Abdimas Universal (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat)
Not a member yet
    346 research outputs found

    Pembuatan Papan Edukasi Sejarah Cagar Budaya Meriam Jepang di Kelurahan Baru Tengah, Balikpapan

    Full text link
    Cultural heritage is the nation's cultural wealth as a form of thought and behavior in human life which is important for the understanding and development of history, science and culture in social, national and state life so it needs to be preserved and managed appropriately through efforts to protect, develop and utilize in order to advance national culture for the greatest prosperity of the people. After conducting a survey, it was found that there was one cultural heritage that did not have an educational board on the history of the Japanese cannon cultural heritage at that location, making visitors who came to the location of the Japanese Cannon Cultural Heritage less aware of when and how the history of the Japanese cannon came to be in Balikpapan City. Therefore, this educational board on the history of Japanese cannons was created to make it easier for visitors who come to the Japanese Cannon Cultural Heritage location to find out the history of these cannons. The educational board is made with galvanized iron and an acrylic board written on with a white marker with a black acrylic base color. This educational board is placed in front of the Japanese cannon location with a height of 1.5meters to make it easier for children to read.Cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Setelah dilakukannya survei, didapati bahwa terdapat salah satu cagar budaya yang tidak memiliki papan edukasi sejarah Cagar Budaya Meriam Jepang di lokasi tersebut, membuat pengunjung yang datang ke lokasi Cagar Budaya Meriam Jepang itu kurang mengetahui kapan dan bagaimana sejarah meriam jepang tersebut bisa ada di kota Balikpapan. Oleh karena itu, dibuatnya papan edukasi sejarah meriam jepang ini untuk memudahkan pengunjung yang datang ke lokasi Cagar Budaya Meriam Jepang untuk mengetahui sejarah dari meriam terserbut. Papan edukasi dibuat dengan besi galvanis dan papan akrilik yang ditulis dengan spidol berwarna putih dengan warna dasar akrilik hitam. Papan edukasi ini diletakkan di depan lokasi meriam jepang dengan tinggi 1,5meter agar memudahkan anak-anak untuk membacanya

    Edukasi Pengajaran Sikap Sopan Santun di Rumah dan Sekolah Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Karakter Siswa

    Full text link
    Currently, students' social politeness is starting to fade. This is influenced by the development of information technology, cultural modernization and free association. In fact, this attitude is important as a basis for forming a generation of quality and noble character. The aim of this activity is to increase understanding and awareness of the importance of polite culture for elementary school students at SDIT Ma'Arif Sepaku. The method used in this activity is scientific methods of lectures, counseling, training and interactive activities involving students. The results of this work program increase students' understanding of how to interact politely with teachers, parents and peers. Students can also apply the culture of politeness in various situations in everyday life so that they can increase the cultural values of politeness at home and at school.Saat ini, sikap sopan santun siswa dalam pergaulan mulai memudar. Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya perkembangan teknologi informasi, modernisasi kultur dan pergaulan bebas. Padahal, sikap tersebut penting dimiliki sebagai dasar untuk membentuk generasi yang berkualitas dan berakhlak mulia. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya budaya santun bagi siswa sekolah dasar di SDIT Ma’Arif Sepaku. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini dilakukan dengan metode saintifik ceramah, penyuluhan, pelatihan, dan kegiatan interaktif yang melibatkan siswa. Hasil dari program kerja ini menambah peningkatan pemahaman siswa tentang cara berinteraksi sopan yang benar kepada guru, orang tua, dan teman sebaya. Siswa juga dapat mengaplikasikan budaya sopan santun dalam berbagai situasi dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat meningkatkan nilai – nilai budaya sopan santun di rumah dan di sekolah

    Penerapan Permainan Tradisional Sambil Belajar untuk Perkembangan Sosial Anak Usia Sekolah Dasar

