Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
Not a member yet
    277 research outputs found

    Preface

    No full text

    KONDISI LINGKUNGAN LEANG SAKAPAO PANGKEP PADA MASA PENGHUNIAN DI ERA PRASEJARAH

    No full text
    No Abstrac

    Preface

    No full text

    KANDUNGAN DAN MAKNA INSKRIPSI PADA KOMPLEKS MAKAM KUNO KATANGKA

    No full text
    Monumen khusus makam dapat dilihat dari aspek bentuk dan estetiknya, utamanya dari aspek dekoratifnya. Penerapan inskripsi huruf Arab bersumber dari bangsa Arab, inskripsi huruf Arab yang diterapkan pada bangunan-bangunan suci umat Islam khususnya pada makam tentunya dilatarbelakangi ole hide-ide keislaman pembuatnya. Permasalahan penelitian ini tertuju pada ragam hias maupun tulisan (inskripsi) yang terdapat pada makam kuna katangka. Tujuan dari penelitian ini, yaitu mengambarkan kandungan dan makna inskripsi pada bangunan makam katangka. Metode yang digunakan berupa pengumpulan data, pengelompokan data dan diakhiri dengan interpretasi. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan kemampuan huruf Arab beradaptasi dengan budaya yang ada sebelumnya yang dikenal huruf serang yaitu huruf Arab sebagai unsur budaya baru dengan bahasa Makassar sebagai unsure lokal. Bentuk media seperti segitiga yang menyerupai gunungan, media berbentuk lingkaran, media berbentuk bunga teratai merupakan nilai-nilai budaya asli sebelum masuknya Islam. Media tersebut kemudian berakulturasi dengan penerapan inskripsi huruf Arab yang dating kemudian. Inskripsi pada kompleks makam katangka berisi nama, riwayat hidup, kapan meninggal, silsilah keturunan, jasa almarhum, system birokrasi yang ditulis huruf serang. Sedangkan inskripsi yang ditulis bahasa Arab berupa doa-doa dan basmalah. Penerapan inskripsi ini tidak terlepas dari dua perspektif doktrin yaitu agama dan sejarah

    Back Cover

    No full text

    MENERA ULANG KAJIAN KEBUDAYAAN MATERIAL MODERN DALAM ARKEOLOGI

    No full text
    The Ontological aspect of archaeology is its attention on ancient material culture that is utilized as a basis in interpretating the past of human's culture. Along with science development, there's a rising effort to evaluate that ontological aspect by redefining archaeology becomes the science that studing human interaction relationship with its material culture regardless time and space. That redefinition affects the rise of Modern Material Culture in Archaeology. But, its stagnant implementaion and the development of other scince that also begins to paying attention on the significant of material dimention of the culture constitutes a challenge in developing modern material culture in archaeology. Even so, the emergence of this new field study is belived as a new direction in the development archaeology.Aspek ontologis dari arkeologi adalah perhatiannya pada budaya material kuno yang digunakan sebagai dasar dalam menafsirkan masa lalu budaya manusia. Seiring dengan perkembangan sains, ada upaya yang meningkat untuk mengevaluasi aspek ontologis dengan mendefinisikan kembali arkeologi menjadi ilmu yang mempelajari hubungan interaksi manusia dengan budaya materialnya terlepas dari ruang dan waktu. Redefinisi itu mempengaruhi bangkitnya Budaya Material Modern dalam Arkeologi. Namun, implementasinya yang stagnan dan pengembangan ilmu lain yang juga mulai memperhatikan signifikansi dimensi material budaya merupakan tantangan dalam mengembangkan budaya material modern dalam arkeologi. Meski begitu, kemunculan studi lapangan baru ini diyakini sebagai arah baru dalam pengembangan arkeologi

    Panduan Penulisan

    No full text

    Preface

    No full text

    SISTEM PENGUBURAN DI GUA DAN CERUK DI KOLAKA UTARA SULAWESI TENGGARA

    No full text
    From the Archaeological excavation along the karsts region in the northern to southern of Northern Kolaka, Southeast Sulawesi, there's many evidence of past burial activities. The findings from the test pit consist of human skeletons, teethes, glass beads, bronze bracelets, and foreign ceramics that associate with the bier. The whole findings found from the cave and shelters provide a description of burial system that used by the society communally. The remains of the burial that spread and the caves and the shelters at North Kolaka was the character of prehistoric tradition. The burial tradition is a part of Neolithic culture that is die Austronesia's culture which is the ethno-genesis of Indonesian. Dari penggalian arkeologis di sepanjang wilayah karst di utara sampai selatan Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, terdapat bukti aktivitas penguburan di masa lalu. Temuan dari lubang uji terdiri dari kerangka manusia, gigi, manik-manik kaca, gelang perunggu, dan keramik asing yang berasosiasi dengan bier. Seluruh temuan yang ditemukan dari gua dan tempat penampungan memberikan deskripsi sistem penguburan yang digunakan oleh masyarakat secara komunal. Sisa-sisa penguburan yang menyebar di gua-gua di Kolaka Utara adalah karakter tradisi prasejarah. Tradisi penguburan adalah bagian dari budaya Neolitikum yang merupakan budaya Austronesia yang merupakan etno-genesis orang Indonesia

    BENDE WUTA (BENTENG TANAH) DALAM KONTEKS SEJARAH BUDAYA MEKONGGA SULAWESI TENGGARA

    No full text
    This research was conducted in Wundulako, Kolaka, Southeast Sulawesi, which express the geographic location of the fort the ground, and it contains a number of artifacts through survei and excavation methods. Archaeological data in said Collaborate with tradition and geological data. Citadel Land (Bende Wuta) was established by Latoranga the XVII century (around 1676). Survei data to produce findings of a metal currency (coins), fragments of pottery and ceramics. Excavation data showed the existence of the artificial soil structure and modification of forms of material available in the vicinity. From the comparative aspect that shows the shape of the blockhouse and fortified the settlement as well as the king and his family. Besides, the position of land fort called Wuta Bende is 471 m from the river showed Lamekongga maintaining a strategic position in the kingdom's sovereignity Mekongga.Penelitian ini dilakukan di Wundulako, Kolaka, Sulawesi Tenggara, yang mengungkapkan lokasi geografis benteng alam, dan berisi sejumlah artefak melalui metode survei dan ekskavasi. Data arkeologi di katakan Berkolaborasi dengan data tradisi dan geologi. Citadel Land (Bende Wuta) didirikan oleh Latoranga pada abad XVII (sekitar 1676). Survei data untuk menghasilkan temuan mata uang logam (koin), pecahan tembikar dan keramik. Data penggalian menunjukkan adanya struktur tanah buatan dan modifikasi bentuk bahan yang tersedia di sekitarnya. Dari aspek komparatif yang menunjukkan bentuk benteng yang melindungi raja dan keluarganya. Selain itu, posisi benteng tanah yang disebut Wuta Bende berjarak 471 m dari sungai menunjukkan Lamekongga mempertahankan posisi strategis dalam kedaulatan kerajaan Mekongga

    36

    full texts

    277

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Walennae: Journal Arkeologi Sulawesi Selatan dan Tenggara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