Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
1514 research outputs found
Sort by
Performa Ayam KUB pada Perbibitan di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah
Usaha budidaya ayam kampung perlu dukungan ketersediaan bibit ayam dalam jumlah dan kualitas yang memadai. Ketersediaan bibit dapat mendorong pemanfaatan pelestarian ayam lokal, yang selama ini diusahakan oleh masyarakat dalam skala kecil dan menengah. Informasi tentang pertumbuhan ayam KUB yang dipelihara secara intensif tidak ada khususnya di Sulawesi Tengah, sehingga diperlukan kajian pertumbuhan ayam KUB diperbibitan agar dapat berproduksi maksimal. Kajian dilaksanakan di lokasi diseminasi yaitu di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Pengambilan data bobot badan, keseragaman dan produksi telur dilakukan pada umur ayam 0-20 minggu. Populasi ayam KUB yang digunakan sebanyak 250 ekor betina berumur 0- 23 minggu. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil menunjukkan produktivitas yang baik, rataan bobot badan ayam KUB-1 pada umur 20 minggu adalah 1.550 gr dengan tingkat keseragaman 83%. Produksi telur pertama pada umur 21 minggu dengan rataan berat telur 30,25 gr dan pada umur 23 minggu rataan berat telur adalah 37,73 gr. Disimpulkan bahwa pertumbuhan ayam KUB pada pembibitan menunjukkan produktivitas yang baik sesuai dengan juknisnya
Peningkatan Libido dan Hormon Testosteron melalui Suplementasi Herbal pada Sapi Pejantan PO
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian suplementasi herbal terhadap peningkatan libido dan konsentrasi hormon testosteron pada sapi pejantan PO. Penelitian ini dilaksanakan di kandang percobaan, Loka Penelitian Sapi Potong selama 60 hari. Materi penelitian sebanyak 12 ekor sapi jantan PO, masing-masing perlakuan empat ekor dengan kisaran umur 3-5 tahun. Perlakuan yang dilakukan, yaitu perlakuan A (Vitamin A + E + Mineral Zn), B (Vitamin A + E + Mineral Zn + 100 gram serbuk daun kelor/ Moringa oleifera), dan C (Vitamin A+ E + Mineral Zn + 50 gram serbuk daun kelor/ Moringa oleifera). Analisis data menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan One Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tampilan libido pejantan sapi PO yang diberikan suplementasi herbal menunjukkan nilai yang lebih rendah artinya sapi tersebut memiliki respon yang lebih cepat berturut turut pada perlakuan C : 100,23±160,43; A : 153,83±175,84; dan B: 295,64±243,81 dibandingkan dengan sebelum perlakuan. Konsentrasi hormon testosteron pada perlakuan A : 0,190±0,063 ng/ml; B : 0,322±0,210 ng/ml dan C:1,016±1,680 ng/ml). Disimpulkan bahwa pemberian suplemen herbal dengan formula C meningkatkan libido dan konsentrasi hormon testosteron sapi pejantan PO
Mitigasi Gas Rumah Kaca Subsektor Peternakan di Kabupaten Subang, Jawa Barat
Indonesia memiliki komitmen untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% dengan upaya sendiri, dan 41% dengan dukungan Internasional, sampai dengan tahun 2030. Rencana Aksi Nasional GRK (RAN GRK) dari Bapenas melakukan pemantauan, evaluasi dan pelaporan terkait aksi mitigasi dari setiap sektor. Program nasional perbaikan pakan untuk sapi dilakukan sejak tahun 2011 di beberapa provinsi termasuk Jawa Barat. Subang sebagai salah satu dari 14 kabupaten yang mendapat program pakan suplemen sejak tahun 2011-2016. Tujuan kegiatan ini adalah mengevaluasi program mitigasi GRK di 5 kecamatan di Subang, Jawa Barat dengan melakukan wawancara kepada peternak yang telah mengimplementasikan program tersebut. Penghitungan besarnya penurunan emisi metana dilakukan