Journal Arbitrer (Universitas Andalas)
Not a member yet
269 research outputs found
Sort by
FIGURATIVE LANGUAGE FOUND IN VICTOR HUGO'S LES MISERABLE NOVEL: A SEMANTICS APPROACH
Penelitian ini membahas terjadinya bahasa kiasan dalam karya Victor Hugo yang berjudul Les Miserable melalui pendekatan semantik. Tujuan skripsi ini adalah (1) untuk memahami bahasa kiasan perbandingan dan pertentangan yang di temukan dalam novel 'Les Miserables' karya Victor Hugo,(2) untuk memahami bahasa kiasan hubungan yang di temukan dalam novel 'Les Miserables' karya Victor Hugo, (3) untuk memahami bahasa kiasan perulangan yang di temukan dalam novel 'Les Miserables' karya Victor Hugo. Peneliti didukung oleh teori Leech (1981) dalam semantik terutama untuk makna konotasi dan Dancygier dan Sweetser (2014), Keraf (1994) dan Cruse (2006) untuk bahasa kiasan. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini dan penelitian pustaka sebagai teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data. Peneliti mengambil 55 sampel dari bahasa kiasan dari novel. Bahasa kiasan perbandingan dan pertentangan yaitu 3 personifikasi, 6 metafora, 6 simile, 6 hiperbola, 2 litotes, and 5 paradox. Bahasa kiasan hubungan yaitu 1 metonimi, 6 sinekdot, 4 alusi, dan 1elipsis. Bahasa kiasan perulangan yaitu 2 pleonasme, 2 klimaks, 1 anti-klimaks, 6 retorika, dan 4 repetisi.Temuan dari penelitian ini adalah dari 55 sampel dari bahasa kiasan yang ditemukan dalam novel, peneliti menemukan yang paling banyak 28 bahasa kiasan yang terjadi pada majas perbandingan dan pertentangan, diikuti denagn 15 bahasa kiasan yang terjadi pada majas perulangan, dan yang paling sedikit 12 bahasa kiasan yang terjadi pada majas hubungan dari setiap kategori
ANALISIS ABSOLUTE DAN OBLIQUE DALAM BAHASA KERINCI ISOLEK PULAU TENGAH
This research study in phonological field, aims of this research to discribe rhyme alternation on form of absolute and oblique in Kerinci language isolect pulau tengah. The purpose of this research are 1) to documenting Kerinci language isolect Pulau Tengah that threatened by Indonesian standart, Jakarta Indonesia, Minangkabau language, and most seriously threathened by Kerinci koine 2) the result of this research about description of Kerinci language isolect Pulau Tengah will be useful for other Malayic language researcher especially in remote areas of Sumatera and 3) give langauge contribution significantly for Kerinci society especially for Pulau Tengah society. This research found 19 rhyme alternation in G-words, 20 rhyme alternation in K-words, 16 vocal sequences, 28 consonant clusters, 12 consonant sequences, and base on silable phonotactic rules in Kerinci language isolect Pulau Tengah, it found six rules; V, VC, CV, CVC, CCV, and CCVC
HUBUNGAN FUNGSIONAL ANTARUNSUR DALAM FRASE BAHASA INDONESIA
This article aims to explain the phrase Indonesian. In this case will be described functional relationship between elements in the phrase and meaning that occur as a result of relationship. To achieve the objectives of this study, collected from spoken and written language. On the data is collected, analyzed by a unified and distributional. After data analysis has been done, in the presence of a functional relationship bet ween elements found in the phrase. Functional relationships between elements in the phrase endocentric is the core and modifiers, while the phrase exocentric is the relator and the axis. Meaning generated as a result of functional relationship between elements in endocentric phrases such as: property, amount, type, state, and processes. However, the meaning of which is generated in the phrase exocentric among others: the direction, places, destination, origin, and sustainability
FONOLOGI BAHASA KOREA
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fonologi bahasa Korea. Bahasa Korea memiliki fonem /i/, /i:/, /e/, /e:/, /u/, /u:/, /ŭ/, /o/, /o:/, /ŏ/, /a/, /a:/, /b/, /p/, /d/, /t/, /j/, /c/, /g/, /k/, /m/, /n/, /ŋ/, /s/, /x/, /h/, /č/, /l/, /r/, /y/, /w/; /ṫ/, dan /ṗ/; diftong [Ia], [Iŏ], dan [Iu]; serta serta struktur suku kata V, VK, KV, KVK, KVV, KKV, dan KVKK. Fonem bahasa Korea berupa fonem vokal /i/, /e/, /u/, /o/, dan /a/ berdistribusi secara lengkap. Namun, fonem /e/ hanya berdistribusi di tengah dan akhir kata saja. Diftong [Ia] dan [Iu] berdistribusi di tengah kata, sementara fonem [Iŏ] terdapat di tengah dan akhir kata.
