Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
1514 research outputs found
Sort by
Quality of Boar Liquid Semen in Modified BTS Extender Storedat5and 18°C
Production of liquid-stored boar semen for artificial insemination (AI) requires the type of extender and temperature which is appropriate to maintain the quality of sperm during preservation. This research aimed to compare the quality of boar sperm in the beltsville thawing solution (BTS) extender, BTS extender mixed with egg yolk and BTS extender mixed with egg yolk and glycerol stored at 5 and 18°C. Semen were collected from five sexuality mature boars (Landrace, Duroc, and Yorkshire breed). Collected semen was evaluated macros and microscopically. After evaluation, semen individually divided into three tubes. Each tube was diluted with BTS, BTS added with egg yolk, BTS added with egg yolk and 5% glycerol. Each liquid semen was divided into two parts and stored in the refrigerator 5 and 18°C. Liquid-stored semen quality was evaluated every 12 hours until the motility of sperm reach 0%. The results showed the best extender and the best temperature for storage of boar liquid-stored semen was BTS extender stored at 18°C temperature. Best extender for liquid-stored semen that stored at 5°C was BTS extender plus egg yolk. Glycerol cannot be used for boar liquid semen, as it can shorten the sperm life
Karakteristik Sapi yang di Rumah Potong Hewan Kota Semarang
Karakteristik Sapi yang di Rumah Potong Hewan Kota Semaran
Kecernaan (In vitro In sacco) Pelepah Sawit yang Diolah dengan Penambahan Urea dan Enzim
Kecernaan (In vitro In sacco) Pelepah Sawit yang Diolah dengan Penambahan Urea dan Enzi
Perbandingan Akurasi Penggunaan Data Parsial dan Data Utuh pada Pengamatan Tingkah Laku Domba
Penggunaan rekaman video memiliki beberapa kelebihan untuk pengamatan tingkah laku, namun mempunyai kekurangan pada aspek waktu analisa yang lama sehingga diperlukan penelitian durasi data parsial tingkah laku domba yang dapat dipercaya untuk dapat menggambarkan data utuh. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan metode pengamatan tingkah laku domba yang mudah, lebih singkat serta akurat dalam menggambarkan tingkah laku domba dari data utuh. Sebanyak 34 ekor domba dewasa jantan dan betina dari lima bangsa domba yang terdiri dari domba Barbados Black Belly Cross (BC), Komposit Garut (KG), Lokal Garut (LG), Komposit Sumatera (KS) dan St. Croix Cross (SC) digunakan dalam penelitian ini. Sepuluh sifat tingkah laku diamati selama 8 jam dari data rekaman video tingkah laku domba sepanjang hari. Data parsial 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 jam dari 8 jam pengamatan tersebut digunakan sebagai prediksi data tingkah laku 8 jam. Uji t berpasangan dilakukan untuk membandingkan rataan setiap data parsial dengan data utuh 8 jam dengan PROC TTEST dan untuk melihat keeratan korelasi antara data parsial dengan data utuh dilakukan analisa korelasi dengan PROC CORR dari program SAS ver. 9,0. Hasil penelitian menunjukkan ada kecenderungan semakin lama data parsial yang digunakan maka semakin banyak tingkah laku domba yang dapat diprediksi secara akurat. Data parsial 6 jam tidak berbeda signifikan (P>0,05) dengan data utuh (8 jam) dan mempunyai korelasi yang sangat tinggi (r>0,90). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan data parsial 6 jam paling baik untuk memprediksi data utuh seluruh jenis tingkah laku domba yang diamati
Perlakuan Exercise pada Sapi Jantan PO terhadap Peningkatan Kualitas Semen
Perlakuan Exercise pada Sapi Jantan PO terhadap Peningkatan Kualitas Seme
Arah Penelitian dan Pengembangan Peternakan dalam Mewujudkan Bioindustri Pertanian Berkelanjutan
