Jurnal Geografi
Not a member yet
191 research outputs found
Sort by
Geographic Information System EVALUATION OF ENVIRONMENTAL QUALITY OF SETTLEMENTS IN MANDALAJATI DISTRICT, BANDUNG CITY USING REMOTE SENSING AND GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM
ABSTRACT
EVALUATION OF ENVIRONMENTAL QUALITY OF SETTLEMENTS IN MANDALAJATI DISTRICT, BANDUNG CITY USING REMOTE SENSING AND GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM
Muhamad Aditya Nugraha
The quality of the residential environment is a combination of the conditions of a residential environment including aspects of house conditions, sanitation and basic residential infrastructure. Rapid population growth accompanied by the decreasing availability of land for settlements has raised concerns regarding the quality of the residential environment. This study aims to evaluate the level of quality of the residential environment in Mandalajati District, as well as to test the accuracy of the results of Pleiades image processing and Geographic Information Systems (GIS) in assessing the quality of the residential environment. The research method used involves the interpretation of remote sensing imagery with a scoring and overlay approach. The results of this study indicate that the parameters that determine the quality of the residential environment based on Pleiades imagery include residential density, building layout, width of residential entrance roads, number of protective trees, location of settlements, and quality of building roofs. Analysis of the distribution of the level of environmental quality of settlements in Mandalajati District shows that 45% of the total area is classified as poor, 28% is in moderate, and 27% is in good. The accuracy of image processing and mapping is tested using a confusion matrix, with the accuracy reaching 92%. This study provides an important contribution to understanding the relationship between population density and the quality of the residential environment, and shows the effectiveness of using remote sensing and GIS technology in monitoring the quality of the residential environment.
Keywords: Residential Environmental Quality, Remote Sensing, Geographic Information System.ABSTRAK
EVALUASI KUALITAS LINGKUNGAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN MANDALAJATI KOTA BANDUNG DENGAN MENGGUNAKAN PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
Muhamad Aditya Nugraha
Kualitas lingkungan permukiman merupakan gabungan dari kondisi suatu lingkungan rumah tinggal meliputi aspek konidisi rumah, sanitasi dan prasarana dasar permukiman. Pertumbuhan penduduk yang pesat diiringi dengan semakin berkurannya ketersediaan lahan untuk permukiman telah menimbulkan kekhawatiran terkait kondisi kualtias lingkungan permukiman. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kualitas lingkungan permukiman di Kecamatan Mandalajati, serta menguji akurasi hasil pengolahan citra Pleiades dan Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam menilai kualitas lingkungan permukiman. Metode penelitian yang digunakan melibatkan interpretasi citra penginderaan jauh dengan pendekatan skoring dan overlay. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa parameter-parameter yang menentukan kualitas lingkungan permukiman berdasarkan citra Pleiades meliputi kepadatan permukiman, tata letak bangunan, lebar jalan masuk permukiman, jumlah pohon pelindung jalan, lokasi permukiman, dan kualitas atap bangunan. Analisis distribusi tingkat kualitas lingkungan permukiman di Kecamatan Mandalajati menunjukan bahwa 45% dari total area tergolong dalam kelas buruk, 28% dalam kelas sedang, dan 27% dalam kelas baik. Akurasi pengolahan citra dan pemetaan ini diuji menggunakan matriks konfusi, dengan hasil ketelitian mencapai 92%. Penelitian ini membetikan kontribusi penting dalam memahami hubungan antara kepadatan penduduk dan kualitas lingkungan permukiman, serta menunjukan keefektifan penggunaan teknologi penginderaan jauh dan SIG dalam pemantauan kualitas lingkungan permukiman.
