Jurnal Geografi
Not a member yet
    191 research outputs found

    IDENTIFIKASI TIPOLOGI LOKASI TAMBAK UDANG DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN

    Full text link
    Tambak udang berkembang pesat sejak tahun 2018 di pesisir pantai Kabupaten Padang Pariaman tetapi umumnya tidak berijin. Penelitian ini ingin menilai penyimpangan lokasi tambak terhadap rencana tata ruang yang ditetapkan dalam RTRW Kabupaten Padang Pariaman 2020-2040 dan pelanggaran prosedur perijinan yang dilakukan. Metoda yang dipakai yaitu tumpang susun peta lokasi tambak dengan rencana pola ruang RTRW Kabupaten dengan hasil kesesuaian/ketidaksesuaian lokasi tambak. Selanjutnya diidentifikasi status perijinan tambak yang telah memiliki ijin dan tidak berijin. Dari penggabungan dua variabel ini diperoleh empat tipologi lokasi tambak. Penelitian ini menemukan lokasi tambak  berada di tujuh jenis peruntukan lahan, enam terindikasi tidak sesuai peruntukannya.  Tiga per empat dari 93 tambak yang terdapat di Kabupaten Padang Pariaman belum berijin.  Setengah dari tambak yang tidak berijin berada pada lokasi yang tidak sesuai tetapi sebagian yang lain meskipun tidak berijin berada pada lokasi yang sesuai. Beberapa temuan ketidaksesuaian pemanfaatan ruang pada kawasan yang sudah berijin lebih banyak disebabkan faktor teknis akurasi penentuan jarak lokasi dari titik pasang tertinggi

    PEMETAAAN CEPAT PASCA BENCANA LONGSOR CIMANGGUNG, KAB. SUMEDANG DENGAN MENGGUNAKAN FOTO UDARA (DRONE)

    Full text link
    Many people are buried in the subsequent landslide in Cimanggung, Sumedang Regency shows that rapid mapping during the first landslide is necessary in order to detect areas prone to subsequent landslides. The aim of this study is to conduct rapid mapping using Unmanned Aerial Vehicle (UAV) technology in disaster-affected areas in Cimanggung, Sumedang Regency, West Java Province by identifying changes in the shape of the affected area and slopes before and after the landslide. This mapping uses the DJI Phantom 4 RTK UAV model which was flown at a height of 100 meters from the research location with an area of ​​6134 m2. The results of this mapping will produce output in the form of photos and digital elevation models (DEM) in areas affected by landslides. The slope profile at the research location at the time of the landslide based on aerial photos was 14.50 and before the landslide based on the RBI Map it was 15.80. While the slope around the landslide incident location based on aerial photo data is 19.20. The results of the analysis of the causes of landslides from the geomorphological aspect show the area affected by the landslide which is right in the valley that was built into a settlement. Weathering of rock is one of the key factors controlling the landslide.Banyaknya korban yang tertimbun longsor susulan pada kejadian longsor di Cimanggung, Kabupaten Sumedang menunjukkan perlunya pemetaan cepat saat kejadian longsor pertama agar dapat mendeteksi daerah yang masih rentan akan terjadinya longsor susulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan pemetaan cepat (Rapid Mapping) menggunakan teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) pada kawasan terdampak bencana di Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat dengan mengidentifikasi perubahan bentuk lahan dan kemiringan lereng sebelum dan setelah terjadinya longsor. Pemetaan menggunakan UAV model DJI Phantom 4 RTK yang diterbangkan dengan ketinggian 100 meter dari lokasi penelitian dengan luasan 6134 m2. Hasil dari pemetaan ini akan menghasilkan keluaran berupa foto dan model elevasi digital (DEM) di daerah yang terdampak longsor. Profil kemiringan lereng pada lokasi penelitian saat kejadian longsor berdasarkan foto udara sebesar 14,50 dan sebelum longsor berdasarkan Peta RBI sebesar 15,80. Sedangkan kemiringan lereng di sekitar lokasi kejadian longsor berdasarkan data foto udara sebesar 19,20. Hasil dari analisis penyebab longsor dari geomorfologi aspek menunjukkan daerah yang terkena longsor yang berada tepat di lembah yang dibangun menjadi pemukiman. Lapisan pelapukan batuan menjadi salah satu faktor pengontrol terjadinya longsor

    IDENTIFIKASI POLA DAN NILAI INDEKS KEKERINGAN DI PROVINSI JAMBI MENGGUNAKAN KEETCH-BYRAM DROUGHT INDEX (KBDI)

