HR-Institut: Journal of Econimics and Scienties
Not a member yet
119 research outputs found
Sort by
MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS PADA MATERI INTERAKSI ANTAR NEGARA-NEGARA ASEAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA KELAS VIII SMP NEGERI 17 BATANGHARI
Awal proses yang menjadi kendala di SMP Negeri 17 Batanghari adalah keaktifan siswa dalam proses pembelajaran masih belum optimal, siswa masih cenderung diam dan kurang aktif pada saat proses pembelajaran, guru cenderung menggunakan metode pembelajaran konvensional. Berdasarkan observasi awal di SMP Negeri 17 Batanghari kelas VIII.1, diperoleh data bahwa kelas VIII.1 memiliki rata-rata nilai ulangan harian sebesar 69,83 yang berarti masih di bawah KKM. Hal ini disebabkan perlu adanya penggunaan metode yang tepat dan bervariasi dalam proses belajar mengajar, salah satu alternatifnya dengan menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII.1 SMP Negeri 17 Batanghari tahun ajaran 2018/2019. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan dua siklus, setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa sebesar 70,51 dengan ketuntasan klasikal 44,33%, aktivitas siswa sebesar 77,5% dalam kategori tinggi, aktivitas guru dalam pembelajaran sebesar 72,5% atau kategori tinggi. Untuk hasil penelitian siklus II menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa sebesar 79,33 dengan ketuntasan klasikal 83,33%, aktivitas siswa 90% atau aktivitas siswa dalam kategori sangat tinggi, untuk aktivitas guru sebesar 92,5% dengan kriteria sangat tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII.1 SMP Negeri 17 Batanghari pada materi interaksi antar negara-negara ASEAN dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya. Saran yang berkaitan dengan hasil penelitian adalah perlu adanya kesiapan guru sebelum memulai pelajaran, guru dapat melakukan perbaikan pembelajaran bagi siswa yang belum tuntas belajar, guru juga ada baiknya meningkatkan penguasaan terhadap berbagai jenis metode pembelajaran dengan mengikuti berbagai kegiatan seperti diklat atau seminar pendidikan, sekolah bisa lebih mengembangkan dan memanfaatkan sarana prasarana dalam proses pembelajaran
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MELALUI MODEL PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI) PADA PELAJARAN IPA MATERI PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN DI KELAS 7.1 SMPN 2 BATANGHARI T.P. 2017/2018
Pengajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual. Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan Pembelajaran Model Problem Based Instruction (PBI). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah Model Problem Based Instruction (PBI) dapat Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis pada Pelajaran IPA Materi Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan di Kelas 7.1 SMPN 2 Batanghari T.P. 2017/2018. Peningkatan kemampuan berpikir kritis dengan menerapkan pengajaran Model Problem Based Instruction (PBI) dapat dilihat dari peningkatan yang terjadi dari siklus I ke siklus II. Peningkatan kemampuan berpikir kritis terlihat dari peningkatan jumlah yang terjadi dari setiap indikator yaitu terjadi peningkatan sebesar 20-25% setiap indikator kemampuan berpikir kritis. Terjadinya peningkatan kemampuan berpikir kritis berbanding lurus dengan peningkatan hasil belajar IPA siswa. Hal ini dapat dilihat dari hasil evaluasi yang didapat pada siklus I dengan nilai rata-rata yaitu 61,29 %. Jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus I ada 19 orang dari 31 orang siswa dengan persentase ketuntasan belajar 57,14 % termasuk pada kriteria baik. Hasil evaluasi pada siklus II terjadi peningkatan menjadi 83,87 meningkat sebesar 22,58, jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus II ada 26 orang dari 31 orang siswa dengan persentase ketuntasan belajar 83,87 %. Pada aspek afektif dan psikomotorik juga terjadi peningkatan sebesar 20-35 %
