Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
Not a member yet
    165 research outputs found

    Peran moral disengagement terhadap perilaku sexting pada remaja yang dimoderasi oleh jenis kelamin

    Full text link
    Tujuan penelitian adalah untuk menguji secara empiris pengaruh moral disengagement terhadap sexting dengan jenis kelamin sebagai variabel kontrol. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 223 remaja yang seluruhnya merupakan mahasiswa. Teknik analisis utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah anacova dengan melibatkan variabel jenis kelamin sebagai kontrol. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa moral disengagement dan jenis kelamin memiliki pengaruh terhadap perilaku sexting pada remaja. Artinya, perbedaan jenis kelamin mempengaruhi pula kesempatan yang berbeda untuk terlibat dalam perilaku sexting meskipun keduanya sama-sama memiliki kelonggaran kognitif dalam berperilaku yang bertentangan dengan norma. Hasil penelitian secara lebih lanjut menjelaskan bahwa moral disengagement pada partisipan laki-laki berperan lebih besar dalam membentuk perilaku individu dalam mengirimkan dan menerima pesan berisi konten seksual dibandingkan perempuan. Selain itu, secara keseluruhan, moral disengagement yang tinggi berdampak lebih besar pada perilaku partisipan dalam mengirimkan pesan berkonten seksual dibandingkan sebagai penerima. Kata kunci: sexting, moral disengagement, jenis kelami

    Korban kekerasan dalam pacaran yang sulit meninggalkan hubungannya

    Full text link
    Dating violence (KDP) is one of the most prevalent cases in Indonesia. Most victims of the cases choose to stay in the relationship and forgive their partners. This study aims to investigate whether emotional regulation strategies mediate the role of romantic attachment components on affective and cognitive empathy toward victims of dating violence. Participants in the study were victims of dating violence aged 18-29 years (N= 367) who live in Java Island. Research samples were collected using volunteer techniques (opt-in) panels where participants agreed to be involved through an invitation on a website page without being formally recruited. This study employs The Basic Empathy Scale to measure the dimensions of empathy, the Experiences in Close Relationships Inventory to measure the type of romantic attachment components, and finally Emotion Regulation Questionnaire to measure the type of emotional regulation strategies. By model 4 of Hayes's analyses, the results showed that the reappraisal strategies type mediated the role of avoidance attachment toward empathy, both affective and cognitive. As practical implications, counselors are expected to establish secure attachments, particularly with their clients who experience dating violence in order to stabilize cognitive and affective empathy so they are able to live free of violent relationships

    Pengaruh personality traits pada cognitive bias dalam pengambilan keputusan investasi saham

    Full text link
    Kepribadian dan perilaku dalam diri investor menjadi pijakan dalam pengambilan keputusan investasi untuk mencapai tujuan finansial. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan personality traits (agreeableness, extraversion, conscientiousness, neuroticism, openness) dan behavioral bias (disposition effect, herding behavior, overconfidence) pada diri investor. Pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling yaitu investor di pasar saham yang telah memiliki Single Investor Identification (SID). Pengambilan data menggunakan kuesioner yang disebarkan menggunakan Google Forms secara online. Pengujian hipotesa menggunakan Structural Equation Modelling - Partial Least Square (SEM-PLS) dengan alat SmartPLS versi 3.0. Hasil pengujian membuktikan personality traits (neuroticism) berpengaruh signifikan terhadap behavioral bias (disposition effect). Personality traits (agreeableness, extraversion, neuroticism) berpengaruh signifikan terhadap behavioral bias (herding behavior) dan personality traits (conscientiousness, openness) berpengaruh signifikan terhadap behavioral bias (overconfidence). Temuan ini membuktikan setiap individu memiliki kepribadian masing-masing sehingga dalam proses pengambilan keputusan investor secara rasional akan melakukan berbagai pertimbangan namun keputusan yang ditentukan dapat dipengaruhi faktor psikologisnya sehingga menjadi bias. Proses tersebut akan berdampak pada kegiatan transaksi di bursa saham, maka investor saat berinvestasi perlu mencari informasi, mempertimbangkan risiko dan mengambil keputusan yang efisien untuk mengurangi bias

    Refleksi Lima Tahun JPS: Mendukung psikologi sosial yang relevan bagi permasalahan sosial dalam konteks Indonesia

