Jurnal Geografi
Not a member yet
191 research outputs found
Sort by
MENINGKATKAN KREATIVITAS DAN CAPAIAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN GEOGRAFI DENGAN MODEL PROJECT BASED LEARNING DI SMA NEGERI 3 MANDAU
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kreatifitas dan capaian kompetensi pembelajaran geografi pada peserta didik kelas X MIPA 5 SMAN 3 Mandau. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data atau informasi dan membahas tentang upaya meningkatkan kreativitas dan capaian kompetensi pembelajaran geografi dengan model Project Based Learning pada peserta didik kelas X Mipa 5 SMAN 3 Mandau. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan di kelas X MIPA 5 SMAN 3 Mandau pada semester satu tahun 2016/2017 dengan jumlah siswa sebanyak 42 orang. Penelitian dilakukan sebanyak dua siklus dan masing-masing siklus dua kali pertemuan dengan langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data dikumpulkan melalui tes, lembar observasi, panduan wawancara dan angket yang dianalisis dengan presentasi dan kualitatif (reduksi data). Penelitian ini menemukan terjadinya peningkatan kreativitas dan capaian kompetensi pembelajaran geografi melalui model Project Based Learning dengan tindakan pemberian penguatan (reinforcement) dan insentif (siklus satu rata-rata 6, 25 dan siklus dua rata-rata 78, 00).Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kreatifitas dan capaian kompetensi pembelajaran geografi pada peserta didik kelas X MIPA 5 SMAN 3 Mandau. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data atau informasi dan membahas tentang upaya meningkatkan kreativitas dan capaian kompetensi pembelajaran geografi dengan model Project Based Learning pada peserta didik kelas X Mipa 5 SMAN 3 Mandau. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan di kelas X MIPA 5 SMAN 3 Mandau pada semester satu tahun 2016/2017 dengan jumlah siswa sebanyak 42 orang. Penelitian dilakukan sebanyak dua siklus dan masing-masing siklus dua kali pertemuan dengan langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data dikumpulkan melalui tes, lembar observasi, panduan wawancara dan angket yang dianalisis dengan presentasi dan kualitatif (reduksi data). Penelitian ini menemukan terjadinya peningkatan kreativitas dan capaian kompetensi pembelajaran geografi melalui model Project Based Learning dengan tindakan pemberian penguatan (reinforcement) dan insentif (siklus satu rata-rata 6, 25 dan siklus dua rata-rata 78, 00)
PERUBAHAN IKLIM DAN KAITANNYA DENGAN PENYEBARAN KOMODITAS TANAMAN PANGAN DAN HOLTIKULTURA DI KABUPATEN PASAMAN BARAT
Peningkatan suhu udara juga akan meningkatkan serangan hama dan penyakit, baik pada tanaman maupun bintang ternak. Sub sektor tanaman pangan dan hortikultura merupakan salah satu sub sektor unggulan daerah. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah menganalisis perubahan iklim dan kaitannya dengan penyebaran komoditas tanaman pangan dan holtikultura di Kabupaten Pasaman Barat. Metode penelitian ini termasuk research dengan menggunakan data iklim (terutama data curah hujan), baik data observasi maupun data reanalisis serta data produksi tanaman pangan dan holtikultura untuk 5 tahun (2011-2015). data yang berhubungan dangan iklim diambil dari beberapa kantor BMKG, dan data penduduk bisa dari BPS Kota Padang, Pengolahan data dengan software RClimDex, yakni Expert Team for Climate Change Detection and Indices (ETCCDMI) untuk mendeteksi dan monitoring perubahan iklim dengan fokus utama pada kejadian-kejadian iklim ekstrim. Selama periode tahun 2000-2015, curah hujan di wilayah pesisir pantai mempunyai variasi tahunan yang relatif kecil dibandingkan dengan curah hujan tahunan di wilayah daratan pedalaman Pasaman Barat. Fenomena global ENSO (El Nino dan La Nina) tidak