label“High Alert” sebesar 100% dan obat elektrolit konsentrat tinggi diberi tulisan “ElektrolitPekat” dengan warna dasar kuning sebesar 100%. Berdasarkan hasil tersebut dapatdisimpulkan bahwa penyimpanan obat LASA (Look A like Sound A Like) belummemenuhi ketepatan berdasarkan SOP yang telah dikeluarkan.Kata kunci : LASA (Look A Like Sound A Like), Elektrolit konsentrat tinggi, Medication Erro
ANALISIS BIBLIOMETRIK TERHADAP PENGEMBANGAN PENELITIAN MACHINE LEARNING UNTUK IDENTIFIKASI SENYAWA KIMIA OBAT
Introduction: The development of machine learning-based technology has been utilized in various fields of science ranging from education to social work. The field of health science is one that utilizes the application of machine learning technology, this can be proven by the development of technology that helps in the analysis of treatment and chemical compounds of drugs. The bibliometric analysis aims to provide a visualization of related literature metadata on the topic of machine learning for the analysis of chemical compounds of drugs.
Methods: The method used was literature collection using the Pubmed database with the keywords "(machine learning) AND (drug structure)". Exclusion factors applied for the search were document type, document access, and publication year. The literature obtained was analyzed bibliometrically using Biblioshiny by Bibliometrix. Bibliometric analysis was analyzed in three clusters.
Result: Bibliometric analysis is widely developed by researchers, it can be seen from the number of articles published by researchers. This analysis identified research by 8,301 authors from 79 countries. The largest number of articles relevant to the topic is found in the Scientific Report journal.
Conclusion: The utilization of machine learning has grown rapidly in the last 10 years. Bibliometric analysis with Biblioshiny provides a precise visualization of these developments. The bibliometric analysis identified research trends by 8,301 authors from 79 countries between 2014 and 2024. The highest number of publications per year occurred in 2023 and researcher continuity started from 2020. Keywords and collaboration analysed using node and edge from Louvain scheme.Pendahuluan: Perkembangan teknologi berbasis machine learning telah dimanfaatkan dalam berbagai bidang ilmu mulai dari pendidikan hingga pekerjaan sosial. Kesehatan menjadi salah satu yang memanfaatkan penerapan teknologi machine learning. Hal ini dapat dibuktikan dengan berkembangnya teknologi yang membantu dalam analisis pengobatan serta senyawa kimia obat. Analisis bibliometrik bertujuan memberikan visualisasi metadata pustaka terkait terhadap topik machine learning untuk identifikasi senyawa kimia obat.
Metode: Metode yang digunakan yakni dengan pengumpulan pustaka menggunakan database Pubmed dengan kata kunci “(machine learning) AND (drug structure)”. Faktor eksklusi yang diterapkan untuk pencarian adalah tipe dokumen, akses dokumen, dan tahun publikasi. Pustaka yang diperoleh dianalisis secara bibliometrik menggunakan Biblioshiny oleh Bibliometrix. Analisis bibliometrik dilakukan terhadap jumlah publikasi tiap tahun, jurnal ilmiah paling relevan, penulis paling relevan, afiliasi paling relevan, negara penerbit ilmiah, jaringan kesertaan, dan jaringan kolaborasi antar penulis.
Hasil: Analisis bibliometrik banyak dikembangkan oleh peneliti hal ini, dilihat dari banyaknya artikel yang dipublikasikan oleh peneliti. Analisis ini mengidentifikasi penelitian sebanyak 8.301 penulis dari 79 negara. Jumlah artikel yang relevan terhadap topik paling banyak terdapat pada jurnal Scientific Report.
