Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
    1514 research outputs found

    Keragaman Gen IGF1 Exon 4 pada Kambing Gembrong, Samosir dan Kosta di Stasiun Penelitian Kambing Potong Sumatera Utara

    No full text
    Pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetik merupakan hal penting dalam rangka meningkatkan potensi ternak local di Indonesia khususnya kambing. Salah satu upaya peningkatan potensi adalah dengan mengarahkannya ke program pemuliaan yaitu seleksi terhadap marka genetik yang berperngaruh terhadap pertumbuhannya salah ssatunya adalah gen IGF1 exon 4. Materi yang digunakan adalah kambing Samosir (5 ekor), Kosta (14 ekor) dan Gembrong (8 ekor). Primer forward yang digunakan dalam penelitian ini adalah 5’- CACAGCGTATTATCCCAC-3’ dan primer reverse 5’- GACACTATGAGCCAGAAG -3’. Ditemukan satu SNP saja yaitu c.267G>C. SNP tersebut bersifat polimorfik pada kambing Gembrong, Samosir dan Kosta. Genotipe CC memiliki frekuensi yang lebih tinggi pada ketiga kambing. Heterozigositas kambing Gembrong dan Kosta berada dalam keseimbangan genotipe sedangkan kambing Samosir tidak berada dalam keseimbangan dan memiliki nilai HW yang tidak nyata

    Deteksi Antibodi terhadap Mycoplasma gallisepticum pada Serum Ayam dengan Pengujian Serologi Rapid Serum Agglutination (RSA), Kit ELISA Komersil dan inhouseELISA

    Get PDF
    Mycoplasma gallisepticum (MG) adalah bakteri penyebab penyakit pernapasan kronis pada ayam yang sering disebut sebagai chronic respiratory disease (CRD) dan infectious sinusitis pada kalkun. Kerugian akibat infeksi MG pada industri perunggasan di dunia mencapai lebih dari US $ 780 juta setiap tahun. Deteksi dini dan monitoring secara berkelanjutan sangat dibutuhkan dari hulu yakni hatchery sampai ke hilir di peternakan komersil. Di Indonesia kasus CRD maupun CRD kompleks sampai saat ini masih menjadi permasalahan di peternakan-peternakan ayam. Keberadaan MG dapat dideteksi dengan cara isolasi organisme atau deteksi DNA dari jaringan yang terinfeksi atau sampel swab atau dengan menggunakan pengujian serologi untuk diagnosis penyakit ini. Jenis pengujian serologi yang sudah umum dilakukan adalah dengan Rapid Serum Agglutination (RSA), Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dan Haemagglutination Inhibition (HI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status antibodi ayam dari beragam kondisi di lapangan dengan uji RSA, ELISA komersil dan inhouseELISA (iELISA). Pengujian serologi dengan menggunakan 3 jenis pengujian memberikan hasil yang berbeda dalam mendeteksi antibodi terhadap MG pada sampel serum ayam dengan status yang bervariasi. Kit ELISA komersil lebih sensitif dalam mendeteksi antibodi terhadap MG, sehingga pengujian ini memberikan hasil positif paling banyak

    Seroprevalensi Bovine Viral Diarrhoea (BVD) pada Sapi Peranakan Ongole (PO) di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara

    Get PDF
    Bovine Viral Diarrhoea (BVD) merupakan penyakit menular viral, menyerang ruminansia termasuk sapi. Penyakit bersifat sporadik pada daerah endemis, muncul saat hewan stress pada saat pancaroba, peralihan musim penghujan ke kemarau atau sebaliknya. Infeksi bersifat persisten karena sapi bertindak sebagai karier. Sapi dapat sembuh sendiri atau pulih paska bantuan terapi. Vaksinasi pada beberapa daerah endemis seperti di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, belum pernah dilakukan. Deteksi antibodi pada sapi adalah salah satu cara untuk mengetahui adanya infeksi pada sapi karena BVDV. Surveilans telah dilakukan oleh Balai Besar Veteriner Maros di Kabupaten Minahasa yang merupakan sentra pengembangan ternak sapi Peranakan Ongole (PO) di Sulawesi Utara bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi penyakit BVD. Sebanyak 359 sampel serum telah diambil dari 6 Kecamatan untuk diuji dengan ELISA menggunakan kit komersial. Dari hasil pengujian serologis diketahui bahwa seroprevalensi (apparent prevalence) BVD di Kabupaten Minahasa pada sapi PO adalah sebesar 2,70%. Seroprevalensi BVD terendah ada di Kecamatan Karangkoan Barat dan Tompasso Barat sebesar 0% dan tertinggi di Kecamatan Tondano Utara sebesar 14,29%. Kewaspadaan dan kesiagaan diperlukan untuk perdagangan sapi PO antar kecamatan serta perlunya melakukan pengamatan dan deteksi dini terhadap kemungkinan munculnya kasus sporasik penyakit, komunikasi dan edukasi serta menyiapkan terapi supporting yang diperlukan bila terjadi kasus penyakit

