Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
Not a member yet
165 research outputs found
Sort by
Menggunakan metode historis komparatif dalam penelitian psikologi
Metode historis komparatif merupakan salah satu bagian dari pendekatan penelitian kualitatif yang masih jarang dilakukan dalam dunia psikologi di Indonesia. Tulisan berikut mencoba memaparkan nature dari pendekatan historis komparatif, mulai dari sudut pandang hingga tahap-tahap pelaksanaan penelitian dengan menggunakan metode tersebut. Tulisan ini membahas beberapa bidang psikologi yang telah menggunakan pendekatan historis komparatif dan menyuguhkan beberapa contoh penelitian dari hasil literatur review yang menggunakan pendekatan tersebut. Selain itu, artikel juga mendiskusikan secara mendalam kelemahan dan kelebihan dari pendekatan historis komparatif dalam penelitian psikologi di Indonesia
Apakah sistem kekerabatan matrilinieal di suku Minang masih membudaya? Analisis tematik pada makna pemberian dukungan sosial mamak kepada kemenakan
Suku Minang memiliki sistem kekerabatan matrilineal di mana kesejahteraan seorang anak menjadi tanggung jawab bersama keluarga besar ibu (communal) yang dipimpin oleh mamak (saudara laki-laki ibu). Akan tetapi, penelitian-penelitian dalam bidang sosiologi memberikan bukti bahwa sistem kekerabatan tersebut sudah memudar dan peran mamak sudah digantikan oleh bapak seiring dengan menguatnya praktik keluarga inti (nuclear family). Penelitian ini berusaha mengeksplorasi tema-tema dalam makna pemberian dukungan dari perspektif mamak kepada kemenakan. Penelitian ini melibatkan 298 laki-laki Minang yang memiliki kemenakan (anak dari saudara perempuannya) dan berdomisili di provinsi Sumatra Barat yang secara tradisional mempraktikan sistem kekerabatan matrilineal. Data dikumpulkan menggunakan open-ended questionaire, dan dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku pemberian dukungan sosial dari mamak kepada kemenakan masih dilakukan pada mayoritas partisipan. Namun, pemberian dukungan tersebut hanya bersifat insidental dan tidak berlangsung terus-menerus. Pemberian dukungan kepada kemenakan ternyata memberikan manfaat bagi kesejahteraan afektif mamak apabila perilaku tersebut dilakukan secara tulus (altruist) dan praktik tersebut ternyata memberikan luaran sosial yang positif (rewards) seperti harga diri (self-esteem) dan perasaan terhubung (feeling social connection). Temuan lain yang menarik adalah munculnya kategori kewajiban (obligation) yang ternyata juga dapat meningkatkan kesejahteraan afektif alih-alih menjadi beban bagi mamak
Social media fatigue pada mahasiswa di masa pandemi COVID-19: Peran neurotisisme, kelebihan informasi, invasion of life, kecemasan, dan jenis kelamin
