Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
1514 research outputs found
Sort by
Riset dan Inovasi Peternakan dan Veteriner di Era Industri 4.0
End Hunger, tujuan kedua dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) adalah untuk mencapai ketahanan pangan dan peningkatan gizi dan mempromosikan pertanian berkelanjutan. Peningkatan produktivitas dan produksi juga dimaksudkan untuk membantu menjaga ekosistem, memperkuat kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim, cuaca ekstrem, kekeringan, banjir, dan bencana lainnya dan yang secara progresif meningkatkan kualitas lahan dan tanah. Revolusi Industri 4.0 (RI-4.0) didefinisikan sebagai dampak lintas sektor dari teknologi informasi dan komunikasi, khususnya Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence), Internet of Things (IoT), dan Sistem Fisik-Cyber (Cyber-Physical-Systems). Konsep RI-4.0 mempengaruhi sektor pertanian dan perubahan signifikan dalam sistem produksi peternakan, kinerja yang lebih efisien di masa mendatang. Pengembagan teknologi merupakan area penelitian utama untuk peningkatan produktivitas dan keberlanjutan peternakan. Revolusi ini didukung oleh pengembangan sistem yang mentransfer keunggulan teknologi mutakhir di mana-mana menuju sistem produksi ternak, kesehatan, dan keberlanjutan. Sistem presisi dan cerdas yang menjanjikan memberi banyak peluang bagi para petani seperti memerah susu, memberi makan, mengontrol lingkungan, kinerja reproduksi merupakan pekerjaan sehari-hari yang paling terpengaruh oleh keputusan manajemen yang benar, dan dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan ekosistem. Makalah ini memberikan ikhtisar dasar dari RI-4.0 bahwa teknologi terbaru akan secara signifikan berkontribusi dan menciptakan produksi ternak yang efisien dan mengoptimalkan sumber daya hayati untuk mencapai target kedua SDGs, dan juga memberikan tinjauan umum dengan informasi berharga tentang tantangan terbaru dan inovasi kunci yang mempengaruhi hewan peternakan, pendekatan inovatif dan aplikasi untuk peternakan
Penurunan Kandungan Protein Ransum Terhadap Respon Ayam KUB Umur 7 - 12 Minggu
Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh penurunan kandungan protein ransum terhadap respon ayam KUB umur 7 - 12 minggu. Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Juli 2019 di Desa Kalukubula, Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Sebanyak 25 ekor ayam KUB jantan dan betina dijadikan sampel yang dipilih secara acak dari total populasi 200 ekor. Penurunan kandungan protein ransum dilakukan secara bertahap setiap minggu, mulai minggu ke-7 sampai minggu ke-12. Analisis data dilakukan secara deskriptif terhadap variabel-variabel terukur meliputi bobot badan akhir (g/ekor), pertambahan bobot badan harian (g/ekor/hari) dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata bobot badan akhir ayam KUB umur 12 minggu 1.123,9 g/ekor, atau meningkat sebesar 703,9 g/ekor. Pertambahan bobot badan tertinggi sebesar 161,3 g/ekor dan rata-rata pertambahan bobot badan harian 23 g/ekor/hari diperoleh pada ayam KUB umur 11 minggu yang diberi ransum dengan kandungan protein 12% dan EM 2985 Kkal/kg. Disimpulkan bahwa penurunan kandungan protein ransum memberikan respon yang tidak maksimal terhadap pertumbuhan ayam KUB umur 7 - 12 minggu dan berdampak pada rendahnya efisiensi penggunaan ransum dengan nilai FCR yang diperoleh berkisar antara 3,7-4,4
Pengaruh Penggunaan Biacid Pada Pakan Terhadap Populasi Mikroflora Usus Halus Broiler
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan level terbaik penggunaan BIACID (acidifier dan essential oil) pada pakan terhadap mikroflora usus halus (koloni bakteri asam laktat, Escherichia coli dan Salmonella sp.) pada ileum broiler. Lima pakan perlakuan terdiri dari pakan basal (kontrol), basal diets + 0,075%, 0,100%, 0,125% dan 0,150% BIACID di berikan pada 275 ekor DOC Lohmann MB202 dari umur 1 sampai 38 hari. Ayam DOC ditempatkan secara random pada 25 petak kandang (@ 11 ekor per petak), dengan masing-masing 5 ulangan. Populasi mikroba usus di ileum diamati saat umur ayam 38 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan acidifier dan essential oil pada pakan secara nyata meningkatkan (
Pengaruh Nanokapsul Jus-Kunyit dalam Ransum terhadap Kualitas Fisik dan Kimia Daging Itik Lokal
