Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
Not a member yet
    165 research outputs found

    PAHLAWAN: Siapa mereka? Pendekatan psikologi indigenous

    Full text link
    Pahlawan merupakan istilah yang banyak digunakan di budaya Indonesia. Pahlawan merujuk pada diri seseorang karena keberanian, kekuatan, pengorbanan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahan. Beberapa penelitian tentang pahlawan dalam perpektif psikologi telah banyak dilakukan di Barat. Namun penelitian konsepsi pahlawan dalam perspektif psikologi di Indonesia masih jarang atau belum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeskplorasi siapa dan apa karakteristik pahlawan pada mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan psikologi indigenous dengan pertanyaan terbuka. Respon jawaban dikode, dikategori, dan dianalisis menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Partisipan adalah mahaisswa UIN sultan Syarif Kasim Riau berjumlah 300 mahasiswa (rerata umur 21 tahun). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar menjadikan orangtua sebagai pahlawan (64,3%), tokoh nasional/komunitas (17,3%) dan pendidik (16,7%) dan terdapat delapan karakteristik pahlawan, yaitu, dominan (24.67%), peduli (19%), karismatik (13%), inspiratif (11,67%), tangguh (9,66%), tanpa pamrih (9%), mendidik (8,67%) dan terpercaya (4,33%). Implikasi hasil penelitian dibahas dalam konteks budaya Indonesia

    Orientasi keberagamaan ekstrinsik dan fundamentalisme agama pada mahasiswa Muslim: Analisis dengan model Rasch

    Full text link
    oai:ojs2.upyodha.com:article/4Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan keterkaitan antara orientasi keberagamaan ekstrinsik dan fundamentalisme agama pada kalangan mahasiswa Muslim. Hal yang membedakan penelitian ini dengan berbagai penelitian sebelumnya tentang fundamentalisme terletak pada perbedaan konseptual. Landasan awal dikembangkannya penelitian ini adalah pada lahirnya prasangka atas konsep fundamentalisme, khususnya pada kalangan muslim. Dalam kajian sebelumnya, peneliti telah mengembangkan konsep fundamentalisme dengan membaginya menjadi dua bentuk, yaitu fundamentalisme patologis dan fundamentalisme non-patologis. Fundamentalisme patologis mengacu pada sikap kaku, tertutup dan menolak perbedaan pada domain agama Islam yang sifatnya partial (furuu’). Fundamentalisme bentuk inilah yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Orientasi keberagamaan ekstrinsik dikembangkan berdasarkan definisi Allport & Ross (1967), namun dengan indikator-indikator yang disesuaikan pada konteks muslim. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan model Rasch sebagai model pengukuran yang lebih kuat secara metodologis. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara orientasi keberagamaan ekstrinsik dan fundamentalisme agama pada kalangan mahasiswa Muslim dengan nilai R = 0,329 dan p = 0,002 (p<0,01)

    Pengaruh empati emosional terhadap perilaku prososial yang dimoderasi oleh jenis kelamin pada mahasiswa

    Full text link
    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh empati emosional terhadap perilaku prososial yang dimoderasi oleh jenis kelamin pada mahasiswa. Empati emosional diartikan sebagai dorongan secara otomatis dan tanpa disadari untuk merespon keadaan emosi orang lain dan perilaku prososial diartikan sebagai tindakan yang dilakukan individu untuk membantu orang lain. Empati secara emosional diinduksi dengan cara memberikan sebuah video yang dapat membuat empati seseorang menjadi meningkat atau bahkan netral. Instrumen yang digunakan untuk mengukur empati emosional dengan menggunakan Positive Affect and Negative Affect Scale (PANAS) yang dikembangkan oleh Watson, Clark, & Tellegen (1988). Pengukuran perilaku prososial dilakukan dengan cara melihat dari jumlah donasi yang diberikan oleh partisipan. Responden penelitian ini merupakan 126 mahasiswa aktif S1 Universitas Indonesia yang terbagi atas laki-laki dan perempuan, dengan kriteria usia 18-25 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratorium dengan menggunakan desain faktorial 2 (empati: netral vs empati) X 2 (jenis kelamin: laki-laki vs perempuan) between subject design. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang cukup signifikan antara empati emosional terhadap perilaku prososial, namun pengaruh jenis kelamin sebagai moderator terhadap perilaku prososial tidak memiliki efek yang signifikan, namun pada penelitian ini ditemukan variabel lain yang dapat mempengaruhi perilaku prososial pada individu

    When construal level and financial incentive collides: An experimental study on cooperative behavior among Javanese and Balinese

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana insentif finansial mempengaruhi perilaku kerjasama, serta sejauh mana tabu dan tingkat konstrual (abstrak atau konkret) mempengaruhi keinginan untuk melakukan pertukaran. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini melakukan studi di tiga konteks di tiga tempat yang berbeda, yaitu bimbingan belajar dari senior ke junior di universitas (Depok), renovasi masjid (Mojokerto), dan renovasi pura (Bali). Penelitian di Depok dilakukan dalam seting laboratorium, sedangkan penelitian di Mojokerto dan Bali dilakukan dalam seting lapangan. Di Depok, kami menemukan bahwa partisipan mau melakukan pertukaran tabu dan cenderung tidak menganggap insentif finansial dalam bimbingan belajar sebagai tabu. Di Mojokerto dan Bali, partisipan juga mau melakukan pertukaran, meski menganggap pertukaran tersebut tabu. Secara umum, partisipan juga cenderung melakukan pertukaran tabu di situasi konkret

    Peran perceived injustice pada evaluasi bias terhadap outgroup berdasarkan perspektif diri dan Tuhan

    Full text link
    Kasus penistaan agama pada pilkada DKI tahun 2016 memberikan gambaran bagaimana evaluasi bias dapat terjadi dalam relasi antar kelompok di Indonesia. Selain karena faktor agama, persepsi ketidakadilan dapat menjadi basis evaluasi bias antar kelompok. Kami menduga bahwa perbedaan konteks adil tidak adil memiliki peran terhadap evaluasi bias. Studi eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran persepsi ketidakadilan (vs. adil) terhadap evaluasi bias berdasarkan perspektif diri dan Tuhan (N = 219; M age = 21,63; 49% perempuan). Studi eksperimen ini menggunakan desain 2 (pengambilan perspektif: diri dan Tuhan; within) x 2 (konteks: adil vs. tidak adil; between) mixed design. Evaluasi bias diukur dengan menggunakan skenario pemberian hukuman orang ketiga dimana partisipan memiliki peran sebagai orang ketiga yang dapat memberikan hukuman kepada target outgroup (pemain fiktif). Hasilnya menunjukkan bahwa konteks tidak adil (vs. adil) memiliki perbedaan yang signifikan terhadap evaluasi bias outgroup berdasarkan perspektif diri dan Tuhan. Evaluasi bias akan cenderung untuk lebih tinggi pada konteks tidak adil daripada konteks adil. Hasil ini memiliki implikasi bahwa dalam relasi antar kelompok persepsi ketidakadilan dan penggunaan perspektif diri (vs Tuhan) memiliki pengaruh terhadap evaluasi bias outgroup

    160

    full texts

    165

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