Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
1514 research outputs found
Sort by
The Use ofFermented Cassava Peel (Manihotutilisima) in the Rationon Carcass Quality of Male Local Sheep
Cassava peel (CP) were abundant from agricultural industry. The CP still contained good nutrition and could be used as feed for ruminant. This study aimed to determine how far fermented CP in the rations influenced carcass quality of local sheep. The research was conducted at the farm of Mr. Praditya which located at Bunga Rinte Street, Medan Tuntungan Sub-District, Medan from September until December 2017. The design was Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 5 replications. There were 20 local sheep with an average of 10.18±1 kg/head. The treatments were P0 (fermented CP 0%), P1(fermented CP 20%), P2 (fermented CP 40%), and P3 (fermented CP 60%). Variables measured were slaughtered weight, empty body weight, carcass weight and percentage of carcass weight. The results showed that the fermented CP had a very significant effect (P0.01) on cut weights of sheep, empty body weight and percentage of carcass weight. There was a significant effect (P0.05) on carcass weight. The conclusion of this research that high percentage of fermented CP in the ration increased slaughtered weight, empty body weight, carcass weight and persentage of carcass weight
Deteksi Surra yang Disebabkan Trypanosoma evansi pada Kerbau di Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten
Propinsi Banten telah diusulkan sebagai salah satu pusat pembibitan kerbau nasional. Namun demikian, keberadaan Surra yang disebabkan oleh protozoa darah Trypanosoma evansi masih menjadi kendala dalam pengembangan komoditas ternak ini. Penegakan Surra tidak dapat hanya didasarkan pada satu teknik diagnosa saja karena masing-masing teknik memiliki perbedaan tingkat sensitivitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil deteksi Surra pada kerbau yang diuji menggunakan beberapa teknik diagnose. Sebanyak 50 sampel darah kerbau dikoleksi dari tiga kecamatan di Kabupaten Pandeglang – Banten. Masing-masing sampel diuji dengan empat teknik diagonosa yang berbeda, yaitu ulas darah dengan pewarnaan Giemsa, Micro-haematocrite Centrifugation Technique (MHCT), uji serologis dengan Card Agglutination Technique for T. evansi (CATT T. evansi) serta uji PCR dengan marka genetik ITS-1 dan TBR1/2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 16% sampel dideteksi positif Surra berdasarkan teknik diagnosa ulas darah dan MHCT, sedangkan hasil uji PCR memberikan nilai positif sebesar 50%. Adapun uji serologis CATT T. evansi menunjukkan hasil positif yang paling tinggi, yaitu 84%. Rendahnya hasil positif pada ulas darah dan MHCT diduga karena rendahnya tingkat parasitemia pada tubuh kerbau sehingga perlu dikonfirmasi dengan teknik PCR dan uji serologis yang memiliki tingkat sensitivitas lebih tinggi. Dengan demikian, hasil deteksi negatif palsu Surra dapat dihindari dan strategi pengobatan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat
Efektivitas Sinkronisasi Estrus dengan Metode Ovsynch pada Induk Sapi PO Akseptor Belgian Blue
Tingginya permintaan masyarakat atas kebutuhan daging membuat pemerintah harus melaksanakan swasembada daging. Pemerintah melakukan peningkatan jumlah populasi sapi dengan cara meningkatkan penyediaan dan perbaikan bibit sapi. Upaya peningkatan dan perbaikan populasi sapi dilakukan dengan cara peningkatan penggunaan teknologi Inseminasi Buatan (IB), Embrio Tansfer (ET) dan optimalisasi kawin alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengamati pengaruh sinkronisasi berahi dengan metode Ovsyhnc terhadap respon berahi dan pregnancy rate pada sapi PO akseptor semen Belgian Blue. Penelitian dilakukan selama 4 bulan, pada bulan april hingga bulan juli tahun 2019, dikandang percobaan Loka Penelitian Sapi Potong, Grati, Pasuruan, Jawa Timur. Tujuh belas ekor induk sapi PO diberikan perlakuan Ovsynch dengan 2 (dua) kali injeksi GnRh dan 1 (satu) kali injeksi PGF2alfa. Urutan metode Ovsynch sebagai berikut : pada hari 0, di injeksikan GnRH (Fertagyl) 2,5 cc intramuscular, pada hari ke 7 injeksi PGF2Alfa 5cc intramuscular, pada hari ke 9 injeksi GnRH ( Fertagyl) 2,5 cc intramuscular Pelaksanaan IB dilakukan setelah induk memperlihatkan tanda-tanda birahi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon birahi sapi induk PO hasil metode Ovsynch 76,47% dan pregnancy rate yang diperoleh adalah 23,07 %. Penelitian menyimpulkan bahwa metode Ovsynch memperlihatkan respon birahi yang cukup tinggi namun persentase kebuntingan hasil IB dengan semen BB masih tergolong sedang
