Jurnal Geografi
Not a member yet
    191 research outputs found

    PEMETAAN KERAWANAN TSUNAMI KECAMATAN WANASALAM KABUPATEN LEBAK

    Full text link
    Indonesia is an archipelago located on three of the most active plates on earth which is commonly referred to as the ring of fire. This condition makes Indonesia very often hit by earthquakes. The composition of the area which is dominated by water (marine) makes the potential for earthquake into a very high tsunami potential. Wanasalam sub-district in the south of the island of Java has the high potential of tsunami, because it borders the Indian Ocean and is at the meeting of the two most active plates. With sophisticated GIS technology at this time, disaster mitigation efforts through map making have become the most relevant alternative. Keywords: GIS, Tsunami, Wanasalam District.Indonesia adalah negara kepulauan dimana terletak pada tiga lempeng paling aktif di bumi yang biasa disebut dengan istilah ring of fire. Kondisi ini menjadikan Indonesia sangat sering dilanda gempa. Komposisi wilayah yang didominasi oleh perairan (kelautan) membuat potensi gempa menjadi potensi tsunami yang sangat tinggi. Kecamatan Wanasalam berada di selatan Pulau Jawa berpotensi mengalami tsunami sangat tinggi, karena berbatasan dengan Samudera Hindia sekaligus berada pada pertemuan 2 lempeng paling aktif. Dengan teknologi SIG yang canggih di masa ini, upaya mitigasi bencana lewat pembuatan peta menjadi alternatif paling relevan.   Kata Kunci: SIG, Tsunami, Kecamatan Wanasalam

    ANALISIS PUSAT PELAYANAN DAN INTERAKSI RUANG DI KABUPATEN BOJONEGORO

    Full text link
    Kabupaten Bojonegoro merupakan wilayah yang saat ini sedang berkembang denganpermasalahan terkait kesenjangan dan tidak meratanya pembangunan sebagai sebuahtantangan untuk Kabupaten Bojonegoro sendiri, oleh karena itu penentuan pusatpelayanan suatu wilayah menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Pada penelitian inimemiliki tujuan dalam mengidentifikasi daerah di Kabupaten Bojonegoro yangmemiliki potensi sebagai pusat pelayanan. Metode yang diaplikasikan pada penelitianini adalah pendekatan kuantitatif dengan Analisa orde perkotaan berdasarkan teoritempat pusat/central place, yaitu berdasarkan Analisa scalogram dan Analisa interaksikeruangan. Kabupaten Bojonegoro memiliki 4091 fasilitas, baik itu fasilitas umum danfasilitas sosial. Berdasarkan hasil Analisa menyatakan bahwa pusat pelayanan utama diKabupaten Bojonegoro terletak pada Kecamatan Bojonegoro. Sedangkan untuk analisainteraksi keruangan menggunakan model gravitasi dapat disimpulkan bahwa hubunganinteraksi keruangan yang paling tinggi di Kabupaten Bojonegoro merupakan kecamatanyang memiliki jarak paling dekat Kecamatan Bojonegoro dan jumlah penduduknyarelatif tinggi yaitu Kecamatan Kapas. Hasil dari penelitian ini dapat menjadi bahanpertimbangan dalam pemerintah daerah untuk dapat mengoptimalkan pusat-pusatpelayanan yang memiliki fungsi agar masalah kesenjangan dan ketidakmertaanpembangunan di Kabupaten Bojonegoro dapat diminimalisi

