Rumah jurnal Fakultas Adab dan Humaniora UIN IB
Not a member yet
    485 research outputs found

    Formulasi Nalar Linguistik Sibawayh: Polemik Legitimasi Otoritas Syair Dalam Perumusan Kaidah Nahwu

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk menganalisa dominasi prefensi dalil syair yang diadopsi Si>bawayh dalam konteks formulasi kaidah nahwu. Argumen ini didasari atas fakta yang menunjukkan bahwa pada setiap tema pembahasan nahwu yang dikonstruksi Si>bawayh dalam karyanya, selalu dilegitimasi dengan dalil syair (shawa>hid al-nah}w al-shi‘riyyah). Namun demikian, polemik posisi syair sebagai produk budaya verbal masyarakat Arab, mengundang perdebatan tajam disebabkan adanya diferensiasi interpretasi di kalangan ahli nahwu akan validitas dan otoritas syair yang layak diadopsi oleh Si>bawayh dalam proses pembukuan dan pembakuan kaidah nahwu. Dalam konteks tersebut, penulis hendak memaparkan argumentasi rasional, mengapa Sibawayhi lebih cenderung mengunggulkan syair ketimbang hierarki otoritas dalil nahwu yang lainnya. Perdebatan posisi syair di kalangan sarjana nahwu, berimplikasi melahirkan beragam ijtihad linguistik yang dapat dijadikan sebagai fondasi epistemologi dalam pengembangan disiplin ilmu nahwu. Kecendrungan mengadopsi syair dalam perumusan kaidah nahwu, menggambarkan trend dan distingsi tersendiri bagaimana konstruk nalar lingguistik Si>bawayhi terbangun. Trend kajian liguistiknya, seakan menitik beratkan typologi berpikir antropo lingusitik sentrik, prototype nalar linguistik demikian banyak dijumpai dalam magnum opusnya “al-Kita>b” dikenal “al-Qu’a>n al-Nah}w” adalah karya monumental sepajang sejarah kajian nahwu. Dalam tulisan ini, analisis dan pembacaannya menggunakan teksto-linguistik merupakan bagian dari ilmu lingustik diperkuat dengan analisis historis. selanjutnya data dianalisis secara deskriftik analitik untuk dapat menyajikan perspektif ulama nahwu secara komprehensif tentang otoritas syair dalam perumusan kaidah nahwu

    SEDULANG SETUDUNG: Tradisi Sedekahan di Desa Gelebak Dalam Kabupaten Banyuasin

    No full text
    This paper explains the Sedulang Setudung Tradition in Gelebak Dalam Village, Rambutan District, Banyuasin Regency, South Sumatera Province. This tradition is still being preserved by the Gelebak Dalam community in the midst of the modernization era. Given the importance of values ?? contained in Sedulang Setudung tradition, the term "Sedulang Setudung" becomes the motto of Banyuasin district which was formed based on Law number 6 of 2002. This was qualitative research. The data were collected by conducting a literature study, having observation and interviews. The research was done in 2019. The informants included government officials, cultural observers, and religious figures. The data obtained were presented in a descriptive analysis. The findings of this study indicated that the Sedulang Setudung tradition carried out in the village mosque is a development of the alms tradition and the act of togetherness of the people in Gelebak Dalam Village. The Sedulang Setudung tradition is carried out in order to celebrate holidays and commemorate religious holidays

    Mengintegrasikan Metode Collaborative dan Discovery: Cara Baru dalam Pengajaran Bahasa

    No full text
    This study is conceptual research. It outlines the integration of collaborative model and discovery methods in language teaching. This concept has an advantage that it stimulates students to construct new knowledge through a collaborative and explorative way. This study discusses about the model of collaborative discovery method in which this model involves students to explore the knowledge both individually and in groups. The collaboration of individual and group study will encourage students’ active participation in learning. The model of collaborative discovery method becomes an ideal choice in language teaching

    Komunikasi Interpersonal Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) (Studi pada PKH di Kabupaten Padang Pariaman)

