Jurnal Geografi
Not a member yet
191 research outputs found
Sort by
PEMETAAN TITIK KUMPUL SAMPAH LAUT DI KOTA PARIAMAN
Indonesia menjadi negara nomor 2 penghasil sampah laut di dunia. Timbunan sampah plastik diperkirakan mencapai 24.500 ton per hari atau setara dengan 8,96 juta ton per tahun. Kurang lebih 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Dari jumlah itu, hampir 95 persen menjadi sampah. Kondisi ini sangat berbahaya, karena sampah plastik butuh ratusan tahun untuk terurai ke lingkungan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.Begitu juga di Kota Pariman yang sampah lautnya tersebar sepanjang pesisir pantai di kota pariaman. Tumpukan sampah yang ada akan hanyut terbawa ke laut. Jumlah limbah ini semakin lama semakin besar, dan hingga sekarang belum diketahui pasti dampak lingkungannya secara jangka panjang, selain dampak estetikanya yang sudah jelas merugikan, sehingga menambah volume sampah laut di kota pariaman dan provinsi sumatera barat. Metode untuk pemetaan titik kumpul adalah metode teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan 1) Terdapat 6 objek wisata sumber sampah atau sumber penghasil sampah, laut di kota pariaman. 2) Dominasi sampah yang ada di kota pariaman adalah sampah organik dengan presentase mencapai 79,705%, sedangkan anorganik mencapai 20,295%
ANALISIS TINGKAT KESIAPSIAGAAN TERHADAP BENCANA GEMPA BUMI DI SMP NEGERI KOTA PARIAMAN
Kota Pariaman merupakan salah satu kota di Provinsi Sumatera Barat yang rentan dengan bencana gempa bumi. Besarnya jumlah korban jiwa yang diakibatkan oleh gempa bumi menyebabkan Pemerintah Kota Pariaman mencanangkan wawasan tanggap bencana harus diterapkan di semua instansi pendidikan termasuk pada sekolah menengah pertama. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis tingkat kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi di Sekolah Menengah Pertama Kota Pariaman, guna megurangi dampak yang ditimbulkan bencana gempa bumi tersebut. Metode yang dilakukan untuk analisis tingkat kesiapsiagaan adalah metode campuran yaitu menggabungkan metode kuantitatif dan metode kualitatif dengan teknik survei. Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi di sekolah menengah pertama Kota Pariaman, sedangkan metode kualitatif digunakan utuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kesiapsiagaan sekolah menengah pertama dalam menghadapi ancaman bencana gempa bumi di Kota Pariaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesiapsiagaan bencana gempa bumi di SMP Negeri se Kota Pariaman masih dalam kategori rendah. Kesembilan sekolah menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam menghadapi bencana gempa bumi. Hasil dari penelitian ini diharapkan sebagai bahan pertimbangan bagi Dinas Pendidikan Kota Pariaman untuk membuat kebijakan dalam mengelola sekolah tanggap bencana.
Kata Kunci: Bencana, Gempa Bumi, Kesiapsiagaa
ANALISIS KERAPATAN VEGETASI UNTUK AREA PEMUKIMAN DENGAN MEMANFAATAN CITRA SATELIT LANDSAT DI KOTA TASIKMALAYA
Global warming is an important issue to discuss because it is very impactful to human life, one of the factors influencing increase global warming is decreasing the green vegetation continuously that exist in both urban and rural areas. Especially in urban areas because it is the center of human activity. The high level of human activity centered in the city leads to an increase in the need for land use which will lead to reduced vegetation density levels. Utilization of remote sensing images can be used to determine the density of vegetation in an area. Vegetation density analysis can be done by means of digital imagery intrepetation using the transformation of NDVI (Normalized Different Vegetation Index). The purpose of this research is to know the land use through the calculation of vegetation index of residential area in Tasikmalaya city
INVENTARISASI POTENSI NAGARI GUNUANG RAJO BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT MENUJU NAGARI EKOWISATA Di Kenagarian Gunuang Rajo Kecamatan Batipuh Kabupaten Tanah Datar
