Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
1514 research outputs found
Sort by
Deteksi Penyakit Bakteri dan Parasit pada Ikan Gabus (Channa striata) di Lahan Rawa Kalimantan Selatan
Ikan gabus (Channa striata) adalah jenis ikan lokal yang telah beradaptasi dengan lingkungan rawa dan dibudidayakan di lahan percontohan (Demonstration farming) di Kalimantan Selatan. Kendala utama dalam budidaya ikan gabus adalah masalah pH air yang rendah dan infeksi bakteri dan parasit yang menurunkan produktifitas ikan gabus. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit bakteri dan parasit yang sering menginfeksi ikan gabus di lahan rawa untuk mencegah penyebaran dan penularan penyakit pada populasi ikan di sekitarnya. Sebanyak 13 ekor ikan gabus umur sekitar dua bulan dikoleksi dari tempat pembudidayaan ikan gabus di lahan rawa. Sampel ikan dilakukan pemeriksaan patologi secara makroskopik dan mikroskopik, kultur bakteri dan pemeriksaan parasit. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Gejala klinis dan patologi anatomi menunjukkan lesi berupa nodul-nodul yang tersebar di seluruh permukaan tubuh ikan (kulit dan sisik) dan pada insang beberapa ikan. Tidak ada kelaian patologis pada organ visceral ikan. Pemeriksaan mikroskopik kulit terlihat sel debris dan koloni bakteri. Insang mengalami perdarahan dan hipertropi disertai infestasi cacing pada usus. Hasil kultur teridentifikasi bakteri Aeromonas hydrophila dan Flavobacterium sp. Hasil pemeriksaan parasit secara mikroskopis ditemukan infestasi Gyrodactylus sp dan Epistylis sp
Analisis Performa Produksi Sapi Potong di Kawasan Sumber Ternak (NTB, NTT dan Jatim) Pensuplai Wilayah Konsumen
Suplai utama kebutuhan daging nasional ditopang oleh daging sapi yang selama ini masih belum terpenuhi dan masih impor. Upaya yang harus ditempuh adalah pengembangan di kawasan sumber ternak agar mampu mensuplai wilayah konsumen secara berkelanjutan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui performa produksi sapi potong di kawasan sumber ternak, sebagai acuan rekomendasi kebijakan kedepan. Penelitian tentang performa produksi sapi potong dilakukan di 3 kawasan terpadat (NTB, NTT dan Jatim) dengan sistem managemen yang berbeda (intensif dan ekstensif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa. Struktur populasi tertinggi adalah sapi betina dewasa karena sistem usaha adalah pola pembibitan (CCO) dengan skala yang terbatas. Bangsa sapi yang diusahakan di NTB dan NTT adalah sapi Bali, sedangkan di Jatim adalah sapi PO, Madura dan sapi persilangan (tipe besar). Panampilan produktivitas ditunjukkan S/C yang masih tinggi,. Mortalitas anak masih tinggi di NTT (30%), di NTB dan Jatim sekitar 10-15%, sebaliknya persentase kebuntingan di NTT paling tinggi (80%) dibanding di NTB dan Jatim masing-masing 73%. Hasil perhitungan kapasitas pasokan tertinggi adalah di Jatim disusul di NTB karena ada program Bumi Sejuta Sapi (BSS), dan NTT terendah yang diperhitungkan berdasarkan Laju Reproduksi Induk (LRI). Standing stock populasi di NTT dinyatakan “sangat kritis” tercatat replacement ternak sangat rendah (3,27%), NTB 8,77% (sedikit kritis) dan di Jatim 13,17% karena tercatat populasi sapi potong tertinggi secara nasional. Pengembangan sapi potong di kawasan sumber ternak dalam penyediaan pasokan pada konsumen perlu dipertahankan. Diperlukan langkah kebijakan untuk mempertahankan keberlanjutan (sutainability) populasi dengan pemantauan produktivitas ternak
