RUMAH JURNAL STAI AL-AZHAR GRESIK
Not a member yet
265 research outputs found
Sort by
Management Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal
ABSTRACT Local Excellence (KL) is a process and realization of increasing the value of a regional potential so that it becomes a product /service or other work of high value, is unique and has a comparative advantage. The quality of the process and the realization of local excellence is greatly influenced by the available resources, which are better known as 7 M, namely Man, Money, Machine, Material, Method, Marketing and Management. The concept of developing local excellence is inspired by various potentials, namely the potential of natural resources (SDA), human resources (HR), geographical, cultural and historical. Natural resources (SDA) are the potential contained in the earth, water, and aerospace that can be utilized for various life purposes. Human resources (HR) are defined as humans with all the potential they have that can be utilized and developed to become social creatures that are adaptive and transformative and able to utilize the natural potential around them in a balanced and sustainable way. Geographic objects include, among others, formal objects and material objects. Culture is attitude, while the source of attitude is culture. Local excellence in historical concepts is historical potential in the form of relics of ancient objects and traditions that are still preserved today
Troble Maker Pada Anak PIAUD Dan Cara Menanganinya
Every child has a lot of extraordinary potential, depending on how the parents hone and nurture it. Children have various hopes and beauties in them, but children can turn into Troble Maker if wrong care, bad environmental conditions, experiences during developmental times, bad relationships between parents, materially incapacitated, lack of attention to children, poor communication, parents are too busy with work, too much physical and psychological punishment. There are ways to deal with the Troble Maker child are some of the approaches, methods and steps. The approaches used are the Rational Approach, Emotional Approach, Functional Approach, Behavioristic Approach, Cognitive Approach, Humanistic Approach. The method used is the Uswah method, the method of advice, the habituation method, the Shawab method and `Iqab, social skills. For the steps used are as follows: Step of Discovery, Step of Understanding, Step of Living, Step of Practice, Step of Consolidation
Status Anak Di Luar Perkawinan Pasca Putusan MK. NO. 46/PUU-VIII/2010
Negara Indonesia merupakan negara hukum, yang mempunyai makna bahwa segala tindakan pemerintah dan rakyatnya selalu berdasarkan atas prosedur hukum resmi yang dibuat berdasarkan undang-undang.Mahkamah Konstitusi memiliki wewenang untuk menguji undang-undang serta mengadili pada tingkat pertama dan terakhir dimana putusannya bersifat final terkait undang-undang yang bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif karena yang dikaji adalah putusan Mahkamah Konstitusi No 46/PUU-VIII/2010 terkait perlindungan hukum status anak di luar perkawinan. Dampak dari putusan tersebut juga memberikan pepada peraturan lainnya, diantaranya UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, UU No 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dan lain-lainnya. Hasil dari penelitian ini adalah status anak yang lahir di luar perkawinan memang telah memperoleh perlindungan hukum sehingga mempunyai hubungan keperdataan dengan ayah biologisnya, tetapi dalam implementasinya masih banyak kendala yang harus diatasi karena implikasi dari putusan MK tersebut menuai pertentangan dan tidak mudah direalisasikan sehingga perlu adanya revisi terhadap peraturan-peraturan yang sudah tidak sesuai dengan putusan uji materi pasal 43 ayat 1 Undang-Undang No 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
Menegakkan Kode Etik Profesi Guru: Sebuah Pandangan Wawasan Filsafat Pendidikan
