Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
1514 research outputs found
Sort by
Komparasi Bagian Organ Non Karkas Sapi Bali Jantan dan Betina dari Pemeliharaan Tradisional
Di Indonesia tingkat konsumsi dan penggunaan bagian non karkas ternak besar seperti sapi sangat tinggi karena menjadi bahan baku kuliner dan industry. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji seberapa besar porsi bagian organ non karkas sapi bali jantan dan betina. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Potong Hewan Kelurahan Anggoeya Kecamatan Poasia Kota Kendari. Pengamatan dilakukan pada 30 ekor sapi Bali yang terdiri dari 15 ekor jantan dan 15 ekor betina dengan kisaran umur antara 2 sampai 3 tahun dan bobot potong antara 150-300 kg. Data dianalisis uji berpasangan dengan t-student test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase organ non karkas bagian luar sapi Bali jantan (kepala, kulit, kaki belakang dan kaki depan) relatif lebih tinggi dibanding sapi Bali betina (P>0,05). Persentase organ non karkas bagian dalam (paru-paru, limpa, jantung dan usus) antara sapi jantan dan betina tidak berbeda (P>0,05) kecuali pada organ hati dan lambung terdapat perbedaan nyata (
Sifat Fisik Daging Ayam Petelur Afkir Pada Perbedaan Waktu Marinasi Menggunakan Asam Potong (Garcinia atroviridis)
Garcinia atroviridis atau asam potong merupakan rempah yang berpotensi untuk meningkatkan kualitas daging ayam petelur karena kandungan senyawa antimikroba dan asam dalam buahnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui waktu marinasi terbaik menggunakan asam potong atau Garcinia atroviridis terhadap kualitas fisik daging. Penelitian ini menggunakan Rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Pada setiap ulangan menggunakan 3 ekor daging ayam petelur. Perlakuan terdiri dari P0 : Daging ayam petelur tanpa marinasi, P1 : Marinasi daging ayam dalam infusa asam potong selama 15 menit, P2 : Marinasi daging ayam petelur dalam infusa asam potong selama 30 menit dan P3 : Marinasi daging ayam petelur dalam infusa asam potong selama 45 kemudian daging ayam disimpan selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukan, perbedaan waktu marinasi asam potong pada P0 berbeda nyata (
Introduksi Pola Pemeliharaan Sapi Potong Model Litbangtan Melalui Program Diseminasi Bibit Unggul di Jawa Timur
Pola pemeliharaan sapi potong model Litbangtan adalah sistem pemeliharaan sapi potong secara dilepas di kandang kelompok untuk meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja dan pengelolaan reproduksi sapi. Karakteristik dari sistem pemeliharaan ini adalah adanya bank pakan sumber serat sehingga peternak dapat menyediakan pakan secara ad-libitum dan di dalam kandang kelompok dimasukkan seekor pejantan unggul yang siap mengawini sejumlah sapi induk agar terjadi kebuntingan. Loka Penelitian Sapi Potong melalui program diseminasi bibit unggul PO telah menyebarkan sapi unggul tersebut untuk dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia, salah satunya Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan introduksi pola pemeliharaan model Litbangtan di kelompok tani ternak (KTT) Lembu Jaya dan Tani. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif. Skor kondisi tubuh (SKT) induk jantan di kedua KTT tersebut secara berurutan yaitu: 3 – 3,5 dan 2,75 – 3; sedangkan induk betina 3,25 – 3,5 dan 1,75 – 2. Pakan berupa jerami padi disimpan di bank untuk memudahkan ternak mengakses pakan. Perkawinan di kedua KTT tersebut dengan metode kawin alami. Jumlah kematian pedet per tahun pada kedua KTT sebesar 1 ekor. Pada kedua KTT tersebut jumlah kelahiran pedet dalam satu tahun sebanyak 6 ekor. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa penerapan pola pemeliharaan model Litbangtan mudah diterapkan di peternakan rakyat, dikarenakan tidak menganggu produktivitas ternak ditinjau dari SKT dan mortalitas pedet, selain itu dapat mengurangi curahan tenaga kerja dari peternak, karena ternak kawin secara alami
Optimasi Diversifikasi Usaha Ternak Domba Tanaman Kopi dan Tanaman Pangan, Studi Kasus di Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Taman Putri Desa Kemiri Kecamatan Panti, Kabupaten Jember Indonesia
