Open Journal System Yapenas 21 Maros
Not a member yet
592 research outputs found
Sort by
Faktor yang Berpengaruh dengan Status Gizi Balita di Perkotaan dan Perdesaan
Masalah gizi lebih rentan dialami oleh anak-anak. Permasalahan yang dihadapi di perkotaan dan perdesaan cukup banyak, salah satunya adalah permasalahan gizi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara pekerjaan orang tua, pendapatan, pendidikan, pengetahuan, serta pola makan dengan status gizi balita di perdesaan dan perkotaan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Tonggolobibi Desa Tonggolobibi Palu dan Puskesmas Sangurara Kota Palu yang dilaksanakan pada bulan Maret-April 2023. Populasi pada penelitian ini yaitu balita usia 0-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Tonggolobibi dan wilayah kerja Puskesmas Sangurara Kota Palu sebanyak 1.243 balita. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling diperoleh sampel sebanyak 30 balita di Puskesmas Tonggolobibi dan 63 balita di puskesmas Sangurara. Hasil uji chi-square didapatkan bahwa Berdasarkan hasil peneliitian disimpulkan bahwa pekerjaan orang tua, pendapatan orang tua, tingkat pengetahuan ibu, dan yang berkaitan dengan pola makan yaitu asupan protein dan lemak juga ada hubungan dengan status gizi balita di perkotaan dan di perdesaan. sedangkan pendidikan dan asupan energi hanya di perkotaan yang berhubungan dengan status gizi balita. Sementara, pekerjaan orang tua dan asupan karbohidrat, baik di perkotaan maupun perdesaan tidak ada hubungan dengan status gizi balita. Saran untuk ibu balita agar senantiasas memperhatikan status gizi balita dengan memantau pertumbuhan, asupan makan, dan berat badannya
Potensi Ekstrak Kulit Pisang (Musa paradisiaca L.) dalam Sediaan Emulgel-Kitosan untuk Mempercepat Penyembuhan Ulkus Diabetikum
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik dengan angka kejadian tinggi yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi kronik, seperti ulkus diabetikum. Ulkus diabetikum cenderung sulit untuk disembuhkan dan memiliki risiko tinggi terhadap infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan potensi ekstrak kulit pisang kepok dalam sediaan emulgel-kitosan sebagai alternatif dalam mempercepat penyembuhan ulkus diabetikum dan didasari atas tingginya jumlah limbah pisang kepok di Provinsi Lampung. Metode penelitian yang digunakan adalah gabungan antara metode kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dilakukan menggunakan pretest-posttest only control group design. Data yang diperoleh kemudian diuji Anova dan uji makroskopis berdasarkan kriteria Nagaoka. Objek penelitian merupakan tikus Wistar putih jantan dengan kriteria inklusi yang dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan, yakni kelompok K0 (kontrol negatif), K1 (sediaan emulgel-kitosan ekstrak kulit pisang kepok 20%), dan K2 (sediaan emulgel-kitosan ekstrak kulit pisang kepok 30%). Berdasarkan penelitian, didapatkan bahwa data dari setiap kelompok perlakuan menunjukkan hasil berbeda, tetapi tidak bermakna (p>0,05), dengan sediaan emulgel-kitosan ekstrak kulit pisang kepok dengan konsentrasi sebesar 20% memberikan hasil paling maksimal dalam proses penyembuhan ulkus diabetikum. Hal tersebut menyimpulkan bahwa sediaan emulgel-kitosan dengan ekstrak kulit pisang kepok mampu mempercepat penyembuhan ulkus diabetikum
Durasi Screen Time dengan Gangguan Tidur Remaja
Screen time adalah waktu yang digunakan dengan perangkat elektronik yang memiliki layar seperti smartphone, televisi, laptop, tablet, dan media digital lainnya. Salah satu dampak dari penggunaan gadget adalah remaja sering menggunakan media sosial pada gadget mereka, yang menyebabkan mereka menghabiskan lebih banyak waktu bermain gadget akibatya remaja memerlukan waktu tidur lebih lama dari pada biasanya. Desain penelitian ini merupakan studi kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional study dan bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis hubungan antara durasi screen time dengan gangguan tidur pada remaja dengan total sampling sebanyak 183 siswa. Hasil analisis menggunakan Chi-Square menunjukan adanya hubungan yang signifikan terkait durasi screen time dengan kejadian gangguan tidur insomnia di SMK Informatika Sumedang dengan nilai (p=0,036). Diperoleh kesimpulan ada korelasi terkait durasi screen time dengan salah satu jenis gangguan tidur yaitu insomnia. Diharapkan remaja lebih bijak dalam menggunakan waktu penggunaan layar dan menemukan hobi atau beraktivitas di luar ruangan seperti olahraga, seni atau kegiatan sosial. Selain itu diharapkan kepada orangtua untuk memberikan bimbingan dan memantau penggunaan layar remaja secara teratur
Implementasi Teknologi Tepat Guna Jamban Sehat untuk Optimasi Sanitasi Aman di Wilayah Pesisir Kabupaten Pangkep
