Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
1514 research outputs found
Sort by
A Shade Tolerant Forage, Stenotaphrum secundatum, in the Oil Palm Plantation to Support Cattle Productivity
The integration of livestock with plantations is one of efforts to support livestock agribusiness. The large potential land area can be used for the development of cattle. However, the low production, nutrient content and digestibility of natural grasses in the plantation are still an obstacle to increase cattle productivity. Therefore, the development of shade tolerant of forages is one of the strategies to improve the quality and production of forages in the plantation area. This paper aims to review the role of Stenotaphrum secundatum as a shade tolerant forage in oil palm plantations in supporting cattle productivity. Biomass production of Stenotaphrum secundatum obtained was relatively high at 42,209 kg DM/ha/yr in oil palm plantations aged 3.5 years, estimated to be able to accommodate cattle of 11.8 AU/ha. With a moderate composition of nutrition, it can improve cattle growth performance with an average body condition score of 3.8. The livestock integration system by developing S. secundatum in the oil palm plantation area has a positive effect because it can reduce fertilizer and weeding costs of 4 million IDR/ha/yr. The average production of fresh fruit bunches (FFB) reaching 19.5 tons/ha/yr. It can be concluded that the role of S. secundatum in oil palm plantations can support cattle productivity and increase palm oil production
Eksplorasi Genetik dari Lokus GH|MspI Ekson 3 dan GHRH|HaeIII Intron 2 pada Kerbau Rawa di Stasiun Bibit dan Peternak Rakyat
Perbaikan produktivitas ternak dapat dilakukan melalui seleksi secara molekular pada gen-gen pengontrol sifat pertumbuhan. Keragaman genetik dari famili gen pertumbuhan yaitu gen GH dan GHRH dipelajari pada kerbau rawa dari stasiun pembibitan BPTU Siborong-borong (ST) (68 betina) di Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara dan peternak rakyat (PR) 37 betina, 4 jantan) di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Varian genetik dari lokus GH|MspI ekson 3 dan GHRH|HaeIII intron 2 digenotyping dengan metode Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP). Data dianalisis terhadap frekuensi alel dan genotipe, keseimbangan Hardy-Weinberg, nilai heterozigositas, dan nilai PIC. Hasil genotyping dari lokus GH|MspI ekson 3 dan GHRH|HaeIII inton 2 menghasilkan hanya alel B (100%) pada kerbau rawa dari ST, sebaliknya pada PR hanya alel A (100 %). Keseimbangan Hardy-Weinberg tidak dapat dianalisis untuk kedua lokus. Nilai heterozigositas pengamatan (Ho) dan harapan (He) serta nilai PIC untuk setiap lokus adalah sebesar 0.00. Disimpulkan bahwa lokus GH MspI ekson 3 dan GHRH HaeIII intron 2 pada kerbau rawa lokal pengamatan bersifat monomorfik
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Garam pada Proses Pikel terhadap Mutu Kulit Pikel Sapi
Penambahan asam pada proses penyamakan kulit menyebabkan terjadinya pembengkakan, oleh karena itu diperlukan penambahan garam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi garam pada proses pengasaman terhadap mutu kulit pikel sapi. Penelitian ini menggunakan kulit sapi awetan garam sejumlah 24 side yang diperoleh dari UD. Sumber Pahala, Magetan. Sebelum diasamkan, kulit sapi diproses melalui beberapa tahapan yaitu perendaman, penghilangan bulu, pengapuran, penghilangan sisa daging, penghilangan kapur, pengikisan protein, dan penghilangan lemak. Kulit sapi kemudian diasamkan dengan asam sulfat 1% dan asam formiat 1%, serta garam. Penelitian ini merupakan penelitian faktorial dengan 2 faktor, yaitu jenis dan konsentrasi garam, yang disusun dalam RAL dengan tiga ulangan. Garam yang digunakan adalah garam A dan B dengan masing-masing taraf uji, yaitu 5, 6, 7, dan 8 Be. Data hasil pengujian dianalisa dengan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) dan kemudian dibandingkan dengan standar SNI 06-3534-1994. Diperoleh kesimpulan bahwa jenis dan konsentrasi garam berpengaruh nyata (P0,05). Garam yang efektif digunakan untuk pikel kulit sapi adalah garam A pada konsentrasi 5 Be dengan mutu kulit pikel, yaitu kadar air 46,48%, kadar NaCl 6,06%, dan pH 2,19, serta bundel serat yang lebih kompak dan padat