Kata Kunci: Kualitas Lingkungan Permukiman, Penginderaan Jauh, Sistem Informasi Geografis
ANALISIS SPASIOTEMPORAL LAND SURFACE TEMPERATURE DAN AIR SURFACE TEMPERATURE MENGGUNAKAN LANDSAT 8 TAHUN 2018, 2019, DAN 2025 DI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA
Urban Heat Island (UHI) phenomenon causes higher urban temperatures than its surrounding areas. UHI comprises both Land surface temperature (LST) and Air Surface Temperature (AST) that are interrelated. LST is often linked to surface properties of landcover types with its influencing parameters, including surface material, vegetation, and soil moisture. Whereas AST is determined based on LST-based modeling, with field based measurement. Research analysis was conducted in Universitas Indonesia (UI), and the Faculty of Health Sciences (FKM), characterized by its unique landcovers, including dispersed vegetation, water bodies, and built-up areas, using Landsat 8 imagery.The results show that LST 2018, 2019, 2015 ranged 19,20 - 39,68 °C, with low temperatures in vegetation and water bodies, and high temperatures in asphalt and buildings. 2018 and 2019 AST using various linear models ranged 16,14 - 35,74 °C, and 2025 AST using the model best represents the actual temperature ranging 29,50 - 34,76 °C for UI and 31,44 - 32,47 °C for FKM. Field measurement conducted at building, vegetation, and impervious areas resulted in 31,80 - 35,07 °C temperature range. M-AST model shows 0,9988 × LST + 4,3082 regression produces results most closely matched to the field measurements.
Keywords :UHI, LST, AST, Landsat 8, Universitas IndonesiaFenomena Urban Heat Island (UHI) menyebabkan suhu perkotaan memiliki suhu permukaan lebih hangat daripada daerah sekitarnya. UHI mencakup Land surface temperature (LST) dan Air Surface Temperature (AST) yang saling berkaitan. LST berkaitan dengan sifat permukaan jenis tutupan lahan dengan parameter memengaruhi berupa material permukaan, vegetasi, serta kelembaban tanah. Sedangkan AST ditentukan oleh permodelan berbasis LST, yang identik dengan pengukuran lapangan. Analisa dilakukan di Universitas Indonesia (UI) dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) dengan keunikan tutupan lahan, vegetasi, badan air, dan lahan terbangun yang tersebar, menggunakan citra landsat 8. Hasil LST di UI dan FKM 19,20 - 39,68 °C pada tahun 2018, 2019, dan 2025, dengan suhu rendah pada vegetasi dan badan air, sedangkan suhu tinggi pada jaringan jalan dan bangunan. Sedangkan hasil AST dari pemodelan LST 2018 dan 2019 dengan persamaan linier berbeda 16,14 - 35,74 °C. Pemodelan AST tahun 2025 dihitung dengan model yang paling mendekati suhu sebenarnya, hasilnya 29,50 - 34,76 °C di UI dan 31,44 - 32,47 °C di FKM. Sementara hasil pengukuran lapangan 31,80 - 35,07 °C yang diukur pada bangunan, vegetasi, dan lahan terbuka. Sehingga hasil dari pemodelan M-AST 0,9988 × LST + 4,3082 paling mendekati hasil pengukuran lapang di FKM.