dengan menggunakan dua metode, yaitu Tier 1 dan Tier 2. Hasil menunjukkan bahwa sekitar 59,07% dari populasi ternak yang ada telah mendapat perlakuan perbaikan pakan melalui pemberian konsentrat dan leguminosa. Di kecamatan Cibogo 99,29% peternak yang memelihara sapi potong sudah menerapkan program perbaikan pakan, sedangkan hanya 35,52% peternak di kecamatan Tanjungsiang yang mengikuti program tersebut. Hal ini menunjukkan besarnya variasi dalam mengadopsi program tersebut oleh peternak di setiap kecamatan. Aksi mitigasi perbaikan pakan dengan menggunakan konsentrat dan daun leguminosa dapat menurunkan emisi gas metana enterik dari sapi potong sebesar 0,6631 CO2-eq ton/tahun (dihitung dengan metode Tier 1) dan sebesar 0,0545 CO2-eq ton/tahun (dihitung dengan metode Tier 2). Dapat disimpulkan bahwa program nasional pemberian pakan suplemen (konsentrat dan leguminosa) dapat menurunkan emisi gas metana dari peternakan
Pengaruh Paritas yang Berbeda terhadap Produktivitas Induk Kambing Kacang di Desa Sawohan Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo
Kambing kacang merupakan salah satu jenis kambing di Indonesia mampu berproduksi pada lingkungan yang kurang baik dan tergolong ternak dengan prolifikasi sedang. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui produktivitas induk kambing Kacang berdasarkan paritas yang berbeda di Desa Sawohan Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Kambing Kacang yang digunakan dalam penelitian ini adalah 204 ekor. Variabel produktivitas induk yang diamati meliputi litter size, lama kebuntingan, mortalitas, waktu kosong dan kidding interval. Variabel diamati pada paritas ke-1 hingga paritas ke-8. Data dikumpul berdasarkan recording dan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan nyata ditemukan pada litter size dan mortalitas Kambing Kacang pada paritas yang berbeda (P0,05). Produktivitas tertinggi induk Kambing Kacang terdapat pada paritas ke-5
Identifikasi Keragaman Gen Follicle Stimulating Hormone Sub-Unit Beta (FSH-β) pada Tiga Sumber Daya Genetik Sapi Lokal Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaman gen Follicle Stimulating Hormon Sub-unit Beta (FSH-β) pada tiga jenis sapi lokal Indonesia, yaitu Sragen, Jabres, dan Donggala. Sampel darah yang digunakan berjumlah 63 sampel yang berasal dari tiga daerah, yaitu Kabupaten Sragen (15 sampel), Brebes (37 sampel), dan Donggala (11 sampel). Amplifikasi gen FSH sub-unit beta dilakukan dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR), sedangkan untuk identifikasi keragaman dilakukan menggunakan metode PCR-Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP). Hasil penelitian gen FSH-β ditemukan dua alel (B dan A) dan dua genotipe (BB dan AB). Frekuensi alel tertinggi yaitu alel B ditemukan dengan frekuensi tidak lebih dari 0,99. Frekuensi alel B yang ditemukan pada sapi Sragen, Jabres, dan Donggala di Kabupaten Sragen, Brebes, dan Donggala dengan nilai frekuensi alel B masing-masing sebesar (0,57; 0,97; dan 0,86) sedangkan frekuensi alel A sebesar (0,43; 0,03; dan 0,14). Pada populasi sapi Sragen persentase genotipe AB lebih tinggi dibandingkan BB dengan masing-masing persentase (87% dan 13%). Namun sebaliknya sapi . Brebes dan sapi Donggala mempunyai persentase genotipe BB lebih tinggi dibandingkan AB. Pada populasi sapi Brebes persentase genotipe BB 65% dan AB 35%, sedangkan persentase genotipe sapi Donggala BB 73% dan AB 27%
Status Fisiologis Kambing Peranakan Etawah Laktasi yang Diberi Ransum Berbasis Ampas Kurma