Pengaruh Penambahan Maltosa Pada Pengencer Berbasis Lesitin dalam Mempertahankan Kualitas Semen Cair Kambing
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penambahan maltosa pada pengencer berbasis lesitin dalam mempertahankan motilitas, viabilitas dan daya hidup spermatozoa kambing. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 kali ulangan dari 6 kali ejakulat dari kambing yang sama. Semen segar diperiksa secara makroskopis dan mikroskopis kemudian dilanjutkan dengan tahap pengenceran. Terdapat 4 kelompok perlakuan, yaitu Andromed (kontrol), Andromed + 0,2% maltosa, Andromed + 0,4% maltosa dan Andromed + 0,6% maltosa. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah motilitas spermatozoa, viabilitas dan presentase membran plasma utuh (MPU). Evaluasi dilakukan dari hari ke-0 hingga hari ke-4 dan penyimpanan dalam lemari pendingin dengan suhu 4 0C. Analisis data yang dilakukan adalah Analisis Ragam atau Analysis of Variant (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok Andromed + 0,4% maltosa mampu mempertahankan motilitas, viabilitas dan membran plasma utuh (46,67 ± 8,14; 53,33 ± 1,75; 54,67 ± 5,50) hingga hari ke-4 penyimpanan dan berbeda nyata (
Performa Hibrida Kelinci Hyla dan Hycole
Penelitian ini bertujuan melakukan karakterisasi produksi dan reproduksi kelinci hibrida Hyla (CABCCD), hibrida Hycole (PAPB) dan NZW (NN). Penelitian dilakukan di laboratorium ternak kelinci di Balai Penelitian Ternak. Kelinci hibrida Hycole (PAPB), kelinci hibrida Hyla (CABCCD) dan NZW (NN) yang digunakan masing-masing sejumlah 30 ekor betina dan 6 ekor jantan. Peubah yang diamati adalah performa induk (reproduksi induk dan bobot induk mingguan) dan performa anak (pertumbuhan mingguan sampai berumur 20 minggu). Data dianalisis menggunakan model linear umum bantuan program SAS. Produktivitas induk kelinci hibrida tidak berbeda (P>0.05) dengan parent stock, pertumbuhan anak kelinci hibrida Hyla sama dengan parent stock, kelinci hibrida Hycole pada masa menyusui (umur 0-6 minggu) lebih rendah dibandingkan parent stock (
Pengolahan Secara Kimiawi-Otoklaf Terhadap Nilai Kecernaan Bulu Ayam dan Aktivitas Antioksidan Hidrolisat
Bulu ayam merupakan limbah dari industri pemotongan unggas yang melimpah, tetapi dapat menjadi masalah lingkungan yang serius dan sumber bibit penyakit bila tidak diproses. Penelitian ini bertujuan membandingkan 3 metode pengolahan bulu ayam dalam meningkatkan nilai kecernaan bulu ayam dan aktivitas antioksidan di dalam hidrolisatnya. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dengan 3 pengolahan bulu ayam dan masing-masing perlakuan 2 ulangan. Perlakuan merupakan kombinasi kimiawi-otoklaf yaitu : 1) ai+otoklafr, 2) larutan Na2SO3 0,21% +otoklaf dan 3) larutan HCl 0,01M+otoklaf. Perlakuan dengan pelarut dilakukan pada suhu 80oC selama 1 jam dan dilanjutkan dengan inkubasi selama 20 jam pada suhu ruang. Setelah itu, di otoklaf pada suhu 121oC, tekanan 21psi selama 30 menit. Variabel yang diukur adalah rendemen dan kadar protein bulu ayam setelah hidrolisis dan hidrolisatnya, kecernaan bahan kering dan protein dari bulu ayam setelah hidrolisis, serta aktivitas antioksidan hidrolisat. Rendemen bulu ayam hasil hidrolisis dari 3 perlakuan berkisar 86,67-95,90% dengan kadar protein rataan 87,18%. Nilai kecernaan bahan kering dan protein tertinggi diperoleh dengan perlakuan natrium sulfit. Rendemen hidrolisat tertinggi dihasilkan oleh perlakuan asam khlorida (8,75%) tetapi aktivitas antioksidan tertinggi terdapat dalam hidrolisat dari perlakuan natrium sulfit. Disimpulkan bahwa pengolahan bulu ayam dengan pelarut 0,21%Na2SO3+otoklaf menghasilkan bulu ayam hasil hidrolisis dengan nilai kecernaan bahan kering dan protein tertinggi dan hidrolisat dengan kemampuan aktivitas antioksidan tertinggi