secara signifikan mempengaruhi variabilitas curah hujan bulanan di wilayah Kab. Pasaman Barat, baik untuk di wilayah pesisir pantai maupun wilayah daratan pedalamannya. Kecamatan yang tertinggi untuk produktivitas tanaman pangan adalah Kecamatan Talamau, Peringkat sedang pada Kecamatan Ranah Patahan, Lembah Melintang, Luhak Nan Duo, dan Kinali, sedangkan peringkat rendah diraih oleh Kecamatan Sungai Beremas, Sungai Aua, Gunung Tuleh, Pasaman, Sasak, dan Koto Balingka. Kecamatan yang tertinggi untuk produktivitas tanaman buahnya adalah Kecamatan Sungai Beremas, Gunung Tuleh, dan Talamau. Peringkat sedang pada Kecamatan Ranah Patahan, Koto Balingka, Sungai Aua, Lembah Melintang, Pasaman, Luhak Nan Duo, dan Sasak. Daerah yang paling rendah adalah Kecamatan Kinali.Peningkatan suhu udara juga akan meningkatkan serangan hama dan penyakit, baik pada tanaman maupun bintang ternak. Sub sektor tanaman pangan dan hortikultura merupakan salah satu sub sektor unggulan daerah. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah menganalisis perubahan iklim dan kaitannya dengan penyebaran komoditas tanaman pangan dan holtikultura di Kabupaten Pasaman Barat. Metode penelitian ini termasuk research dengan menggunakan data iklim (terutama data curah hujan), baik data observasi maupun data reanalisis serta data produksi tanaman pangan dan holtikultura untuk 5 tahun (2011-2015). data yang berhubungan dangan iklim diambil dari beberapa kantor BMKG, dan data penduduk bisa dari BPS Kota Padang, Pengolahan data dengan software RClimDex, yakni Expert Team for Climate Change Detection and Indices (ETCCDMI) untuk mendeteksi dan monitoring perubahan iklim dengan fokus utama pada kejadian-kejadian iklim ekstrim. Selama periode tahun 2000-2015, curah hujan di wilayah pesisir pantai mempunyai variasi tahunan yang relatif kecil dibandingkan dengan curah hujan tahunan di wilayah daratan pedalaman Pasaman Barat. Fenomena global ENSO (El Nino dan La Nina) tidak secara signifikan mempengaruhi variabilitas curah hujan bulanan di wilayah Kab. Pasaman Barat, baik untuk di wilayah pesisir pantai maupun wilayah daratan pedalamannya. Kecamatan yang tertinggi untuk produktivitas tanaman pangan adalah Kecamatan Talamau, Peringkat sedang pada Kecamatan Ranah Patahan, Lembah Melintang, Luhak Nan Duo, dan Kinali, sedangkan peringkat rendah diraih oleh Kecamatan Sungai Beremas, Sungai Aua, Gunung Tuleh, Pasaman, Sasak, dan Koto Balingka. Kecamatan yang tertinggi untuk produktivitas tanaman buahnya adalah Kecamatan Sungai Beremas, Gunung Tuleh, dan Talamau. Peringkat sedang pada Kecamatan Ranah Patahan, Koto Balingka, Sungai Aua, Lembah Melintang, Pasaman, Luhak Nan Duo, dan Sasak. Daerah yang paling rendah adalah Kecamatan Kinali
ANALISIS EFEKTIFITAS KEGIATAN MGMP DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONALISME GURU KELOMPOK MATA PELAJARAN IPS DI SMA KABUPATEN PASAMAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis sejauh mana efektifitas kegiatan MGMP kelompok Mata Pelajaran IPS di SMA Kabupaten Pasaman dalam mencapai tujuannya, dan sejauh mana pengetahuan yang diperoleh guru kelompok Mata Pelajaran IPS SMA pada kegiatan MGMP dalam meningkatkan kompetensiprofesionalisme guru. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui dan mendeskripsikan kegiatan MGMP kelompok Mata Pelajaran IPS SMA yaitu MGMP Ekonomi, MGMP Geografi, dan MGMP Sosiologi.Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Informan penelitian berjumlah 12 orang terdiri 3 orang ketua dari masing-masing MGMP dan 9 orang anggota yakni 3 orang anggota MGMP Geografi, 3 orang anggota MGMP Ekonomi dan 3 orang anggota MGMP Sosiologi. Program kegiatan MGMP adalah terkait dengan peningkatan kompetensi profesionalisme guru yaitu kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Bagi informanMGMP sangat bermanfaat, karena guru berlatih membuat perangkat pembelajaran, pendalaman dan penguasaan materi pembelajaran, praktik mengajar, metode pembelajaran, media pembelajaran berbasis komputer, melaksanakan PTK. Hasil kegiatan MGMP guru memiliki perangkat pembelajaran yang sama, pelaksanaan ujiansama dan serentak seperti ujian semester, ujian kenaikan kelas, try out ujian nasional, dan Ujian Akhir Sekolah untuk tingkat Kabupaten Pasaman.Kendala dihadapi antara lain tempat kegiatan MGMP yang tidak tetap sehingga pelaksanaan memulai kegiatan tidak tepat waktu. Namun kendala ini tidak menghalangi untuk pelaksanaan kegiatan masing-masing kelompok MGMPPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis sejauh mana efektifitas kegiatan MGMP kelompok Mata Pelajaran IPS di SMA Kabupaten Pasaman dalam mencapai tujuannya, dan sejauh mana pengetahuan yang diperoleh guru kelompok Mata Pelajaran IPS SMA pada kegiatan MGMP dalam meningkatkan kompetensiprofesionalisme guru. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengetahui dan mendeskripsikan kegiatan MGMP kelompok Mata Pelajaran IPS SMA yaitu MGMP Ekonomi, MGMP Geografi, dan MGMP Sosiologi.Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Informan penelitian berjumlah 12 orang terdiri 3 orang ketua dari masing-masing MGMP dan 9 orang anggota yakni 3 orang anggota MGMP Geografi, 3 orang anggota MGMP Ekonomi dan 3 orang anggota MGMP Sosiologi. Program kegiatan MGMP adalah terkait dengan peningkatan kompetensi profesionalisme guru yaitu kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Bagi informanMGMP sangat bermanfaat, karena guru berlatih membuat perangkat pembelajaran, pendalaman dan penguasaan materi pembelajaran, praktik mengajar, metode pembelajaran, media pembelajaran berbasis komputer, melaksanakan PTK. Hasil kegiatan MGMP guru memiliki perangkat pembelajaran yang sama, pelaksanaan ujiansama dan serentak seperti ujian semester, ujian kenaikan kelas, try out ujian nasional, dan Ujian Akhir Sekolah untuk tingkat Kabupaten Pasaman.Kendala dihadapi antara lain tempat kegiatan MGMP yang tidak tetap sehingga pelaksanaan memulai kegiatan tidak tepat waktu. Namun kendala ini tidak menghalangi untuk pelaksanaan kegiatan masing-masing kelompok MGM
prediksi, abrasi PREDIKSI KERUGIAN BENCANA ALAM ABRASI PANTAI SASAK KABUPATEN PASAMAN BARAT SUMATERA BARAT
Penelitian prediksi kerugian bencana alam abrasi Pantai Sasak ini bertujuan untuk memprediksikan kerugian korban jiwa dan kerugian ekonomi yang disebabkan oleh bencana alam abrasi pantai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pendekatan kualitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode overlay peta untuk menentukan bahaya abrasi pantai dan survey lapangan untuk mengetahui jumlah bangunan dan infrastruktur yang terdapat pada daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi kerugian jiwa akibat bencana alam abrasi pantai Sasak adalah berkisar 144 jiwa yang terdiri atas 36 kepala keluarga. Kerugian ekonomi akibat bencana alam abrasi pantai Sasak dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu bangunan tidak permanen sebanyak 36 unit dengan kerugian berkisar Rp. 180.000.000, musholla 1 unit dengan kerugian ditaksir sekitar Rp. 15.000.000, dan 1 uni Sekolah Dasar dengan kerugian ditaksir sekitar Rp. 2.500.000.000. total kerugian akibat bencana alam abrasi pantai pada daerah penelitian ditaksir sekitar Rp. 2.695.000.000Penelitian prediksi kerugian bencana alam abrasi Pantai Sasak ini bertujuan untuk memprediksikan kerugian korban jiwa dan kerugian ekonomi yang disebabkan oleh bencana alam abrasi pantai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pendekatan kualitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode overlay peta untuk menentukan bahaya abrasi pantai dan survey