Pakan dengan sumber energi yang berbeda dapat mempengaruhi kondisi fisiologis kambing PE karena perbedaan proses fermentasi atau metabolisme pakan dalam tubuh ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kualitas pakan terhadap respon fisiologis kambing peranakan etawah yang diberi ampas kurma. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 9 ekor kambing perah laktasi yang telah sekali beranak. Ransum perlakuan yang digunakan terdiri atas T0= 35% hijauan + 65% konsentrat, T1= 35% hijauan + 55% konsentrat + 10% ampas kurma, dan T2= 35% hijauan + 45% konsentrat + 20% ampas kurma. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Parameter yang diamati adalah respon fisiologis meliputi suhu rektal, frekuensi respirasi, dan denyut nadi, Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi ampas kurma tidak berpengaruh terhadap respon fisiologis ternak. Respon fisiologis kambing PE hasil penelitian dalam kondisi normal. Rata-rata denyut nadi, frekuensi respirasi dan suhu rektal kambing PE berturut-turut 27,27-58,13 kali/menit, 81,11-91,05 kali/menit dan 38,62-39,04°C. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ampas kurma dapat dijadikan sebagai alternatif pakan kambing perah dengan penggunaan hingga 10% di dalam ransum
Kinerja Finansial Manajemen Perkawinan Inseminasi Buatan dan Kawin Alam pada Ayam Lokal
Kinerja finansial pada ayam lokal dapat dilakukan untuk mengetahui sejauh mana usaha yang dilakukan mampu menghasilkan keuntungan yang prospektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja finansial dari manajemen perkawinan inseminasi buatan (IB) dan kawin alam (KA) pada ayam lokal. Penelitian dilaksanakan mulai 27 September-21 November 2018 di Balai Penelitian Ternak, Ciawi dan di Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei terstruktur. Penentuan sampel responden dilakukan secara purposive berdasarkan kriteria bahwa sampel merupakan pelaku usaha pembibitan dan penetasan ayam lokal serta menerapkan manajemen perkawinan IB dan/atau KA. Data dianalisis secara ekonomik dengan pengukuran kriteria kelayakan menggunakan Revenue Cost Ratio (R/C ratio). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja finansial usaha pembibitan dan penetasan ayam lokal dengan manajemen perkawinan menggunakan IB metode pellet, IB semen segar, dan KA hasilnya sama-sama memberikan keuntungan dan layak untuk diusahakan dengan nilai R/C > 1. Pelaksanaan IB akan menghemat pemeliharaan pejantan, kandang pejantan, dan biaya pakan pejantan dibandingkan dengan KA secara terkontrol dan intensif. Di sisi lain, pelaksanaan IB membutuhkan tenaga kerja tambahan yang terampil. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh informasi bahwa penerapan IB baik menggunakan semen segar maupun semen beku dalam usaha pembibitan dan penetasan ayam lokal menguntungkan, sehingga dapat dijadikan alternatif pilihan dalam manajemen perkawinan ayam lokal
Pengaruh Musim Terhadap Pertumbuhan PraSapih Kambing Boerka F1 di Stasiun Percobaan Loka Penelitian Kambing Potong
Produktifitas Kambing Boerka dipengaruhi oleh dua faktor yang sangat penting yaitu genetik dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengetahui pertumbuhan pra sapih kambing Boerka yang dipelihara di Loka Penelitian Kambing Potong, Sumatera Utara yang memiliki musim kemarau dan musim penghujan. Penelitian ini menggunakan kambing Boerka F1 lahir di tahun 2018 sampai dengan 2019 dengan rentan umur 0 bulan sampai dengan 6 bulan. Jumlah kambing yang digunakan berjumlah 156 ekor. Variabel yang diamati adalah bobot lahir, bobot sapih 3 bulan dan PBBH. Pengolahan data dilakukan dengan pengelompokan