Novel Mutation of Exon 5 Prolactin Gene in IPB-D1 Chicken
The prolactin gene (PRL) is a gene that controls the incubation and egg production in laying chickens. The nature of incubation will reduce egg production and disrupt the reproductive system in local chickens. The purpose of this study was to identify the polymorphism of prolactin genes in IPB-D1 chickens using the direct sequencing method. The polymorphism of the exon 5 prolactin gene was carried out on 46 samples of IPB-D1 chicken DNA which was a collection of the Division of Animal Genetics and Breeding, Faculty of Animal Science IPB. DNA sequences as a reference for designing exon 5 primers were obtained from the National Center for Biotechnology Information (NCBI) with the GenBank access code: AF288765.2. DNA extraction was carried out using the phenol-chloroform technique. DNA amplification resulted in a PCR product with a size of 557 bp. In this study, the genotype frequency, allele frequency, heterozygosity value and Hardy-Weinberg equilibrium were calculated. The results of the study found 5 SNPs in exon 5, namely g.7823AG, g.7835AG, g.7886TA, g.8052TC, and g.8069TC. All SNPs are polymorphic and in Hardy-Weinberg equilibrium except g.8052TC. The g.7823AG, g.7835AG, g.8052TC SNPs are synonymous mutations that do not change amino acids, while the g.7886TA and g.8069TC SNPs are non-synonymous that change amino acids. Both g.7886TA and g.8069TC SNPs are potential as a marker assisted selection for the characteristics of egg production in IPB-D1 chickens
Kualitas Semen Cair Kambing Boer selama Penyimpanan Suhu Ruang dengan Penambahan Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum sanctum)
Selama masa penyimpanan, spermatozoa akan mengalami metabolisme yang menghasilkan peroksida lipid, yang apabila bereaksi dengan radikal bebas akan meningkatkan Reactive Oxygen Species (ROS) dan berakibat pada turunnya kualitas sperma selama penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan ekstrak daun kemangi terhadap kualitas spermatozoa yang diencerkan oleh pengencer Tris kuning telur dan disimpan pada suhu ruang. Materi penelitian yang digunakan adalah 4 ekor pejantan kambing Boer berumur 4-5 tahun dengan bobot badan rata-rata 50 kg. Perlakuan dalam penelitian ini adalah penambahan ekstrak daun kemangi sebesar 0% (P0), 1,% (P1), 2% (P2) dan 3% (P3). Semen yang telah diencerkan disimpan dalam suhu ruang dan diamati kualitas pada jam ke 0, 1, 2 dan 3. Variabel yang diamati adalah motilitas individu, viabilitas dan abnormalitas. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Racangan Acak Lengkap, apabila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun kemangi tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap motilitas individu dan viabilitas, namun berpengaruh (
Tingkah Laku Seksual Pejantan dan Induk Sapi Peranakan Ongole dengan Sistem Perkandangan Koloni Terbatas