Kesimpulan: Pemanfaatan machine learning mengalami perkembangan yang pesat dalam 10 tahun terakhir. Analisis bibliometrik dengan Biblioshiny memberikan visualisasi yang tepat mengenai perkembangan tersebut. Analisis bibliometrik berhasil mengidentifikasi tren penelitian oleh 8.301 penulis dari 79 negara pada rentang tahun 2014-2024. Jumlah publikasi tiap tahun tertinggi terjadi pada tahun 2023 dan kontinuitas peneliti dimulai dari tahun 2020. Kata kunci dan kolaborasi dianalisis melalui node dan edge pada skema Louvain.
Kata kunci: Bibliografi, Pemelajaran Mesin, Desain Oba
Tanaman sirih hijau (Piper betle UJI FITOKIMIA KANDUNGAN METABOLIT SEKUNDER DALAM DAUN SIRIH HIJAU (PIPER BETLE L.): Daun Sirih
The green betel plant (Piper betle L.) is a type of plant that is widely used as herbal medicine in the community. This research aims to identify secondary metabolites and antioxidants in green betel leaves. Betel leaves (Piper betle L.) were extracted using the maceration method using 96% ethanol solvent. The thick extract obtained from maceration will be fractionated using the liquid-liquid method using distilled water and n-hexane (1:1). Secondary metabolite and antioxidant compound testing was carried out to determine the secondary metabolite content in simplicia, extracts and fractions of green betel leaves (Piper betle L.). The results of testing secondary metabolite compounds showed that green betel leaves were detected to contain alkaloids, flavonoids, phenolics, polyphenols and saponins. Based on antioxidant tests that have been carried out, betel leaf extract (Piper betle L.) contains antioxidants because it can neutralize free radical solutions.Tanaman sirih hijau (Piper betle L.) merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dimanfaatkan/digunakan sebagai pengobatan herbal pada masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metabolit sekunder dan antioksidan dalam daun sirih hijau. Daun sirih (Piper betle L.) diekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak kental yang diperoleh dari maserasi akan difraksinasi dengan metode cair-cair menggunakan pelarut aquadest dan n-heksan (1:1). Pengujian senyawa metabolit sekunder dan antioksidan dilakukan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder dalam simplisia, ekstrak dan fraksi daun sirih hijau (Piper betle L.). Hasil pengujian senyawa metabolit sekunder bahwa daun sirih hijau terdekteksi mengandung senyawa alkaloid, flavanoid, fenolik, polifenol, dan saponin. Berdasarkan uji antioksidan yang telah dilakukan bahwa ekstrak daun sirih (Piper betle L.) mengandung antioksidan disebabkan dapat menetralkan larutan radikal bebas
The Inovasi Curcuma Longa terhadap Urgensi Epizootik Penyakit Mulut dan Kuku pada Ternak Sapi Menjelang Idul Adha
FMD (Foot and Mouth Disease) in Cattle has become an Epizootic in Indonesian society. FMD is very easy to spread in a cattle community, giving rise to an epizootic. This triggers panic on both the buyer and trader side of the cow ahead of Eid al-Adha which will be held on July 10 2022.
This literature review aims to increase public awareness and government sensitivity regarding the impact of the recent FMD outbreak and provide an overview of the effect of Curcuma longa on increasing the body's immunity so that it can prevent the spread of FMD (mouth and foot disease) in cattle.
The method used is literature review. Article sources were obtained through several databases such as Google Scholar, ProQuest, Sciencedirect, Pubmed, Scopus which were published in 1997 to 2022.
The author finds that the number of FMD cases that infect livestock such as cows, buffaloes, goats and pigs has experienced a regular increase in the number of cases. On the other hand, the authors found that Curcuma longa extract could stimulate the production of various types of cytokines, including IFN-γ and IL-2.
