Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
Not a member yet
    165 research outputs found

    Adaptasi alat ukur Munroe Multicultural Attitude Scale Questionnaire versi Indonesia

    Full text link
    Usaha adaptasi alat ukur multikulturalisme menjadi penting karena terdapat perbedaan dalam persepsi multikulturalisme di negara-negara barat dan Indonesia. Jika multikulturalisme di negara-negara barat lebih merujuk pada perbedaan warna kulit, di Indonesia multikulturalisme dapat dikatakan lebih dinamis, yaitu merujuk pada perbedaan suku. Oleh karena itu, diperlukan adanya alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur konstruk multikulturalisme. Penelitian ini dilakukan demi tujuan tersebut, dengan cara mengadaptasi alat ukur Munroe Multicultural Attitude Scale Questionnaire (MASQUE). Pemilihan MASQUE sebagai alat ukur yang diadaptasi karena MASQUE dapat mengukur sikap terhadap multikulturalisme pada sampel yang lebih luas. Adaptasi MASQUE dilakukan melalui tahap penerjemahan, penerjemahan ulang, pengujian validitas, serta pengujian reliabilitas. Pengujian validitas alat ukur MASQUE versi Indonesia dilakukan menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA), sedangkan pengujian reliabilitas alat ukur dilakukan dengan menggunakan Cronbach-Alpha. Hasil adaptasi alat ukur yang diuji pada 1393 responden menunjukkan bahwa tiga dimensi (pengetahuan, tindakan, dan kepedulian) dalam kuesioner ini reliabel, tetapi memiliki validitas konstruk yang kurang baik. Kesimpulannya, alat ukur ini dapat digunakan untuk mengukur multikulturalisme di Indonesia, dengan catatan menghapus beberapa item alat ukur asli yang sulit dipahami dalam konteks Indonesia

    Do Intergroup Threats Provoke Intergroup Anxiety? An Experimental Study on Chinese Ethnic Group in Indonesia

    Full text link
    Through an online experiment, this study examines the role of intergroup threat on intergroup anxiety in Indonesian Chinese ethnic group, by considering the moderating role of positive intergroup contact. The posttest-only randomized experimental design was used in this study. Sixtyfour Chinese Indonesian college students (male = 31, female = 33) were randomly assigned into treatment group (male = 14, female = 18) and control group (male = 17, female= 15). All participants were first asked to complete a positive intergroup contact scale. Following this, participants in the treatment group were asked to read threat-inducing reading passages, while those in the control group were given neutral reading passages. They then were asked to complete a manipulation check and intergroup anxiety scale. Data were analyzed using analysis of covariance (ANCOVA). Results showed that when positive intergroup contact was controlled, intergroup threat significantly affected intergroup anxiety but in the direction opposing the hypothesis. Instead of showing higher intergroup anxiety, the experimental group showed lower intergroup anxiety compared to the control group. An interview on a few participants was conducted to explore possible explanations of this result