Kata kunci: UHI, LST, AST, Landsat 8, Universitas Indonesi
Analisis Curah Hujan Dan Risiko Banjir Di Ibu Kota Nusantara (IKN) Tantangan Dan Strategi Mitigasi
The relocation of Indonesia’s capital city to East Kalimantan presents new challenges, particularly in terms of disaster risk, including flooding. Land-use changes, deforestation, and high rainfall are key factors that may increase this risk. This study aims to analyze daily and monthly rainfall data in the surrounding areas of the new capital (IKN) from 2019 to 2024 to understand extreme rainfall patterns and their relation to flood potential. The method used is descriptive quantitative analysis based on rainfall data from BMKG stations closest to the IKN area. The data is analyzed to observe annual trends and variations in rainfall. The results are expected to provide an overview of the tendency for high rainfall and support data-driven flood mitigation efforts. These findings are important for spatial planning and the development of green infrastructure that is adaptive to climate change in the IKN region.Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur membawa tantangan baru terkait potensi bencana, salah satunya banjir. Perubahan penggunaan lahan, deforestasi, dan curah hujan tinggi menjadi faktor utama yang dapat meningkatkan risiko tersebut. Studi ini bertujuan untuk menganalisis data curah hujan harian dan bulanan di sekitar wilayah IKN pada tahun 2019-2024 guna memahami pola curah hujan ekstrem dan kaitannya dengan potensi banjir. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif menggunakan data curah hujan dari stasiun BMKG terdekat dari wilayah IKN. Data dianalisis untuk melihat tren dan variasi curah hujan yang terjadi setiap tahun. Hasil analisis diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kecenderungan curah hujan tinggi serta mendukung upaya mitigasi banjir yang lebih berbasis data. Temuan ini penting sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan infrastruktur hijau yang adaptif terhadap perubahan iklim di kawasan IKN
Analisis Persepsi dan Kapasitas Adaptif Petani Sawah terhadap Perubahan Iklim di Kabupaten Maros
This study aims to assess the perceptions and adaptive capacities of rice farmers in responding to climate change in Maros Regency. Data were collected through interviews, observations, and questionnaires, and analyzed using descriptive statistical methods. The findings reveal that most rice farmers in Maros Regency have a positive perception of climate change, with an average perception score of 48.080, indicating a high level of awareness regarding its impacts. Furthermore, the farmers demonstrate a good level of adaptive capacity, with an average score of 46.353, reflecting their ability to adjust to changing climatic conditions. Overall, the study concludes that rice farmers in Maros Regency possess positive perceptions, sufficient adaptive capacities, and predominantly adopt adaptation strategies that align with local conditions. Factors such as education, access to information, farming experience, and financial resources significantly influence their perceptions and adaptive capacities.
Keywords: Climate Change, Farmers’ Perception, Adaptive CapacityPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi dan kapasitas adaptif petani sawah dalam menghadapi perubahan iklim di Kabupaten Maros. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan kuesioner. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas petani sawah di Kabupaten Maros memiliki persepsi yang baik tentang perubahan iklim. Rata-rata skor persepsi mencapai 48,080 mengindikasikan bahwa petani secara umum menyadari dampak perubahan iklim. Petani sawah di Kabupaten Maros juga memiliki tingkat kapasitas adaptif yang baik dalam menghadapi perubahan iklim. Rata-rata skor kapasitas adaptif adalah 46,353 menunjukkan bahwa petani secara umum mampu beradaptasi dengan perubahan iklim. Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa petani sawah di Kabupaten Maros memiliki persepsi yang baik tentang perubahan iklim, tingkat kapasitas adaptif yang memadai dan mayoritas mengadopsi strategi adaptasi yang sesuai dengan kondisi lokal. Faktor-faktor seperti pendidikan, akses terhadap informasi, pengalaman, dan sumber daya finansial berperan dalam mempengaruhi persepsi dan kapasitas adaptif petani sawah di Kabupaten Maros.