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memeriksa apakah neurotisisme, kelebihan informasi, invasion of life, dan kecemasan memengaruhi social media fatigue pada mahasiswa yang belajar di rumah karena pandemi COVID-19. Partisipan penelitian ini berjumlah 639 orang mahasiswa dari kawasan Jabodetabek dan beberapa kota lain yang aktif menggunakan media sosial sebagai sarana belajar di rumah dan juga mencari dan menerima berbagai informasi. Teknik analisis utama yang digunakan adalah regresi hierarkis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa secara bertahap masing-masing variabel seperti neurotisisme, kelebihan informasi, invasion of life dan kecemasan memiliki pengaruh terhadap terjadinya social media fatigue pada mahasiswa. Namun demikian pada tahap terakhir ketika kecemasan dipertimbangkan dalam perhitungan maka neurotisisme menjadi tidak berpengaruh. Hasil penelitian ini juga menunjukkan besarnya pengaruh kelebihan informasi terhadap social media fatigue dan lebih rentannya kelompok mahasiswa pria untuk mengalami social media fatigue saat belajar di rumah selama pandemi COVID-19
Adiksi Media Sosial pada Remaja Pengguna Instagram dan WhatsApp: Memahami Peran Need Fulfillment dan Social Media Engagement
Tujuan penelitian ini adalah untuk memeriksa pemenuhan kebutuhan apa yang memengaruhi kelekatan dan adiksi media sosial pada remaja. Partisipan penelitian ini berjumlah 384 orang remaja dari kawasan Jabodetabek dan beberapa kota lain sebagai pengguna Instagram dan WhatsApp. Teknik analisis utama yang digunakan adalah analisis jalur dengan SEM. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kedua model yang dibangun untuk penggunaan Instagram dan WhatsApp ternyata fit atau sesuai dengan data empirik. Artinya, beberapa jenis pemenuhan kebutuhan dan kelekatan dengan media sosial memengaruhi adiksi media sosial pada remaja. Pada penggunaan Instagram, ada dua kebutuhan yang berperan signifikan terhadap adiksi media sosial remaja melalui kelekatan media sosial, yaitu kebutuhan untuk membangun relasi sosial yang hangat, dan memperoleh kesenangan. Adapun pada penggunaan Whatsapp, ada empat kebutuhan yang berperan signifikan terhadap adiksi media sosial remaja melalui kelekatan media sosial, yaitu kebutuhan untuk mampu melakukan banyak hal, membangun relasi sosial yang hangat, memperoleh kesenangan, serta merasa aman dan mampu mengendalikan situas
Pilihan rasional ataukah pilihan yang terikat secara sosial? Studi kasus pengambilan keputusan pada remaja perempuan yang terlibat prostitusi
Walau telah banyak penelitian yang membahas mengenai berbagai faktor dibalik keputusan remaja terlibat dalam prostitusi, tetapi masih sedikit yang menjelaskan rangkaian proses yang terjadi. Penelitian studi kasus ini dilakukan untuk memahami secara mendalam tentang proses pengambilan keputusan remaja perempuan yang terlibat dalam prostitusi tanpa adanya ancaman atau tekanan dari orang lain. Dalam menjelaskan proses yang terjadi, disoroti peranan rasionalitas terbatas pada remaja. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi non partisipan. Wawancara dilakukan terhadap 8 (delapan) partisipan yang terlibat prostitusi sejak sebelum berusia 18 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan pada remaja perempuan untuk terlibat prostitusi terdiri dari tujuh tahap, yaitu: (1) mengalami permasalahan di dalam keluarga; (2) mencari dukungan sosial dari teman; (3) terpapar kenakalan remaja; (4) kebutuhan uang; (5) terpapar dunia prostitusi; (6) terlibat prostitusi; dan (7) keinginan dan usaha untuk keluar dari prostitusi
Pelatihan Rise and Shine sebagai metode psikoedukasi: Bisakah menurunkan stigma bunuh diri?