    Implementasi Silase Kulit Buah Kakao dan Zinc-Metionin pada Ransum Kambing Boerka di Kabupaten Pidie Jaya

    Get PDF
    Pemanfaatan kulit buah kakao (KBK) sebagai pakan pada sistem integrasi kakao-ternak telah dilakukan di Kabupaten Pidie Jaya. Kajian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan silase KBK dengan suplementasi Zink-Metionin sebagai pengganti rumput untuk meningkatkan performa kambing Boerka. Sebanyak 24 ekor kambing Boerka dengan bobot hidup 23,4 ± 3,1 kg berumur 7- 8 bulan digunakan dalam pengkajian 3 macam ransum, yaitu R1, rumput lapang + konsentrat; R2, silase KBK + konsentrat; R3, silase KBK + konsentrat + Zink-Metionin. Ransum diberikan selama 12 bulan. Pengkajian dilakukan menggunakan rancangan acak dengan jumlah ulangan 8. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa silase KBK memiliki komposisi nutrien setara dengan rumput. Kambing Boerka mengkonsumsi nutrien dari R1 lebih tinggi (

    Perbaikan Sifat Genetik melalui Seleksi untuk Meningkatkan Produksi Telur Alabio dan Itik Mojosari

    Get PDF
    Konsistensi dan produksi telur itik lokal relatif masih rendah. Perbaikan sifat genetik melalui seleksi merupakan salah satu upaya mengatasinya. Penelitian ini menggunakan populasi itik Alabio dan Mojosari selama 2 generasi. Jumlah itik Alabio adalah 400 ekor betina dan Mojosari adalah 200 ekor betina, sehingga total itik yang diamati adalah 1.200 ekor. Seleksi didasarkan pada catatan individu dengan kriteria produksi telur tertinggi selama 24 minggu dan umur pertama bertelur antara 20-24 minggu. Hasil seleksi menunjukkan bahwa umur pertama bertelur itik Alabio generasi kedua bertelur lebih cepat 1 hari dan produksi telur 24 minggu meningkat 16 butir daripada generasi pertama. Demikian juga pada itik Mojosari generasi kedua, umur pertama bertelurnya 16 hari lebih cepat dan produksi telur 24 minggu meningkat 8 butir dibandingkan generasi pertama. Kesimpulannya adalah bahwa kegiatan seleksi mampu meningkatkan produksi telur itik Alabio dan Mojosari

    Berat Lahir dan Mortalitas Anak Sapi Belgian Blue dari Rumpun Resipien dan Ketinggian Tempat Berbeda

    Get PDF
    Sapi Belgian Blue (BB) diimpor ke Indonesia untuk meningkatkan produksi daging sapi. Suatu penelitian awal dilakukan untuk mengetahui berat lahir anak sapi BB dan mortalitas pra-sapih anak sapi Belgian Blue dari beberapa rumpun induk resipien pada ketinggian tempat yang berbeda. Sebanyak 86 data kelahiran anak sapi Belgian Blue murni hasil Transfer Embrio digunakan dalam penelitan. Data berat lahir dianalisa menggunakan model linear umum dengan sumber keragaman rumpun induk resipien, ketinggian tempat dan sex anak. Mortalitas dianalisa menggunakan chi-square berdasarkan ketinggian tempat. Berat lahir anak sapi BB dipengaruhi oleh rumpun induk resipien dan ketinggian tempat (P0,05). Berat lahir anak sapi BB berturut-turut 44,44±1,68 kg, 39,58±2,71 kg, 50,53±1,12 kg, 50,85±1,62 kg dan 55,56±1,21 kg untuk rumpun induk resipien Brahman, Peranakan Ongole, Simental, Limosin dan Frisian Holstein (FH). Berat lahir untuk dataran rendah, sedang dan tinggi masing-masing 43,09±1,46 kg, 51,11±0,92 kg dan 54,18±1,29 kg. Mortalitas pra-sapih dipengaruhi oleh ketinggian tempat (

    Indeks Perdagingan Sapi Bali Jantan dan Betina dari Pemeliharaan Tradisional di Sulawesi Tenggara

    Get PDF
    Produktivitas karkas dan daging sapi lokal di Indonesia masih sangat beragam sesuai dengan karakteristik wilayah dan pola pemeliharaannya. Penelitian ini mempelajari indeks perdagingan sapi Bali jantan dan betina di rumah potong hewan Kota Kendari. Metode penelitian yang di gunakan adalah pengamatan dengan penimbangan langsung di lapangan. Variabel yang di amati dalam penelitian ini adalah bobot potong, bobot karkas, panjang karkas dan indeks perdagingan. Data yang diperoleh, di tabulasi berdasarkan klasifikasi jenis kelamin selanjutnya di analisis dengan menggunakan uji t – Student. Hasil penelitian menunjukan bahwa rataan indeks perdagingan sapi Bali jantan sebesar 1,13 dan sapi Bali betina 1,09 adalah (P>0,05). Bobot Potong Sapi Bali jantan sebesar 230 sedangkan betina 212 adalah berbeda nyata (

