Berkala Ilmiah Mahasiswa Farmasi Indonesia (BIMFI)
Not a member yet
54 research outputs found
Sort by
STUDI IN SILICO SENYAWA BIOAKTIF KUERSETIN KULIT JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) SEBAGAI AGEN ANTIKANKER PAYUDARA
Introduction : MCF-7 cells are one of the human breast adenocarcinoma cells that are often used for research related to human breast cancer, because these cells are considered as characteristics of differentiated breast gland epithelium. Lime (Citrus aurantifolia) is a plant that contains quercetin, especially in the peel. This study aims to explore the potential of compounds contained in lime peel, namely quercetin as a treatment for breast cancer with MCF-7 cell targets.
Methods : This research was conducted in slilico with molecular docking method using AutoDockTools and visualization of docking results using PyMol and LigPlot+ software.
Results: The results of this study indicate that the compound quercetin contained in lime peel can be potential as an anticancer of the breast with an energy affinity value of -8.2 kcal/mol.
Conclusion: This study proves that the compound quercetin in lime peel is a candidate for a new breast cancer drug. It is known that research results show that quercetin has a stronger binding to the receptor than the original ligand. In addition, quercetin compounds also have interactions with several amino acid residues so that they can provide scientific evidence that quercetin compounds have potential as anticancer breasts.Pendahuluan : Sel MCF-7 merupakan salah satu sel human breast adenocarcinoma yang sering digunakan untuk penelitian terkait kanker payudara manusia karena sel ini dianggap sebagai ciri-ciri epitel kelenjar payudara yang telah terdiferensiasi. Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) merupakan salah satu tanaman yang mengandung kuersetin terutama pada bagian kulit. Penelitian ini bertujuan utnuk menggali potensi senyawa yang terkandung dalam kulit jeruk nipis yaitu kuersetin sebagai pengobatan kanker payudara dengan target sel MCF-7
Metode : Penelitian ini dilakukan secara In slilico dengan metode penambatan molekuler menggunakan AutoDockTools dan visualisasi hasil docking menggunakan aplikasi PyMol dan LigPlot+
Hasil : Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa senyawa kuersetin yang terdapat pada kulit jeruk nipis dapat berpotensi sebagai antikanker payudara dengan nilai energi afinitas sebesar -8,2 kcal/mol.
Kesimpulan : Penelitian ini membuktikan bahwa senyawa kuersetin dalam kulit jeruk nipis merupakan salah satu kandidat obat kanker payudara baru. Diketahui bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa kuersetin memiliki ikatan yang lebih kuat dengan reseptor dibanding ligand aslinya. Selain itu, senyawa kuersetin juga memiliki interaksi dengan beberapa residu asam amino sehingga dapat memberikan bukti ilmiah bahwa senyawa kuerstin memiliki potensi sebagai antikanker payudara
A SKRINING VIRTUAL BERBASIS LIGAN SENYAWA PRODUK NATURAL TERHADAP SARS-COV-2 MAIN PROTEASE (Mpro) MENGGUNAKAN PENDEKATAN SIMILARITAS SUBSTRUKTUR DAN PEMBELAJARAN MESIN
Introduction: Increased ROS (reactive oxygen species) and SASP (senescence-associated secretory phenotype) lead to skin aging via cellular senescence. CD36 (Cluster Difference
36) is found overexpressed in senescent cells and accepts various activators that generate ROS and SASP. Cinnamon (Cinnamomum zeylanicum) has been known to exert several pharmacological effects like antioxidant and anti-senescence. However, its anti-senescence effect on CD36 has not been reported yet. This study aims to prove that cinnamon’s compounds are effective to inhibit CD36 in order to stop skin aging caused by senescence. Methods: Literature studies and in silico approaches such as database searching, molecular docking, and KNIME open analytic platform were used in this study.