    ANALISIS KESESUAIAN LAHAN KAWASAN LINDUNG DI KECAMATAN LEMBANG BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

    Full text link
    Kawasan lindung merupakan kawasan yang mempunyai fungsi utama untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dan menjadi penyangga dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Jika pengelolaanya tidak sesuai dengan daya dukungnya maka akan mengakibatkan krisis pangan, energy,dan lingkungan. Kecamatan Lembang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang mempunyai fugsi profil guna lahan sebagai kawasan lindung dan kawasan budidaya. Pertambahan penduduk setiap tahun di kecamatan Lembang mengakbatkan meningkatnya kebutuhan lahan untuk kebutuhan masyarakat seperti pemukiman, dsb. Keadaan topografi dan pemandangan di Kecamatan Lembang juga menjadikan Kecamatan ini berpotensi menjadi pariwisata alam yang di datangi oleh pengunjung dari mancanegara. Hal ini dapat mendorong terjadinya pembangunan fasilitas seperti bangunan hotel, restaurant, dsb yang dapat memicu terjadinya eksploitasi dan alih fungsi lahan kawasan lindung. Penelitian ini bertujuan untuk meminimalisir degradasi fungsi kawasan lindung di Kecamatan Lembang, yakni dengan pemetaan spasial dan analisis data berupa uraian yang dapat dipahami masyarakat sehingga masyarakat mendapatkan informasi lebih detail mengenai fungsi kawasan lindung dan kesesuaian lahan di Kecamatan Lembang berbasis Sistem Informasi Geografis.Kata kunci: kawasan lindung, system informasi geografisProtected area is an area that has the main function to preserve the environment and be a buffer in maintaining environmental balance. If the management is not in accordance with the carrying capacity, it will result in a food, energy and environmental crisis. Lembang District is one of the districts in West Bandung Regency that has a land use profile function as a protected area and a cultivation area. Population growth every year in Lembang sub-district results in increased land requirements for community needs such as settlements, etc. The topography and scenery in Lembang Subdistrict also makes this District potentially become a natural tourism which is visited by foreign visitors. This can encourage the construction of facilities such as hotel buildings, restaurants, etc. that can trigger exploitation and conversion of protected areas. This study aims to minimize the degradation of protected area functions in Lembang District, namely by spatial mapping and data analysis in the form of descriptions that can be understood by the community so that people get more detailed information about protected area functions and land suitability in Lembang District based on Geographic Information Systems.Keywords: protected areas, geographic information system

    ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DI GAMPONG ALUE NAGA KECAMATAN SYIAH KUALA TAHUN 2004-2019

    Full text link
    Gampong Alue Naga merupakan salah satu gampong di Kecamatan Syiah Kuala Kota Banda Aceh dan berada di kawasan pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka. Gampong Alue Naga dipisahkan oleh Sungai Lamyong yang berada ditengah gampong. Pasca tsunami penggunaan lahan di Gampong Alue Naga mengalami perubahan yang cukup besar. Penelitian ini mengangkat masalah tentang perubahan penggunaan lahan yang terjadi Gampong Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar perubahan penggunaan lahan yang terjadi di Gampong Alue Naga menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan aplikasi ArcGIS pada citra temporal Gampong Alue Naga. Adapun citra temporal yang digunakan yaitu citra tahun 2004, 2009, dan 2019. Untuk melihat perubahan penggunaan lahan yang ada di Gampong Alue Naga maka peta penggunaan lahan di overlay hingga mendapatkan peta yang baru yaitu peta perubahan penggunaan lahan. Hasil menunjukkan bahwa, perubahan lahan yang terjadi di Gampong Alue Naga Kecamatan Syiah Kuala cukup signifikan pada beberapa lahan seperti lahan terbangun, kebun kelapa, dan lahan tambak. ABSTRACT Gampong Alue Naga is one of the villages in the Syiah Kuala District of Banda Aceh City and is located in a coastal area directly adjacent to the Selat Malaka. Gampong Alue Naga is separated by the Lamyong River in the center of the village. After the tsunami the land use in Gampong Alue Naga has experienced significant changes. This study raises the problem of land use changes that occur in Gampong Alue Naga, Syiah Kuala District. The purpose of this study was to determine how much land use change occurred in the Gampong Alue Naga using a Geographic Information System (GIS) using the ArcGIS application on the temporal image of the Gampong Alue Naga. The temporal image used is the image in 2004, 2009 and 2019. To see changes in land use in the Gampong Alue Naga, the land use map is overlaid to get a new map, namely the land use change map. The results show that land changes that occurred in Gampong Alue Naga, Syiah Kuala District were quite significant in some lands such as built up land, coconut plantations, and pond areas

