Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
Not a member yet
165 research outputs found
Sort by
Readiness to Change in Higher Education: Do Demographic Differences in Psychosocial Predictors Matter?
The study aims to (1) examine demographic differences in higher education employee’s readiness to change, and (2) Identify whether several psychosocial predictors affect higher education employee’s readiness to change across different demographic backgrounds. A total of 214 academics and 214 non-academic staff participated in this study. 34.84% of the respondents were in the age range of 31-40 years old, 30.31% in the age range of 41-50 years old. 20.76% were between 21-30 years old, and 14.08% were 51 years and above. 64.44% consists of female respondents, while 35.56% are male respondents. We found that there was a statistically significant difference in the scores of employees’ readiness to change based on gender and age. Openness to experience, management support, and perceived appropriateness of change also significantly predicted employees’ readiness for change, particularly among non-academic staff. Meanwhile, change efficacy significantly predicted readiness for change among academics. Individual spirituality significantly predicted readiness to change for older employees than younger employees. The study shed light on the possible design for an intervention program in order to enhance employees’ readiness to change in the context of the higher learning institution. Organizational change initiatives may show the potential to be implemented in a higher learning institution
Efek Pengungkapan Pos Berbayar di Instagram Terhadap Intensi Membeli dan Preferensi Produk
Sebagai dampak dari pembaruan ketentuan penggunaan Instagram, kini pos Instagram yang diunggah atas dasar afiliasi bisnis dengan sebuah merek diharuskan menyertakan disclosure language berupa keterangan “paid partnership” di bagian atas pos. Keterangan ini diprediksi dapat melemahkan intensi membeli dan preferensi konsumen terhadap produk yang diiklankan. Efek ini pun diprediksi akan diperkuat oleh kemampun individu dalam merekognisi iklan, tetapi dilemahkan oleh pengalaman individu menggunakan produk dari merek yang sama dengan produk dalam iklan. Untuk menjawab prediksi ini, peneliti melaksanakan sebuah studi eksperimental dengan dua variasi kelompok IV (pos Instagram berbayar dengan disclosure language vs tanpa disclosure language) yang melibatkan 312 partisipan. Kemampuan rekognisi iklan dan pengalaman menggunakan merek diposisikan sebagai moderator. Sesuai prediksi, keterangan paid partnership berdampak negatif terhadap intensi membeli, tetapi tidak terbukti mempengaruhi preferensi produk. Sementara itu, bertentangan dengan prediksi, kemampuan rekognisi iklan justru memperkuat intensi membeli individu setelah melihat pos Instagram dengan DL. Namun, kemampuan rekognisi iklan memang mampu melemahkan preferensi individu terhadap produk setelah melihat iklan dengan DL. Pengalaman menggunakan produk dari suatu merek terbukti mampu menimbulkan intensi membeli dan preferensi konsumen yang lebih kuat terhadap produk lain dari merek yang sama
Does The Use Of Social Network Service LINE Affect First-Year College Students’ Social Adjustment?
