Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
1514 research outputs found
Sort by
Respon Fisiologis dan Lama Pemulihan pada Kambing Kejobong Jantan Muda dan Dewasa Akibat Transportasi
Penelitian ini bertujuan untuk menilai perubahan kondisi fisiologis dan lama pemulihan kambing Kejobong muda dan dewasa akibat transportasi. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 8 ekor kambing Kejobong muda (4 bulan, bobot badan 12,49 ± 1,08 kg) dan 8 kambing Kejobong dewasa (8 bulan, bobot badan 18,21 ± 1,70 kg). Penelitian ini menggunakan metode Independent Sample Comparison, yaitu membandingkan 2 kelompok umur kambing Kejobong jantan dan di uji secara deskriptif. Kambing tersebut diangkut dari Purbalingga ke Semarang (jarak 160 km). Sebelum, selama dan setelah proses transportasi, dilakukan pengamatan terhadap kondisi fisiologis kambing, meliputi denyut nadi, frekuensi nafas dan suhu rektal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi denyut nadi dan nafas pada kambing dewasa (98 kali/menit dan 37 kali/menit) lebih tinggi daripada kambing muda (89 kali/menit dan 27 kali/menit), sedangkan kambing muda memiliki suhu rektal lebih tinggi setelah 10 jam transportasi (39,2 °C vs 39,0 °C). Disimpulkan bahwa denyut nadi dan nafas kambing dewasa mengalami peningkatan selama transportasi, sedangkan suhu rektal kambing muda mengalami penurunan akibat dari transportasi. Waktu pemulihan kambing dewasa lebih pendek daripada kambing muda
Kinerja Produksi dan Reproduksi Ayam KUB di Peternak Pembibit
Bibit ternak unggul hasil penelitian perlu diperbanyak untuk dapat dimanfaatkan masyarakat secara mudah dan berkelanjutan. Upaya perbanyakan bibit ternak unggul hasil penelitian khususnya ayam kampung unggul Balitbangtan (KUB) dapat dilakukan melalui kerjasama dengan mitra swasta atau kelompok peternak pembibit. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan pengamatan kinerja produksi dan reproduksi ayam KUB yang di pelihara peternak untuk tujuan pembibitan. Sebanyak 100 ekor pullet dari ayam KUB-1, umur 14 minggu (80 betina dan 20 jantan) digunakan dalam penelitian. Pengamatan dilakukan terhadap produktivitas ayam. Rata-rata bbot badan ayam betina dan jantan umur 22 minggu adalah 1.561,27 g dan 2.074,53 g, sedangkan pada umur 29 minggu adalah 1.681,53 g dan 2.370,77 g. Umur produksi telur mencapai 10% dicapai pada umur 26 minggu. Rataan bobot telur pada saat produksi 35% (umur ayam 29 minggu) adalah 38,56 g/butir, dengan daya tetas 75%. Hasil kinerja produktivitas ayam KUB tersebut masih mendekati kinerja reproduki ayam KUB yang dipelihara di Balitnak
Uji Aktivitas Antibakteri Coliphage Lambda terhadap Escherichia coli O157H7 secara in vitro
E. coli O157H7 adalah bakteri patogen asal hewan yang dapat menyebabkan foodborne disease pada manusia. Gejala spesifik dari penyakit ini adalah diare berdarah dan dapat berakibat fatal karena dapat menimbulkan kematian. Salah satu alternatif pengobatan selain menggunakan antibiotik adalah dengan memanfaatkan bacteriophage. Coliphage adalah bacteriophage (virus) yang menginfeksi secara spesifik E. coli O157H7 dan melisiskan atau membunuhnya. Terdapat 3 tipe coliphage asal Indonesia yaitu T4, Lambda dan HK. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan uji aktivitas coliphage Lambda dengan menentukan KHM dan MOI coliphage Lambda terhadap E. coli O157H7 serta waktu lisis E. coli O157H7. Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) coliphage Lambda ditentukan dengan metode dilusi cair. Nilai Mulplicity of infection (MOI) coliphage Lambda ditentukan melalui perhitungan konsentrasi stok coliphage Lambda dibagi dengan konsentrasi E. coli O157H7. Coliphage Lambda memiliki KHM sebesar 4,0333 104 35118845,84 PFU/ml, MOI coliphage Lambda sebesar 1,4078 x 104 serta E. coli O157H7 sudah lisis dalam waktu empat puluh menit setelah diinfeksi oleh coliphage Lambda. Dapat disimpulkan bahwa coliphage Lambda dapat dijadikan sebagai pengganti antibiotik dan pengendalian resistensi antibiotik di Indonesia