Pemanfaatan Jamu sebagai Pakan Aditif untuk Meningkatkan Performa Sapi Penggemukan
Herbal medicine atau dikenal dengan “Jamu Ternak” sudah populer di masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dan mengobati penyakit pada ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jamu ternak sebagai pakan aditif terhadap peningkatan performa sapi potong penggemukan. Delapan belas ekor sapi Bali jantan digunakan dengan kisaran umur 1,5-2 tahun dengan rata-rata bobot badan 189.08±42.81 kg yang dibagi dalam 3 perlakuan dengan 4 ulangan, masing-masing ulangan 1 ekor ternak yaitu: (P1) kontrol/tanpa pemberian jamu; (P2) Pemberian jamu tradisional 500 ml/ekor/2x seminggu; (P3) Pemberian jamu tradisional 500 ml/ekor/3x seminggu. Pakan hijauan diberikan sebesar 10% bobot badan, sedangkan pakan konsentrat sebesar 1% bobot badan. Pakan konsentrat tersusun dari dedak padi, jagung giling, tumpi jagung, bungkil kelapa dan mineral. Jamu terdiri dari temulawak, kunyit, jahe, gula merah, asam, kencur, garam. Kajian dilakukan dengan rancangan acak lengkap. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan P3 menghasilkan pertambahan bobot badan harian (PBBH) paling tinggi sebesar 0.34 kg/ekor/hari, sedangkan yang terendah perlakuan P1 dan P2 sebesar 0.29 kg/ekor/hari. Analisis usaha tani penggemukan dengan menggunakan jamu menunjukkan bahwa perlakuan P3 memberikan keuntungan dan nilai R/C paling baik berturut-turut sebesar Rp. 3,276,067 dan 1.39. Semua perlakuan mempunyai nilai R/C rasio di atas 1. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian jamu ternak sebanyak tiga kali seminggu sebagai pakan aditif menunjukkan performa terbaik pada sapi Bali jantan penggemukan dengan kenaikan bobot badan sebesar 0.34 kg/ekor
Tingkah Laku Makan Domba Lokal Muda yang Diberi Pakan dengan Level dan Sumber Protein Berbeda
Penggemukkan dini merupakan upaya untuk menghasilkan daging rendah lemak dan kolesterol dengan mempercepat fase penggemukkan. Penggemukkan dini harus didukung dengan pakan yang berkualitas baik yang dapat ditinjau dari kandungan protein kasar (PK) pakan. Protein kasar dapat berasal dari sumber protein nabati dan hewani. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbedaan level dan sumber protein terhadap tingkah laku makan domba lokal muda. 20 ekor domba lokal jantan umur 3–4 bulan, Bobot Badan (BB) 13,03 ± 2,30 kg (CV 17,65%). Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 2, terdapat dua level protein (13,36% dan 15,20%) dan dua sumber protein (bungkil kedelai dan tepung ikan) dengan 5 ulangan. Pakan diberikan secara adlibitum dalam bentuk pellet. Perlakuan dibedakan dengan 4 jenis ransum yaitu T1 (bungkil kedelai 13,13%), T2 (bungkil kedelai 15,20%), T3 (tepung ikan 13,58%) dan T4 (tepung ikan 15,20%). Parameter yang diamati adalah waktu makan, waktu ruminasi dan konsumsi bahan kering (BK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu makan, ruminasi dan konsumsi BK pada level dan sumber protein tidak berbeda nyata dengan nilai rata-rata seluruh perlakuan yaitu 219,58 menit/hari, 163 menit/hari dan 641,77 g/hari. Disimpulkan bahwa pemberian level dan sumber protein yang berbeda tidak mempengaruhi tingkah laku makan domba lokal muda
Pengaruh Pemberian Silase Pucuk Tebu sebagai Substitusi Hijauan terhadap Produktivitas Sapi Potong di Kabupaten Gowa Sulawesi selatan
Pengaruh Pemberian Silase Pucuk Tebu sebagai Substitusi Hijauan terhadap Produktivitas Sapi Potong di Kabupaten Gowa Sulawesi selata
Effects of Dietary Nitrogen and Non-FiberCarbohydrate Ratio in Diet Supplemented with Urea-Limestone Mixture on Productive Performances of Growing Goats