Sektor pariwisata merupakan sumber perekonomian yang sangat penting, menempati urutan ketiga penerimaan devisa nagara setelah komoditi minyak bumi serta minyak kelapa sawit. Nagari wisata adalah suatu daerah wisata yang menyajikan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan baik dari sisi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, keseharian, adat istiadat, memiliki arsitektur dan tata ruang yang khas dan unik, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta memiliki potensi untuk dikembangkannya komponen kepariwisataan. Nagari Gunuang Rajo adalah salah satu nagari di Sumatera Barat yang memiliki objek wisata alam, wisata sejarah dan budaya, dan wisata industri kerajinan tangan dan layak untuk di kembangkan. Terletak di kaki Gunuang Marapi yang membujur dari arah Timur ke Barat diapit oleh dua buah sungai yaitu Batang Lubuk Punago dan batang Gadih. Potensi Alam berupa Kawasan Puncak Tanah Sirah dan aliran Sungai Batang Gading menjadi Potensi Utama untuk pengembangan Wisata alam di Nagari Gunuang Rajo Yaitu menjadikan Batang Gadih sebagai Arena Olahraga Air Arung Jeram, Tubbing, dan Pemandian Alami. Masterplan Nagari Ekowisata Pada Nagari Gunuang Rajo Akan disusun pada tahun berikutnya berdasarkan Potensi SDA dan daya dukung nagari lainnya yang telah dipetakan melalui kegiatan tahun 1 (satu) ini berupa kegiatan Inventarisasi Potensi Nagari munuju Nagari Ekowisata nagari Gunuang Rajo
8. IDENTIFIKASI SIFAT KIMIA TANAH PADA LONGSOR AKTIF DAN LONGSOR INAKTIF (DORMANT) DI DESA MARGOYOSO KECAMATAN SALAMAN KABUPATEN MAGELANG JAWA TENGAH
Sub DAS Bompon adalah salah satu wilayah terdampak bencana longsor yang mencakup sebagian wilayah Kabupaten Magelang, Indonesia. Sebagian Wilayah Sub DAS Bompon dimanfaatkan untuk pertanian dan permukiman, sehingga meningkatkan kerawanan penduduk terhadap longsor. Identifikasi sifat kimia tanah diperlukan sebagai dasar informasi tentang dinamika longsor. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi sifat kimia tanah meliputi pH aktual, pH potensial, bahan organik,dan kejenuhan basa pada longsor status aktif dan inaktif di Desa Margoyoso Kecamatan Salaman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dan teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara stratified random sampling. Hasil identifikasi pH tanah menunjukkan pH aktual dan potensial pada dua status longsor tidak jauh berbeda berikisar antara 4,5 hingga 5,5. Kandungan Fe dan Mn banyak ditemukan pada longsor aktif dibanding pada longsor inaktif. Bahan organik banyak ditemukan di kedua status longsor dan terkonsentrasi pada morfologi tubuh dan kaki longsor. Kandungan kapur bebas (CO3) pada kedua status longsor tidak ditemukan
KONSERVASI ELANG BONDOL DI PULAU KOTOK, KABUPATEN KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA
Pembuatan artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji pengelolaan perawatan elang, mengidentifikasi dan mengkaji rehabilitasi yang dilakukan terhadap satwa tangkapan, baik hasil sitaan, penyerahan sukarela oleh masyarakat, atau penyelamatan dari alam termasuk satwa yang lahir di kandang, serta tahap perlakuan selanjutnya terhadap elang. Upaya pelestarian elang bondol di Pulau kotok, Kepulausan Seribu dilakukan dalam rangka untuk menyelamatkan dan merehabilitasi elang bondol yang pada awalnya merupakan elang yang akan diselundupkan pada tahun 2004 dengan jumlah delapan ekor. Hasil selundupan tersebut kemudian dikelola oleh Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur (PPSTA) yang bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (BTNKpS) yang diresmikan Menteri Kehutanan MS Kaban pada 8 Agustus 2005. Kemudian pengelolaan berpindah tangan pada suatu LSM yang bergerak dalam konservasi dan rehabilitasi berbagai hewan yang terancam kepunahan yang bernama Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Selain merehabilitasi satwa elang bondol, merehabilitasi habitatnya sedemikian rupa seperti habitat aslinya untuk mengembalikan insting sebagai predator agar dapat dilepas kembali kealam liar. Dalam mempermudah pengamatan setelah dilepas, elang – elang ini dipasangi cincin dengan microchip didalamnya untuk mempermudah memonitoring pergerakannya. Semua ini dilakukan dengan harapan mengembalikan populasi dan perkembanga elang bondol yang hampir punah
MENGIDENTIFIKASI PERUBAHAN KERAPATAN VEGETASI PADA KOTA SEMARANG
Dari tahun ke tahun suatu kota pasti akan mengalami sebuah perkembangan, Kegiatan sehari hari dan pelayanan penduduk lah yang menyebabkan suatu kota mengalami perkembangan pesat, namun perubahan pengunaan lahan pasti akan berubah setiap waktu nya, tidak sedikit juga lahan yang beralih fungsi di karenakan suatu kepentingan dalam perencanaan bangunan di perkotaan yang dapat menurunya kualitas lingkungan, Kualitas lingkungan yang menurun itu di sebabkan karena sedikitnya ketersediaan ruang atau area vegetasi di suatu perkotaan [1].