    Full text link
    This article describes the application of traditional games while learning for the social development of school-aged children. The aim of traditional games while learning is to help children's social development with various motor skills. Community Service (PkM) activities are focused on Mangga Dua hamlet, a remote, disadvantaged, poor area and aspects of education that have not been touched by services. For some children who have not enjoyed a good education because school buildings are not yet available, the distance to the educational location is approximately three kilometers to the main village of Saunulu, Tehoru District. There are some parents, and their children don't know how to read and write, they are still illiterate (literate). It is hoped that through this activity there will be awareness among parents to send their children to school even though they are faced with limited economic conditions and transportation. Through the implementation of traditional games while learning, it is hoped that culture can be preserved because it is full of moral values and social ethics. The method used is learning assistance while playing. PkM activities were carried out for three days. The community service activities carried out received responsiveness from all children and parents.Artikel ini mendeskripsikan penerapan permaian tradisional sambil belajar untuk perkembangan sosial anak usia sekolah. Tujuan permainan tradisional sambil belajar menolong perkembangan sosial anak dengan berbagai keterampilan motoriknya. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) difokuskan di dusun Mangga Dua sebuah daerah terpencil, tertinggal, miskin, serta aspek pendidikan yang belum disentuh pelayanannya. Sebagian anak yang belum menikmati pendidikan secara baik karena bangunan sekolah yang belum tersedia, jarak menempuh lokasi pendidikan kurang lebih tiga kilometer ke desa induk Saunulu, Kecamatan Tehoru. Ada sebagian orang tua dan anak yang belum tahu membaca dan menulis, serta masih buta huruf (aksara). Diharapkan melalui kegiatan ini ada kesadaran dari orang tua untuk menyekolahkan anaknya walaupun dihadapkan dengan kondisi ekonomi dan transportasi yang terbatas. Melalui kegiatan penerapan permainan tradisional sambil belajar diharapkan budaya dapat dilestarikan karena sarat dengan nilai moral dan etika sosial. Adapun metode yang dipakai adalah pendampingan belajar sambil bermain. Kegiatan PkM  dilakukan selama tiga hari. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan mendapat responsivitas dari semua anak-anak serta orang tua

    Sosialisai Penetapan Harga Jual Produk Terhadap Profit UMKM di Kelurahan Karang Joang

    Full text link
    Almost all and the majority of MSME owners in Karang Joang Village, Balikpapan City, precisely in Gang Banyumas KM 15 RT 32 and its surroundings, have an inadequate understanding of the proper calculation of product selling prices. MSME owners have not identified and calculated costs optimally, causing the profit generated to be less than optimal. In response to this problem, the researcher will implement the work program "Socialization of Product Selling Price Determination towards MSME Profit in Kelurahan Karang Joang" to MSME owners and residents of RT 32 and its surroundings in KM 15 Karang Joang Village, North Balikpapan District, Balikpapan City. The purpose of this socialization is to increase the insight and knowledge of MSME owners in identifying costs and setting product selling prices more optimally. This socialization activity was attended by 33 participants, including MSME owners and local residents. The results of this activity showed an increase in understanding among the participants regarding the method of determining the right product selling price. MSME owners began to be able to identify the costs involved and calculate the selling price more accurately, so that the potential profit obtained is maximized.Hampir keseluruhan dan mayoritas pelaku UMKM di Kelurahan Karang Joang Kota Balikpapan, tepatnya di Gang Banyumas KM 15 RT 32 dan sekitarnya, memiliki pemahaman yang kurang memadai tentang perhitungan harga jual produk dengan tepat. Para pelaku UMKM belum mengidentifikasi dan menghitung biaya dengan optimal sehingga menyebabkan profit yang dihasilkan kurang maksimal. Menanggapi permasalahan ini, pengabdi akan melaksanakan program kerja “Sosialisasi Penetapan Harga Jual Produk Terhadap Profit UMKM di Kelurahan Karang Joang” kepada pelaku UMKM dan warga RT 32 dan sekitarnya di KM 15 Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan. Tujuan sosialisasi ini adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan pelaku UMKM dalam mengidentifikasi biaya dan menetapkan harga jual produk dengan lebih optimal. Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh 33 peserta, termasuk pelaku UMKM dan warga sekitar. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman di kalangan peserta mengenai metode penetapan harga jual produk yang tepat. Para pelaku UMKM mulai mampu mengidentifikasi biaya-biaya yang terlibat dan menghitung harga jual dengan lebih akurat, sehingga potensi profit yang diperoleh menjadi lebih maksimal