    Full text link
    Dalam perkembangannya selama lima tahun terakhir, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) senantiasa terus mengusahakan menjadi wadah bagi peneliti psikologi sosial di Indonesia untuk memberikan perspektif, pendekatan, serta dasar em­piris bagi perkembangan ilmu psikologi sosial itu sendiri. Untuk itu, JPS perlu terus melakukan stimulasi bagi topik-topik relevan yang sesuai dengan gejala sosial terkini sambil menantang asumsi dalam literatur ilmiah psikologi yang selama ini sudah eksis. Ini dibuktikan dengan munculnya edisi-edisi khusus dalam beberapa tahun terakhir. Edisi khusus perkembangan metodologi dalam psikologi sosial yang terbit pada tahun 2020 silam menjadi bukti bahwa berbagai pendekatan psikologi sosial memang perlu dilakukan dalam penelitian di Indonesia.Dilanjutkan dengan kemunculan edisi Respon terhadap COVID-19 pada tahun 2021 sampai dengan 2022 silam. Ini merupakan usaha JPS agar kita mem­iliki perspektif dan dasar empiris yang dikemukakan para peneliti psikologi so­sial di Indonesia. &nbsp

    Memilih bertahan: bias kognitif pada korban kekerasan dalam pacaran

    Full text link
    Konflik yang tercipta dalam pacaran tidak selamanya dapat diatasi dengan baik, dalam beberapa kasus konflik kerap diatasi dengan agresi dan kekerasan, meskipun demikian masih terdapat individu yang memilih bertahan dalam hubungan walaupun sering mendapatkan tindak kekerasan oleh pasangannya, sehingga penelitian ini kemudian bertujuan untuk mengeksplorasi alasan seseorang bertahan dalam kekerasan pada hubungan pacaran, dengan menggunakan metode kualitatif penelitian ini menempatkan lima partisipan perempuan yang mengalami kekerasan dalam berpacaran baik secara fisik, verbal, psikologis, dan seksual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat bias kognitif pada keputusan partisipan ketika memilih bertahan dalam kekerasan pada hubungan pacaran yang dijalani. Lebih lanjut lagi, penelitian ini berhasil mengidentifikasi jenis-jenis bias kognitif yang hadir pada partisipan, diantaranya; framing, emotional bias, illusion of control, loss of aversion dan regret of aversion, Khusus untuk framing hadir dan terkategorisasikan di semua partisipan penelitian.  Bias kognitif yang hadir di masing-masing partisipan membuat tindak kekerasan resisten serta berulang sehingga partisipan menjadi tidak berdaya dan terjebak dalam hubungan yang tidak sehat

    Sikap terhadap status lajang sebagai prediktor ketakutan hidup melajang pada mahasiswa dan peran moderasi usia, jenis kelamin dan status pacaran

    Full text link
    Being single hood has become a choice for young people now. Not a few young people have a positive attitude towards singlehood l and extend their singlehood. Being singlehood occurs because it is involuntary or is an voluntary. However, living permanently singlehood is still considered negative because it is less in harmony with developmental tasks and traditional societal norms. Do people who agree toward singlehood mean they are not afraid of being singlehood? The aim of this research is to determine the relationship between attitudes towards singlehood and fear of being singlehood among college students by controlling the variables of gender, age and romantic relationship status. This research uses a quantitative approach, namely correlational research using control variables. The subjects in this research were 401 college students aged 18-25 years. The online sampling method is to use a covenience sampling. Data were analyzed using partial correlation from Jamovi. Research findings show that there is a significant negative relationship between attitudes toward singlehood and fear of being singlehood in college students (r=-0.289, p<…..) by controlling of gender, age and romantic relationship status. This means that students who agree toward singlehood will be correlated with reduced fear of being singlhoode. These results also show that the fear of being singlehood among college students who are having romantic relationship is smaller than that of students who are not romantic relationship. Gender and age do not influence attitudes towards singlehood and fear of being singlehood.     &nbsp

    Innovating Community-Based Change in the Area of Weight Loss and Lifestyle Change: The Power of Ethical Relationships and Leadership

    Full text link
    Obesity is increasing around the world, with lower income individuals showing more obesity than wealthier ones in high income countries. Addressing this issue, Te Whatu Ora (Ministry of Health) and Total Healthcare (THC, a large Primary Health Organisation) worked together to put together a “unique and unsolicited proposal” (instead of competitive tender) to fund Brown Buttabean Motivation (BBM) to provide its 12 week From the Couch (FTC) lifestyle change and weight loss program more widely to a predominantly Māori and Pacific clientele in South Auckland. Results from a formative evaluation of 109 individuals struggling with obesity (BMI>=30) across 3 cohorts showed weight loss of 7.1 kg from an initial average weight of 173.1 kg, and mental health gains (i.e. only 20% showing depressive symptoms at the end compared to 60% at the start) for the 57% who completed the program. THC nurses, doctors, and health coaches contributed to and supported delivery of FTC, which followed BBM’s well-defined program of motivating lifestyle change. It was found that a supportive environment (no judgement) and peer-based education (accepting no excuses) motivated clients through not only diet and exercise training, but also through social media where Facebook groups formed helpful communities that supported face-to-face work in the gym. We close with discussion of BBM’s principles for success, and how extensible this might be to other communities

    Peran perbandingan sosial terhadap timbulnya kecemasan sosial pada mahasiswa akibat perilaku berjejaring sosial di media sosial