    PENGGUNAAN HOT SPOT ANALYSIS UNTUK MENENTUKAN KLASTER EKONOMI WILAYAH DI PROVINSI JAWA TENGAH

    Full text link
    The dominance of certain economic structures tends to encourage the formation of spatial clusters. With changes and shifts in the regional economic structure, it will also have an impact on shifting regional economic clusters. The research carried out is aimed at achieving the goal of identifying regional economic clusters and their spatial dynamics using Hot Spot Analysis (Getis Ord Gi *) in Central Java Province. This research will be conducted using quantitative methods by utilizing secondary data. The time period used in this study is to compare conditions in 2010 with 2018. The two-year data is used to analyze the spatial dynamics of economic clusters in Central Java Province. The data used to determine economic clusters are data on GDP at constant prices and GDP at constant prices per capita of all regencies/cities. To analyze the spatial variations of economic clusters in regencies/cities in Central Java Province, Hot Spot Analysis (Getis Ord Gi *) is used which is included in the Geographic Information System (GIS) software. From the results of PDRB data processing regencies/cites Constant Price, in Central Java Province two Hot Spot clusters were formed, namely the Demak Regency cluster and the Semarang City cluster as the first Hot Spot cluster, and Cilacap and Banyumas Regencies as the second Hot Spot cluster. During its development, the Demak Regency-Semarang City cluster has expanded spatially with the addition of the Semarang and Kendal Regencies. On the other hand, the expansion of the cluster did not occur in the Cilacap-Banyumas cluster, but instead, there was a reduction in cluster strength. Furthermore, from the processing of Getis Ord Gi * for per capita income data, in this case, measured from the GDP per capita constant price in 2010, it shows that in Central Java Province not only Hot Spots are formed but also Cold Spots are formed. This illustrates that in Central Java Province there are still areas with per capita income that are still lagging behind other regions. A different condition occurred in 2018, where the Cold Spot has actually expanded and no Hot Spot is found anymore. This illustrates that areas that are relatively underdeveloped are actually experiencing an expansion, which was originally only from Banjarnegara Regency which expanded to Wonosobo Regency.Dengan adanya perubahan dan pergeseran struktur ekonomi wilayah akan berdampak pula pada pergeseran klaster ekonomi wilayah. Penelitian yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan yaitu mengindentifikasi klaster ekonomi wilayah beserta dinamika spasialnya dengan menggunakan Hot Spot Analysis (Getis Ord Gi*) di Provinsi Jawa Tengah. Penelitian yang akan dilakukan menggunakan metode kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder. Periode waktu yang digunakan dalam kajian ini yaitu membandingkan kondisi antara tahun 2010 dengan tahun 2018. Data dua tahun tersebut digunakan untuk menganalisis dinamika spasial klaster ekonomi di Provinsi Jawa Tengah. Data yang digunakan untuk menentukan klaster ekonomi yaitu data PDRB Harga Konstan dan PDRB Harga Konstan Per Kapita seluruh kabupaten/kota. Untuk menganalisis variasi spasial klaster ekonomi wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah digunakan Hot Spot Analysis (Getis Ord Gi*) yang terdapat dalam software Sistem Informasi Geografi (SIG). Dari hasil pengolahan data PDRB Harga Konstan kabupaten/kota, di Provinsi Jawa Tengah terbentuk dua klaster Hot Spot, yaitu klaster Kabupaten Demak dan Kota Semarang sebagai klaster Hot Spot pertama, dan Kabupaten Cilacap dan Banyumas sebagai klaster Hot Spot kedua. Dalam perkembangannya, klaster Kabupaten Demak-Kota Semarang mengalami perluasan secara spasial dengan bertambahnya wilayah Kabupaten Semarang dan Kendal. Disisi lain, perluasan klaster tidak terjadi di klaster Cilacap-Banyumas tetapi justru terjadi pengurangan kekuatan klaster. Selanjutnya dari pengolahan Getis Ord Gi* untuk data pendapatan perkapita, dalam hal ini diukur dari PDRB Harga Konstan perkapita tahun 2010, menunjukkan di Provinsi Jawa Tengah tidak hanya terbentuk Hot Spot namun juga terbentuk Cold Spot. Hal tersebut menggambarkan bahwa di Provinsi Jawa Tengah masih terdapat daerah dengan pendapatan perkapita yang masih tertinggal dibanding daerah lain. Kondisi yang berbeda terjadi pada Tahun 2018, dimana untuk Cold Spot justru mengalami perluasan dan tidak ditemui lagi Hot Spot. Hal tersebut menggambarkan bahwa wilayah yang relatif tertinggal justru mengalami perluasan yang semula hanya Kabupaten Banjarnegara meluas ke Kabupaten Wonosobo

