Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
Not a member yet
    165 research outputs found

    Epistemological violence, essentialization, dan tantangan etik dalam penelitian psikologi sosial

    Full text link
    Tulisan ini hendak membahas persoalan etik dalam penelitian psikologi sosial di Indonesia, yang sejauh ini masih jarang dikaji. Secara khusus, tulisan ini dibangun dengan mengacu pada konsep epistemological violence. Merujuk pada konsep tersebut, penulis berargumen bahwa penelitian psikologi sosial di Indonesia memiliki risiko etis untuk mereproduksi kekerasan epistemologis melalui penggunaan cara pandang yang bersifat essentializing. Mengacu pada argumen ini, penulis mengajukan dua rekomendasi. Pertama, pada tataran personal, penulis memandang pentingnya mengembangkan refleksivitas sebagai sarana untuk mengasah kepekaan etis peneliti. Kedua, terkait dengan peran asosisasi psikologi sosial, penulis berpendapat tentang perlunya asosiasi untuk mendorong diskursus yang lebih kritis tentang etik penelitian dalam studi-studi psikologi sosial di Indonesia

    Pesan dari Editor-in-Chief: Tantangan Psikologi Siber

    Full text link
    Penelitian psikologi tentang tingkah laku di dunia siber (cyber), termasuk di situs jejaring sosial (seperti Facebook dan Instagram yang popularitas-nya sangat tinggi), masih sedikit—apalagi di Indonesia. Begitu pun penelitian terkait fenomena tersebut di bidang psikologi sosial juga masih kurang. Padahal, banyak isu penting yang perlu dikaji di dunia siber, seperti bagaimana tingkah laku orang berubah di dunia daring (online), mengapa orang bertingkah laku berbeda ketika berada di dunia maya, mengapa mereka bertingkah laku seperti yang mereka tampilkan di internet dan media sosial, perilaku jual-beli daring, kecanduan di dunia maya, keadaan orang menghadapi risiko pengungkapan intim secara daring, hubungan intim dan persahabatan daring, hubungan antara individu dan institusi, bagaimana orang membina jejaring di dunia maya, kejahatan siber, sikap dan kecenderungan lainnya dalam menjaga data dan kerahasiaan pribadi serta antisipasi terhadap bocornya rahasia pribadi, juga pengawasan pemerintah yang semakin mengikis kepercayaan akan integritas dan privasi komunikasi daring. Dunia siber, atau dunia maya, mengacu pada lingkungan daring tempat banyak individu terlibat dalam interaksi sosial dan memiliki kemampuan untuk saling menggugah dan mempengaruhi. Belakangan himpunan kajian fenomena itu disebut Psikologi Siber (cyberpsychology), yang didefinisikan sebagai studi tentang pikiran manusia dan tingkah lakunya dalam konteks interaksi manusia serta komunikasi manusia dan mesin. Batas psikologi siber kini semakin meluas seiring dengan berkembangnya budaya komputer dan realitas virtual yang berlangsung di internet. Dewasa ini, internet digunakan secara luas di kehidupan masyarakat. Populasi manusia di dunia maya sangatlah besar. Pada 2020, diperkira-kan akan ada hampir 4,1 miliar pengguna internet. Artinya sejumlah orang menggunakan internet untuk berbagai kepentingan, seperti memecahkan masalah, menghasilkan uang, berinteraksi dengan orang lain, berpolitik, mencari hiburan, juga menyerang dan menjelekkan orang lain. Dunia siber menjadi ajang dan wahana aktivitas banyak sekali manusia. Dengan kondisi demikian, psikologi siber akan memainkan peran kunci dalam memahami tingkah laku dan tindakan orang-orang di ruang siber. Kini di banyak negara, bandwidth yang besar sudah dapat diakses oleh para pengguna internet, dengan rata-rata bandwidth lalu lintas 44,1 GB per bulan. Kondisi itu mendorong manusia untuk menciptakan dunia virtual yang sama sekali baru untuk bertingkah laku dan berinteraksi. Untuk dapat memahami dan menjelaskannya diperlukan banyak penelitian. Psikologi siber merupakan sub-bidang psikologi yang berkaitan dengan efek psikologis serta implikasi komputer dan teknologi daring seperti internet dan realitas virtual. Ruang lingkupnya mencakup juga tingkah