Masalah stigma masih menjadi tantangan dalam usaha promosi kesehatan mental. Salah satu metode menurunkan stigma bunuh diri yang telah diuji efektivitasnya adalah psikoedukasi melalui pelatihan. Meski demikian, konteks pengetahuan atau kompetensi lain dalam psikoedukasi selain literasi bunuh diri dan pengetahuan tentang kesehatan mental juga berpotensi menurunkan stigma. Peneliti berhipotesis bahwa stigma bunuh diri pada kandidat sukarelawan dalam komunitas pencegahan bunuh diri Into the Light menurun setelah pelatihan Rise and Shine. Desain penelitian one-group dengan pengukuran pre-test dan post-test digunakan dalam studi ini. Sebanyak 41 kandidat sukarelawan generasi kelima dari komunitas Into the Light berpartisipasi dalam studi ini. Ditemukan adanya penurunan stigma bunuh diri yang signifikan pada seluruh kandidat sukarelawan, baik untuk stigma terhadap percobaan bunuh diri (t(40) = 2,742, pone-tailed = 0,005, Cohen’s d = 0,428) maupun kehilangan akibat bunuh diri (t(40) = 2,295, pone-tailed = 0,014, Cohen’s d = 0,358) setelah pelatihan selama empat belas minggu. Tidak ditemukan main effect (FSTOSA(1,39) = 0,399, p = 0,531, partial η2 =0,010; FSTOSASS(1,39) = 0,019, p = 0,892, partial η2 = 0) maupun interaction effect (FSTOSA(1,39) = 0,674, p = 0,417, partial η2 = 0,017; FSTOSASS(1,39) = 0,057, p = 0,812, partial η2 = 0,001) yang signifikan atas status kandidat sukarelawan dalam pelatihan (lulus (n = 22) vs. tereliminasi (n = 19)) terhadap penurunan stigma bunuh diri
Catatan editor untuk edisi khusus tren metodologi: Paradigma dan metodologi psikologi sosial dalam kebudayaan non-WEIRD
Salam sejahtera,
Pada tahun 2015 silam, lebih dari 100 peneliti dari berbagai institusi di beberapa benua melakukan sebuah usaha replikasi penelitian besar-besaran. Tak kurang dari 100 eksperimen yang terbit dalam jurnal psikologi bereputasi diuji kembali untuk menemukan apakah memang betul hasil eksperimen sesuai dengan laporan asli. Ternyata, hanya 68% dari usaha replikasi itu yang berhasil menemukan bukti signifikan secara statistik (Open Science Collaboration, 2015). Masalah yang dikemukakan oleh komunitas Open Science Collaboration ini menggegerkan ilmu psikologi, tak terkecuali psikologi sosial. Sejak munculnya isu krisis replikasi ini, berbagai temuan – mulai dari yang klasik sampai yang kontemporer dalam bidang psikologi – dipertanyakan kembali keabsahannya.
Beberapa tahun kemudian, pakar neurosains kognitif dan advokat sains terbuka Christopher D. Chambers dari Cardiff University mempublikasikan sebuah buku yang membahas masalah fundamental dalam praktik ilmiah di psikologi. Dalam buku yang ia beri judul “The 7 Deadly Sins of Psychology” (7 Dosa Besar Psikologi), ia memaparkan sejumlah isu dimana metodologi merupakan salah satu isu yang bermasalah dalam psikologi (Chambers, 2019). Analisis statistik dan penentuan metodologi dalam riset-riset psikologi dianggap terlalu fleksibel sehingga rentan untuk dimanipulasi oleh peneliti. Tidak kalah pentingnya dan konsisten dengan temuan Open Science Collaboration, ilmu psikologi juga dianggap tidak reliabel. Temuan-temuan penting bisa tidak konsisten ketika diuji kembali dengan metode yang sama.
Masalah pada reliabilitas temuan seperti itu bisa diatribusikan ke berbagai faktor. Pertama, psikologi belum membudayakan replikasi. Padahal, disiplin ilmu alam seperti fisika senantiasa berusaha mereplikasi temuan-temuan laboratorium mereka (Franklin, 2018). Kedua, adalah masalah fraud serta pelaporan metodologi atau analisis yang terlalu fleksibel sebagaimana dikemukakan Chambers (Chambers, 2019). Selain kedua alasan tersebut, ada satu alasan lain yang nampaknya jarang dibahas – bahwa ada faktor kebudayaan atau kontekstual yang menyebabkan kondisi studi asli dan studi berikutnya mengalami perbedaan. Alasan ini dikemukakan oleh Stroebe dan Strack (2014) dalam artikel mereka yang isinya mengemukakan bahwa replikasi dengan temuan sama persis itu sangat sulit terjadi.