Apapun profesi seseorang perlu adanya standar yang mengikat agar pelaksanaan profesi tersebut dapat berjalan dengan baik, begitu juga dengan profesi guru. Tulisan ini ingin menjawab kegundahan para praktisi pendidikan yang merasa masih banyak oknum yang berlaku dan bertindak tidak sesuai dengan aturan. Oleh karena itu pemahaman dan penegakan kode etik profesi khususnya profesi guru menjadi sangat penting, sebab dengan memahami dan menegakkan kode etik profesi yang telah ditetapkan maka melakukan pekerjaan dan pengabdian akan merasa sangat senang. Penegakan kode etik ini juga perlu dilandasi dengan asas-asas yang membangun antara lain: Asas Tut Wuri Handayani, asas keadilan, asas kekeluargaan, asas komunikasi, dan asas keguruan. Asas-asas tersebut sesuai dengan filsafat pendidikan yang telah digagas oleh para filosof pendidikan
Living Hadis: Sebuah Kajian Epistemologis
Tulisan ini ingin menjelaskan pandangan umum tentang living hadis. Hadis bagi umat Islam merupakan suatu yang penting karena di dalamnya terungkap berbagai tradisi yang berkembang masa Rasulullah saw. Dari hadis pula lahir tradisi-tradisi yang mengikat dan berkembang di masyarakat baik secara lokal maupun secara nasional. Tulisan ini ingin menunjukkan berbagai aras yang terdapat dalam living hadis. Aras living hadis dapat dilihat dalam tiga bentuk, yaitu tulis, lisan, dan praktik. Ketiga model dan bentuk living hadis tersebut satu dengan yang lainnya sangat berhubungan. Pada awalnya gagasan living hadis banyak pada tempat praktik. Hal ini dikarenakan prektek langsung masyarakat atas hadis masuk dalam wilayah ini dan dimensi fiqh yang lebih memasyarakat ketimbang dimensi lain dalam ajaran Islam. Sementara dua bentuk lainnya, lisan dan tulis saling melengkapi keberadaan dalam level praksis. Bentuk lisan adalah sebagaimana terpampang dalam fasilitas umum yang berfungsi sebagai jargon atau mtto hidup seseorang atau masyarakat. Sementara lisan adalah berbagai amalan yang diucapkan yang disandarkan dari hadis Nabi Muhammad saw. berupa zikir atau yang lainnya. Untuk membahas berbagai aras living hadis perlu pemahaman metodologi yang sesuai dengan obyek kajiannya, masyarakat. Dengan melibatkan ilmu-ilmu kemanusiaan seperti sosiologi, antropologi, dan sebagainya
Problematika Penegakkan Hukum Dan Arah Kebijakan Pembangunan Sistem Hukum
Berbicara tentang penegakkan hukum, maka tidak bisa terlepas dari tiga aspek yang selalu mengikuti, yaitu aspek substansi hukum, struktur hukum dan budaya hukum. Substansi hukum terkait bagaimana materi hukum itu benar-benar netral dari kepentingan-kepentingan politis yang sifatnya sesaat dan pragmatis karena hukum (undang-undang) pada dasarnya adalah produk politik sehingga tidak boleh mengabdi pada politik/kekuasaan, tapi hukum harus mengabdi pada keadilan.Struktur hukum terkait erat dengan para aparat penegak hukum, untuk menegakkan hukum secara adil dibutuhkan aparat yang berintegritas,tegas, berani dan jujur serta mempunyai komitmen yang kuat untuk menegakkan keadilan.Sedangkan untuk aspek budaya hukum terkait dengan perilaku masyarakat terhadap implementasi hukum itu sendiri apakah budaya yang ditampilkan taat dan patuh pada hukum atau malah sebaliknya. Atas semua problem tersebut menjadi suatu keniscayaan harus ada suatu arah kebijakan pembangunan sistem hukum yang benar-benar terintegrasi dengan baik
Pengayaan Materi Pelajaran Fisika Berupa Pelatihan Untuk Guru Dan Siswa Madrasah Aliyah Ikut OSN/KSM Tingkat Kota Situbondo
Madrasa Science Competition (KSM) is an annual routine agenda organized by the Ministry of Religion. KSM is implemented in three stages, namely the regency / city level, the provincial level and the national level. Each school can send representatives to attend CBOs. In the implementation, not all schools send their representatives to join the KSM. This is due to the fact that most schools are minimal in terms of resources and facilities. This training was implemented at the Aliyah Fathus Salafi Madrasah School, Tanjung Rejo Village, Mangaran Situbondo. In the KSM coaching activity for the school, we approached the provision of KSM physics materials to the students. The approach is an approach to the basic concepts of physics by giving many examples of physical phenomena in everyday life. With this approach, it is easier for students to digest KSM material and problems with more complexity. After the implementation of KSM training, Madrasah Aliyah Fathus Salafi became more confident and encouraged to participate in the district / city level KSM