Akses terhadap sanitasi yang aman merupakan kebutuhan dasar manusia yang esensial, khususnya bagi masyarakat pesisir yang rentan terhadap pencemaran lingkungan dan penyakit. Masyarakat di wilayah pesisir kampung nelayan di Kelurahan Pundata Baji, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, masih kekurangan akses terhadap sanitasi yang memadai. Hal ini menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan lingkungan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan sanitasi di wilayah pesisir Kampung Nelayan tersebut dengan menerapkan teknologi tepat guna jamban. Pendekatan Participatory Action Research (PAR) digunakan untuk melibatkan secara aktif masyarakat setempat dan pemangku kepentingan lainnya dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari perencanaan, implementasi, hingga evaluasi. Melalui proses PAR, pengabdian ini berhasil menyediakan solusi konkret dengan merancang dan membangun contoh jamban model pasang surut yang sesuai dengan lingkungan lokal dan kebutuhan masyarakat. Teknologi jamban pasang surut ini terbukti efektif dan nyaman digunakan oleh masyarakat setempat. Hasil pengabdian ini dapat menjadi panduan bagi pemerintah daerah lainnya untuk mengadopsi praktik terbaik dalam pencapaian Open Defecation Free (ODF) dan akses sanitasi aman, serta mewujudkan lingkungan sehat dan berkelanjutan di wilayah pesisir. Kesimpulannya, implementasi teknologi ini berkontribusi signifikan dalam meningkatkan capaian ODF serta kualitas sanitasi aman dan kesehatan masyarakat pesisir
Baby Massage terhadap Kenaikan Berat Badan Bayi Usia 1-24 Bulan: Baby Massage on Increase Weight of Babies Aged 1-24 Months
Berat badan bayi adalah indikator dalam penilaian status gizi.Berdasarkan permasalahan berat badan bayi kurang, dalam hal ini banyak di jumpai bayi usia 1-24 bulan dengan masalah berat badan kurang yang tidak sesuai dengan umurnya. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh Baby Masasge terhadap kenaikan berat badan bayi 1-24 bulan di Mom & Child Care Berbek, Sidoarjo. Jenis penelitian Analitik Observasional. Rancang bangun Cross sectional, dengan pendekatan retrospektif. Populasi penelitian seluruh bayi usia 1 – 24 bulan yang datang di Mom & Child Care Brebek Sidoarjo. Penelitian ini di laksanakan pada tanggal April sampai dengan Mei 2023 sebanyak 35 bayi. Sampel sebagian bayi umur 1-24 bulan yang tercatat di rekam medis di mom & child care brebek sidoarjo sebanyak 32 bayi. variabel independen pijat bayi, variabel dependen berat badan bayi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan menunjukkan bahwa dari 32 reponden hampir seluruhnya (88,3%) rutin melalakukan baby masasgge dan hampir seluruhnya (84.3%) mengalami peningkatan berat badan. Dari hasil analisis uji Chi Square di dapatkan nilai ? = 0,000 <? = 0,05 Maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada pengaruh baby masasgge terhadap kenaikan berat badan bayi. Hasil terdapat pengaruh baby message terhadap kenaikan berat badan bayi usia 1-24 bulan di Mom & Child Care Berbek Sidoarjo. Diharapkan ibu rutin melakukan pijat bayi 15 menit 2 minggu sekali dalam waktu satu bulan untuk meningkatkan berat badan pada bay
Maternal Anxiety with Infant Pain During Immunization
Maternal and child health is still the target of health development programs in Indonesia. Immunization is important to prevent children from getting sick or even dying from certain diseases. The procedure for giving immunizations, most of which are by injection, is one of the reasons parents delay or even don't bring their children to be immunized because they can't bear to see their children cry. This study aimed to see the relationship between maternal anxiety and the pain felt by infant during immunization. This research method was a descriptive study with cross-sectional design and consecutive sampling technique. The study was conducted at the Pakuan Baru Health Center Jambi on 115 respondents consisting of mothers and infant (0-12 months) who received injection-type immunization. Maternal anxiety was measured using the DASS-21 questionnaire and the infant's pain was observed with the FLACC behavioral tool. The results of Spearman's rho analysis obtained a p-value of 0,0001 (p-value<0,05), which means that there is a significant relationship between maternal anxiety and the pain felt by infant during immunization with a strong correlation (r=0,625). We hope that the results of this study become a concern for health workers, to reduce maternal anxiety to decreases infant's pain and in the end can increase immunization coverage which has an impact on improving children's health status
Proximate Analysis and Organoleptic Acceptance of Snack Bar Based on Green Pea Flour (Vigna Radita) and Red Pea Flour (Phaseolus Vulgaris L)
Snack bars are snacks in the form of bars that are produced from various food components with added nutrients such as whole grains, dried fruit, or nuts. The aim of the research was to determine the proximate levels and test the organoleptic acceptability of snack bars using a completely randomized design (CRD) with treatment, added green beans and red beans F1 (100:25) F2 (62,5:62,5), F3 (25: 100). Organoleptic tests were carried out with 30 training panelists. The data were analyzed using the Kruskall Wallis test and continued with Mann Whitney. The results on the proximate level test was found that the highest water content value was in formula 1 (15,509%), the ash content in formula 1 was 2,547%, and the fat content in formula 1 was 22,751. Meanwhile, the highest protein content was in formula 3 (25,68%), carbohydrate content was 48,023% and the highest food fiber content was in formula 1 (17,512%). Result of proximate analysis and organoleptic tests was Formula 1 (100g green bean flour and 25g red bean flour) as the best product. The resulting formula can be a nutritious alternative as snack, with high level of protein, carbohydrates and fiber. The implications of developing a snack bar is not only nutritious, but also tastes good. This opens up opportunities to diversify healthier snack products by utilizing local resources