    Meningkatkan Perawatan Pasien Melalui Kolaborasi Antar Profesi: Wawasan dari Program Pelatihan di Layanan Kesehatan Primer

    Full text link
    Effective health services require collaboration between medical teams and understanding Interprofessional Education and Collaboration (IPEC) is very important. However, many Indonesian health workers do not understand IPEC education, which creates communication problems. To improve the quality of interdisciplinary collaboration, health workers need IPEC training facilitated by the Community Health Center. This study provides education to Community Health Center health workers regarding interprofessional collaboration and interprofessional services. Participants completed the ATHCTS questionnaire, measuring attitudes toward interdisciplinary healthcare teams and the team's approach to care. This questionnaire includes 21 statements, with 1 stating strongly disagree and 6 stating strongly agree. The aim was to understand healthcare workers' attitudes towards interdisciplinary healthcare teams. The majority of participants agreed that implementing IPC improved team closeness and quality of patient care. They also believe that developing a patient care plan with other team members can avoid mistakes. They also disagree that translating jargon from other disciplines can waste time. These results indicate that respondents' perceptions of the importance of collaboration between professions are good. The research results show that the majority of health workers who took part in the training understand the importance of Interprofessional Learning (IPE) and its application in community health centers. It is hoped that training activities can be held regularly to continue to emphasize the importance of collaboration between health workers.Pelayanan kesehatan yang efektif memerlukan kolaborasi antartim medis serta pemahaman Interprofessional Education and Collaboration (IPEC) sangatlah penting. Namun, banyak tenaga kesehatan Indonesia yang kurang memahami pendidikan IPEC, sehingga menimbulkan masalah komunikasi. Untuk meningkatkan kualitas kolaborasi interdisipliner, tenaga kesehatan memerlukan pelatihan IPEC yang difasilitasi oleh Puskesmas. Studi ini memberikan edukasi kepada tenaga kesehatan Puskesmas mengenai kolaborasi interprofesi dan layanan interprofesi. Peserta menyelesaikan kuesioner ATHCTS, mengukur sikap terhadap tim layanan kesehatan interdisipliner dan pendekatan tim terhadap perawatan. Kuesioner ini mencakup 21 pernyataan, dengan 1 menyatakan sangat tidak setuju dan 6 menyatakan sangat setuju. Tujuannya adalah untuk memahami sikap petugas kesehatan terhadap tim layanan kesehatan interdisipliner. Mayoritas peserta setuju bahwa penerapan IPC meningkatkan kedekatan tim dan kualitas perawatan pasien. Mereka juga percaya bahwa mengembangkan rencana perawatan pasien dengan anggota tim lainnya dapat menghindari kesalahan. Mereka juga tidak setuju bahwa menerjemahkan jargon dari disiplin ilmu lain dapat membuang waktu. Hasil tersebut menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap pentingnya kolaborasi antarprofesi adalah baik. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar petugas kesehatan yang mengikuti pelatihan memahami pentingnya Interprofessional Education (IPE) dan penerapannya di puskesmas. Diharapkan kegiatan pelatihan dapat secara rutin diadakan guna dapat terus menekankan pentingnya kolaborasi antar petugas kesehatan

    Filter Air Sederhana untuk Kebutuhan Air Bersih Warga Jalan Sei Wain RT 36, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara

    Full text link
    Kalimantan Institute of Technology (ITK) 2024 service activities will be held on Jl. Sei Wain RT. 36 Kel. Karang Joang, Kec. Balikpapan Utara, Balikpapan City, East Kalimantan was compiled based on the partner's problem, namely the availability of clean water in the area. The use of unclean water has an impact on the health quality of residents of RT 36, such as irritation and itching on residents' skin. Based on these problems, the ITK community service team decided to create appropriate technology, is a simple water filter that can improve the quality of clean water for residents of RT 36. Community service activities begin with field reviews, partner coordination, mapping of problems and solutions such as water quality tests used by partners, literature studies on the appropriate technology applied, water filter design and material purchases, filter manufacturing on site with partners, water quality testing of filtered results, measuring the impact of the application of appropriate technology on partners, closing the event at the partner's location. Based on a visual inspection of the filtered groundwater of RT 36 residents, it is known that the color of the water has become clearer, reducing the smell of iron and dissolved sediment. The results of the questionnaire stated that 80% agreed that the application of water filters provided benefits and improved water quality, but 35% of residents had difficulty in assembling and making the water filters.Kegiatan pengabdian Institut Teknologi Kalimantan (ITK) 2024 yang dilaksanakan di Jl. Sei Wain RT 36 Kel. Karang Joang, Kec. Balikpapan Utara, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur disusun berdasarkan permasalahan mitra yaitu ketersediaan air bersih di kawasan tersebut. Penggunaan air yang kurang bersih berdampak terhadap kualitas kesehatan warga RT 36, seperti iritasi dan gatal-gatal pada kulit warga dikarenakan pemakaian air. Berdasarkan permasalahan tersebut tim pengabdian ITK memutuskan untuk membuat teknologi tepat guna yaitu filter air sederhana yang mampu meningkatkan kualitas air bersih bagi warga RT 36. Kegiatan pengabdian dimulai dengan peninjauan lapangan, koordinasi mitra, pemetaan masalah dan solusi seperti uji kualitas air yang digunakan oleh mitra, studi literatur terhadap teknolgi tepat guna yang diterapkan, perancangan filter air dan pembelian bahan, pembuatan filter di lokasi bersama mitra, pengujian kualitas air hasil filter, pengukuran dampak penerapan teknolgi tepat guna terhadap mitra, penutupan acara di lokasi mitra. Berdasakan pemeriksaan secara visual terhadap air tanah warga RT 36 yang telah difilter diketahui warna air menjadi lebih bening, mengurangi aroma besi dan sedimen terlarut. Hasil kuesioner menyatakan 80% setuju bahwa penerapan filter air memberikan manfaat dan meningkatkan kualitas air, namun 35% warga kesulitan dalam perakitan dan pembuatan filter air tersebut

    Peningkatan Kualitas Produk Melalui Penerapan Teknologi Ruang Oven di Industri Jasa Finishing Mebel

    Full text link
    Sukosono Village is located in Kedung District, Jepara Regency. There are  9 Furniture Finishing Services businesses. To purchase furniture products, buyers can buy ready-made products or products that have not been finished or what is usually called raw. To purchase raw products, buyers must go to a finishing service to process the final product to make it better. HD Furniture is a business group engaged in finishing services in Sukosono village which the team will make a partner in this service. Production per day can produce 5-6 products. For marketing areas in Jepara and Palembang. The problems that exist for Partners are: (1) Orders are increasing but the equipment they have for the production process has low capacity, (2) at the spraying stage (coating) there are still problems with humidity resulting in finishing defects (condensation, white spots on the surface layer of the product) , (3) Layout and Quality Control are still minimal. The solution offered is socialization and assistance in making oven room technology for post-finishing, workshops on finishing techniques, workshops on layout and quality control. The output of this activity is that production capacity and quality product has been increased by 100%, and Human Resource skills have increased by 100%.Desa Sukosono terletak di Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Terdapat ±9 usaha Jasa Finishing Mebel. Untuk pembelian produk mebel, pembeli bisa membeli produk yang sudah jadi atau produk yang belum di-finishing atau biasa disebut mentahan. Untuk pembelian produk mentahan, pembeli harus ke jasa finishing untuk proses akhir produknya agar lebih bagus. HD Furniture merupakan kelompok usaha yang bergerak di bidang jasa finishing di desa Sukosono yang akan tim jadikan mitra dalam pengabdian ini. Produksi per hari bisa menghasilkan 5-6 produk. Untuk area pemasaran di Jepara dan Palembang. Permasalahan yang ada pada mitra yaitu: (1) Orderan semakin meningkat tetapi alat yang dimiliki untuk proses produksi kapasitasnya rendah, (2) pada tahapan penyemprotan (coating) masih ada permasalahan dalam kelembapan sehingga terjadi cacat finishing (mengembun, bercak putih di atas lapisan permukaan produk), (3) Tata Lay Out dan Quality Control yang masih seadanya. Solusi yang ditawarkan adalah Sosialisasi dan Pendampingan Pembuatan Teknologi Ruang Oven untuk Pasca Finishing, Workshop tentang Teknik Finishing, Workshop tentang Tata Lay Out dan Quality Control. Adapun output dari kegiatan ini adalah kualitas produk meningkat, kapasitas produksi meningkat 100%, dan keterampilan SDM Meningkat 100%