laku di media sosial, kecanduan internet, masalah dengan situs kencan daring, cyberbullying, dan aspek-aspek lain tentang bagaimana orang berperilaku daring. Di dalamnya tercakup juga penelitian terhadap interaksi manusia-komputer, atau penyajian psiko-terapi daring. Psikologi siber sudah dimulai pada pertengahan 1990-an (Suler, 1996-2007; Whittle, 1997; Wallace, 1998; Gordo-López & Parker, 1999), tetapi bisa dibilang baru mulai mencuat pada dekade terakhir ini. Belakangan ini, meski belum banyak dibandingkan bidang psikologi terdahulu, hasil penelitian psikologi siber menawarkan wawasan untuk memperbaiki gaya hidup dan meningkatkan kesejahteraan di era digital. Prinsip-prinsip dasarnya dapat digunakan untuk penelitian berbagai topik, termasuk manajemen identitas daring, disinhibisi, komunikasi melalui teks dan foto, keintiman dan kesalahpahaman dalam hubungan daring, sikap yang saling bertentangan terhadap media sosial, kecanduan, perilaku menyimpang, realitas virtual, kecerdasan buatan, serta overload media (Suler, 2015). Sudah ada kerangka kerja yang dapat digunakan dalam meneliti fenomena dunia siber, seperti yang dikemukakan Suler (2015), yaitu 'Delapan Dimensi Arsitektur Psikologi Siber’ ('Eight Dimensions of Cyberpsychology Architecture') yang dapat diterapkan oleh para peneliti dan mahasiswa sebagai alat yang berharga untuk membuat dan memahami berbagai fenomena dunia digital. Psikologi siber bisa disebut juga sebagai “Psikologi Zaman Digital” yang berfokus pada manusia sebagai individu dengan berbagai sepak-terjangnya di dunia siber. Kerangka kerja itu dapat memberikan cahaya baru pada reaksi sadar dan juga bawah-sadar kita terhadap pengalaman daring dan kebutuhan intrinsik manusia untuk mengaktualisasikan diri. Kini, dunia telah sangat berubah dalam banyak cara bagi banyak orang. Itu terutama disebabkan oleh institusi sosial dan individu telah menyaksikan dan berpartisipasi dalam revolusi sosial lain: revolusi teknologi informasi melalui internet. Bukan saja ketersediaan dan aksesibilitas informasi dalam segala jenis dan inovasi dramatis dalam komunikasi antarpribadi, melainkan juga ketersediaan ruang dan masyarakat baru yang memungkinkan munculnya berbagai interaksi baru dan aktivitas baru lainnya, bahkan tatanan sosial baru. Banyak orang dan perusahaan di seluruh dunia mengakui bahwa dengan menggunakan internet secara optimal, mereka mengalami peningkatan signifikan dalam beragam kegiatan pribadi dan bisnis, baik itu di bidang pekerjaan, sosial, bisnis, maupun yang terkait dengan pemerintah. Kita bisa saksikan juga banyak orang dan perusahaan yang ikut dalam “perlombaan kompetitif” di bisnis teknologi informasi dan internet, disertai dengan kreativitas dan potensi tinggi. Mereka berkembang maju dan memperkuat penggunaan komputer yang lebih intensif dalam berbagai kegiatan. Perkembangan teknologi yang luar biasa telah mengubah tatanan dunia orang dan kehidupan dalam banyak cara, mulai dari mencari dan menggunakan informasi tentang topik apa pun hingga ke banyak aktivitas di ranah lain. Kita saksikan sekarang sudah umum internet digunakan untuk kegiatan belanja dan perdagangan, komunikasi dengan kenalan dan orang asing, kencan virtual dan membina kehidupan cinta, belajar dan mengajar, penelitian, membantu dan dibantu orang lain, meningkatkan penggunaan obat-obatan dan aspek perawatan kesehatan lainnya, memperoleh hiburan dan rekreasi, serta ekspresi diri. Dunia siber kini merupakan tatanan masyarakat tersendiri dengan segala aktivitas manusia-manusianya. Sekali lagi, untuk dapat memahami dan menjelaskannya diperlukan kajian dan penelian baru. Ini adalah tantangan bagi para peneliti psikologi sosial di Indonesia untuk melakukan penelitian terhadap fenomena itu. Lahan yang masih belum banyak digarap menanti mereka agar menghasilkan pemikiran dan penjelasan terbaik untuk dibagikan ke seluruh dunia

    Social neuroscience: Pendekatan multi-level integratif dalam penelitian psikologi sosial