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi dari kehadiran pendamping PKH sebagai ujung tombak pemerintah dalam merubah perilaku keluarga miskin supaya bisa keluarga dari kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh Pendamping PKH kepada KPM dan hambatan dalam pelaksanaan komunikasi interpersonal. Teori yang digunakan adalah teori Kredibilitas Sumber yang dikemukakan oleh Hovland, Janis dan Kelley. Pendekatan penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komunikasi interpersonal dilakukan pada aktivitas pertemuan wajib P2K2, kunjungan ke rumah dan kunjungan ke instansi yaitu dengan cara berdialog langsung dengan KPM melalui tatap muka menggunakan komunikasi verbal dan non verbal. Komunikasi verbal dilakukan secara lisan oleh pendamping selaku komunikator kepada KPM selaku komunikan melalui diskusi dan tanya jawab, dan komunikasi non verbal dalam bentuk sentuhan yang khusus dilakukan kepada disabilitas dan lansia. Sifat hubungan antara pendamping dan KPM yaitu saling ketergantungan karena masing-masing pihak memiliki kewajiban mendampingi dan didampingi, jika tidak dana bantuan di tangguhkan. Pendamping dan KPM berkomunikasi aktif pada setiap pertemuan sampai seluruh informasi yang dibutuhkan telah diperoleh dan KPM telah memaknai seluruh pesan yang disampaikan. Pesan yang disampaikan sehubungan dengan peningkatan kualitas hidup keluarga KPM dan pendamping tidak menggunakan media karena komunikasi dilakukan tatap muka. Untuk menciptakan komunikasi yang efektif pendamping menunjukan sikap keterbukaan, memotivasi, simpati dan empati serta kesetaraan, dan atas sikap yang ditunjukan oleh pendamping tercipta rasa kepercayaan dalam diri KPM sehingga pesan yang disampaikan oleh pendamping diterima dan dilaksanakan dengan baik oleh KPM. Sementara itu Hambatan pada komunikasi interpersonal yang dilakukan yaitu, keterbatasan pengetahuan, perbedaan generasi dan keterbatasan fisik

    Orang-Orang Cina dan Perkembangan Islam di Palembang 1803-2000

    Get PDF
    Chu Yu-chien adalah pewaris terakhir tahta Dinasti Ming. Sebagai seorang pangeran Ming, Chu merupakan keturunan langsung dari kaisar Dinasti Ming yang pertama, Hung-Wu yang memerintah sejak kejatuhan ibukota Peking. Ming suku bangsa asli di Negeri Cina terakhir yang memerintah kedinastian selama hampir tiga abad antara kejatuhan dinasti Yuan-Mongol dan kenaikan QingManchu. Mereka mempunyai anak, cucu, dan keturunan sampai pada keturunan mereka yang bernama Zhu Cing. Karena Zhu Cing kaya raya, maka dia pun dipanggil saudagar Yhu Cing. Rumah tinggalnya yang berada di dekat sebuah anak sungai yang dijadikan dermaga sungai itu pun disebut sungai Saudagar Yhu Cing dan selanjutnya berubah menjadi Kocing. Saudagar Yhu Cing ini kemudian memiliki anak bernama Jaya Laksana, yang merupakan tokoh penting dalam pembangunan masjid Agung Palembang di masa Sultan Mahmud Badaruddin I. Berbeda dengan kaum Cina Muslim atau pendatang terdahulu yang banyak membaur dengan penduduk setempat, maka para imigran Cina yang datang di masa kolonial Belanda, di mana Negeri Cina dikuasai Dinasti Qing yang memusuhi kaum muslim, dimasukkan sebagai kelas kedua bersama para pendatang lainnya. Setelah peristiwa 1965 -yang mana banyak etnis Cina dituduh terlibat dalam Partai Komunis Indonesia yang berbuntut pemulangan ribuan etnis Cina ke Negeri Cina- etnis Cina di Palembang mulai banyak memeluk agama Islam. Berbeda dengan Muslim Cina sebelumnya, Muslim Cina di masa kini banyak mengikuti mazhab Syafii, yang merupakan mazhab mayoritas kaum muslim di Indonesia, yang mulai berkembang di masa Kesultanan Demak yang dipindahkan ke Pajang

    Sejarah dan Perkembangan Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka

    Get PDF
    Museum Rumah Kelahiran Buya HAMKA adalah museum khusus yang di dalamnya terdapat koleksi-koleksi peninggalan Buya HAMKA, berdirinya Museum Rumah kelahiran Buya HAMKA ini pada tahun 2000 dan selesai pada tahun 2001, bangunan museum ini berbentuk rumah gadang yang mencerminkan identitas Minangkabau, dalam pembangunan Museum Rumah Kelahiran Buya HAMKA ini di beri dana dari ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) dan pemerintah Kabupaten Agam. Museum Rumah Kelahiran Buya HAMKA ini masih belum sesuai dengan konsep museum yang seharusnya. Partisipasi Pemerintah Kabupaten Agam khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata sudah mempunyai target sasaran terhadap museum ini, akan tetapi  perhatian Pemerintah Kabupaten Agam masih kurang karena bisa dilihat dari segi pengelolaan, tata letak koleksi, koleksi yang kurang terawat, fasilitas yang kurang memadai, pemahaman manajerial masih kurang, dan juga minat pengunjung lokal masih kurang