PENINGKATAN PROSES PEMBELAJARAN DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA PEMBELAJARAN IPS KELAS VIII SMP NEGERI 7 BATANGHARI
Peningkatan Proses Pembelajaran dan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Pada Pembelajaran Kelas VIII SMP Negeri 7 Batanghari. Model pembelajaran problem based learning (PBL) umumnya, akan mengenalkan siswa pada suatu kasus yang memiliki keterkaitan dengan materi yang dibahas, kemudian siswa akan diminta agar mencari solusi untuk menyelesaikan kasus/masalah tersebut. Model ini juga akan meningkatkan kecakapan berpartisipasi dalam tim. Ada pun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan proses belajar mengajar dan hasil belajar IPS siswa dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning (PBL). Permasalahan utama yang dikaji dalam penelitian ini adalah mengenai Proses Belajar dan Hasil Belajar IPS Kelas VIII SMP Negeri 7 Batanghari, metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan atau dua kali tatap muka. Setiap siklus dilakasanakan evaluasi untuk melihat tingkat ketuntasan yang diperoleh siswa dan observasi proses pembelajaran siswa dalam mengikuti pembelajaran. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui hasil yang telah dicapai dari proses pelaksanaan tindakan. Hasil yang dimaksud dapat berupa perubahan hasil belajar siswa. Evaluasi dilaksanakan pada akhir proses belajar mengajar di setiap siklus dengan memberikan tes akhir untuk melihat tingkat keberhasilan yang telah diperoleh siswa dalam memahami konsep yang diberikan. Sementara itu, observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan proses belajar mengajar yang dilaksanakan. Temuan hasil penelitian ini menunjukkan terjadinya peningkatan hasil belajar IPS Kelas VIII di SMP Negeri 7 Batanghari, terlihat dalam rangkaian siklus I dan siklus II. Pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 74,38 dengan nilai terendah 40 dan nilai tertinggi adalah 90 dari 24 siswa. Dan pada siklus II nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 76,67 dengan nilai terendah 60 dan nilai tertinggi adalah 90 dari 24 siswa. Rata-rata hasil observasi pelaksanaan pembelajaran pada siklus I adalah 71,15 dan pada siklus II adalah 80,77. Sehingga penerapan model problem based learning (PBL) pada materi Keunggulan dan Keterbatasan Antar Ruang Serta Peran Pelaku Ekonomi Dalam Suatu Perekonomian dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS Kelas VIII di SMP Negeri 7 Batanghari
PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DI KELAS VII SMP N 7 BATANG HARI SEMESTER 2 TP 2017/2018
Rumusan masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar IPA dengan menggunakan metode pemecahan masalah di SMP N 7 Batang Hari? Tujuan penelitian ini adalah tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa SMP N 7 Batang Hari melalui penerapan Problem Solving pada siswa kelas VII SMP N 7 Batang Hari. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut 1) Mampu menganalisis terjadinya pembelajaran dan mampu mengatasi permasalahan tersebut. 2) Dapat menambah pengalaman peneliti untuk terjun ke bidang pendidikan, 3) Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa sehingga prestasi belajar siswa meningkat maka rumusan masalah penelitian sebagai berikut: “Bagaimana upaya meningkatkan hasil belajar IPA dengan menggunakan metode pemecahan masalah di SMP N 7 Batang Hari? Adapun tujuan dari penelitian ini yang menjadi tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa SMP N 7 Batang Hari melalui penerapan Problem Solving. kelas VII SMP N 7 Batang Hari. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut 2) Pembicaraan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program perbaikan proses pembelajaran pada tahap selanjutnya. Penelitian ini merupakan penelitian Jasa Tindal yang terdiri dari empat tahapan yaitu Perencanaan, Tindakan, Observasi dan Refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII. SMP N 7 Batang Hari tahun pelajaran 2017/2018. Jumlah siswa yang menjadi subjek penelitian adalah 32 orang yang terdiri dari 80 siswa laki-laki dan 15 bukti yang menunjukkan peningkatan hasil belajar IPA dengan menggunakan metode problem solving perolehan nilai rata-rata tiap siklus mengalami peningkatan. Siklus I nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 66,7, pada siklus II mengalami peningkatan yaitu 77,7, dan mengalami peningkatan lagi pada siklus III yaitu mendapatkan nilai rata-rata 85. Selain nilai rata-rata tersebut, aktivitas siswa juga meningkat diantara Aspek lain bertanya pada siklus I 16,66%, siklus II 12,495%, dan siklus III 31,25%. Aspek respon siswa lainnya pada siklus I sebesar 20,83%, siklus II 16,66%, dan siklus III 24,995%. Aspek jawaban pertanyaan pada siklus I 16,66%, siklus II 77,7%, dan siklus III 91,66%. Aspek perhatian penjelasan guru pada siklus I sebesar 77,8%, siklus II sebesar 89,58%, dan silus III sebesar 91,66%. Aspek diskusi kelompok pada siklus I 68,75%, siklus II sebesar 91,66%, dan siklus III 97,915%. Aspek pembahasan kelas pada siklus I 83,33%, siklus II 100%, dan pada siklus III 100%
UPAYA PENINGKATAN HASIL MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING PADA PESERTA DIDIK KELAS IX B SMP NEGERI 6 BATANG HARI
Dalam praktek pendidikan, pengajaran di sekolah banyak menghadapi hambatan dan permasalahan. Hambatan dan permasalahan terhadap proses pengajaran yang muncul di lapangan dapat bersifat umum dan dapat pula bersifat khusus yang sangat khas, yang sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi setempat. Terkait dengan masalah khusus atau khas di atas, setelah dilakukan pengamatan pendahuluan di SMPN 6 BATANGHARI, ditemukan hal-hal sebagai berikut. Dari 6 kelas yang ada, tampak ada kelas yang siswanya banyak bertanya dan responsif terhadap umpan dari guru, ada kelas yang biasa-biasa saja, dan ada pula kelas yang menyulitkan guru dalam mengembangkan pelajarannya. Gambaran permasalahan di atas menunjukkan bahwa perlu diusahakan pembelajaran Matematika yang lebih optimal. Selaku guru Matematika di Kelas IX merasa terpanggil untuk melaksanakan penelitian tindakan (action research) dalam upaya meningkatkan hasil matematika melalui model pembelajaran Discovery Learning di SMPN 6 Batang hari model pembelajaran Discovery Learning merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan pembelajaran yang demokratis di sekolah. Proses pembelajaran yang demokratis adalah proses belajar yang menempatkan siswa sebagai subyek. Mereka harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham dan dari tidak tahu menjadi tahu. Disepanjang proses belajar itu, aktivitas siswa menjadi titik perhatian utama. Dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru dapat berperan untuk dapat mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui. Model ini digunakan (Arends, 1998) untuk melatih dan mengembangkan keterampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu kurang lebih 30 detik per kupon pada tiap siswa. Sebelum berbicara siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu pada guru. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tidak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis. Guru hendaknya selalu menciptakan dan menjaga hubungan yang harmonis dengan siswa, kedekatan yang sesuai dengan proporsinya akan sangat membantu siswa dalam hal terdapatnya hambatan-hambatan psikologis seperti apprehension. Jarak yang jauh dan terlalu formal antara siswa dan guru dapat menimbulkan rasa sungkan, malu, bahkan takut. Sebaliknya hubungan yang terlalu akrab akan dapat melunturkan wibawa guru atau rasa hormat siswa. Karenanya, keramahan dan sikap simpatik guru hendaknya selalu diimbangi dengan ketegasan dan kedisiplinan. 