Tujuan penelitian adalah mengoptimalkan diversifikasi usaha kebun (tanaman kopi dan pelindung), tanaman pangan (padi) dengan ternak domba di desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Pendekatan yang digunakan adalah analisis Linear Programming,dan pengamatan dilakukan dengan metode survey terhadap 119 rumah tangga petani kopi rakyat (29 rumah tangga petani yang memiliki usahatani tanaman pangan di lahan pertanian atau Model 1 dan 90 rumah tangga petani yang tidak memiliki usahatani tanaman pangan atau Model 2). Responden dipilih berdasar metode kluster dengan syarat responden adalah petani anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Taman Putri dan memiliki domba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model 1 dan Model 2 selama ini bekerja tidak optimal dan kondisi optimal petani LMDH Model 1: rerata ternak domba 1,59 ST, dengan rerata kontribusi 1,35%. Petani LMDH Model 2: rerata ternak domba 1,49 ST, dengan rerata kontribusi 71,75%
Pengembangan Pakan Berbahan Baku Lokal sebagai Strategi Pembangunan Peternakan di Era Industri 4.0
Indonesia adalah negara berkembang dimana produk domestik bruto (PDB) sector pertanian hanya 12,81% dan melibatkan 28,79% dari total tenaga kerja yang sebagian besar adalah petani kecil. Mereka kurang memiliki pengetahuan, modal dan jaringan untuk produksi sehingga memiliki daya saing yang rendah, yang berdampak pada inefisiensi biaya produksi. Peternakannya sangat tergantung pada lingkungan, perubahan iklim dapat mempengaruhi rantai pasok pakan yang berdampak pada volatilitas harga pakan. Selain itu, luas lahan yang tidak bertambah dan dengan okupasi lahan marginal di Indonesia yang menempati sekitar 60% dari total lahan menjadikan semakin berkurangnya daya dukung bagi perkembangan peternakan nasional. Tantangan semakin tinggi di era industri 4.0 atau industri disrupsi, peternakan harus dikelola secara smart dan efisien yang ditandai dengan penggunaan teknologi digital yang menghubungkan pemain peternak di semua lini rantai pasoknya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu disiapkan strategi pembangunan peternakan jangka menengah dan panjang secara berkelanjutan dengan memanfaatkan ketersediaan sumber daya lokal. Strateginya adalah eksplorasi sumber daya genetik ternak yang efisien dalam penggunaan pakan, juga pemanfaatan bahan pakan berupa produk samping tanaman maupun industri pertanian yang tidak bersaing dengan bahan pangan, serta memanfaatkan lahan marginal sebagai penghasil bahan pakan. Kebijakan ini harus didukung dengan inovasi teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dalam transportasi, logistik, komunikasi, serta produksi lewat jejaring. Peningkatan produktivitas dan produksi ternak secara berkelanjutan dan berjejaring diharapkan dapat mengatasi tantangan di bidang peternakan Indonesia melalui rantai pasok-nilai yang terintegrasi dari lahan ke pasar dengan menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas dan ilmu pengetahuan dan teknologi yang aplikatif. Pemanfaatan lahan marginal, yang umumnya ditemukan di daerah terpencil, akan meningkatkan produksi peternakan berkelanjutan, dan pada saat yang sama akan mempromosikan desentralisasi dalam pembangunan Indonesia di era industri 4.0
Tingkat Kebuntingan pada Inseminasi Buatan Menggunakan Semen Beku Mikroenkapsulasi pada Sapi Perah
Penelitian dilakukan untuk mengetahui fertilitas semen beku mikroenkapsulasi melalui inseminasi buatan pada sapi perah dengan waktu yang berbeda. Uji fertilitas dilakukan dalam dua kegiatan penelitian, yaitu IB menggunakan sinkronisasi estrus (P.I.) dan IB estrus alami (P II). Sinkronisasi estrus dilakukan menggunakan protokol prostaglandin dua kali injeksi intarmuskular selang 11 hari. Pada penelitian I.1 (P.I.1) IB semen beku kontrol (K) dan mikroenkapsulasi (M) dilakukan 24, 48 dan 72 jam setelah injeksi prostaglandin kedua tanpa memperhatikan munculnya estrus, sementara pada P.I.2 inseminasi menggunakan K dan M dilakukan pada onset estrus. Penelitian II, IB menggunakan M dilakukan saat onset estrus, sementara K dilakukan saat onset estrus dan 12 jam setelah onset estrus (SOP IB semen beku). Hasil penelitian menunjukkan tingkat kebuntingan M tidak berbeda dengan K yaitu 0%, 40%, 40% vs 0%, 33%, 41% berturut turut untuk 24, 48, 72 jam (P.I.1). Ketika IB dilakukan pada onset estrus (P.I.2) maka tingkat kebuntingan M lebih tinggi (