Faktor perbedaan budaya adalah isu yang substansial dan perlu diperhatikan dalam ilmu psikologi. Ini sudah lama ditekankan oleh Henrich, Heine, dan Norenzayan (2010) dalam artikel mereka yang berjudul “The weirdest people in the world?”. Menurut mereka, banyak (jika tidak dibilang mayoritas) riset psikologi dilakukan di komunitas atau negara WEIRD (Western – kebudayaan barat, Educated – sampel mahasiswa atau kaum terdidik, Industrialized – negara industri maju, Rich – kalangan ekonomi menengah keatas, dan Democratic – negara demokratik). Dengan kata lain, teori-teori yang dihasilkan dari riset-riset psikologi hanya terfokus pada kebudayaan WEIRD seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat, namun mengabaikan konteks-konteks budaya lainnya. Sehingga, usaha generalisasi suatu teori tanpa memahami konteks lokal dari tiap kebudayaan non-WEIRD bisa menghasilkan temuan yang tidak konsisten.
Menyadari betapa fundamentalnya isu kebudayaan ini, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) mengeluarkan isu khusus tentang perspektif dan isu metodologi dalam psikologi sosial. Dalam isu khusus ini, JPS mempublikasikan naskah-naskah yang mengevaluasi perspektif atau paradigma yang muncul dari kebudayaan atau masyarakat WEIRD. Dalam naskah yang berjudul “Social neuroscience: Pendekatan multi-level integratif dalam penelitian psikologi sosial”, Galang Lufityanto berusaha mengulas potensi dari perspektif neurosains kognitif untuk psikologi sosial dalam konteks manusia Indonesia. Artikel ini sangat penting karena perspektif biologis seperti neurosains kognitif perlu direplikasi di berbagai konteks masyarakat berbeda (Fischer & Poortinga, 2018) agar terhindar dari generalisasi yang terlalu cepat.
Sementara dalam naskah yang berjudul “Epistemological violence, essentialization dan tantangan etik dalam penelitian psikologi sosial”, Monica Eviandaru Madyaningrum berusaha mendiskusikan isu etika dalam riset psikologi sosial. Seringkali, psikologi sosial mengadopsi pandangan etika yang muncul dari kebudayaan seperti Amerika Serikat dimana etika prosedural yang terfokus pada individu menjadi tolak ukurnya. Padahal, etika juga men-cakup kerangka berpikir dan relasi kuasa yang terjadi dalam masyarakat. Naskah ini mengajak kita untuk keluar dari isu etika individu menjadi isu etika dalam relasi antar elemen masyarakat, sehingga lebih sesuai dengan konteks masyarakat Indonesia.
Isu khusus ini tidak hanya terfokus pada persoalan paradigma epistemik dan etika dalam psikologi sosial. Beberapa naskah berikutnya membahas tentang potensi penggunaan metode alternatif untuk riset-riset psikologi sosial. Andrian Liem dan Brian J. Hall dalam naskah mereka yang berjudul “Respondent-driven sampling (RDS) method: Introduction and its potential use for social psychology research” membahas potensi metode pencarian sampel (sampling) yang lebih superior daripada metode non-probabilitas lain tetapi juga lebih mungkin dilakukan dibandingkan metode random sampling. Dalam metode respondent-driven sampling (RDS), peneliti merekrut partisipan berdasarkan struktur jejaring atau rasa saling percaya antar partisipan. Mengingat masyarakat Indonesia beroperasi berdasarkan struktur relasi dan rasa saling percaya (Hopner & Liu, in press), metode RDS ini sangat menjanjikan untuk diterapkan. Bukan hanya karena kemudahan dalam pengambilan data, namun juga karena potensinya untuk lebih mampu menggeneralisasi temuan ke dalam populasi yang diteliti.
Tidak kalah menariknya adalah naskah yang ditulis oleh Tsana Afrani dan para koleganya dengan judul “Apakah intervensi prasangka lewat media bisa mengurangi prasangka implisit terhadap orang dengan HIV/AIDS? Eksperimen menggunakan implicit association test (IAT).” Dalam beberapa tahun terakhir, IAT atau tes asosiasi implisit menjadi alat ukur prasangka implisit yang dianggap kontroversial (Jost, 2019; Singal, 2017). Intervensi berbasis prasangka implisit juga menjadi sasaran kritik. Maka dari itu, penting untuk menguji IAT dalam konteks intervensi di berbagai konteks seperti di kebudayaan non-WEIRD. Ditemukan bahwa prasangka implisit tidak berubah setelah partisipan ikut serta dalam intervensi prasangka lewat media. Ini semakin mempertebal daftar kritik terhadap IAT.