Penelitian ini menganalisis perubahan kerapatan vegetasi yang terjadi di kota semarang dari tahun 1989, 2000, Dan tahun 2012, Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah perbandingan nilai normalized difference vegetation index (NDVI) dengan kanal merah (red) dan infra merah dekat (NIR) yang sudah dikonversi ke nilai reflektan. Teknik analisis menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dan penginderaan jauh dengan menentukan kerapatan vegetasi dan diklasifikasikan menjadi kelas 5 kerapatan, antara lain Kelas sangat rapat, Kelas Rapat, Kelas Cukup Rapat, Kelas Tidak rapat, dan Kelas Tidak Bervegetasi
PEMETAAN KONDISI TUTUPAN TERUMBU KARANG DI KAWASAN MANDEH KABUPATEN PESISIR SELATAN SUMATRA BARAT
KawasanTelukMandeh atau Taman Nasional LautMandehterletakkecamatan Koto XI TarusanKabupatenPesisir Selatan. Kawasan Mandeh memiliki potensi yang beragam terutama adalah potensi wisata bahari seperti wisata pantai, snorkling dan selam (diving). Fungsi terumbu karang dalam berbagai aspek sangat penting, dari aspek fisik, kimia, ekologis, sosial, ekonomi, dan aspek lain.Tujuanpenelitianuntukmelihattingkattutupandankesehatanterumbukarang di KawasanMandeh, danjenis-jenisterumbukarang yang terdapat di kawasanini, selainitukelimpahan biota megabenthosdanikankarangjugadihitungsebagai data pendukungkeseharanterumbukarang. Metode yang digunakandalampengumpulan data adalah LIT (Line Intersept Transect), ditentukan 3 stasiunpengamatandanmasing-masingstasiundiambil data pada 2 kedalaman yang berbedayaitukedalaman 3 meter dan 10 meter.Diketahui tutupan karang hidup pada stasiun I (PulauMarak) sebesar 21,4 %, stasiun II (Kapo-kapo) 24 %, dan stasiun III (PulauSetan) padakedalaman 3 m sebesar 47,13 %. Genus Diadema (Bulu Babi) merupakankelimpahanmegabenthostertinggidan paling banyakditemuipadastasiun II mencapai8500individu/ha, danjenisDrupella/Gastropodapada CB/ACB merupakanjenismegabenthos yang paling sedikitditemuidanhanyaditemuipadastasiun I yaitusebesar 200 individu/ha. Dijumpaiikankarangsebanyak 39 jenis, IkanNeopomacentrusazysronmerupakanjenisikankarang yang memilikikelimpahan yang tertinggidibandingkanjenisikankarang lain yaitusebesar 6094 individu/ha. Kelimpahanjenisikanekonomispenting (target) yang ditemukanpadaketigastasiuntersebut 1267 individu/ha, Kelimpahanjenisikanindikator yang ditemukanpadaketigastasiuntersebut 520 individu/ha. Kondisikualitasperairanmasihtergolongbaikdenganhasilpengamatansebagaiberikutsuhu 30,33 0C, kecerahan 5 m, sanilitas 33,33 0/00, pH 8
INOVASI MASYARAKAT LOKAL TERHADAP PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE DI TANJUNG API – API KECAMATAN BANYUASIN II KABUPATEN BANYUASIN
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana inovasi masyarakat setempat terhadap pemanfaatan hutan bakau di Tanjung Api-Api, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui inovasi masyarakat lokal dalam pemanfaatan hutan bakau di Tanjung Api-Api, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin. metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi wilayah Sungsang dalam memanfaatkan hutan mangrove digunakan sebagai sumber makanan bagi masyarakat, penggunaan daun nipah untuk kebutuhan masyarakat sekitar, buah mangrove yang diolah digunakan untuk jus mangrove, sabun mangrove dan pemanfaatannya. buah mangrove juga memiliki nilai ekonomi dan nilai strategis yang dapat mendukung perekonomian masyarakat.
Kata kunci: Hutan Mangrove, Pemanfaatan Hutan MangroveThe problem in this research is how the innovation of the local community towards the use of mangrove forests in Tanjung Api-Api, Banyuasin II Subdistrict, Banyuasin Regency. This study aims to determine the innovation of local communities in the utilization of mangrove forests in Tanjung Api-Api, Banyuasin II Subdistrict, Banyuasin District. qualitative descriptive method. Data collection techniques in this study using observation, interviews, and documentation. The results showed that the population of Sungsang area in utilizing mangrove forests was used as a food source for the community, the use of nipah leaves for the needs of the surrounding community, processed mangrove fruit was used for mangrove juice, mangrove soap and the utilization of mangrove fruits also had economic value and strategic value able to support the economy of the community.
Keywords: Mangrove Forests, Utilization of Mangrove Forest
PENILAIAN TINGKAT RISIKO TANAH LONGSOR PADA PENGGALAN LAHAN DAS BOMPON MAGELANG JAWA TENGAH
Daerah aliran sungai Bompon merupakan daerah aliran sungai yang memiliki karateristik bentang lahan yang unik dengan tingkat potensi longsor yang tinggi. Untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya bencana alam tanah longsor, maka perlu disediakan kajian tingkat risiko tanah longsor. Tujuan penelitian adalah untuk melakukan penilaian resiko tanah longsor dengan skala lokal pada satu penggal lahan di unit terkecil DAS Bompon. Motode yang digunakan dalam penilaian tingkat risiko tanah longsor adalah metode transek dan survey dengan melakukan profiling pada titik-titik pengamatan lereng longsoran pada satu penggalan lahan. Terdapat enam titik profiling terdistribusi yang dianggap dapat mewakili seluruh seluruh wilayah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat bahaya longsor paling tinggi terdapat di titik dua, kerentanan tanah longsor terdapat pada titik tiga dan elemen berisiko resiko terdapat pada titik tiga. Integrasi ke-tiga data tersebut menghasilkan nilai tingkat resiko tinggi pada sampel tiga