    Full text link
    Dampak negatif penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental semakin menjadi perhatian. Tinjauan dari penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan media sosial dengan kecemasan sosial. Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa dampak negatif penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental sebagian disebabkan oleh perbandingan sosial yang dilakukan pengguna terhadap pengguna lain. Dalam penelitian ini, penulis bertujuan untuk mengidentifikasi peran mediasi perbandingan sosial dalam hubungan antara perilaku berjejaring sosial (PBS) dan kecemasan sosial pada mahasiswa. Sebanyak 162 sampel mahasiswa berusia 18 hingga 24 tahun telah mengisi kuesioner terkait intensitas PBS aktif dan pasif, orientasi perbandingan sosial, dan gejala kecemasan sosial. Dari sekian responden, 156 diantaranya layak untuk dianalisis (73,7% perempuan, M usia= 20,1 tahun, SD usia= 1,1 tahun). Hasil analisis menunjukkan bahwa perbandingan sosial secara signifikan memediasi hubungan antara PBS baik aktif maupun pasif dan timbulnya kecemasan sosial pada mahasiswa. Lebih lanjut, hasil analisis mediasi menunjukkan bahwa timbulnya kecemasan sosial melalui perbandingan sosial lebih baik diprediksi oleh PBS pasif. Secara keseluruhan, tingkat kecemasan sosial secara signifikan mampu diprediksi oleh PBS pasif, tetapi tidak oleh PBS aktif. Implikasi dari penelitian ini adalah menambah informasi terkait mekanisme psikologis di balik munculnya kecemasan sosial akibat penggunaan media sosial

    Apakah perselingkuhan daring berkaitan dengan penonaktifan moralnya?

    Full text link
    Abstract— Infidelity is a behavior that is considered by society to be immoral, yet it is widely practiced. How the cognitive process in the immoral behavior of infidelity, especially online infidelity in the context of dating relations, is still little studied. This study aims to examine the relationship between moral disengagement and online infidelity behavior in dating relationships. Participants (N = 157, M-age = 21.3) in this study were young adults who had been or were currently dating in Jadebotabek. The method used was descriptive correlation.  Measures used were the Internet Infidelity Questionnaire and Infidelity Moral Disengagement measuring instruments, which were adapted to the context of dating relationships in Indonesia. The results showed that there is a significant positive relationship between the cognitive process of moral disengagement and attitude toward online infidelity in individuals who are in a dating relationship. Attitude toward Internet infidelity in women is higher than inmen, while moral disengagement in men is higher than in women. Attitudes toward Internet infidelity are also determined by the length of dating relationships. Keywords: Internet infidelity; Moral disengagement; Dating; Young-adult Abstrak— Perselingkuhan adalah perilaku yang secara social dianggap immoral, namun banyak dilakukan. Bagaimana proses kognitif dalam perilaku immoral perselingkuhan khususnya perselingkuhan daring dalam konteks hubungan berpacaran, masih jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan moral disengagement dengan perilaku perselingkuhan daring dalam hubungan berpacaran. Partisipan (N = 157, M-usia = 21.3) dalam penelitian ini adalah dewasa muda yang pernah atau sedang berpacaran di Jadebotabek. Metode yang digunakan adalah deskriptif korelasional.  Pengukuran menggunakan alat ukur Internet Infidelity Questionnaire dan Infidelity Moral Disengagement yang ditrans-adaptasi sesuai konteks hubungan pacaran dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang positif signifikan antara proses kognitif moral disengagement dengan sikap terhadap perselingkuhan daring pada individu yang berpacaran. Sikap terhadap Internet infidelity pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki sedangkan moral disengagement pada laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Sikap terhadap internet infidelity juga ditentukan oleh lamanya berpacaran

    Catatan dari Chief Editor: Sumbangsih jurnal psikologi sosial dalam isu modern hubungan romantis

    Full text link
    Seiring dengan perkembangan norma dalam masyarakat dan evolusi dari platform digital, cara manusia saling terhubung, menjalin relasi, berkomunikasi, dan mempertahankan hubungan juga terdampak. Begitu pula dalam hubungan romantis seperti berpacaran, berkencan, atau bahkan pernikahan. Jika dulu pasangan bertemu lewat pertemuan sosial atau pesta, perkenalan melalui keluarga, perjodohan, atau lewat jasa mak comblang, saat ini kesempatan menemui calon pasangan bisa terjadi lewat satu klik saja di media sosial ataupun lewat berbagai aplikasi kencan. Meski demikian, isu-isu seperti kekerasan dalam hubungan romantis atau trust issue antar pasangan masih menjadi topik yang penting bahkan berinteraksi dengan digitalisasi hubungan romantis yang telah disebutkan

    160

    full texts

    165

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Psikologi Sosial (JPS)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