lapangan untuk mengetahui jumlah bangunan dan infrastruktur yang terdapat pada daerah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prediksi kerugian jiwa akibat bencana alam abrasi pantai Sasak adalah berkisar 144 jiwa yang terdiri atas 36 kepala keluarga. Kerugian ekonomi akibat bencana alam abrasi pantai Sasak dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu bangunan tidak permanen sebanyak 36 unit dengan kerugian berkisar Rp. 180.000.000, musholla 1 unit dengan kerugian ditaksir sekitar Rp. 15.000.000, dan 1 uni Sekolah Dasar dengan kerugian ditaksir sekitar Rp. 2.500.000.000. total kerugian akibat bencana alam abrasi pantai pada daerah penelitian ditaksir sekitar Rp. 2.695.000.00
STUDI VALIDITAS SOAL PILIHAN GANDA BUATAN GURU MATA PELAJARAN GEOGRAFI SMA DI KABUPATEN TANAH DATAR
Artikel ini ditulis untuk mengetahui 1. Tingkat kevalidan soal pilihan ganda buatan guru mata Pelajaran Geografi, 2. Faktor penyebab ketidak validan soal buatan guru, 3. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas soal buatan guru mata Pelajaran GeografiJenis penelitian adalah “Penelitian Deskriptif Kuantilatif” Teknik penarikan sampel adalah cluster random sampling.Teknik analisis data, untuk data kuantitatif menggunakan program ANATES, dan untuk data kualitatif, menggunakan teknik analisis data.Temuan penelitian: Pertama, masih banyak soal ujian semester ganjil buatan guru yang belum valid, dari 50 butir soal yang diujikan 38% yang valid dan 62% tidak valid (invalid). Kedua faktor penyebab tidak validnya soal buatan guru adalah : pertama soal yang diujikan masih banyak yang belum sesuai dengan kriteria dari mutu soal yang baik, kedua masih rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, ketiga belum adanya upaya dari para guru untuk melakukan analisis terhadap hasil penilaian, dan masih rendahnya motivasi siswa serta teknik pembelajaran yang belum bervariasi.Ketiga upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas soal buatan guru adalah a) guru-guru harus membuat bank soal, b) guru-guru diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, c) semakin menggalakkan MGMP, d) dan setiap guru mata pelajaran diwajibkan untuk membuat, mengolah atau menganalisis kembali butir-butir soal yang diujikan.Artikel ini ditulis untuk mengetahui 1. Tingkat kevalidan soal pilihan ganda buatan guru mata Pelajaran Geografi, 2. Faktor penyebab ketidak validan soal buatan guru, 3. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas soal buatan guru mata Pelajaran GeografiJenis penelitian adalah “Penelitian Deskriptif Kuantilatif” Teknik penarikan sampel adalah cluster random sampling.Teknik analisis data, untuk data kuantitatif menggunakan program ANATES, dan untuk data kualitatif, menggunakan teknik analisis data.Temuan penelitian: Pertama, masih banyak soal ujian semester ganjil buatan guru yang belum valid, dari 50 butir soal yang diujikan 38% yang valid dan 62% tidak valid (invalid). Kedua faktor penyebab tidak validnya soal buatan guru adalah : pertama soal yang diujikan masih banyak yang belum sesuai dengan kriteria dari mutu soal yang baik, kedua masih rendahnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, ketiga belum adanya upaya dari para guru untuk melakukan analisis terhadap hasil penilaian, dan masih rendahnya motivasi siswa serta teknik pembelajaran yang belum bervariasi.Ketiga upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas soal buatan guru adalah a) guru-guru harus membuat bank soal, b) guru-guru diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, c) semakin menggalakkan MGMP, d) dan setiap guru mata pelajaran diwajibkan untuk membuat, mengolah atau menganalisis kembali butir-butir soal yang diujikan
URGENSI TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE (TPACK) DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI
Kebutuhan akan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di zaman globalisasi ini bukan hal yang dapat dikesampingkan. Kebutuhan dalam pemenuhan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi suatu kebutuhan yang sangat penting. Bagi seorang guru, pengetahuan teknologi (technological knowledge) merupakan kompetensi yang harus dikuasai guna mendukung peningkatan dalam proses pembelajaran. Untuk mengemas pembelajaran seperti ini diperlukan kompetensi khusus bagi seorang guru. Tidak cukup hanya materi pembelajaran (content), atau kemampuan merancang pembelajaran (pedagogic) tetapi harus mampu menggabungkan keduanya yang kemudian dikolaborasikan dengan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi (technological). Kemampuan inilah yang disebut dengan TPACK (Technological Pedagogical and Content Knowledge). kerangka TPACK terdiri dari tujuh komponen pengetahuan, yaitu: Content Knowledge (CK); Pedagogical Knowledge (PK); Technological Knowledge (TK); Pedagogical Content Knowledge (PCK); Technological Content Knowledge (TCK); Technological Pedagogical Knowledge (TPK); dan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Pembelajaran geografi yang merupakan ilmu untuk membangun dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat, tempat dan lingkungan pada muka bumi, akan sangat terbantukan dengan adanya kerangka TPACK yang dimiliki oleh guru. Peserta didik terdorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis dipermukaan bumi dengan adanya sistem informasiKebutuhan akan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di zaman globalisasi ini bukan hal yang dapat dikesampingkan. Kebutuhan dalam pemenuhan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi suatu kebutuhan yang sangat penting. Bagi seorang guru, pengetahuan teknologi (technological knowledge) merupakan kompetensi yang harus dikuasai guna mendukung peningkatan dalam proses pembelajaran. Untuk mengemas pembelajaran seperti ini diperlukan kompetensi khusus bagi seorang guru. Tidak cukup hanya materi pembelajaran (content), atau kemampuan merancang pembelajaran (pedagogic) tetapi harus mampu menggabungkan keduanya yang kemudian dikolaborasikan dengan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi (technological). Kemampuan inilah yang disebut dengan TPACK (Technological Pedagogical and Content Knowledge). kerangka TPACK terdiri dari tujuh komponen pengetahuan, yaitu: Content Knowledge (CK); Pedagogical Knowledge (PK); Technological Knowledge (TK); Pedagogical Content Knowledge (PCK); Technological Content Knowledge (TCK); Technological Pedagogical Knowledge (TPK); dan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Pembelajaran geografi yang merupakan ilmu untuk membangun dan mengembangkan pemahaman peserta didik tentang variasi dan organisasi spasial masyarakat, tempat dan lingkungan pada muka bumi, akan sangat terbantukan dengan adanya kerangka TPACK yang dimiliki oleh guru. Peserta didik terdorong untuk memahami aspek dan proses fisik yang membentuk pola muka bumi, karakteristik dan persebaran spasial ekologis dipermukaan bumi dengan adanya sistem informas
PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN SINTAK MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PENEMUAN (DISCOVERY LEARNING) PADA PEMBELAJARAN GEOGRAFI