    Catatan dari Managing Editor

    Full text link
    Salam sejahtera, Tahun 2020 ini menandakan awal dari akhir sebuah dekade dimana terjadi berbagai perubahan sosial dan teknologi. Pertama, diketahui bahwa teknologi internet dan media sosial ternyata memang mempengaruhi perilaku manusia di berbagai konteks. Dalam perilaku politik, misalnya, data-data yang diberikan oleh individu di berbagai platform media sosial ternyata dimanfaatkan untuk kepentingan politisi – sebagaimana tercatat dalam skandal Facebook – Cambridge Analytica pada 2015 silam (Davies dalam The Guardian, 11 Desember 2015). Berbagai berita palsu atau fake news dan hoax juga menjadi masalah yang berdampak pada masalah sosial dan stabilitas ekonomi di beberapa negara. Belum lagi jika kita perhitungkan masalah adiksi internet dan media sosial di level individu. Namun, tidak selamanya perkembangan teknologi seperti internet dan media sosial memicu dampak negatif. Dari sisi lain, teknologi membantu kita untuk mempermudah hidup juga. Komunikasi antar individu, antar identitas, dan antar kelompok terjadi lebih mudah dan cepat. Terjadi juga transformasi yang cukup substansial pada perilaku konsumen, seiring dengan pemanfaatan platform-platform media sosial dan aplikasi di smartphone untuk memperdagangkan produk dan jasa. Dalam berbagai domain, riset-riset tentang perilaku siber masih sangat diperlukan di Indonesia. Kedua, satu dekade terakhir ini juga ditandai dengan eskalasi konflik antar identitas yang terjadi di seluruh dunia. Mulai dari polarisasi politik di beberapa negara, konflik berkaitan dengan imigrasi di Eropa dan Amerika Serikat, sampai pada kasus-kasus ekstremisme dan terorisme. Permasalahan global ini memicu pertanyaan, “bagaimana seharusnya kita hidup secara bersama-sama?” Riset-riset tentang intergrup dan multikulturalisme baik dari segi konlik antar kelompok, kontak dan relasi antar kelompok, sampai pada riset-riset tentang kepemimpinan dalam kelompok multikultural. Tidak hanya itu, eksplorasi tentang nilai-nilai budaya dari masyarakat non-WEIRD (Western, Educated, Industrialized, Rich, dan Democratic) juga masih dibutuhkan (Henrich, Heine, & Norenzayan, 2010) untuk memberikan informasi mengenai budaya-budaya yang belum banyak diteliti sebelumnya; sehingga kita bisa memahami dinamika psikologis dan sosial yang terjadi pada budaya selain Eropa Barat dan Amerika Utara. Ini penting agar psikologi sosial tidak berusaha menggeneralisasi teori tanpa memahami terlebih dulu konteks-konteks emic. Ketiga, organisasi, industri, dan workforce juga terus dituntut untuk beradaptasi seiring dengan cepatnya arus informasi dan laju perkembangan teknologi. Penting bagi individu untuk beradaptasi mengikuti perkembangan-perkembangan itu. Di level individual, para pekerja perlu memiliki kesiapan untuk berubah agar bisa beradaptasi dengan perubahan organisasi. Mereka juga perlu untuk senantiasa mengevaluasi apakah kompetensi mereka memang masih sesuai dengan kebutuhan di organisasi. Keempat, isu perubahan iklim dan penyelamatan lingkungan semakin mendesak tindakan dari berbagai elemen masyarakat. Usaha menyelamatkan lingkungan juga menuntut peranan dari psikologi sosial, karena melibatkan perilaku-perilaku yang masuk dalam kajian psikologi sosial selama ini seperti aksi kolektif, perilaku berkelanjutan (sustainable behavior), aktivisme, dan perilaku mengorbankan diri demi suatu identitas atau kelompok. Sesuai dengan perkembangan kondisi global yang terjadi, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) berusaha mempublikasikan naskah-naskah yang relevan dengan perubahan sosial dan teknologi pada dekade terakhir ini. Sehingga, JPS senantiasa berusaha berkontribusi dengan memberikan wawasan-wawasan teoretis yang sesuai dengan perkembangan zaman. Meski begitu, JPS tetap mengutamakan aspek kebaruan teoretis dari setiap naskah. Tiga naskah mendemonstrasikan temuan terkait penggunaan teknologi siber dan kaitannya dengan adiksi (Rahardjo, Qomariyah, Andriani, Hermita, & Zanah, 2020), penyesuaian diri secara sosial (Malay & Nataningsih, 2020), dan perilaku konsumen (Amalia & Sekarasih, 2020). Dua naskah berikutnya membicarakan topik budaya dan kaitannya dengan kepemimpinan (Hidayat, Sumertha, & Istiana, 2020) serta nilai-nilai lokal lintas etnis (Nashori, Nurdin, Herawati, Diana, & Masturah, 2020). Kemudian, dua naskah terakhir membahas mengenai kesiapan berubah (Mardhatillah & Rahman, 2020) dan kompetensi saat terjadi ketidaksesuaian latar belakang pendidikan (Wardani & Fatimah, 2020) dalam konteks organisasi. Melalui kesempatan ini, JPS juga menginformasikan bahwa Temu Ilmiah Nasional Ikatan Psikologi Sosial ke-10 (TEMILNAS IPS X) akan diadakan pada 13-15 April 2020. Sesuai dengan mendesaknya isu lingkungan global, dalam pertemuan akbar tahunan tersebut diangkat tema “Kontribusi Psikologi Sosial dalam Masalah Lingkungan: Proteksi, Konservasi, dan Kualitas Interaksi Sosial”. Narasumber keynote dari acara ini adalah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar dan Profesor dengan kepakaran psikologi sosial dari University of Queensland, Australia yaitu Professor Winnifred Louis, Ph.D. TEMILNAS IPS X akan diadakan di Golden Tulip Galaxy Hotel, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Partisipasi dari para akademisi dan praktisi di bidang Psikologi Sosial atau bidang terkait tentunya sangat diharapkan. JPS senantiasa berusaha untuk berkontribusi dalam mengembangkan teori-teori psikologi sosial lewat temuan-temuan empiris di Indonesia. Namun, JPS juga tidak lupa bahwa perubahan sosial dan teknologi yang cepat terus terjadi sehingga psikologi sosial juga perlu terus menginvestigasi topik-topik yang relevan dengan perkembangan zaman