Therefore, with the increasing number of FMD epizootic cases in Indonesia, the authors conclude that Curcuma longa can be used as a curative effort in eradicating the spread of the FMD virusPMK (Penyakit Mulut dan Kuku) pada Sapi sudah menjadi Epizootik di lingkungan masyarakat Indonesia. PMK sangat mudah menyebar dalam suatu komunitas hewan ternak sapi, sehingga menimbulkan suatu epizootik. Hal ini memicu kepanikan baik di sisi pembeli maupun pedagang sapi menjelang idul adha yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2022.
literature review ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan kepekaan pemerintah mengenai dampak dari wabah PMK yang terjadi baru-baru ini serta memberikan gambaran mengenai pengaruh Curcuma longa terhadap peningkatan imunitas tubuh sehingga dapat mencegah terjangkitnya PMK (Penyakit Mulut dan Kaki) pada sapi.
Metode yang digunakan adalah literature review. Sumber artikel diperoleh melalui beberapa database seperti Google Scholar, ProQuest, Sciencedirect, Pubmed, Scopus yang terbit pada tahun 1997 sampai dengan 2022.
Penulis mendapatkan bahwa jumlah kasus PMK yang menginfeksi hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, dan babi mengalami kenaikan jumlah kasus secara berkala. Di sisi lain, penulis menemukan bahwa ekstrak Curcuma longa dapat menstimulasi produksi berbagai jenis sitokin, di antaranya IFN-γ dan IL-2.
Maka dari itu, dengan semakin meningkatnya kasus epizootik PMK di Indonesia, penulis menyimpulkan bahwa Curcuma longa dapat dijadikan sebagai upaya kuratif dalam pemberantasan penyebaran virus PMK
PENGARUH EDUKASI TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TERKAIT SWAMEDIKASI
Introduction: Self-medication is an attempt to treat minor ailments independently before consulting to a doctor. In Indonesia, self-medication is always increasing every year. Based on data from the Central Statistics Agency (BPS), the percentage of the Indonesian population who self-medicated in 2020-2022 is 72.19%, 84.23%, and 84.34% respectively. Self-medication that is carried out has the potential for errors in disease diagnosis, delays in searching for the necessary treatment, inaccurate doses, and wrong administration methods. Therefore, knowledge is needed to carry out self-medication so as to prevent medication errors.
Methods: The method used in this research is a literature study from various journals and websites using Mendeley and Harzing's Publish or Perish as sources (digital libraries).
Result: The focus group discussion (FGD) method has a significant effect on increasing public knowledge about self-medication with the posttest scores of all respondents experiencing an increase indicating the range of assessments is in the good category. Then in the second article using online media there is a sufficient percentage of 4.48%. However, this education can contribute to increasing public knowledge about self-medication. Education using leaflet media and the Active Individual Learning Method (CBIA) method can increase public knowledge about self-medication.
Conclusion: Education to the public can increase knowledge about self-medication. Of the three methods used, the method that most increased public knowledge about self-medication was focus group discussions (FGD) by holding discussions so that participants could be more active and understand the material more easily.
Pendahuluan: Swamedikasi merupakan upaya untuk mengobati penyakit ringan secara mandiri sebelum periksa ke dokter. Di Indonesia, upaya swamedikasi selalu melangalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk Indonesia yang melakukan pengobatan sendiri pada tahun 2020-2022 berturut-turut sebesar 72,19%, 84,23%, dan 84,34%. Swamedikasi yang dilakukan dapat berpotensi kesalahan dalam diagnosis penyakit, keterlambatan dalam mencari pengobatan yang diperlukan, dosis yang kurang tepat, dan cara pemberian yang salah. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah pengetahuan untuk melakukan swamedikasi sehingga mencegah adanya medication error.
Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dari berbagai jurnal dan website dengan menggunakan Mendeley dan Harzing’s Publish or Perish sebagai sumber (digital library).
Hasil: Metode focus group discussion (FGD) memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai swamedikasi dengan nilai posttest semua responden mengalami peningkatan yang menunjukkan range penilaian masuk dalam kategori baik. Kemudian pada artikel kedua menggunakan media online terdapat persentase nilai cukup sebesar 4,48%. Akan tetapi, edukasi tersebut dapat menyumbangsih peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai swamedikasi. Edukasi dengan menggunakan media leaflet dan metode Cara Belajar Insan Aktif (CBIA) dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai swamedikas
Kesimpulan: Edukasi kepada masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan mengenai swamedikasi. Dari ketiga metode yang digunakan, metode yang paling meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai swamedikasi adalah focus group discussion (FGD) dengan mengadakan diskusi sehingga peserta dapat lebih aktif dan mudah dalam memahami materi.
