Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
1514 research outputs found
Sort by
Pola Citra Suhu Permukaan Pada Sapi Perah Yang Diukur Menggunakan Kamera Termal Inframerah
Kamera termal inframerah adalah perangkat yang digunakan untuk memeriksa suhu permukaan dengan cara non-kontak dan non-invasif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai normal suhu permukaan di berbagai wilayah pada 15 ekor sapi perah betina di Ciomas, Bogor menggunakan pencitraan termal pada indeks suhu-kelembaban 71 dan menentukan wilayah yang akan diduga suhu rektal. Suhu permukaan tubuh diambil dengan kamera termal FLIR One Pro LT, sedangkan suhu inti diukur menggunakan termometer melalui rektum. Uji statistik dengan metode ANOVA. Temperatur permukaan diukur pada bagian hidung, pipi, mata, dada, perut, bagian kiri depan, bagian kanan depan, bagian kiri belakang dan bagian belakang kanan, dan daerah vulva dengan rata-rata 34,81 C, 32,64 C, 37,59 C, 32,46 C, 32,81 C, 37,41 C, 37,16 C, 36,33 C, 36,04 C, dan37,30 C, termasuk suhu rektal 37,88 C. Dengan analisis statistik, suhu permukaan mata, kuarter kiri depan, kuarter kanan depan, dan area vulva, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (P> 0,05) dengan suhu rektal. Suhu permukaan dipengaruhi oleh suhu inti, suhu lingkungan, dan regulasi pembuluh darah. Peningkatan suhu permukaan menunjukkan adanya peradangan. Daerah terbaik untuk memperkirakan suhu rektal adalah daerah mata
Analisis Permintaan Daging Ayam Broiler di Provinsi Papua Barat-Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler di Provinsi Papua Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif dan regresi liniear berganda terhadap data sekunder (time series) tahun 2009-2019 meliputi variabel pendapatan, harga daging ayam broiler, telur ayam ras, ikan asin teri, telur ayam lokal, dan ikan tongkol. Hasil analisis menunjukan bahwa perkembangan harga komoditi yang diteliti mengalami fluktuasi dan cenderung meningkat setiap tahunnya. Analisis regresi menunjukan bahwa variabel independen memberikan pengaruh signifikan (
Homogenitas dan Stabilitas Kit ELISA OTA, serta Aplikasinya untuk Mendeteksi Okratoksin A pada Pakan Unggas
Okratoksin A (OTA) adalah salah satu mikotoksin berbahaya yang dihasilkan oleh kapang Aspergillus sp. dan Penicillium sp yang sering mengkontaminasi produk pertanian. Mikotoksin ini bersifat nefrotoksik, imunotoksik, teratogenik, karsinogenik, neurotoksik dan genotoksik pada manusia dan hewan ternak. Untuk mengetahui tingkat kontaminasi OTA dibutuhkan teknik deteksi yang sensitif, cepat, akurat dan ekonomis. Pada penelitian sebelumnya telah dihasilkan kit ELISA berbasis antibodi polikonal untuk mendeteksi OTA pada bahan pakan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui homogenitas dan stabilitas KIT ELISA OTA yang dikembangkan dengan format kompetitif langsung (dc-ELISA), serta keragaannya dalam mendeteksi OTA pada pakan unggas. Uji homogenitas dilakukan terhadap 10 kit, sedangkan uji stabilitas dilakukan terhadap 3 kit yang disimpan selama 0, 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 36, dan 40 minggu dalam lemari pendingin (4-8 oC). Analisis statistik dengan uji F menunjukkan bahwa 10 kit ELISA OTA yang diuji memberikan hasil yang homogen (Fhitung < Ftabel). Hasil uji stabilitas terhadap 3 kit ELISA OTA tidak menunjukkan perubahan yang berarti selama masa penyimpanan (stabil). Kit juga menunjukkan konsistensi yang baik dalam mendeteksi OTA pada pakan dan bahan pakan ternak unggas. Pengujian sampel lapang menggunakan kit ELISA tersebut menunjukkan bahwa seluruh sampel asal Jawa Barat dan Lampung terkontaminasi OTA dengan rataan konsentrasi masih di bawah batas ambang residu (BMR) untuk ternak unggas, yaitu 100 ppb. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kit ELISA yang dikembangkan memiliki homogenitas dan stabilitas yang memenuhi persyaratan, serta dapat diaplikasikan untuk mendeteksi OTA pada pakan ternak unggas
Small Ruminant Community Breeding Program in Indonesia