    Adaptasi dan properti psikometrik skala kontrol diri ringkas versi Indonesia

    Full text link
    Studi adaptasi alat ukur ini terdiri dari dua studi yang memiliki tujuan untuk mengadaptasi skala kontrol diri, mengeksplorasi struktur konstruk, dan menguji validitas skala. Dalam studi 1 (N = 411), kami melakukan adaptasi lintas budaya dan pengujian struktur faktor skala kontrol diri. Ditunjukkan bahwa konseptualisasi 10 item skala kontrol diri De Ridder dkk. (2012) yang terdiri dari dua dimensi (inihibisi dan inisiasi) adalah model pengukuran yang cenderung lebih stabil dibandingkan tiga model pengukuran alternatif. Dalam studi 2 (N = 144) kami menguji validitas operasionalisasi skala kontrol diri dengan mengkorelasikannya dengan konstruk-konstruk lain yang sesuai dengan kerangka teoretis. Kami mendemonstrasikan bahwa 10 item skala kontrol diri versi Indonesia memiliki properti psikometrik yang baik (reliabel dan valid). Skala kontrol diri berhasil memprediksi gaya hidup tertib – dapat memprediksi seberapa individual dapat memenuhi fungsi hidupnya sehari-hari. Skala kontrol diri juga memiliki validitas diskriminan, kontrol diri yang diukur dengan skala ini berbeda dengan trait conscientiousness. Skala kontrol diri tidak terkontaminasi dengan kecenderungan responden menunjukkan impresi baik. Studi kami menunjukkan bahwa skala kontrol diri dapat membedakan mereka yang merokok aktif dan non-perokok. Adaptasi skala kontrol diri ringkas versi Indonesia memiliki konsistensi internal yang baik, teruji antar antar studi, dan telah teruji valid

    Kompetensi Pekerja dan Efeknya Terhadap Work Engagement: Riset pada Pekerja dengan Horizontal Education Mismatch

