Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
“ARAJANNA SOPPENG” MENURUT CERITA RAKYAT
Apparently arajang has been inadequately interpreted. Arajang which refers to ornaments or regalia are misleading, since Bugis ancestors had interpreted it as small kingdom. It was Arajang which possessed power, as Tomanurung representation after its vanished (mallajang). Arung Bila, Tomanurung replacement, was arajang task officers. King and his people contract within constitutional monarchy governmental system of Soppeng Kingdom were known with the term mallamungmpatu. The system was based on the principal belief: mangle passing, massongmpawo or to unite lower inspirations with upper policies
MANFAAT PELESTARIAN WARISAN BUDAYA “HIDUP” DI SEWO, SOPPENG
Soppeng rich with megalithic tradition remains, probably similar with Toraja. Unfortunately, archaeological interests and development sectors are not design within multi-sectors planning blueprint. Archaeological remains and ceremonial activities, for instance Sewo site, is lack with appropriate management which can be sell to support Soppeng's local income increase of tourism sector. In fact, an integrated Sewo site exploitation and management may brings a new concept which has its implication widely, even with social and economical measurements as well
PERSPEKTIF DALAM BEHAVIORAL ARCHAEOLOGY
Behavioral archaeology memandang bahwa, subyek pokok disiplin ilmu arrkeologi adalah hubungan timbal balik antara tingkah laku manusia dengan kebudayaan materi, dalam waktu dan tempat yang tidak terbatas. Arkeologi tingkah laku merupakan usaha dari pakar arkeologi untuk lebih memposisikan arkeologi sebagai ilmu yang senantiasa berkembang dan berusaha memperluas ruang gerak para arkeolog, agar tidak terkungkung dalam doktrin bahwa arkeologi adalah ilmu tentang masa lalu, namun tidak menghilangkan sifat dasar arkeologi yang mengkaji budaya materi hasil tingkah laku manusia. Behavioral archaeology memberikan perhatian yang serius terhadap proses transformasi yang di alamai oleh data arkeologi dengan pandangan bahwa benda-bendaitu mrupakan cerminan tingkah laku masa lampau yang telah melenceng atau bias. Oleh karna itu harus diketahui terlebih dahulu proses benda-benda itu terbentuk hingga menjadi seperti yang kita dapatkan sekarang ini
RAGAM HIAS PADA MAKAM RAJA-RAJA DI KALIMANTAN TIMUR
Penelitian ini membahas tentang ragam hias pada makam raja-raja di Kalimantan timur, dengan tujuan untuk mengetahui bentuk dan jenis dari ragam hias tersebut. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data dan survei lapangan yang kemudian di kelompokkan dan dianalisis. Berdasarkan hasil analisis tersebut bahwa dengan berbagai bentuk dan jenisnya memiliki beberapa fungsi, yaitu estetis, religi dan untuk pemanfaatan ruang. Keberadaan karya seni dari para seniman memberikan sumbangan semarak perkembangan seni Islam di Kalimantan timur. Bentuk yang dihasilkan merupakan suatu kesinambungan estetik saja dan tidak harus menjadi suatu kesinambungan simbolik
MAKNA SIMBOLIS BEBERAPA MOTIF GORESAN PADA SITUS MEGALITIK TINCO DAN LAWO DI KABUPATEN SOPPENG
Batu bergores banyak ditemukan dibeberapa situs megalitik di Indonesia termasuk wilayah Tinco dan Lawo Kabupaten Soppeng. Batu bergores tersebut telah diteliti tetapi masih sebatas deskriptif sehingga diperlukan penelitian lebih intensif yang menyangkut fungsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi batu bergores pada situs Tinco dan lawo. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data dengan melakukan pendekatan analogi etnografi, mengingat masih banyak masyarakat yang mengetahui bahkan melanjutkan tradisi tersebut. Hasil yang diperoleh bahwa batu bergores menunjukkan atau merefleksikan berbagai aspek kehidupan seperti idiologi, subsistensi, dan lingkungan. batu bergores pada situs Tinco dan Lawo memiliki kekuatan gaib dan magis, berkaitan dengan kematian, tanda pelantikan raja, dan upacara ritual lainnya. Selain itu juga berfungsi sebagai penentuan hari-hari baik, penentuan musim, pertanian dan perburuan
TEMBIKAR TRADISIONAL TUNGKA, ENREKANG: TINJAUAN ETNOARKEOLOGI
Benda tinggalan manusia merupakan cerminan atau refleksi dari tingkah laku mereka. Beberapa peralatan atau benda lainnya seperti wadah gerabah dapat menunjang kehidupannya. Salah satu Pembuatan tembikar yang menjadi perhatian berada di daerah Tungka, Kabupaten Enrekang, dengan melihat proses pengerjaannya. Tujuannya untuk merekam teknik pembuatan dan fungsi tembikar di daerah Tungka. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data diantaranya pendokumentasian proses pembuatan dan pengolahan data. Hasil yang diperoleh bahwa perkembangan dan persebaran tembikar di Tungka masih memperhankan cirinya. Teknik pembuatan masih memegang teguh konsep yang diwarisi oleh nenek moyang mereka yaitu dengan teknik tatap landas. Bagi pengrajin tembikar di Tungka mengenal adanya fungsi praktis dan fungsi ritual dalam mempergunakannya