    EDU-EKOWISATA HUTAN MANGROVE KAWASAN PESISIR PASARBANGGI, REMBANG, JAWA TENGAH, INDONESIA

    Full text link
    Abstrak        Tujuan penulisan ini adalah (1) menganalisis sistem pengelolaan hutan mangrove berbasis konservasi; (2) menganalisis potensi sumberdaya hutan mangrove sebagai edu-ekowisata.  Penelitian dilaksanakan di kawasan pesisir Pasarbangi Rembang, Jawa Tengah. Pendekatan penelitian kualitatif; data dan informasi dikumpulkan melalui wawancara, pengamatan, FGD dan surve ad hoc. Tenik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan sumberdaya hutan mangrove tidak terlepas dari partisipasi masyarakat lokal, yang penuh dengan kesadaran untuk mengelola hutan mangrove secara berkelanjutan. Keberadaan hutan mangrove yang telah terpeliHara dengan baik oleh masyarakat dan didukung oleh pemerintah lokal, sehingga menarik perHatian dari berbagai kalangan masyarakat dan dijadikan sebagai destinasi wisata edu-ekowisata. Kata kunci: edu-ekowisata, hutan mangrove, konsevasi, kawasan pesisir  Abstract The purpose of this research is (1) analyzing the Mangrove forest management system conservation based; (2) Analyzing the potential resources of mangrove forest as edu-ecotourism.  Research was conducted on the coastal area of Pasarbangi Rembang, Central Java. Qualitative research approaches; Data and information are gathered through interviews, observations, FGD and Surve ad hoc. Tenik qualitative descriptive analysis. The results showed tHat growth and development of mangrove forest resources are not separated from local community participation, which is full of awareness to manage mangrove forest sustainably. The existence of mangrove forest tHat Has been well maintained by the community and supported by local government, attracting attention from various people and made as an edu-ecotourism tourist destination. Keywords: edu-ecotourism, mangrove forest, consevation, coastal are

    ANALISIS JANGKAUAN SLEMAN MART DI KABUPATEN SLEMAN

    No full text
    Pandemi Covid-19 yang berdampak besar bagi perekonomian Indonesia membuat Pemerintah Kabupaten Sleman berinovasi dan melakukan 30 transformasi digital sebagai bentuk keseriusan dalam pelayanan kepada masyarakat walaupun dengan membatasi pertemuan. Salah satu inovasi yang tercipta yaitu Sleman Mart, cara belanja secara daring melalui Whatsapp atau aplikasi Sleman Mart. Penelitian ini bertujuan menganalisis jangkauan Sleman Mart dan faktor-faktor yang mempengaruhi jangkauan pelayanan Sleman Mart. Analisis data yang digunakan untuk menjawab jangkauan Sleman Mart adalah Network Origin Destination dengan bantuan ArcGis 10.3. faktor-faktor yang mempengaruhi jangkauan Sleman Mart dianalisis menggunakan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menjunjukan Sleman Mart telah menggapai 13 dari 17 kecamtan yang ada di Kabupaten Sleman dan 2 kabupaten/kota yang ada di Provinsi DI Yogyakarta. Jangkauan layanan terkonsentrasi pada kecamatan disekitar Sleman Mart. Faktor yang berpengaruh terhadap jangkauan Sleman Mart adalah jarak (Sig. 0.02) karena semakin jauh jarak semakin besar ongkos kirim yang dibayarkan. Sedangkan jumlah penduduk (Sig 0.4) , jumlah pasar tradisional (Sig. 0.2), jumlah minimarket dan jumlah supermarket (Sig. 0.7) secara parsial tidak berpengaruh terhadap jangkauan Sleman Mart namun jika secara simultan (Sig 0.01) semua variabel berpengaruh terhadap jangkauan Sleman Mart

    PENGARUH PENGETAHUAN PENCEMARAN LINGKUNGAN TERHADAP PERILAKU PENGGUNAAN BARANG PLASTIK SEKALI PAKAI

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pengetahuan pencemaran lingkungan terhadap penggunaan barang plastik sekali pakai pada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan survei. Teknik pengambilan data menggunakan data primer berupa tes soal pengetahuan pencemaran lingkungan dan kuesioner perilaku penggunaan barang plastik sekali pakai. Teknik analisis data dalam penelitian ini berupa uji regresi linier sederhana. Berdasarkan hasil pengolahan data regresi linear sederhana, maka diperoleh persamaan regresi sederhana pengaruh pengetahuan pencemaran lingkungan dengan perilaku dalam penggunaan plastik, menghasilkan koefisien arah regresi dengan nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,001. Dengan nilai Sig. = 0,001 , karena 0,001 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya koefisien regresi signifikan dan dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari pengetahuan pengetahuan pencemaran lingkungan dengan perilaku penggunaan barang plastik sekali pakai.Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pengetahuan pencemaran lingkungan terhadap penggunaan barang plastik sekali pakai pada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan survei. Teknik pengambilan data menggunakan data primer berupa tes soal pengetahuan pencemaran lingkungan dan kuesioner perilaku penggunaan barang plastik sekali pakai. Teknik analisis data dalam penelitian ini berupa uji regresi linier sederhana. Berdasarkan hasil pengolahan data regresi linear sederhana, maka diperoleh persamaan regresi sederhana pengaruh pengetahuan pencemaran lingkungan dengan perilaku dalam penggunaan plastik, menghasilkan koefisien arah regresi dengan nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,001. Dengan nilai Sig. = 0,001 , karena 0,001 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya koefisien regresi signifikan dan dapat dikatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari pengetahuan pengetahuan pencemaran lingkungan dengan perilaku penggunaan barang plastik sekali pakai