    Full text link
    Manusia sebagai makhluk biologis yang hidup dalam lingkungan sosial menciptakan kompleksitas dalam kehidupannya. Pendekatan biologis atau sosial yang berdiri sendiri-sendiri sering menyisakan pertanyaan yang belum terjawab. Social Neuroscience merupakan pendekatan mutakhir yang meneliti aspek biologis dalam konteks perilaku sosial manusia. Dengan menggabungkan antara kelebihan pendekatan biologis dan pendekatan sosial, Social Neuroscience berpotensi menjadi suatu metode multi-level integratif yang mampu memahami kompleksitas perilaku manusia secara lebih komprehensif. Artikel ini akan secara lebih lanjut membahas filosofi pendekatan tersebut, beserta ruang lingkup, desain penelitian, teknik pengukuran, validasi, serta aplikasinya di Indonesia. Harapannya, berbekal kemajemukan manusia di Indonesia dan penguasaan metode Social Neuroscience, Indonesia ke depannya akan bisa menjadi salah satu pemain utama dalam perkembangan ilmu Psikologi global

    Pola asuh dan budaya: Studi komparatif antara masyarakat urban dan masyarakat rural Indonesia

    Full text link
    Pola asuh memiliki peran yang krusial dalam hampir seluruh aspek perkembangan anak, terutama aspek kognitif, emosi serta sosial. Perbedaan budaya dalam pola asuh, khususnya kemungkinan adanya perbedaan subkultur seperti etnis dan konteks urban serta rural masih jarang dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah memang terdapat perbedaan pola asuh antar etnis dan antar masyarakat urban (vs. rural) di Indonesia. Partisipan penelitian ini adalah perempuan yang sudah menjadi ibu. Sebanyak 383 perempuan dengan status ibu dari Jabodetabek (N = 204), Magelang/Jawa (N = 101) dan Bukittinggi/Minang (N = 78) berpartisipasi dalam penelitian ini. Hasil utama penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara nilai budaya (kolektivisme dan individualisme) serta praktek pengasuhan (conformity dan autonomy) di daerah urban dan rural. Dimensi kolektivisme, conformity dan autonomy menunjukkan perbedaan signifikan ketika dibandingkan pada tiga wilayah (Jabodetabek, Magelang, dan Bukittinggi). Jabodetabek cenderung lebih tinggi pada dimensi kolektivisme dan autonomy; Magelang pada dimensi conformity. Ketika variabel covariates dikontrol, maka dimensi individualisme menjadi signifikan bersama dengan dimensi kolektivisme, autonomy dan conformity

    Respondent-driven sampling (RDS) method: Introduction and its potential use for social psychology research

    Full text link
    Contrary to other non-probability sampling methods in which researchers actively recruit potential participants, respondent-driven sampling (RDS) relies on connection and trust within social networks to access hidden or hard-to-reach populations through a peer-to-peer recruitment process. These interdependency relations aligned with Indonesian communal culture. Personal network size calculation in the RDS method makes this innovative sampling method approximate random sampling methods, where findings from the sample could be generalized to the target population. Considering its superiority, the RDS method could be applied in social psychology research in Indonesia to explore current sensitive social issues among hidden or hard-to-reach Indonesian sub-populations, for instance, radical religious groups. The current article aimed to concisely describe the RDS method; discuss ethical considerations, strengths, and weaknesses of the RDS method; and outline the potential use of the RDS method in improving the contribution of social psychology research in Indonesia, for example, by advancing strategies for social intervention programs. It is followed by a brief step-by-step process to conduct a study using the RDS method

    Apakah saliensi mortalitas berperan dalam menjelaskan prasangka terhadap pasangan antarbudaya? Sebuah studi eksperimental

    Full text link
    Studi Terror Management Theory (TMT) selama ini telah menunjukkan bahwa mengingatkan seseorang mengenai kematian (saliensi mortalitas) dapat membuatnya lebih berprasangka. Namun, masih belum jelas apakah sikap berprasangka tersebut juga dapat menyasar terhadap pasangan antarbudaya. Untuk itu, studi ini dilakukan guna menguji peran kecemasan eksistensial dalam kemunculan prasangka terhadap pasangan antarbudaya dengan menggunakan desain faktorial antarsubjek 2 (SM vs. kontrol) x 2 (harga diri tinggi vs. rendah). Partisipan penelitian ini terdiri dari 104 mahasiswa. Hasil studi menunjukkan bahwa partisipan yang diminta untuk memikirkan mengenai kematian memiliki skor rata-rata evaluasi terhadap pasangan antarbudaya yang secara signifikan lebih rendah dibandingkan partisipan yang diminta untuk memikirkan mengenai topik netral. Hasil studi ini memberikan bukti preliminer mengenai adanya peran kecemasan eksistensial di balik kemunculan prasangka terhadap pasangan antarbudaya