Kata Kunci: Perubahan Iklim, Persepsi Petani, Kapasitas Adaptif petan
PREDICTION OF RESIDENTIAL AREA DEVELOPMENT IN LEMBANG DISTRICT IN 2028 USING NEAREST NEIGHBOR ANALYSIS AND CELLULAR AUTOMATA-LOGISTIC REGRESSION
Population increase and swift growth in the Lembang District have led to considerable effects on land use alterations and a decline in vegetation. As a result, this research seeks to examine: 1) changes in land use in Lembang District in 2008-2023, 2) predictions of residential area development, 3) predictions of settlement development patterns. The approach applied involves Nearest Neighbor Analysis to examine the trends and pathways of regional growth in Lembang District, along with the Cellular Automata-Logistic Regression model utilized for forecasting shifts in land utilization in Lembang District. Findings from the investigation into land use alterations reveal transformations from agricultural areas to residential zones, with a total change area of 292.67 Ha and changes in dry fields/fields to plantations covering an area of 562.57 Ha. Then the prediction of settlement development in 2028 increased by 123.62 Ha or increased by around 8% with a kappa correction validation result of 97%. Based on the outcomes of the settlement forecast, a study was conducted on the settlement distribution trend. The findings from this study indicate that the anticipated settlement distribution trend that settlements form a clustered pattern
KEBERAGAMAN BENTUK LAHAN DI DAERAH TUKSONGO DAN SEKITARNYA, KECAMATAN BOROBUDUR, KABUPATEN MAGELANG, JAWA TENGAH KAITANNYA DENGAN KARAKTERISTIK GEOMORFOLOGI
The research area is located in the Tuksongo area and its surroundings, Borbudur District, Magelang Regency, Central Java. Astronomically, the area is 110°10'21.8"– 110° 13' 39.0" East Longitude and 7°36'36.4"– 7° 38' 20.2" South Latitude. With an area of 30 km2, the mapping area has its own charm, especially from a geomorphological perspective. All geological aspects in the mapping area are closely related to intensive volcanic activity in the Oligocene to Miocene which was controlled by 3 ancient volcanoes, namely Mount Ijo, Mount Gajah and Mount Menoreh. Apart from that, recent volcanic activity such as Mount Sumbing also plays a role in forming the mapping area. Geomorphologically, in the mapping area there are four units, namely the Kerukbatur Lava Flow Ridge Geomorphological Unit, the Ngaglik Caldera Wall Geomorphological Unit, the Bejen Pyroclastic Flow Plain Geomorphological Unit and the Tuksongo Alluvial Plain Geomorphological Unit.Daerah penelitian terletak pada daerah Tuksongo dan sekitarnya, Kecamatan Borbudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Secara astronomis daerah tersebut berada 110°10'21,8"– 110° 13' 39,0" BT dan 7°36'36,4"– 7° 38' 20,2" LS. Dengan luas mencapai 30 km2 daerah pemetaan memiliki daya tarik tersendiri, khususnya dari segi geomorfologi. Semua aspek geologi pada daerah pemetaan sangat terkait dengan aktivitas volkanisme yang intensif pada Oligosen hingga Miosen yang dikontrol oleh 3 gunung api purba yaitu Gunung Ijo, Gunung Gajah dan Gunung Menoreh. Selain itu aktivitas gunung api recent seperti Gunung Sumbing pun memiliki peran dalam pembentukan daerah pemetaan. Secara geomorfologi pada daerah pemetaan terdapat empat satuan yaitu Satuan Geomorfologi Punggungan Aliran Lava Kerukbatur, Satuan Geomorfologi Dinding Kaldera Ngaglik, Satuan Geomorfologi Dataran Aliran Piroklastik Bejen dan Satuan Geomorfologi Dataran Aluvial Tuksongo
MONITORING 10 TAHUN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DI SEKITAR BANDAR UDARA KOMODO MENGGUNAKAN CITRA GOOGLE EARTH