PEMBUATAN MODEL PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG MELALUI IMPLEMENTASI SCL BERBASIS MULTIMEDIA
Perguruan Tinggi Politeknik Negeri Padang merupakan salah satu wadah yang memberikan pengajaran bahasa asing. Dalam hal ini, bahasa Jepang, yang berperan dalam mengembangkan potensi SDM untuk membina mahasiswa yang mampu berkomunikasi dengan bahasa asing yang bertujuan untuk memperkenalkan, serta mempromosikan objek wisata dan kebudayaan Sumatera Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya kepada wisatawan. Pembinaan bahasa asing kepada mahasiswa dilakukan dengan cara yang mudah dicerna oleh siswa maupun mahasiswa. Oleh sebab itu, dengan adanya program SCL yang berbasis multimedia (IT) sangat diharapkan dapat memudahkan, memotivasi, serta menumbuhkan minat mahasiswa, sehingga mendapatkan hasil yang optimal. Politeknik sebagai lembaga pendidikan vokasional merupakan wadah yang tepat untuk mengimplementasikan program SCL yang berbasis multimedia karena sistem pengajaran yang dirancang melalui SCL memberikan metode pengajaran praktik 80% dan teori 20%. Metode ini akan lebih menarik apabila diimprovisasikan dengan program IT berbasis multimedia tersebut
BAHASA MINANGKABAU DI DAERAH ASAL DENGAN BAHASA MINANGKABAU DI DAERAH RANTAU MALAYSIA: KAJIAN DIALEKTOLOGIS
Dalam makalah ini dibandingkan bahasa Minangkabau yang digunakan di daerah asal dengan bahasa Minangkabau yang digunakan di daerah rantau Malaysia. Kajian beruang lingkup dialektologi karena isolek yang digunakan di rantau Malaysia dihipotesiskan sebagai variasi dari bahasa Minangkabau. Satuan bahasa yang dibandingkan adalah leksikon. Perhitungan persamaan dan perbedaan bentuk leksikal dengan menggunakan metode dialektometri diperoleh tingkat variasi bahasa dari titik-titik pengamatan yang dibandingkan. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa tingkat variasi bahasa yang paling tinggi adalah perbedaan subdialek
STUDENT'S ABILITY IN USING LEXICAL COLLOCATIONS IN DESCRIPTIVE WRITING AT THE ENGLISH DEPARTMENT OF PADANG STATE POLYTECHNIC
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan jenis kolokasi leksikal yang digunakan oleh mahasiswa dalam tulisan deskriptif, dan yang banyak salah dalam penggunaannya serta menjelaskan penyebab kesalahan tersebut. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah mahasiswa semester genap tahun akademik 2011/2012 sebanyak 22 mahasiswa yang dipilih menggunakan random sampling technic. Data diperoleh dari tulisan deskriptif mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketujuh jenis kolokasi leksikal yang ada seperti; Verb [creation and or activation] + Noun (L1), Verb [eradictionand or nullification] + Noun (L2), Adjective + Noun (L3), Noun + Verb (L4), N1 + of + N2 (L5), Adverb + Adjective (L6), and Verb + Adverb (L7) dapat ditemukan dalam tulisan mahasiswa tersebut. Jenis kolokasi yang banyak salah adalah (L3), (L1), dan (L4), sedangkan (L5), (L7), dan (L2) lebih sedikit, selanjutnya (L6) paling sedikit ditemukan. Penyebab terjadinya kesalahan tersebut adalah: intervensi bahasa kedua, perbendaharaan kata, terjemahan per kata, terjemahan langsung, tidak memperhatikan aturan, serta kurangnya pengetahuan siswa tentang kolokasi itu sendiri
THE EFFECT OF READ-IMAGINE-DESCRIBE-EVALUATE-REPEAT (RIDER) STRATEGY AND READING MOTIVATION TOWARD STUDENTS' READING COMPREHENSION AT GRADE VIII OF SMP PERTIWI 2 PADANG
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penggunaan RIDER strategi dan motivasi membaca guna memotivasi siswa dan meningkatkan kemampuan membaca siswa dalam memahami teks deskriptif pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMP PERTIWI 2 Padang. RIDER strategi diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih baik dalam pengajaran membaca teks deskriptif bagi siswa di SMP. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan populasinya yaitu kelas VIII SMP PERTIWI 2 Padang tahun pelajaran 2014-2015. Sampel penelitiannya yaitu kelas VIII-2 sebagai kelas kontrol dan kelas VIII-3 sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan adalah test membaca dan kuesioner. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tidak adanya efek yang signifikan pada siswa yang memiliki motivasi tinggi