Acetoanaerobium noterae andSaccharomycescerevisiaeas PotentialProbioticsof Green House Gas Reducer
One way to reduce methane production from the ruminant digestive tract is by microbial manipulation in the rumen. Development of probiotic products that able to inhibit methane production in the ruminant digestive tract is expected to increase ruminant productivity. The aim of this study was to test the potency of Acetoanaerobium noterae and Saccharomyces cerevisiae as a methane-reducing probiotic from the digestive tract of ruminants by in vitro. Three treatments: P1 (control treatment), P2 (P1 + A. noterae) and P3 (P1 + A. noterae and S. cerevisiae) were carried out. Parameters measured include degradation of dry matter and organic matter, pH, total gas production, concentration of CH4 and CO2, C2, C3, C4, and C2/C3. The study used completely randomized design. Data were analyzed using ANOVA and Duncan Test was done on the parameters that affected by the treatment. The addition of probiotics gave a significant effect on pH, C2, C3, and C4 concentration. The addition of the mixture of A. notarae and S. cerevisiae decreased production of CH4 and CO2. The addition of the mixture of A. noteraeand S.cerevisiaeaffectedpH,C2,C3 but notCH4 production
Konsentrasi Testoteron dan Luteunizing Hormone Sapi PO Jantan Muda pada Model Kandang yang Berbeda terhadap Percepatan Pubertas
Konsentrasi Testoteron dan Luteunizing Hormone Sapi PO Jantan Muda pada Model Kandang yang Berbeda terhadap Percepatan Puberta
Comparison of Two Nitrogen Sources for Aspergillus spp. Phytase Production
The study on phytase enzyme production of the three Aspergillus spp. : Aspergillus ficuum NRRL 3135 (AF1), NRRL 320 (AF2) and A. niger (AN) had been conducted. Two nitrogen sources (ammonium and sodium nitrates) were used in the medium and two working incubation temperatures (30 and 37OC) were applied. The aimed of this study was to obtain the low-cost nitrogen source for optimum phytase production. All fungi were incubated in media M0 and M1 for 12 days for enzyme production. Analysis for enzyme activities, protein and sugar content and biomass production were performed at day 2,3,4,6,8,and 12 days of incubation periods. Phytase activity was lower in sodium nitrate medium for all Aspergillus spp than in ammonium nitrate medium (2.39, 1.65, 1.65 vs 4.19, 2.22, 2.22 U/ml for AF1, AF2 and AN respectively) at 30OC of incubation temperature. These enzyme activities were reached for 8 days incubation time. The phytase activities of all Aspergillus spp at 37OC incubation temperature were 2.07, 1.24, 1.36 vs 4.80, 2.04, 2.34 U/ml for sodium nitrate vs ammonium nitrate medium and reached at 4 days incubation period for both A. ficuum and 3 days incubation period for A. niger in the M0 medium. It was clearly shown that incubation temperature at 37OC shortened the fermentation period to reach optimal enzyme activity and ammonium nitrate produced higher enzyme activity when compared with sodium nitrate medium
Karakteristik Semen Sapi Peranakan Ongole (PO) pada Tingkat Umur yang berbeda di Loka Penelitian Sapi Potong
Salah satu kunci keberhasilan kebuntingan adalah kemampuan sapi jantan mengawini sapi induk. Sapi jantan sebagai sumber semen harus memiliki kualitas semen yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik kualitas semen sapi PO jantan pada berbagai umur. Materi yang digunakan sebanyak 25 ekor sapi jantan yang terbagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok I (I-0/pubertas; kelompok II (I-1); kelompok III (I-2); kelompok IV (I-3) dan kelompok V (I-4). Kegiatan ini dilaksanakan dikandang percobaan Loka Penelitian Sapi Potong. Metode penampungan semen dengan elektroejakulator. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif.. Hasil penampungan menunjukkan rata-rata sapi jantan PO yang berumur I-1 hingga I-3 mengalami kenaikan persentase motilitas individu, konsentrasi dan persentase viabilitas, selanjutnya mulai menurun pada umur I-4. Dapat disimpulkan bahwa karakteristik kualitas semen sapi PO jantan pada umur I-2 dan I-3 mempunyai fertilitas yang baik yaitu motilitas individu 60% dan viabilitas 70%. Pemilihan sapi jantan PO sebagai pemacek dapat dilakukan saat umur 2,5-3,5 tahun (I-2 sampai I-3)