    KORELASI ANTARA EKOSISTEM MANGROVE Rhizophora stylosa. TERHADAP BIOTA AQUATIK DI PULAU PRAMUKA KEPULAUAN SERIBU

    Full text link
    Pramuka Island is one of many islands in Kepulauan Seribu, which is the central government of Kepulauan Seribu Regency and part of DKI Jakarta Province. Aside as government center, Pramuka Island is also as rehabilitation center for mangrove ecosystems located in Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS). Mangrove ecosystems become a transition zone between terrestrial ecosystems and marine ecosystems in maintaining biological balance in coastal ecosystems. As a biological function, mangroves have a role as a chain in a waters that can support the life of various types of aquatic biota. Not only that, mangroves can also create a good life for aquatic biota and also contribute greatly to balancing the biological cycle in a waters. As in biological functions, mangrove ecosystems have a role as "aquatic biota habitat" and feeding grounds, nursery and spouning ground for various types of aquatic biota. Rhizophora stylosa is species of endemic mangrove in Pramuka Island. Mangrove forest ecosystem is a habitat for marine organisms which are mostly dominated by mollusks and crustaceans. Mollusks consist of Gastropods are dominated by Potamidae and Ellobiidae species, as well crustaceans which mainly consist of Brachyura spesies, also there are another aquatic biota seems like shrimps, cendro fish and juvenile fish spesies. A research of the correlation between Rhizophora stylosa mangrove ecosystems with aquatic biota in Pramuka Island, Kepulauan Seribu was carried out on 6-7th December 2019. The research used descriptive analysis method. Data which is used in addition to data obtained in the field also includes supporting articles.Pulau Pramuka merupakan salah satu gugusan pulau yang terletak di Kepulauan Seribu yang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu dan bagian dari wilayah Provinsi DKI Jakarta. Pulau Pramuka selain sebagai pusat pemerintahan juga sebagai pusat rehabilitasi ekosistem mangrove yang terdapat di Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS). Ekosistem Mangrove menjadi zona peralihan antara ekosistem darat dan ekosistem laut dalam menjaga keseimbangan biologis di ekosistem pesisir. Sebagai fungsi biologis, mangrove memiliki peranan sebagai mata rantai di suatu perairan yang dapat menunjang kehidupan berbagai jenis biota aquatic. Tidak hanya itu, mangrove juga dapat menciptakan kehidupan yang baik bagi biota aquatik dan juga berkontribusi besar terhadap penyeimbang siklus biologi di suatu perairan. Sebagaimana dalam fungsi biologis, ekosistem mangrove memiliki peran sebagai “habitat biota aquatik” dan tempat mencari makan (feeding ground), daerah asuhan (nursery ground) serta pemijahan (spouning ground) bagi berbagai jenis biota aquatic. Mangrove jenis Rhizophora stylosa merupakan jenis mangrove yang cocok dan dpaat tumbuh berkembang dengan baik di perairan Taman Nasional Kepulauan Seribu di bagian timur Pulau Pramuka. Ekosistem hutan mangrove merupakan tempat tinggal khas oleh organisme laut yang kebanyakan didominasi oleh moluska dan krustasea. Moluska terdiri dari Gastropoda yang lebih didominasi oleh Terebralia sp. and Littorinidae sp., begitupun krustasea yang utamanya terdiri dari spesies Brachyura, terdapat pula biota-biota aquatik lainnya seperti udang, ikan cendro, serta spesies juvenile ikan. Kajian korelasi antara ekosistem mangrove Rhizophora stylosa terhadap biota aquatik di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu telah dilaksanakan pada tanggal 6-7 Desember 2019. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis secara deskriptif. Data-data yang dilampirkan selain data yang diperoleh di lapangan juga memuat dari artikel-artikel yang menunjang

    167

    full texts

    191

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Geografi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