Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
Not a member yet
165 research outputs found
Sort by
Catatan Editor mengenai edisi khusus “Tanggapan terhadap COVID-19”: Kontribusi ilmu psikologi sosial terhadap situasi pandemi
Catatan Managing Editor JPS Pengantar Vol. 19 (3) tentang Psikologi Politik dan Perubahan Sosial
“Dunia politik dunia bintang
Dunia pesta pora para binatang, asik gak asik”
(Iwan Fals, 2004)
Lagu “Asik Gak Asik” lamat-lamat terdengar di kepala saya saat membaca empat artikel bertema Psikologi Politik dalam edisi kali ini. Reduksionisme sarkastik Iwan Fals tentang dunia politik dengan fokus pada tabiat aktor politik, tentu tak begitu salah. Semangat ini mirip seperti di masa-masa awal Psikologi Politik mulai berkembang di tahun 1920-an, kajian di bidang ini juga lebih berfokus pada kepribadian dan motivasi dari pemimpin dan politisi dengan pendekatan psikoanalisis (Cottam, dkk., 2016). Seiring waktu, Psikologi Politik mulai membahas fenomena psikologis ke area politik yang lebih luas, termasuk di dalamnya tentang partisipasi publik dalam politik hingga kekerasan yang didorong oleh ideologi tertentu.
Selain empat artikel tersebut, volume 19 edisi ketiga dari Jurnal Psikologi Sosial di tahun 2021 ini juga memuat tiga naskah lain dengan topik yang tak kalah menarik yaitu stereotipe terhadap orang dengan difabilitas mental, motivasi relawan, dan pengambilan keputusan pada remaja yang terlibat prostitusi
Basic human values and political participation on the internet: Different basic motives for male and female groups
Even though participation through the internet has been popular in Indonesia, gender inequality between males and females often affecting the degree of participation. Thereby, identification of basic values that may contribute toward PPI is fundamental to be examined. This study aims to examine the correlation between political participation on the internet and basic values as the predictor in two gender groups, male and female. The result of this study revealed that males and females have different motives for participating in politics through the internet. Female tends to utilize their basic values to support their passive participation while the male is concentrated more on active participation. In conclusion, different basic values as psychological motives in PPI convey different meanings of politics in females and males that should be addressed through different actions
Model psikologi komparatif ketidaksetaraan jumlah pembagian sumber daya: Studi pada Macaca fascicularis
This study aims to promote Macaca fascicularis as a comparative psychology model in finding the root and solution of resource inequity by exploring inhibitor effect on refusal behavior, acceptance, and aggression toward the feed distribution numbers in six pairs of female long-tailed macaques. We observed the frequency of refusal behavior, acceptance, and aggression toward the distribution of red grape with a ratio of: a) 1:1, 0:2, 1:3 without environmental inhibitors (with an opened-aclyric tray) and b) ratios 1:1 with an environmental inhibitor (with a transparent restriction box) in 60 trials per condition. The sample size was N = 10. Non-parametric statistical analysis of Wilcoxon Signed-Rank Test showed that 1:1 ratio with environmental inhibitor produces a lower response of refusal behavior compared to 1:3 without inhibitor. It produced a lower response of aggression compared to other ratios. It produced a greater acceptance compared to other ratios. These long-tailed macaques do not accept the equity conditions except with environmental inhibitors. Based on this fact, we conclude that long-tailed macaques are a good spontaneous model for the comparative psychology of inequity
Peranan mediasi orang tua terhadap kecanduan internet pada remaja: Harga diri sebagai mediator
Tujuan penelitian ini adalah menguji apakah mediasi orang tua memprediksi kecanduaninternet pada remaja dan apakah hubungan ini dimediasi oleh harga diri. Harga diri diyakinisebagai salah satu faktor internal yang memediasi hubungan mediasi orang tua dan kecanduaninternet. Subjek penelitian adalah 413 siswa dari 5 Sekolah Menengah Atas di Kota Yogyakartadengan usia 13-18 tahun. Kriteria subjek penelitian, yaitu pengguna internet aktif danmenggunakan internet minimal enam jam setiap hari, dan tinggal bersama orang tua yangmenggunakan internet. Analisis data dengan analisis regresi didapatkan hasil bahwa (1) mediasiorang tua berperan secara signifikan terhadap harga diri (β= 0,131, p<0,01), (2) Harga diriberperan secara signifikan terhadap kecanduan internet (β= -0,132, p<0,01) (3) Denganmengontrol harga diri, mediasi orang tua berperan secara signifikan terhadap kecanduaninternet (β= -0,290, p<0,01). Artinya, harga diri memediasi secara parsial hubungan antaramediasi orang tua dengan kecanduan internet
Do closeness, support, and reciprocity influence trust in friendship?