Konsep saintifik dikenal dengan 5M; 1. Mengamati/ observing, 2, menanya/ questioning, 3. Mengumpulkan informasi/ mencoba (experimenting), 4. Menalar/Mengasosiasi (associating), dan 5. Mengomunikasikan (communicating). Pentingnya pembelajaran saintifik ini karena produk pendidikan dasar dan menengah belum menghasilkan lulusan yang mampu berpikir kritis setara dengan kemampuan anak-anak bangsa lain. Disadari bahwa guru-guru perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis, dan ilmiah. Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Skenario untuk memacu keterampilan guru menerapkan strategi pembelajaran yang optimal salah satunya dengan model discovery learning. Model Discovery Learning di terapkan pada guru-guru di SMA se- Pasaman Barat, dimana model ini mengacu kepada teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. Karakteristik discovery learning menekankan pada proses mengajar untuk menciptakan proses pembelajaran yang maksimalKonsep saintifik dikenal dengan 5M; 1. Mengamati/ observing, 2, menanya/ questioning, 3. Mengumpulkan informasi/ mencoba (experimenting), 4. Menalar/Mengasosiasi (associating), dan 5. Mengomunikasikan (communicating). Pentingnya pembelajaran saintifik ini karena produk pendidikan dasar dan menengah belum menghasilkan lulusan yang mampu berpikir kritis setara dengan kemampuan anak-anak bangsa lain. Disadari bahwa guru-guru perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis, dan ilmiah. Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Skenario untuk memacu keterampilan guru menerapkan strategi pembelajaran yang optimal salah satunya dengan model discovery learning. Model Discovery Learning di terapkan pada guru-guru di SMA se- Pasaman Barat, dimana model ini mengacu kepada teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. Karakteristik discovery learning menekankan pada proses mengajar untuk menciptakan proses pembelajaran yang maksima
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH SBSNP DAN NON SBSNP
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Kurikulum 2013 di sekolah SBSNP dan SBSNP.Jenis penelitian adalah deskriptif kualitatif.Informan terdiri dari 2 orang guru IPS yang mengajar di kelas VII, pelaksanaan penelitian bulan Oktober sampai Desember 2016.Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi untuk RPP, observasi pembelajaran, dan wawancara dengan informan. Analisis data kuantitatif menggunakan formula persentase, dan data kualitatif dianalisis melalui reduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil analisis data memperlihatkan bahwa; 1) kemampuan guru dalam menyusun RPP, baik di Sekolah SBSNP, maupun sekolah Non SBSNP sudah baik, 2) kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran sudah baik, 3) kemampuan guru melakukan penilaian masih kurang (khususnya dalam mengembangkan instrumen penilaian kompetensi sikap spiritual dan sosial), dan 4) tingkat keterpakaian buku oleh guru sudah baik. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus, 1) kemampuan guru merancang pembelajaran belum terpadu, dan masih terintegrasi, 2) latar belakang pendidikan guru yang belum sesuai dengan tuntutan pembelajaran terpadu, 3) pemahaman guru tentang konsep pembelajaran terpadu masih kurang, dan 4) belum sepenuhnya menerapkan “Pendekatan Saintifik” (khususnya dalam mengembangkan indikator kompetensi sikap spiritual dan sosial
HUBUNGAN KECERDASAN SPIRITUAL MAHASISWA DENGAN TINGKAT INDEKS PRESTASI KUMULATIF (IPK) DI JURUSAN GEOGRAFI UNIVERSITAS NEGERI PADANG
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan spiritual mahasiswa dengan tingkat indeks prestasi kumulatif di Jurusan Geografi FIS UNP.
Jenis penelitian adalah penelitian Deskripsi Korelasional dengan Populasi mahasiswa S1 aktif jurusan Geografi FIS UNP masa studi dibawah 4 tahun sebanyak 723 orang. Kemudian sampel yang dipergunakan adalah mahasiswa jurusan geografi BP 2013 dan 2014, teknik pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling maka sesuai perhitungan kriteria pengambilan sampel diperoleh sampel sebanyak 30 mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi dan 21 mahasiswa Program Studi Geografi. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, dan dianalisis menggunakan teknik korelasi product moment.