Investigasi Surra pada berbagai jenis ternak yang terinfeksi Trypanosoma evansi secara alami di Propinsi Banten
Surra yang disebabkan oleh protozoa darah Trypanosoma evansi masih menjadi permasalahan di sektor peternakan. Sejauh ini belum pernah dilakukan studi komprehensif surra dengan melibatkan berbagai jenis ternak yang diduga berperan sebagai reservoir di Propinsi Banten. Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan investigasi surra pada berbagai jenis ternak di Propinsi Banten dengan menggunakan berbagai metode diagnosis. Sebanyak 228 sampel ternak yang terdiri dari kerbau, sapi, kambing dan domba digunakan pada studi ini yang dikoleksi dari 12 kecamatan dan tersebar di 4 kabupaten di Propinsi Banten. Sampel diperiksa dengan menggunakan empat metode, yaitu ulas darah, micro-haematocrite centrifugation test (MHCT), serologis (Card Agglutination Test for Trypanosomiasis ;CATT/T. evansi) dan Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil studi menunjukkan bahwa 2,9% sampel memberikan hasil positif secara morfologi dengan metode ulas darah dan MHCT. Uji serologis (CATT/T. evansi) memberikan hasil seropositif sebesar 29,39% sedangkan pada uji PCR menunjukkan data 25,64% sampel yang diuji memberikan hasil positif berdasarkan primer Internal Transcribed Spacer 1 (ITS1) dan Trypanosoma brucei 1/2 (TBR1/2). Seluruh sampel domba dan kambing menunjukkan hasil negatif terhadap infeksi T. evansi. Diantara kabupaten yang diinvestigasi, prevalensi surra tertinggi ditemukan di Kabupaten Tangerang dan Pandeglang. Ditinjau dari jenis ternaknya, jumlah kerbau yang terinfeksi T. evansi lebih banyak dibandingkan dengan sapi, kemudian diikuti dengan kambing dan domba. Hasil ini mengindikasikan bahwa keberadaan ternak di wilayah Propinsi Banten berpotensi sebagai reservoir surra
Studi Metaanalisis Performa Pertumbuhan Kambing Boer dan Hasil Persilangannya di Beberapa Negara
Studi metaanalisis bertujuan mengevaluasi keunggulan pertumbuhan kambing Boer dan hasil persilangannya yang telah dilaporkan dari berbagai penelitian di beberapa negara. Sebanyak 11 hasil penelitian dengan 14 perlakuan pertumbuhan kambing Boer telah dikumpulkan dari beberapa website yang menyediakan database sains. Analisis keragaman pertumbuhan bobot badan dilakukan menggunakan pendekatan general linear model (GLM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi genetik kambing Boer dan dan hasil persilangannya dapat tumbuh dengan baik (
Karakteristik Berbagai Konsentrasi Bovine Serum Albumin (BSA) dan Kombinasinya sebagai Kolom Albumin untuk Media Sexing Sperma
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik bovine serum albumin (BSA) seperti pH, densitas dan viskositas pada berbagai konsentrasi dan mencari kombinasi konsentrasi BSA yang memadai sebagai media sexing atau kolom albumin untuk media sexing sperma. Penelitian ini menggunakan empat kombinasi konsentrasi BSA pada kolom albumin sebagai fraksi atas dan fraksi bawah terdiri dari 3%-6%, 4%-8%, 5%-10%, dan 6%-12% yang diidentifikasi karakteristiknya seperti pH, densitas dan viskositas. Setiap konsentrasi BSA diuji sebanyak tiga kali sebagai ulangan. Data dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH dari beberapa konsentrasi BSA yang diuji berkisar antara 7,30-7,57, hal ini menunjukkan pH dalam kisaran normal. Nilai viskositas dan densitas meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi BSA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi BSA 5% pada lapisan atas dan 10% pada lapisan bawah menghasilkan nilai pH yang hampir sama dibandingkan kombinasi konsentrasi BSA lainnya, sehingga sangat mendukung kualitas dan viabilitas sperma. Disimpulkan bahwa kombinasi konsentrasi BSA yang paling efektif sebagai media sexing sperma adalah 5% pada fraksi atas dan 10% pada fraksi bawah