    Panic buying pada pandemi COVID-19: Telaah literatur dari perspektif psikologi

    Full text link
    Pandemik COVID-19 memiliki berdampak pada kesehatan, sosial, ekonomi, hingga psikologis. Salah satu dampak dari COVID-19 adalah panic buying. Artikel ini bertujuan mengulas panic buying melalui perspektif psikologi. Kami melakukan telaah literatur panic buying pada riset-riset terkini baik pada kasus pandemik COVID-19 hingga pandemik serupa yang terjadi pada puluhan tahun silam. Pada bagian awal, artikel ini membandingkan definisi panic buying dengan istilah serupa, seperti buying frenzies, impulsive buying, dan compulsive buying. Kemudian, kami mengulas penjelasan psikologis di balik panic buying  melalui perilaku konsumen, ketakutan dan kecemasan, stres, ketidakpastian, dan paparan media. Pada bagian terakhir, kami mengajukan beberapa solusi yang dapat dijadikan panduan kebijakan untuk mengatasi panic buying saat wabah pandemik terjadi.&nbsp

    Catatan Editor: Langkah JPS dalam situasi pandemi dan pengantar Vol. 18 (3) tentang budaya, identitas, dan relasi antarkelompok

    Full text link
    Salam sejahtera, Tahun 2020 ini merupakan tahun yang menantang bagi kita semua. Awal tahun diwarnai dengan berbagai peristiwa, diantaranya politik global yang memanas serta peristiwa alam seperti darurat kebakaran di Australia dan banjir besar yang melanda ibu kota Indonesia, Jakarta. Seakan tidak cukup, pada tahun yang sama wabah virus corona (COVID-19) menyebar ke seluruh dunia; menciptakan situasi pandemi yang ber-tahan hingga naskah ini ditulis. Per tanggal 24 Agustus 2020, telah ditemukan 23.499.048 kasus infeksi COVID-19 di 214 negara dan 809.834 angka kematian akibat infeksi tersebut. Pada tanggal yang sama, di Indonesia, sudah terdapat 155.412 kasus positif COVID-19 dan tercatat 6.759 angka kematian (Petterson, Manley, & Hernandez, 24 Agustus, 2020). Ini secara langsung berdampak pula terhadap kondisi sosial kema-syarakatan dan ekonomi di seluruh dunia, tak terkecuali dampak psikologis. Dikarenakan pentingnya mengetahui bagaimana situasi pandemi ini berdampak pada dinamika psikis terutama pada masyarakat Indonesia, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) mengundang peneliti dan akademisi dari berbagai Universitas di Indonesia untuk menulis dalam edisi khusus JPS: Respons terhadap COVID-19. Dalam edisi ini, JPS menerima naskah-naskah dengan tema: (1) Respon individu maupun kolektif terhadap fenomena wabah corona virus, (2) Faktor-faktor yang memprediksi respon masyarakat terhadap corona virus, (3) Peranan leader dan authority dalam menangani wabah corona virus, (4) Psikologi politik dan penanganan corona virus, (5) Isu kebijakan terkait corona virus dan dampaknya terha-dap psikologi individual, dan (6) Dampak ekonomi dan finansial pada individu dalam wabah corona virus. Untuk edisi ini, kami juga mengundang tiga ahli psikologi sosial sebagai editor tamu. Diurutkan sesuai abjad, editor tamu pertama adalah Bapak Indra Yohanes Kiling, Ph.D dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur. Riset beliau banyak mengidentifikasi faktor sistemik atau risiko lingkungan pada kualitas hidup manusia di berbagai dimensi. Pemahaman ini penting karena situasi pandemi berdampak pada berbagai kondisi sistemik yang juga meme-ngaruhi kualitas hidup individu dalam masyarakat (Van Bavel dkk., 2020). Sementara editor tamu kedua adalah Dr. Rakhman Ardi dari Universitas Airlangga, Jawa Timur. Pemahaman akan dinamika perilaku di media sosial pada riset-riset beliau akan membantu kita juga, khususnya untuk tulisan-tulisan terkait dampak pandemi pada perilaku daring dan dalam dunia maya (Bao, 2020; Pennycook, McPhetres, Zhang, Lu, & Rand, 2020; Cinelli dkk., 2020). Last but not least, Dr. Setiawati Intan Savitri dari Unversitas Mercu Buana, DKI Jakarta yang memiliki berbagai riset tentang bagaimana individu bisa berespon dalam menghadapi situasi negatif dalam hidupnya. Kondisi pandemi ini bisa mengakibatkan