CULTURAL ELEMENTS FOUND IN LAURA INGALLS WILDER'S LITTLE HOUSE IN THE BIG WOODS FOR SUPPORTING ENGLISH TEACHING
The research aims at finding the cultural elements in Laura Ingalls Wilder’s Little House in the Big Woods. This is a descriptive qualitative research. Data source of this research is Laura Ingalls Wilder's Little House in the Big Woods. The data of this research are words, phrases, clauses, sentences and conversation with cultural elements found on the data source. Technique for collecting data is documeniation. The data is classified based on the elements of culture. Technique of data analysis consists of data reduction, data display, and data verification. Theory triangulation is used for data validation. The results of the study show that the cultural elements found in Laura Ingalls Wilder’s Little House in the Big Woods are (1) those dealing with the geographical situation such as animals, plants, and season (2) those relating to the tradition such as eating tradition (meal time, food and beverage, and way of cooking), cloth tradition such as types of clothes, medical tradition, hunting tradition, needle work, sugar snow tradition (3) those dealing with religion and folklore (4) those relating to social values such as speaking manner, eating manner, and meeting people manner
BAHASA ANCAMAN DALAM TEKS KABA SABAI NAN ALUIH BERBASIS PENDEKATAN LINGUISTIK FORENSIK
This thesis is focused on the analysis threat language in Kaba Sabai Nan Aluih text. The aims of this thesis are to explain the form, meaning and motive of threaten language by employing several theory, including Searle (1969) and Wijana (1996), Aminuddin (2008) to figure out the meaning, while the motive form used the theory stated by Maslow (1943). The research is conducted by using observational method along with the techniques. In analyzing the data use distributional and identity method. Identity method that employs including reference and pragmatic identity method while in distributional method employs marker identification techniques. The result of analysis is presented in informal method. These method and techniques are identical with proposed by Sudaryanto (1993) and Mastoyo (2007). The result of the analysis shows that there are four types of language threat form; (1) direct speech act, (2) indirect speech act, (3) literal speech act, and (4) non literal speech act. The meaning of threaten language in KSNA are (1) think in every act, because if it is not doing so would cause harm to themselves; (2) pride and arrogance will lead to the destruction of those who have the attitude; (3) every person should have a sense of caring so that the people closest to us are not wrong in its attitude and decisions; (4) a form of error should be fixed even if the truth is painful; (5) is a self-esteem is everything, (6) to save themselves with a threats speech can be used if someone was in danger of being defeated; (7) not all forms of threat is a detrimental thing; (8) awaken the nearest fault has been done is a form of responsibility; (9) threatening to a motivation not an adverse thing; (10) awaken people closest guilt is a form of right action; (11) fixed price for an appropriate fee for the self-esteem that has been tarnished, and (12) very uncontrolled emotion can cause harm.
The motive of threat language in KSNA are (1) dissatisfaction, (2) test of the intelligence, (3) pain, (4) displeasure of the attitude of a person, (5) self-esteem, (6) revenge, (7) self defended mechanism by using threat, (8) motivation, (9) mocking in order to direct people to do something, (10) sarcasme to boost spirit, (11) revenged, (12) motif of self defended, (13) grief.
Â
Keywords: KSNA , threats form, threats meaning, threats motiv