Prior qualitative research by Faturochman and Minza (2014) on trust in Indonesia found that trust is influenced by relational attributes, including closeness, support, and reciprocity. This study aims to examine whether the findings of the previous research can be applied in specific forms of relationships, e.g. friendship. The survey method is used in this study, involving 97 males and 123 (N = 220) females who completed a scale related to the variables studied. We found that support and reciprocity significantly predicted the score of trust. However, closeness did not. It was also found that the effect of support is higher than reciprocity. Based on the research, we created the regression model with the contribution of support to the trust 37.8%, then reciprocity addition which was analyzed together with support gave a total contribution to the trust 41.5%. The implication of this study is further discussed
Political trust on COVID-19 handling as predictor towards optimism on the new normal situation: Integrity and benevolence rather than competence
Covid-19 has turned into a global health issue since April 2020 where WHO finally decided the spread of the virus as a global pandemic that affected more than 200 countries. Previous works have found that trust toward the government is important in adapting to the pandemic situation. However, what type of trust is more important? This study aims to investigate the role of different domains of trust towards Covid-19 treatment conducted by the Indonesian government as a predictor for the perception of the new normal situation. The result shows that higher trust towards government will lead to optimism in facing the new normal situation, in which perceived integrity and benevolence become the significant predictors toward optimism. However, we did not find the same pattern for the competence domain of trust
Karena faktor agama atau gaya berpikir? Peran fundamentalisme agama dan need for closure dalam memprediksi toleransi politik
Beberapa penelitian terdahulu telah menemukan bahwa adanya hubungan yang signifikan dan positif yang kuat antara fundamentalisme agama dan toleransi politik. Meskipun demikian, ada juga penelitian yang menunjukan bahwa hubungan fundamentalisme agama dengan toleransi politik tidak terlalu kuat karena perbedaan individual. Penelitian ini berupaya untuk menguji kembali hubungan antara fundamentalisme agama dan toleransi politik di konteks Indonesia serta melihat efek moderasi need for closure terhadap hubungan dua variabel tersebut. Fundamentalisme agama diprediksi memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan toleransi politik di mana need for closure dapat memperkuat hubungan keduanya. Untuk menguji hipotesis tersebut, penelitian korelasional dilakukan dengan merekrut 211 responden yang beragama Islam dan dijaring secara daring. Sebanyak 64,9% partisipan adalah perempuan. Rata-rata usia responden adalah 27,52 tahun (SD=11,309). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fundamentalisme agama berkorelasi negatif dan signifikan dengan toleransi politik. Need for closure memiliki kontribusi sebagai moderator terhadap hubungan fundamentalisme agama dan toleransi politik, khususnya ketika need for closure tinggi. Namun, tidak ditemukan peranan individual need for closure yang signifikan dalam menjelaskan toleransi politik. Temuan ini menunjukkan pentingnya peran faktor kognitif dalam melemahkan peranan negatif fundamentalisme agama terhadap toleransi politik
Efek mediasi totalisme Islam pada hubungan antara Social Dominance Orientation dan Right-Wing Authoritarianism terhadap sikap politik konservatisme Islam
Islam di Indonesia tidak hanya menjadi dasar aktivitas ritual agama, tetapi mulai menjadi dasar untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Studi ini berusaha menunjukkan peran dari totalisme Islam sebagai mediator dari hubungan antara Social Dominance Orientation (SDO) dan Right Wing Authoritarianism (RWA) terhadap sikap politik konservatif Muslim. Studi ini menggunakan pendekatan cross-sectional melalui survei non-eksperimental terhadap 528 mahasiswa Muslim di Jabodetabek (Mean Usia= 21,4 tahun, SD = 3,36). Kami menggunakan 4 alat ukur self-reported dengan skala likert 1-7. Teknik analisis yang digunakan adalah melalui regresi model mediasi PROCESS Macro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SDO dan RWA tidak dapat memprediksi sikap politik konservatif Muslim secara langsung (direct effect). Kami menemukan totalisme Islam secara signifikan memediasi secara penuh (fully mediation) hubungan antara SDO dan RWA terhadap sikap politik. Hasil ini menggambarkan bahwa pada mahasiswa Muslim Indonesia, sikap politik mereka cenderung dipengaruhi oleh faktor terkait agama. Dengan kata lain, agama tidak dapat dipisahkan dari ideologi politik konservatif Muslim Indonesia
Keterikatan Interpersonal pada Beberapa Etnis Besar di Indonesia
Walau bangsa Indonesia dianggap memiliki kebudayaan kolektivistik, masih belum diketahui apakah tiap-tiap kelompok etnis menekankan nilai-nilai kebersamaan dan harmoni sosial dalam level yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat keterikatan interpersonal pada lima kelompok etnis besar di Indonesia. Jumlah subjek yang terlibat adalah 1.420 orang yang berasal dari etnis Jawa subkultur Negarigung, etnis Jawa subkultur Mancanegari, etnis Madura, etnis Minangkabau, dan etnis Bugis-Makassar. Data dianalisis dengan menggunakan teknik analisis varians untuk menguji perbedaan nilai rerata dalam keterikatan interpersonal. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang berarti dalam hal keterikatan interpersonal antar etnis. Etnis Jawa Nagarigung cenderung lebih menonjolkan rasa percaya terhadap sikap dan perilaku mitra relasi dibanding etnis-etnis lainnya kecuali etnis Jawa Mancanegari. Sementara itu etnis Jawa Mancanegari cenderung lebih tinggi dalam persepsi kualitas hubungan dengan mitra relasi dibanding seluruh etnis lainnya kecuali etnis Minangkabau. Untuk dimensi kuatnya pertimbangan pihak ketiga dalam relasi, etnis Minangkabau cenderung lebih tinggi dibanding seluruh etnis lain. Dengan demikian, terdapat perbedaan antar etnis dalam menonjolkan dimensi keterikatan dalam hubungan interpersonal