Result: Cinnamaldehyde is proven as a better competitive CD36 inhibitor (DICE Score: 0,886; Tanimoto Score: 0,939) with better affinity than native ligand and previously studied inhibitors (RMSD: 0,74 Å; S: -7,43 kcal/mol). Bioinformatics investigations also showed that major compounds of cinnamon target CD36 regulator, oxidoreductases, and SASP-producing receptors that co-expressed with CD36.
Conclusion: Active components of cinnamon are potential to be an anti skin aging by inhibiting CD36, regulating CD36, and eradicating senescent factors.Pendahuluan: Peningkatan ROS (Reactive Oxygen Species) dan SASP (Senescence Associated Secretory Phenotype) merupakan penyebab penuaan kulit dengan mekanisme penuaan sel. CD36 (Cluster Difference 36) mengalami overekspresi pada sel yang menua dan menerima aktivator penyebab produksi ROS dan SASP. Kayu manis (Cinnamomum zeylanicum) mempunyai berbagai aktivitas farmakologis seperti antioksidan. Namun, aktivitas anti penuaan sel oleh kayu manis pada CD36 belum diketahui. Penelitian ini ingin menunjukkan senyawa kayu manis efektif dalam menginhibisi CD36 dan mengurangi penuaan kulit berlebih lewat penghambatan penuaan sel.
Metode: Studi literatur dan pendekatan in silico seperti pencarian database, molecular
docking, dan aplikasi analisis KNIME digunakan dalam penelitian ini.
Hasil: Cinnamaldehyde terbukti menjadi inhibitor kompetitif CD36 yang lebih baik dari ligan asli dan inhibitor yang sudah ada (RMSD: 0,74 Å; S: -7,43 kcal/mol, skor DICE: 0,886; Skor Tanimoto: 0,939). Studi bioinformatika juga menunjukkan bahwa senyawa dominan pada kayu manis menarget regulator CD36, oksidureduktase, dan reseptor produsen SASP yang koekspresi dengan CD36.
Kesimpulan: Senyawa pada kayu manis diprediksi dapat mencegah penuaan kulit dengan menginhibisi dan meregulasi CD36, serta meminimalisir faktor penyebab penuaan
Studi Penambatan Molekuler Senyawa Bioaktif Biji Habbatussauda (Nigella sativa) terhadap ERα sebagai Alternatif Pengobatan Kanker Payudara dalam Upaya Pemberian Data Ilmiah Thibbun Nabawi
Introduction: Estrogen receptor (ERα) is one of the main receptor targets of breast cancer treatment, so ERα inhibitors are one of the most potential drugs in the treatment of breast cancer. Searches for ERα inhibitory molecules can be found in compounds from traditional plants, such as Black Seed (Nigella sativa). Black Seed has been described by Thibbun Nabawi as a plant that can treat all diseases, but there is still no research that explains the compounds in Black Seed as an ERα inhibitor. Black Seed is known to contain several compounds that have pharmacological activities, such as antioxidants and anticancer. This study aims to determine the potential and interactions of natural compounds in Black Seed as a new treatment for breast cancer with ERα targets.
Methods: This research uses molecular docking method with AutoDock 4.2 software with Lamarckian Genetic Algorithm (LGA) search method. Molecular docking is known as a fast and cost-effective research method.
Results: The results of this study shows that the stigmasterol compound in Black Seed has the potential as an ERα inhibitor with an ΔG value of -10.14 kcal/mol and Ki 36.99 nM.