Pemanfaatan Konsentrat Protein Daun Gliricidia sepium, Albizia falcataria, Calliandra calothyrsus, Mulberry (Morus alba) dan Cecropia peltata dalam ransum unggas
Tiga jenis daun leguminosa (Gliricidia sepium, Albizia falcataria, Calliandra calothyrsus), Murbei (Morus alba) dan Cecropia peltata diekstrak menggunakan air (pH netral) atau dalam kondisi basa (NaOH 0,1 N). Konsentrat protein daun (KPD) dipisahkan dengan memanaskan jus daun pada 60 atau 80 OC (ekstraksi air) atau dengan menambahkan asam (asam khlorida 0,1-0,5N) pada ekstraksi alkali dan dipisahkan dengan sentrifugasi. Titik iso-listrik dari masing-masing protein daun, bahan kering, protein kasar dan kandungan tannin terkondensasi (condensed tannins) dianalisis pada daun giling, sisa daun (setelah ekstraksi protein) dan LPC. Kecernaan protein ditentukan untuk daun dan produk LPC. Kadar protein sejati diukur hanya untuk produk LPC. Titik Iso-listrik protein dari daun gamal (Gliricidia sepium), Albizia (Albizia falcataria), Kaliandra (Calliandra calothyrsus), Murbei (Morus alba) dan cecropia (Cecropia peltata) berada pada pH 3,79; 4,72; 4,33; 4,45 dan 4.12. Kadar protein dalam LPC (ekstraksi air) masing-masing adalah 40,25, 38,80, 41,12; 36,20 dan 37,22% dan ekstraksi alkali 37,50, 37,22, 40,08, 34,44 dan 34,57%. Kecernaan protein dalam KPD lebih tinggi jika dibandingkan dengan daunnya, berkisar antara 55,99 hingga 87,11%. Ekstraksi protein dari daun dapat mengurangi kandungan tanin yang larut antara 73-98%. Pada masa depan, KPD dapat merupakanbahan pakan sumber protein yang potensial dalam penyusunan pakan unggas
Challenges on Cattle Breeding of Smallholder Farmer Toward 4.0 Era
A project within the Indonesia- Australia Partnership on Food Security in Red Meat and Cattle Sector has been established in expanding the commercial-scale beef cattle breeding industry. There are three potential models for cattle breeding tested through partnership such as Integrated Oil Palm and Cattle Production (SISKA), Open-Grazing and Smallholder Cut-and-Carry. To support Indonesian cattle breeding investors toward industry 4.0, some software has been developed: CALPROS, CALPROF and CALFIN used for monitoring and evaluation available online. Another application, SI PINTAR, is to record and identify livestock with Radio-Frequency Identification (RFID) recording and Global Positioning Systems (GPS) tracker to monitor livestock in real time basis. Applying those tools has proved increase benefits in cattle breeding business including smallholders and recommended for future use toward industry 4.
Kajian Karakteristik Fisikokimiawi, Mikrostruktur dan Nilai Ekonomis Synbiotic Fermented Milk Guna Menunjang Pola Hidup Sehat
Produk pangan fungsional yang diperkaya dengan probiotik dan prebiotik seperti synbiotic fermented milk memiliki fungsi diet, mengandung komponen peptida bioaktif, mencegah terjadinya penyakit serta menunjang pola hidup sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik fisik (viskositas, sineresis), kimiawi (asam laktat, kadar lemak, kadar protein), mikrostruktur (CLSM) dan nilai ekonomis synbiotik fermented milk. Materi penelitian adalah susu skim bubuk, inulin (CV. Gamma Scientific Biolab), kultur starter yoghurt standard (Lactobacillus bulgaricus FNCC-0041 dan Streptococcus thermophilus FNCC-0040 dari Pusat Studi Pangan dan Gizi, Universitas Gajah Mada) dengan rasio 1:1 (v/v). Metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap, tanpa fortifikasi inulin (K0) dan dengan fortifikasi inulin 2% (K1). Pada titik isoelektris, K1 meningkatkan viskositas dan kadar protein secara sangat nyata (
Analisis Pola Penyediaan Hijauan Pakan dan Strategi Pengembangan pada Lokasi Kawasan Sapi Perah di Jawa Tengah