This paper outlines the principles of community breeding programs, reviews similar programs that have been conducted in Indonesia, as well as proposing improvements. Community breeding programs (CBP) are a method for genetic improvement of livestock, with voluntary participation of farmers, using animals belonging to the farmers, by defining breeding objectives and selection criteria or traits, selecting the best males of the group, performance testing and distributing males to the farmers. Farmers have the ownership of the program and contribute to the sustainability of the program, marketability of the products according the needs of the farmers, as well as strengthening farmers institutions. There are breeding scehemes of one tier, two tier and three tier that can be implemented to achieve the goals of genetic improvement. Several CBP has been carried out scatteredly, however improvements have to be made such as by long term financial support, strong commitment from breeders, mentoring by academias, data management and analysis as well as economic assessment. Therefore, a more masive and sustainable CBP should be conducted to improve the genetic quality of sheep and goat in Indonesia
Strategy and Policy on Dairy Cattle Development in Areas Outside Java Island in Supporting Domestic Fresh Milk Production
Production of domestic fresh milk has not yet meet the national milk demand, so high amount of milk is still imported (88.56%). The distribution of the dairy cattle population is still concentrated in Java Island (98.84%) which already has limited available land resources. The low productivity of dairy cow is due to the decline in the quality of breed, limited feed and capital. The business scale majority is still low, although its institutional aspect has been well established with the existence of cooperatives and the milk processing industry. This paper discusses the strategies and policies for developing dairy cows in areas outside Java which are appropriate from the upstream to the downstream aspects. The development of dairy cows in areas outside Java Island is still slow, even experiencing a population decline in the last 4 years by 66.21% compared to that in Java that has an increase of 22.09%. Barriers include weak human resource factors, lack of availability of feed (forages and concentrates), low milk productivity and quality, and the production market which is the main thing in dairy business has not been developed. There were many obstacles encountered when dairy cow development program in areas outside Java island was established. Therefore, it requires strategies and policies as well as steps that must be carried out on target. There are several things that need to be done, namely selecting the location, procuring the right breed, training the human resources (target breeders), planting forage and making concentrates, and the main thing is institutional development (upstream to downstream), especially institutions for milk production and marketing. Routine assistance by related agencies and other institutions is needed to ensure the sustainability of dairy farming outside Java
Coccidiosis as A Predisposition Factor for Necrotic Enteritis in Poultry and Their Prevention
Coccidiosis and necrotic enteritis are both affecting the digestive tract of chicken and both are major enteric disease that mainly affect poultry. Among the enteric diseases, necrotic enteritis is a major problem. Coccidiosis is caused by the protozoan of Eimeria sp, and is commonly found as a predisposition factor for necrotic enteritis caused by Clostridum perfringens. Both diseases are commonly shown similar pathological change namely necrosis of epthelial cells in the intestinal mucosa. The diseases have great economic impact in poultry productions, due to the increased mortality, decreased performance and medication costs. Control of these diseases are commonly treated with antibiotics and ionophores. However, an intensive use of these drugs in feed may cause the emergence of drug-resistance against some strains of Eimeria sp.and Cl. Perfringens and an increased chance of contamination in animal products for human consumption. The paper is discussing the occurrence of necrotic enteritis especially due to the coccidian as a major predisposition factor and the development of alternative control strategies for avian coccidiosis and necrotic enteritis, by modulating intestinal health
Daya Tunas dan Daya Tetas Telur Ayam SenSi-1 Agrinak di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo
Daya tunas dan daya tetas berperan penting dalam proses penetasan ayam SenSi-1 Agrinak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya tunas dan daya tetas telur ayam SenSi-1 Agrinak di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo. Penelitian ini menggunakan ayam SenSi-1 Agrinak yang terdiri atas 3 kandang yang masing-masing kandang terdiri atas 12 ekor jantan dan 60 ekor betina. Telur dikumpulkan setiap hari selama 7 hari lalu diseleksi dan dimasukkan ke mesin tetas. Data yang diperoleh tiap satu periode penetasan adalah jumlah telur yang masuk ke mesin tetas setter, jumlah telur fertil, jumlah telur infertil, jumlah DOC (Day Old Chicken), dan jumlah telur yang tidak menetas. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif dengan menghitung rata-rata/mean, simpangan baku, dan koefisien variasi. Peubah yang diamati adalah daya tunas dan daya tetas hasil penetasan telur ayam SenSi-1 Agrinak. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata daya tunas bernilai 87,72 ± 3,20 dan daya tetas selama empat periode senilai 78,28 ± 10,51 yang artinya bahwa telur yang di tetaskan mempunyai persentase daya tunas dan daya tetas yang baik
Performa Produktivitas Ayam Lokal Unggul Balitbangtan di Kabupaten Kampar Provinsi Riau
Kabupaten Kampar adalah salah satu wilayah introduksi ayam KUB dan Sensi di Provinsi Riau, untuk itu dilakukan kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui performa produktivitas ayam lokal unggul KUB dan Sensi di kabupaten tersebut. Kegiatan melibatkan 3 peternak dari 3 desa berbeda. Peternak mendapatkan masing-masing 300 ekor ayam lokal unggul Balitbangtan KUB dan Sensi yang dipelihara mulai DOC hingga 12 minggu. Pemberian pakan pada umur 0-4 minggu berupa pakan komersial starter. Saat umur 4-12 minggu, ternak ayam diberikan pakan komersial 60% yang dicampur dengan bahan pakan lokal berupa dedak 19%, jagung 15%, bungkil kelapa sawit 5% dan mineral 1%. Protein kasar ransum 16,73% dan EM 2800 kal/kg. Pengamatan pada ternak ayam berupa pertambahan bobot badan dilakukan melalui penimbangan tiap 2 minggu sekali dan penghitungan konversi pakan. Hasil kegiatan didapatkan, performa ayam lokal unggul KUB dan Sensi yang dipelihara di tiga desa di kabupaten Kampar Provinsi Riau menunjukkan hasil yang sesuai dengan bobot standar yang direkomendasikan oleh Balai Penelitian Ternak Ciawi. Bobot ayam KUB dan Sensi pada umur 12 minggu didapatkan sebesar 1200-1300 gr/ekor dengan konversi pakan 2,96 – 3,50
Uji Aktivitas Antibakteri Bakteriofaga HK terhadap Escherichia coli O157H7 sebagai Agen Penyebab Foodborne Disease
Foodborne disease adalah penyakit pada manusia akibat mengonsumsi makanan yang tercemar mikroba patogen asal hewan. Salah satu penyebab foodborne disease adalah Escherichia coli (E.coli) O157H7. Alternatif terapi terhadap infeksi bakteri patogen adalah memanfaatkan isolat bakteriofaga (faga) HK sebagai antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas antibakteri pada faga HK terhadap E. coli O157H7. Aktivasi faga HK terhadap E. coli O157:H7 dilakukan melalui perhitungan konsentrasi faga HK dengan teknik Double Layer Agar (DLA), uji Konsentrasi Hambat Minimal (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimal (KBM) serta perhitungan Multiplicity of Infection (MOI). Pada penelitian ini dihasilkan nilai KHM dari faga HK sebesar 6,35 x 102 PFU/ml dan nilai KBM faga HK sebesar 6,35 x 103 PFU/ml sedangkan nilai MOI dari faga HK sebesar 0,9621 x 10-6 PFU/CFU. Faga HK memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap E.coli O157:H
Tingkat Infestasi Koksidiosis (Eimeria sp.) pada Kerbau Lumpur (Bubalus bubalis Linn.) di Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan
Infestasi parasit pada saluran pencernaan kerbau lumpur dapat mengganggu kesehatan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat infestasi protozoa saluran pencernaan (Eimeria sp.) pada kerbau lumpur (Bubalus bubalis Linn.) di Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan yang dapat menjadi tambahan informasi bagi pemerintah daerah khususnya peternak untuk melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit akibat infestasi protozoa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei. Sebanyak 80 sampel feses kerbau lumpur dikoleksi selama Desember 2019 di 6 Desa di Kecamatan Jati Agung. Data yang digunakan berupa data primer tentang manajemen pola pemeliharaan yang diambil dengan menggunakan kuesioner dan hasil pemeriksaan sampel feses terhadap jumlah ooskista protozoa saluran pencernaan (Eimeria sp.). Tingkat infestasi koksidiosis akibat protozoa Eimeria sp. pada kerbau lumpur (Bubalus bubalis Linn.) di Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan sebesar 17,50% dengan jumlah ookista protozoa Eimeria sp. dalam tinja termasuk dalam kategori infestasi ringan. Rendahnya infestasi koksidiosis (Eimeria sp.) pada kerbau lumpur ini kemungkinan berkaitan erat dengan adanya pelayuan dari pakan (rumput) sebelum diberikan ke ternak