Conclusions: This study shows that stigmasterol is a potential candidate as a new ERα inhibitor. In addition, this study obtained several amino acid residues that were thought to be important in ERα inhibitory activity, Leu346, Glu353, Leu387, and Arg394, as well as providing scientific evidence that the chemical compounds in Nigella sativa have potential as breast cancer drugs.Pendahuluan: Reseptor Estrogen α (ERα) merupakan salah satu target reseptor utama dari pengobatan kanker payudara, sehingga penghambat ERα adalah salah satu obat yang paling potensial dalam pengobatan kanker payudara. Pencarian terhadap molekul penghambat ERα dapat ditemukan pada senyawa dari tanaman tradisional, seperti misalnya habbatussauda (Nigella sativa). Habbatussauda telah dijelaskan pada Thibbun Nabawi sebagai tumbuhan yang dapat mengobati segala penyakit, namun masih belum ada penelitian yang menjelaskan senyawa dalam habbatussauda sebagai penghambat ERα. Habbatussauda diketahui memiliki beberapa kandungan senyawa yang memiliki aktivitas farmakologis, seperti antioksidan dan antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan interaksi dari senyawa yang terkandung dalam habbatussauda sebagai pengobatan baru kanker payudara dengan target ERα.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode penambatan molekuler dengan peranti lunak AutoDock 4.2 dengan metode pencarian Lamarckian Genetic Algorithm (LGA). Penambatan molekuler dikenal ilmuwan sebagai metode yang cepat dan hemat biaya.
Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan bahwa senyawa stigmasterol dalam habbatussauda berpotensi sebagai inhibitor ERα dengan nilai ΔG sebesar -10,14 kkal/mol dan Ki sebesar 36,99 nM.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa stigmasterol merupakan kandidat potensial sebagai inhibitor ERα yang baru. Selain itu, penelitian ini mendapatkan beberapa residu asam amino yang diduga penting dalam aktivitas penghambatan ERα, yaitu Leu346, Glu353, Leu387, dan Arg394, serta memberikan bukti ilmiah bahwa senyawa kimia dalam Nigella sativa memiliki potensi sebagai obat kanker payudara
Narrative Review: Edible Film Strip Antioksidan dari Ekstrak Herba Kelingkit (Malpighia coccigera L.)
Introduction: Edible Film Strip (EFS) is one of pharmaceutical preparations that could be formulated with active antioxidant ingredient from dwarf holly/kelingkit (Malphigia coccigera L). The aim of this narrative review is to narrate the article summary of the exploration outcome regarding the potential antioxidant from the extraction of dwarf holly/kelingkit in the form of EFS.
Methods: This narrative review conducted the method of literature review or the secondary data compilation from several scientific journals and antioxidant activity testing from DPPH and ABTS methods as well as the EFS formulation.
Result: Malpighia contains phenolic compounds in having antioxidant activity with its ability to capture an neutralize free radicals.
Conclusion: The extraction of antioxidant in the EFS dosage form has the potential for the immune system and prevent degenerative diseases.Pendahuluan: Edible film strip (EFS) merupakan salah satu sediaan farmasi yang dapat diformulasi dengan bahan aktif senyawa antioksidan dari tanaman kelingkit (Malphigia coccigera L). Tujuan narrative review ini adalah untuk menarasikan rangkuman artikel hasil eksplorasi tentang potensi antioksidan ekstrak herba kelingkit dalam bentuk sediaan EFS.
Metode: penelusuran jurnal atau pengumpulan data sekunder pada berbagai platform jurnal ilmiah dan pengujian aktivits antioksidan dengan menggunakan metode DPPH dan ABTS serta metode formulasi EFS.
Hasil: Tanaman Malpighia mengandung senyawa fenol yang memiliki aktivitas antioksidan dengan kemampuannya untuk menangkap dan menetralkan radikal bebas.
Kesimpulan: Ekstrak herba kelingkit dalam bentuk sediaan EFS berpotensi untuk meningkatkan sistem imun dan mencegah terjadinya penyakit degeneratif.
 
Potensi Alga Coklat (Sargassum polycystum c. agardh) sebagai Produk Teh untuk Meningkatkan Imunitas Tubuh
Introduction: Phlorotannin, a secondary metabolite compound found in Sargassum polycystum Agardh, has been implicated as a source of immunostimultants, which plays an important role in boosting the immune system. Here, we investigated the potency of Sargassum polycystum Agardh obtained from a phlorotanin tea bag.