Labuan Bajo merupakan satu dari lima Destinasi Super Prioritas (DSP). Salah satu program pengembangan DSP adlah pengembangan infrastruktur seperti bandara. Pengembangan infrastruktur dapat berdampak pada perubahan penggunaan lahan disekitarnya. Penelitian ini memanfaatkan Citra Google Earth untuk analisis spasial temporal perubahan tutupan lahan di sekitar Bandar Udara Komodo berdasarkan 3 tahun data yaitu Citra Google Earth tahun 2013, 2018 dan 2023. Klasifikasi tutupan lahan diperoleh berdasarkan interpretasi visual untuk membagi kelas tutupan lahan menjadi 4 kelas yaitu lahan terbangun, non lahan terbangun, terminal bandara dan runway. Dalam kurun waktu 10 tahun (2013-2023) lahan terbangun yang dibatasi pada Area of Interest (AoI) meningkat sebesar 103,67 Ha sementara kelas non lahan terbangun berkurang seluas 111,01 Ha. Sementara itu perkembangan pembangunan Bandar Udara Komodo juga terlihat pada Citra Google Earth seperti terminal bandara yang semakin besar dan runway yang semakin panjang. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan alternatif metode bagi pemangku kepentingan di Kabupaten Manggarai Barat dalam memonitoring perubahan penggunaan lahan agar tetap sejalan dengan alokasi atau peruntukan ruangnya
PEMETAAN ALIRAN DAN CEKUNGAN AIR TANAH MENGGUNAKAN METODE INTERPOLASI KRIGING DI PESISIR KABUPATEN GARUT, JAWA BARAT
A groundwater basin is an area bounded by hydrogeologic boundaries, where groundwater recharge, flow and discharge processes take place, which is a process of hydrogeologic events. Information on its distribution and availability is important for sustainable utilization planning. This study aims to map groundwater flow and basin in Garut Coastal Area, West Java, using Kriging interpolation method. Data were obtained from field surveys at 66 well points in 10 Areas of Interest (AOI). This method was used to interpolate hydrogeological data to produce an accurate visualization of the distribution of water flow and groundwater basins in the region. Hydrogeological data was collected from various sources, including boreholes and field measurements. The results show variations in groundwater depth between 0.91-41.91 meters with shallow water patterns found in several sub-districts in the southern region. The mapping information can help the management and planning of groundwater utilization as well as the development of the coastal area of Garut Regency.
Keywords: Groundwater Basin; Hydrogeology; KrigingCekungan air tanah merupakan suatu wilayah yang dibatasi oleh hidrogeologis, dimana terdapat proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung yang merupakan proses kejadian hidrogeologis. Informasi mengenai sebaran dan ketersediaannya penting untuk perencanaan pemanfaatan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan aliran dan cekungan air tanah di Pesisir Garut, Jawa Barat, dengan menggunakan metode interpolasi Kriging. Data diperoleh dari survei lapangan pada 66 titik sumur di 10 Area of Interest (AOI). Metode ini digunakan untuk interpolasi data hidrogeologi guna menghasilkan visualisasi yang akurat tentang distribusi aliran air dan cekungan air tanah di wilayah tersebut. Data hidrogeologi dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk sumur bor dan pengukuran lapangan. Hasilnya menunjukkan variasi kedalaman air tanah antara 0,91-41,91 meter dengan pola air dangkal banyak ditemukan di beberapa kecamatan wilayah selatan. Informasi pemetaan dapat membantu pengelolaan dan perencanaan pemanfaatan air tanah serta pengembangan wilayah pesisir Kabupaten Garut.