Naskah berikutnya membahas potensi metode kualitatif yang jarang digunakan dalam psikologi sosial, yaitu metode historis-komparatif. Dalam naskah yang berjudul “Menggunakan metode historis komparatif dalam penelitian psikologi”, Nugraha Arif Karyanta, Suryanto, dan Wiwin Hendriani menjelaskan bahwa data-data seperti dokumen bersejarah, catatan sejarah, bahkan dokumen sipil yang masih berlangsung bisa digunakan untuk menjelaskan proses psikologis yang terjadi pada suatu konteks masyarakat. Metode ini berpotensi untuk mengeksplorasi bagaimana temuan-temuan psiko-logi sosial yang seringkali muncul dari kebudayaan WEIRD bisa relevan atau tidak relevan dengan perkembangan sejarah, kebijakan sosial dan hukum, yang ada pada masyarakat non-WEIRD seperti masyarakat Indonesia.
Sementara itu Retno Hanggarani Ninin dan kolega-koleganya menekankan pentingnya asesmen psikologi dalam situasi alamiah. Dalam naskah yang berjudul “Psikoetnografi sebagai metoda asesmen psikologi komunitas”, mereka membahas bahwa seringkali asesmen psikologis mencerabut individu dari situasi ekologis alami mereka. Padahal, individu tidak terlepas dari struktur sosial dan budaya yang ia alami sehari-hari. Dalam naskah ini, para penulis juga memberikan contoh bagaimana asesmen psikoetnografi bisa dilakukan.
Membahas perbedaan dan kesetaraan antar budaya, tentu juga sulit dilepaskan dari isu kesetaraan lintas budaya dari alat ukur psikologis. Dalam isu khusus ini, JPS mempublikasikan dua naskah validasi alat ukur. Kedua alat ukur ini dinilai penting dan relevan untuk diadaptasi dan divalidasi pada konteks Indonesia. Dalam naskah “Adaptasi alat ukur Munroe Multicultural Attitude Scale Questionnaire versi Indonesia”, Intan Permatasari dan kolega-koleganya mempertanyakan validasi alat ukur sikap multikultural karena pada budaya Indonesia, sikap multikultural lebih prevalen pada relasi antar etnis sementara di budaya Amerika Serikat (budaya asal alat ukurnya), sikap multicultural lebih terfokus pada warna kulit. Sementara pada naskah “Adaptasi dan properti psikometrik skala kontrol diri ringkas versi Indonesia”, Haykal Hafizul Arifin dan Mirra Noor Milla berusaha mengadaptasi dan menemukan validitas konstruk dan validitas diskriminan dari alat ukur kontrol diri. Ada banyak struktur dimensi dari alat ukur kontrol diri dalam riset-riset sebelumnya. Para penulis menguji struktur dimensi mana yang paling cocok untuk konteks Indonesia.