    Full text link
    Salah satu faktor penting yang mempengaruhi work engagement adalah kompetensi. Terdapat inkonsistensi dengan penelitian sebelumnya mengenai peran dari perceived competency terhadap work engagement di kalangan pekerja yang mangalami horizontal education mismatch. Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk menguji apakah ada pengaruh perceived competency terhadap work engagement terutamanya pada pekerja yang mengalami horizontal education mismatch. Responden penelitian ini terdiri dari 566 pekerja yang mengalami horizontal education mismatch, dengan rentang usia 19-55 tahun dan merupakan lulusan sekolah kejuruan ataupun sarjana strata 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived competency memiliki efek positif terhadap work engagement pekerja yang mengalami horizontal education mismatch di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kompetensi intelektual memberikan pengaruh terbesar kepada work engagement, terutamanya pada dimensi vigor dan dedication. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang memiliki kompentensi intelektual yang tinggi juga akan menunjukkan vigor dan dedication yang tinggi di tempatnya bekerja

    Eksplorasi motivasi relawan: Sebuah perspektif indigenous psychology

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk memetakan motivasi individu dalam melakukan kegiatan kere-lawanan menggunakan pendekatan Indigenous Psychology. Responden penelitian terdiri atas 315 orang relawan di Indonesia. Pengambilan data menggunakan open-ended questionnaire. Hasil kategorisasi terhadap jawaban responden menunjukkan terdapat delapan kategori motivasi menjadi relawan, yakni nilai pribadi (32,2%), pengembangan diri (13,6%), kepedulian lingkungan (12,6%), minat kegiatan (11,6%), perasaan positif (9,7%), protektif (8,7%), hubung-an sosial (6,9%), dan religiositas (4,7%). Analisis data menemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan intensi untuk menjadi relawan kembali berdasarkan jenis motivasinya. Implikasi hasil penelitian untuk pengelolaan relawan di masa depan akan dibahas dalam artikel ini.&nbsp

    Apakah intervensi prasangka lewat media bisa mengurangi prasangka implisit terhadap orang dengan HIV/AIDS? Eksperimen menggunakan Implicit Association Test (IAT)

    Full text link
    Stigma negatif terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) memunculkan suatu prasangka yang berujung pada penolakan untuk berinteraksi ataupun melakukan diskriminasi. Beberapa penelitian membuktikan bahwa prasangka terhadap ODHA dapat menurun dengan memberikan intervensi melalui beberapa jenis media komunikasi seperti gambar dan video. Hanya saja, penelitian sebelumnya lebih menekankan pada prasangka yang bersifat eksplisit (sadar) yang sangat dipengaruhi oleh tuntutan sosial. Di sisi lain, pada dasarnya prasangka tidak hanya bersifat eksplisit, tetapi juga bersifat implisit (spontan). Dua eksperimen dilakukan dengan tujuan untuk melihat pengaruh jenis media komunikasi—berupa gambar dan video—pada perubahan prasangka implisit mahasiswa terhadap ODHA. Subjek merupakan mahasiswa aktif yang dipilih dengan menggunakan teknik sampel acak berstrata berdasarkan tingkatan tahun. Pendekatan penelitian adalah pre-post experimental design dengan menggunakan pengukuran prasangka implisit yaitu Implicit Association Test (IAT). Analisis data dilakukan dengan melakukan uji beda terhadap skor IAT yang diperoleh. Hasil analisa menunjukan bahwa tidak ada perbedaan skor IAT antara sebelum dan setelah perlakukan. Berdasarkan data dapat disimpulkan jenis media komunikasi berupa gambar dan video tidak mengubah prasangka implisit terhadap ODHA