Diskursus Kesejarahan Ilmu Pengetahuan Dan Filsafat Ilmu
Perkembangan ilmu pengetahuan tidak merupakan sesuatu yang twrdiri sendiri, akan tetapi dipengaruhi oleh situasİ sosial, ekonomi. budaya dan bahkan ideologi. Sejarah perkembangan ilmi, rxngetahuan temyata akrab dengan situasi seperti itu. misalnya pada zaman Yunani kuno bercorak kosmosentrisme, zaman abad pertengahan bercorak antreposentrisme dan zaman kontemporer bercorak logosentrisme. Perkembangan itü menandakan bahwa dinamika pemikiran keilmuan pada dasarnya bergeral bukan darı tidak ada tetapi berbekal bahan baku pemikiran yang ada kemudian dikembangkan ke arah sesuatu yang baru sesuai dengan semangat zarnannya. Dalam perkembangan, filsafat ilmu memiliki sistematika yang ditandai dengan pengkajian yang bersifat mendalam, field of scope yang jelas dan metodologi yang terarah kepada penemuan konsep-konsep dan teori kefilsfatan dan keilmuan. Melalui mekanisme seperti ini, filsafat ilmu memperoleh ladang dan tempatnya yang jelas di dalam disiplin kefilsafatan
Upaya Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Kooperatif Tipe Make A Match Pada Mata Pelajaran Quran Hadist Kelas IV di MI Darul Ulum Lemah Putih Wringinanom Gresik
The effective learning model is a cornerstone of learning practices that make it easy for students to learn and give students knowledge, values and skills. One learning model is the Make a match type cooperative learning model. Make a match gives students the opportunity to ask questions, have opinions and interact with students who are active in class. The teacher acts as a facilitator. Make a match model is a technique to find a partner using a card that contains the answers to these questions. Therefore, learning the Quran hadith makes it easy for students to memorize the meanings and verses of the Holy Qur'an, one of them by the method of Make a match. The focus of this research is on: a) How is the application of the Make a match cooperative learning model? b) What is the student's interest in learning? c) What are the student learning outcomes? and d) What is the response of students ?. This type of research uses Classroom Action Research, a means for researching, perfecting and evaluating the implementation of teacher assignments. The method for initiating this research data, observation sheets, tests and questionnaires. The results of this study indicate that the interests and learning outcomes of students of the Quran hadith subjects in class IV students are said to be still lacking, indicated by the results of observations in class IV students from pre-cycle 61.15%, after the first cycle of 74.07% and the second cycle increased 85.00%. The application of the Make a match type of cooperative learning model for grade IV students at MI Darul Ulum, Wringinom Gresik, was positive because it was seen from the questionnaire percentage of 88%. With this method, student learning outcomes from pre-cycle of 61.15% then increased by 73.9% in the first cycle and held the second cycle increased by 80.5% seen from an increase in each cycle of student learning outcomes has been maximized because it exceeds the target Minimum completeness criteria (KKM). The learning implementation procedure using the Make a match method has been running smoothly and in accordance with the planned learning implementation (RPP)
Grand Design Pendidikan Karakter Menuju Kecerdasan Emosional Spiritual
Diantara agenda utama bangsa Indonesia dalam dunia pendidikan adalah melakukan perbaikan peradaban bangsa melalui pendidikan karakter. Tuntutan urgensi untuk sebuah implementasi pendidikan karakter tersebut mengharuskan adanya pemikiran tentang bagaimana design pendidikan karakter di Indonesia yang diharapkan mampu membawa anak didik pada kecerdasan emosional spiritual. Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural untuk membentuk grand design tersebut dikelompokkan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development). Pengembangan dan implementasi pendidikan karakter perlu dilakukan dengan mengacu pada grand design tersebut