UPAYA PENINGKATAN PROSES BELAJAR IPS SISWA KELAS VII B MELALUI PENDEKATAN LEARNING COMMUNITY
Dalam praktek pendidikan, pengajaran di sekolah banyak menghadapi hambatan dan permasalahan. Hambatan dan permasalahan terhadap proses pengajaran yang muncul di lapangan dapat bersifat umum dan dapat pula bersifat khusus yang sangat khas, yang sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi setempat. Terkait dengan masalah khusus atau khas di atas, setelah dilakukan pengamatan pendahuluan di SMPN 6 BATANGHARI, ditemukan hal-hal sebagai berikut. Dari 6 kelas yang ada, tampak ada kelas yang siswanya banyak bertanya dan responsif terhadap umpan dari guru, ada kelas yang biasa-biasa saja, dan ada pula kelas yang menyulitkan guru dalam mengembangkan pelajarannya. Gambaran permasalahan di atas menunjukkan bahwa perlu diusahakan pembelajaran IPS yang lebih optimal. Selaku guru IPS di Kelas VII merasa terpanggil untuk melaksanakan penelitian tindakan (action research) dalam upaya meningkatkan hasil Ilmu Pengetahuan Sosial melalui model pembelajaran Learning Community di SMPN 6 Batang hari. Model pembelajaran Learning Community merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan pembelajaran yang demokratis di sekolah. Proses pembelajaran yang demokratis adalah proses belajar yang menempatkan siswa sebagai subyek. Mereka harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham dan dari tidak tahu menjadi tahu. Disepanjang proses belajar itu,aktivitas siswa menjadi titik perhatian utama. Dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru dapat berperan untuk dapat mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui. Model ini digunakan (Arends, 1998) untuk melatih dan mengembangkan keterampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu kurang lebih 30 detik per kupon pada tiap siswa. Sebelum berbicara siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu pada guru. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tidak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis. Guru hendaknya selalu menciptakan dan menjaga hubungan yang harmonis dengan siswa, kedekatan yang sesuai dengan proporsinya akan sangat membantu siswa dalam hal terdapatnya hambatan-hambatan psikologis seperti apprehension. Jarak yang jauh dan terlalu formal antara siswa dan guru dapat menimbulkan rasa sungkan, malu, bahkan takut. Sebaliknya hubungan yang terlalu akrab akan dapat melunturkan wibawa guru atau rasa hormat siswa. Karenanya, keramahan dan sikap simpatik guru hendaknya selalu diimbangi dengan ketegasan dan kedisiplinan
Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Melalui Layanan Bimbingan Kelompok Pada Siswa kelas IX8 SMP Negeri 3 Batang Hari 2018
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa melalui layanan bimbingan kelompok SMP Negeri 3 Batang Hari Provinsi jambi. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus. Cara pengumpulan data dengan melakukan observasi, , dokumentasi, studi pustaka, angket. Melalui bimbingan kelompok yang diberikan kepada siswa dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri yang tinggi kepada setiap individu siswa
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AKTIF ROLE PLAYING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN DI KELAS VIII SMPN 8 BATANGHARI TAHUN PELAJARAN 2017/2018
Implementasi Pembelajaran Aktif Role Playing Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Sistem Pencernaan Di Kelas 8.A SMPN 8 Batanghari kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghri. Banyaknya siswa yang memperoleh nilai mata pelajaran biologi di bawah ketuntasan minimal disebabkan salah satunya karena proses pembelajaran selama ini belum melibatkan siswa secara aktif oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar biologi terutama pada materi pokok sistem pencernaan pada manusia dengan menerapkan metode role playing. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang melibatkan empat komponen yakni: Planning (rencana), Action (tindakan), Observation (pengamatan), Reflection (refleksi). Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas 8 A yang berjumlah 24 siswa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Dari hasil penelitian diperoleh: Hasil tes (ranah kognitif) siklus I nilai rata-rata kelas 65,5 dengan ketuntasan belajar kelas 65%, nilai terendah 40 dan nilai tertinggi 90, siswa yang tuntas belajar secara individu sebanyak 16 siswa dan 8 siswa yang belum tuntas. Pada siklus II nilai tes rata-rata kelas mencapai 71,5 dengan ketuntasan belajar kelas 87,5% nilai terendah 45 dan nilai tertinggi 95, siswa yang tuntas belajar secara individu sebanyak 20 siswa dan 4 siswa yang belum tuntas. Hasil belajar afektif siswa dari lembar observasi pada siklus I siswa yang tuntas belajar secara individu sebanyak 10 siswa dan 12 siswa yang belum tuntas belajar. Ketuntasan belajar kelas pada siklus I baru 45% dan pada siklus II ketuntasan belajar kelas mencapai 85%. 20 siswa yang tuntas belajar secara individu dan 4 siswa yang belum tuntas belajar. Berdasarkan hasil penelitian ini maka Implementasi pembelajaran dengan metode role playing dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VIII A SMPN 8 Batanghari pada Materi Pokok sistem pencernaan pada manusia.  