Basic Life Support Education to Increase the Knowledge, Attitudes and Skills of Members Marine and Air Police Directorate
Abstract
Drowning is one the most common accident in Riau Island. Drowning can cause hypoxia, acidosis lactate and hypothermia, this can result in cardiovascular dysfunction, ie heart rhythm disorders to cardiac arrest. Basic life support is needed to restore breathing and circulation fungction of a person. Marine and Air Police Directorate Riau Islands is the front line of providing assistance and rescue at sea and waters. Previously there was no proper BLS training, therefore the training is needed to prepare first responders. This study aimed to determine of Basic Life Support education to increase on knowledge, attitudes and skills member of Marine and Air Police Directorate Riau Islands. This research used a quantitative method with a research design with pre experimental design research design used with one group pre-post design without control. The total number of samples taken with purposive randomsampling of Subditpatroliairud Members and Police Boat members with 50 subjects and data analysis using Paired T-Test. Theaverage before and after education BLS were 58,13-83,33 for knowledge, 78,77-83,33 on attitude, 29,84-79,23 on skill. Paired T-Test on knowledge, attitudes and skills with a p-value of 0,000 (p-value<0,05) therefore Ha is accepted. Therefore, there is an effecton BLS training on improving knowledge, attitudes and skills member of Marine and Air Police Directorate
Study on Predisposing Factors of Adolescent Dysmenorrhoea
Dysmenorrhea is the most common complaint of menstrual pain during adolescence. Relevant risk factors for this condition include early menarche (<12). At this age, the reproductive organs have not fully developed, and the narrowing of the cervix can lead to pain during menstruation. The duration of menstruation may be influenced by continuous uterine contractions, which interrupt blood flow to the uterus. The length of the menstrual cycle plays a role in this, as a longer cycle leads to the release of more prostaglandins, causing pain. A family history of dysmenorrhea is an unmodifiable risk factor. This study aims to identify the predispositional factors that affect dysmenorrhea. The research design used is an analytical survey with a cross-sectional approach, which is a study aimed at exploring the correlation between causative factors and their effects, conducted simultaneously. The population consists of all students who experience menstrual pain. The sampling method used in this study was simple random sampling. The results show that the majority of subjects experienced dysmenorrhea, with 44 subjects (60,3%). Conclusion, there is a relationship between family history and exercise habits with the occurrence of primary dysmenorrhea, while no relationship was found between menarche age, menstrual duration, and nutritional status with the occurrence of primary dysmenorrhea
Analysis of Supplement Consumption of Pregnant Women with Orofacial Cleft in Children at RSAB Harapan Kita Jakarta
Congenital abnormalities remain a leading cause of death in toddlers, with a global death rate of 8.7 per 1000 live births in 2016. Cleft lip, a congenital birth defect, has an incidence rate in Indonesia that increases by an average of 7,500 cases per year. One of the exogenous factors influencing the occurrence of orofacial clefts (OFC) is maternal supplement intake. This study aimed to assess the relationship between maternal supplement consumption and the incidence of OFC in children and identify the dominant factors in maternal supplement intake. The study employed an observational analytic method with a case-control approach, involving 70 maternal samples calculated using the Lemshow formula. Data for the case group were obtained from mothers who underwent treatment at RSAB Harapan Kita Jakarta. The sampling method used was non-probability convenience sampling, and the data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate methods. The results showed a tendency for supplement consumption and maternal zinc requirements to increase the risk of OFC in children. However, a significant relationship was found between the timing of supplement consumption and the adequacy of folic acid, Vitamin B6, and Vitamin B12 supplements. In the multivariate analysis, the dominant risk factors were the need for folic acid and zinc in mothers. Based on the study results, it is recommended that local government regulations consider these factors to optimize the management and prevention of non-syndromic OFC in children, especially in Jakarta