Methods: This research was a literature study using Google Scholar and PubMed, in which we searched and compiled relevant literature sources with results that had been tested well enough.
Results: The phlorotannin tea bag – which contained the dried and cut Sargassum polycystum Agardh – had the potential to boost the immune system using an immunooxidative mechanism. The antioxidant value in the tea could be influenced by the immersion process of the sample in hot water. The longer the sample was soaked, the higher its antioxidant activity became.
Conclusion: A brown algae (Sargassum polycystum Agardh) tea bag as a source of phlorotannin has the potential to boost the immune system.Pendahuluan: Florotanin merupakan senyawa metabolit sekunder khas dari alga coklat Sargassum polycystum yang memiliki banyak aktivitas biologis, salah satunya adalah sebagai sumber antioksidan. Antioksidan berperan dalam meningkatkan imunitas tubuh, yaitu dapat menjadi sumber imunostimulan. Tujuan dari penulisan jurnal ini adalah untuk meneliti dan mengetahui potensi alga coklat Sargassum polycystum dan cara memperoleh hingga memproduksi menjadi minuman berupa teh yang memiliki kandungan florotanin yang aman dan mampu meningkatkan imunitas tubuh. Teh dipilih sebagai minuman yang diproduksi dari alga coklat karena teh merupakan minuman yang mudah dijumpai dan telah banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode studi pustaka menggunakan search engine Google Scholar dan PubMed. Penulis mencari sumber-sumber pustaka yang relevan dengan hasil penelitian yang telah teruji dengan cukup baik dan informasi yang didapatkan kemudian dikumpulkan serta disusun dalam artikel ini.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa florotanin dari alga coklat Sargassum polycystum Agardh memiliki potensi sebagai peningkat sistem imun dengan mekanisme imunooksidatif. Pembuatan teh alga coklat dimulai dari penyiapan alga coklat Sargassum polycystum, kemudian dikeringkan, lalu dipotong-potong, kemudian disimpan dalam kantong teh untuk kemudian dikonsumsi sebagai teh celup. Nilai antioksidan yang terkandung di dalam teh alga coklat dapat dipengaruhi oleh salah satu proses produksinya, yaitu proses perendaman sampel di dalam air panas yakni semakin lama sampel alga coklat tersebut direndam, maka nilai aktivitas antioksidannya akan semakin tinggi.
Kesimpulan: Alga coklat (Sargassum polycystum Agardh) sebagai sumber florotanin berpotensi sebagai sumber bahan baku teh yang dapat meningkatkan kerja sistem imun tubuh
Potensi Penggunaan Essential Oil dari Tumbuhan di Indonesia dalam Menurunkan Berat Badan
Introduction: overweight and obesity are health problems that arise in developing countries. Although classified as a non-communicable disease (NCD), being overweight can cause death due to its comorbidity. Conventional obesity therapy is generally in the form of medications and surgical procedures. If consumed long-term, it will have dangerous side effects and it is invasive, and there is a possibility to relapse. Therefore, this review was aimed to collect all available data on non-invasive therapies in the form of aromatherapy inhalation containing active phytochemical constituents derived from Indonesian plants that will be possible as a natural anti-obesity agent.
Methods: The data review during 2007-2021 with electronic searches through Scopus, ScienceDirect, PubMed, and Google Scholar. Articles are sorted by the keywords "obesity", "essential oils" and "mechanism" and abstract screening. Twenty-six relevant reports were obtained, which were later discussed in this review article. For the development of concepts and ideas, other literature such as books and scientific literature are used.
Result: Twelve types of essential oil plants in Indonesia that can have anti-obesity activities were successfully obtained by various four mechanisms of action, ,i.e., appetite regulation, thermogenesis and stimulation of lipid metabolism, inhibition of adipogenesis, and inhibition of pancreatic lipase activity.