This study examined the influence of social networking service (SNS) usage, especially LINE, on the first-year college students’ social adjustment in Indonesia. This correlational, non-experimental field study used an electronic questionnaire to measure 120 first-year college students’ social adjustment (using the Social Adjustment subscale of Student Adaptation to College Questionnaire/ SACQ) and data on LINE usage. Linear regression analysis showed that LINE usage affected students’ social adjustment. The number of actual friends in LINE and propensity to use LINE to collaborate with other students positively predicted social adjustment. On the other hand, the number of college friends in LINE did not contribute significantly to their social adjustment. These results give more evidence of the effect of SNS, especially LINE, on the first-year college students’ social adjustment in their campus. However, it is important to realize that SNS would give a beneficial effect if students could develop a real friendship and use it for collaborative activities
Pesan dari Managing Editor
Salam sejahtera,
Untuk volume 17 edisi 2 tahun 2019, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) menerbitkan tujuh naskah dengan topik yang menyentuh berbagai fenomena di masyarakat Indonesia. Tiga naskah mendemon-strasikan perspektif dan temuan baru yang sangat relevan untuk memahami masalah sosial Indonesia seperti kemiskinan (Andayani, Hardjono, & Anggarani, 2019), kebersihan lingkungan (Afifah & Djuwita, 2019), dan sikap terhadap pajak (Susilawati & Hidayat, 2019). Dua naskah lainnya memeriksa determinan dibalik penggunaan teknologi baru yang maladaptif seperti cyberbullying (Safaria & Rizal, 2019) dan phubbing (Vetsera & Sekarasih, 2019). Terdapat pula naskah yang secara kualitatif men-jawab inkonsistensi temuan sebelumnya terkait bagaimana individu melalui keretakan keluarga (Savitri, Takwin, Ariyanto, & Noviyanti, 2019). Terakhir namun tidak kalah pentingnya, naskah oleh Rachmanputra dan Milla (2019) menemukan pola menarik terkait pemberian donasi dalam konteks relasi keagamaan di Indonesia. Pada kesempatan ini, saya akan mendeskripsikan sekilas mengenai temuan dari naskah-naskah pada volume 17 edisi 2 tahun 2019. Namun sebelumnya, izinkan saya untuk mem-berikan catatan tentang perkembangan JPS sampai pertengahan tahun 2019.
Pada pertengahan tahun 2019 ini, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) mengalami dua perkembangan yang substansial. Pertama, JPS dengan bangga mengumumkan bahwa empat akademisi bereputasi di bidang Psikologi Sosial telah bergabung dalam jajaran dewan editor. Dari Universitas Brawijaya Malang, JPS kedatangan Bapak Ali Mashuri, Ph.D yang banyak berkecimpung di riset-riset relasi inter-grup. Kita juga kedatangan Bapak Indra Yohanes Kiling dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur dengan kepakaran di bidang psikologi komunitas dan perkembangan anak dalam konteks sosial. Ada juga Bapak Mohammad Abdul Hakim, Ph.D (cand) dari Universitas Sebelas Maret, Solo yang banyak me-lakukan penelitian di bidang psikologi ulayat dan kebudayaan. Dari Universitas Airlangga, JPS keda-tangan Bapak Dr. Rahkman Ardi yang melakukan banyak penelitian di bidang perilaku online dan pengukuran psikologi. Riset-riset keempat editor JPS ini telah dipublikasikan di jurnal bereputasi seperti British Journal of Social Psychology, Group Processes & Intergroup Relations, Social Psychological and Personality Science, Disability and Rehabilitation, International Journal of Psychology, Asian Journal of Social Psychology, Journal of Happiness Studies, Journal of Information, Communication and Ethics in Society, dan masih banyak lagi.
Kedua, meski baru kembali aktif dalam dua tahun, JPS telah berhasil memperoleh akreditasi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (RISTEKDIKTI). Tidak tanggung-tanggung, JPS berhasil memegang peringkat SINTA 2 sehingga sudah bisa dianggap setara dengan beberapa jurnal-jurnal psi-kologi bereputasi di tingkat nasional lainnya. Tentu ini adalah capaian yang sangat monumental bagi JPS dan tidak bisa dipisahkan dari kerja keras yang dilakukan oleh seluruh tim manajemen JPS selama dua tahun terakhir. Meski demikian, JPS masih harus berkembang lebih jauh agar mampu meraih status sebagai jurnal bereputasi yang diakui dalam indeksasi internasional.
Dalam keluaran kedua di tahun 2019 ini, terdapat naskah-naskah di JPS yang memeriksa bagaimana konsep kemiskinan dan pajak direp-resentasikan dalam bahasa masyarakat Indonesia sehari-hari. Dalam risetnya, Andayani, Hardjono dan Anggarani berusaha memberikan perspektif baru tentang kemiskinan khususnya dalam benak mas-yarakat di Indonesia. Sebelumnya, kemiskinan seringkali hanya dipandang dalam kerangka materi. Namun dalam benak masyarakat Indonesia, kemiskinan tidak hanya direpresentasikan dalam bentuk material, melainkan juga dalam bentuk spiritual. Sementara itu Susilawati dan Hidayat berusaha menunjukkan bukti empiris tentang bagaimana Pegawai Negeri Sipil (PNS) merepre-sentasikan konsep pajak, lewat pendekatan teori representasi sosial. Usaha tersebut dilakukan karena ditemukan adanya konsistensi pada temuan-temuan sebelumnya.