Kata Kunci : Cekungan Air Tanah; Hidrogeologi; Krigin
PEMAHAMAN MAHASISWA UNIVERSITAS SILIWANGI DALAM KONSEP LITERASI LINGKUNGAN (EKOLITERASI UNTUK MEWUJUDKAN KAMPUS RAMAH LINGKUNGAN
This article discusses the understanding of Geography and Biology students at Siliwangi University about ecoliteracy in creating an environmentally friendly campus. This study used a quantitative survey method with a Google Form questionnaire. The findings show that Geography students have an understanding of the concept of ecoliteracy, but 70% have difficulty implementing it, while 30% can do it. For Biology students, 60% are aware of ecoliteracy, while 40% are not. The results confirmed the influence of ecoliteracy understanding on students' awareness and actions towards the environment. This research highlights the importance of ecoliteracy in fostering concern for the environment, with an emphasis on the participation of the entire academic community, including student activity units, lecturers, and campus administrators.Artikel ini membahas pemahaman mahasiswa Geografi dan Biologi di Universitas Siliwangi tentang ekoliterasi dalam menciptakan kampus ramah lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode survei kuantitatif dengan kuesioner Google Form, jumlah responden yang berasal dari mahasiswa geografi mencapai 32, sementara dari jurusan biologi sebanyak 13.. Temuan menunjukkan mahasiswa Geografi memiliki pemahaman konsep ekoliterasi, tetapi 70% mengalami kesulitan mengimplementasikannya, sementara 30% dapat melakukannya. Bagi mahasiswa Biologi, 60% menyadari ekoliterasi, sedangkan 40% tidak. Hasil penelitian menegaskan pengaruh pemahaman ekoliterasi terhadap kesadaran dan tindakan mahasiswa terhadap lingkungan. Penelitian ini menyoroti pentingnya ekoliterasi dalam menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, dengan penekanan pada partisipasi seluruh civitas akademik, termasuk unit kegiatan mahasiswa, dosen, dan pengurus kampus
GEOLINGUISTIK: VARIASI DIALEK DAN LEMAHNYA PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA OLEH GENERASI MUDA
Indonesia has a variety of regional languages, and the geographical location of each region will also determine language variations. The forms of language variation can be distinguishedfrom geographical, social, and temporal locations. Sundanese is one of the various languagesowned by Indonesia with a variety of dialect variations and ranks second with the largest number of speakers in Indonesia. The current development of Science and Technology (Science and Technology) greatly influences dynamic life, especially in aspects of acculturation of language or linguistics. This will cause the fading of Sundanese as a regional language, and variations of the original Sundanese dialect will begin to erode due to the environment of the younger generation. The purpose of this writing is to find out the various variations of Sundanese dialects and overcome the threat of language extinction due to the weak maintenance of Sundanese by the younger generation which is studied from a geographical perspective. The research method used is a systematic literature review (SLR), namely a literature search and Geolinguistic theoretical methods. One of the results of this study is thatfrom a geographical point of view efforts to maintain the Sundanese language need to increaseaccessibility through infrastructure development so that the mobility of people from various regions can help strengthen relations between regions which in turn can maintain Sundanese and local regional dialects. It is hoped that the results of this research can provide appropriateefforts to maintain the Sundanese language and dialect.Indonesia merupakan negara yang memiliki ragam bahasa daerah dan letak geografis tiap daerahnya juga akan menentukan variasi bahasa. Bentuk variasi bahasa dapat dibedakan dari letak geografis, sosial, dan temporal. Bahasa Sunda merupakan salah satu ragam bahasa yang dimiliki oleh Indonesia dengan ragam variasi dialek dan menduduki urutan kedua dengan jumlah penutur paling banyak di Indonesia. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini sangat memengaruhi kehidupan yang sifatnya dinamis khususnya dalam aspek akulturasi bahasa atau linguistik. Hal ini akan menyebabkan pudarnya Bahasa Sunda sebagai bahasa daerah, begitupun ragam variasi dialek asli Sunda mulai mengikis akibat lingkungan para generasi muda. Tujuan penulisan ini untuk mengetahui ragam variasi dialek Bahasa Sunda dan mengatasi ancaman kepunahan bahasa karena lemahnya pemertahan Bahasa Sunda oleh generasi muda yang dikaji menurut sudut pandang geografi. Metode penelitian yang digunakan yakni review sistematik literature/ Systematic Literature Review (SLR)yaitu dengan penelusuran literatur dan metode teoritis Geolinguistik. Hasil dari penelitian ini salahsatunya dari sudut pandang geografi, upaya pemertahanan Bahasa Sunda diperlukan adanyapeningkatan aksebilitas melalui pembangunan infrastruktur agar mobilitas penduduk dari berbagai wilayah dapat membantu memperkuat hubungan antar wilayah yang pada gilirannya dapatmempertahankan Bahasa Sunda dan dialek daerah setempat. Harapannya hasil dari penelitian ini dapatmemberikan upaya yang tepat untuk upaya pemertahanan Bahasa Sunda serta dialek setiap daerahnya