Conclusion: Phytochemical constituents summarized in this review show that every plant's compounds play a role in anti-obesity activity. In addition to potential anti-obesity mechanisms, several effective doses can be further reviewed.Pendahuluan: Kelebihan berat badan dan obesitas adalah permasalahan kesehatan yang muncul di negara-negara berkembang. Meskipun tergolong penyakit tidak menular (PTM), kelebihan berat badan dapat merupakan penyebab kematian karena adanya komordibitas yang dihasilkannya. Terapi konvensional obesitas umumnya berupa obat dan prosedur bedah, yang jika dikonsumsi dengan jangka panjang akan memiliki efek samping berbahaya yang bersifat invasif dan masih adanya kemungkinan untuk kambuh. Oleh karena itu, penulisan review ini bertujuan untuk mengumpulkan semua data yang tersedia tentang terapi non invasif berupa inhalasi aromaterapi yang mengandung konstituen fitokimia aktif berasal dari tumbuhan Indonesia dan memungkinkan sebagai agen anti-obesitas alami.
Metode: Tinjauan pustaka dilakukan pada periode 2007-2021 dengan pencarian elektronik melalui database seperti Scopus, ScienceDirect, PubMed dan Google Scholar. Artikel disortir berdasarkan kata kunci “obesity”, “essential oils” dan “mechanism” dan juga abstrak. Dari penelusuran didapatkan 26 artikel relevan yang kemudian dibahas dalam artikel review ini. Untuk pengembangan konsep dan gagasan, digunakan literatur lain seperti buku dan laporan ilmiah.
Hasil: Dua belas jenis essential oil tanaman di Indonesia yang berpotensi memiliki aktivitas anti-obesitas berhasil diperoleh dengan berbagai empat mekanisme kerja, yaitu regulasi nafsu makan; thermogenesis dan stimulasi metabolisme lipid; penghambatan adipogenesis dan penghambatan aktivitas lipase pankreas.
Kesimpulan: Konstituen fitokimia yang terdapat dalam review ini menunjukkan bahwa senyawa di dalam masing-masing tanaman berperan atas aktivitas anti-obesitas. Selain mekanisme anti-obesitas yang potensial, terdapat juga beberapa dosis efektif yang dapat dikaji lebih lanjut.
 
REVIEW ARTIKEL : TANAMAN YANG MEMILIKI AKTIVITAS ANTI-ULSER DI ASIA
Introduction : Herbal medicines have high potential in treating various diseases including gastric ulcers because they are considered safer and more comfortable. Ulcers or gastric ulcers are disorders of the stomach due to an imbalance of aggressive factors (gastric acid secretion, pepsin, and Helicobacter pylori infection) with defensive factors (prostaglandins, mucus, bicarbonate, mucosal blood flow, and intrinsic epithelial cells).
Methods : The method used is a literature review study conducted by searching for keywords such as peptic ulcer disease, herbal plants, anti-stomach ulcers, and others in databases such as PubMed and Google Scholar.
Results : From the literature review, 29 medicinal plants in Asia have a potential anti-ulcer activity that can prevent and help treat gastric ulcers. The table of medicinal plants is arranged based on the phytochemical analysis, the part used, and the country where the plant originates.
Conclusion : Plants that have the potential to prevent and help heal gastric ulcers that are spread in Asia include phytochemicals containing flavonoids, tannins, polyphenols, alkaloids, glycosides, terpenoids, saponins with various mechanisms, namely gastroprotective, antioxidant, anti-inflammatory, anti-secretory, anti-Helicobacter. pylori, and astringents.Pendahuluan: Obat-obatan herbal dapat berpotensi tinggi dalam menangani berbagai penyakit termasuk tukak lambung karena dinilai lebih aman dan nyaman. Tukak atau ulser lambung merupakan gangguan pada lambung akibat ketidakseimbangan faktor agresif (sekresi asam lambung, pepsin, dan infeksi Helicobacter pylori) dengan faktor defensif (prostaglandin, mukus, bikarbonat, aliran darah mukosa, dan sel epitel intrisnik).