    Edukasi Literasi Digital Marketing Bagi Pelaku UMKM di Pasar Sentral Medan

    Full text link
    The aim of this activity is to enhance knowledge and skills in digital marketing and e-commerce for micro, small and medium enterprises in an effort to increase their sales and profits. The methods used in this activity include: explanations, sharing and discussion experiences, as well as direct practice of creating a Shopee account and how to make it attractive to buyers. The object is the "Pulungan Fashion" store located on the 2nd floor kiosks No. 508–509 of the Central Market of Medan. The results showed that MSMEs perpetrators never used digital marketing because of a lack of technological skills. However, they showed great interest in using digital marketing and e-commerce sustainably.Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang digital marketing dan e-commerce  untuk usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai upaya meningkatkan penjualan dan keuntungan mereka. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini diantaranya: penjelasan, pengalaman berbagi dan diskusi, serta praktik langsung membuat akun Shopee dan bagaimana membuatnya menarik bagi pembeli. Objeknya adalah toko “Pulungan Fashion” yang terletak di kios lantai 2 No.508-509 Pasar Sentral Medan. Hasilnya menunjukkan pelaku UMKM tidak pernah menggunakan digital marketing karena kurangnya keterampilan teknologi. Namun, mereka menunjukkan minat besar untuk menggunakan digital marketing dan e-commerce secara berkelanjutan

    Upaya Menjaga Kesehatan Pada Usia Lanjut Melalui Kartu Yoga di Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) 2022

    Full text link
    Yoga practice is beneficial for bodily health, emotional stability and a calm spirit and is a recommended exercise for the elderly. This Community Service aims to improve the health of the elderly through yoga by revitalizing existing programs through modified movements and easier guidance through yoga cards.The activities were carried out at Prosperous Family Service Center for 10 elderly people with age criteria of 50 to 60 years, without physical impairment. This activity also involved elderly cadres in an effort to ensure the continuity of activities at PPKS. The instruments needed are a chair, a 35 cm bamboo stick as a supporting tool in achieving the target organ being trained. Elderly Yoga exercises are carried out once a week for 4 weeks and practice independently at home using yoga cards that have been made by the Community Service Team. At each meeting, the elderly do yoga exercises for a maximum of approximately 60 minutes, blood pressure checks and interviews are carried out regarding complaints felt before and after doing yoga exercises. The results of elderly people with hypertension show a decrease in blood pressure, both systolic and diastolic, and the physical complaints felt by the elderly decrease and even disappear. PPKS should be able to increase the role of existing elderly cadres to be able to further motivate and revive efforts for elderly health programs, one of which is through Elderly Yoga.Latihan yoga bermanfaat bagi kesehatan tubuh, stabilitas emosi, dan jiwa yang tenang serta merupakan olah raga yang dianjurkan untuk lansia. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan lansia melalui yoga dengan menghidupkan kembali program yang telah ada melalui modifikasi gerakan-gerakan dan panduan yang lebih memudahkan melalui kartu yoga. Kegiatan dilaksanakan di PPKS kepada 10 lansia dengan kriteria umur 50 s.d. 60 tahun, tidak mengalami catat fisik. Kegiatan tersebut juga melibatkan kader lansia dalam upaya menjamin keberlangsungan kegiatan di PPKS. Instrumen yang dibutuhkan berupa kursi, tongkat bambu ukuran 35 cm sebagai alat penunjang dalam mencapai target organ yang dilatih. Senam  Yoga  Lansia  dilaksanakan satu minggu sekali selama 4 minggu dan latihan mandiri di rumah melalui kartu yoga yang telah dibuat oleh Tim Pengabdi. Setiap pertemuan, lansia melakukan senam yoga maksimal kurang lebih 60 menit, dilakukan  pemeriksan tekanan darah dan wawancara terhadap keluhan yang dirasakan sebelum dan sesudah melakukan senam yoga. Hasilnya lansia dengan hipertensi terdapat penurunan tekanan darah baik Sistolik maupun Diastolik, serta keluhan fisik yang dirasakan lansia menjadi berkurang dan bahkan menghilang. PPKS hendaknya dapat meningkatkan peran kader lansia yang telah ada untuk dapat lebih memotivasi dan menghidupkan kembali upaya program kesehatan lansia salah satunya melalui Yoga Lansia