 
Upaya Kemandirian Bahan Baku Obat Dalam Pengembangan Industri Farmasi Di Indonesia
Domestic pharmaceutical industry is capable of procuring around 75% of drug needs for Indonesian market. However, 90% of raw materials for medicines in Indonesia are still imported. This shows that structure of pharmaceutical industry is not yet optimal and limited to formulation, so it is necessary to optimize research and innovation activities, especially development of pharmaceutical raw materials. Collaboration between government/institutions, pharmaceutical industry, and researchers/academicians is needed in realizing the independence of pharmaceutical raw materials. The policy measure of Presidential Instruction Number 6 of 2016 concerning the Acceleration of the Development of the Pharmaceutical and Medical Devices Industry aims to accelerate the development and self-sufficiency of domestic BBO production. Innovation to build domestic BBO industry is carried out by considering Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035. Based on BPOM RI data for 2022, there are 13 or around 5.8% of industries that produce pharmaceutical raw materials from all pharmaceutical industries in Indonesia. The government has made policies and programs to support development of pharmaceutical industry in the self-sufficiency of pharmaceutical raw materials. Policies that have been issued by the government, namely in the form of: 1) Fiscal incentives 2) TKDN 3) Kawasan Industri Terpadu (KIT) 4) Supervision by BPOM. The growth trend for drug and BBO needs in 2035 will increase by 7% per year and is expected to reach IDR 248 trillion for drug needs and IDR 79 trillion for BBO. This shows that the independence of pharmaceutical raw materials needs to be optimized in the development of the pharmaceutical industry in Indonesia.
Keywords: Pharmaceutical Raw Materials, BBO, Innovation, Pharmaceutical Industry
Industri farmasi dalam negeri mampu mengadakan sekitar 75% kebutuhan obat untuk pasar Indonesia. Namun, bahan baku obat di Indonesia 90% masih impor. Hal tersebut memperlihatkan struktur industri farmasi yang belum optimal dan terbatas formulasi, sehingga perlu mengoptimalkan kegiatan riset dan inovasi, khususnya pengembangan bahan baku obat. Kerjasama antara pemerintah kementerian/lembaga, industri farmasi, dan peneliti/akademisi diperlukan dalam mewujudkan kemandirian bahan baku obat. Langkah kebijakan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan bertujuan mengakselerasi pengembangan dan kemandirian produksi BBO dalam negeri. Inovasi membangun industri BBO dalam negeri dilakukan dengan mempertimbangkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) tahun 2015-2035. Berdasarkan data BPOM RI tahun 2022, terdapat 13 atau sekitar 5,8% industri yang memproduksi bahan baku obat dari seluruh industri farmasi di Indonesia. Pemerintah telah membuat kebijakan dan program untuk mendukung pengembangan industri farmasi dalam kemandirian bahan baku obat. Kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah, yakni berupa: 1) Insentif fiskal 2) TKDN 3) Kawasan Industri Terpadu (KIT) 4) Pengawasan oleh BPOM. Tren pertumbuhan kebutuhan obat dan BBO pada tahun 2035 ke depan akan naik sebesar 7% per tahun dan diprediksi akan mencapai Rp248 triliun untuk kebutuhan obat dan Rp79 triliun untuk BBO. Hal tersebut menunjukan kemandirian bahan baku obat perlu dioptimalkan upayanya dalam pengembangan industri farmasi di Indonesia.