Metode: Metode yang digunakan yaitu studi tinjauan pustaka yang dilakukan dengan mencari kata kunci seperti peptic ulcer disease, tanaman herbal, anti-tukak lambung dan lain-lain pada basis data berupa PubMed dan Google Scholar.
Hasil: Dari hasil tinjauan pustaka, diperoleh 29 tanaman obat di Asia dengan potensi aktivitas anti-ulser yang dapat mencegah dan membantu mengobati tukak lambung. Tabel tanaman obat disusun berdasarkan analisis fitokimia, bagian yang digunakan, serta negara tempat tanaman berasal.
Kesimpulan: Tanaman yang berpotensi dalam mencegah dan membantu menyembuhkan tukak lambung yang tersebar di Asia diantaranya memiliki kandungan fitokimia flavonoid, tanin, polifenol, alkaloid, glikosida, terpenoid, saponin dengan berbagai mekanisme yaitu gastroprotektif, antioksidan, antiinflamasi, anti-sekretori, anti-Helicobacter pylori, dan astringen
Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (Rotd) pada Pasien Rawat Jalan Penyakit Ginjal Kronis Tahap Akhir di Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia Cabang Jawa Timur : Metode Cross: Cross Sectional Method
Introduction: Adverse Drug Reaction (ADR) is a side effect arising from the use of drugs with normal doses. ADR might decrease quality of life, increase frequency to doctor, and death. ADR in patients with End-Stage Renal Disease (ESRD) has not been much studied. ESRD have a greater risk of experiencing ADR because the kidneys have decreased and the drugs can accumulate in the body. Study was conducted to determine the incidence of ADR in outpatients in the final stage of ESRD.
Methods: This study use cross sectional method. Demographic data and ADR status were collected from members of the Indonesian Dialysis Patient Community in East Java. Drug data had grouped into drugs that potential and no potential for ADR, then an analysis with a Chi-square test to find correlation of potential ROTD drugs and the incidence of ADR in outpatients in ESRD.
Result: There are 62 respondents in this study who fulfilled the inclusion. From the test between the characteristic and ADR is a correlation between allergies and ADR (p = 0.018). Based on the results of the Chi-square test between the use of potential ADR drugs with the incidence of ADR in outpatients in the final stage of the patient did not have a correlation (p value = 0.812).
Conclusion: From this study it can be concluded that there is no correlation between potential ROTD drugs with the incidence of ROTD in end-stage CKD outpatients (p = 0.812).Pendahuluan: Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD) merupakan efek samping yang timbul dari penggunaan obat dengan dosis normal. ROTD dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup, peningkatan frekuensi ke dokter dan kematian. Kejadian ROTD pada penderita Penyakit Ginjal Kronis (PGK) tahap akhir terutama pada pasien rawat jalan belum banyak diteliti. Penderita PGK memiliki risiko lebih besar mengalami ROTD dikarenakan pada penderita PGK tahap akhir, ginjal mengalami penurunan fungsi ginjal dan obat yang dikonsumsi dapat terakumulasi dalam tubuh. Dilakukan penelitian untuk mengetahui kejadian ROTD pada pasien rawat jalan Pasien PGK tahap akhir.
Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Data demografis dan status ROTD dikumpulkan melalui Lembar Pengumpul Data (LPD). Data penggunaan obat akan dikelompokkan menjadi obat yang berpotensi ROTD dan obat yang tidak berpotensi ROTD, kemudian dilakukan analisis dengan uji Chi-square untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara obat yang berpotensi ROTD dengan kejadian ROTD pada pasien rawat jalan PGK tahap akhir.
Hasil: Penelitian ini mendapatkan 62 responden yang memenuhi inklusi. Dari uji antara hasil karaktersitik dan kejadian ROTD diketahui bahwa ada korelasi antara alergi dengan kejadian ROTD (p=0,018). Berdasarkan hasil uji Chi-square antara penggunaan obat yang berpotensi ROTD dengan kejadian ROTD pada pasien rawat jalan tahap akhir tidak memiliki korelasi (nilai p=0,812).