    Pengaruh Taswuf Falsafi Dalam Penyebaran Islam di Nusantara Pada Abad 17M

    Get PDF
    Sejak awal masehi kawasan Nusantara  telah berfungsi sebagai jalur lintas perdagangan bagi kawasan Asia Barat, Asia Timur dan Asia Selatan. Kedatangan Islam di Nusantara penuh dengan perdebatan, terdapat tiga masalah pokok yang menjadi perdebatan para sejarawan. Pertama, tempat asal kedatangan Islam. Kedua, para pembawanya. Ketiga, waktu kedatanganya. Namun, Islam telah masuk, tumbuh dan berkembang di wilayah Nusantara dengan cukup pesat. Mengingat kedatangan Islam ke Nusantara yang pada saat itu sudah memiliki budaya Hindu-Budha. Maka hal ini sangat menggembirakan karena Islam mampu berkembang di tengah kehidupan masyarakat yang telah memiliki akar budaya yang cukup kuat dan lama. Kedatangan Islam ke wilayah Nusantara mengalami berbagai cara dan dinamika, antara lain dengan perdagangan, pernikahan, sosial budaya, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan Islam di wilayah ini memiliki corak tersendiri

    Rumah Gadang Tiang Panjang Peninggalan Kerajaan Sungai Dareh Kabupaten Dharmasraya (Tinjauan Historis Arkeologis)

    Get PDF
    Pembahasan tentang Rumah Gadang Tiang Panjang sengaja dipaparkan dalam tulisan ini dengan tujuan untuk menambah cakrawala pembaca bahwa terdapat sebuah Rumah Gadang sebuah Peninggalan Kerajaan Sungai Dareh yang berada di Kabupaten Dharmasraya yang memiliki beragam keunikkan yang berbeda dengan rumah gadang yang diketahui selama ini. Rumah gadang ini diberinama Rumah Gadang Tiang Panjang karena tiang penyanggayang di letakkan horizontal di dinding rumah gadang tersebut terbuat dari kayu yang sangat panjang dan dipasang tanpa ada penyambung sama sekali. Jika dilihat tiang penyangga tersebut seperti hanya ditempel di dinding rumah gadang. Jenis penulisan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarahya itu deskriptif naratif (kualitatif) yakni memberikan gambaran dan penjelasan tentang Rumah Gadang Tiang Panjang Peninggalan Kerajaan Sungai Dareh. Sumber primer dalam penelitian ini yaitu Rumah Gadang Tiang Panjang itu sendiri. Penulis juga melakukan wawancara dengan keturunan dari Kerajaan Sungai Dareh dan beberapa masyarakat. Selain melakukan wawancara penulis juga turun langsung ke lapangan. Adapun hasil penelitian ini adalah Rumah Gadang Tiang Panjang Peninggalan Kerajaan Sungai Dareh tidak hanya memiliki berbagai macam keunikan namun juga memiliki berbagai macam bentuk permasalahan didalamnya. Permasalahan tersebut seperti terjadinya perubahan fungsi atau kegunaan serta terjadinya perubahan pada bentuk atau bahan bangunan dari rumah gadang tiang panjan

    Pendidikan Islam dan Pengaruhnya Terhadap Keber-agamaan di Minangkabau

    Get PDF
    Dalam dinamika keagamaan di Minangkabau telah terjadi beberapa gelombang arus pembaharuan di Minangkabau, hal ini disebabkan oleh pengaruh Pendidikan yang diterima oleh ulama dan masyarakat di Minangkabau. Seluruh ulama yang terlahir di Minangkabau adalah hasil dari didikan surau, namun karena keilmuan Islam bersumber dari Timur Tengah, oleh sebab itu banyak dari ulama Minangkabau yang mematangkan pendidikan Islam di Timur Tengah. Timur Tengah yang saat itu menjadi pusaran perpaduan kultur budaya dan pemikiran reformis dalam Islam, sehingga hal ini mempengaruhi sebagian pelajar dari Minangkabau yang kemudian dikenal dengan kelompok modernis (kaum muda), dan pelajar yang masih terbentengi dari pengaruh tersebut dan masih berpegang kokoh dengan pendidikan surau dan pemikirannya dianggap sebagai kaum tradisional (kaum tua). Pengaruh dari kedua kelompok ulama ini melahirkan dinamika kebereagamaan di Minangkabau dan keragaman praktek keagamaan beserta polemik-polemik di awal abad ke-20

    The Interaction of Suluk/Khalwat and Local Culture : (Review of the books of Suluk and Khalwat)

    Get PDF
    The Khalwat was a tradition to draw closer to God in the way of escaping. Those who undergo khalwah are the perpetrators of suluk, although the essence must be done by the Muslims and All believers as a whole. In the practice of Suluk or order, the Khulwah is one of the levels that must be passed by a Salik or Sufi, in addition to the level of maqamat (degree/position) such as the Repentance, Mujahadah, Zuhud, and others. This can be known through manuscripts of either local manuscripts or the opinion of the calm experts in the Suluk and Khalwat. Sufism entry into Indonesia has undergone interactions and adjustments with local cultures. By conducting library and content analysis studies, the authors try to review the books of Suluk and Sufism and find that Sufism in Indonesia is a combination of Sufism derived from the source with the local culture. Even Sufism in various forms can provide peace and tranquility of soul for people who do it based on their own experience by the perpetrators of the Suluk and the Khulwah

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Rumah jurnal Fakultas Adab dan Humaniora UIN IB
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