Kata kunci: Bahan Baku Obat, BBO, Inovasi, Industri Farmasi
 
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN DAN RIMPANG PACING PENTUL (Costus spicatus) DENGAN MENGGUNAKAN METODE DPPH
Antioksidan memiliki peran penting dalam melawan radikal bebas yang dapat mengakibatkan penyakit degeneratif dalam tubuh, sehingga menjaga dan melindungi kesehatan tubuh. Mekanisme kerja senyawa antioksidan ini terletak pada kemampuannya untuk menangkap radikal bebas di dalam tubuh, mencegah timbulnya penyakit degeneratif. Salah satu tanaman yang diyakini memiliki aktivitas antioksidan adalah tanaman pacing pentul (Costus spicatus). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai sejauh mana kandungan senyawa antioksidan dalam tanaman pacing pentul (Costus spicatus). Proses ekstraksi dilakukan melalui metode refluks bertingkat dengan menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol 96%, yang memiliki tingkat kepolaran yang berbeda. Pengujian secara kualitatif dilakukan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT), sementara penentuan nilai IC50 DPPH dilakukan melalui spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang 516nm. Asam askorbat (Vitamin C) digunakan sebagai standar dalam uji aktivitas antioksidan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol dari daun pacing menunjukkan aktivitas antioksidan tertinggi dengan nilai IC50 sebesar 107,606 µg/mL, mengindikasikan bahwa ekstrak tersebut termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sedang. Sementara pada rimpang pacing, nilai IC50 pada ekstrak etanol mencapai 200,974 µg/mL, yang menunjukkan kategori aktivitas antioksidan lemah
Potensi Pengobatan Tradisional Beluntas (Pluchea Indica L.) Dalam Menurunkan Kadar Trigliserida Dan Glukosa
ABSTRACT
Introduction: Indonesia boasts a rich biodiversity and a wealth of medicinal plants, including around 300 species used in traditional medicine. One such popular plant in traditional medicine is beluntas (Pluchea indica L.), known for its various benefits, such as appetite stimulation and its ability to lower blood glucose levels, thanks to compounds like alkaloids and flavonoids. Diabetes mellitus is a serious issue in Indonesia, with a continually rising prevalence, including complications like elevated blood triglyceride levels. Therefore, research on the potential of traditional treatment using beluntas to reduce triglyceride and glucose levels is highly relevant and important.
Methods: This research employed a narrative review method. All the literature sources utilized were derived from national and international research articles accessed through search engines such as Google Scholar, PubMed, and Science Direct, as well as the NCBI database. The selected literature primarily comprised journals discussing the biological activities and therapeutic potential of Pluchea indica L., commonly known as beluntas. Furthermore, a descriptive analysis was employed for this study.
Result: In vivo testing of the ethanol extract of Beluntas leaves (Pluchea indical L.) was proven to reduce triglyceride and glucose levels.
Conclusion: The traditional plant beluntas (Pluchea indica L.) has the potential to reduce triglyceride levels and glucose levels.ABSTRAK
Pendahuluan: Indonesia memiliki keanekaragaman hayati dan tumbuhan obat yang kaya, termasuk 300 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional. Salah satu tanaman yang populer dalam pengobatan tradisional adalah beluntas (Pluchea indica L.) yang memiliki berbagai manfaat, seperti penambah nafsu makan dan kemampuan menurunkan trigliserida dan kadar glukosa darah, berkat kandungan senyawa seperti alkaloid dan flavonoid. Diabetes melitus menjadi masalah serius di Indonesia dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk komplikasi seperti peningkatan kadar trigliserida darah. Oleh karena itu, penelitian potensi pengobatan tradisional dengan beluntas dalam menurunkan kadar trigliserida dan glukosa menjadi sangat relevan dan penting.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode narrative review. Seluruh sumber kepustakaan yang digunakan berasal dari research article nasional dan internasional yang diakses melalui search engine, antara lain Google Scholar, PubMed, dan Science Direct. Serta melalui database NCBI. Literatur yang dipilih adalah jurnal mengenai aktivitas biologis dan potensi terapeutik beluntas (Pluchea indica L). Selanjutnya, analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif.