Kesimpulan: Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara obat yang berpotensi ROTD dengan kejadian ROTD pada pasien rawat jalan PGK tahap akhir (nilai p=0,812)
SITRUS: INOVASI SABUN KERTAS BERBASIS LIMBAH KULIT JERUK DI TENGAH PANDEMI COVID-19
Introduction: Since there is no effective curative or vaccine for COVID-19 yet, preventive action will be prioritized to reduce the spread of the SAR-CoV-2 virus. One of the preventive actions is the development of cosmeceutical dosage form, which is soap, that acts as a surfactant to remove dirt and microorganism so it can destroy virus viability. On the other hand, the increasing amount of citrus peel waste in Indonesia and the importance of soap for preventive action is the motivation and reason to develop Sitrus (Citrus soap), a soap that is made from limonene (essential oil) from citrus peel waste and packed in form of paper soap (solid soap that is printed in thin and small size like a sheet of paper and will dissolve and produce foam when mixed with water).
Content: Component from peel waste has antimicrobial activity through the mechanism of limonene accumulation at the plasma membrane of cell membrane, which causes integrity instability and disrupts electrochemical gradient at the cell membrane. The essential oil from citrus peel waste can be obtained by steam distillation and will be used with the total amount of 3% in Sitrus formulation. Other components in the formulation are NaOH 30% solution with the total amount of 25% as a base component in soap, stearic acid with the total amount of 11% as neutralizer, ethanol 96% solution with the total amount of 18% as solvent, glycerine with the total amount of 15% as plasticizer, and water for solvent. Sitrus is a personalized paper soap that is more economical, easy to bring everywhere and to use, not dissolved with skin components such as lipids, and has double-action (cleaning and antimicrobial activity).
Conclusion: Combination of both antimicrobial activity and paper soap support Sitrus for increasing the preventive action in society in the midst of COVID-19 pandemic. Sitrus in not only remove the microbe and virus in skin surface, but also reduce the negative impact of citrus waste peel accumulation
Keywords: COVID-19, preventive, paper soap, citrus peel wastePendahuluan: Belum tersedianya terapi kuratif untuk COVID-19 berkonsekuensi pada pentingnya upaya preventif untuk menekan penyebaran virus SARS-CoV-2. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah pengembangan sediaan farmasi dalam bidang kosmetik, yaitu sabun, yang berperan sebagai surfaktan pembersih kotoran sehingga mampu merusak serta menghancurkan viabilitas virus. Tingginya jumlah limbah kulit jeruk di Indonesia serta pentingnya perilaku preventif masyarakat menjadi dasar alasan pembuatan Sitrus (sabun Citrus), yaitu sabun yang memanfaatkan kandungan minyak atsiri limonen dari kulit jeruk dan dikemas dalam bentuk sabun kertas (sabun padat yang dicetak kecil tipis seperti lembaran dan akan larut berbusa ketika bercampur dengan air).
Isi: Kulit jeruk dapat memberikan aktivitas antimikroba melalui mekanisme akumulasi limonen dalam membran plasma mikroba sehingga menghilangkan integritas serta mengganggu gradien elektrokimia pada membran sel. Minyak atsiri dari kulit jeruk diperoleh dengan metode distilasi uap dan digunakan sebanyak 3% dalam formulasi Sitrus. Komponen lainnya mencakup NaOH 30% sebanyak 25% sebagai komponen basa sabun, minyak zaitun 20% sebagai komponen asam sabun, asam stearat 11% sebagai neutralizer, etanol 96% sebanyak 18% sebagai pelarut, gliserin 15% sebagai plasticizer, dan air sebagai pelarut. Sitrus merupakan sabun kertas pribadi sehingga bersifat ekonomis, mudah dibawa dan diaplikasikan, tidak menghilangkan minyak pada tempat pengaplikasian, serta memiliki aksi ganda (membersihkan tangan dan antimikroba).