    Full text link
    Drought is one of the most common disasters in areas with tropical climates and has proven to have a detrimental impact on humans and plants. Drought can cause forest and land fires in many areas of Indonesia, especially in Sumatra and Kalimantan. Therefore, further research is needed on drought patterns, especially in Jambi Province. This study learns more about the pattern and trend of drought based on meteorological parameters in Jambi Province using the Keetch-Byram Drought Index (KBDI). The data used are weather parameter data, namely rainfall and daily maximum temperature at the two observation points of the Depati Parbo Meteorological Station and Muaro Jambi Climatology Station. The drought index is identical to the rainfall and temperature factors. The KBDI value is able to describe the number of hotspot events in the study area well with a correlation reaching 84%. The results of the calculation of the KBDI value show that throughout the 20-year period, the Jambi Province has a low risk of forest and land fires, except at the end of 2015 which had a moderate risk. This study is expected to provide information related to drought patterns  based on the KBDI in Jambi Province.Kekeringan merupakan salah satu bencana yang sangat sering terjadi di wilayah dengan iklim tropis dan terbukti memiliki dampak kerugian bagi manusia dan tanaman. Kekeringan dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan pada banyak daerah di Indonesia terutama di Sumatera dan Kalimantan. Karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai pola kekeringan, khususnya di Provinsi Jambi. Penelitian ini mempelajari tentang pola serta tren kekeringan berdasarkan parameter meteorologisnya di Provinsi Jambi menggunakan Keetch-Byram Drought Index (KBDI). Data yang digunakan merupakan data parameter cuaca yaitu curah hujan dan suhu maksimum harian di dua titik pengamatan Stasiun Meteorologi Depati Parbo dan Stasiun Klimatologi Muaro Jambi. Indeks kekeringan identik dengan faktor curah hujan dan suhu. Nilai KBDI dianalisis secara temporal. Hasil perhitungan nilai KBDI menunjukkan bahwa sepanjang periode 20 tahun, wilayah Provinsi Jambi memiliki resiko kebakaran hutan dan lahan yang rendah, kecuali pada akhir tahun 2015 yang memiliki resiko sedang. Nilai KBDI yang tinggi pada akhir tahun 2015 dipengaruhi oleh intensitas curah hujan rendah akibat fenomena iklim ENSO pada akhir tahun 2015 saat terjadi El-Nino kuat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait pola kekeringan berdasarkan indeks kekeringan KBDI di Provinsi Jambi

    ANALISIS PERUBAHAN KERAPATAN VEGETASI MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT-8 MULTITEMPORAL DI KABUPATEN BANDUNG BARAT

    Full text link
    The rate of deforestation in Indonesia is known to be very fast, Indonesia is ranked third where deforestation in Indonesia reaches 1.6 -2.1 million hectares. Information about deforestation is very important to know because it is the main factor causing the destruction. This study aims to determine the vegetation density and the map of vegetation density in West Bandung Regency, West Java Province based on a web-based multitemporal time in 2015 and 2020. Which includes vegetation density with NDVI (Normalized Difference Index) value and its area in West Bandung Regency in 2015 and 2020 The data processing process uses the NDVI sturgess transformation which produces 5 classes, namely unvegetated land, very low, medium, and high. Technical analysis used is the overlay method and descriptive analysis method. The results of the research are articles that are used as sources of information related to changes in vegetation in West Bandung Regency. Changes in the level of vegetation and its area in West Bandung Regency in 2015 and 2020, namely the non-vegetated class has an area of ​​change of 151,681 Ha/year, the very low density area has an area of ​​change of 623.5 Ha, the low density area has an area of ​​change of 263.12 Ha , the area of ​​medium vegetation density has an area of ​​change of 1918.91 Ha, and the area of ​​high density has an area of ​​change of 2957 Ha.   Keywords : Density of vegetation; NDVI; Landsat 8 ImageryLaju deforestasi hutan di Indonesia dikenal sangat cepat, Indonesia menduduki peringkat ketiga yang mana deforestasi hutan di Indonesia mencapai 1,6 -2,1 juta hektar. Informasi mengenai deforestasi ini sangat penting diketahui karena hal tersebut merupakan faktor utama penyebab destruksi. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan vegetasi dan peta kerapatan vegetasi di Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat berbasis web secara multitemporal waktu tahun 2015 dan 2020. Yang meliputi kerapatan vegetasi dengan nilai NDVI (Normalized Difference Index) dan luasannya di Kabupaten Bandung Barat tahun 2015 dan 2020. Proses pengolahan data menggunakan transformasi NDVI  sturgess yang menghasilkan 5 kelas yaitu lahan tidak bervegetasi, sangat rendah, sedang, dan tinggi. Teknis analisis yang digunakan adalah metode overlay dan metode analisis secara deskriptif. Hasil penelitian berupa artikel yang dijadikan sumber informasi terkait perubahan vegetasi di Kabupaten Bandung Barat. Perubahan tingkat vegetasi dan luasannya di Kabupaten Bandung Barat tahun 2015 dan 2020 yaitu kelas tidak bervegetasi memiliki luas perubahan sebesar 151,681 Ha/tahun, area kerapatan sangat rendah memiliki luas perubahan sebesar 623,5 Ha, area kerapatan rendah memiliki luas perubahan sebesar 263,12 Ha, area kerapatan vegetasi sedang memiliki luas perubahan 1918,91 Ha, dan area kerapatan tinggi memiliki luas perubahan sebesar 2957 Ha. Kata kunci: Kerapatan vegetasi; NDVI; Citra Landsat