    Sharing Knowledge Produk Halal dan Pelatihan Pendamping PPPH UMKM di Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang

    Full text link
    MSME, from the beginning to the end recognized as businesses, always tries to get information for the recognition of the business. But in fact, in the middle of the way, the spirit of business is broken by the government regulation procedures which lead to updates every year. We, as researchers and practitioners, have to initiate in helping business actors or MSMEs in providing socialization to mentoring. Especially in the government activities in 2022, BPJPH targeted 30 thousand halal-certified products. By targeting Indonesia as the center of the halal industry, SMEs and MSMEs must get a halal certificate first through the PPH assistance program with the Business Actor Statement scheme or known as Self Declare. This service took place in Sumbersekar Village, Dau District, Malang Regency with a focus on MSMEs in sharing knowledge and PPH assistance by using this Participatory Action Research, this service passes four stages, namely: planning, doing action, observing, and reflecting. The implementation was done in some action stages by using PAR method as follows: MSMEs mentoring in Sumbersekar Village got some changes: first, MSMEs are able to identify problems, such as not having PIRT, NIB, and brand; second, they enhance the understanding that entrepreneurship should be started as the foundation of the government regulations to build the economic independence; third, they are able to do activities in line with the PPH knowledge sharing to mentoring. The results of the service were obtained from 23 MSMEs that were recorded and 15 MSMEs managed to obtain a Business License and obtain Halal Certification, while the remaining 8 MSMEs were still constrained by the licensing process because they were still making product brands. These 8 MSMEs, of course, still get service assistance until they get the expected license letter.UMKM mulai dari awal hingga akhir diakuinya sebagai usaha, selalu berusaha mendapatkan informasi untuk pengakuan usahanya. Namun kenyataannya semangat usaha di tengah jalan dipatahkan dengan regulasi prosedur pemerintah yang berujung pembaharuan setiap tahunnya. Kita pun sebagai peneliti sekaligus praktisi merasa harus jemput bola dalam membantu pelaku usaha atau UMKM dalam memberikan sosialisasi sampai pendampingan. Khususnya pada kegiatan pemerintah di tahun 2022 ini, BPJPH menargetkan 30 ribu produk bersertifikat halal, dan menargetkan Indonesia sebagai pusat industri halal. UKM dan UMKM tentunya harus memperoleh sertifikat halal terlebih dahulu melalui program pendampingan PPH melalui skema Pernyataan Pelaku Usaha atau dikenal dengan istilah Self Declare. Pengabdian ini mengambil lokasi di Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang dengan fokus pada UMKM melalui Sharing ilmu dan pendampingan PPH dengan menggunakan  Participatory Action Research (PAR) empat tahapan, yaitu: Perencanaan (plan), tindakan (action), pengamatan (observe), refleksi (reflect). Dalam implementasinya dilaksanakan dalam beberapa tahapan kegiatan dengan menggunakan metode PAR ini adalah sebagai berikut: Pendampingan UMKM di Desa Sumbersekar terjadi perubahan yaitu; Pertama, UMKM mampu mengidentifikasi masalahnya, seperti belum memiliki PIRT, NIB dan merek produk sendiri; Kedua, meningkatnya kesadaran UMKM bahwa berwirausaha harus segera dimulai sebagai bekal, atas kebijakan regulasi pemerintah dalam rangka mewujudkan kemandirian ekonomi; Ketiga, mampu melakukan aktivitas yang telah disampaikan melalui sharing knowledge PPH sampai pendampingan PPH. Hasil pengabdian mendapatkan dari 23 UMKM yang terdata dan 15 UMKM berhasil mendapatkan Surat Perizinan Berusahan dan mendapatkan Sertifikasi Halal, sedangkan 8 UMKM sisanya masih terkendala proses perizinan karena masih membuat merek produk. 8 UMKM ini tentu saja masih dapat pendampingan pengabdi sampai mendapatkan surat perizinan yang diharapkan

    307

    full texts

    346

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Abdimas Universal (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