Pangan adalah kebutuhan yang paling utama bagi manusia untuk mempertahankan kehidupannya. Oleh karena itu, sektor pertanian memerlukan keberpihakan yang tinggi karena sektor ini adalah leading sector untuk ketahanan pangan, bersifat multifungsi termasuk menyelesaikan persoalan-persoalan lingkungan dan sosial (kemiskinan, keadilan dan lain-lain). Sektor peternakan memberikan kontribusi untuk pemenuhan protein hewani. Jumlah konsumsi protein hewani masih rendah jika dibandingkan dengan nilai kebutuhan standar protein hewani dari pola pangan harapan (PPH) apabila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Sejalan dengan Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2013-2045, bahwa pembangunan pertanian diarahkan pada sistem pertanian bioindustri, adalah dengan memanfaatkan secara optimal seluruh sumber daya hayati termasuk biomassa dan/atau limbah organik pertanian, bagi kesejahteraan masyarakat dalam suatu ekosistem secara harmonis dengan meningkatkan nilai tambah usaha pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak) telah melakukan penelitian dalam mendukung pertanian bioindustri seperti penelitian untuk mendukung model integrasi tanaman ternak sapi-sawit, kambing-kopi dan lain-lain. Namun demikian, secara umum penelitian tersebut masih dilakukan secara parsial dan beberapa aspek dari konsep pertanian bioindustri belum terjawab/dilakukan dan dapat menjadi ruang bagi penelitian baru. Dalam menghadapi tantangan kedepan, kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) pertanian selain harus dapat menjawab berbagai hal terkait dengan dampak perubahan iklim, juga dapat menjawab berbagai keterbatasan pada sumber daya yang ada di tengah perkembangan kebutuhan manusia yang tanpa batas. Untuk itu, diperlukan IPTEK yang mengarah pada revolusi di bidang bioteknologi, nanoteknologi dan teknologi informasi. Arah penelitian dan pengembangan peternakan merujuk pada program pertanian yaitu mendukung pertanian bioindustri, adalah (1) Memprioritaskan penyediaan teknologi inovatif untuk optimalisasi pemanfaatan sumber daya peternakan melalui pengembangan teknologi budidaya, penciptaan rumpun ternak adaptif; (2) Mempercepat penyediaan teknologi nano dan riset genom untuk meningkatkan produksi dan produktivitas ternak; (3) Mendorong kemajuan bioscience dan bioengineering di bidang peternakan; (4) Memfokuskan pada penciptaan bibit unggul ternak, teknologi pengolahan, penyimpanan, preservasi dan pengemasan serta rekayasa kelembagaan; (5) Merumuskan rekomendasi kebijakan bioindustri di bidang peternakan
Animal Welfare Ethics in Research and Testing: Implementation and its Barrier
Animals have an important role in research and testing to improve human and animal health. Animal usage must be balanced between science and ethical values of animal welfare. This paper discusses the role of IACUC, the implications of animal welfare for research, animal ethical clearance and obstacles in the implementation of animal welfare. Institution of Animal Care Use Committee (IACUC) has an important role to ensure that researcher has animal ethical clearance before conducting research and testing. Research and testing using animal should comply with ethical principles: respect, beneficiary and justice; 3Rs principles: Replacement, Reduction, Refinement and 5F/Freedom: freedom from hunger and thirst, heat and discomfort, pain, trauma and disease, fear and stress and expressing behavior naturally. The application of animal ethics clearance in Indonesia in research using animals is compulsary in various institutions, However thera are several barriers in its implementation, Those are: not all research institutions have IACUC, lack of awareness of researchers to apply for animal ethical clearance, reluctant to IACUC requirements, lack of facilities animals that meet animal welfare requirements and lack of competence in animal handling according to animal welfare
Implementation of Relationships between Stake holders in Small Scale Broiler Business Partnerships in Indonesia