    DETERMINAN CAPAIAN KONTRASEPSI PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI DESA GEDUNG AGUNG KECAMATAN MERAPI

    Full text link
    The outbreak of the corona virus disease (Covid-19) was first reported in China, precisely in Wuhan. The government provides a solution by doing large-scale social restrictions which result in restrictions on the number of visits and access to health facilities and makes sexual activities of fertile age couples (PUS) increase because they have more time with each other at home. The purpose of this study was to look at the Social, Economic, and Demographic Conditions of Couples of Childbearing Age during the Covid-19 Pandemic and to find out whether the Covid-19 pandemic affected contraceptive outcomes. The research method used is descriptive quantitative. The population of this study were all couples of childbearing age in Gedung Agung Village, East Merapi District, namely 580 PUS. The samples in this study were 25 couples of childbearing age and 1 PKB informant in the eastern Merapi sub-district. Sampling using purposive sampling technique. Data collection techniques using Questionnaires, Interviews and Documentation. Data analysis using Multiple Linear Regression. The results of the study are (1) Social, Economic and Demographic conditions of PUS with high school education as much as 52%, household work 72%, income 2.500.000 – 3.500.000 52%, classified as multipara 60%, the average contraceptive method used is the contraceptive method. periodic injections (2) Based on the T Test, the factors that affect the achievement of contraception in Gedung Agung Village, East Merapi District, are variables in the number of children and work variables. 44.8% while 55.2% was influenced by other variables.Wabah penyakit corona virus (Covid-19) dilaporkan pertama kali di China tepatnya di Wuhan. Pemerintahan memberikan solusi dengan melakukannya pembatasan sosial berskala besar yang mengakibatkan adanya pembatasan jumlah kunjungan dan akses menuju fasilitas kesehatan dan membuat kegiatan seksual pasangan usia subur (PUS) meningkat karena memiliki lebih banyak waktu satu sama lain dirumah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat kondisi sosial, ekonomi, dan demografi pasangan usia subur dimasa pandemi covid-19 dan mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi capaian kontrasepsi di masa pandemi covid-19. Metode Penelitian yang digunakan adalah mixed methods. Populasi penelitian ini yaitu seluruh Pasangan Usia Subur di Desa Gedung Agung Kecamatan Merapi Timur yaitu 580 PUS. Sampel dalam penelitian ini adalah 25 Pasangan Usia Subur dan 1 Informan. Pengambilan sampel mengunakan Tehnik Sampling Purposive. Tehnik pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian yaitu (1) kondisi sosial, ekonomi dan demografi PUS berpendidikan SMA sebanyak 52%, Pekerjaan IRT 72%, Pendapatan 2.500.000 – 3.500.000 52%, Tergolong multipara 60%, metode kontrasepsi rata-rata yang dipakai adalah metode kontrasepsi suntik berkala (2) berdasarkan Uji T faktor yang mempengaruhi capaian kontrasepsi di Desa Gedung Agung Kecamatan Merapi Timur adalah variabel jumlah anak dan variabel pekerjaan. Sebesar 44,8 % sedangkan 55,2 % nya dipengaruhi oleh variabel lain