dampak-dampak psikis seperti depresi dan rendahnya kesejahte-raan psikis maupun ekonomi (Rajkumar, 2020; Nguyen dkk., 2020), sehingga pemahaman beliau akan membantu terutama pada tema dampak COVID-19 terhadap psikis individu. Naskah-naskah yang terbit dalam edisi khusus “Respon terhadap COVID-19” (“Response to COVID-19”) diharapkan mampu menjadi fondasi pengetahuan untuk menghadapi wabah virus corona, khususnya berkaitan dengan isu psikologi sosial dalam konteks Indonesia. Sementara JPS memproses naskah-naskah edisi khusus tersebut, kami juga mempublikasikan edisi reguler pada bulan Agustus tahun 2020 ini (Volume 18 (3)). Terdapat delapan naskah yang dipublikasikan JPS pada edisi ini. Semua naskah ini merepresen-tasikan tema identitas dan relasi antar kelompok serta antarbudaya. Naskah-naskah ini menambah pengetahuan dalam memahami isu mendasar pada identitas sosial dan budaya serta warna-warna relasi antar kelompok identitas. Tidak hanya itu, beberapa naskah juga membantu kita memahami pengetahuan tentang intervensi pada isu hubungan antar identitas di Indonesia. Dua naskah membahas tentang isu peng-asuhan atau relasi anak dengan pengasuh dalam budaya Indonesia. Naskah Hartanti berjudul “Apakah sistem kekerabatan matrilineal di suku Minang masih membudaya? Analisis tematik pada makna pemberian dukungan sosial mamak kepada kemenakan” membahas hubungan pengasuh (‘mamak’ atau paman dari sisi ibu) dengan anak di kebudayaan Minang. Seperti yang mungkin sudah kita ketahui, suku Minang adalah salah satu suku matrilineal terbesar di dunia (Levenson, Ekman, Heider, & Friesen, 1992). Pemahaman tentang relasi ini penting untuk memberikan kita pengetahuan tentang budaya matrilineal tersebut. Sementara naskah Wiswanti, Kuntoro, Ar Rizqi, dan Halim berjudul “Pola asuh dan budaya: Studi komparatif antara masyarakat urban dan masya-rakat rural Indonesia” membantu dalam memahami perbedaan pola asuh pada masyarakat rural dan urban di Indonesia. Temuan mereka menja-wab inkonsistensi pada studi sebelumnya tentang perbedaan pola asuh di dua konteks tersebut. Naskah berikutnya yang ditulis oleh Nugraha, Samian, dan Riantoputra membahas tentang relasi bawahan-atasan dengan memeriksa anteseden dibalik dukungan bawahan terhadap atasan lewat perspektif identitas sosial. Dalam naskah yang berjudul “Anteseden leader endorsement: perspektif teori identitas sosial”, ditemukan bahwa identitas pemimpin bukanlah faktor yang menentukan dukungan bawahan terhadap pemimpin—khususnya dalam konteks perusahaan swasta. Tiga naskah berikutnya membahas me-ngenai relasi antar identitas (intergroup) seperti prasangka dan kecemasan antar kelompok. Naskah oleh Yang dan Pelupessy berjudul “Apakah saliensi mortalitas berperan dalam menjelaskan prasangka terhadap pasangan antarbudaya? Sebuah studi eksperimental” menemukan bahwa efek saliensi mortalitas dalam teori manajemen teror bisa digeneralisasi di konteks: (1) prasangka terhadap relasi romantis antar budaya, dan (2) budaya yang lebih luas yaitu konteks budaya Indonesia. Motivasi eksistensial seperti motivasi meredam kecemasan kematian dan efeknya secara sosial ternyata juga ditemukan pada masyarakat Indonesia. Pada naskah berjudul “Do intergroup threats provoke intergroup anxiety? An experimental study on Chinese ethnic group in Indonesia”, Ampuni dan Irene menemukan pola menarik terkait efek ancaman intergroup terhadap kecemasan intergrup. Ditemukan bahwa kelompok yang diberikan manipulasi ancaman intergroup cenderung lebih tinggi dalam kecemasan. Temu-an ini konsisten dengan temuan sebelumnya; akan tetapi, setelah mengontrol kontak inter-group, pola yang terjadi justru berkebalikan. Ini menunjukkan bahwa pengalaman kontak sebelumnya pada partisipan berpengaruh pada per-sepsi ancaman di situasi eksperimen. Sementara pada naskah berjudul “Mawas diri berideologi: Tantangan berpartisipasi religius online di era ujaran kebencian”, dibahas tentang peranan ideologi otoritarianisme dalam hubungan