Sapi perah supaya dapat menghasilkan produk dengan optimal harus tercukupi kebutuhan pakannya secara kualitas dan kuantitas. Hijauan pakan ternak memegang peranan penting sebagai sumber pakan yang turut menentukan kualitas dan produksi susu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penyediaan dan strategi pengembangan hijauan pakan pada peternakan sapi perah di lokasi kawasan sapi perah di Jawa Tengah. Pengamatan dilakukan pada 5 KUD sapi perah aktif yang berada di Kabupaten Semarang dan Kabupaten Boyolali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi hijauan pakan ternak tidak selalu kontinyu sepanjang tahun, terutama saat memasuki musim kemarau. Pengaturan pola penyediaan dan ketersediaan hijauan pakan akan mempengaruhi suplai pakan di kawasan peternakan sapi perah di Jawa Tengah. Berdasarkan hasil analisis SWOT, strategi yang diusulkan yaitu Introduksi teknologi pengawetan hijauan pakan dan limbah pertanian (silase, amoniase dan hay); Akselerasi penguatan kualitas, materi, dan metode penyuluhan hijauan pakan; Pemanfaatan limbah pertanian; Koordinasi dengan Dinas terkait untuk ijin penggunaan lahan milik Perhutani; Fasilitasi dari Dinas/Instansi terkait dalam peningkatan teknologi dan manajerial peternak; Pengenalan dan pemahaman jenis-jenis hijauan pakan ternak berkualitas; dan Optimalisasi pemanfaatan limbah sapi sebagai pupuk kompos
Efektivitas Pemberian Pelet Indigofera terhadap Pertumbuhan dan Kualitas Daging Kambing Boerka
Indigofera zollingeriana merupakan hijauan pakan ternak yang mengandung kualitas nutrisi yang baik dan juga antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelet Indigofera zollingeriana terhadap pertumbuhan dan kualitas daging kambing Boerka. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah kambing Boerka umur 10-11 bulan sebanyak 18 ekor dengan bobot badan awal rata-rata 20,47±2,79 kg. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan yaitu: Pennisetum purpureum cv. Mott+Konsentrat (R1), R1+Pelet Indigofera 5 g/kg BB/e/h (R2), dan R1+Pelet Indigofera 10 g/kg BB/e/h (R3). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak enam kali. Data dianalisis menggunakan Analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan jika terdapat perbedaan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pelet Indigofera memberikan pengaruh yang nyata (p0,05) terhadap persentase karkas, pH, susut masak dan daya mengikat air daging kambing Boerka
Permasalahan Utama Usaha Ternak Sapi Potong di Tingkat Peternak dengan Pendekatan Vilfredo Pareto Analysis
Dalam mendukung kemandirian pangan di era industri 4.0, telah dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi permasalahan utama usaha ternak sapi potong di tingkat peternak dengan menggunakan pendekatan Vilfredo Pareto Analysis. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bondowoso pada empat desa yang dipilih dengan pertimbangan bahwa desa-desa tersebut menjadi lokasi pengembangan usaha ternak sapi potong. Lokasi pengembangan tersebut berada di Desa Petung, Desa Grujugan Kidul, Desa Purnama dan Desa Jetis. Penelitian menggunakan metode observasi dan survei menggunakan teknik wawancara dan pengisian kuisioner. Responden adalah semua peternak sapi potong di Desa Petung 144 orang, Desa Grujugan Kidul 83 orang, Desa Purnama 201 orang dan Desa Jetis 328 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan utama usaha ternak sapi potong di Desa Petung, Desa Purnama dan Desa Jetis ialah ketersediaan hijauan pakan ternak saat musim kemarau, sedangkan permasalahan di Desa Grujugan Kidul adalah harga jual sapi hidup yang tidak stabil. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu hasil diagram Pareto menunjukkan bahwa 20% masalah utama pada usaha ternak sapi potong menyebabkan 80% ketidakberkembangan usaha ternak sapi potong di Kabupaten Bondowoso
Farmers Perception on the Sustainability of Integrating Livestock in Plantation in Ex-Tobacco Deli North Sumatra
To find out the perception of harmonization from socio-economic, institutional, and environmental aspects to support sustainable biological resource management, studies were conducted in Klumpang, Tandam Hilir, Bulu Cina, Kuala Begumit and Tanjung Jati on June 2018. These locations are the same locations of the study that conducted on 2004, 2007, 2013, and 2014. Primary data were collected with natural settings and focus group discussions. The results show that the perceptions of an integrated system from social, economic, ecological, and institutional aspects, with the average value of 3.82, while the ideal value to be achieved is 5.00. To pursue the difference of 1.18 (23.60%), therefore, efforts are required to improve integration synergies and community participation in order to achieve the ideal value. This integration system has three main functions: improving income, promoting rural economic growth, and strengthening and sustaining environmental sustainabilit