Dua naskah lainnya mencoba untuk melihat determinan dibalik perilaku harmful dalam penggunaan teknologi baru seperti cyberbullying (perundungan di dunia maya) dan phubbing (mengacuhkan orang lain atau lingkungan dengan memainkan ponsel). Riset Safaria dan Rizal menemukan bahwa rendahnya skor perilaku cyberbullying diprediksi oleh tingginya skor extraversion dan tingginya skor secure attachment. Ini kontradiktif dengan temuan-temuan sebelumnya. Sementara itu riset Vetsera dan Sekarasih meng-eksplorasi kenapa phubbing dilakukan dan riset ini menghasilkan temuan yang menarik. Ada tiga tema yang muncul sebagai alasan individu melakukan phubbing yaitu obsesi terhadap ponsel, rasa takut tertinggal atau fear of missing out, dan candu terhadap permainan video dalam ponsel.
Tiga naskah berikutnya mencoba memahami proses mendasar di psikologi, yaitu persepsi. Dari riset-riset ini, persepsi masih bisa dikatakan berperan penting dalam menjelaskan perilaku pemilahan sam-pah, refleksi dalam krisis, serta bias kelompok. Riset Afifah dan Djuwita mengeksplorasi tema apa yang muncul sebagai alasan penjual kantin dalam memilah sampah. Ditemukan bahwa persepsi akan kontrol perilaku memprediksi perilaku pemilahan sampah. Sementara itu Savitri, Takwin, Ariyanto, dan Noviyanti berusaha menjawab inkonsistensi dari temuan sebelumnya terkait perspektif (orang pertama vs. orang ketiga) dalam refleksi pengalaman negatif, khususnya pengalaman retaknya rumah tangga. Dite-mukan bahwa refleksi dengan penggunaan kata ganti pelaku dan kata ganti pengamat sama-sama adaptif, namun tidak bekerja dengan mekanisme yang sama. Terakhir, eksperimen Rachmanputra dan Milla meli-hat apakah ada perbedaan skor bias kelompok saat aktivasi sudut pandang Tuhan (vs. diri sendiri) dimani-pulasi. Tidak ditemukan adanya perbedaan skor pada variabel bias kelompok. Sehingga, riset ini mem-falsifikasi temuan sebelumnya yang justru menemukan pola sebaliknya.
Naskah-naskah yang kami publikasikan dalam edisi ini merefleksikan semangat untuk mengem-bangkan ilmu psikologi sosial di Indonesia. JPS mema-hami bahwa seringkali kita tidak bisa mengaplikasikan begitu saja teori-teori yang dikembangkan di negara-negara maju. Maka dari itu, dua naskah kami mengeksplorasi konsep kemiskinan dan pajak dari bahasa yang direpresentasikan dalam kebudayaan Indonesia. Kami juga tidak lupa bahwa perkembangan zaman berdampak pada fenomena-fenomena baru yang perlu pemahaman lebih lanjut. JPS dengan bangga mempublikasikan dua naskah yang mencoba mema-hami fenomena perilaku penggunaan teknologi baru (cyberbullying dan phubbing). Akan tetapi, JPS juga terus senantiasa mempublikasikan temuan-temuan baru terkait proses mendasar di bidang pikologi sosial, seperti persepsi.