Akhir kata, izinkanlah kami berterima kasih kepada para reviewer yang telah memberikan masukkan kepada naskah-naskah di edisi khusus ini, mulai dari awal sampai naskah siap dipublikasikan. Kami berharap, edisi khusus ini bisa menjadi pemantik diskusi-diskusi saintifik lanjutan tentang ragam perspektif dan isu metodologi di psikologi sosial, khususnya untuk konteks kebudayaan non-WEIRD seperti Indonesia. Tidak hanya itu, kami juga berharap bahwa edisi khusus ini bisa menjadi pedoman atau acuan bagi penggunaan berbagai metode seperti sampling RDS, alat ukur IAT, asesmen psiko-etnografi, dan riset historis komparatif. Kami juga berharap edisi khusus ini menstimulasi riset lanjutan dengan paradigma social neuroscience dan paradigma etika yang lebih luas dari sekedar analisis etika prosedural
Apakah pelatihan keterampilan antarbudaya pada instansi pemerintahan dapat meningkatkan sensitivitas antarbudaya? Peranan nilai lokal gotong royong
Terdapat inkonsistensi pada penelitian sebelumnya mengenai efek pelatihan keterampilan antarbudaya. Penelitian eksperimen ini bertujuan untuk meningkatkan sensitivitas antarbudaya melalui pelatihan keterampilan antarbudaya yang memasukkan materi tentang gotong royong sebagai nilai lokal Indonesia. Subjek penelitian berjumlah 32 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 16 orang kelompok eksperimen dan 16 orang kelompok kontrol. Pelatihan keterampilan antarbudaya sebagai perlakuan. Pengukuran dilakukan sebelum dan setelah diberi pelatihan. Alat ukur yang digunakan adalah skala sensitivitas antarbudaya. Analisis data hasil penelitian menggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan sensitivitas antarbudaya pada kelompok yang mendapatkan pelatihan keterampilan antarbudaya dengan kelompok yang tidak mendapatkan pelatihan (t= 2,063; p = 0,048; p ≤ 0,05). Selisih rerata pada kedua kelompok menunjukkan kelompok yang diberi perlakuan memiliki sensitivitas antarbudaya yang lebih tinggi (rerata = 7,38)
Anteseden leader endorsement: Perspektif teori identitas sosial
Salah satu kunci dari efektivitas kepemimpinan adalah bagaimana seorang pemimpin diterima dan didukung oleh bawahannya (leader endorsement). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi dukungan bawahan terhadap pemimpin berdasarkan teori identitas sosial. Artikel ini memiliki hipotesis bahwa prototipikalitas pemimpin (leader prototypicality) dan personal bases of power dari pemimpin (expert power dan referent power) memengaruhi dukungan bawahan terhadap pemimpinnya. Menggunakan online surveys kami berhasil mendapatkan partisipan sebanyak 135 karyawan dari berbagai perusahaan swasta di Indonesia. Reliabilitas masing-masing alat ukur yang digunakan berkisar antara 0,80 – 0,90. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) leader prototypicality tidak signifikan memengaruhi leader endorsement (β = .124; p < .05); (2) leaders’ expert power (β = .767; p < .01) dan leaders’ referent power (β = .363; p < .01) signifikan memengaruhi leader endorsement. Faktor tersebut mampu memprediksi varian leader endorsement sebesar 78,3%, F(3.94) = 56.706, p < .01. Temuan penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan teori identitas sosial bahwa pada konteks perusahaan swasta, identitas sosial pemimpin bukan menjadi faktor yang menentukan terbentuknya dukungan terhadap pemimpin
Benarkah anak prasekolah sudah mampu mengambil perspektif dalam perilaku prososial?
Previous studies suggested that preschoolers have already behaved prosocially. However,there is a possibility that such insight cannot be generalized since there is a conflictingassumption between different theoretical perspectives. The research aimed to explorewhether pre-schoolers’ perspective-taking in the context of prosocial behavior had developed.Our participants were 25 preschoolers who were 5-6 years old. The result showed that fromthe three types of perspective-taking, which were perceptual, cognitive, and affectiveperspective-taking, affective perspective-taking was undeveloped optimally among themajority of pre-schoolers. They had difficulty when identified others’ emotions in the context,especially in prosocial situations. For cognitive perspective-taking, preschoolers understoodother people’s thoughts, intentions, and motives, but only when the environmental cues weresimple. When the situation was more complex, their efforts to understand other people’sthoughts, intentions, or motives resulting in different understanding about the situations.Preschoolers’ ability to do perceptual perspective-taking had developed. They could shift theirperceptual perspective-taking from themselves to other perceptual perspective-taking. Theresults can be used as a reference for developing intervention programs to improveperspective-taking skills in contexts of prosocial behavior in preschool children