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku seksual pejantan dan induk sapi Peranakan Ongole (PO) yang dipelihara secara koloni terbatas. 1 ekor pejantan dan 4 ekor induk sapi PO dipelihara secara berkoloni terbatas (diumbar bersama selama 1 jam, selanjutnya dikandangkan secara individu). Pengamatan tingkah laku seksual dilakukan secara langsung pada pejantan yaitu oro-nasal contact, flehmen, mounts orientation response, dan service. Tingkah laku seksual induk meliputi mounting, stand to be mounted dan karakteristik vulva. Pengamatan tingkah laku seksual pejantan dilakukan pada seluruh fase siklus estrus induk, pada induk hanya pada fase estrus. Penentuan fase siklus estrus dilakukan dengan melihat perubahan karakter dari sel epitel vagina ternak. Data dianalisis secara deskripsi kauntitatif. Terjadi peningkatan yang signifikan (
Profil Kesehatan Sapi Indukan Belgian Blue di Indonesia terhadap Penyakit Hewan Menular
Peningkatan efisiensi reproduksi dan genetik ternak melalui pengembangan sapi Belgian Blue (BB) melalui transfer embrio (TE) dan inseminasi buatan (IB) telah dilakukan di Indonesia sejak tahun 2017. Untuk menghasilkan anak sapi BB yang sehat diperlukan indukan sapi yang sehat dan bebas terhadap penyakit hewan menular. Tujuan penelitian ini adalah melakukan pengujian penyakit menular brucellosis, leptospirosis, campylobacteriosis, paratuberculosis, septicemic epizootica (SE), bovine viral diare (BVD), infectious bovine rhinothraceitis (IBR), enzootic bovine leucosis (EBL), trichomoniasis, anaplasmosis, babesiosis, theleriasis, surra dan parasit cacing (strongyle, parampistomum, cestoda, fasciola) sapi calon indukan BB di pusat pengembangan sapi BB di Indonesia. Sebanyak 291 indukan sapi dikoleksi sampel serum, darah, swab vagina dan feses diuji di laboratorium BBLitvet. Hasil pengujian terhadap 291 sampel yang dikoleksi menunjukkan tidak terdeteksi brucellosis, EBL, trichomoniasis dan surra, namun terdeteksi antibodi terhadap IBR 40,89% (119/291), BVD 70,79% (206/291), SE 56,36% (164/291), leptospirosis 41,24% (120/291) dan paratuberculosis 0,69% (2/291). Pengujian terhadap parasit darah terdeteksi anaplasmosis 41,92% (122/291), babesiosis 28,18% (82/291) dan theleriasis 30,24% (88/291)
Bobot Relatif Organ Pencernaan Ayam Broiler yang Diberi Tambahan Asam Butirat dan Asam Format dalam Ransum
Penelitian yang bertujuan mengkaji efektivitas penambahan kombinasi asam organik berupa asam butirat dan asam format dalam ransum ayam broiler. Penelitian menggunakan 240 ekor ayam broiler umur 1 hari bobot badan awal rata-rata 36,69±1,56 g/ekor. Ayam dibagi (didistribusi) secara acak ke dalam kandang sesuai perlakuan yang diterapkan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) terdiri 4 perlakuan dan 6 ulangan, setiap petak diisi 10 ekor. Perlakuan yang diterapkan meliputi T0 (ayam diberi ransum basal tanpa ditambah asam organik), T1 (ayam diberi ransum basal ditambah 0,1% asam butirat), T2 (ayam diberi ransum basal ditambah 0,03% asam format) dan T3 (ayam diberi ransum basal ditambah 0,1% asam butirat dan 0,03% asam format). Ayam dipelihara sampai umur 35 hari kemudian dilakukan pemotongan dan dipisahkan organ pencernaan (hati, pankreas, proventrikulus, gizzard, duodenum, jejenum, dan illeum) dibersihkan kemudian ditimbang. Parameter yang diukur meliputi bobot relatif organ pencernaan). Data dianalisis keragamannya dan uji beda Duncan pada taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan asama butirat, asam format, atau kombinasi keduanya dalam ransum tidak meningkatkan bobot relatif organ pencernaan namun meningkatkan (