Tingginya perlemakan dan residu antibiotik dalam daging itik menyebabkan penurunan permintaan produknya. Solusi yang ditawarkan sebagai tujuan penelitian ini adalah penambahan nanokapsul jus-kunyit dalam ransum guna meningkatkan kualitas daging itik. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap pola searah. Materi yang dipakai adalah 40 ekor itik lokal jantan umur 6-10 minggu, dialokasikan secara acak ke dalam 10 kandang kelompok terdiri dari 2 perlakuan dan 5 ulangan dengan masing-masing ulangan berisi 4 ekor. Itik dipelihara selama 4 minggu dengan diberi pakan perlakuan P1 (kontrol / ransum basal) dan P2 (ransum basal + 4% nanokapsul jus-kunyit /NK). Air minum diberikan secara ad-libitum menggunakan nipple. Variabel yang diamati meliputi kualitas daging baik secara fisik maupun kimia. Data dianalisis menggunakan T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan NK dapat menyebabkan perbedaan yang signifikan (
Perbedaan Sumber Protein Ransum Menghasilkan Fermentasi Rumen yang Efisien
Efisiensi penggunaan pakan dapat dilihat dari aspek produksi dibandingkan dengan input pakannya atau ditinjau dari proses pencernaan pakan itu sendiri. Penelitian bertujuan mengevaluasi ransum dengan sumber protein berbeda terhadap fermentasi rumen untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. Ransum terdiri dari 40% rumput dan 60% konsentrat dengan kadar protein 18,6% dan energi 2.906 kkal/kg ME. Terdapat 4 ransum percobaan yaitu RBK = mengandung bungkil kedelai; RBIS = mengandung bungkil inti sawit; RDG = mengandung daun gamal; RDK = mengandung daun kaliandra. Kecernaan fermentasi in vitro dilakukan selama 48 jam. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap yang dengan ulangan sebanyak 8 kali. Perbedaan sumber protein ransum tidak menyebabkan perbedaan (P>0,05) nilai kecernaan BK dan BO. Populasi bakteri rumen diantara keempat ransum tidak ada perbedaan (P>0,05), namun protozoa tertinggi 17,94 x 105 sel/ml dihasilkan dari ransum RBK dan paling rendah 5,63 x 105 sel/ml dihasilkan dari ransum RDK. Ransum RDK menghasilkan VFA dan C2 lebih rendah (P0,05). Produksi gas metana ransum RBK lebih tinggi (P0,05) dengan rata-rata 111,56 -121,84 ml/g. Dapat disimpulkan bahwa perbedaan sumber protein menghasilkan kecernaan yang serupa, namun menghasilkan produk fermentasi yang berbeda. Sumber protein BIS paling potensial dalam menyediakan energi dan efisien dalam pencernaan ransum
The Application of Infrared Thermography in Monitoring Reproduction Physiology Status of Ruminant Due to Heat Stress
Assessment on reproduction physiological parameters of ruminant caused by thermal stress usually uses invasive methods. However, these methods are less accurate because they are subjective, require a significant time and resources, and there are problems in animal welfare. Infrared thermography is one alternative solution that can be used. Infrared thermography is a modern, non-invasive, non-destructive, and safe technique to visualize thermal profile and surface temperature. This paper describes the application of infrared thermography in monitoring reproduction physiology status of ruminant. This method does not require physical contact and allows direct visualisation of temperature distribution so that it can be used as a reference in understanding and evaluating several parameters in livestock
Awareness of the Existence of Leishmaniasis as Protozoan Zoonosis in Indonesia
Leishmaniasis is a zoonosis, neglected and poorly reported disease, caused by the protozoan Leishmania spp, genus Leishmania, transmitted through several vector species including the sand fly (gnat) genus Phlebotomus. This disease has complex ecology and epidemiology. This paper presents about Leishmaniasis disease from epidemiological aspects and risk factors; parasites, vectors and reservoirs; diseases transmission and control. Leishmania spp. is an obligate intramacrophage protozoan, characterized by its kinetoplast, a unique form of mitochondrial DNA. Clinical manifestations of Leishmaniasis depend on interactions between the characteristics of Leishmania species and the human host immune response, resulting in a diseases spectrum ranging from local lesions on the skin to diffuse involvement of the reticuloendothelial system. There are four forms of Leishmaniasis in humans with various clinical manifestations, namely visceral Leishmaniasis (VL), also known as kala-azar (KA), Cutaneous Leishmaniasis (CL), Mucocutaneous Leishmaniasis (MCL) and Diffuse Cutaneous Leshmaniasis (DCL). Leishmaniasis caused by Leismania infantum is the most dangerous disease, but is never found in Indonesia. Leishmaniasis needs to be aware in Indonesia as tropical country that is suitable for the habitat of sand flies (Phlebotomus). The best method for controlling this disease is effective vector control and reduced contact between humans and vectors