Kesimpulan: Kombinasi aktivitas antimikroba dan bentuk sediaan sabun kertas memperkuat Sitrus sebagai salah satu upaya peningkatan perilaku preventif masyarakat kala pandemi COVID-19. Sitrus dapat menghilangkan komponen mikroorganisme seperti bakteri dan virus di permukaan kulit sekaligus membantu mengurangi dampak limbah kulit jeruk.
Kata kunci: COVID-19, preventif, sabun kertas, kulit jeru
STUDI LITERATUR RASIONALITAS, DAN POLA SENSITIVITAS TERHADAP ANTIBIOTIK PADA BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS PENYEBAB INFEKSI GANGREN DIABETES MELITUS
Introduction: Diabetic gangrene can be treated with antibiotics. The use of antibiotics must be done rationally. Antibiotic sensitivity patterns know which antibiotics have become resistant. The purpose of this literature study is to determine the relationship between rationality and patterns of antibiotic sensitivity in bacteria that cause gangrene infection.
Methods: The research was conducted using a literature study method using journals obtained through journal sites such as search engines Scopus, Google Scholar, ScienceDirect, NCBI, PubMed, Oxford Academics, Cambridge, and Sprinkle link published between 2009-2021, obtained journals as many as 13 journals extracted from 99 existing journals. This literature study was carried out in several stages, namely, formulating problems, collecting data, extracting data, synthesizing data, and compiling a thesis.
Result: The results of the literature study rationality of antibiotic use is precise indication, appropriate drug and appropriate patient. Antibiotics that are resistant in several hospitals in Indonesia are ceftriaxone, cotrimoxazole, benzylpenicillin erythromycin, ampicillin, cloramfenicol, cefoperazone, meropenem, cefixime, gentamicin, ceftazidime, ciprofloxacin, streptomycin, lincomycin, and cefotaxime. The mechanism that bacteria have in developing resistance is by enzymatic modification, changes in PBP structure, pump protein production, and changes in antibiotic targetsPendahuluan: Perawatan gangren diabetes dapat dilakukan dengan menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik harus dilakukan dengan rasional, untuk terciptanya penggunaan yang rasional perlu dilakukan uji sensitivitas antibiotik untuk mengetahui apakah antibiotik yang digunakan telah mengalami resistensi atau belum. Tujuan studi literatur ini adalah mengetahui hubungan rasionalitas dan pola sensitivitas antibiotik pada bakteri penyebab infeksi gangren.
Metode: Penelitian dilakukan dengan metode studi literatur menggunakan jurnal yang diperoleh melalui situs jurnal seperti search engine Scopus, Google Scholar, Sciencedirect, NCBI, PubMed, Oxford Academic, Cambridge dan Sprinkle link yang dipublikasi antara tahun 2009-2021, diperoleh jurnal sebanyak 13 jurnal hasil ekstraksi dari 99 jurnal yang ada. Studi literatur ini dilakukan dengan beberapa tahap yaitu, merumuskan masalah, pengumpulan data, ekstraksi data, sintesis data, dan penyusunan skripsi.
Hasil: Hasil studi literatur rasionalitas penggunaan antibiotik yaitu tepat indikasi, tepat obat dan tepat pasien. Antibiotik yang mengalami resisten di beberapa rumah sakit di Indonesia yaitu ceftriaxon, cotrimoxazole, benzylpenicillin erythromycin, ampicillin, cloramfenicol cefoperazone, meropenem, cefixime, gentamicin, ceftazidime, ciprofloxacin, streptomycin, lincomycin, dan cefotaxime. Mekanisme yang dimiliki bakteri dalam mengembangkan resistensi yaitu dengan cara modifikasi enzimatik, perubahan struktur penicilin binding protein (PBP), produksi protein pompa dan perubahan target antibiotik