The problem of small-scale broiler business is the low efficiency and low application of biosecurity. In the chicken industry, however, efficiency is an essential consideration for product competitiveness in terms of both price and quality. Vertical integration involving small scale businesses in partnership models is expected to maintain the existence of small scale businesses. This paper aims to analyze the performance of the implementation of various models of broiler business partnerships with the legal basis for the establishment of partnership. In this paper there are four models to be discussed, namely: Partnership of National Price Contract (KKHN), Partnership of Regional Price Contracts (KKHR), Partnership of Local Broiler Maklun (KMLB), and Partnership of Local Revenue Sharing (KBHL). The implementation of legislation for the broiler partnership is weak. This can be seen from the tendency of the core companies to narrow down to the KKHN model, while other models are being pushed and bankrupt, and there is the occurrence of unilateral business relationship termination by the nucleus company to plasma as its business partner. The policy recommendations offered are: (i) There is a need to strengthen regulation and guidance by relevant agencies in charge of animal husbandry and animal health functions at the central and regional levels supported by Business Competition Supervision Commission (KPPU); (ii) The company is advised not to break the partnership relationship with small-scale farmers who have worked together for a long time; (iii) The company should reserve funds from the farmer's chicken harvest to reinvest the chicken cage
Performans Produksi Ayam KUB Fase Pertama Bertelur Pada Peternak Di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah
Ayam KUB mulai tersebar di Sulawesi Tengah sejak tahun 2018-2019. Namun demikian, pemeliharaan ayam KUB di tingkat peternak belum diarahkan pada produksi telur, baik untuk dikonsumsi maupun ditetaskan. Penelitian untuk mengetahui performans produksi ayam KUB fase pertama bertelur pada peternak telah dilaksanakan mulai bulan September 2019 sampai Februari 2020 di Kabupaten Sigi. Materi yang digunakan adalah 120 ekor ayam KUB (100 ekor betina, 20 ekor jantan), dipelihara dalam 2 unit kandang postal berukuran 7,0 m x 3,5 m x 4,0 m (panjang x lebar x tinggi). Tiap unit kandang diisi 50 ekor betina dan 10 ekor jantan. Data di analisis secara deskriptif terhadap variabel-variabel; umur pertama bertelur (UPB), bobot induk pertama bertelur (BIPT), bobot telur pertama (BTP), produksi telur harian, rataan bobot telur, dan mortalitas. Hasil penelitian menunjukkan UPB ayam KUB rata-rata 157,8 hari dan BIPT 1.123,9–1.403,3 kg. Produksi telur selama 24 minggu 163,2 butir/ekor/6 bulan, bobot telur tertinggi rata-rata 42,91 g/butir dicapai saat ayam berumur 30-33 minggu, dan angka kematian mencapai 8%. Disimpulkan bahwa performans produksi ayam KUB fase pertama bertelur pada peternak relatif baik, sehingga layak dilanjutkan dan dikembangkan menjadi usaha pembibitan skala peternak
Seroprevalensi Toxoplasmosis pada Kambing Kacang di Wilayah Layanan Balai Besar Veteriner Maros dengan metode Elisa
Kambing kacang (Capra aegagrus hircus) merupakan ternak ruminansia kecil yang memiliki peran penting dalam mencukupi kebutuhan protein hewan masyarakat Indonesia khususnya di Sulawesi dan Indonesia Timur kerena mudah dipelihara secara ekstensif dengan dilepas untuk mencari pakan sekitar halaman, pinggir jalan dan pekarangan, adaptif dan tahan cuaca panas. Ternak kambing banyak didatangkan ke Sulawesi dari Nusa Tenggara Timur dan masuk ke Sulawesi Selatan. Pemeliharaan yang ekstensif dengan melepas kambing-kambing ini diduga erat dengan rantai penularan Toxoplasmosis dari rumput yang tercemar ookista tinja kucing. Surveilans dan pengujian serologis dilakukan di beberapa kabupaten/kota bertujuan untuk mengetahui angka prevalensi infeksi Toxoplasma gondii pada kambing kacang dengan metode enzyme linked immuno sorbent assay (Elisa) menggunakan kit Elisa komersial. Surveilans dimaksudkan untuk mengetahui seroprevalensi Toxoplasmosis pada kambing kacang secara serologis dengan metode Elisa Sebanyak 310 sampel serum kambing kacang telah diambil dari beberapa kabupaten yaitu Majene, Bone, Bantaeng, Pinrang dan Tana Toraja. Dari hasil uji serologis diketahui bahwa seroprevalensi Toxoplasmosis di sentra pengembangan kambing di wilayah layanan Balai Besar Veteriner Maros berikisar antara 21,47% hingga 73,68% dengan rataan 49,36%. Seroprevalensi terkecil ada di Kabupaten Bone, dan terbesar di Kabupaten Bantaeng. Pencegahan dapat dilakukan dengan pemeliharaan intensif, dan mengendalikan tikus pada kandang kambing, juga mencegah kucing bisa leluasa berada dalam kandang kambing