Analisis Ekonomi Pemberian Suplemen Herbal untuk Peningkatan Pendapatan Usaha Pembibitan Sapi Pejantan PO
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis efisiensi ekonomi dengan penambahan suplementasi daun kelor untuk meningkatkan pendapatan usaha pembibitan sapi pejantan PO. Materi penelitian menggunakan sapi penjantan PO sebanyak 8 ekor dengan rataan usia 3-5 tahun. Penelitian terdiri atas dua perlakuan yaitu perlakuan A dengan menambahkan 100 gr daun Kelor dan perlakuan B dengan menambahkan 50 gr daun Kelor. Variabel yang diukur adalah bobot badan (BB), pertambahan bobot badan harian (PBBH), konsumsi bahan kering (BK), efisiensi pakan, volume semen, dan konsentrasi semen. Sedangkan untuk parameter ekonomi yang diukur adalah pendapatan bruto, netto, B/C rasio dan R/C rasio. Hasil penelitian ini diperoleh nilai R/C rasio tertinggi terdapat pada perlakuan B atau penambahan daun Kelor sebesar 50 gr yaitu 1,13 dan nilai B/C rasio tertinggi juga pada perlakuan B yaitu 1,74, serta tingkat pendapatan per hari sebesar Rp. 256.000. Disimpulkan pemberian 50 gr/ekor/hari daun Kelor dapat meningkatkan pendapatan usaha pembibitan sapi PO pejantan
Performance of Saburai Goat Kids Based on Type of Birth and Sex in Tanggamus District, Lampung Provinc
Research was conducted to compare Saburai goat production performance of single birth type, twin, and triplets in Tanggamus District, Lampung Province. This research was conducted using a survey method and sample determination using purposive sampling method. The observed variables include birth weight and goat weaning weight with criteria: born in January-July 2017 period, goat recording, and breeder/farmer incorporated in group. The observations showed that the average birth weight of Saburai goat kids single, twin, and triplets in sequence had a value of 3.16±0.30, 2.92±0.20, 2.60±0.21 kg and weaning weight 14.01±0.64, 13.80±0.64, 12.06±0.21 kg. The conclusion was that Saburai male goat kids have superior weight compared to Saburai female goats in all three types of birth
Detection of T. evansiUsing Parasitological, Serological,and Biological Test in Cattleand Buffalo at Surra Endemic Area (District of Pemalang and Brebes), Central Java
Hemoparasitic diseases like Surra are present as major constraints to the development of the livestock production in developing countries such as Indonesia. Definitive diagnosis according to the demonstration of the parasites in the blood are not always successful as the level of parasitaemia is often low and fluctuates during the chronic stage. Besides, the clinical sign of Surra suspected animals is usually not specific in endemic area. District of Pemalang and Brebes, are the areas with the biggest population buffalo in Central Java which endemic of Surra. The aim of the study was to assess the efficacy of five diagnostic techniques by using Wet Blood Film (WBF), Microhematocrit Centrifugation Test (MHCT), Giemza Stain Thin Blood Smear (GSBS), CATT/T. evansi, and Mice Inoculation Test (MIT) in natural host of Surra in endemic area. Fifty nine buffalo and thirty three beef cattle from traditional farm raised semi intensively system was used in the study. Blood samples were collected from jugular vein of the livestock and applied for those five types of test The result of the study showed that 10 samples (9.8%) of buffalo were positive microscopically test by WBF and GSBS, and MIT. Examination by MHCT and CATT/T. evansi show 11.2 and 46% positive, respectively. The number of parasites found in the blood smears was relatively low. The order of decreasing diagnostic efficacy during this study was found as: CATT/T.evansi (46%) MHCT (11.6%) GSBS (9.8%) = WBF (9.8%) = MIT (9.8%). Detection microscopically by using MHCT and serology by CATT/T. evansi can be applied together in order to obtain a powerful diagnostic conclusion for T. evansi
Pengaruh Penambahan Beberapa Suplemen pada Pakan Lokal terhadap Produktivitas Sapi Peranakan Ongole
Pengaruh Penambahan Beberapa Suplemen pada Pakan Lokal terhadap Produktivitas Sapi Peranakan Ongol