    ANALISIS MORFOLOGI DAN PERUBAHAN GARIS PANTAI TAHUN 2009- 2021 DI WILAYAH PANTAI BANTOL KABUPATEN MALANG

    Full text link
    Coastlines can change rapidly as a result of natural physical processes and human activities. This research is a quantitative study with a numerical approach with the aim of knowing the condition of shoreline changes from time to time. The research study area is Bantol Beach which is located in Kedungsalam Village, Donomulyo District, Malang Regency, East Java. The data is obtained through direct measurements in the field using a total station for 2021, and satellite images for the years 2009-2019. Landform units of Bantol Beach are beach ridge and spit. In field measurements, the length of the coastline is 296.34 m, but it has a fluctuating nature when compared to the previous year. The wave height varies with the highest value reaching 1.1 m and the lowest being 0.1 m. The bottom slope of the coast is divided into two, namely 4% in the west and 3% in the east. Abrasion and accretion rates at Bantol Beach have a higher ratio of abrasion rates than accretion, respectively, with abrasion values of 2411 m² and 1110 m², while accretion values are 1459.7 m² and 254.97 m², respectively. The low tide and high tide zones continue to experience accretion but are volatile and dominated by abrasion.Garis pantai dapat berubah dengan cepat sebagai akibat dari proses fisik alami dan aktivitas manusia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan angka-angka dengan tujuan untuk mengetahui kondisi perubahan garis pantai dari waktu ke waktu. Wilayah kajian penelitian merupakan Pantai Bantol yang terletak di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Data diperoleh melalui pengukuran langsung di lapangan menggunakan total station untuk tahun 2021, dan citra satelit untuk tahun 2009-2019. Satuan bentuk lahan dari Pantai Bantol adalah gisik dan spit. Pada pengukuran lapangan diperoleh panjang garis pantai sepanjang 296,34 m, tetapi memiliki sifat fluktuatif jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tinggi gelombang bervariasi dengan nilai tertinggi mencapai 1,1 m dan terendah 0,1 m. Kemiringan dasar pantai terbagi menjadi dua yakni 4% di wilayah barat dan 3% di wilayah timur. Laju abrasi dan akresi di Pantai Bantol memiliki perbandingan laju abrasi yang lebih tinggi dibanding akresi secara berurutan dengan nilai Abrasi 2411m² dan 1110 m² sedangkan nilai akresi 1459,7 m² dan 254,97 m². Untuk zona low tide dan high tide tetap mengalami akresi tapi bersifat fluktuatif dan didominasi oleh abrasi

    ANALISIS SPASIAL TINGKAT PENCEMARAN AIR DI WILAYAH SUNGAI DAS BATANG ARAU SUMATERA BARAT

    Full text link
    Fenomena pencemaran air pada kawasan sungai di DAS Batang Arau telah menjadi permasalahan masif yang seringkali mengganggu berbagai aktivitas kehidupan di lingkungan sekitarnya. Menurunnya kualitas air sungai di kawasan ini terlihat dari berbagai jenis sumber pencemar. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya pada saat observasi lapangan dan pengambilan koordinat lokasi sumber pencemar yang pada umumnya sebagian besar ditemukan berupa timbulan sampah organik dan non organik, limbah rumah tangga yang mengalir dari gorong-gorong, juga limbah industri. dan polutan pertambangan dari daerah hulu. Tujuan keseluruhan dari penelitian ini adalah untuk memodelkan dan menganalisis tingkat pencemaran yang terjadi di wilayah sungai DAS Batang Arau Provinsi Sumatera Barat dengan menggunakan teknologi geospasial. Metode pengolahan data menggunakan metode Kernel Density, yaitu pendekatan statistik yang mengestimasi fungsi distribusi probabilitas dan merupakan teknik interpolasi yang dapat memberikan gambaran sebaran hotspot dari nilai kumpulan data sampel yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan nilai tingkat pencemaran pada sel raster wilayah badan sungai secara keseluruhan berada pada kisaran 0,14-2,57, dengan pola spasial pencemaran air umumnya terkonsentrasi di daerah hilir khususnya di Kecamatan. Padang Timur sebanyak 8,51%, Padang Barat 39,48%, dan Padang Selatan 51,03% yang tergolong tinggi (1.542-2.056) hingga sangat tinggi (2.056-2.57)

    PEMANFAATAN CITRA LANDSAT 8 UNTUK PEMETAAN SEBARAN DAN KERAPATAN EKOSISTEM MANGROVE DI KECAMATAN CIJULANG KABUPATEN PANGANDARAN