Agustus 2019
Managing Editor Jurnal Psikologi Sosial
Joevarian Hudiyana
Pesan dari Editor-in-Chief: Riset Psikologi Sosial yang Dibutuhkan Indonesia
Berangkat dari latar belakang bagaimana peranan psikologi sosial dalam penyelesaian masalah-masalah di masyarakat, pada bulan April 2019, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) dan Ikatan Psikologi Sosial (IPS) menyelenggarakan dua diskusi dengan topik “Identifikasi Kebutuhan Riset Psikologi Sosial di Indonesia”. Pertanyaan yang diajukan: Riset psikologi sosial apa yang dibutuhkan oleh Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan identifikasi kebutuhan riset psikologi sosial di Indonesia yang didasari identifikasi terhadap masalah sosial dan antisipasi kemungkinan-kemungkinan perubahan yang terjadi di masyarakat Indonesia. Tulisan ini memaparkan sebagian hasil dari dua diskusi itu tentang identifikasi kebutuhan riset psikologi sosial di Indonesia, mulai dari mengenali tuntutan yang ditujukan kepada Indonesia sebagai sebuah negara, mengenali kondisi aktual yang berlangsung, kemudian usulan riset psikologi sosial yang dibutuhkan Indonesia
Alah bisa Karena Biasa: Peran Perceived Behavioral Control dalam Perilaku Memilah Sampah di Kalangan Penjual Kantin Universitas XYZ
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku memilah sampah dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya dalam kerangka Theory of Planned Behavior (TPB). Spesifiknya, kami ingin mengeksplorasi dan menguji faktor apa dari TPB yang berperan pada penjual kantin Universitas XYZ. Studi 1 dilakukan dengan wawancara ke 6 penjual kantin. Hasil eksplorasi kualitatif menemukan bahwa penjual kantin sudah terbiasa memilah sampah. Analisis tematik menemukan bahwa perilaku ini dibentuk dari program wajib dari universitas, penilaian individu terhadap konsekuensi dan tujuan pemilahan (sikap), contoh dan teguran dari pihak yang dianggap penting atau otoritas (norma subjektif), serta kemudahan dalam memilah sampah dengan adanya pengetahuan dan penyediaan fasilitas pemilahan (perceived behavioural control). Studi 2 dilakukan untuk menguji kerangka TPB dan dimensi kepuasan fasilitas pemilahan pada pedagang kantin secara kuantitatif. Kami menyebarkan kuesioner kepada 89 penjual kantin. Hasil analisis regresi ganda menunjukkan bahwa variabel attitude dan norma subjektif secara signifikan berkontribusi 17% terhadap intensi memilah sampah dan hanya perceived behavioural control yang signifikan berkontribusi sebanyak 21% terhadap perilaku memilah sampah. Pemilahan yang sudah menjadi kebiasaan menjadi faktor yang diasumsikan menguatkan peran PBC dan meniadakan peran intensi. Peran PBC menjadi penting untuk dapat menjaga perilaku pemilahan sampah di kalangan penjaga kantin Universitas XYZ
Refleksi Diri Melewati Peristiwa Retaknya Keluarga dalam Penulisan Naratif: Studi Analisis Isi
Saat individu berusaha mengatasi dampak emosional menghadapi keluarga retak, individu mencoba untuk melakukan refleksi atas peristiwa tersebut meski kadang sulit karena individu larut pada emosi negatif (ruminasi). Namun, individu juga mampu melihat pengalamannya secara adaptif dari perspektif pengamat dengan merespon tekanan dengan berjarak, sehingga mampu memaknai atau mendapatkan solusi dari tekanan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses refleksi diri adaptif ketika merespon peristiwa retaknya keluarga dengan cara menulis narasi dengan kata ganti personal satu (perspektif pelaku) dan menulis narasi dengan kata ganti personal nama-diri (perspektif pengamat). Riset Kross dkk. (2014) menyatakan bahwa kata ganti personal nama-diri merupakan metode untuk refleksi diri yang dianggap lebih adaptif dibandingkan dengan menggunakan kata ganti personal satu (perspektif diri pelaku) yang menyebabkan efek larut pada emosi negatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Subjek penelitian berjumlah tujuh orang (5 wanita dan 2 pria). Data diperoleh dari teks tulisan subjek yang mengikuti eksperimen menulis naratif selama empat hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instruksi menulis dengan bahasa yang berjarak menggunakan perspektif pengamat, jika dibandingkan dengan instruksi menulis dengan menggunakan perspektif pelaku, pada level tertentu dapat membantu proses refleksi diri adaptif dengan mekanisme yang berbeda