The previous study indicated that the urea-limestone mixture could be an alternative source of nitrogen for ruminant diet. However, the use of the mixture in diet needs a proper level of fermentable carbohydrate (non-fiber carbohydrate/NFC). This study was aimed to examine the effect of dietary N:NFC ratio on productive performances of growing goats. Twelve native male Jawarandhu crossbreds with 20.83 kg of body weight average and aged at 4-6 months were divided into three groups and fed on C12 diet (1:12 of N to NFC ratio, without supplementation of urea-limestone mixture), LU12 diet (1:12 of N:NFC ratio, with urea-limestone mixture supplementation), and LU18 diet (1:18 of N:NFC ratio, with limestone-urea mixture supplementation), respectively. The dietary treatments did not affect the nutrient intakes and nutrient digestibility. The UL 18 diet gave the highest (P0.05) average daily gain, N retention, and feed efficiency. The supplementation of urea-limestone mixture may give the best productive performance of goat when the dietary ratio of N:NFC was 1:18
Effect ofDrying and Withering Process onCyanideContentof Cassava Plant Parts
Cassava plant parts have cyanogenic compounds like linamarin and lotaustralin. Cyanogenic content in cassava plant parts consisted of 93% linamarin and 7% lotaustralin. Cyanide compound is formed from the hydrolysis of linamarin and lotaustralin. For feed purpose, cyanide content should not be more than 100 ppm. The method to reduce cyanide were conducted by chopping, drying, withering and fermentation. Cyanide content analysis was done using picric paper method. For this experiment, cyanide content was measured in cassava tubers using six cultivars. Kaspro, malang-6, and malang-4 are bitter cultivars, while ketan, cimanggu, and mentega are sweet cultivars. The result was presented descriptively. The cyanide content in bitter cultivars was higher than sweet cultivars, because the concentration of linamarin and lotaustralin in bitter cultivars was very high. Drying and withering techniques were able to reduce cyanide content of cassava plant parts significantly. Drying technique could reduce cyanide content until 50-80% while withering technique reduced it until 40-60%
The Quality of Sperm in Frozen Dog Semen Prepared Using Modified Tris-Egg Yolk Extender
This study aimed to compare the effectiveness of Tris-Egg Yolk extender (TEY I) with one step of mixing and and two step of mixing (TEY II) on the quality of dog sperm frozen semen. Semen was collected from three dogs by manual massage and each semen fraction was evaluated. Rich sperm fraction was diluted with TEY I and TEY II, equilibrated at 5°C for three hours, frozen with liquid nitrogen vapour for 10 minutes, and stored in a liquid nitrogen container for 24 hours. Sperm motility and viability after dilution, equilibration, and thawing were evaluated microscopically. The results showed that no differences (P0.05) on sperm motility after thawed in TEY II (one step) and TEY I with the sperm motility 49.44±3.38 and 46.67±3.84% respectively, but the advantage of TEY II is more easier to prepare. Sperm viability after being thawed in both extenders were 88.96±1.55% (TEY I) and 86.45±2.84% (TEY II). It was concluded that TEY II and TEY I have the same ability to maintain the quality of sperm during the freezing process for dog semen. One step mixing of TEY extender can be used for semen freezing in dogs
Strategyfor Forage Improvement in Plantation
Improvement of forage production on plantation area is needed to ensure sufficient forage supply for ruminants integrated with plantations. The strategy of developing and increasing forage production on plantation land is primarily establishing a good pasture, starting with the selection of feed crops that are in accordance with the conditions of plantation ecosystem. Furthermore, the development of selected feed crops need to be supported by the most appropriate agronomic techniques. Furthermore, the recommended pasture utilization technique is the rotational grazing system by applying the appropriate stocking rate and rotational perio