    Psikoetnografi sebagai metode asesmen psikologi komunitas

    Full text link
    Meskipun ilmu tentang asesmen sebagai pengukuran berkembang pesat di bidang psikologi, namun asesmen psikologi di arena alamiah (natural setting) masih belum banyak dibahas, dibandingkan dengan pembahasan tentang asesmen dan pengukuran psikologi di setting khusus seperti di ruang klinik dan industriDiperlukan suatu metode asesmen yang menjadikan komunitas bukan hanya sebagai tempat munculnya perilaku, melainkan sebagai modalitas yang menjadi bagian dari perilaku. Memanfaatkan keilmuan psikologi komunitas, dan etnografi, studi ini mengeksplorasi potensi etnografi sebagai instrumen untuk asesmen psikologi di setting alamiah. Kami memberikan contoh riset yang kami lakukan untuk menggambarkan pendekatan psikoetnografi. Riset tindakan dipilih sebagai pendekatan, dengan memanfaatkan mata kuliah etnografi yang diselenggarakan di program pasca sarjana psikologi. Tiga dosen dan lima mahasiswa peserta mata kuliah tersebut adalah tim peneliti, tiga lokasi dipilih, dan para mahasiswa belajar metode dan contoh-contoh etnografi di kelas, lalu mempraktekkan etnografi. Data yang dihasilkan berupa catatan etnografi, logbook kegiatan lapangan, dan laporan dalam format makalah, selanjutnya diperlakukan sebagai data asesmen yang akan diinterpretasikan aspek psikologisnya. Interpretasi yang dilakukan menunjukkan kemampuan etnografi untuk menghasilkan data psikologis yang dibutuhkan untuk asesmen psikologi. Dengan demikian, psikoetnografi dapat dipertimbangkan sebagai alat kerja psikolog untuk melakukan asesmen psikologi pada sekelompok individu di  setting komunitas sebagai lingkungan naturalnya

    Sumber informasi serta dampak penerapan pembatasan sosial dan fisik pada masa pandemi COVID-19: Studi eksploratif di Indonesia

    Full text link
    Sampai saat naskah ini ditulis, kasus pasien positif COVID-19 di Indonesia masih meningkat. Ini mungkin merefleksikan adanya disparitas antara pengetahuan/sikap masyarakat dengan ke-bijakan yang diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sumber pengetahuan yang utama bagi masyarakat Indonesia dalam informasi tentang kebijakan pembatasan sosial dan fisik (social/physical distancing) dan mengungkap konsekuensi yang menyertai penerapan kebijakan tersebut. Sampel penelitian ini adalah warga negara Indonesia yang telah cakap hukum (minimal usia 17 tahun) dan aktif menggunakan gawai. Sampel penelitian sebanyak 587 partisipan yang mengisi kuesioner pertanyaan terbuka secara daring untuk mengungkap jenis media yang menjadi sumber informasi utama, situasi tersulit yang dihadapi, dan dampak dari penerapan kebijakan tersebut. Hasil analisis isi menunjukkan media sosial (online) menjadi sumber utama bagi partisipan untuk memperoleh informasi mengenai pembatasan sosial dan fisik. Beragam konsekuensi dari penerapan kebijakan tersebut dirasakan partisipan, mulai dari aspek ekonomi dalam hal ini sulitnya pemenuhan kebutuhan pokok, sampai dengan memburuk-nya relasi sosial yang sempat dirasakan oleh sebagian partisipan

    Mawas diri berideologi: Tantangan berpartisipasi religius online di era ujaran kebencian

    Full text link
    Ujaran kebencian di dunia maya merupakan perilaku yang dimotivasi untuk mengekspresikan prasangka. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perilaku religius merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong ekspresi prasangka. Namun, penelitian sebelumnya saling bertolak belakang dalam mengungkap peran religiusitas dan prasangka, serta ditemukan bahwa kepribadian otoritarianisme seringkali memediasi hubungan tersebut. Penelitian ini berupaya untuk melihat hubungan perilaku religius di dunia maya dengan motivasi ekspresi prasangka, khususnya di media sosial. Lebih lanjut, penelitian ini berupaya untuk memahami faktor yang bisa menjelaskan hubungan antara perilaku religius di dunia maya dan motivasi ekspresi prasangka dengan melihat peran mediasi ideologi otoritarianisme. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah partisipan 152 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas religius secara online berhubungan langsung dengan motivasi eksternal ekspresi prasangka, dan tidak memiliki hubungan secara langsung dengan motivasi internal ekspresi prasangka. Namun demikian, ditemukan adanya efek tidak langsung pada motivasi internal ekspresi prasangka, melalui ideologi otoritarianisme

    160

    full texts

    165

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