Perspektif Tuhan atau Manusia? Pengaruh Sudut Pandang terhadap Penilaian Bias dalam Kelompok
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh sudut pandang terhadap pemikiran bias dalam kelompok agama. Variabel sudut pandang terbagi atas dua variasi yaitu sudut pandang diri dan sudut pandang Ketuhanan. Penelitian ini ingin melihat apakah terdapat perbedaan antara individu yang mengaktifkan sudut pandang diri dengan sudut pandang Ketuhanan terhadap pemikiran bias dalam kelompok agama. Penelitian ini memiliki disain penelitian eksperimen. Partisipan penelitian ini adalah 81 mahasiswa dan beragama Islam. Partisipan secara acak dikelompokkan berdasarkan kondisi manipulasi penelitian, yaitu sudut pandang diri dan sudut pandang Ketuhanan. Partisipan diminta untuk menentukan apakah mereka bersedia memberikan donasi kepada panti asuhan yang merepresentasikan umat Muslim atau panti asuhan yang merepresenatsikan umat agama lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pada kelompok partisipan yang mengaktifkan sudut pandang diri dengan sudut pandang Ketuhanan terhadap pemikiran bias dalam kelompok χ2 (2) = 0,240, p = 0,624 >0,05. Artinya, pada partisipan baik yang mengaktifkan sudut pandang diri maupun sudut pandang Ketuhanan, tetap memberikan donasi kepada panti asuhan yang merepresentasikan agamanya dan umat agama lain. Konteks dimana absennya keadaan konflik antar kelompok agama di Indonesia menjadi salah satu alasan yang dapat menjelaskan hasil penelitian ini
“Siapa yang Lebih Terampil Mengelola Konflik Rumah Tangga?” Perbedaan Manajemen Konflik Awal Perkawinan Berdasarkan Gender
Lima tahun awal perkawinan adalah masa yang rawan dimana pasangan suami istri sering kali mengalami konflik karena proses penyesuaian diri. Dalam hal ini, manajemen konflik rumah tangga sangat dibutuhkan. Salah satu faktor yang memengaruhi manajemen konflik rumah adalah perbedaan gender. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan manajemen konflik suami-istri berdasarkan gender. Partisipan terdiri dari 182 pasangan suami istri di Semarang dengan teknik Multiple Stage Sampling.Manajemen konflik diukur dengan skala yang disusun berdasarkan manajemen konflik yang diutarakanPruitt dan Rubin. Hasil penemuan ini menemukan bahwa terdapat perbedaan kemampuan manajemen konflik yang signifikan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan memiliki kemampuan manajemen konflik perkawinan yang lebih baik daripada yang dimiliki laki-laki. Hal ini dapat dijelaskan oleh penelitian sebelumnya yang menyebutkan dari segi peran gender, perempuan memiliki kemampuan membina hubungan interpersonalyang lebih baik daripada laki-laki
Aku Membelinya Bukan Karena Aku Suka: Bagaimana Nilai (Personal dan Berbelanja) Memengaruhi Tendensi Pembelian Impulsif
Penelitian ini bertujuan untuk memahami peranan nilai personal dan nilai perilaku berbelanja dalam menjelaskantendensi seseorang untuk membeli secara impulsif. Untuk mengembangkan penelitian sebelumnya, pada penelitian ini kami juga menambakannilai berbelanja (shopping values) dalam analisis. Penelitian dilakukan pada 164 orang (74,4% perempuan) dengan survei secara online. Data diolah dengan regresi hierarki dengan memasukkandata demografis di tahapan pertama, lalunilai personaldi tahapan kedua, dan nilai berbelanjadi tahapan kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai berbelanja memprediksi tendensi pembelian impulsif, khususnya nilai hedonic. Sementara itu, nilai personal tidak memiliki peranan signifikan dalam memprediksi kecenderungan pembelian impulsif. Analisis lebih lanjut terhadap dimensi-dimensi nilaipersonal menunjukkan bahwa hanya nilai humility (kesederhanaan) yang memprediksi tendensi dalam pembelian impulsif sedangkan untuk nilai berbelanja, sementara nilai face, hedonistic, power resource,dan power dominance tidak memiliki peranan signifikan dalam menjelaskan kecenderungan pembelian impulsif