antara relijiusitas dan prasangka. Pada riset yang dilaporkan oleh Sadida dan Pratiwi ini, ditemukan bahwa keterlibatan aktivitas agama secara daring memang memprediksi tingginya prasangka. Aktivitas agama itu memicu ideologi otoritarianisme yang lebih kuat sehingga sikap negatif pun juga semakin tinggi. Menariknya, tidak semua dimensi prasangka diprediksi oleh aktivitas keagamaan itu. Dua naskah terakhir membahas tentang metode intervensi untuk mengurangi stigma dan meningkatkan sensitivitas interkultural. Pada naskah oleh Soedarmadi, dibahas tentang efek intervensi keterampilan antar budaya dengan menginkorporasikan metode sebelumnya dengan kearifan lokal seperti nilai gotong royong. Dalam naskah berjudul “Apakah pelatihan keterampilan antarbudaya pada instansi pemerintahan dapat meningkatkan sensitivitas antarbudaya? Peranan nilai lokal gotong royong” ini, para pekerja di instansi pemerintahan memiliki sensitifitas interkultural yang lebih baik setelah mengikuti intervensi yang diberikan. Pada naskah berjudul “Pelatihan Rise and Shine sebagai metode psikoedukasi: Bisakah menurunkan stigma bunuh diri?”, Febriawan mengungkap bahwa metode psikoedukasi dapat menurunkan stigma. Terdapat perbedaan metode psikoedukasi Rise and Shine dengan metode-metode sebelumnya. Jika sebelumnya lebih banyak terfokus pada kemampuan seperti literasi bunuh diri dan kesehatan mental, pada psikoedukasi Rise and Shine juga masuk materi penyangga seperti berpikir kritis, ekspresi dengan kata, serta pengetahuan tentang kebijakan negara dalam kesehatan mental. Lewat naskah-naskah ini, ditemukan berbagai pola menarik yang bisa bermanfaat untuk menambah pengetahuan pada teori besar di psikologi sosial seperti teori identitas sosial, teori manajemen teror, dan teori kontak. Juga, kontribusi pengetahuan muncul untuk menjelaskan subkultur pada konteks Indonesia khususnya dalam konteks pengasuhan. Tidak hanya itu, metode intervensi berbasis kearifan lokal dan psikoedukasi integratif bisa berguna untuk menciptakan relasi tanpa stigma atau sensitifitas kebudayaan. Kedelapan naskah ini diharapkan mampu memberikan fondasi bagi riset lanjutan dan menginspirasi peneliti lain untuk mengatasi limitasi-limitasi yang muncul

    Perception of Effective Multicultural Leadership: A Qualitative Study in Western Java

    Full text link
    With the rise of ethno-religious conflicts in Indonesia, this qualitative study aims to find the criteria for effective leadership in Indonesia’s multicultural setting. A total of 8 informants were interviewed and 14 others participated in a two Focus Group Discussions. Results showed that factors related to effective multicultural leadership in handling etno-religious conflicts were personal attributes, behavioral competencies, and experience related to the diversity. One significant finding of this research which is different from other researches in secular Western settings is the role of religiousity in enhancing leadership effectiveness for handling etno-religious conflicts. This result showed the need for further researches on leadership effectiveness in various contexts in non Western cultures

    COVID-19 pandemic through the lens of person-situation interaction

    Full text link
    This paper aims to describe how emotions, risk perceptions, and social norms shape their protective behavior under uncertainty time of the COVID-19 pandemic. Protective behavior means all individual efforts to comply with the pandemic measures: staying at home, hand washing, physical distancing, and wearing masks. Borrowing insight from the person-situation theory by Kurt Lewin, I try to entangle the interaction between personal and situational factors lingered within the pandemic environment that leads to our particular behavioral response. Following this, I discussed how people can comply with the measures and policies being enacted

    160

    full texts

    165

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