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PEMBERIAN TUGAS PROBLEM POSSING SECARA BERKELOMPOK PADA MATERI TEOREMA PHYTAGORAS DI KELAS VIII.4 SMP NEGERI 2 BATANG HARI
Proses pembelajaran matematika di SMP Negeri 2 Batang Hari belum berlangsung seoptimal mungkin, hal ini dapat dilihat dari aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran. Sebagian siswa sibuk dengan kegiatannyan sendiri yang pada akhirnya siswa kurang memahami konsep materi yang dipelajari. Siswa merasa pembelajaran itu kurang menarik dan monoton yang membuat hasil belajar siswa menjadi kurang. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, yang dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa kelas VIII.4 SMP Negeri 2 Batang Hari. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan kemampuan siswa kelas VIII.4 SMP Negeri 2 Batang Hari pada materi teorema phytagoras melalui pemberian tugas problem possing secara berkelompok. Untuk menjawab permasalahan diatas dilaksanakan suatu penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, yaitu melakukan tindakan dengan memberikan tugas pembuatan soal dan menyelesaikannya secara berkelompok yang hasilnya dilihat melalui observasi keaktifan siswa pada setiap siklus dan hasil tes kemampuan siswa pada akhir setiap siklus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan pemberian tugas problem possing secara berkelompok telah terjadi peningkatan aktifitas siswa dan hasil belajar siswa yaitu keaktifan siswa pada saat pemberian tindakan meningkat dari 65,38% pada siklus I menjadi 88,46% pada siklus II, sedangkan rata-rata nilai meningkat dari 69,47 pada siklus I menjadi 87,69 pada siklus II dan ketuntasan belajar meningkat dari 57,69% menjadi 84,61%
MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS TEKS DESKRIPSI DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK DAN METODE MIND MAP MENGGUNAKAN MEDIA FOTO PADA SISWA KELAS VII A SMPN 8 BATANGHARI TAHUN PEMBELAJARAN2018/2019
Pembelajaran menulis teks deskripsi pada siswa kelas VII A SMP N 8 Batanghari masih mengalami kendala. Hal tersebut disebabkan siswa masih mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan kata yang tepat, menulis teks secara runtut, dan menulis paragraf yang kohesif. Ini dibuktikan dengan hasil tes keterampilan menyusun teks deskripsi secara tertulis yang hanya mencapai persentase ketuntasan sebesar 15,625%. Oleh karena itu, peningkatan keterampilan menulis teks deskripsi secara tertulis perlu dilakukan. Alternatif peningkatan tersebut dengan menggunakan pendekatan saintifik melalui metode mind map dengan media foto.Berdasarkan kondisi tersebut permasalahan yang diteliti yaitu bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis teks deskripsi menggunakan mendekatan saintifik melalui metode mind map dengan media foto pada siswa kelas VII A SMPN 8 Batanghari. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan keterampilan menyusun teks deskripsi siswa kelas VII A SMPN 8 Batanghari setelah mengikuti pembelajaran menulis teks deskripsi menggunakan pendekatan saintifik melalui metode mind map (peta pikiran) dengan media foto.Penelitian ini dilakukan mulai Juli sampai September 2018. Variabel penelitian ini adalah variabel keterampilan menulis teks deskripsi dan variabel pendekatan saintifik melalui metode mind map dengan media foto. Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes dan nontes. Instrumen tes berupa tes keterampilan, sedangkan instrumen nontes berupa pedoman observasi, pedoman jurnal, pedoman wawancara, dan pedoman dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis data kuantitatif dan kualitatif.Setelah dilakukan penelitian, dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan keterampilan siswa yang cukup signifikan. Pada siklus I, nilai rata-rata yang diperoleh siswa pada uji keterampilan mencapai 74,4. Hasil uji keterampilan pada siklus II menjadi 81,9. Persentase ketuntasan juga mengalami peningkatan dari 65,6% pada siklus I menjadi 81,9% pada siklus II, yaitu sebesar 21,9%.Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti merekomendasikan pada guru bahasa Indonesia untuk mempertimbangkan penggunaan pendekatan saintifik melalui metode mind map dengan media foto dalam pembelajaran menulis teks deskripsi agar pembelajaran yang dilakukan menjadi lebih optimal. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai masukan peneliti lain dalam melakukan penelitian yang serupa