Penelitian ini menemukan: nilai signifikansi 0,000 ≤ 0,05 menunjukkan bahwa hubungan antara kecerdasan spiritual dengan IPK adalah signifikan. Koefisien korelasi kecerdasan spiritual (X) dengan IPK (Y) yaitu sebesar 0,550 dengan keeratan hubungan termasuk dalam kategori sedang. Sehingga dapat disimpulkan kecerdasan spiritual merupakan variabel yang memiliki hubungan signifikan dan positif indeks prestasi kumulatif mahasiswa di Jurusan Geografi FIS UNPPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan spiritual mahasiswa dengan tingkat indeks prestasi kumulatif di Jurusan Geografi FIS UNP.
Jenis penelitian adalah penelitian Deskripsi Korelasional dengan Populasi mahasiswa S1 aktif jurusan Geografi FIS UNP masa studi dibawah 4 tahun sebanyak 723 orang. Kemudian sampel yang dipergunakan adalah mahasiswa jurusan geografi BP 2013 dan 2014, teknik pengambilan sampel menggunakan Stratified Random Sampling maka sesuai perhitungan kriteria pengambilan sampel diperoleh sampel sebanyak 30 mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi dan 21 mahasiswa Program Studi Geografi. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, dan dianalisis menggunakan teknik korelasi product moment.
Penelitian ini menemukan: nilai signifikansi 0,000 ≤ 0,05 menunjukkan bahwa hubungan antara kecerdasan spiritual dengan IPK adalah signifikan. Koefisien korelasi kecerdasan spiritual (X) dengan IPK (Y) yaitu sebesar 0,550 dengan keeratan hubungan termasuk dalam kategori sedang. Sehingga dapat disimpulkan kecerdasan spiritual merupakan variabel yang memiliki hubungan signifikan dan positif indeks prestasi kumulatif mahasiswa di Jurusan Geografi FIS UN
ANALISIS PERTUMBUHAN PENDUDUK TERHADAP PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KOTA BUKITTINGGI
Bukitinggi city is the most populous city in West Sumatra, experiencing an increase in population from year to year, the limitations of urban space that causes pressure on urban space. Such as the occurrence of land conversion for the physical construction of the city, such as: settlement, trade and services, and others. Based on this research, the aim of this study is to obtain information, discuss and analyze (1) population growth of Bukittinggi City in 2000-2010, (2) to identify land use change of Bukitinggi city in 2000-2010, and (3) to identify the characteristics of change Land use due to population growth and how the utilization of Bukitinggi City space.
The type of research used is descriptive research with secondary data analysis method with the support of Geographic Information System (GIS). The data used are population data of Bukittinggi City 10 years (2000-2010), Land Use Map of Bukit Tinggi City (2000 and 2010), and Map of RTRW Kota Bukitinggi 2010 as final analysis.
The results showed that: (1) the population growth of Bukittinggi City in 2000-2010 was 0.02 or 2% which indicated an increase in population. The dominant factor that affects is migration (residents coming). The most populous urban village is Sapiran 12orang / km2 which is the center of TNI and Polri dormitory, while the urban village is Puhun Pintu Kabun with density of 2 person / km2, (2) land use change in settlement, rice field, mixed or moorland, Services. The largest expansion occurred from mixed or cultivated gardens of 1.75 km2. Other changes occurred in the settlement of 0.06 km2 and trade and services 0.14 km2. (3) Characteristics of land use change due to population growth in relation to spatial use dominated by mixed or mooring farms into 6.89% (174.6 ha) settlements, rice fields became 0.25% (6.4 ha) settlements, and rice fields became Mixed garden 0.55% (14 ha). Linkages to the use of space is the study of green space: Park City, Village Pintu Kabun and Bukit Apit there is development of settlements as the development of the area towards the north which needs to be done policy priorities