    Full text link
    The use of technology and methods in mapping continues to develop. Remote sensing images from the Landsat 8 satellite can be used for mapping mangrove vegetation. The advantages of mapping using remotely sensed imagery are that it is better in terms of time, cost, and effort, but the level of accuracy is quite small compared to terrestrial mapping. The purpose of this study was to determine the distribution and extent of mangrove vegetation in the administrative area of ​​Cijulang District, Pangandaran Regency. The composite used in this mapping is the RGB 563 composite in the Landsat 8 image because it is considered to highlight the different aspects of mangrove vegetation with non-mangrove vegetation. Classification of mangrove vegetation density classes using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) and Modified Soil and Atmospheric Resistant Vegetation Index (MSARVI) methods which are divided into sparse, medium, and dense classes. It is known that the mangrove ecosystem in the Cijulang District, Pangandaran Regency is only found in Cijulang Village, Kondangjajar Village, and Batukaras Village. From the results of the calculation of the area of ​​​​the mangrove ecosystem in Cijulang District, Pangandaran Regency, it is about 260 hectaresPenggunaan teknologi dan metode dalam pemetaan terus mengalami perkembangan. Citra penginderaan jauh dari satelit Landsat 8 dapat digunakan untuk pemetaan vegetasi mangrove. Kelebihan dari pemetaan menggunakan citra penginderaan jauh adalah lebih baik dari segi waktu, biaya, dan tenaga, akan tetapi tingkat keakuratannya cukup kecil dibandingkan dengan pemetaan terestrial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran dan luasan vegetasi mangrove di wilayah administrasi Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran. Komposit yang digunakan dalam pemetaan ini adalah komposit RGB 563 pada citra Landsat 8 karena dianggap dapat menonjolkan aspek perbedaan vegetasi mangrove dengan vegetasi non-mangrove. Klasifikasi kelas kerapatan vegetasi mangrove menggunakan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan metode Modified Soil and Atmospheric Resistant Vegetation Index (MSARVI) yang dibagi menjadi kelas jarang, kelas sedang, dan kelas lebat. Diketahui ekosistem mangrove di wilayah Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran hanya terdapat pada Desa Cijulang, Desa Kondangjajar, dan Desa Batukaras. Dari hasil perhitungan luas ekosistem mangrove di Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran sekitar 260 Hekta

    PENGARUH PENGETAHUAN TENTANG BENCANA BANJIR TERHADAP KESIAPSIAGAAN REMAJA DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DI KELURAHAN PETAMBURAN, KECAMATAN TANAH ABANG, JAKARTA PUSAT

    Full text link
    This study aims to determine the effect of knowledge about flood disasters on adolescent preparedness in dealing with floods in Petamburan Village, Tanah Abang District, Central Jakarta. The population in this study are teenagers who live in Petamburan Village, Central Jakarta, while the sample used is 99 respondents using purposive sampling technique. The criteria used as samples in this study were teenagers who had experienced a flood disaster. The data analysis technique in this research is descriptive percentage and simple linear regression. Simple linear regression analysis to identify the influence of knowledge on youth preparedness in facing flood disaster. The results showed that the knowledge of adolescents about flood disasters was included in the very high criteria with an average of 83.43%. When viewed from the parameters of age, education, and length of stay, it can be seen that the higher the age, education, and length of stay, the higher the level of knowledge. When viewed from the gender parameter, it does not show a significant change to the level of knowledge. Adolescent preparedness in facing flood disaster has an index value of 81.45 which is included in the category of high preparedness. When viewed from the parameters of age, education, and length of stay, it can be seen that the higher the age, education, and length of stay, the higher the level of preparedness. When viewed from the gender parameter, it did not show a significant change in the level of preparedness. Based on the results of simple linear regression data analysis obtained a significance value (Sig) of 0.000. With a significance value of 0.000 < 0.050, Ha is accepted and H0 is rejected, so there is a significant influence between knowledge about flood disasters and adolescent preparedness in dealing with flood disasters in Petamburan Village. The value of the coefficient of determination of 0.626 means that changes in adolescent preparedness in dealing with floods in Petamburan Village of 62.6% are influenced by knowledge about disasters. Keywords: Knowledge about flood disaster, Preparedness, Flood DisasterPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengetahuan tentang bencana banjir terhadap kesiapsiagaan remaja dalam menghadapi banjir di Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja yang bertempat tinggal di Kelurahan Petamburan, Jakarta Pusat, sedangkan sampel yang digunakan berjumlah 99 responden dengan menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah remaja yang pernah mengalami bencana banjir. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif persentase dan regresi linier sederhana. Analisis regresi linier sederhana untuk mengidentifikasi besar kecil pengaruh pengetahuan terhadap kesiapsigaan remaja dalam menghadapi bencana banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan remaja tentang bencana banjir termasuk dalam kriteria sangat tinggi dengan rata-rata sebesar 83,43%. Apabila dilihat dari parameter usia, pendidikan, dan lama tinggal maka terlihat semakin tinggi usia, pendidikan, dan lama tinggal semakin tinggi tingkat pengetahuannya. Jika dilihat dari parameter jenis kelamin tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan. Kesiapsiagaan remaja dalam menghadapi bencana banjir memiliki nilai indeks sebesar 81,45 termasuk dalam kategori kesiapsiagaan tinggi. Apabila dilihat dari parameter usia, pendidikan, dan lama tinggal maka terlihat semakin tinggi usia, pendidikan, dan lama tinggal semakin tinggi tingkat kesiapsiagaannya. Jika dilihat dari parameter jenis kelamin tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kesiapsiagaan. Berdasarkan hasil analisis data regresi linier sederhana diperoleh nilai signifikansi (Sig) sebesar 0,000. Dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,050 maka Ha diterima dan H0 ditolak, maka terdapat pengaruh yang signifikan antara pengetahuan tentang bencana banjir terhadap kesiapsiagaan remaja dalam menghadapi bencana banjir di Kelurahan Petamburan. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,626 artinya perubahan kesiapsiagaan remaja dalam menghadapi bencana banjir di Kelurahan Petamburan sebesar 62,6% dipengaruhi oleh pengetahuan tentang bencana.  Kata Kunci: Pengetahuan tentang bencana banjir, Kesiapsiagaan, Bencana Banji