Feeding Value of Coconut Flour either Fermented with Aspergillus nigerorSaccharomyces cerevisiae
Fermentation has long been applied to increase quality of poultry diets. A study was conducted to investigate the performance of broilers fed the fungi-fermented coconut flour (CF). The CF with or without 0.1% sodium selenite addition was fermented by either Aspergillus niger or Saccharomyces cerevisiae. A total of 120 day old chicks were used in this study. The broiler chicks were kept for three weeks and fed experimental diets (T-1: Control diet; T-2: 1% CF; T-3: 1% fermented CF with A. niger (AN); T-4: 1% fermented CF with S. cerevisiae (SC); T-5: 1% fermented CF + sodium selenite with AN; T-6: 1% fermented CF + sodium selenite with SC). Feed and water were provided ad libitum. The variables observed were: final body weight, feed intake and feed conversion ratio (FCR). The study used a Completely Randomized Design with 6 treatments and 4 replicates. The results indicate that the use of 1% pure CF did not impair the growth performance. Fermenting CF with A. niger, either with or without sodium selenite addition, negatively affected growth performance of broilers. However, fermenting CF with S. cerevisiae deteriorate body weight, feed intake and FCR. In conclusion, treatments significantly affected body weight, feed intake and FCR
AdaptationandMitigationof Animal Agricultureto Climate Change
Globally agriculture contributes around 24% of anthropogenic greenhouse gas emissions, and a large proportion of these emissions is methane stemming from enteric fermentation in ruminants. Climate change is no longer a distant threat; it appears to be happening right now and is evident by an increased frequency and severity of extreme weather events. Agricultural practices will have to change as animals must be sheltered from these events. Adaptation might be as simple as the provision of shade, but may also mean that ruminants have to adapt to different diets driven by invading species that are more suited to the changed climatic conditions. However, while adaptation will need to happen, the scientifically more challenging task will be to mitigate the effects that ruminants have on the climate. Generally, these approaches can be divided into two main areas. One is to identify nature’s solutions to lower methane emissions by screening for low methane ruminants and low methane feeds. The other is to decrease the abundance of methane producing organisms or divert their substrates into other products. Improved efficiency can be achieved by better feeding or improving animal health and fertility. Efficiency gains can lead to an overall decrease in emissions, but can also lead to an increase if the current animal numbers are maintained or increased because of improved farm practices. Adaptation to climate change is unavoidable, but there needs to be a careful balance of mitigation strategies and efficiency gains to reduce the burden of agriculture on climate change
Nematode Infection in Slaughtered Cattle in Manokwari Regency Abbatoir,West Papua Province
As part of an ongoing studies to investigate the epidemiology of gastrointestinal helminths especially nematodes infection of cattle in Manokwari Regency, we carried out a purposive sampling of cattle slaughtered in a major abattoir in Manokwari Regency, West Papua Province. This is related to the existence of abbatoir. The objective of this study was to determine the prevalence and association between animal sex and nematodes infection in slaughtered cattle in Manokwari Regency abbatoir. Fecal samples analyzed from 99 head of Bali cattle using native and floatation methods, during March and May 2018. Eggs worms were identified based on morphology, meanwhile the relationship between animal sex to prevalence of nematodes infection was analyzed by Chi-square Test. Overall, 15 head (15.2%) of the animals had been infected by nematodes. Among the cattle examined, female animals (OR = 0.535; 95% CI: 0.16-1.82) are more likely to be positive to nematodes infection. The result showed that there was no association (P0.05) between animal sex and the prevalence of nematodes infestation