data berdasarkan waktu kelahiran, data yang dikelompokkan dianalisa dengan one way Anova. Kelahiran di Bulan Maret sampai dengan Juli dikelompokkan dalam musim kemarau, dan kelahiran di Bulan Agustus sampai dengan Desember merupakan musim penghujan. Hasil pengamatan menunjukkan musim tidak berpengaruh nyata terhadap bobot sapih dan bobot lahir (p>0,05). Laju pertumbuhan anakan kambing Boerka juga tidak dipengaruhi oleh musim (P>0,05), akan tetapi hasil rataan PBBH pada musim hujan lebih tinggi daripada saat musim kemarau, yaitu 69.89±22.54 g/ekor/hari
Kekuatan Sumber Daya (Ekonomi, Lingkungan dan Sosial) dan Pengaruhnya terhadap SDM Peternak dan Kelembagaan Peternak Sapi Perah
Sumber daya usaha ternak merupakan suatu nilai potensi yang dimiliki oleh peternak untuk usaha ternaknya. Sumber daya tersebut terdiri dari sumber daya yang dapat diukur dan yang tidak dapat diukur, sehingga berdasarkan sifatnya sumber daya dapat berubah sesuai dengan kondisinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kekuatan sumber daya usaha ternak sapi perah dan menemukan pengaruhnya terhadap SDM dan kelembagaan peternak sapi perah. Variabel penelitian terdiri dari sumber daya ekonomi (X1), sumber daya lingkungan (X2), sumber daya sosial (X3), sumber daya manusia (Z1), dan kelembagaan peternak sapi perah (Y1). Penelitian dilakukan di KUB (Kelompok Usaha Bersama) Tirtasari Kresna Gemilang Kabupaten Malang. Analisis data menggunkana metode PLS (Partial Least Square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber daya ekonomi berpengaruh positif signifikan terhadap kelembagaan peternak sapi perah sebesar 0,306, namun sumber daya lingkungan berpengaruh negatif signifikan terhadap kelembagaan peternak sapi perah sebesar -0,266. Sumber daya sosial berpengaruh negatif signifikan terhadap SDM peternak sapi perah sebesar -0,319, namun berpengaruh positif signifikan terhadap kelembagaan peternak sapi perah. Kesimpulan penelitian ini yaitu SDM peternak dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi, lingkungan, dan sosial sebesar 18,9%, dan kelembagaan peternak sapi perah dipengaruhi oleh sumber daya ekonomi, lingkungan, sosial, dan SDM sebesar 20,6%
Perbandingan Tampilan Produktivitas Sapi Peranakan Ongole dengan Limousin-Peranakan Ongole di Kabupaten Tuban, Jawa Timur
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan ukuran tubuh dan reproduksi sapi PO dan LimPO di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi pemerintah setempat dan bahan rujukan atau acuan penelitian berikutnya. Penelitian dilakukan dengan metode survei pada 81 peternak sapi PO dan 63 peternak sapi LimPO di tiga kecamatan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur pada bulan April hingga Mei 2019. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan diuji dengan uji-t. Kinerja reproduksi induk sapi PO dan sapi LimPO adalah PPM (post partum mating): 5,48±2,33 bulan dan 5,59±2,06, S/C (service/conception): 2,38±0,86 kali dan 2,60±0,81 kali dan CI (calving interval): 16,94±2,19 bulan dan 17,19±2,33 bulan. Ukuran tubuh sapi betina PO dan LimPO adalah panjang badan (PB): 127±11,40 cm dan 137,17±5,56 cm, tinggi gumba (TG): 121,00±8,64 cm dan 126,67±8,22 cm, dan lingkar dada (LD): 153,00±8,47 cm dan 167,17±11,89 cm. Ukuran tubuh sapi jantan PO dan LimPO adalah PB: 137,67±10,28 cm dan 146,00±5,58 cm, TG: 137,00±6,54 cm dan 137,25±5,51 cm, dan LD: 174,33±12,28 cm dan 187,75±10,17 cm. Kesimpulan kinerja reproduksi sapi betina PO dan LimPO berbeda tidak nyata (P>0,05), ukuran tubuh sapi LimPO memiliki ukuran lebih besar dari PO (