    ANALISIS KEBUTUHAN IRIGASI LAHAN PERTANIAN KANAL PORONG DI KABUPATEN SIDOARJO MENGGUNAKAN CROPWAT 8.0

    Full text link
    Porong Canal is one of the irrigation network systems originating from the Lengkong Baru Weir which flows an irrigation area of 11,059 hectares in the Brantas Hilir Subwatershed. The need for irrigation in planting is very important because it is related to the availability of water and local climatic conditions. For this reason, research on cropping patterns and water requirements was carried out using the Cropwat software. Based on the research results, the Porong Canal irrigation area may have a rice-rice-corn cropping pattern. The total water requirement of plants at planting period 1 (paddy) was 562.4 mm thick, planting period 2 (rice) was 200.6 mm thick, and planting period 3 (corn) was 431.4 mm thick. Based on the water requirement, a irrigation plan is carried out every ten days with a total thickness of irrigation at the planting period of 1 thick (400.9 mm), planting period 2 (146 mm), and planting period 3 (276 mm). Provision of irrigation water every decade of the day is different depending on the growth phase. Total irrigation is different for each planting due to seasonal factors (rainfall), evapotranspiration, soil physical properties and crop coefficients.Kanal Porong merupakan salah satu sistem jaringan irigasi yang berasal dari Bendung Lengkong Baru yang mengaliri area irigasi seluas 11.059 Ha di daerah SubDAS Brantas Hilir. Keperluan irigasi dalam penanaman sangat penting karena berkaitan ketersediaan air dan kondisi iklim setempat. Untuk itu, dilakukan penelitian rencana pola tanam dan kebutuhan air menggunakan software Cropwat. Berdasarkan hasil penelitian, wilayah irigasi Kanal Porong mungkin memiliki pola tanam padi-padi-jagung. Total kebutuhan air tanaman pada masa tanam 1 (padi) setebal 562,4 mm, masa tanam 2 (padi) setebal 200,6 mm, dan masa tanam 3 (jagung) setebal 431,4 mm. Berdasarkan kebutuhan air tersebut, dilakukan rencana pengairan setiap sepuluh hari sekali dengan total ketebalan irigasi pada masa tanam 1 setebal (400,9 mm), masatanam 2 (146 mm), dan masa tanam 3 (276 mm). Pemberian air irigasi tiap dekade hari berbeda tergantung pada fase pertumbuhan. Total pemberian irigasi berbeda setiap penanaman karena faktor musim (curah hujan), evapotranspirasi, sifat fisik tanah dan koefisien tanaman

    167

    full texts

    191

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Geografi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