Hasil: Uji Ekstrak etanol daun Beluntas (Pluchea indical L.) secara in vivo terbukti dapat menurunkan kadar trigliserida dan glukosa.
Kesimpulan: Tanaman tradisional beluntas (Pluchea indica L.) berpotensi dalam menurunkan kadar trigliserida dan kadar glukosa
Aktivitas Ekstrak Daun Keji Beling (Strobilanthes crispus Blume.) Pada Model Hewan Resistensi Insulin yang Diinduksi Pakan Tinggi Lemak dan Fruktosa
Introduction: Various herbal plants are known to have activity towards increasing insulin sensitivity so that they have the potential to be used for the treatment of diabetes. One of the medicinal plants with this activity is the keji beling leaves (Strobilanthes crispus Blume). Several previous studies have used animal models of insulin resistance due to consumption of high- fat and fructose foods. Therefore, the purpose of this study was to determine the activity of ethanol extract of keji beling leaves on increasing insulin sensitivity in animal models of insulin resistance induced by high-fat and fructose diets.
Methods: The method used to create insulin resistance animal models is by giving a high-fat and fructose diet 1800 mg/kgBB preventively for 42 days. The test animals were grouped into 6 groups, namely the negative control group, positive control, metformin 45mg/kgBW, Keji Beling Leaf Ethanol Extract 75mg/kgBB, 150mg/kgBW and 300mg/kgBW. The parameters observed were the value of fasting blood glucose levels on days 0 and 42 and the constant value of the insulin tolerance test (KTTI) on days 0, 21 and 42.
Result: Ethanol extract of keji beling leaves had activity towards increasing insulin sensitivity, namely the dose of 75 mg/kgBW with an average reduction value of 12.57, a dose of 150 mg/kg BW with a value of 14.88 and a dose of 300 mg/kg BW with a value of 17.66.
Conclusion: The ethanol extract of keji beling leaves has activity in increasing insulin sensitivity with the most effective dose being 150 mg/kgBW.Pendahuluan: Berbagai tanaman herbal diketahui memiliki aktivitas terhadap peningkatan sensitivitas insulin sehingga berpotensi digunakan untuk pengobatan diabetes. Salah satu tanaman obat dengan aktivitas tersebut adalah tanaman daun keji beling (Strobilanthes crispus Blume.). Beberapa penelitian sebelumnya telah memanfaatkan model hewan yang mengalami resistensi insulin akibat konsumsi makanan tinggi lemak dan fruktosa. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun keji beling terhadap peningkatan sensitivitas insulin pada model hewan resistensi insulin yang diinduksi pakan tinggi lemak dan fruktosa.
Metode: Metode yang digunakan untuk membuat model hewan resistensi insulin adalah dengan pemberian pakan tinggi lemak dan fruktosa 1800mg/kgBB secara preventif selama 42 hari. Hewan uji dikelompokan menjadi 6 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol positif, metformin 45mg/kgBB, ekstrak etanol daun keji beling dosis75mg/kgBB, 150mg/kgBB dan 300mg/kgBB. Parameter yang diamati yaitu nilai kadar glukosa darah puasa pada hari ke 0 dan 42 dan Nilai Konstanta Tes Toleransi Insulin (KTTI) pada hari ke 0, 21 dan 42.
Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian ekstrak etanol daun keji beling memiliki aktivitas terhadap peningkatan sensitivitas insulin, yaitu dosis 75mg/kgBB dengan nilai rata-rata penurunan 12,57, dosis 150mg/kgBB dengan nilai 14,88 dan dosis 300mg/kgBB dengan nilai 17,66.
Kesimpulan: Ekstrak etanol daun keji beling memiliki aktivitas terhadap peningkatan sensitivitas insulin dengan dosis yang paling efektif adalah 150 mg/kgBB