    Karakteristik Sapi Bali Betina pada Dua Gugus Pulau di Provinsi Maluku

    Get PDF
    Pembangunan pertanian Maluku mengacu pada konsep gugus pulau dengan menitik beratkan sektor peternakan berada pada Gugus Pulau Seram Barat dan Seram Selatan. Di Maluku, sebagian besar budidaya sapi bali betina adalah untuk pembibitan. Dalam rangka perbaikan performan dan kinerja reproduksi induk perlu diketahui sifat kualitatif dan kuantitatif sapi bali betina pada dua gugus pulau tersebut. Pengkajian ini bertujuan mengetahui karakteristik Sapi Bali betina pada Gugus Pulau Seram Barat dan Seram Selatan yang terdapat di wilayah Maluku. Materi yang digunakan Sapi Bali betina berumur 2-4 tahun sejumlah 62 ekor di gugus pulau Seram Barat dan 41 ekor di gugus pulau Seram Selatan. Data yang diamati yaitu sifat kualitatif dan kuantitatif kemudian diamati secara deskriptif. Untuk mengetahui perbedaan sifat kuantitatif Sapi Bali betina pada kedua gugus pulau dilakukan uji T-Test. Hasil menunjukkan bahwa sifat kualitatif dan kuantitatif pada gugus pulau relatif sama, kecuali menunjukkan beda nyata pada lebar dada, yaitu pada Gugus Pulau Seram Barat yaitu 25,09±5,23 cm sedangkan dengan gugus Pulau Seram Selatan yaitu 23,67±4,06 cm. Karakteristik sapi Bali betina di gugus Pulau Seram Barat memiliki potensi produksi lebih baik dibandingkan dengan gugus Pulau Seram Selatan jika ditinjau dari ukuran lebar dada

    Komposisi Nutrien Larva Black Soldier Fly (Hermetia illucent) Dengan Media Tumbuh, Suhu dan Waktu Pengeringan yang Berbeda

    Get PDF
    Lalat Hermetia illucens atau lebih dikenal dengan istilah black soldier fly (BSF) atau lalat tentara hitam.merupakan kandidat kuat sebagai pengganti sumber protein yang selama ini memiliki harga tinggi. Potensi BSF ini dapat dijadikan sebagai kandidat pengganti tepung ikan yang selama ini digunakan sebagai komponen utama sumber protein dalam pembuatan pakan ikan maupun pakan unggas. Ketersediaan lalat BSF melimpah di alam dan juga dapat dibudidayakan secara massal dengan memanfaatkan limbah organik sehingga dapat juga mengatasi permasalahan lingkungan. Penelitian ini mengkaji mengenai kandungan nutrien dari larva BSF dengan berbagai macam limbah yang digunakan dalam pemeliharaannya serta dari beberapa suhu pengeringan dan waktu pengeringan. Limbah yang digunakan yaitu limbah kulit singkong, limbah buah, ampas tahu dan sisa makanan. Parameter yang diukur yaitu kandungan nutrien hasil pengeringan larva umur 15 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva BSF dapat dikeringkan dengan rentang suhu 55-75OC dengan lama waktu 18-24 jam. Kandungan nutrien utamanya protein kasar berkisar antara 41,99 – 51,49%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kandungan protein tertinggi dalam larva BSF bila ditumbuhkan pada ampas tahu dan dikeringkan pada suhu 55oC selama 24 jam

    Botanical Composition and Carrying Capacity of Grazing Field in the Captive Breeding Area for Timor Deer (Cervus timorensis) at Wosu Village, Central Sulawesi

    No full text
    A research has been conducted to determine the botanical composition and the carrying capacity of the grazing field of a captive breeding area for Timor deer (Cervus timorensis) at Wosu Village, Bungku Barat District, Morowali District, Central Sulawesi Province from April 26 to May 16, 2018. Forage samples were taken with a destructive sampling method using a pair of 1×1 m frame. Dry matter content of the forage samples was analyzed at the Animal Nutrition and Feeding Laboratory, Tadulako University. Data were analyzed and results were presented descriptively. The results showed that the botanical composition of the grazing area was 83% grasses and 17% weeds. The grasses were dominated by Imperata cylindrica, Cyperus rotundus, Cyperus kyllingia Endl., and Paspalum conjugatum. The carrying capacity of the grazing field was about 4.14 deer/ha/yea

    1,369

    full texts

    1,514

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